Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Program Langit Biru, Harapan untuk Indonesia

Program Langit Biru, Harapan untuk Indonesia yang lebih baik, lebih bersih dan lebih sehat. Ayo dukung Program Langit Biru dengan mulai menggunakan BBM Ramah Lingkungan.

Program langit biru
Di bawah langit biru Indonesia

Kenapa tidak isi bensin Premium saja, Pertamax kan mahal? 

Pertanyaan di atas yang lebih terdengar sebagai celetukan itu saya ajukan pada suami setelah motor yang dikendarainya keluar dari SPBU Perintis Kemerdekaan yang lokasinya tepat berhadapan dengan pintu gerbang Universitas Hasanuddin Makassar. 

Saya jelas masih ingat pertanyaan tersebut. Saat itu kami masih berstatus pengantin baru dan itu momen pertama kali saya diajak suami singgah di SPBU untuk isi bahan bakar. 

Namun betapa terkejut dan herannya saya ketika motor kami melaju dan berhenti tepat di depan POM Bensin untuk pengisian Pertamax. Jujur, seumur-seumur tepatnya sejak bisa bawa motor sendiri saya tidak pernah isi motor dengan bensin Pertamax. 

Malah dulu saya sempat mengira bahan bakar untuk kendaraan roda dua ya cuma Premium. Wajar kalau saya pernah beranggapan seperti itu. Pasalnya  Kampung kelahiran saya tepatnya di Kabupaten Kepulauan Yapen (Papua) saat itu hanya memiliki satu SPBU. 

Jadi jangankan Pertamax, Premium saja susah didapat karena harus ngantri berjam-jam. Akhirnya banyak masyarakat sana yang lebih suka beli bensin eceran sekalipun harganya lebih mahal. 

Bensin yang dijual eceran juga rata-rata Premium sehingga saya hanya familiar dengan bensin yang berwarna kuning. 

Setelah mengenal Pertamax pun saya nggak berani mengisi kendaraan saya dengan BBM berkualitas itu karena entah dapat mindset dari mana sehingga yang tertanam di benak saya, Pertamax cuma untuk orang kaya, cuma untuk mereka yang punya kendaraan roda empat. 
 
Oleh sebab itu, saat pertama kali mengetahui suami lebih memilih isi bensin dengan Pertamax, saya sebenarnya mau protes gitu. 

Ngapain sih beli pertamax segala, kita kan bukan orang kaya. Kalau ada bensin yang murah kenapa harus beli bensin yang mahal? Buang-buang duit saja. Begitu protes saya dalam hati, tapi kata-kata yang keluar dari mulut saya tentu tidak sekasar itu, hehe. 

Saya hanya menodongnya dengan satu pertanyaan "kenapa tidak beli premium saja, Pertamax kan mahal?" 

Saya menebak suami akan menjawab "supaya kita nggak perlu ngantri, sayang", tetapi lagi-lagi jawaban suami bikin saya terperangah. 

Biar lebih hemat. Lebih bersih. Menurut suami bensin motornya itu lebih awet kalau pakai Pertamax dibanding Premium. 

Selain itu pertamax juga ampuh membersihkan bagian dalam mesin jadi bisa lebih hemat juga sebenarnya karena motor nggak perlu sering-sering diservis. 

Penjelasan suami beberapa tahun lalu itu ternyata senada dengan yang disampaikan oleh Bapak Tulus Abadi, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dalam sesi talkshow terkait Program Langit Biru yang disiarkan langsung oleh KBR (Kabar Berita Radio). 
Konsumen yang menggunakan premium mengalami kerugian minimal dalam dua hal. Pertama kerugian dalam mengeluarkan rupiah yang tujuannya ingin berhemat karena murah, tetapi sebenarnya tekor sebab kualitas premium itu jelek sehingga jarak tempuhnya rendah. Akibatnya dia akan berkali-kali mengisi premium. Beda halnya kalau menggunakan Pertamax atau minimal Pertalite. Kemudian untuk kerugian yang kedua konsumen pada akhirnya harus mengeluarkan biaya yang lebih banyak untuk maintenance atau merawat kendaraannya karena menggunakan premium karena bensin dengan nilai oktan rendah ini dapat merusak keandalan mesin.
Menurut beliau hal tersebut yang kurang disadari masyarakat Indonesia. Selain itu baik operator (pertamina) maupun regulator (pemerintah) juga kurang mengingatkan dan mengedukasi masyarakat terkait BBM Ramah Lingkungan sehingga merugikan banyak hal terutama dari sisi lingkungan. 

