Menuju Halal : Kriteria Jodoh Impian

By Siska Dwyta - 23:54

Bismillahirrahmaanirrahiim

“Kalau kau mencari yang sempurna, kau akan kehilangan yang terbaik”.


Gambar di atas pernah terpajang jadi foto profil di akun facebook saya dalam jangka waktu yang cukup lama. Kesannya mungkin kayak ngasih kode ya. Hehe iya juga sih. Ngode ke diri sendiri. Seingat saya, gambar tersebut pertama kali saya jumpai ketika salah seorang teman yang ada di kontak BBM saya menjadikannya sebagai DP lalu seketika itu pula saya terpesona, tapi bukan pada gambar siluet muslimah dan senjanya yang seolah mencerminkan diri saya yang sering mengaku diri sebagai Muslimah Senja. Uhuk.

Kata-katanya itu lho. Asli. Bikin baper. Herannya, saya malah kesemsem tapi nggak aneh kok, wanita kan gitu, suka bawa-bawa perasaan. Jadi sekalinya ketemu gambar dengan caption yang kata-katanya ngena di hati, terpesonalah ia. Dikiranya, kata-kata tersebut mengisahkan dirinya, padahal banyak wanita-wanita di luar sana yang juga mengira demikian.

Well, Karena bukan cuma kita yang pernah mengalami patah hati, bukan kita saja yang pernah merasakan lelahnya menunggu tanpa kepastian, bukan hanya kita yang pernah memikul beban rasa dalam kesenyapan, bukan kita sendiri yang pernah mengalami dilema ketika dihadapkan dengan pilihan-pilihan memilih calon pasangan hidup, bukan kita doang yang pernah ditodong dengan pertanyaan kapan nikah. Bukan kita saja yang pernah galau masalah jodoh. Semua orang yang udah ketemu jodohnya juga pernah ngalami yang kayak gitu kok.

Jadi, di postingan kisah menuju halal kali ini saya bakal bahas Kriteria Jodoh Impian secara khusus sebelum melangkah ke kisah Ta’aruf dengan Sang Jodoh.

Kenapa? Karena setelah menghadirkan niat menikah, menetapkan target dan hendak beraksi jemput jodoh dengan jalur ta’aruf, satu hal yang menjadi pertimbangan paling penting dan yang kerap bikin saya berada dalam kondisi dilema dan galau tingkat langit adalah perihal sosok yang bakal jadi jodoh saya nantinya. Kalau persoalan “kapan” sih saya hadapinya santai saja, nggak terlalu mikir, toh saya yakin sepenuhnya jodoh saya pasti datang di waktu yang tepat. Tepatnya itu biar menjadi urusan Allah. Yang doyan nanya-nanya kapan nikah juga biarlah menjadi urusan mereka sok basa basi mengajukan pertanyaan yang jawabannya Wallaahu a'lam.


Namun bila persoalannya udah menyangkut “siapa”, ini nih yang bikin saya kalut, ketar-ketir, was-was, khawatir berlipat-lipat, nggak bisa tenang, bawaannya galau dan dilema melulu. Saking takutnya saya bertemu dengan jodoh yang salah. Jodoh yang jauh dari harapan. Jodoh yang tidak mampu membimbing saya ke surga-Nya. Jodoh yang bukan impian saya. Duh, saya takut sekali.

Ketakutan saya itu bukan tanpa alasan. Barangkali karena kedua telinga saya ini sering menyimak kisah rumah tangga orang lain yang lebih banyak menderita daripada bahagianya, lebih banyak sedih daripada senangnya, lebih banyak air mata yang mengucur daripada tawanya. Belum lagi kedua mata saya juga kerap menyaksikan kisah kriminal yang terjadi antara sepasang suami istri yang tayang di berita TV nasional. Duh, makin bergidik saya membayangkannya. Apakah kehidupan pernikahan begitu mengerikan? Entahlah. Saya belum menjalaninya ketika itu, baru sebatas mendengar cerita orang-orang, baru sekadar melihat berita kriminal rumah tangga di layar kaca sehingga tidak bisa mengambil kesimpulan bahwa pernikahan adalah momok yang menakutkan.

