Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

COVID-19 dan Kehilangan

COVID-19 dan kehilangan
Sudah banyak korban dan masih mau bilang COVID-19 itu nggak nyata? Apa kejadian di depan mata baru mau percaya?
Itu adalah kalimat yang saya tulis dengan mata berlinang setelah membaca kisah seorang suami yang ditinggal istri tercinta karena COVID-19.

Kisah yang memilukan hati itu dibagikan sendiri oleh sang suami di akun twitternya @ihsanjie. Saat saya menulis postingan ini, kisah yang diunggah tanggal 25 September 2020 itu sudah di-retweet oleh lebih dari 28 ribu orang dan mendapat like sebanyak 92 ribu.
Ya, kisah yang dituangkan Muhammad Ihsan Harahap Daeng Rate di twitter itu mencuri banyak perhatian warganet hingga viral di media sosial. Mungkin kamu pun pernah membaca utas tersebut.

Semenjak pandemi masuk di Indonesia awal Maret 2020 lalu sudah banyak kisah duka yang tersebar, tetapi kisah kematian Amirah Lahaya karena COVID-19 yang dituliskan suaminya dalam sebuah utas ini lah yang paling menyentuh dan membuat saya sampai menangis terisak.

Tidak pernah saya sesedih itu saat membaca cerita tentang kehilangan saat pandemi yang beredar di media sosial. Namun ungkapan kesedihan yang dibagikan Ihsan untuk mengenang mendiang istrinya seperti memiliki magnet tersendiri sehingga siapapun yang membaca kisah kepergian istrinya karena COVID-19 akan tersentuh.

Kehilangan di Masa Pandemi

Keluarga adalah harta yang paling berharga di dunia. Sehingga ketika kita kehilangan anggota keluarga maka tentu itu adalah kehilangan yang paling menyakitkan. 

Kehilangan yang menyayat hati banyak dirasakan orang-orang di masa pandemi. Apalagi proses pemakaman jenazah yang meninggal karena positif terinfeksi SARS-CoV-2 tidak bisa dihadiri oleh keluarga sendiri.

Bayangkan, ketika keluarga atau pasangan kita terpapar virus corona, kita terpaksa harus berpisah sementara. Kita berharap setelah 14 hari berlalu kita bisa berkumpul lagi dengannya. Namun apa yang terjadi?

Kondisinya semakin drop lantas pertemuan yang kita nanti-nantikan justru berujung pada perpisahan dalam kesunyian. Kita hanya bisa menatap sosok yang telah terbujur kaku itu dari kejauhan.

Kita bahkan tidak bisa mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhir sebab jenazah COVID-19 harus dimakamkan sesuai protokol kesehatan. Maka kehilangan keluarga di masa pandemi tidak hanya menyakitkan, namun juga merupakan kehilangan yang teramat berat.

Bahkan meski tidak meninggal dalam keadaan positif terinfeksi, duka di masa pandemi tetap saja terasa berat bagi keluarga yang ditinggalkan. 

Di awal tahun pandemi saya kehilangan keluarga terdekat. Pertama kakak sepupu, tidak lama berselang, bapaknya yang merupakan saudara dari mama menyusul. 

Sedih tak berbilang. Meski kakak dan om meninggal bukan karena COVID-19, tetapi adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat saya tidak bisa hadir di hari kematian keduanya. Belasungkawa pun hanya tersampaikan dari jauh.

Belum hilang duka yang menyelimuti hati, saya kembali disentak dengan kabar duka yang datang dari keluarga dekat suami. Rasanya perasaan saya hancur sekali.

Saya memang baru beberapa kali bersua dengan nenek. Namun setiap pertemuan dengan beliau selalu meninggalkan kesan yang mendalam.

Dari awal bertemu, nenek selalu menyambut saya dengan hangat dan senyum yang mengembang. Beliau sangat baik dan murah hati. Pembawaannya yang khas dan lembut membuat nenek memiliki tempat tersendiri di hati saya.

Sebelum pandemi masuk ke Indonesia kakek mengalami stroke akibat pecahnya pembuluh darah. Saat itu saya masih sempat bertemu nenek, tepatnya saat menjenguk kakek yang dirawat di rumah sakit.

