Tuhan, Mengapa Kau Larang Aku Pacaran?

By Siska Dwyta - 11:22



Sebulan lebih aku memikirkannya. Memikirkan cara terbaik agar aku bisa lepas dari sebuah sebuah ikatan. Ikatan yang tak seharusnya ada, ikatan yang dari awal memang gak jelas arahnya kemana, gak tahu tujuannya apa. Ikatan yang dibangun hanya demi nama “perasaan” , hanya atas dasar “suka” dan hanya karena hasrat tuk “saling memiliki” tanpa ikatan sah. Berhari-hari aku mencoba meyakinkan diri, memikirkan kata-kata yang tepat agar ia mengerti, agar ia paham, bukan untuk mengakhiri hubungan yang lebih dulu terjalin, cuma melepaskan ikatan yang belum saatnya tersimpul. Bukan saat ini. Tapi nanti. Ada suatu moment tertentu  dimana dua hati menyatu dalam satu ikatan. Tentu dengan cara yang wajar.


Menurutku ikatan ini sungguh tak wajar, sekalipun perasaan ini, suka ini, hasrat ini adalah hal yang sangat wajar. Lalu cara yang wajar itu seperti apa? Niatnya baik tapi caranya salah, Allah gak ridho. Niatnya gak baik, meski caranya bener, Allah juga gak ridho. Berarti cara yang wajar adalah ketika Allah ridho dong? Allah ridho kok dengan orang yang niatnya tulus, ikhlas karena-Nya, yang caranya untuk meraih sesuatu pun benar gak keluar dari koridor aturan Allah. Wajar jika aku punya perasaan terhadap dia, wajar jika aku menyukai dia, wajar pula jika aku  ingin memiliki dia, seseorang yang aku cintai. Sementara ikatan yang nama kerennya PACARAN, sebuah ikatan yang hampir sebagian besar kaum remaja pernah melakoninya termasuk diriku. Ops! Apakah wajar? 

Istilah pacaran ini sepertinya sudah membudaya lho, khusus di negeri tercinta bumi pertiwi. Bahkan sekarang di era globalisasi (wuih), di zaman serba modern, jangankan anak SMP, anak-anak SD pun sudah tahu yang namanya pacaran. Padahal dari dulu, bertahun-tahun silam di awal masa baligh, aku sebenarnya udah tahu, tahu bahwa dalam ajaran agamaku istilah “pacaran” gak ada. Islam tidak pernah mengajarkan tentang pacaran. Coba deh baca Al-qur’an sampai khatam berkali-kali, tak satupun ayat tertera disana yang menganjurkan pacaran atau sebaliknya melarang pacaran. Begitupun dengan sabda-sabda Rasulullah SAW. Coba aja cari dari ribuan hingga jutaan hadis yang diriwayatkan oleh sahabat-sahabat nabi, tabi’in dan tabi’ut-tabi’in, tak ada secuil pun konteks atau teks dari hadis-hadis tersebut yang menerangkan larangan pacaran.

Lha, lantas kenapa kok mereka-mereka yang katanya paham agama, para ulama, para ustad/ustadzah sering banget nyindir remaja-remaja yang sedang dilanda candu asmara melalui ceramah-ceramah mereka yang temanya pasti gak jauh-jauh dari hubungan cinta anak muda yang ngaku-ngaku sebagai sepasang kekasih. Intinya mereka melarang hubungan tersebut dengan kalimat JANGAN PACARAN!!!

Nah, aku sebagai salah satu remaja yang masih berpacaran pada masa itu, kadang patuh, kadang jengkel bin sebel, ceramah si ustad keluar masuk telinga, kujadikan sebagai angin lalu. “Kenapa mereka sewot banget?” Yang pacaran siapa? Yang ngelarang siapa? Orangtua ku aja gak ngelarang anaknya pacaran eh, justru mereka yang sibuk ceramahin. Emang apa yang salah dengan pacaran? Toh, Allah juga gak ngelarang kan! Mana dalilnya kalau memang Allah larang? 

Bukan suatu kebetulan pula aku punya guru di organisasiku yang bekerja di Kantor Urusan Agama (KUA). Guruku itu termasuk dari kalangan anti pacaran. Jadi, beliau sangat semangat memberi wejangan kepada kami-kami sebagai penerus pelopor penyempurna agama :D. Tidak jarang beliau bercerita mengungkapkan keprihatinannya menyaksikan kondisi remaja masa kini,  sebab banyak pasangan yang datang di kantor beliau dengan kondusi perut si wanitanya sudah berbadan dua. Na'udzu billaahi min dzalik.

