Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Membandingkan Anak

Membandingkan anak dengan cara yang baik

Tidak ada anak yang suka diibanding-bandingkan dengan saudara atau teman-temannya. Namun sadar atau tanpa disadari orang tua kerap melakukan hal ini.

Ah, saya jadi ingat, tahun pertama saya menyandang status sebagai ibu adalah tahun dimana saya berubah menjadi perempuan yang sangat sensitif dan baperan. 

Sebenarnya sampai sekarang, setelah memiliki dua anak pun saya masih sensitif hanya saja sudah tidak terlalu baperan lagi, hehe. 

Waktu awal-awal menjadi ibu, sedikit saja kritikan atau komentar yang saya terima baik itu terkait cara saya mengasuh anak lebih-lebih yang berkenaan dengan tumbuh kembang si kecil bisa sangat menyinggung dan melukai hati saya.

Padahal mungkin maksud mereka baik, ingin mengajari, ingin memberitahu cara yang benar merawat anak, tetapi entah kenapa jiwa dan pikiran saya menolak semua komentar atau kritikan yang datang.

Saya tidak ingin dikomentari. Saya tidak ingin dikritik dan saya paling benci jika ada yang mulai membanding-bandingkan anak saya.

Jujur saja, masalah milestone ini  yang bikin saya sering baper. Perkembangan Zhaf memang tidak begitu cepat seperti anak-anak sebayanya, meski masih masuk dalam batasan normal.

Dia baru bisa tengkurap umur 5 bulan, duduk sendiri tanpa dibantu setelah usia 10 bulan dan baru bisa merangkak dengan benar di usia setahun. 

Nah, masa-masa itu saya kerap dengar perkataan orang dengan kalimat-kalimat senada seperti ini.

"Anaknya kok belum bisa merangkak, sudah 10 bulan, kan? Itu anak si A 10 bulan malah sudah pintar merambat"

"Anaknya umur berapa bulan? Oh anak saya waktu umur segitu sudah lincah jalan lho. Mungkin anaknya kurang distimulasi ya"

"Anaknya kok kecil, jarang makan ya. Ada ponakan saya, anak si B susah makan juga tapi BBnya bagus karena kuat minum susu"

Ya itu kan anak lho, anak si A, anak si B, bukan anak saya, kenapa anak saya mesti kamu bandingin dengan anak mereka. 

Halo. Anak saya punya milestone-nya sendiri. Saya tidak ingin membanding-bandingkan tumbuh kembangnya dengan milestone anak orang lain, bahkan dengan saudaranya sendiri.

See! Saya sudah saya paham sekali soal ini jadi seharusnya saya bisa bersikap lebih tenang dan nggak masukin di hati omongan orang yang nyelekit itu tapi ujung-ujungnya tetap saja saya baper. Haha.

But you know what, setelah melahirkan anak kedua, justru saya sendiri yang sering kelepasan kontrol dan membanding-bandingkan kakak dengan adiknya atau sebaliknya.

Duh, maafkan Bunda Nak.

Membandingkan anak adalah sifat alami manusia

Setiap anak memang terlahir unik. Tidak ada yang sama persis, bahkan anak kembar sekali pun. Apalagi yang bukan anak kembar, apalagi yang tidak ada hubungan darah.

Jadi wajar sekali kalau tiap-tiap anak berbeda. Perbedaan tersebut bahkan sudah bisa kita rasakan dari si anak masih dalam kandungan.

Antara ibu yang satu dan ibu yang lain pasti punya cerita kehamilan masing-masing. Ada yang hamil, parah sekali ngidamnya, ada juga yang hamil kebo. Hamil tapi tidak mengalami gejala-gejala kehamilan seperti morning sickness, ngidam dan lain sebagainya.

Ibu yang memiliki anak dari satu tentunya juga punya cerita tersendiri di setiap kehamilannya. Saya juga sudah pernah menuliskan di Kamar Kenangan ini, perbedaan hamil anak pertama dan anak kedua yang saya rasakan.

