Perjalanan Indari Mastuti Membangun Indscript Creative

by - 00:10


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Mengintip Perjalanan Indari Mastuti Membangun Indscript Creative - Sejak kecil saya sudah tertarik dengan dunia menulis. Bahkan saking doyannya saya dengan aktivitas menulis saya pernah menautkan mimpi ingin jadi penulis best seller. Yah meski hingga usia yang sudah melewati seperempat abad ini saya belum berhasil sekali pun menelurkan satu buku solo. Ups!

Mimpi saya itu sepertinya ketinggian banget ya, tapi nggak masalah. Memang saya sengaja menjulangkan mimpi tinggi-tinggi karena saya tahu mimpi itu GRATIS. Karena gratis itulah makanya saya berani bermimpi setinggi langit.

Sayangnya, ketika terjun di dunia blog mimpi saya yang setinggi langit itu jadi teralihkan. Bukannya fokus  menulis buku eh saya malah keasyikan menulis di blog. That's why sampai saat ini belum ada satu karya buku pun yang saya hasilkan. Apakah itu berarti  saya sudah melupakan mimpi untuk menjadi seorang penulis best seller?

Oh tidak. Justru karena saya masih menggenggam harapan agar bisa mewujudkan mimpi tersebut makanya saya memutuskan bergabung di Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Lho apa hubungannya?

Ya hubungannya karena anggota IIDN kebanyakan juga adalah para blogger yang rata-rata sudah punya karya lho. Makanya saya merasa beruntung banget bisa bergabung di IIDN. Setidaknya dengan menjadi anggota IIDN, passion dan mimpi saya bisa sejalanlah.

Saya sendiri sebenarnya sudah kenal IIDN saat masih berstatus lajang. Waktu itu juga sudah ada ketertarikan mau gabung di komunitas ini tapi urung karena jangankan punya anak, nikah saja belum, hehe. Ya kan namanya Ibu-Ibu Doyan Nulis, jadi saya pikir komunitas ini hanya ditujukan untuk para ibu. 

Akhirnya saya baru mengirim permintaan bergabung di grup Ibu-Ibu Doyan Nulis yang ada di FB setelah menyandang status ibu. Belum lama sih, baru setahunan. So, boleh dibilang saya masih pendatang baru di IIDN sehingga belum terlalu mengenal jauh tentang komunitas ini.

Bersyukurnya tanggal 24 April 2020 kemarin saya dan beberapa teman blogger yang juga merupakan anggota IIDN dapat kesempatan menghadiri undangan virtual berupa sharing session dengan founder Ibu-Ibu Doyan Menulis sekaligus pendiri Indscript Creative, Indari Mastuti.

Lewat acara sharing session yang berlangsung via Telegram itulah saya mengetahui perjalanan panjang yang telah dilalui oleh seorang Indari Mastuti sebelum mendirikan komunitas IIDN. Pada kesempatan tersebut perempuan yang memiliki hobi menulis sejak kecil ini banyak berkisah tentang perjalanannya selama hampir 13 tahun dalam membangun Indscript Creative.


Sekilas Tentang Indscript Creative


Indscript Creative merupakan wadah untuk para perempuan khususnya Ibu Rumah Tangga yang tertarik ingin menjadi penulis dan pebisnis. Perusahaan yang dibangun oleh Indari Mastuti sejak tahun 2007 ini mulanya hadir dengan menjadi agen naskah yaitu sebagai "jembatan" antara penulis dengan penerbit untuk menerbitkan naskah menjadi buku. 

Namun keberadaan Indscript Creative tidak lagi sebatas agen naskah sebab sepanjang perjalanannya Indari mastuti telah melakukan berbagai macam inovasi sehingga setidaknya ada tiga layanan yang menjadi fokus Indscript saat ini yaitu writing, training online dan produk bisnis.

Pada lini writing, Indscript hadir sebagai agen naskah yang siap menampung naskah-naskah para penulis yang ingin diterbitkan bukunya, untuk kemudian menyalurlan naskah-naskah tersebut ke penerbit mayor maupun indie.

Pada lini training online, indscript memiliki divisi Training Center yang membuka berbagai progran training dengan tujuan untuk membagikan ilmu dan jarinhan pertemanan kepada siapa saja yang ingin jadi pebisnis atau penulis.