Lanjut beliau dengan tegas kalau ada yang mau pacaran mending segera datang menemuinya di KUA sebelum terjadi hal-hal tak terprediksikan. Saking wanti-wantinya beliau terhadap kami murid-muridnya, larangannya bahkan lebih keras dari para ustad. Pokoknya jangan pacaran, TITIK. Asli, aku ketika itu cuma bisa mangut-mangut mengiyakan. Aku tahu pacaran tidak boleh, aku tahu aku tidak boleh menjalin hubungan khusus dengan lawan jenisku kecuali pertemanan biasa, tapi yang aku tidak tahu, apa maksudnya wanita yang hamil di luar nikah dengan kami yang dilarang pacaran? kenapa aku tidak boleh pacaran? Kenapa aku tidak boleh menjalin hubungan special dengan seseorang yang ada di hatiku? KENAPAAAA?


Pada akhirnya wejangan si guru ikut terbawa angin. Sejak aku merasakan sesuatu  aneh dalam diri ini, semuanya berubah.  Aku mulai tertarik dengan lawan jenisku. Rasa yang kemudian aku ketahui sebagai “cinta” menjelajari seluruh tubuhku dengan gerak yang tak biasa. Mata yang sering melirik diam-diam, senyum yang sering muncul tiba-tiba, dan bayangan yang serasa menghantui pikiran membuat aku menjadi tak tenang. Hatiku mulai bergejolak. Perasaanku menginginkan sebuah hubungan yang lebih dari sekedar kata teman. Pacaran. Yah, tak bisa dipungkiri  aku punya perasaan. Aku punya hasrat. Ketika teman-temanku dengan bangganya memamerkan cowok-cowok mereka, aku di sini berdiri di atas kerapuhan. Aku yang pernah berkomitmen tidak ingin pacaran, aku yang pernah memandang sebelah mata orang yang menyatakan hubungan tidak sah nya pun menjadi bagian dari mereka.

Mungkinkah aku terjebak arus masa, atau pertahananku lemah  sehingga benteng komitmenku hancur luluh lantak. Aku tak lagi peduli dengan mereka yang mengatakan pacaran itu haram, mereka yang terlalu sok agamis menentang pergaulan lawan jenis. Toh aku hanya sekedar tahu, dan ketahuanku belum tentu mendatangkan suatu pemahaman. Yang penting aku bahagia dengan pilihanku. Memutuskan menerima lelaki yang menyatakan perasaan cintanya, bukankah itu adalah suatu pilihan yang ditawarkan kepadaku? Ketika aku menjawab iya maka aku lah yang memilih. Memilih menggoreskan kisah cinta di atas catatan perjalanan hidupku. 

Tentang cinta. Aku tidak akan mengurai panjang lebar satu kata penuh makna itu. Cinta adalah cinta. Cukuplah cinta dengan cintanya sendiri. Pengalaman seharusnya menjadi pelajaran terbaik, tapi jika ia dikaitkan dengan cinta, maka seberapa buruk pengalaman yang tergores belum tentu menghasilkan pelajaran  terbaik. Kenapa? Mungkin hanya aku atau berapa banyak kah pengagum cinta di luar sana yang mengakhiri kisah cintanya dengan sebuah penyesalan belaka? Cinta awalnya memang indah tapi akhirnya sangat menyakitkan. 
Cinta berawal dengan sebuah senyuman dan pasti akan berakhir dengan air mata. Bukan cinta katanya jika tidak ada rasa sakit. Maka jika tidak ingin hati terluka, berhentilah mencintai, sebab semakin besar rasa cinta maka akan semakin besar luka yang menganga di hati. Sekejam itu kah cinta? Ah, tidak! Bahkan jika rasa sakit itu memang adalah bagian dari cinta aku akan menikmati seluruh perihnya. Karena cinta mungkin luka itu, sakit itu, perih itu pun bisa jadi kenikmatan tiada tara.

Jangan heran, catatan kisah cintaku selalu berujung pada kata sesal, dan anehnya aku tak pernah jera untuk memulainya lagi, mengakhirinya lagi, memulainya lagi, mengakhirinya lagi dan begitu seterusnya. Luka berkali-kali tidak ampuh menjadi alasan untuk menghentikan hasrat memiliki seseorang yang mencintaiku dan yang kucintai. Aku larut dalam drama pacaran yang aku perankan dengan cowok yang berganti-ganti. Tidak hanya satu, ada dua, tiga ah malah tak terhitung berapa banyak  aktivitas pacaran yang telah aku lakoni selama ini. Gelar jomblo pun tak pernah lama kusemat, sebab hanya butuh sekian hari  untuk  mendapat pengganti dan memulai kisah cinta yang baru. Sekali lagi aku katakan aku tak pernah jera. Penyesalanku tidak mampu  mengalahkan perasaanku.