Siapa sangka itu adalah pertemuan terakhir saya dengan beliau. Siapa yang menduga Allah lebih dulu memanggil nenek, padahal beliau tidak dalam keadaan sakit. 

Kematian nenek yang begitu mendadak membuat saya merasa hancur. Saya tidak bisa mengunjungi beliau dan kakek saat pandemi karena khawatir menjadi carrier. Apalagi saya dan suami tinggal di daerah yang masuk zona merah. 

Begitu pula ketika mendapat kabar kematian nenek. Kami tidak bisa datang melayat. Yang bisa saya lakukan hanya menangis dan mengirimkan doa dari jauh. 

Ah, kalau saya saja yang baru tiga tahun mengenal nenek merasa sangat kehilangan, bagaimana dengan orang-orang yang sudah lama mengenal dan dekat dengan beliau, apalagi suami dan anak-anaknya. 

Kehilangan keluarga memang sangat menyakitkan dan semakin bertambah berat rasa sesak di dada ketika kita kehilangan orang-orang tercinta di masa sulit seperti sekarang.

Ketika COVID-19 Semakin Dekat

Kalau teman-teman update data terbaru kasus COVID-19 di Indonesia saat ini sudah mencapai 1,28 juta dan total kematian lebih dari 30 ribu jiwa.  Di Sulawesi Selatan sendiri kasus COVID-19 per tanggal 22 Februari 2021 sudah tembus angka 54.209 dan tercatat 827 jiwa meninggal dunia karena COVID-19.

Pasien corona dan tingkat kematian di negeri ini masih cukup tinggi. Sampai hari ini Indonesia kesulitan menangani kasus COVID-19 yang seperti tak ada habis-habisnya. Padahal update virus corona di dunia sudah menunjukkan adanya penurunan lonjakan kasus COVID-19 yang cukup signifikan.  

Setiap hari ada penambahan kasus baru lho yang jumlahnya mencapai ribuan. Jumlah tersebut tidak bisa dibilang sedikit. Mengapa demikian? Coba saja sesekali ke luar rumah dan perhatikan bagaimana interaksi masyarakat? 

Ya, bukan hal yang mengherankan, mengapa kasus COVID-19 di Indonesia terus bertambah? Entahlah di daerah lain, kalau di daerah tempat tinggal saya masyarakat sudah berinteraksi seperti biasa. Ada yang masih patuh menerapkan protokol kesehatan, tetapi tidak sedikit pula yang berkeliaran tanpa masker dan tanpa jaga jarak.

Mereka sepertinya lupa dengan keberadaan virus corona atau mungkin tidak takut sama sekali. Padahal COVID-19 sudah semakin dekat. Virus ini mengintai kapan saja dan dimana saja. Semua orang berpeluang terpapar penyakit menular yang pertama kali muncul di Wuhan. Bahkan meski pun hanya tinggal di rumah.

Saya dan anak-anak memang menghabiskan lebih banyak waktu di rumah, tetapi suami harus tetap berangkat kerja. Tidak ada yang bisa menjamin keadaan suami aman dari virus selama di luar rumah.

Terlebih ketika dia pulang dan mengabari kalau dirinya sudah di-swab lantaran beberapa teman kantornya terinfeksi positif COVID-19. Jangan ditanya bagaimana perasaan saya saat itu, meski hasilnya masih fifty-fifty, tetapi selama hasil belum keluar, hati saya tidak bisa tenang, bawaannya was-was selalu.

Sejauh ini suami sudah tiga kali di-swab dengan alasan yang sama. Teman kantornya banyak yang positif, tetapi alhamdulillaah Allah masih melindungi suami, saya dan anak-anak dari paparan virus corona. Tentunya saya bersyukur juga karena sekarang sudah ada vaksin COVID-19.

Menyambut Vaksin COVID-19

Sejujurnya saya sangat heran dengan orang-orang yang sampai detik ini tidak percaya dengan COVID-19. Menganggap pandemi yang menggemparkan dunia setahun terakhir ini hanya konspirasi atau bualan belaka.

