Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tips Mengelola Emosi Positif Bunda dalam Pengasuhan Si Kecil

Tips mengelola emosi positif bunda dalam pengasuhan si kecil

Sebagai orang tua kita tentu perlu mengetahui tips mengelola emosi positif bunda dalam pengasuah si kecil.

Pasalnya menjadi ibu bukan pekerjaan yang mudah. Terutama di masa pandemi seperti sekarang. Tugas seorang ibu tentu menjadi lebih berat dan terasa lebih menjenuhkan.

Ya, bayangkan saja. Kondisi pandemi sudah berjalan hampir dua tahun. Selama itu pula saya jarang ke luar rumah, bahkan sekadar refreshing untuk menyegarkan pikiran. 

Alhasil, saya yang masih mengurus duo balita pun tidak lepas dari rasa lelah dan penat akibat pekerjaan rumah yang seolah tidak ada habis-habisnya dan barangkali karena kurang piknik juga. 

Dengan kondisi tersebut, saya menyadari belakangan ini saya mudah melampiaskan emosi negatif. Setiap hari ada saja momen dimana anak-anak kena semprotan saya. 

Padahal usia mereka baru 2 dan 3 tahun. Belum mengerti banyak hal. Tapi sudah sering dapat marah sama bundanya atas kesalahan yang sebenarnya mereka pun belum mengerti.

Duh, kalau bahas ini saya jadi merasa bersalah. Jujurly, saya pengen banget bisa mengontrol emosi saya dengan baik. Tapi bagaimana caranya? Saya harus mulai darimana?

Saya merasa ada yang salah dengan diri saya. Kenapa emosi negatif saya mudah sekali meledak? Kenapa saya tidak mampu menahan diri? Kenapa saya sering memarahi anak-anak saya? Kenapa saya tidak bisa untuk lebih memahami perasaan mereka?

Tentu saja saya tidak ingin selamanya bersikap demikian. Saya ingin bisa mengontrol diri dan emosi saya dengan baik. 

Oleh karenanya, pas tahu ada Webinar Spesial Hari Ibu bertajuk "Mengelola Emosi Positif Bunda dalam Pengasuhan Si Kecil" yang diselenggarakan oleh Sahabat Bunda Generasi Maju (SBGM) saya langsung tertarik untuk ikutan.

Peringati Hari Ibu bersama Sahabat Ibu Generasi Maju (SBGM)

Hari ibu bersama sahabat bunda generasi maju

Webinar yang berlangsung via Zoom ini menghadirkan Anna Surti Ariani, S.Psi.,M.Si Psikolog selaku narasamber serta Dilla Dinda Fadhillah,Amd,Gz yang merupakan perwakilan dari Sahabat Bunda Generasi Maju.

Acara ini dihadiri oleh hampir 500 peserta yang merupakan para bunda dari berbagai wilayah di Indonesia. Kebayang kan gimana meriahnya?

Webinar yang berlangsung selama dua jam ini semakin seru dan tidak membosankan karena dipandu dengan apik dan ceria oleh Radin Arsy.

Mengelola emosi positif bunda

Apalagi materinya juga benar-benar luar biasa sekali. Sangat mencerahkan. That's why saya sengaja buat postingan ini karena sayang sekali kalau ilmunya saya simpan sendiri.

Akan lebih baik jika saya membagikannya di blog ini agar para bunda sekalian yang tidak sempat ikut webinar kemarin juga dapat memetik ilmunya.

Pasalnya saya yakin banget, bukan cuma saya seorang tapi bunda-bunda di luar sana juga punya kondisi yang kurang lebih sama seperti saya. Masih sering terbawa emosi negatif dalam mengasuh si kecil.

Emosi negatif itu tidak datang dengan sendirinya lho. Namun biasanya dipicu karena stres, tekanan, kecemasan dan lain-lain yang sebelumnya mungkin sudah sering kita alami namun semakin meningkat di masa pandemi.