Mungkin iya, bagi sebagian orang yang pernikahannya berujung tragedi, namun bagi mereka yang rumah tangganya tampak adem-adem saja, pernikahan adalah bahterah yang indah, yang sesekali mungkin diterpa angin, diterjang ombak, dihantam badai namun sekencang apa pun angin menerpa, seganas apa pun ombak menerjang, sedahsyat apa pun badai menghantam tidak mempan memporak-porandakan bahterah mereka.

Silakan bertanya ke kakek-nenek kalian jika masih hidup atau tanya ke orang tua yang telah mengarungi bahterah rumah tangga selama lebih dari duapuluh tahun, barangkali mereka bisa memberitahu cara hebat membangun bahterah yang tak goyah diterpa angin, kokoh diterjang ombak dan kuat dihantam badai, atau cukup dengan mengenang kembali kehidupan yang kalian jalani selama tinggal seatap dengan orang tua kalian.

Orang tua saya sendiri telah mengarungi bahterah rumah tangga selama kurang lebih tiga puluh tahun. Selama itu, semenjak saya lahir dan hadir di tengah-tengah papa dan mama, kehidupan rumah tangga yang mereka jalani alhamdulillaah normal-normal saja. Kalau pun terjadi perselisihan diantara keduanya ya nggak sampai berlarut-larut. Paling kalau lagi marahan mama saja yang nggak berhenti ngomel-ngomel. Sifatnya perempuan memang cerewet kan? Sementara papa cuma diam, lebih banyak sabarnya. Atau kalau lagi males ngomel, mama juga ikutan diem, keduanya jadi diem-dieman, anaknya yang kebingungan? Hehe

Intinya kondisi rumah tangga orang tua saya berbeda jauh dengan cerita-cerita rumah tangga yang sering saya dengar. Misal nih, rumah tangga si A, suaminya suka minum-minum dan tukang main judi, jarang pulang ke rumah. Rumah tangga si B, suaminya suka ringan tangan, emosi sedikit langsung main pukul atau rumah tangga si C, selalu ribut, sedikit-sedikit bertengkar, suami marah-marah si istri juga ikut melawan. Nggak ada yang mau mengalah. Lebih-lebih yang kondisi rumah tangganya tragis seperti tayangan berita di TV, hanya karena masalah sepele si suami tega menganiaya istrinya bahkan ada suami yang sampai menghilangkan nyawa istrinya sendiri. Na'udzubillaahi min dzalik.

Jadi meski ada perasaan takut, khawatir, was-was dan sebagainya semua itu terhalau oleh kondisi real yang saya lihat dan rasakan sendiri selama tinggal seatap dengan orang tua. Dengan kondisi tersebut saya jadi berpandangan bahwa baik buruknya hubungan dalam rumah  tangga tergantung subjeknya. "Siapa". Iya, siapa yang membangun dan siapa yang menghuninya.

Bayangkan bila sebuah rumah dibangun oleh orang yang tak paham ilmunya. Asal membangun tanpa memperhatikan kualitas material yang digunakan. Alhasil, setelah rumahnya berhasil dibangun ternyata pondasinya lemah, tiangnya rapuh, temboknya tak kokoh, atapnya mudah jebol. Akibatnya, sekali datang badai robohlah rumah itu seketika. Atau bayangkan bila ada orang yang pandai membangun rumah dan pintar memilih bahan material untuk rumahnya dengan kualitas yang terbaik. Namun sayangnya setelah berdiri dengan megah dan kokoh, si pemilik rumah tersebut ternyata tidak pandai merawat rumahnya dengan baik. Rumah itu dibiarkan gersang, hampa, kotor, tak ada kedamaian di dalammya. Maka apalah artinya rumah yang mewah lagi kokoh bila pemiliknya sendiri acuh?