Indscript juga memiliki berbagai produk bisnis untuk membantu para pebisnis menjalankan bisnisnya. Produk-produk tersebut antara lain; The Must List (Dreamboard), Daily Activities, Habit Tracker Board dan berbagai jenis agenda.

Selain itu Indscript Creative punya wadah lain yang sengaja didirikan untuk siapa saja yang ingin belajar menulis atau bisnis. Wadah yang dimaksud tersebut antara lain; Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN), Komunitas Ibu-Ibu Doyan Bisnis (IIDB) serta ada pula emakpintar.org yang merupakan wadah bagi siapa saja yang ingin mengunggah tulisannya atau melakukan promosi bisnis.


Asal Mula Lahirnya Indscript Creative

Indscript Creative lahir berawal dari keinginan Indari Mastuti untuk menjadi ibu rumah tangga seutuhnya namun tetap bisa produktif. Perempuan yang sudah menggeluti dunia kepenulisan sejak tahun 2004 ini akhirnya melepaskan karir di dunia telekomunikasi dan memilih untuk total menjadi penulis, tepat sebelum beliau menikah di tahun 2007.

Indari kemudian mendirikan Indscript Creative yang di tahun 2007 itu sebenarnya baru beliau sendiri yang menulis hingga datang penawaran dari pihak penerbit untuk menulis lebih banyak lagi tema-tema buku yang tidak sesuai dengan background beliau.

Namun adanya penawaran tersebut tidak lantas menjadi penghalang, justru menjadi pembuka jalan bagi perempuan yang akrab disapa Teh Iin ini untuk melebarkan sayap usahanya dengan mengajak beberapa penulis lainnya bergabung di Indscript. Awalnya penulis yang Teh Iin rekrut adalah Bang Aswi, blogger asal Bandung lalu menyusul dua penulis lainnya yakni Anton dan Tati.

Untuk semakin mengembangkan Indscript menjadi sebuah agensi penulis profesional Teh Iin dengan  segala keterbatasan sosial media yang ada semangat untuk terus menulis, mencari penulis dan mengembangkan bisnisnya di jasa kepenulisan meski beliau sendiri tahu tidak mudah menemukan penulis pada masa itu.

Tidak heran sih, tahun 2007 itu masih zamannya friendster dan yahoo grup. Orang-orang juga masih awam dengan yang namanya agensi naskah. Termasuk penulis-penulis yang sudah ada pada masa itu yang lebih memilih untuk mengajukan naskahnya langsung ke penerbit dibanding ke agensi naskah. Namun bukan Indari Mastuti namanya kalau hanya tinggal diam. Agar agensi naskah yang dibangunnya terus berkembang, beliau membuat gebrakan baru di dunia kepenulisan.

Indscript Creative, Agensi Naskah yang Aneh dan Bikin penasaran

Tahu nggak gebrakan apa yang dibuat Indari Mastuti sehingga Indscript Creative yang dibangunnya ini berhasil naik daun walau sebelumnya sempat dianggap sebagai agensi naskah yang aneh?

Ya gimana nggak aneh coba, jika biasanya penulis mengirimkan naskah full ke penerbit lha Indscript Creative? Langsung mengajukan ratusan  judul buku. Hal itulah yang dianggap aneh bahkan disinyalir penerbit seakan melakukan transaksi membeli kucing dalam karung karena belum ada naskah, hanya judul.

Padahal sebenarnya bukan judul saja sih karena pola pengajuan naskah yang dilakukan Indscript Creative saat itu adalah mengirimkan ratusan judul buku kemudian penerbit akan memilih judul buku tersebut. Setelah itu mereka akan diberikan outline sesuai dengan judul buku yang dipilih plus dengan contoh penulisannya. Jika acc? Barulah dilanjutkan penulisan sesuai dengan deadline yang diminta penerbit.  

Selain itu, Indscript juga hadir dengan mengusung konsep  all-in-one, bukan hanya naskah tapi hingga buku siap cetak. Konsep out of box yang diusung Indscript itu tentu saja menjadi angin segar bagi para penerbit yang mungkin tidak memiliki SDM dalam jumlah besar untuk membuat pra cetak buku hingga terbit.

