Lima Pertanyaan yang Tidak Lepas Dari Perjalanan Hidup Kamu

By Siska Dwyta - 18:50


credit

Bismillaahirrahimaanirrahiim

Semenjak menanggalkan status jomblo single, saya menyangka diri saya udah merdeka alias terbebas dari pertanyaan-pertanyaan yang menurut sebagian besar orang menyebalkan. Eh ternyata tidak, ding! Akhir-akhir ini saya mulai ditodong lagi dengan pertanyaan yang bisa bikin saya (kembali) baper dan galau. Okelah, kalimat pertanyaannya emang beda tapi maknanya jelas sama. 

Lalu saya terpaksa membiarkan pikiran saya terbang ke masa-masa yang telah lewat selama tiga tahun terakhir ini. Terhitung semenjak saya mulai berhadapan dengan yang namanya skripsweet, jadi pengacara (pengangguran banyak acara, red) hingga finally dijemput oleh sang jodoh impian. Bila kalian sedang, telah atau akan berada di fase tersebut pun, saya jamin nggak bakal lepas dari lima pertanyaan yang menyebalkan ini.

UDAH NYAMPE MANA SKRIPSINYA?


Untuk pertanyaan yang satu ini saya bingung jawabnya. Pasalnya yang menentukan lancar tidaknya skripsi bukan semata-mata ditentukan oleh si mahasiswa tingkat akhirnya doang. Peran dosen pembimbing (dosbing) juga sangat berpengaruh lho. Dan tentu ada campur tangan Tuhan di dalamnya. So, kalau lagi sibuk-sibuknya kejar skripsweet jangan sampai lupa shalat dan banyak-banyak minta doa sama Tuhan ya agar dilancarkan tugas akhirnya dan dikasih dosbing yang nggak menyulitkan mahasiswanya, hehe.

Banyak kok mahasiswa tingkat akhir yang telat skripsinya bukan karena malas atau ogah-ogahan. Malah sebaliknya, semangatnya menggebu-gebu tapi gegara dosbingnya yang super sibuk, sulit ditemui, suka coret-coret dsb, alhasil perkembangan skripsi mahasiswa tersebut jadi terhambat deh.

Dan, yah saya pernah mengalami fase tersebut. Teman saya yang belakangan diterima judulnya berhasil ujian meja (munaqasyah) duluan sementara saya yang tadinya lebih dulu diterima judul masih tertahan di bimbingan skripsi karena dosbing yang . . . ah sudahlah. Saya nggak bermaksud menyalahkan si dosbing, cuma pengen bilang aja, kalau kita udah berjuang keras agar skripsi kita segera di-ACC tapi masih terkendala di dosbing dan faktor-faktor lainnya trus ada yang sok nanya-nanya "skripsinya udah nyampe mana" itu rasanya kayak pengen gigit jari deh, hehe.

Baca juga Ketika Skripsweet Ditolak Dosbing

Saya yakin kok, nggak ada mahasiswa yang betah "berkarat" di kampus. Semuanya pengen segera wisuda biar bisa cepat nikah kecuali yang emang nggak mau wisuda buru-buru dan masih pengen berlama-lama menyandang status mahasiswa. Ada kok type mahasiswa karatan yang kayak gini, etapi rata-rata mahasiwa normal pasti target lulusnya tepat waktu, cuma proses yang dilalui beda-beda, makanya ada yang cepat ada yang lambat. Urusan cepat lambatnya itu biarlah menjadi urusan mereka yang menjalani. Kalau nggak bisa bantu mending kita urus aja diri sendiri 😆

KAPAN WISUDA?


credit
Tahun 2014. In syaa Allah. Begitu jawaban saya dengan pedenya kalau ada yang bertanya. Sejak awal masuk kuliah, saya emang udah target sih. Kuliah saya maksimal harus empat tahun. Nggak boleh lewat. Alhamdulillaah, target saya tercapai tepat pada waktunya, tentu setelah melalui perjuangan yang tidak hanya menguras tenaga, waktu dan biaya tapi juga air mata. Ups.

