Sabar Saja

By Siska Dwyta - 22:46

click here

Hai hai, hari ini saya baru pulang dari seminar teman sekelas saya yang sekitar 3 bulan lalu bersama saya menghadap pembimbing kedua kami. Sepulang dari bimbingan pertama itu, kami sengaja singgah di gramedia Mall Panakukang Makassar sekedar cari buku referensi terkait variabel kontrol penelitian kami yang bukan kebetulan sama, tentang pemahaman konsep matematika. Selain itu teman saya yang biasa dipanggil Sani pun mengincar buku terkait variabel bebasnya yang rupanya sulit didapatkan. Saya masih ingat raut wajah Sani tampak kalut mencari buku yang tak kunjung ia temukan sembari mengeluh pada saya. Pasalnya pembimbing kedua kami bukan kebetulan pula merupakan dosen yang sama meminta pada Sani agar menunjukkan buku tersebut pada bimbingan selanjutnya. Anehnya saya tidak disuruh, padahal saya sudah mempersiapkan buku variabel bebas saya yang tebalnya kebangetan. Okelah, semua masih berjalan lancar.

Sebagai teman yang baik dan manis, saya mencoba menenangkan dan meyakinkan Sani.

"Insya Allah nanti pasti ketemu kok, kalau di Gramedia MP gak ada kan masih ada di gramedia lain atau di toko-toko buku yang ada di Kota Makassar" 

Kemudian saya turut mengomentari judul penelitiannya.

“Kenapa bisa milih judul itu, sementara bukunya kamu belum punya San?”

Tanpa perlu saya ungkapkan jawaban Sani, saya cuma mau bilang sebagai pemula dalam hal penelitian, sebaiknya jangan dulu ajukan judul kalau kita gak punya sumber. Jangan dulu cari judul kalau gak punya buku. Hal yang memang paling penting sebelum menentukan judul adalah mencari “masalah-masalah” apa saja yang ada di sekitar kehidupan kita yang patut diangkat untuk jadi topik penelitian. Seharusnya  memang judul penelitian muncul dari sebuah masalah, bukan malah sebaliknya. Namun begitulah, karena tuntutan administrasi serta berlomba-lomba pengen cepat selesai kuliahnya, kebanyakan mahasiswa asal  masukin judul, ntar kalau judulnya udah keterima baru kelimpungan dapet masalah. Mungkin termasuk saya, hanya saja bila dibandingkan dengan Sani saat itu saya lebih beruntung karena dosbing saya sama sekali tidak mempermasalahkan judul saya, dan terkait variabel yang saya teliti alhamdulillah bukunya mudah di dapat.

Kira-kira bulan Oktober  saya mendengar kabar kalau Sani terpaksa mengubah judulnya karena buku yang ia incar ternyata muahaaall buanggeet,  harus dibeli satu paket dengan alat-alat peraga, masa’ sampai puluhan juta bo’. Mending dipake married, hehe. Saat itu yang terlintas dalam benak ini.

”Ahh sayang banget,  ganti judul berarti harus mengulang lagi dari awal”. 

Namun saya salut dan mengakui tekad Sani, dia bukan orang yang gampang menyerah. Sani  mulai lagi dari proses awal, belajar dari pengalaman, ia kemudian lebih dulu mencari masalah hingga menemukan judul kemudian membuat draft baru, sambil berkonsultasi dengan dosen pembimbing pertamanya. Lalu di suatu hari dia menceritakan pada kami (saya dan beberapa teman-teman sekelas saya) tentang suka - duka menemui dosbing pertamanya yang berbeda dengan dosbing pertama saya. Betapa beberapa kali dia dengan sabar menunggu berjam - jam  dosbing yang tadinya mereka  janjian ketemuan di tempat ini jam segini eh endingnya gak jadi. Suka-duka yang tidak pernah saya alami selama bimbingan draft skripsi.

Saya merasa bimbingan draft saya selama ini berjalan sangat mulus bagai di jalan tol, dan karena itu saya berpacu dengan laju yang begitu lamban, sampai-sampai beberapa teman seangkatan  yang ketika saya lebih dulu dapat bimbingan mereka  masih sibuk mengurus judul sukses melambung kiri dan sekarang  berada jauh di depan. Saya terlalu lelet, membiarkan banyak waktu dan kesempatan berlalu begitu saja.