Kondisi tersebut tentu tidak bisa kita biarkan begitu saja. Pasalnya ibu memiliki peran yang sangat penting dalam pengasuhan anak. Kalau ibu tidak mampu mengontrol emosinya dengan baik jelas anak-anak akan menjadi korban.

Proses tumbuh kembang mereka bisa saja terhambat atau menjadi tidak optimal bila kondisi mental ibu tidak mendukung. 

Berangkat dari situasi tersebut sehingga dalam rangka memperingati Hari Ibu,  Danone Specialized Nutrition (SN) Indonesia melalui Sahabat Bunda Generasi Maju (SBGM) menyelenggarakan Webinar bagi  dengan tema “Mengelola Emosi Positif Bunda dalam Pengasuhan si Kecil” sebagai wujud apresiasi, dukungan serta edukasi untuk para bunda.

Seperti yang disampaikan Head of Careline & Communities Danone SN Indonesia, Flora Pramasari dalam sambutannya.
 “Danone SN Indonesia bersama Sahabat Bunda Generasi Maju sangat memahami bahwa ibu memiliki peran yang sangat penting untuk anak dan keluarga. Kami meyakini bahwa pengasuhan yang sehat agar anak dapat tumbuh menjadi generasi maju harus dimulai dari Ibu yang sehat juga secara mental. Untuk itu, bertepatan dengan momen Hari Ibu, kami mengadakan webinar dengan mengangkat tema tentang ‘Mengelola Emosi Positif Bunda dalam Pengasuhan si Kecil’ untuk menjadi wadah edukasi, konsultasi, dan berbagi antar para Bunda bersamaan dengan para narasumber ahli".

Menurut pemaparan beliau, acara ini bertujuan untuk memberikan apresiasi bagi para bunda yang telah gigih mengemban peran ganda dalam mengasuh anak dan mengurus segala pekerjaan rumah tangga selama ini.  

Selain itu, beliau berharap dengan kegiatan ini akan terbentuk kerekatan antara SBGM dan para bunda yang selanjutnya bisa terhubung melalui layanan Call Center SBGM yang hadir selama 24 jam.

Pandemi dan Kondisi Bunda

Mengawali materinya psikolog yang akrab di panggil Bunda Nina ini menjelaskan tentang pandemi dan kondisi bunda.

Pandemi mengubah banyak hal dalam kehidupan kita. Termasuk mempengaruhi kondisi fisik dan psikis kita.

Pandemi COVID-19 memang membawa penyakit yang menyerang fisik. Namun tidak hanya itu, pandemi juga memunculkan berbagai masalah psikis.

Pandemi dan kondisi bunda

Dari ilustrasi yang ditunjukkan Bunda Nina, orang yang mengalami efek fisik akibat pandemi digambarkan dalam lingkaran kecil berwarna hitam. Sedangkan orang yang mengalami efek psikis karena COVID-19 berada dalam lingkaran besar berwana abu-abu (samar).

Terlihat jelas bawah jika jumlah korban yang psikisnya terganggu akibat COVID-19 jauh lebih besar daripada jumlah orang yang terkena COVID-19 itu sendiri.

Dari referensi yang beliau dapatkan (carmen, dkk, 2020) beberapa gangguan psikologis yang banyak muncul selama pandemi diantaranya adalah fobia, panic buying, binge-watching television, gangguan mood, gangguan tidur, adiksi online gambling, acute stress disorder, adjusment stress disorder, alcohol use disorder, kekerasan dalam rumah tangga, depresi, kecemasan, stress, postraumatic stress disorder.

Gangguan psikologis saat pandemi

Nah, ternyata ada banyak sekali ya kondisi psikologis yang dialami oleh orang-orang selama pandemi ini. Bahkan boleh jadi kita juga diserang oleh salah satu atau lebih dari gangguan psikis yang disebutkan di atas namun tidak menyadarinya.

Saya sempat sih mengalami stres, susah tidur, moodyan dan juga dilanda kecemasan di masa pandemi ini. Bahkan tidak jarang mengeluhkan keadaan yang membuat ruang gerak saya dan keluarga menjadi terbatas. 

