Hamil Anak Pertama vs Hamil Anak Kedua, Apa Bedanya?

by - Saturday, February 01, 2020

hamil anak pertama vs hamil anak kedua
Gambar : Freepik

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Hamil Anak Pertama vs Hamil Anak Kedua, Apa Bedanya? - Setiap kehamilan itu unik, tidak ada yang sama persis. Sebelumnya saya juga sudah sering dengar cerita ibuk-ibuk yang punya pengalaman hamil lebih dari sekali. Ada yang hamil anak pertama ngidam parah, hamil keduanya nggak ngidam sama sekali. Ada yang melewati kehamilan anak pertama dengan santai sekalinya hamil anak kedua baru merasakan yang namanya ngidam.

Begitulah, setiap kehamilan punya ceritanya masing-masing. Makanya saya nggak terlalu heran ketika mendapati kondisi pada kehamilan kedua jauh berbeda dengan kondisi yang saya alami pada saat hamil anak pertama. 

Nah, mengawali postingan di bulan kedua di tahun 2020 ini saya bakal sharing tentang perbedaan hamil anak pertama dan kedua yang saya alami. Bedanya apa saja? Yuk, simak!

Test Pack (TP)

Buat perempuan yang baru menikah pastinya tahu dong, urusan TP ini bisa jadi drama banget. Jadi ingat, pertama kali TP saya merasa kayak di PHP-in. Sudah kegeeran hamil karena memang nggak punya riwayat telat haid sebelumnya.

Jadi ketika si tamu bulanan telat datang, jelas saya curiga dong karena status saya saat itu kan sudah bersuami, hehe. Maka dengan semangat saya beli dua TP sekaligus, satunya merk onem*d satunya lagi merk s*nsitif meski akhirnya yang kepake cuma merk onem*d. Itu juga karena hasilnya negatif dan nggak lama setelah TP si M nongol. Duh, rasanya malu sekali karena saya terlanjur heboh duluan ke suami, wkwk.

Selama kurang lebih enam bulan setelah pengalaman yang nggak mengenakkan itu, saya nggak pernah TP lagi. Sebenarnya tiap bulan ada sih keinginan mau TP, apalagi kalau sudah lewat sehari dua hari dari jadwal dimana seharusnya si M datang. Tapi karena sebelumnya sudah merasakan gimana rasanya di-PHP-in sehingga urusan TP ini nggak pernah mudah buat saya.

Pengen TP khawatir hasilnya nggak sesuai dengan yang diharapkan, kalau nggak TP juga bikin penasaran setengah mati.  Gimana nggak drama coba?😅

Saya akhirnya baru TP setelah yakin hasilnya benar-benar bakal positif. Alhamulillaah, hasil TP kedua saya menunjukkan dua garis merah. Itu waktu usia pernikahan saya dan suami masuk bulan ke-tujuh.

Untuk urusan TP pada kehamilan kedua nggak terlalu drama sih karena sudah "bocor" duluan, hehe. I mean, saya yakin kemungkinan besar ini bakal tinggal soalnya "dibuat" pas masa subur😅Tapi tetap ya, bagi saya urusan TP ini nggak pernah mudah. 

Apalagi saran suami waktu itu nggak usah test pack kalau sudah yakin hamil, nanti juga bakal ketahuan. Gampang saja suami ngasih saran seperti itu, sayanya yang mati penasaran, wkwk. Meski sudah yakin, tetap harus ada bukti, kan? 

Well, saran tersebut sengaja saya acuhkan. Saya diam-diam beli TP dan mungkin karena terlalu penasaran sampai kebawa mimpi. Yup malamnya itu saya sempat mimpi melakukan test pack tapi hasilnya negatif dan itu bikin saya sedih. Syukurnya hanya bunga tidur sebab keesokkan harinya ketika terbangun saya langsung TP dan  mendapati alatnya menunjukkan dua garis merah yang artinya saya positif hamil saat si kakak baru berusia 7 bulan. Maa syaa Allaah.

Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT)

Setelah menikah, urusan mencatat hari pertama haid terakhir atau biasa disingkat hpht termasuk hal yang penting. Eh bukan setelah menikah saja, saat masih lajang pun siklus haid ini sudah harus kita pantau, atau paling tidak kita harus mulai rutin mencatat hpht dua atau tiga bulan sebelum melepas masa lajang.

Sayangnya saya bukan tipe perempuan yang rajin mencatat hal-hal kecil seperti ini. Ups! Tapi saya bersyukur hidup di zaman sekarang, ada aplikasi yang bisa membantu saya memantau siklus haid. Tugas saya setiap si M datang maupun pergi cukup memberi tanda saja atau kalau lupa aplikasinya bakal ngasih notif.