Itulah pola menabrak aturan pengajuan naskah yang dilakukan Teh Iin hingga mampu membawa Indscript Creative ke puncak. Namun benarlah kata peribahasa semakin tinggi pohon semakin kencang angin menerpanya. Agensi naskah yang dibangun Teh Iin ini juga tidak lepas dari terpaan angin yang kencang.

Jatuh Bangun Indari Mastuti Membangun Indscript Creative 

Seperti halnya bisnis lainnya, Indscript Creative juga pernah berada dalam fase terpuruk. Yah, namanya dunia bisnis, jatuh bangun sudah merupakan hal yang biasa. Indscript yang pernah kebanjiran orderan merasakan olengnya di akhir tahun 2009.

Saya memulai bisnis ini memang benar-benar otodidak banget, dari pengalaman saya menimba ilmu di sebuah penerbitan di Indonesia dan membaca sebuah buku berjudul Desctop Publisher mengenai peran agency naskah di luar negeri yang sangat berkembang dan kemudian saya aplikasikan pada industri Indscript.

Menurut penuturan Teh Iin, saat itu Indscript booming dan mendapat banyak orderan. Rata-rata dalam satu bulan beliau dan karyawannya bisa mengerjakan 60-100 naskah buku. Namun rupanya antara marketing dan produksi tidak matching sehingga  pembuatan naskah buku yang jumlahnya banyak tersebut kemudian lost control atau bisa dibilang quality controlnya sangat kurang hingga akhirnya . . .

Kehilangan Banyak Pelanggan


Ya Teh Iin kehilangan banyak pelanggannya. Kehilangan pelanggan ini yang membuat perusahaan yang dibangunnya nyaris gulung tikar hingga akhirnya banyak sekali kebijakan yang kemudian Teh Iin lakukan untuk menyelamatkan perusahaannya itu. Salah satunya adalah dengan melakukan pemberhentian karyawan dan hanya memilih mereka yang memang benar-benar qualified untuk jalan bareng di perusahaan.

Belajar dari Kehilangan

Kehilangan banyak pelanggan hingga berujung pada Indscript Creative yang nyaris mengalami kebangkrutan tidak membuat Teh Iin terpuruk. Kehilangan itu justru menjadi pelajaran yang sangat berharga baginya.

Beliau akhirnya menyadari bahwa bisnis bukan hanya sekedar mengambil order yang banyak tapi bagaimana memenuhi kebutuhan pelanggan dengan maksimal dan juga menjaga kepuasan mereka agar dapat menjadi pelanggan  loyal.

Bahwa ia harus lebih baik sebagai seorang pebisnis dan harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya dalam bisnis. Maka untuk membangun kembali agen naskah yang telah dirintisnya sejak nol sejumlah usaha pun dilakukan. 

Mulai dari melayangkan permintaan, memberikan tambahan diskon hingga meningkatkan kualitas pelayanan demi mendapat kembali kepercayaan dari para pelanggan yang tersisa.

Nah pada saat itulah, ketika Indscript kembali mendapat kepercayaan dari beberapa pelanggannya yang masih membutuhkan naskah cukup banyak Teh Iin mulai berpikir, kira-kira siapa yang akan diajaknya menjadi penulis?


Lahirnya Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN)

Siapa sangka lahirnya Komunitas Ibu-Ibu Doyan Menulis (IIDN) ternyata berawal dari kehilangan yang dirasakan Teh Iin ketika Indscript berada di ambang kebangkrutan. Kehilangan tersebut mengajarkan beliau untuk memaknai semuanya dengan sederhana.


Dengan memaknai semua dengan sederhana, Teh Iin akhirnya bisa kembali mengumpulkan semangat untuk bangkit. Ia melihat dirinya sendiri sebagai seorang penulis dan juga sebagai seorang Ibu Rumah Tangga. Beliau kemudian berpikir, kalau Ibu Rumah Tangga seperti dirinya bisa produktif menulis, maka IRT lainnya tentu bisa melakukan hal yang sama.

Maka untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya pada lebih banyak orang, dalam hal ini perempuan, Teh Indari tergerak untuk memberdayakan para perempuan dengan mendirikan sebuah komunitas yang diberi nama Ibu-Ibu Doyan Nulis.

