Jadilah Blogger Muslimah yang Menginspirasi

By Siska Dwyta - 20:54

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Tidak sedikit muslimah jaman sekarang yang memilih tinggal di rumah setelah menikah sekali pun telah menyabet gelar sarjana. Tak jarang pula kita temukan muslimah yang karirnya di kantor kian melejit namun di saat yang sama ia memutuskan resign dari tempat kerjanya demi fokus mengurus suami dan anak-anak.

Tentu, tidak ada yang salah dengan sikap muslimah yang mengorbankan pekerjaan di luar rumah demi tugas utamanya sebagai seorang istri dan ibu, yang salah adalah orang-orang yang memandang rendah dan remeh sikap tersebut. Seolah-olah seorang wanita yang menempuh pendidikan hingga ke perguruan tinggi tidak layak berstatus sebagai ibu rumah tangga semata. Image yang barangkali sudah terlanjur mendarah daging di masyarakat pada umumnya bahwa wanita yang menggenggam ijazah sarjana selayaknya bekerja di kantor bukan di rumah.


"Ngapain sekolah tinggi-tinggi kalau cuma mau jadi ibu rumah tangga. Buang-buang uang saja" demikian sindiran senada yang juga kerap dilontarkan segelintir orang yang mungkin pemikirannya masih sempit. Seakan menganggap wanita yang bekerja di rumah tidak membutuhkan pendidikan apalagi sampai ke perguruan tinggi.

Pandangan yang jelas-jelas keliru sebab menempuh pendidikan adalah kewajiban bagi setiap orang. Negara mengaturnya dalam Pasal 31 ayat 1 UUD 1945 yang menyatakan bahwa "setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan". Kewajiban menempuh pendidikan atau menuntut ilmu ini pun diatur dalam agama. Rasulullaah shallallaahu'alaihi wassalam bersabda :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ

”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. (HR. Ibnu Abdil Barr)

Dengan adanya undang-undang yang mengatur hak warga negara untuk memperoleh pendidikan ditambah dengan dalil agama yang menyatakan bahwa menempuh pendidikan adalah kewajiban bagi setiap muslim muslimah sehingga lebih tepatnya bila image tidak layak itu ditujukan kepada orang-orang yang masih berpikiran sempit dan  beranggapan wanita yang ingin menjadi IRT tidak perlu sekolah tinggi tinggi karena ujung-ujungnya akan kembali ke dapur.



Barangkali jawaban cerdas dari seorang Dian Sastrowardoyo inilah yang perlu dipahamkan pada orang-orang yang masih memandang sebelah mata status IRT. Seorang wanita entah dia berkarir di luar mau pun dalam rumah memiliki kewajiban yang sama, yakni wajib berpendidikan tinggi karena kelak ia akan menjadi seorang ibu sebagai Madrasatul 'al-ulaa. Ibulah yang menjadi guru pertama dalam mendidik anak-anaknya sebelum menempuh pendikan di luar rumah. Ibulah yang paling menentukan kualitas seorang anak. Baik buruknya anak tergantung dari bagaimana si ibu mendidik dan mengajarkan akhlak kepada anaknya.

Bisa kita saksikan berita-berita yang kerap ditayangkan di televisi mau pun yang beredar bebas di media sosial, banyak anak-anak jaman now yan berani melakukan tindakan kriminal, seperti pencurian, pelecehan seksual, minum-minuman keras, mengonsumsi narkoba hingga melakukan pembununah. Na'udzubillaahi min dzalik.