Namun mengeluh juga tidak ada gunanya, kan? Pandemi tidak akan berakhir hanya karena kita sering mengeluh. Yang ada malah keadaan kita yang akan semakin terpuruk.

Padahal selalu ada dua sisi dalam hidup kita yaitu kabar baik dan kabar buruk. Ya pandemi tidak selamanya mendatangkan keburukan. Masih banyak kok hikmah yang bisa kita petik dari bencana yang melanda dunia sejak akhir 2019 ini.

Buktinya, sejak pademi banyak keterampilan baru yang bermunculan. Yang usaha onlinenya sukses karena pandemi juga banyak. Meski demikian, tidak dimungkiri pandemi juga mendatangkan beragam masalah baru.

Bunda dan Emosi Bunda

Selanjutnya Bunda Nina menerangkan mengenai jenis-jenis emosi yang kerap dialami para bunda. Sebelum itu beliau meminta kami untuk menyebutkan emosi-emosi apa saja yang kami ketahui.

Rata-rata menjawab marah, jengkel, sedih, dan bahagia. Jawaban tersebut tidak salah namun masih kurang. Dari materi ini, baru saya tahu ternyata ada banyak sekali jenis emosi. 

Bunda dan emosi bunda

Bunda Nina menyampaikan bahwa semua jenis emosi ada manfaatnya dan BOLEH dialami secara wajar. Namun beliau ingatkan untuk hindari toxic positivity dengan mengenali segala jenis emosi kita.

Toxic positivity merupakan kondisi untuk selalu berpikir dan bersikap positif. Bunda dituntut harus selalu terlihat bahagia dan memancarkan emosi positif. Bunda tidak boleh terlihat sedih atau mengeluh karena kelelahan mengasuh anak. 

Rupanya hal yang tampak positif seperti ini justru menjadi toxic  dan sangat mempengaruhi kondisi mental ibu. 

Saat kita merasa harus tampak bahagia terus di hadapan orang lain, saat itu pula jiwa kita seakan tertekan, iya nggak?

Jujurly, sebelumnya saya juga sering mengalami toxic positivity. Hanya ingin menampilkan yang baik-baik saja. 

Saya pun pernah marah dengan diri saya sendiri, kenapa saya nggak boleh mengeluh, kenapa saya nggak boleh mengatakan saya lelah dengan pekerjaan saya sebagai seorang ibu? Kenapa saya nggak bisa jujur dengan diri saya sendiri?

Ketika saya ingin mengeluh bukan berarti saya tidak bersyukur. Pun ketika saya tergerak untuk mengatakan lelah bukan maksudnya saya ingin berhenti. 

Itu hanya luapan emosi sesaat dan saya pikir itu adalah hal manusiawi. Karena perempuan yang kita sebut ibu juga manusia, kan?

Jadi siapa bilang  seorang ibu tidak boleh mengeluh marah, sedih maupun stres? 

Nah, dalam pemaparannya psikolog yang juga merupakan seorang ibu ini menyingung soal kondisi saat kita merasa tekanan yang kita alami berlebihan atau lebih kita kenal dengan istilah stres.

Stres juga merupakan bagian dari emosi. Pertanyaannya, apakah stres itu berbahaya?

Jawaban dari Bunda Nina cukup mencengangkan. Beliau menjawab boleh asal stresnya tidak berlebihan.

Apa itu stres? Apa stres berbahaya?

Jadi stres ini punya tingkatan. Seperti yang ditunjukkan pada kurva di atas.

Selama stres yang kita alami berada pada level eustress (ditunjukkan dengan warna hijau) itu artinya masih aman. Bahkan stres dalam level ini dibutuhkan untuk meningkatkan performance, agar kita bisa lebih bersemangat dalam menjalani hidup.

Sebaliknya, yang patut diwaspadai kalau stres kita berada pada level distress,  pada kurva dengan warna merah. Stres level atas inilah yang efeknya dapat membawa kerugian.