Buat yang belum tahu, hpht sangat berkaitan erat dengan kehamilan. Kita bisa tahu masa subur (peluang besar untuk hamil) dari hpht. Mau mengetahui usia kehamilan juga dilihat dari hpht. 

Intinya kalau kamu hamil, hari pertamanya itu bukan dihitung dari hari dimana kamu dan suami berhubungan ya tapi dari hari pertama haid terakhir kamu. That's why, jangan langsung berburuk sangka kalau ada pasangan yang belum genap sebulan menikah sudah positif hamil. 

Nah, waktu hamil anak pertama saya nggak bingung setiap kali ditanya hpht kapan sama bidan/dokter kandungan karena sudah saya hapal di luar kepala. Tepatnya hpht pada kehamilan pertama saya jatuh tanggal 05 November 2017, bersamaan dengan hari dimana blog ini resmi menggunakan domain siskadwyta.com. Atau kalau misal saya lupa pun tinggal buka aplikasi yang selama ini saya gunakan untuk memantau siklus haid. 

Bagaimana dengan hamil anak kedua?

Duh, jangan ditanya hpht pada kehamilan kedua saya kapan, karena persisnya saya beneran nggak tahu. Saya hanya mengira-ngira berhubung yang saya ingat cuma hari terakhir haid terakhir karena waktu itu saya sempat jalan-jalan sama suami dan Zhafran ke Gramedia MP.  Itu pun karena ada dokumentasinya sehingga saya tahu htht saya tanggal 23 Maret 2018, tinggal hitung mundur sepekan, jadi kemungkinan besar hpht saya jatuh tanggal 16 Maret 2018.

Setelah melahirkan anak pertama saya memang tidak lagi menggunakan aplikasi untuk memantau siklus haid karena pasca nifas saya juga nggak langsung haid. Apalagi memori hp saya waktu itu (sampai sekarang juga) mudah full makanya beberapa aplikasi termasuk aplikasi yang biasa saya gunakan untuk menandai datangnya waktu haid terpaksa saya hapus.

Well, saya baru haid pasca melahirkan saat usia Zhafran sudah menginjak usia 4 bulan tapi qadarullaah belum sempat aplikasinya diunduh kembali saya keburu hamil anak kedua.

Respon saat tahu hamil

Namanya juga kehamilan pertama, terlebih saya dan suami telah menanti selama berbulan-bulan. Pastinya respon kami excited sekali even reaksi suami nggak seheboh yang saya bayangkan. Ya, dalam bayangan saya saat menunjukkan hasil TP yang menunjukkan dua garis merah suami bakal suprised plus terharu gitu dan langsung  peluk istrinya ini lalu kami melakukan sujud syukur bersama. Eh ini reaksinya malah biasa-biasa saja, nggak seru ah, haha.

Suami saya memang tipenya kayak gitu, saya maklumlah, yang jelas dia sangat antusias ketika tahu istri tercintanya ini akhirnya hamil. Sampai-sampai istrinya dijaga banget, terutama untuk urusan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh saya, dia yang sibuk kontrol dan mengingatkan selalu😅

Eniwei, waktu hamil anak pertama, saya dan suami menanti selama tujuh bulan baru diamanahi. Baru tujuh bulan tapi rasanya begitu lama. Untuk anak kedua ini dikasihnya cepat padahal hitungannya dari semenjak saya melahirkan sampai hamil kembali juga kurang lebih tujuh bulan. Mungkin karena nggak terlalu dinantikan pun direncanain ya jadi pas tahu hamil lagi nggak nyangka dan terasa cepat banget. 

Termasuk cepat karena usia si kakak belum juga setahun dan saya sudah kembali merasakan nikmatnya hamil. Maa syaa Allaah. Nggak tahu mesti bilang apa, yang jelas saya dan suami mensyukuri hadiah terindah dari Allah itu meski orang-orang di sekeliling kami memberi respon  sebaliknya, menyayangkan kehamilan kedua saya.

Bahkan saya yang disalahin, kenapa nggak KB? Coba kalau KB nggak akan kebobolan? Lha yang merasa kebobolan juga siapa gitu? Saya memang nggak ada rencana mau mengatur jarak kelahiran, malah saya yang pengen bisa segera hamil lagi setelah melahirkan makanya nggak KB. 

So, apa yang salah dengan itu? Lagipula biar saya KB sekali pun tapi kalau Allah mau kasih tetap jadi juga, kan? begitupula sebaliknya, meski tidak KB kalau Allaah belum takdirkan hamil, nggak bakal hamil juga. Semua terjadi atas kehendak Allah lho, bukan kehendak manusia. 