Padahal mereka masih di bawah umur tapi kok bisa melakukan perbuatan yang di luar kewajaran. Anak usia belasan tahun lho. Ada yang masih di duduk di tingkat dasar pula. Bahkan ada yang belum baligh. Apakah dengan kejahatan bejat tersebut kita lantas menghakimi dan menimpakan semua kesalahan pada mereka? Tentu tidak. Memang ada banyak faktor yang memengaruhi mereka melakukan tindakan kriminal, selain faktor pergaulan dan kemajuan teknologi. Namun dibanding kedua faktor tersebut, faktor orang tua terutama ibulah yang paling menentukan. Seorang ayah sudah pasti tidak bisa mengontrol aktivitas anaknya seharian full karena kewajibannya adalah bekerja mencari nafkah. Sedangkan seorang ibu, walau bukan kewajiban namun diperbolehkan bekerja di luar rumah, tugas utamanya tetap di rumah, mengurus suami dan anak-anaknya. Jika salah satu atau kedua tugas utamanya itu terbengkalai, misal karena sibuk bekerja dia tidak sanggup mengontrol anaknya sehingga ketika si anak berbuat ulah bahkan sampai melakukan tindakan kriminal seorang ibulah yang paling patut dipersalahkan pertama. Bukan suaminya. Bukan anaknya. Tapi dirinya yang telah lalai sebagai seorang ibu.

Pantaslah bila seorang wanita diibaratkan tiang negara, sebab dari didikan seorang ibulah lahir generasi-generasi baru yang akan menentukan kualitas masyarakat dan negaranya. Begitu pentingnya peran seorang ibu sehingga sangat wajar wanita-wanita yang bakal menjadi ibu wajib untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya karena sebenarnya dan seharusnya tujuan utama seorang wanita dalam menuntut ilmu adalah sebagai bekal untuk mendidik anak-anaknya kelak. Ya, ibu-ibu cerdas akan menghasilkan anak-anak yang cerdas. Ibu-ibu berakhlak akan melahirkan anak-anak yang berakhlak pula. Sebaliknya ibu-ibu yang minim pendidikan akan menghasilkan anak-anak yang tidak cerdas. Ibu-ibu yang tidak berakhlak akan melahirkan anak-anak yang mengalami krisis akhlak. Percayalah dengan kata bijak ini, sungguh buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Oleh karena itu sebagai calon ibu mau pun yang telah menjadi ibu, kita perlu berkomitmen jadi ibu yang luar biasa. Sekali pun gelar sarjana hanya menghantarkan kita pada karir sebagai house wife alias ibu rumah tangga.



Iya. Siapa bilang IRT bukan karir? Justru IRT adalah karir yang sangat mulia. Bukan berarti wanita karir yang bekerja di luar rumah tidak mulia. Boleh jadi mereka yang terpaksa berkarir di luar rumah untuk membantu financial keluarga dan tetap bisa menjalankan tugas utamanya sebagai istri dan ibu dengan baik adalah lebih mulia daripada wanita yang hanya berkarir di rumah. Jujur saja, saya sangat kagum dengan wanita karir yang tidak pernah melalaikan tugas utamanya di rumah. Di mata saya, wanita-wanita yang demikian bagai superwomen yang memiliki kekuatan super ekstra. Penilaian saya ini jelas tidak berlebihan karena bertahun-tahun lamanya saya merasakan supernya kekuatan yang dimiliki oleh ibu saya. Beliau adalah wanita karir yang merangkap istri dan ibu sekaligus bagi keempat putrinya. Namun kesibukannya di luar rumah tidak lantas mengabaikan tugas utama beliau sebagai IRT.

Baca juga Impian Menjadi Istri Shalihah

Akan tetapi dibanding ibu rumah tangga yang merangkap wanita karir, saya sangat kagum dengan wanita yang memutuskan karirnya di luar rumah demi menjadi ummu a rabbatul bait ibu yang mengatur rumah tangga. Maa syaa Allah. Seperti yang saya katakan di awal postingan ini, tidak sedikit wanita khususnya muslimah jaman now yang memutuskan berhenti dari pekerjaannya demi menjadi IRT.