Setelah melahirkan untuk kedua kalinya, perbedaan yang saya temukan antara si kakak dan adek yang berjarak 14 bulan ini malah lebih banyak lagi. Mulai dari tumbuh kembangnya, karakternya hingga wajah pun tak sama *ya iyalah kan bukan anak kembar­čśä

Nah, sebenarnya saya nggak ada maksud mau membanding-bandingkan si kakak dan adeknya. Terlebih saya sudah paham kebiasaan membandingkan ini bisa menimbulkan efek yang buruk.

Namun dalam perjalanan mengasuh dua anak, terutama si adik, saya selalu terbayang-bayang dengan bagaimana kakaknya dulu.

Contoh nih, memasuki usia sebelas bulan, kakak mulai sering GTM tapi nggak terlalu sulit saat dikasih makan. Disuapi masih mau buka mulut dan menelan makanannya. 

Si adik sebaliknya. Kalau nggak mau makan dia pinter bikin aksi GTM rapat-rapat. Atau kalau berhasil disuapi akan dia lepeh. Duh gemesin banget. Sampai nggak sadar keluarlah omongan saya kayak gini.

"Adek kok susah banget dikasih makan, kakak dulu nggak susah begini deh". Tuh kan. Saya mulai membandingkan!

Contoh lagi. Kakak ini tipe anak yang mandiri dan nggak rewel saat bundanya sibuk di dapur. Cukup dikasih mainan dia anteng. Atau paling kalau bosen main sendiri dia bakal melipir ikutan sibuk di dapur.

Kalau adek ini tipe yang maunya menempel terus sama bunda. Kadang-kadang saja dia mau main sama kakaknya tapi cuma sebentar. Kalau bosen, dia bakal rewel. Maunya ditemani terus tapi kalau diladeni pekerjaan saya nggak ada yang beres, wkwk. Ini juga gemesin. Keluarlah omelan saya.

Adek bisa diam nggak, bunda cuma di dapur kok, mau masak. Nggak kemana-mana. Adek di sini saja sama kakak. Lihat tuh kakak pinter main sendiri. Adek juga kayak gitu dong.

Satu contoh lagi ya. 

Saya tahu teorinya,  ketika anak tantrum sebaiknya orang tua tidak perlu panik dan terbawa emosi.  Apalagi langsung memenuhi keinginan anak demi menenangkannya. 

Itu bukan cara yang tepat justru membuat tantrum anak semakin menjadi-jadi. Anak akan terus mengulangi hal yang sama di kemudian hari; menangis, mengamuk sampai berguling-guling di lantai untuk mendapatkan keinginannya. 

Yang orang tua perlu lakukan cukup abaikan anak ketika tantrum sebab tidak semua keinginannya harus dituruti. Orang tua jangan sampai terpancing emosi. Biarkan anak melampiaskan semua amarahnya. Tunggu sampai ia tenang  baru didekati.

Well teorinya memang mudah tapi pada praktiknya, sungguh menguji kesabaran. Nah, kalau saya lagi nggak sabaran dan pusing dengar tangisan si kakak saya biasa langsung cerocos.

"Kakak sudah dong nangisnya. Bunda pusing dengar kakak nangis trus. Lihat nih adek tenangnya"

Ya, saya tidak suka orang lain membandingkan anak saya tetapi sadar atau tanpa disadar saya sendiri tidak sudah membandingkan-bandingkan anak saya.

Lalu saya ingat, dulunya orang tua juga suka membandingkan saya dengan saudara-saudara saya, termasuk dengan teman-teman saya yang lebih cerdas, lebih rajin dan lebih unggul dibandingkan saya.

Pertanyaan yang muncul, apa kebiasaan membandingkan anak ini menurun atau merupakan bentuk pelampiasan? 

Apa karena saya saya dulu nendapat perlakuan sering dibanding-bandingkan sehingga kini saya tumbuh menjadi orang tua yang juga hobi membanding-bandingkan?