Kesadaran masyarakat terhadap lingkungan juga masih rendah terbukti dengan banyaknya konsumen yang lebih memilih menggunakan Premium. Padahal bahan bakar yang tidak memenuhi standar EURO bisa melukai bumi. Bahkan selain mencemari lingkungan, Premium juga dapat mengganggu kesehatan. 

Oleh sebab itu talkshow yang dilanjutkan dengan diskusi publik mengenai Penggunaan BBM Ramah Lingkungan Guna Mewujudkan Program Langit Biru ini menjadi salah satu upaya untuk menagih janji kepada pemerintah agar konsisten dan komitmen dalam rangka mewujudkan Langit Biru maupun komitmen Paris.

Lebih lanjut Pak Tulus juga mengingatkan bahwa jangan mimpi Pak Jokowi akan bisa mewujudkan Paris Protokol yakni menurunkan emisi gas rumah kaca 29%-41% pada 2030 nanti kalau rakyat Indonesia masih sangat bergantung dengan energi fosil dan BBM yang tidak ramah lingkungan.

Program Langit Biru, Harapan untuk Indonesia


Saya merasa bersyukur dan senang sekali bisa mengikuti kegiatan yang diselenggarakan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) bekerjasama dengan KBR (Kabar Berita Radio) pada Kamis, 18 Maret 2021.

Sebelumnya saya baru mengenal BBM Ramah Lingkungan setelah membaca postingan beberapa teman blogger yang membahas tentang Program Langit Biru. Alhamdulillah saya merasa semakin tercerahkan setelah mengikuti webinar yang saya ikuti lewat media Zoom ini. 

Kegiatan yang berlangsung dari pukul 08.00-12.00 WIB ini menghadirkan narasumber diantaranya Dasril Chaniago selaku Direktur Pengendalian Pencemaran Udara KLHK, Faisal Basri seorang tokoh pengamat ekonomi, Thamzil Tahir yang merupakan pimpinan Redaksi Tribun Timur, Tulus Abadi, Ketua Pengurus Harian YLKI dan juga Deny Djukardi W selaku VP Sales Support PT Pertamina.

Berbicara mengenai BBM Ramah Lingkungan saya sempat iseng bertanya pada suami. Karena suami sudah bertahun-tahun meninggalkan Premium jadi saya pikir dia tahu apa yang dimaksud dengan BBM Ramah Lingkungan? Ternyata tidak. 

Alasan dia memilih Pertamax atau minimal Pertalite (jika stok Pertamax di SPBU kosong) karena itu tadi, biar lebih hemat dan mesin motornya tetap andal. 

Maka sepertinya tidak berlebihan kalau saya mengatakan suami termasuk orang yang sudah mengedukasi dirinya sendiri setelah merasakan manfaat menggunakan Pertamax, sekalipun dia tidak tahu kalau ternyata bahan bakar pilihannya itulah yang dimaksud dengan BBM Ramah Lingkungan. 

Barangkali masyarakat tinggal perlu diedukasi saat ini sehingga tidak bergantung lagi dengan bahan bakar fosil dan premium yang punya kualitas sangat buruk dan dapat mencemari udara. 

Oleh sebab itu sebelum lanjut saya merasa perlu membagikan apa yang sudah saya ketahui mengenai BBM Ramah Lingkungan. Namun sebelumnya kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu standar EURO.