Nah, dari yang tidak sedikit itu, saya mengenal secara tidak langsung salah satu sosok muslimah yang menghentikan karirnya di luar rumah dam memutuskan menjadi ibu rumah tangga lewat tulisan-tulisan yang biasa ia tuangkan Rumah Ketjil-nya. Namanya mbak Rahma. Lengkapnya Siti Rahmadayanti. Ummu dari (alm) Ruwaifi dan Ruwaid. Blogger asal Jawa yang menyelesaikan jenjang pendidikan S1 di Fakultas Teknik jurusan Teknik Elektro Unhas Makassar dan sekarang berdomisili di kota Ambon Manise bersama suami dan kupu-kupunya yang sementara belajar merangkak, Ruwaid.

Ah, sejujurnya saya sedikit tahu banyak tentang Mbak Rahma ini dari blognya, dari kebaikan-kebaikan yang selalu ia selipkan di setiap postingan-postingannya. Dari tutur tulisannya yang bikin saya seketika -jatuh bangun cinta dan menjadikan blog nya sebagai blog favorit  yang wajib saya  kunjungi nyaris tiap hari. Saya bahkan selalu menantikan tulisan-tulisan terbarunya. Etapi sampai detik ini mbak Rahma-nya belum tahu kalau dia punya fans sefanatik saya. Ups! Pasalnya saya belum pernah menyapa dan meninggalkan jejak di rumah ketjilnya baru sebatas meminta pertemanan di facebook yang alhamdulillah dikonfirmasi.


Awal perkenalan dan pertemuan saya dengan mbak Rahma terjadi bukan secara kebetulan. Ketika itu saya masih hiatus, masih berencana ingin kembali ngeblog tapi belum dapat inspirasi dan semangat yang menggebu-gebu. Baru sekadar rencana. Padahal suami sudah mendukung penuh agar saya kembali aktif menulis. Mungkin efek lama nggak ngeblog, saya merasa kesulitan menulis dan kebingungan mencari ide. Hingga suatu ketika suami men-share link artikel berjudul Obesistuff Penyakit Muslimah Kekinian via whatsapp. Pada saya, suami ikut mengomentari artikel yang menurutnya sesuai dengan pemikirannya meski isi dari artikel tersebut lebih menyoroti kaum hawa. Tapi suami saya memang tipenya juga kayak gitu, sangat sayang dengan benda-benda miliknya. Seolah semua barang miliknya memiliki ikatan emosional sehingga semua barang-barangnya benar-benar sangat dijaga dan dirawat dengan sangat baik. Bertolak belakang dengan istrinya ini yang kurang pandai merawat barang, hehe. Well, barangkali maksud suami sengaja mengirim artikel tersebut agar saya juga bisa bersikap lebih sayang kepada barang-barang saya, tidak perlu mengoleksi banyak barang dan cukup membeli barang yang dibutuhkan.

Siapa sangka bermula dari membaca artikel yang di-share suami langsung ke saya itulah saya jadi sangat tertarik untuk menelusuri seluruh isi postingan blog Rumah Ketjilku tersebut yang ownernya tidak lain adalah mbak Rahma.

Apa yang menarik dari blog Rumah ketjilku?

Tidak ada. Sekilas memang blog mbak Rahma tampak biasa-biasa saja. Terlalu sederhana malah. Seperti blog pada umumnya. Blognya juga masih menggunakan blog gratisan seperti blog saya ini. But you know, dari sekian banyak blog yang pernah saya kunjungi, blog sederhana milik mbak Rahmalah yang rasanya 'saya banget'.

Saya mengenal blog pertama kali saat masih duduk di bangku kelas tiga SMA, sekitar tahun 2009 atau 2010, persisnya saya lupa, namun baru benar-benar mulai konsisten menulis di blog sejak tahun 2013 hingga tahun 2015. Namun postingan saya di tahun 2015 mulai menurun drastis dibanding postingan dua tahun sebelumnya. Puncaknya di tahun 2016, saya hanya berhasil mempublish satu postingan dalam setahun itu lalu hiatus begitu saja. Ckckck.