Hingga ketika kesempatan hendak saya raih justru waktu tak memihak. Beberapa teman yang saya semangati, saya doakan bimbingannya cepat usai bahkan ada yang sempat saya uruskan undangan dan SK agar kami bisa barengan seminar ternyata mendahului saya. Mereka sudah seminar draft , begitupun dengan Sani, entahlah kedepannya teman-teman saya siapa lagi yang akan mendahului saya buat seminar draft, sementara saya saat ini mundur tidak maju pun tidak.

Yah, saat ini saya merasa sedang digantung oleh dosen pembimbing pertama saya selama kurang lebih tiga pekan hampir sebulan dari target yang saya jadwalkan buat seminar. Seharusnya di awal bulan ini saya seminar, seperti yang saya tuliskan di postingan Hadapi saja. Ini sudah akhir bulan terus besok masuk bulan 12, hikss! Terpending lagi.  Oke, saya tidak akan menyalahkan dosbing saya, dan saya akan mentolerir kesibukan beliau yang tidak lain adalah ketua jurusan saya sendiri.

Tuh kan saya bilang juga apa, di depan masih banyak kerikil-kerikil tajam yang siap menghadang, kita bisa saja menargetkan atau merencanakan bulan segini saya akan begini, bulan segitu saya akan begitu, tapi ingat jangan nafikkan hal-hal yang ada di luar dugaan kita.

Kalau kalian mengira saya kecewa, sungguh tidak. Cuma yang agak saya sesalkan kemarin sore ketika sedang ikut mata kuliah keweirausahaan, Ishak, teman yang hendak seminar bersama saya (kami memiliki dosbing pertama yang sama), sama-sama pula menanti kepastian dari dosbing kami, mengajak saya untuk nebeng di seminar draftnya Sani. Dan tanpa pikir panjang saya segera minta ijin sama dosen tersebut buat seminar, eh ujung-ujungnya nothing for me. Ishak, dapat kesempatan ikut nebeng di seminarnya Sani sementara saya kagak. Oke, tak mengapa *pasang senyum manis*. Kenapa juga sih musti terburu-buru?

Eniwei, pada postingan Hadapi Saja, saya terkesan bangga meski tanpa maksud riya mengatakan bahwa saya beruntung mendapatkan dosen yang tidak merepotkan mahasiswanya, tidak sulit pula untuk di temui, nyatanya yang beruntung bukan hanya saya, Sani dan Ishak jauh lebih beruntung.  Namun keberuntungan itu, kita tidak tahu akan berpihak pada siapa esok-esok? Boleh jadi teman saya yang masih banyak belum seminar, lebih duluan mengenakan toga ketimbang saya ataupun teman-teman yang sudah lebih dulu seminar. Tapi yang jelas saya berdoa semoga menemukan akhir yang terbaik buat saya pun teman-teman seangkatan saya. Wallahu a’lam bisshawab.

Hayoo Cha, sabar saja. Mungkin memang belum waktunya saya seminar. SEMANGAT.

Hari ini saya belajar menerima keadaan dan mempersiapkan diri memanfaatkan kesempatan untuk tampil lebih baik lagi. Insya Allah.

Sekian catatan motivasi saya di akhir November ini, Mohon doanya teman-teman semoga seminar draft saya tidak terpending lagi.

  • Share:

You Might Also Like

6 comments

  1. kalau sudah membuat penelitian sebentar lagi skripsinya menyusul dong
    semangat ya..

    ReplyDelete
  2. skripsi ya... gue mungkin 2 tahun lagi mulai stres gitu, nyari judul, bikin peneltian. dan itu, gue berharap dapet dosen pembimbing yang gak ngerepotin :))

    ReplyDelete
  3. Semangat kak buat skripsinya semoga lancar dan sukses. btw mau jadi guru Matematika ya?

    ReplyDelete
  4. seminar kaya gimana sih zie, gue baru tau. semangat zie, smoga cepet selesai.

    kalo gue sih masih dua smester lagi, hehe

    ribet banget dosen pembimbingnya yah ckckck -_-

    ReplyDelete
  5. Sama kayak bang topik, seminanya itu gimana sih?

    Semangat Kak, kadang kala kita udah dapet jalan yg mulus, kita agak meremehkan.. Mungkin dengan adanya batu batu kerikil yg menghadang bisa sedikit membuat kita sadar

    ReplyDelete
  6. Saya menghadapi masalah yang sama kak >.<

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.