Syukurnya karena selesai tepat waktu, sesuai dengan waktu yang saya targetkan, saya nggak sampai baperan dan galau dapet pertanyaan kayak gini. Etapi karena udah ngerasain gregetnya nyeseknya ditanya-tanya soal skripsi dan karena bimbingan skripisi saya juga sempat terhambat so that saya seolah bisa merasakan pedesnya pertanyaan kapan wisuda yang ditujukan kepada mahasiswa yang belum berhasil mengenakan toga.

Proses yang dilalui mahasiswa tingkat akhir emang nggak semua sama. Wong jenis penelitian dan dosbingnya aja beda-beda. Ditambah banyak faktor-faktor lain yang ikut memengaruhi proses mereka menuju wisuda. Entah itu terhambat dari bimbingan skripsi di dosbingnya, di penelitiannya, pengurusan administrasi yang ribet atau dari mahasiswanya sendiri.  Apa pun hambatannya yang pasti setiap mahasiswa bakal wisuda kok asal nggak nyerah aja dengan skripsinya. Ya, daripada menambah beban dengan pertanyaan yang nggak bermutu mending kita bantu semangatin mereka. Fighting😉

Baca juga Suka Duka Menuju Wisuda

KERJA DIMANA?


Semasa masih menyabet status mahasiswa tingkat tua kita sering diteror dengan pertanyaan "kapan wisuda". Giliran udah berhasil mengenakan toga dan menyabet gelar sarjana eh kita masih diteror dengan pertanyaan yang tak kalah ngenesnya. Uhft.

Saya awalnya santai aja nanggapin pertanyaan yang satu ini. Kalau ada yang nanya kerja di mana, saya malah pengen jawabnya di rumah, hehe. Lepas wisuda saya emang pengennya kerja di rumah aja. Mau jadi IRT bukan Ibu guru. Tapi karena keseringan ditanya, belum lagi terciprat hawa panas karena teman-teman yang lain udah pada kerja ditambah orang tua yang menghendaki anaknya yang udah disekolahkan tinggi-tinggi bisa dapet kerjaan yang mapan, saya jadi risih sendiri, lama-lama kerisihan saya berubah galau bin dilema. 


Pertanyaan "Kerja dimana" seolah menjelma beban yang harus saya pikul kemana-mana. Yap, ternyata wisuda bukanlah akhir dari segala-galanya dan sarjana barulah awal dari segala-galanya. Belum wisuda jadi beban, udah wisuda pun makin nambah beban pengangguran di negeri ini. Mana cari kerjaan sekarang juga nggak gampang. Haha. Jadi serba salah, kan?😂


KAPAN NIKAH?

Sarjana udah. Kerja juga udah. Nikah? Eng ing eng. Pertanyaan kapan nikah atau kapan nyusul sebenarnya udah basi banget. Iya nggak? Herannya orang-orang masih doyan bertanya kayak gitu.  Saya dengarnya aja udah muak.

Menurut saya ini pertanyaan yang paling horor dibanding tiga pertanyaan sebelumnya. Yap, gimana nggak horor kalau yang bertanya cuma asal nanya sementara yang ditanya nggak tahu jawabannya. Boro-boro tahu tanggal nikahannya, calon aja nggak punya, huhu. 

Selain horor, ditimpuk pertanyaan kayak gini juga kadang bikin saya baperan. Bukan apanya sih, namanya wanita apalagi yang masih singelillaah rentan banget bawa-bawa perasaan. Jangankan ditanya kapan nikah, dapet undangan nikah temannya aja dia udah baper duluan, ke walimahan baper,  stalking profil medsos temannya yang udah nikah, baper, lihat teman-temannya pada jalan dengan pasangan masing-masing, baper lagi. Pokoknya bapernya nggak ketulungan deh. Kalau udah gitu, dia cuma berdoa kuat-kuat dalam hati. "Oh Tuhan, giliran saya kapan?"😢

Tuh kan, dia aja nanya ke Tuhannya trus kita masih suka nanya-nanya pertanyaan yang jawabannya wallaahu a'lam (baca; Hanya Allah yang tahu). Please deh!