Periksa Kehamilan

Saat hamil anak pertama, saya dan suami masih awam banget sehingga kami segera melakukan pemeriksaan di dokter kandungan. Sebelumnya sih ada rencana periksa di puskesmas saja. Berhubung jadwal kerja suami full dari pagi-sore sedangkan jadwal puskesmas untuk melayani bumil biasa hanya di pagi hari jadi kami putuskan untuk periksa pertama di dokter kandungan yang buka praktik malam hari.

Saat periksa pertama itu usia kandungan saya masih muda sekali makanya saat diperiksa pakai alat USG yang tampak baru kantung janinnya saja, janinnya sendiri belum terlihat. Dan meski itu artinya sudah positif hamil tapi masih ada kemungkinan lain, ya bisa jadi janin di rahim saya tidak berkembang atau berkembang tapi di luar rahim sehingga untuk memastikan kehamilan saya baik-baik saja  dokter menyuruh datang kembali dua pekan ke depan.

Mendengar penjelasan dokter seperti itu jelas bikin saya khawatir sekaligus menyesal, kenapa begitu terburu-buru periksa di dokter. Tahu gitu, harusnya saya tunggu dulu sampai di usia kehamilan dimana janin saya bisa nampak dengan jelas. 

Belajar dari kehamilan pertama, pada kehamilan kedua, saya tidak lagi terburu-buru memeriksakan kehamilan di dokter kandungan. Jadi untuk pemeriksaan pertama saya lebih memilih periksa ke puskesmas, karena percuma juga ya periksa di dokter kandungan kalau yang terlihat baru kantung janinnya saja, mana sudah bayar mahal pula.

Nah, kalau di puskesmas, selain gratis karena pake BPJS, pemeriksaannya lengkap, mulai dari tes urine, hb, HIV, hingga pemeriksaan perut. Minusnya cuma karena nggak ada alat USG doang.

Selebihnya, saya rekomendasikan deh buat kamu yang baru pertama kali hamil, daripada langsung periksa ke dokter kandungan mending periksanya di bidang puskesmas saja dulu. Nanti, setelah janin kamu memasuki sekitar usia 8 weeks ke atas barulah periksa ke dokter, hitung-hitung juga buat penghematan.

Keluhan Hamil

Saat hamil anak pertama keluhan yang saya nikmati   lumayan banyak. Terutama saat masih trimester awal, hampir tiada hari yang saya lewati tanpa mual dan muntah. Mana nafsu makan turun drastis, apalagi kalau makan makanan yang saya masak sendiri, uh rasanya eneg sekali. 

Masuk trimester kedua barulah nafsu makan saya kembali normal, meningkat drastis malah. Mual muntah juga sudah mulai berkurang lalu perlahan menghilang dan berganti dengan keluhan baru yang bernama "begah".  Ini adalah keluhan dimana saya merasa sesak napas setiap selesai makan. Padahal di trimester dua ini saya bawaannya pengen makan mulu, tapi jadinya serba salah karena biar makan sedikit pun pasti sesak yang dirasa.

Menginjak trimester akhir muncul lagi keluhan baru. Kaki bengkak, tangan bengkak dan badan yang mudah pegal, apalagi saat baru bangun tidur. Pegalnya minta ampun, kayak orang yang tiga hari berurut-turut kerja berat tanpa istirahat. Ya pokoknya sepanjang trimester di kehamilan anak pertama saya lalui dengan berbagai keluhan yang rasanya super nano-nano. 

Dibanding kehamilan anak pertama, saya jauh merasa lebih santai pada kehamilan anak kedua. Keluhan sih tetap ada tapi minim. Setidaknya trimester awal berhasil saya lewati tanpa drama mual dan muntah. Bahkan terlihat seperti orang yang tidak hamil karena makan pun saya kuat. Nggak sama seperti hamil si kakak, baru liat makanan yang saya masak saja rasanya mau muntah. 

Ya pokoknya kehamilan kedua ini enak banget ngejalaninya meski nggak lepas dari keluhan seperti begah di trimester dua dan badan pegal-pegal di trimester tiga. Mungkin karena sudah punya pengalaman sebelumnya makanya saya bisa lebih santai menghadapi keluhan tersebut.

Itulah beberapa perbedaan yang saya alami saat hamil anak kedua. Kalau perbedaan yang kamu rasakan apa? Atau kalau kamu punya cerita terkait kehamilan share di kolom komentar, yuk!

You May Also Like

0 comments

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.