Standar Euro

Seperti yang kita ketahui bersama, salah satu penyebab utama polusi udara adalah bahan bakar maupun mesin yang tidak dapat mengolah emisi dari kendaraan bermotor dengan baik. Akibatnya mesin mengeluarkan gas buang yang tidak ramah lingkungan. 

Eropa termasuk negara yang pertama kali menunjukkan kepeduliannya terhadap emisi buangan kendaraan yang ramah lingkungan. Sebenarnya bukan Eropa saja, Amerika dan Jepang pun memiliki penetapan standar emisi tersendiri. 

Namun sejauh ini standar emisi yang ditetapkan negara Eropa dinilai lebih baik dan tepat untuk lingkungan serta mudah diaplikasikan. Standar emisi dari Eropa inilah yang disebut EURO (European Emission Standards). 

Saat ini standar EURO sudah banyak diadopsi banyak negara di dunia. Standar ini menetapkan bahwa kadar kendaraan harus memiliki kadar gas buang berada di bawah ambang tertentu. 

Selain faktor mesin, EURO juga mensyaratkan bahwa bahan bakar harus memenuhi standar tertentu untuk keluaran emisi yang lebih baik. 

Nah, standar EURO ini yang sering dijadikan patokan oleh banyak perusahaan otomotif untuk memproduksi kendaraan yang ramah lingkungan. 

Dimana standar EURO mengharuskan setiap produsen memperhatikan spesifikasi kendaraannya agar gas buang seperti Nitrogen Oksida, Hidrokarbon, dan Karbon Monoksida menjadi lebih ramah lingkungan

Semakin tinggi standar Euro yang ditetapkan maka semakin kecil batas kandungan gas tersebut sehingga berdampak negatif pada manusia dan lingkungan. 

Eropa sendiri menetapkan standar emisi kendaraan ini pertama kali di tahun 1992 dengan nama Euro 1 yang kemudian setiap 4 atau 5 tahun mengalami revisi dengan ketentuan yang juga semakin ketat. Sampai saat ini standar EURO yang terbaru telah mencapai standar EURO 6 (dan kemungkinan masih akan ada standar EURO baru). 

Indonesia termasuk negara yang juga mengadopsi standar EURO, tetapi sayangnya negara tercinta kita masih tertinggal jauh. Negara-negara lain sudah menerapkan standar EURO 5 bahkan 6 sementara Indonesia dari tahun 2007 sampai saat ini masih setia menggunakan standar EURO 2. 

Padahal sebenarnya Indonesia sudah mulai menerapkan standar EURO 4 sesuai ketentuan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) No 20 Tahun 2017, tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, N, dan O, dimana bensin minimum harus mengandung RON 91 atau CN minimal 51.

Pada tahun itu juga Pemerintah mulai mengendalikan penggunaan Premiun secar ketat di Pulau Jawa, Madura, dan Bali sudah. Namun sayangnya pada tahun 2018 dengan alasan mudik lebaran (padahal motif sebenarnya adalah politik) Premium diadakan kembali.

Akibatnya seperti yang kita lihat, sampai saat ini BBM yang berkualitas rendah itu masih menjadi primadona di kalangan masyarakat.

BBM yang Ramah Lingkungan


Pertamina sendiri telah membagi BBM yang diproduksi ke dalam dua jenis, yaitu gasolin untuk kendaraan mesin bensin dan gasoil untuk mesin diesel. 

Produk jenis gasolin hadir dengan payung merk Pertamax Series. Sementara untuk produk gasoil hadir dengan payung merk Dex Series. Namun di sini saya hanya fokus pada produk untuk kendaraan mesin bensin. Dimana Pertamax Series terbagi lagi menjadi dua produk, yakni Pertamax dan Pertamax Turbo. 

Jika ditinjau dari nilai Research Octan Number (RON) atau biasa disebut oktan keduanya merupakan gasolin terbaik. Pertamax memiliki nilai RON 92 sedangkan Pertamax Turbo memiliki nilai Ron 98. 