Lewat komunitas ini Teh Iin mengajak para Ibu Rumah Tangga untuk menjadi penulis. Beliau yakin bahwa dengan menulis ibu rumah tangga bisa tetap produktif dari rumah dan bisa berkarya terus menerus tanpa harus keluar rumah, seperti yang sudah dilakoninya. Itulah sebabnya visi dari komunitas yang  tanggal 24 Mei ini menginjak usia 10 tahun adalah menelurkan penulis-penulis baru di kalangan ibu rumah tangga.

IIDN menjadi pelengkap bagi Teh Iin yang merasa kehilangan pada masa itu. Beliau bahkan merasa jiwanya terisi kembali saat bertemu dengan ibu-ibu rumah tangga di IIDN yang memiliki minat sama dengannya, MENULIS.

Tujuan mulia Teh Iin yang ingin memberdayakan para perempuan khususnya Ibu Rumah Tangga itu kini berbuah hasil. Akhirnya Indscript bisa memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi perempuan yaitu dengan menghadirkan mereka di dunia penulisan.

Bahkan hingga saat ini sudah lebih dari 4.000 karya para penulis dari kalangan IRT itu yang tersebar di berbagai penerbit besar di Indonesia mulai dari Gramedia Pustaka Utama, Elex Media, Penebar, dan berbagai penerbit lainnya.

Kiat Indari Mastuti Membangun Kembali Indscript Creative

Indscript Creative yang sempat oleng bahkan nyaris terbawa angin itu akhirnya bisa terselamatkan. Mungkin ada yang bertanya, kiat-kiat apa saja yang sudah dilakukan Teh Iin sehingga bisa menyelamatkan Indscript dari ambang kebangkrutan lalu membawanya kembali ke puncak?

Baiklah yang penasaran, saya kasih bocorannya di sini ya. Inilah kiat-kiat yang sudah dilakukan Indari Mastuti untuk menyelamatkan perusahaannya; 

Mulai membangun branding

Saat perusahaannya jatuh, Teh Iin sempat mendapat tawaran dari penerbit Mizan untuk menulis biografi pengusaha Brownies Amanda. Meski belum punya pengalaman sama sekali menulis buku biografi, namun karena merasa tertantang Teh Iin akhirnya menerima tawaran tersebut.

Siapa sangka berawal dari keberanian Teh Iin menerima peluang yang belum pernah dijalankan sebelumnya, membawa beliau menjadi penulis biografi yang bisa menulis biografi berbagai tokoh, pengusaha, hingga public figure. Mulai dari buku teh Ninih, Ibu Atalia, Ibu Siti Oded, hingga pengusaha-pengusaha kelas kakap termasuk guru-guru besar.

Bahkan Indscript Creative saat ini juga dikenal sebagai salah satu perusahaan yang leading di bidang penulisan biografi karena satu per satu klien puas dan akhirnya merekomendasikan jasa indscript pada relasinya.

Mengikuti berbagai kompetisi

Saat perusahaannya berada di ambang kebangkrutan, Teh Iin berusaha untuk bisa mendapatkan uang agar bisa menutupi utangnya yang banyak.  Dan atas saran dari sang suami, beliau memutuskan untuk mendapatkan uang dengan menggali potensi yang ada.

Beliau akhirnya memberanikan diri mengikuti berbagai kompetisi bisnis sejak tahun 2010 hingga 2012. Kompetisi pertama yang beliau ikuti adalah perempuan inspiratif Nova 2010. Berawal dari kompetisi pertama itulah yang membuat founder IIDN ini tertarik hingga rajin mengikuti kompetisi-kompetisi lainnya selama dua tahun. Hasilnya?  Ada 10 penghargaan yang Teh Iin  dapatkan dalam kurun waktu tersebut.

Branding media sangat powerfull

Ternyata kemenangan yang diraih Teh Iin dalam berbagai kompetisi itu juga turut mengangkat nama Indscript dengan sangat baik karena setiap menjadi pemenang kompetisi, baik media cetak maupun elektronik akan mencarinya untuk diliput.

Setelah diliput oleh media-media tersebut nama Indari Mastuti mulai terkenal hingga mengundang banyak klien. Rata-rata klien tahu Indari Mastuti dengan Indscript Creative-nya dari media yang dibaca atau ditonton. Jumlah klien pun meningkat bukan saja di ranah dunia penerbitan, namun juga perusahaan swasta hingga BUMN. Wow banget ya.