Jika stres bunda sangat tinggi maka hal buruk yang akan  terjadi antara lain :
  • Kekerasan pada anak
  • Anak diabaikan
  • Anak dimanjakan berlebihan
  • Pekerjaan bunda bermasalah
  • Bunda lebih mudah sakit
  • Relasi dengan ayah bermasalah.
Adapun mengenai sumber stres sendiri, psikolog klinis ini menyinggung faktor sandwich generation. Beliau menerangkan bahwa sumber stres bukan hanya dari anak tapi juga dapat dipicu oleh orang tua lansia.

Kalau soal ini nggak usah ditanya lagi. Apalagi buat new mom pasti rentan banget mengalami stres karena sering berselisih lantaran gaya pengasuhan yang diyakini dan ingin diterapkan ke si kecil berbeda jauh dengan gaya pengasuhan orang tua (kakek atau nenek).

Hal ini juga sebenarnya wajar sih karena ilmu parenting terus berkembang. Ditambah pula dengan kemudahan dalam mengakses berbagai informasi. 

Berbeda dengan zaman orang tua dulu dalam mengasuh kita yang aksesnya masih terbatas dan lekat dengan berbagai macam mitos.

Namun menurut Bunda Nina selama perbedaannya tidak terlalu jauh atau merugikan, tidak apa sebagai anak kita yang mengalah. 

Yang penting selama anak dalam pengawasan, sebagai orang tua kita harus tetap konsisten dengan aturan yang kita buat untuk kebaikan anak-anak.

Tips Mengelola Emosi Positif Bunda dalam Mengasuh Anak

Akhirnya sampai juga di poin inti dari materi yang dibawakan oleh Bunda Nina. Bagaimana cara mengelola emosi positif dalam mengasuh si kecil.

Berikut ini beberapa tips yang beliau sampaikan :

Cara mengelola emosi positif

Mind Body Connection

Pertama, kita harus pahami bahwa kondisi tubuh dan kondisi psikis sangat berkaitan erat. Oleh sebab itu jika ingin psikis kita sehat maka sehatkan dulu tubuh kita.

Caranya adalah dengan memulai kebiasaan hidup sehat seperti konsumsi makanan yang bernutrisi, istirahat yang teratur, rutin olahraga dan hindari rokok maupun alkohol.

Menenangkan diri

Tips selanjutnya adalah menenangkan diri. Berikut ini beberapa cara menenangkan diri yang diajarkan Bunda Nina.

Menyadari napas

Pada poin ini beliau meminta peserta untuk menghitung jumlah napas selama satu menit. Hasilnya ada yang menjawab 15, 20, 30 bahkan 40.

Kemudian beliau menjelaskan bahwa jika jumlah napas dalam satu menit di atas 20 maka itu menandakan orang tersebut mudah panik dan sulit menenangkan diri.

Jadi salah satu kunci agar bisa mengelola emosi positif adalah dengan menenangkan diri terlebih dahulu. Duduk dan ambil napas secara perlahan lalu hembuskan juga secara perlahan.

Grounding Tools

Bunda juga bisa belajar menenangkan diri dengan grounding tools, yaitu sebuah teknik yang bisa menghindarkan kita kecemasan, panik dan lain sebagainya.

Caranya cukup mudah. Berikut contoh yang diberikan Bunda Nina untuk menerapkan  grounding tools.

Temukan:
  • 5 Hal yang dapat Anda LIHAT
  • 4 Hal yang dapat Anda SENTUH 
  • 3 Hal yang dapat Anda DENGAR
  • 2 Hal yang dapat Anda CIUM BAUNYA
  • 1 Hal yang dapat Anda RASA

Lakukan juga

  • Kenali batasan tubuh dan psikis
  • Tetap terhubung dengan orang tercinta
  • Sediakan waktu buat steril gadget

Tetap bersosialisasi

Selama pandemi kita dianjurkan jaga jarak dengan semua orang. Meski demikian bukan berarti kita masih bisa bersosialisasi secara virtual atau bertemu dengan menjalankan protokol kesehatan dengan ketat.