Namun seperti yang kita ketahui, Pertamina juga menghadirkan Pertalite dengan nilai oktan 90 dan Premium yang dipertahankan pemerintah dengan nilai oktan paling rendah yaitu 88. 

Berbanding lurus dengan standar EURO, semakin tinggi kandungan oktan maka semakin baik kualitas BBM dan performa yang akan dihasilkan oleh mesin. BBM dengan nilai oktan paling tinggi inilah yang masuk kategori BBM Ramah Lingkungan. 

Jadi kalau kita lihat dari gambar di atas, jelas bahwa BBM yang kualitasnya paling buruk atau sangat tidak ramah lingkungan adalah Premium. Pertalite sendiri sebenarnya belum memenuhi standar EURO 4, tetapi setidaknya lebih baik dari Premium. 

Pertamina menghadirkan Pertalite sebagai salah salah satu upaya untuk mengenalkan kepada masyarakat sedikit demi sedikit bagaimana manfaat dari BBM yang lebih baik dan lebih ramah lingkungan.

Deny Djukardi menjelaskan bahwa Pertamina sengaja tidak langsung menetapkan masyarakat untuk loncat dari RON 88 ke RON 92 karena terlalu jauh atau terkesan radikal sehingga perusahan di jasa pendistribusian minyak ini memberikan alternatif RON 90 yang dianggap sudah cukup lebih baik dibanding RON 88.

Wujudkan Program Langit Biru, Harga Seharusnya Bukan Penghalang


Berbicara mengenai Program Langit Biru sendiri tentu tidak lepas dari BBM ramah lingkungan karena keduanya saling berkelindan, seperti yang disampaikan Pak Tulis Abadi di awal sesi talkshow.

Kita tidak bisa bicara Langit Biru jika masih sangat bergantung dengan energi fosil khususnya BBM dan PLTU batu bara. Kita tidak bisa menjanjikan anak cucu kita menghirup udara segar jika kita sendiri tidak peka terhadap lingkungan.

Langit Biru bukanlah program yang baru. Bukan juga program launching lagu perdana Pertamina seperti yang disangka Adhi Bassi Toayya, content creator yang juga diundang dalam acara dialog kemarin.
Program Langit Biru merupakan program pemerintah yang telah dicanangkan sejak tahun 1996 oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup melalui Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 15 Tahun 1996. 
Program ini bertujuan mengendalikan dan mencegah pencemaran udara dan mewujudkan perilaku sadar lingkungan baik dari sumber tidak bergerak (industri) maupun sumber bergerak yaitu kendaraan bermotor.

Namun mirisnya, program yang sudah berumur seperempat abad ini berjalan sangat lambat, entah karena Pemerintah kehilangan semangat atau masyarakat yang tidak tahu atau tidak peduli sama sekali.

Akibatnya ketika sebagian besar negara sudah menggunakan bensin dengan RON di atas 91, Indonesia masih bertahan dengan RON 88-nya. Ini fakta yang menyedihkan sebenarnya. Edukasi terhadap masyarakat mengenai Program Langit Biru belum tersebar secara menyeluruh.

Terkait masalah ini menurut Dasrul Chaniago selaku Direktur Pengendalian Pencemaran Udara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengaku masih kesulitan dalam hal sosialisasi Program Langit Biru karena salah satu faktor yang mempengaruhi adalah masalah harga. 

Masyarakat menginginkan murah sementara bahan bakar dengan kualitas bagus lebih mahal dibanding bahan bakar berkualitas buruk.

Menanggapi hal tersebut, Faisal Basri mengatakan bahwa secara umum memang berlaku hukum permintaan, semakin murah barang semakin banyak dibeli, mau tidak mau harga yang utama baru yang lain-lain.

Apalagi dengan ketersediaan BBM tidak ramah lingkungan yang masih melimpah. Bahkan masih menjadi pilihan utama yang dikonsumsi masyarakat karena harganya yang murah.

Disamping itu Pengamat Ekonomi yang pernah ditunjuk sebagai Ketua tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi ini menyebutkan bahwa Pertamina sebenarnya sudah siap menghapus BBM premium. Namun masih terkendala oleh tarik ulur kepentingan di kalangan Pemerintah.