Mencari mentor bisnis

Satu lagi dampak positif yang dirasakan Indari Mastuti dari mengikuti berbagai kompetisi hingga membuatnya merasa sangat bersyukur.  Kenapa? Sebab dari kompetisi itulah ia mulai mengenal yang namanya  mentor bisnis.

Jadi di setiap kompetisi yang diikuti Teh Iin, tim penyelenggara selalu menyediakan mentor atau coach yang tugasnya membantu para pemenang maupun finalis-finalis di kompetisi tersebut untuk meningkatkan kapasitas bisnisnya.

Teh Iin yang menyadari pentingnya mentor dalam membangun bisnis mulai mencari mentor bisinis dan belajar dari satu coach ke coach lainnya, dari satu mentor ke mentor yang lain. Dari sanalah tumbuh ide-ide baru di kepala Indari Mastuti untuk melakukan yang namanya perbaikan dan berusaha mencari cara agar bisa melejitkan Indscript dengan inovasi-inovasi baru.

Indscript Creative dan Inovasi-Inovasi Barunya 


Setelah berhasil menjauh dari ambang kebangkrutan, Teh Iin akhirnya mampu membawa kembali Indscript Creative ke puncak bahkan lebih gemilang dengan inovasi-inovasi terbarunya.

Inovasi-inovasi tersebut antara lain:

Inovasi 2013 

Pada tahun ini Indscript Creative mendirikan Sekolah Perempuan, sekaligus juga meresmikan Indscript Personal Branding, sebuah layanan mem-branding diri para pengusaha di berbagai media sehingga mampu meningkatkan bisnisnya. 

Inovasi yang satu ini muncul berdasarkan pengalaman  yang Teh Iin dapatkan selama tahun 2010-2013 dimana beliau tidak pernah berhenti mendapatkan liputan dari berbagai media dan ternyata efeknya sangat luar biasa.

Inovasi 2014 

Tahun ini Teh Iin meluncurkan Indscript Direct Selling, dengan mengeluarkan produk baru penulisan yaitu sebuah alat bantu konsistenti di bidang apa pun. Produk tersebut dinamakan METRIK dan DREAMBOARD. Penjualannya cukup  laku keras di pasaran.

Inovasi 2015

Di tahun ini Teh Iin memadukan Indscript Personal Branding dengan dunia mengajar sehingga menjadi Indscript Training Centre. Namun belakangan Teh Iin menutup Indscript Personal Branding agar bisa fokus pada Kelas Reparasi Bisnis dengan misi membangkitkan perusahaan-perusahaan yang tengah berada di ambang kebangkrutan. Total alumni Indscript Training Center hingga saat ini sendiri sudah mencapai 10.000 orang.

Masih di tahun yang sama, Teh Indari mendirikan Emak Pintar yang tujuan awalnya untuk meleburkan antara IIDN dan IIDB namun dalam perjalanan keduanya berjalan sendiri-sendiri hingga akhirnya Emak Pintar pun menjadi komunitas tersendiri yang punya kekhasan berbeda dibanding dua komunitas sebelumnya.

Inovasi 2017

Di usia Indscript yang menginjak 10 tahun ini Teh Iin membuat bisnis baru yakni Indblack, sebuah bisnis yang bergerak  di dunia fashion dengan pilihan bidang produsen handsock

Bisnis ini berjalan dengan memberdayakan ibu-ibu yang ada di sekitar rumah Teh Iin untuk menjadi pengrajin-pengrajin handmade desain handsock. Namun di awal April ini Teh Iin  mengambil keputusan untuk menutup Indblack dan memilih fokus kembali pada Indscript, bidang penulisan yang sangat ia cintai.

Oh ya di tahun ke-10 bisnis ini berdiri, Teh Iin dan timnya  juga membangun CSR (Coorporate Social Responsibility) dengan pembebasan riba, pemberian hibah modal usaha, donasi lansia, dan berbagai kegiatan donasi lainnya yang diambil dari 10% dari omzet.