Baca juga Basa Basi Nikah

UDAH ISI BELUM?


credit
Dan ternyata status menikah alias nggak jomblo singelillaah lagi tidak berhasil memerdekakan saya dari pertanyaan sejenis yang efeknya benar-benar sangat bisa memengaruhi pikiran dan perasaan saya. 

Coba deh bayangin. Ada sepasang suami istri yang begitu mendamba hadirnya buah hati namun sekian tahun lamanya Allah belum jua memberikan "amanah" itu dalam rumah tangga mereka trus kita dengan entengnya ceplas ceplos bertanya, "udah isi belum?" Kira-kira apa yang mereka rasakan?

Saya dan suami baru membina rumah tangga setengah tahun, belum genap setahun, belum ada apa-apanyalah dibanding pasangan lain yang telah menanti momongan bertahun-tahun lamanya. Namun di usia pernikahan kami yang masih berbilang bulan aja hati saya rasanya udah mulai sensitif gimana gituu bila ditanya masalah isi di perut saya, apalagi mereka yang pernikahannya telah berbilang tahun dan belum punya anak.

Baca juga Tuhan Selalu Tahu yang Terbaik buat Hamba-Nya

Well, misalkan saya telah diamanahi buah hati (aamiin) pun pertanyaan-pertanyaan yang bermakna serupa dari orang-orang sekitar masih tetap akan meneror. Misal; si anak lahirannya normal atau caesar? Anaknya giginya udah berapa? Anaknya udah bisa jalan belum? Ainaknya ada berapa? Kok cuma satu? Kok nggak mau nambah anak lagi? Dan bla bla bla.

Pertanyaan-pertanyaan yang demikian nggak bakal habis-habisnya meneror kita. Kenapa? Ya mungkin karena dasarnya manusia emang suka bertanya kali yee, hehe. Baiklah, sejauh pengamatan saya setidaknya ada tiga alasan yang bikin orang-orang doyan mengajukan lima pertanyaan menyebalkan kayak di atas.

1. KEPO



Kepo alias serba ingin tahu apa aja. Dari hal-hal yang gaje sampai yang nggak penting-penting amat. Termasuk semua hal yang bukan menjadi urusannya pun pengen di-kepo-in.

Orang yang tukang kepo emang selalu ingin tahu kehidupan orang-orang di sekitarnya. Entah mereka bertanya sekadar memuaskan hasrat kepo-nya atau dengan maksud-maksud tertentu. Kalau maksud keponya baik sih nggak masalah. Misal; keponya karena emang beneran pengen tahu kabarnya kita dan pertanyaannya itu sebagai bentuk care-nya dia sama kita. Tapi ada juga sih orang yang sengaja kepo dengan maksud jelek. Pengen membanding-bandingkan kehidupannya dengan kehidupan kita, udah gitu dia ceritakan hasil kekepoannya pula ke orang lain. Ckck.

2. BASA-BASI

credit
Basa-basi ini penting. Iya, apalagi kalau kita berkunjung ke rumah keluarga, teman, kenalan atau kerabat kita dengan maksud tertentu. Ya, nggak mungkin kita datang langsung ngomongnya to the point, di sinilah obrolan basa-basi diperlukan.

Nggak ada yang salah sih dengan basa-basi , yang salah itu kenapa orang-orang menjadikan pertanyaan yang menurut saya sifatnya sensitif semacam kapan wisuda, kapan nikah, udah isi belum dan bla bla bla ke dalam obrolan basa-basi. Padahal masih banyak kok pertanyaan lain yang lebih general nggak personal dan menyudutkan pihak yang ditanya. Iya, kan banyak yang bertanya kayak gitu sebatas basa-basi doang.