Padahal sudah jutaan manusia yang terengut nyawanya karena COVID-19 dan masih mengatakan virus corona is bulshit. Begitu pula ketika vaksin COVID-19 masuk ke Indonesia, bukannya senang menyambut obat yang diharapkan dapat memutuskan mata rantai virus corona eh masyarakat malah dihadang dengan berbagai isu tak sedap mengenai vaksin tersebut.

Vaksin COVID-19 dianggap tidak halal tidak aman serta dapat membahayakan tubuh. Bahkan ada mitos yang beredar setelah divaksin, HIV dan kanker akan meledak. 

Padahal faktanya vaksin yang akan disebarkan di Indonesia sudah dipastikan lulus uji klinis dan evaluasi dari BPOM. Selain itu vaksin COVID-19 buatan Sinovac mengandung virus yang sudah dimatikan (inactivated virus), bukan virus yang hidup maupun dilemahkan. Vaksin ini pun tidak mengandung boraks, formalin, merkuri, dan pengawet. Jadi jelas aman dan tidak perlu diragukan kehalalannya.

Pasalnya Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat sendiri pada tanggal 8 Januari 2021 sudah menetapkan bahwa vaksin COVID-19 produksi Sinovac, yang diajukan proses sertifikasinya oleh PT. Bio Farma, adalah SUCI & HALAL. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Ketua MUI Bidang Fatwa KH. Asrorun Niam Sholeh.

Kehadiran COVID-19 dapat membuat sistem imun tubuh mengenali dan mampu melawan saat terkena penyakit tersebut. Nah dsri penjelasan alodokter, sebenarnya sistem kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit ini bisa terbentuk secara alami saat seseorang terinfeksi virus atau bakteri penyebabnya. 

Namun, infeksi virus corona memiliki risiko kematian dan daya tular yang tinggi. Oleh sebab itu, diperlukan cara lain untuk membentuk sistem kekebalan tubuh, yaitu dengan vaksinasi

Penutup

Tidak ada seorang pun yang bisa menjamin dirinya bakal bertahan setelah terpapar COVID-19. Maka tentu akan lebih baik jika kita tidak pernah terserang penyakit ini sama sekali. 

Namun sekali lagi, tidak ada yang bisa menjamin dirinya bisa terbebas dari COVID-19. Yang bisa kita lakukan adalah ikhtiar semaksimal mungkin. Jaga diri, jaga keluarga. Patuhi protokol kesehatan. Selalu gunakan masker saat keluar rumah, rajin cuci tangan jangan menentang vaksinasi.

COVID-19 tidak mengenal umur lho dan ini adalah penyakit yang sangat serius. Memang rata-rata kasus kematian akibat COVID-19 yang dialami oleh para orang tua lanjut usia atau lansia dengan komorbid (penyakit penyerta).

Namun mari kita belajar dari pengalaman saat pandemi COVID-19 yang dialami Daeng Rate. Sang istri, almarhumah Amira Lahaya masih sangat muda. Usianya belum genap 32 tahun. Pernikahannya sendiri baru berjalan dua tahun, dia juga memiliki seorang putri bernama Aruna Zakiyah Ihsan yang baru menginjak usia 16 bulan ketika terpapar COVID-19 yang berujung pada kematian. 

Vaksin COVID-19 adalah secercah harapan bagi kita semua. Setidaknya pemberian vaksin merupakan yang cara efektif mengatasi pandemi COVID-19 yang sampai saat ini masih berlangsung. 

So ayo dukung pemerintah untuk memutuskan mata rantai penularan COVID-19 dengan tetap patuhi protokol kesehatan dan jangan takut vaksin, agar tidak ada lagi kehilangan-kehilangan selanjutnya.

Tuhan memang yang mengatur hidup dan mati seseorang, namun Dia juga memberi kuasa pada manusia untuk mengubah takdirnya sendiri.
Salam,


“Tulisan ini diikutkan dalam #TantanganBlogAM2021

Posting Komentar untuk "COVID-19 dan Kehilangan"

Berlangganan via Email