Sebenarnya ada banyak alasan yang membuat saya akhirnya menjauh dari kamar kenangan saya ini. Namun satu-satunya alasan yang paling mendasar adalah karena niat ngeblog saya yang masih keliru, masih bengkok, belum lurus. Saya ngeblog sebatas menyalurkan hobi menulis. Menurut saya media sosial yang paling cocok menampung tulisan-tulisan saya adalah di blog. Ketimbang menyimpan tulisan-tulisan saya secara offline, lebih baik saya menyimpannya di media online seperti blog yang sangat memungkinkan tulisan-tulisan saya menemukan pembacanya.

Niat saya ngeblog pun sekadar mengabadikan kenangan. Saya memang suka sekali mengoleksi kenangan, namun kenangan apa pun itu mudah sekali luput dalam ingatan, dipudarkan oleh waktu, karena itu saya merasa harus mengabadikannya di blog yang saya sebut sebagai Kamar Kenangan. Kenangan apa saja, tidak peduli apa yang saya torehkan baik atau nggak. Bermanfaat atau sebaliknya. Menginspirasi atau tidak. Saya asal saja menulis, curcol sebarangan mulai dari hal-hal yang nggak penting sampai nggak penting banget, termasuk hal-hal yang gaje.

Nah, semua niatan keliru itu yang bikin saya berpikir ulang. Ada niat yang wajib saya luruskan dan untuk  meluruskan niat tersebut saya sampai hiatus karena membutuhkan waktu cukup lama untuk mikir. Mau dibawa kemana blog saya ini? Mau diarahkan seperti apa? Mau dibentuk bagaimana? Mau diisi kenangan-kenangan seperti apa? Setumpuk pertanyaan itu yang merecoki pikiran saya selama berhenti sejenak dari aktivitas ngeblog.

Baca juga Lama Hiatus, Ini Alasan Saya Kembali Ngeblog

Ketika niat ngeblog berhasil saya luruskan, in syaa Allah lillaahi ta'ala, Allah pertemukan saya dengan Rumah Ketjilku milik mbak Rahma lewat perantara suami, padahal sebelumnya saya telah bergabung di komunitas blogger yang sama dengan mbak Rahma. Di rumah Ketjilnya itulah saya menemukan jawaban yang saya cari selama hiatus. Ibarat menemukan jati diri, di blog mbak Rahma saya menemukan jati blog saya.  Blog yang isinya penuh dengan kebaikan-kebaikan seperti itulah yang saya dambakan ada pada kamar kenangan saya. Tulisan-tulisan yang ringan namun bermakna. Dengan bahasa-bahasa yang santun, tidak menggurui. Ide tulisan di Rumah Ketjilnya pun kebanyakan diangkat dari kisah pribadi yang dapat dipetik hikmahnya. Berpesan dakwah. Sangat menginspiratif.

Salah satunya tentang kisah beliau yang memutuskan resign dari profesinya sebagai engineer dan memutuskan menjadi ibu rumah tangga biasa yang ia bagikan dalam postingan berjudul Emak-Emak Mengejar Mimpi

Setahu saya gaji seorang engineer berkali-kali lipat di atas gaji seorang guru honorer dan mbak Rahma bersedia melepaskan karirnya itu hanya demi menjadi ibu rumah tangga yang dampaknya otomatis bakal mengurangi penghasilan keluarganya. Resign dari pekerjaan tentu bukan keputusan yang ringan. Galaunya itu lho. Kegalauan yang juga saya rasakan ketika memutuskan resign dari sekolah tempat saya mengajar demi hijrah ikut suami. Ya, meski kegalauan yang saya rasakan tidak sebandinglah dengan kegalauan yang mbak Rahma rasakan. Mbak Rahma resign dari profesinya sebagai engineer yang begaji besar sementara saya resign dari pekerjaan sebagai guru honorer yang gajinya kalah banyak dengan gaji seorang asisten rumah tangga atau baby sitter.  *eh

Namun terlepas dari masalah besar kecilnya gaji, wanita-wanita muslimah yang berhasil mengalahkan kegalauannya dan memutuskan resign dari pekerjaannya adalah mereka yang telah sampai pada keyakinan bahwa rejeki Allah amat luas. Resign dari pekerjaan sama sekali tidak akan mengurangi jatah rejeki mereka dengan pasangan. Sungguh, rejeki bisa datang kapan saja dan dari arah yang tak disangka-sangka. Bahkan sekali pun mereka hanya tinggal di rumah.