Kan nggak lucu ya, Lo ke pesta dan dapet kenalan baru di sana trus dia tiba-tiba langsung nodong lo dengan pertanyaan udah nikah belum? Kapan nyusul. Basi banget kan? Atau lo udah lama nggak ketemuan sama teman seangkatan lo sekalinya reunian eh dia langsung nyergap lo dengan pertanyaan udah punya anak berapa? Gleg.

Basa-basi sih boleh-boleh aja tapi nggak usah berbasa-basi yang bikin basi. Nanya tentang kapan nikah, kapan nyusul, kapan punya anak dll itu udah basi banget lho. Seriusan. Jadi kalau  masih ada yang nanya kayak gitu coba balik nanya.

Emang masih  jaman ya nanya-nanya kayak gitu😮

3. KEBIASAAN


credit
Emang susah ya mengubah kebiasaan yang telah membudaya dan mengakar kuat di masyarakat. Ya, sepertinya pertanyaan-pertanyaan menyebalkan itu telah menjadi semacam tradisi yang turun menurun, dianggap lumrah dan wajar-wajar aja dijadikan guyonan atau basa-basi bagi masyarakat kita tanpa mempertimbangkan efeknya.

Bahkan tanpa disadari pun, kadang kita sendiri juga suka ikut-ikutan bertanya demikian. Iya nggak? Hehe. Niatnya mau balas dendam mungkin, dulu kan kita yang ditodong-todong dengan serentetan pertanyaan tersebut, sekarang, giliran kita lagi yang nanya ke genarasi di bawah kita. Biar mereka bisa merasakan betapa tidak enaknya ditanya-tanya pertanyaan yang bikin hati jadi kelabakan, haha. Lha, ini kok kayak tradisi MOS di sekolahan yaak, hihi.

Intinya sih, menurut saya kebiasaan mengajukan pertanyaan yang sensitif sebatas untuk kepo (pengen tahu aja) dan basa-basi doang termasuk bad habbits. Nggak baik dipelihara. Efeknya emang nggak ngaruh apa-apa sama sekali ke kita tapi ke orang yang kita tanyain, dampaknya bisa besar lho! Atau bila kita berada di pihak yang ditanya, pasti kita udah ngerasain sendiri betapa menyebalkan ditanya-tanya dengan pertanyaan yang kadang kita sendiri bingung jawabnya karena kita emang nggak tahu jawabannya.

Ibaratnya lo kayak ngasih pertanyaan tingkat mahasiswa ke anak TK. Gimana seorang anak TK bisa menjawab pertanyaan tersebut kalau dia aja belum kuliah😕 You know that, Anak TK tersebut baru bisa menjawab pertanyaan tingkat mahasiswa itu kalau dia udah kuliah di perguruan tinggi.

Mana kita tahu kapan kita akan wisuda, kapan kita nikah, kapan kita kerja, kapan kita punya anak, bahkan kapan kita akan mati kalau kita sendiri belum tiba di masa itu. Masa depan manusia sepenuhnya masih merahasia. So, yang bisa kita lakukan hanyalah tetap berdoa, berikhtiar dan tawakal.

In syaa Allaah, Takdir Tuhan akan Datang di Waktu yang Tepat😊







  • Share:

You Might Also Like

18 comments

  1. kalau menurut saya just take it easy let it flow aja, nggak perlu risih atau waspada hehe. kalau ditanay ya tinggal jawab ~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe ia mbak, pengennya dibawa santai aja..

      Delete
  2. Aku kalau ada yang nanya begitu pengen nanya balik "kapan mati? Gak tau kaaaan... Ya sama rezeki, jodoh, kelahiran dan kematian Allah yang atur keleeeeus" ��

    ReplyDelete
  3. Pertanyaan yang memang selalu menyebalkan
    tapi juga untuk mengingatkan kita hehehe

    ReplyDelete
  4. Kalau saya sih, saat di posisi kamu mungkin pura-pura amnesia. Hahaha

    ReplyDelete
  5. semoga aku gak khilaf bertanya 5 pertanyaan itu :)

    ReplyDelete
  6. Aku dah pernah dpt pertnyaan itu semua...

    Tp nyantai sih..hi2..anggep basa basi aja.