Inovasi 2018

Di tahun ini Teh Iin mulai melakukan inovasi di bidang penulisan bahwa menulis itu tidak selalu harus berbentuk buku. Beliau lalu menciptakan hasil penulisan dalam banyak versi, mulai dari workbook, agenda, minibook, hingga di tahun 2019 menelurkan rangkaian guidance book yang mendapat sambutan pasar sangat luar biasa.

Saking luar biasanya, jualan bukunya selaris kacang goreng. Dalam sehari Indscript bisa menjual buku hingga mencapai 250 item. Bahkan dalam 2 hari bisa membukukan penjualan buku hingga 2.000an eksemplar. MasyaAllah. Inovation is worked!

Di tahun 2018 ini juga Teh Iin didapuk menjadi Co Founder Kunikita, sebuah bisnis retail yang menjual  berbagai kebutuhan Muslimah. Kunikita sendiri sudah memiliki lebih dari 4.000 jaringan pemasaran di Indonesia dengan produk unggulannya CIOMY, yaitu bakso aci khas Garut yang bisa terjual ribuan pcs per hari.

Dan atas prestasinya yang turut memberdayakan perempuan, Wali Kota Bandung memberikan penghargaan kepada Indari Mastuti sebagai perempuan penggerak perempuan dan sebagai Penulis Perempuan. Dua penghargaan yang menutup tahun 2018.

Inovasi 2019

Inovasi yang dilakukan Teh Iin masih berlanjut bahkan semakin brutal. Lihat saja, tahun ini beliau me-launching program BUKUIN aja! Sebuah program penerbitan indie yang dilengkapi dengan training sebelum menerbitkan buku.
 
Program ini begitu laris dengan antrian penulis yang sangat panjang sampai-sampai Indscript akhirnya memiliki percetakan sendiri untuk menyupport penerbitan indie.

Setidaknya sampai saat ini program Bukuin Aja sudah menghasilkan 4 angkatan buku antologi dengan total penerbitan buku indie sekitar hampir 40 judul buku.

Di tahun ini juga Teh Iin mengubah nama Indscript Training Center menjadi Indscript Businesswomen University sebagai penguat bahwa program yang beliau usung 3000% untuk perempuan.

Tahun 2020 Terus Berinovasi

Tahun ini Teh Iin masih semangat melakukan berbagai inovasi, salah satunya dengan berinovasi pada bidang jasa dimana Indscript Creative memiliki kekhasan dalam pelayanan dengan menghadirkan icon-icon yang ramah dan sangat friendly seperti Miss Indscript, Miss Love, Miss Cunik, Miss Writing.

Indscript Writing yang agensi naskah pun semakin menguat dengan dibukanya training khusus di bidang kepenulisan untuk menjebol penerbit mayor melalui kelas-kelas seperti 7 HARI NULIS BUKU, SEKALI NULIS JEBOL PENERBIT dan MENULIS TANPA BAKAT.

Tidak hanya itu, di era stay at home ini Teh Iin juga masih tetap berinovasi lho dengan membuat  program untuk perempuan. Salah satunya live setiap jam 7 pagi di komunitas Ibu-ibu Doyan Bisnis dengan tujuan saling menguatkan satu sama lain. 


Itulah inovasi-inovasi yang telah dilakukan Teh Iin yang maa syaa Allaah, meski hanya disampaikan via Telegram tapi saya bacanya saja merinding. Benar-benar kisah perjalanan membangun bisnis yang sangat menginspirasi. Salutnya karena bisnis di bidang kepenulisan yang dibangunnya ini tidak untuk mencari keuntungan semata. Beliau justru ingin memberi lebih banyak lagi kontribusi pada semua orang terutama untuk para perempuan.

So sejauh ini pencapaian apa sih yang belum didapatkan Teh Iin? Jika membaca ulasan saya terkait perjalanannya membangun Indscript di atas rasaya semua sudah ada dalam genggaman beliau ya. Tapi sosok inspiratif seperti beliau saja masih mau menjulangkan mimpi. 

Apa yang ia capai saat ini tidak menjadi alasan untuk berhenti bermimpi. Inovasi-inovasi pun terus beliau lakukan dengan harapan bahwa semoga semakin banyak peluang bagi perempuan untuk mengembangkan dirinya baik dalam sisi kepenulisan ataupun dalam sisi bisnis.