Maka harus diakui aku termasuk orang yang berpengalaman dalam pacaran, itu adalah prestasi terburuk dalam catatan perjalananku. Dan penyesalan terbesar dalam hidupku adalah pernah pacaran. Mungkin orang lain bisa begitu bahagia memamerkan pacarnya, atau bangga memiliki banyak mantan. Tapi aku, haruskah aku bangga dengan sederetan mantan-mantanku? Haruskan aku pamerkan nama-nama cowok yang pernah menjadi pacarku? Dulu memang iya aku iri, aku cemburu dengan mereka yang punya pacar cool, keren. Aku iri dengan teman-teman sekolahku yang sering pulang bareng pacarnya, diantar-jemput, sementara aku? aku tak punya kisah cinta indah di masa putih abu-abuku. 

Tapi saat ini,  aku jauh lebih iri, jauh lebih cemburu dengan mereka yang mampu mempertahankan komitmen untuk tidak pacaran sebelum menikah. Bersyukurlah orang yang tak pernah mengecap pahitnya pacaran. Mereka lah orang-orang terpilih. Aku akan bangga jika aku seperti mereka, lantas sekarang apa yang aku bisa banggakan? Gak gampang lho orang yang menahan perasaanya, benar-benar gak gampang orang yang mencintai dalam diam. Ibarat orang yang sedang berjuang dalam medan perang? Ia, memang mereka sedang berperang. Kata Rasul “Musuh yang paling besar terdapat dalam diri”. Yup, hawa nafsu adalah musuh terbesar kita. Boleh jadi mereka yang bergelar jomblowan/jomblowati before married sedang berperang melawan hawa nafsu mereka, spesifiknya mereka melawan hasrat memiliki seseorang yang bukan atau belum menjadi haknya.

Hu’um, orang yang pernah pacaran sama kita ternyata bukan hak kita apalagi sampai ngaku-ngaku dia sebagai milik kita. Panggil papa-mama, ayah-bunda, umi-abi segala. Wah, wah, wah, kapan ijab kabulnya, siapa wali dan saksinya. Cincin nikah aja belum melingkar dijari manis waduh mesranya udah melebihi suami istri. Trus Allah ridho gitu dengan hubungan seperti itu? Emang Allah ridho jika kita pacaran?

Kata pacaran memang tidak ada dalam Al-Qur’an dan hadis, tidak ada hukum yang jelas terkait masalah pacaran tapi bukan  berarti dalam Islam tidak ada pembahasan mengenai hubungan dua jenis sebelum ijab kabul. Percaya deh, hukum islam mencakup segala lini kehidupan manusia, sekecil apapun itu. Karena islam adalah agama yang sempurna. Tahu kan? sumber hukum islam yang utama Al-alqur’an & hadis. Namun jika permasalahan-permasalahan yang terjadi di zaman yang terpaut berabad-abad lamanya dengan masa nabi atau masa kekhalifaan tidak ada dalam kedua sumber itu  maka ada yang namanya ijtihad para ulama atau terdapat dalam kaedah-kaedah ushul fikh, hukum mengqiyaskan, dll. yang dapat dijadikan sebagai sumber hukum selain Firman Allah dan Sabda Rosul. 

Nah, ada sepenggal ayat terkenal yang terdapat di QS Al-Isra:32, jika hendak kita hubungkan dengan masalah pacaran. Allah berfirman  “LAA TAQROBU ZINAA”  bukan LAA pacaran. Sueerr dulu aku gak mudeng apa maksudnya? Kata Allah Jangan mendekati zina , kata ustad  jangan pacaran.  Meski gak mudeng suatu hari aku menemukan jawabannya sendiri? Mengapa para ustad begitu sewot dengan aktivitas pacaran remaja saat ini, dan mengapa guruku begitu prihatin dengan remaja yang MBA (baca : Married by Accident)?