Dan terbukti. Sekarang ini telah bermunculan jenis pekerjaan di rumah yang menghasilkan uang tanpa perlu ke kantor, di luar usaha jualan di rumah. Pekerjaan yang cukup bermodalkan gadget dan kuota internet. Sebut saja bisnis online atau menjadi penulis online. Kedua pekerjaan tersebut tentu bisa menjadi alternatif terbaik bagi muslimah yang selain fokus menjadi IRT tetap ingin berpenghasilan. Muslimah yang punya minat dan bakat di bidang  usaha bisa melirik bisnis online sedangkan muslimah yang memiliki minat dan bakat di bidang menulis bisa menekuni usaha menjadi penulis online khususnya sebagai blogger.

Iya, ternyata blogger merupakan salah satu jenis pekerjaan online dengan penghasilan yang cukup menggiurkan yang nominalnya entahlah saya tidak tahu karena sampai saat ini belum pernah dapat income dari ngeblog, tahunya dari blogger-blogger lain yang telah memonetisasi blognya dengan menerima affiliasi, iklan, sponsorship, ikut lomba blog, dll. Kebanyakan mereka adalah muslimah yang karir utamanya sebagai emak-emak rumah tangga (IRT, red) lho. Keren yaaak.

Kalau blognya mbak Rahma, meski tidak  atau belum dimonetisasi (blog saya juga, hehe) tapi karena berteman di facebook saya jadi tahu, selain fokus berkarir sebagai ibu rumah tangga ia juga terjun di bisnis online dan biasa mempromosikan produk onlinenya di media sosialnya itu. Sementara saya? Eh, skip saja.

Entah mau jadi blogger profesional yang menghasilkan pundi-pundi uang mau pun blogger personal yang menyalurkan hobi menulis dengan topik lifestyle, blogger bisa menjadi alternatif yang tepat bahkan terbaik bagi para muslimah yang tetap ingin produktif sebagai IRT.

Sekarang sudah banyak muslimah yang berkiprah di dunia blogging. Tentu, selain mbak Rahma dengan Rumah Ketjilku, di luar sana masih banyak muslimah-muslimah hebat yang sukses mengembangkan sayap karirnya di rumah dengan menjadi blogger. Yang terus berbagi kebaikan dengan tulisan-tulisan penuh inspirasi sesuai niche masing-masing.

Nah, kamu tertarik pengen jadi blogger yang seperti apa? Yang biasa-biasa saja. Yang sebatas menjadikan blog sebagai diary online. Atau ngeblog hanya untuk mendapatkan penghasilan atau menjadikan blog sebagai ladang dakwah?

Ya, setiap orang sebenarnya bisa menjadi blogger namun tidak semua blogger bisa menginspirasi. Maka sebagai muslimah kita harus punya komitmen, tulis yang baik-baik, bagikan yang baik-baik. Jadilah blogger muslimah yang menginspirasi

Selamat Hari Blogger Nasional 2017

*noted Rumah Ketjilku adalah blog yang menginspirasi saya untuk menjadikan Kamar Kenangan ini sebagai blog yang diisi dengan tulisan-tulisan yang mengandung kebaikan, bukan sekadar curcol semata. Mudah-mudahan tulisan-tulisan saya di blog ini juga bisa menginspirasi kalian.

#ODOPOKT22

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia



  • Share:

You Might Also Like

2 comments

  1. Ibu adalah profesi yang mulia, bila kita ikhlas, surga lah balasannya

    ReplyDelete
  2. assalamualaikum blog anda sangat menginspirasi
    saya , mudah mudahan blog anda bermanfaat bagi kita semua
    salam kenal http://www.elzattapasarbaru.wordpress.com

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.