Menurut beliau situasi pandemi ini bisa jadi momen paling bagus untuk membunuh premium. Lebih lanjut beliau katakan bahwa kita perlu bertransformasi di segala bidang kehidupan, termasuk BBM dari yang tidak ramah lingkungan ke ramah lingkungan.

Thamzil Tahir yang saat kegiatan berlangsung sedang berada di Konawe menawarkan solusi agar kampanye Program Langit Biru ini jangan hanya mengangkat isu lingkungan, tetapi perlu bawa isu manfaat.

Selama ini kebanyakan masyarakat memilih Premium hanya karena harganya yang murah. Memang secara harga mereka menang tetapi kalah dalam pemakaian. 

Contoh yang diberikan Pak Thamzil adalah ketika beliau beli premium seharga Rp50.000,- jarak tempuhnya hanya 30 km sedangkan ketika beliau menggunakan Pertamax atau Pertalite seharga Rp60.000,- beliau bisa menempuh jarak hingga 60 km. Isu-isu seperti itulah yang menurut pemimpin Tribun Timur Makassar perlu diangkat oleh Pertamina.

Diskusi publik yang dipandu oleh Maulana Isnarto, penyiar senior KBR ini semakin menarik untuk disimak karena menghadirkan banyak pembicara, tidak hanya narasumber utama, melainkan juga dari kalangan pemerintah daerah hingga para influencer.

Nah tanggapan dari Influencer menyikapi Program Langit Biru ini berbeda lagi. Kalau saran dari Leoni ya sebaiknya premium langsung dihilangkan saja. Jika premium sudah tidak ada maka masyarakat pastinya atau mau tidak mau akan beralih ke Pertalite atau Premium karena mereka butuh.

Entrpreneur asal Lombok ini juga memberi solusi agar Progam Langit Biru ini juga bisa menyentil kalangan emak-emak. Pasalnya emak-emak akan sangat antusias dengan isu-isu terkait kesehatan anak dan juga berbau diskon.

Ramon Y Tungka ketika ditanya tanggapannya mengenai hal serupa juga sependapat dengan Leoni Agustina. Jika ingin Program Langit Biru cepat terlaksana sesuai harapan, Premium memang harus dihilangkan agar masyarakat tidak ada pilihan selain memilih bahan bakar yang ramah lingkungan.

Akan tetapi, aktor film yang juga merupakan aktivis ini menambahkan, namun harus dibarengi dengan "why"-nya. Tidak serta merta langsung dihilangkan. Setidaknya masyarakat harus diberi sosialisasi dan edukasi terlebih dahulu sehingga pada akhirnya mereka bisa dan mau menggunakan BBM ramah lingkungan atas dasar pilihan sendiri bukan karena paksaan.

Adhy Basto yang memiliki nama lengkap Satriyadi Mulyadi juga ikut menambahkan. Menurut content creator yang suka melawak ini, sekarang dunia sudah berada dalam genggaman. 

Sehingga beliau menyarankan agar sosialisasi terkait Program Langit Biru sebaiknya lebih digencarkan di media sosial dengan mengangkut influencer atau content creator karena mereka bisa menerjemahkan maksud dan tujuan dari program Pemerintah dengan cara yang menarik dan mudah dicerna.

Harapan untuk Indonesia di Masa Mendatang


Hari ini kita masih memandang langit dengan warnanya yang biru, namun apakah pemandangan yang sama juga bisa dinikmati anak cucu kita kelak? 

Apakah 20 atau 30 tahun ke depan langit masih sebiru sekarang atau justru telah berubah menjadi abu-abu layaknya kabut karena penuh dengan emunisi karbon dioksida?

Kita mungkin sudah sering menghirup udara tidak sehat di kota-kota besar. Khususnya di Kota Makassar sendiri dari tahun ke tahun kualitas udaranya terus menurun.

Salah satu penyebabnya karena warga Makassar masih doyan menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang kualitasnya sangat buruk, yaitu jenis premium RON88.