Lihat mimpi besar apa yang sedang Indari Mastuti kejar saat ini?

Di tahun 2024 saya berharap memiliki 15.000 jaringan pemasaran yang mereka itu berasal dari para perempuan khususnya ibu rumah tangga dan mereka bisa menghasilkan dan sangat produktif hanya dari rumah saja

Mimpi yang sangat mulia dan saya merasa bersyukur bisa bergabung di komunitas yang didirikan oleh beliau. 

*Gambar @indarimastuti
Salam hangat,

 

You May Also Like

15 komentar

  1. Perjalanan yang panjang dan menginspirasi. Saya kenal Teh Indar saat gabung IIDN waktu masih di Taiwan. Orangnya memang kreatif

    BalasHapus
  2. Saya juga anggota baru mba di IIDN. Hihii. Sudah sering saya baca tulisan tentang profil Ibu Indari Mastuti. Perfect banget deh kiprah beliau.

    BalasHapus
  3. Dulu aku berpikir dunia kepenulisan ya hanya seputar diri kita sendiri sebagai penulis dan penerbit. Ternyata malah bisa merangkul banyak orang agar sama-sama berdaya melalui jasa kepenulisan seperti Indscript Creative ini.

    Salut! Setiap pencapaian dan keteguhan langkah beliau patut dijadikan contoh.

    BalasHapus
  4. nulis di blog kan bisa jadi buku, mbak Siska
    Dulu mas Wisnu nulis tentang pengalaman jadi wartawan yang ngeliput SBY, temannya tertarik untuk jadiin buku, jadi deh best seller.
    Jadi bisa banget ngeblog dulu baru jadi buku

    BalasHapus
  5. Keren ya Teh Iin kiprahnya dalam dunia literasi, jadi ikutan 'belajar' membenahi bisnis yang tidak selalu mulus. Khususnya untuk Ibu Ibu Doyan Nulis, ini wadah yang tepat untuk mewujudkan mimpi memiliki buku Solo sendiri.
    Saya juga masih mimpi punya buku solo sendiri.

    BalasHapus
  6. Teh Indari ini jadi panutan saya. Perempuan yang menginspirasi. Meski pernah bangkrut, beliau bisa berjuang dan bangkit dari kegagalan

    BalasHapus
  7. Teh Indari ini menginspirasi sekali. Pertama kalinya ikut kelas menulis online sama beliau, kemudian lahirlah buku solo pertama saya. Banyak sekali belajar dari beliau yang punya ide nggak habis-habis...keren banget pokoknya dan selalu positif :)

    BalasHapus
  8. Saya dulu sering ikutan kelasnya teh Indari, mulai dari yg masih galau ampe sekarang alhamdulillah udah bikin bbrp buku solo. Sekarang sih udah jarang ikutan karena keterbatasan waktu. Bergabung dengan para perempuan luar biasa bikin kita ketularan berdaya. Keren perjalanan karier nya teh Indari ya mb

    BalasHapus
  9. Keren ya, suka salut sama perempuan mandiri seperti beliau. Semoga sukses bisnis beliau aamiin

    BalasHapus
  10. Dati Ibu Indari menjadi inspirasi bagi kita untuk memiliki impian yang baik dan menggapainya. Begitupun dengan mbak Siska, SemangatCiee menggapai impian menjadi penulis buku best seller, aamiin

    BalasHapus
  11. Semoga impian untuk memiliki buku Solo segera bisa terwujud ya mbak.
    Keren ya Indcript, terus berinovasi setiap tahunnya.

    BalasHapus
  12. Teh indari ini sangat luar biasa..
    Pekerja keras dan selalu inovatif

    BalasHapus
  13. Keren banget kamu sis, walau repot ngurus anak masih bisa aja melakukan banyak hal dan berkembang di dunia tulis menulis. Jadi pingin ikutan gabung IIDN juga, semangat ya sis!

    BalasHapus
  14. Ayo, Mbak. Tetap semangat bikin buku solo. Semoga bisa jadi best seller, ya

    BalasHapus
  15. Akupun sejak masa sekolah ingin jadi penulis dan mencetak buku2 seperti novel yg pernah aku baca. ternyata tidak semudah itu menulis buku.

    Melihat sepak terjang Indscript jadi pengen juga ikut bergabung.

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.