Dari artikel yang saya baca di Asian Parents, tenyata memang sudah menjadi sifat dasar manusia untuk selalu membandingkan apa yang melekat pada dirinya atau apa yang mereka miliki.

Kebiasaan tersebut terus berlanjut hingga berada di posisi orang tua. Jadi nggak heran kalau orang tua sering membandingkan anak. 

Namun tentu saja perilaku sering membandingkan anak tidak bisa dipelihara karena seperti yang kita ketahui bersama, kebiasaan ini bisa membawa dampak yang buruk bagi anak.

Akibat buruk sering membandingkan anak

Kebiasaan membandingkan anak sama sekali tidak memberi dampak positif, justru hanya akan mengecilkan hati anak dan melemahkan mental mereka. 

Akibatnya apa yang terjadi?

Anak tumbuh menjadi tidak percaya diri

Jika orang tua sering membandingkan anak dengan saudara atau teman-temanya yang lebih unggul darinya jangan harap anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang pemberani dan percaya diri.

Justru anak akan ragu dengan kemampuan dirinya sendiri. Dia akan minder dan merasa rendah dari orang yang sering orang tuanya banding-bandingkan dengannya. 

Anak menjadi angkuh dan suka merendahkan orang lain.

Mau membandingkan anak dengan saudara, anak teman, kerabat atau siapa pun tidak akan memberi pengaruh yang positif. Termasuk jika orang tua membandingkan anak dengan teman mereka yang memiliki kemampuan di bawahnya.

Maksud hati ingin menghibur dan membesarkan hati anak, namun perbadingan semacam ini justru membuat anak merasa angkuh dan merendahkan orang lain karena terlalu disanjung-sanjung

Anak menjadi stres

Orang tua seharusnya bisa bersikap adil dan mendukung anaknya tanpa membeda-bedakan.

Kebiasaan membandingkan menunjukkan orang tua cenderung berpihak pada satu anak sehingga anak yang lainnya akan merasa tersisihkan. 

Dia akan merasa orang tuanya lebih menyayangi saudaranya ketimbang dirinya. Akhirnya dia menjadi stres, merasa tertekan, tidak betah tinggal di rumah hingga kerap bertengkar dengan saudaranya. 

Menimbulkan kecemburuan 

Setiap orang tua ingin anak-anaknya akur dan dapat menjalin hubungan baik dengan teman-temannya tapi apa yang kita lakukan?

Karena sering dibandingkan dengan saudara maupun teman-temannya, cenderung timbul perasaan tidak senang bahkan benci di hati sang anak terhadap orang yang dianggap lebih baik darinya.

Miris bila hubungan anak dengan saudaranya menjadi tidak harmonis karena orang tuanya sendiri.

Ya, anak mana yang tidak cemburu jika dianggap tidak becus dan tidak lebih baik dari saudara atau temann-temannya. Sekali lagi tidak ada anak yang suka dibanding-bandingkan. Bahkan orang tua pun pastinya tidak suka dibandingkan dengan orang tua yang lain.

Memicu terjadinya mom war

Bukan hanya anak, orang tua juga bisa merasakan dampak dari kebiasaan mereka membanding-bandingkan. Terutama di kalangan ibu-ibu. 

Mungkin kamu sudah sering dengar istilah mom war. Perang dingin yang kerap terjadi di antara ibu-ibu karena masalah perbandingan itu tadi. 

Ibu yang satu merasa anaknya lebih hebat karena berhasil lulus ASI eksklusif dibandingkan ibu yang anaknya cuma diberi sufor. Ibu yang lain merasa sedih karena anaknya tidak selincah anak temannya yang sudah lincah jalan ke sana kemari.

Ah, kenapa kita selalu membanding-bandingkan. Tidak kah cukup kita bangga dan mensyukuri kemampuan yang anak kita miliki tanpa melihat kekurangannya dan kelebihan anak orang lain.






Posting Komentar untuk "Membandingkan Anak"

Berlangganan via Email