Dilansir dari bensinkita.com, hingga Februari 2021 konsumsi BBM Premium di Makasar mencapai 67%, dan 54% untuk wilayah Sulawesi Selatan. 

Artinya kalau kita mau bicara gaya hidup ramah lingkungan untuk wilayah Makassar dan Sulawesi Selatan masih sangat kurang jika ditinjau dari konsumsi BBM-nya tadi. 

Apalagi jika bicara skala nasional, Indonesia masih tertinggal jauh. Bayangkan saja, kebanyakan negara di dunia sudah menggunakan bensin dengan RON di atas 90, termasuk negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Vietnam dan Thailand. 

Sementara kini tersisa Indonesia dan tujuh negara lainnya (Bangladesh, Colombia, Mesir, Mongolia, Ukraina, dan Uzbekistan) yang masih bertahan menggunakan bensin dengan RON di bawah 90. 

Berbicara hal ini, saya tertarik ketika Ketua Pengurus Harian YLKI, Pak Tulis Abadi mengatakan dalam hal tertentu kita harus belajar pada masyarakat Papua. 

Beliau pernah survey ke Jayapura, Wamena dan Papua Barat dan menemukan fakta bahwa masyarakat di sana sebagian besar sudah beralih menggunakan Pertalite. Khususnya di Jayapura persentasenya sudah mencapai 50%.

Sesuai dengan yang disampaikan Yewen Papua yang mengatakan bahwa masyarakat Papua rata-rata sudah menggunakan Pertalite. Namun kemudian komika asal Papua ini berceletuk.

"Di Papua sini Langitnya selalu Biru tinggal Program Langit Birunya yang mungkin belum sampai" 

Artinya sosialisasi dan edukasi tentang Program Langit Biru ini yang memang masih kurang. Namun kita patut bersyukur karena Pertamina tidak melupakan perannya dan telah menghadirkan program untuk mendukung Langit Biru.

Seperti yang kembali disampaikan Pak Djukardi, Pertamina sesuai komitmennya seperti yang dicanangkan pemerintah untuk menciptakan langit biru sejak awal tahun 2020 telah menghadirkan program dengan nama yang sama yaitu Langit Biru.

Program Langit Biru Pertamina adalah program marketing Pertamina untuk memberi kesempatan kepada konsumen di wilayah-wilayah tertentu untuk bisa mencicipi keunggulan dan manfaat dari BBM Ramah Lingkungan.

Program marketing sekaligus merupakan edukasi tersebut berupa harga khusus atau diskon untuk pertalite dengan syarat dan ketentuan berlaku. Harapannya agar setelah merasakan manfaat dari BBM ramah lingkungan ini masyarakat bisa meninggalkan Premium.

Alhamdulillah Program Langit Biru Pertamina ini juga sudah sampai di Kota Daeng. Semoga dengan begitu semakin banyak masyarakat yang sadar dengan pentingnya BBM Ramah Lingkungan.

Dengan adanya Program Langit Biru tentu kita semua berharap Langit Indonesia hari ini, 5 tahun ke depan, 10 tahun mendatang, 20 tahun ke depan akan tetap secerah itu, dengan pesona birunya yang cantik.

Kita berharap Langit Biru dan udara segar masih bisa kita rasakan dengan leluasa saat ini juga bisa leluasa dinikmati anak, cucu, cicit kita kelak. 

Maka program yang sungguh mulia ini seharusnya bukan menjadi tanggung jawab Pemerintah saja, bukan cuma berada di tangan Pertamina saja, tetapi kita semua punya peran yang sama untuk menjaga Langit Biru.

Oleh sebab itu, Program Langit Biru tidak seharusnya lagi menjadi wacana, melainkan harapan bagi kita semua untuk Indonesia yang lebih baik, lebih sehat dan lebih cerah di masa mendatang.

Ayo kita dukung Program Langit Biru dengan mulai meninggalkan premium dan beralih menggunakan Pertamax atau minimal Pertalite.