Hindari

  • Mengekspresikan kekesalan begitu saja kepada orang lain
  • Menyakiti diri sendiri
  • Negative self talk

Buat janji dengan psikolog klinis

Tips terakhir ini jika masalah psikis yang bunda alami tidak kunjung tuntas. Solusinya adalah buat janji dengan psikolog klinis. 

Perlu bunda-bunda pahami bahwa orang yang membutuhkan atau mengunjungi psikolog ini bukan mereka yang sudah kehilangan akal tapi mereka yang memang membutuhkan penanganan terkait masalah psikis yang mereka alami.

So far, bunda kalau merasa masalah psikis yang dialami begitu berat, sudah curhat ke sana kemari juga tidak kunjung menemukan solusi maka  alternatif terbaik adalah mengunjungi ahlinya.

Toh, tidak ada salahnya mengunjungi psikolog untuk mendapatkan penanganan yang tepat, daripada terlambat yang efeknya justru dapat membuat kondisi psikis Bunda semakin parah. Hayoo, pilih mana?

Eh tapi kalau masih bisa ditangani sendiri dan sebelum memutuskan mendatangi psikolog Bunda juga boleh banget memilih untuk menghubungi call center Sahabat Bunda Generasi Maju yang stand bye 24 jam.

Tentang Sahabat Bunda Generasi Maju dan Keunggulannya

Sahabat Bunda Generasi Maju (SBGM) merupakan bagian dari Danone SN Indonesia yang memiliki peran mendampingi ibu di sepanjang masa penting perjalanan mereka sebagai seorang ibu untuk dukung si Kecil menjadi Anak Generasi Maju, termasuk pada periode 1000 hari pertama kehidupan. 

Pada tahun 2021 ini SBGM telah mendampingi lebih dari 200,000 orang tua di seluruh Indonesia dengan menjawab pertanyaan mereka mengenai nutrisi, produk dan tumbuh kembang si Kecil. 

SBGM saat ini berjumlah lebih dari 60 orang, dengan latar belakang yang berasal dari Pendidikan Gizi, Kebidanan, Keperawatan dan Kesehatan

Sahabat Bunda Generasi Maju akan siap mendampingi bunda dari tahap awal kehidupan si kecil. Jadi bunda-bunda sekalian tidak perlu ragu untuk berbagai momen bahagia maupun kecemasan bunda, karena SBGM siap membantu kapan pun dan dimana pun.

Keunggulan Sahabat Bunda Generasi Maju

Jadi keunggulan dari SBGM adalah hadir untuk mendampingi bunda melewati perjalanan luar biasa sebagai orang tua. 

Sehingga apabila bunda punya pertanyaan terkait nutrisi, pola asuh, tumbuh kembang si kecil atau pun kehamilan bisa langsung hubungi Sahabat Bunda Generasi Maju di nomor WhatsApp 0823 6036 0060. Jangan lupa di-save nomornya ya.

Kesimpulan 

Demikian ulasan mengenai tips mengelola emosi positif bunda dalam pengasuhan si kecil. Sebagai penutup dan juga kesimpulan saya ingin mengutip kata Psikolog Nina. 
Pada dasarnya semua jenis emosi ada manfaatnya dan boleh dialami secara wajar. Stres (eustress) dibutuhkan untuk membuat kita lebih bersemangat. Namun jika stress berlebihan, Bunda bisa rugikan anak, diri sendiri dan seluruh keluarga. Perlu diketahui bahwa kondisi tubuh terkait erat dengan kondisi psikis, sehatkan tubuh untuk sehatkan fisik. Kuasai cara tenangkan diri, lakukan kebiasaan baik , jika masalah terus berlanjut maka konsultasikanlah kepada ahli.
Sekian. Semoga postingan ini bermanfaat.

#webinarsahabatbundagenerasimaju

Salam,



Posting Komentar untuk "Tips Mengelola Emosi Positif Bunda dalam Pengasuhan Si Kecil"