    Soalnya kan kdng bingung mo nanya apaan..

    ReplyDelete
  7. Karena nggak pernah ngalamin ditanya dengan 5 pertanyaan tersebut, jadi nggak tahu harus bersikap bagaimana. Alhamdulillah, skripsi, wisuda, kerja, nikah, anak..nggak pakai nunggu lama...Tapi, khawatirnya saya yang ternyata pernah kepo nanya..Ups!Semoga nggak pernah..

    ReplyDelete
  8. Hehe, jadi pengen nanya sama si penanya, kapan kamu berhenti nanya? :D
    Pernah ditanya kapan hamil? padahal sy abis keguguran..hiks. Giliran hamil, mereka bilang, nah gitu dong kan enak biar nggak sepi..mungkin mereka kurang kerjaan aja sih..hehe

    ReplyDelete
  9. memang begitulah orang kita jadi hanay bisa tersenyum kecut samabil dijawab dengan candaan saja

    ReplyDelete
  10. Saya punya teman, sudah lama gak ketemu. Usianya sudah hampir 40 tahun. Pengan banget nanya, apakah dia sudah nikah atau belum karena memang bener-bener gak tau kabar dia selama ini. Tapi gak tau kenapa, mau nanya juga berat, takut dia belum nikah dan jadi memancing kemuraman di wajahnya. Ya udahlah, gak jadi nanya hehehe...

    ReplyDelete
  11. lagi galau skripsi ya?
    tenang..tenang.. semua akan indah pada waktunya..

    dulu ku jg begitu.. hehe

    ReplyDelete
  12. setelah tnggal jauh dr indonesia.. saya sedikit merasakan manfaat pertnyaan nyinyir itu.. yaitu.. saling berkabar nya. meski over kepo dan over attention nya itu bikin risih..tp tau info umum ttg seseorg itu bermanfaat. misal.. ada ortu temen yg nanya.. kapan kira2 skripai nya kelar?

    barangkali beliau punya solusi atau skdar masehat buat kita biar bisa enjoy nulis skripsi.. gtu jg ditanya kapan nikah..brngkali yg nanya pnya calon buat kita.. #eaaaaangarep😅😅😅

    ReplyDelete
  13. Haha...saya nih, Mbak...masih dikejar pertanyaan kapan nikah? Jawaban saya sekarang udah kreatif banget...dari mulai doain aja sampe tunggu aja undangannya yaaa?😉 Kadang baper juga
    sih tapi daripada malah badmood lebih baik berpositif thingking aja
    sama penanya, mereka perhatian banget sih sama saya? Duh, makasih yaa... 😀

    ReplyDelete
  14. Haaahahhaa..pertanyaan2 itu pernah aku rasain Mba, aku ndableg orangnya, suka tak senyumin aja, ga banyak omong hehee..

    Dan, sekarang masih ditanyain, kapan hamil lagi? (lirik usia udah kepala 4 plus), senyumim ajaa...

    Btw, salam kenal yaaa...

    ReplyDelete
  15. 1 pertanyaanku kak? kapan kita ketemu hehehe
    #becanda
    ya, pada dasarnya semua itu kan karna alur kehidupan yang masih dalam keadaan normal.
    kan gak ada to kak pertanyaa, eh kapan sakit, eh kapan ninggal di depan orangnya langsung?

    ReplyDelete
  16. Arrrg... Aku juga sedang belajar untuk tidak peduli omongan dan pertanyaan orang..

    Sambil muhabasah, apa jangan-jangan dulu juga pernah nyakitin orang dengan pertanyaanku 😢

    ReplyDelete
  17. Kalau ada yang nanyain masalah, 'kapan nikah?'.
    Tanya balik aja, 'lu kapan mati?'.
    Wkwkwkwk xD

    Sama sih soalnya, bergantung pada ketetapan Allah. Nah nunggu kapan nikah, kapan mati.....di waktu2 penantian itulah gimana kita bisa survive buktikan kalau kita ini single available yg berkualitas huehehe.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.