Indikatornya jelas, pacaran membuka tabir zina. Mendekatinya saja Allah larang  apalagi jika sampai menuju ke arah sana. Dan zina sendiri ada bermacam-macam lho, zina hati, zina mata, zina telinga, zina mulut, zina tangan, zina kaki dan zina dalam artian sebenarnya. Fenomenanya bisa kita saksikan sendiri berapa banyak bayi-bayi tak berdosa yang dibunuh hidup-hidup dalam rahim ibunya, akibat aib yang tak sanggup ditanggung oleh wanita yang melakukan aborsi tersebut. Jika mau ditelusuri akar permasalahannya timbul darimana? Yah kebanyakan dari hubungan dua insan manusia dalam ikatan yang belum halal itu. Tidak semua memang, masih banyak kok yang bisa mempertahankan hubungan pacaran hingga ke jenjang pernikahan tanpa hamil lebih dulu? Memang sih, tapi aktivitasnya itu lho. Bukankah mendekati zina, jalan berduaan, pegangan tangan, gandengan, pelukan, bla..bla..bla. Eh, sekarang kan ada yang namanya pacaran sehat atau pacaran islami, aktivitasnya gak pegang tangan, gak jalan berdua, kominakasi kebanyakan via hp doank. Apa masih dilarang?

Catatan ini tidak ada unsur melarangnya kok, karena aku sadar, aku pernah berada di posisi yang sama dengan orang-orang yang berpacaran, dan aku tahu bagaimana perasaanku saat itu, hingga aku tak peduli dengan pandangan negatif di sekitarku. Aku gak punya hak untuk melarang, para ustad-ustad itu. Dan guruku, ternyata mereka tidak pernah melarang bahkan jika mereka mengeluarkan fatwa Pacaran itu haram, yakin 100% itu bukan berasal dari mereka. Kata “Jangan” yang keluar dari mulut mereka bukan suatu larangan melainkan bentuk penyampaian tulus atas apa yang mereka pahami. Bukankah Allah sendiri berfirman “demi waktu” Sungguh merugilah manusia kecuali mereka yang saling menasihati dalam kesabaran dan kebenaran. Kebenaran itu jelas. Apa manfaat yang bisa didapatkan dari pacaran? Motivasi, semangat? Mungkin saja dengan pacaran banyak aktivitas yang kita lakukan niatnya karena si doi, padahal segala sesuatu yang baik dan benar hanya bernilai ibadah jika niatnya lillahi ta’ala. Selebihnya mudharat, bener gak?

Sebuah hukum berbunyi : apabila mudharat jauh lebih besar porsinya ketimbang manfaat maka lebih baik ditingalkan jauh-jauh sejauh mungkin. Ini bukan kata “aku”, bukan juga kata ustad  tapi ini hukum ALLAH. Perintah Allah. Pliss believe, apapun yang Allah perintahkan  atau yang Allah larang adalah yang terbaik buat kita.

Tidak ada yang salah dengan perasaan cinta, sebab cinta hakikatnya  murni, tulus, indah, halus. Jika ia dikemas dalam bingkai ketaatan pada-Nya maka cinta tidak akan pernah menyakiti hati. Tidak ada yang salah dengan cinta, sebab ia adalah fitrah yang dianugrahkan Allah kepada setiap insan-Nya. Cinta hanya pantas disandingkan dalam ikatan yang diridhoi-Nya. Tapi, jika cinta itu berada dalam ikatan tak halal maka sudah pasti ia akan ternoda, dan sudah pasti akan ada hati yang terluka.

*Astaghfirullah* Semoga Allah mengampuni dosaku dan dosa-dosa orang yang pernah dan sedang berpacaran. Semoga ini belum terlambat dan jangan sampai terlambat.

  • Share:

You Might Also Like

2 comments

  1. Meskipun agama melarang, tapi menyukai lawan jenis adalah fase yg sangat wajar dalam masa pertumbuhan remaja (pubertas) dan kalo dilarang2 tanpa ampun, malah bikin kita jadi tertekan secara mental dan akhirnya perkembangan psikologi kita bisa terganggu.

    Saran gua, manusia dibekali akal sehat sama Tuhan YME, jadi ya jalanin aja hidup lu sesuai kata hati lu. Saling menyukai, menurut gua sih kadang hal2 seperti itu ga bisa dihindari, tapi yg penting kita bisa jaga diri, jangan berhubungan fisik terlalu jauh, nanti kebablasan.

    Gua sendiri pernah beberapa kali pacaran dan merasakan bagaimana hidup gua diubah menjadi lebih baik oleh yg namanya cinta. Pacaran itu TIDAK SAMA DENGAN maksiat, semua kembali ke pribadi masing2 =)

    ReplyDelete
  2. Thanks for remembering kk... aku share yaa..

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.