Bagi teman-teman yang masih penasaran karena pembahasan saya di atas mungkin juga masih kurang lengkap bisa nonton siaran ulang Webinar KBR x YLKI Penggunaan BBM Ramah Lingkungan Guna Mewujudkan Program Langit Biru di Channel Youtube KBR di bawah ini


Sekian. Semoga postingan ini bermanfaat.
Salam Langit Biru,


16 komentar untuk "Program Langit Biru, Harapan untuk Indonesia"

  1. Programnya keren banget nih kk. Semua orang wajib dukung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener Kak. Program seperti ini memang harus didukung.

      Hapus
  2. Aku juga mendukung program langit biru. Kalau di liat sekarang premium juga udah jarang ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya karena Pertamina juga sekarang lagi gencar menjalankan program Langit Biru dan menjual pertalite yang sama harganya dengan Premium

      Hapus
  3. Iyaa kak saya sama suami saya awalnyaa berdebat gituπŸ˜…πŸ˜…
    Kenapa beli pertamax si, gak ambil pertalite ajaaa. Ternyata jawabannya juga sama kutipan di atas biar lebih awet, dan gak ngerusakin mesin. Yuk jaga lingkungan agar tetep bisa melihat indahnya langit biru.

    BalasHapus
  4. baru tau akutuh kalo ada program langit biru. duh serem juga ya kalo langit tiba-tiba jadi abu-abu gitu, mbak.. Tapi aku biasa pake pertamax sih, hihi..

    BalasHapus
  5. semoga program ini berjalan dengan baik dan mari kita dukung program ini untuk membuat bumi lebih sehat dan lebih baik. lanjutkan pertamina

    BalasHapus
  6. Semoga program yg bagus seperti inj bisa terus ada setiap tahunnya agar bisa meningkatkan awarness bagi masyarakat tentang pentingnya lagit bagi kita semua

    BalasHapus
  7. Alhamdulillah sekarang ada program BBM ramah lingkungan, semoga cepat terealisasi ya

    BalasHapus
  8. Bener banget nih nggak cuma tanggung jawab pemerintah dan lembaga terkait untuk mewujudkan langit biru. Justru masyarakat juga kunci dari programnya. Ak gagal fokus sama foto di awal mbak. Bagus wkwk

    BalasHapus
  9. Semoga dengan adanya program ini bisa menjadikan bumi kita lebih bersih ya kak.. Sesuai dengan programnya langit biru, menjadikan langit cerah dan biru tanpa polusi..

    BalasHapus
  10. Sebentar Teh. Habis baca artikel ini aku auto merasa, kemana aja aku selama ini? Aku taunya kalau kendaraan roda dua tuh, kalo nggak premium ya pertalite. Ternyata bisa juga pakai pertamax.

    Semoga program langit biru ini makin meluas.

    BalasHapus
  11. Aku tim pengguna pertamax nih. Alhamdulillah motor udah sepuluh tahun lebih masih bagus aja mesinnya. Semoga program ini mampu membantu langit tetap membiru yaa, yg plg pntg lagi kita jg harus bisa mengurangi jejak karbon sih

    BalasHapus
  12. Alhamdulullah ya mba Siska ikutan ini jadi melek lagi, bagaimana harus menjaga bumi kita dengan baik dimulai dari diri sendiri dalam menggunakan bahan bakar kendaraan yang dimiliki ya. Aku ga ikutan tapi sneneg dapet resumnya

    BalasHapus
  13. kalo sekarang alhamdulillah bensin motorku pakai vpower, dulu waktu kerja sebisa mungkin pertamax karena udah belajar tentang pencemaran udara akibat emisi transportasi. tapi kembali lagi, selama tidak menyulitkan, mengapa tidak?

    BalasHapus
  14. MasyaAllah. Bahkan efeknya sebesar itu yaa. Kadang ngga mikir dampaknya sampai ke sana 😳😳
    Aih keren mbaa syska tulisannya. So deep

    BalasHapus