Sama halnya dengan membangun rumah tangga, kalau kita asal memilih pendamping yang tak paham ilmu atau pendamping yang tahu ilmunya namun sebatas pandai berteori tanpa pengaplikasian nyata maka kondisi yang bakal kita alami setelah menikah kurang lebih seperti ilustrasi tersebut. Rumah tangga yang mudah roboh dengan sekali terjangan badai atau rumah tangga yang tak ada kedamaian di dalamnya karena ego masing-masing pasangan.

Oleh sebab itu sebelum ikhtiar melangkah menjemput jodoh lewat jalur ta'aruf, yuk pahami terlebih dahulu yang namanya kriteria jodoh impian. Karena poin ini penting banget. Ketika hendak berta'aruf pun kalian bakal diminta untuk mengisi biodata atau membuat proposal ta'aruf yang salah satu poin intinya wajib mengisi atau menyebutkan kriteria calon suami/istri idaman. Sebenarnya semua poin yang mencakup di dalamnya penting sih, namun khusus untuk poin kriteria jodoh impian ini saya merasa perlu membahasnya lebih dalem *eaa

Pembahasan menjemput dan meminta jodoh dari tangan Tuhan telah saya kupas secara mendalam di postingan Menuju Halal sebelumnya. Masih ingat kan kalimat motivasi ini, jodoh itu di tangan Tuhan dan selamanya akan tetap di tangan Tuhan bila kita tidak datang menjemput, meminta dan mengambilnya dari tangan Tuhan. 

Sekarang yang jadi pertanyaan adalah bagaimana bila kita sudah mengerahkan iktiar semaksimal mungkin untuk datang menjemput dan meminta jodoh kita yang berada di tangan Tuhan. Tuhan pun memperkenankan permintaan kita dan mengulurkan jodoh yang ternyata nggak sesuai dengan kriteria jodoh yang kita impikan. Padahal kita kan udah berulang-ulang meminta pada Tuhan agar diberikan jodoh yang seperti ini, namanya si ini, cirinya begini, sifatnya seperti ini, asalnya dari daerah ini, pekerjaannya di tempat ini dan bla bla bla tapi Tuhan kok kasihnya yang ini sih. Kita ngarepnya yang datang si B kok ini yang datang malah si A. Kita mimpinya berjodoh dengan si B tapi akhirnya malah berjodoh dengan si A.

Nah, lho kalau keadaannya demikian apa yang harus kita lakukan?

Oke. Jawabannya kita skip dulu. Barangkali selama ini kita yang masih keliru dalam memaknai jodoh, kita mengira jodoh yang ada di tangan Tuhan itu bisa kita pilih sesuka hati. Kita menganggap, cukup dengan bekal ikhtiar dan doa semaksimal mungkin kita akan mendapatkan jodoh yang kita inginkan. Kita lupa tawakal. Lupa bahwa tugas kita hanyalah menjemput jodoh yang telah Allah tetapkan bahkan telah tertulis di lauhul mahfuz jauh sebelum kita dilahirkan. Kita luput dari kenyataan ini, bahwa jodoh itu Allahlah yang menetapkan bukan kita yang menentukan. Jadi perkara siapa dibalik nama yang masih merahasia yang bakal bersanding dengan nama kita di secarik undangan pernikahan atau siapa sosok yang masih tersembunyi yang bakal bersanding dengan kita di pelaminan itu murni hak Allah.

Hak kita adalah menerima jodoh yang telah Allah tetapkan (bukan jodoh yang sesuai dengan keinginan kita) sebab Allah telah menjanjikan itu dalam kalam cinta-Nya. Setiap insan diciptakan berpasang-pasangan. Artinya ya saat Allah menciptakan kita, Allah juga telah menetapkan pasangan hidup kita masing-masing. Jadi setiap dari kita pasti bakal bertemu dengan jodoh yang telah Allah tulisankan dengan kalam-Nya di Lauhul Mahfuz. Kalau pun tidak bertemu di dunia pastilah bertemunya di akhirat.

Maka siapa pun jodoh yang Allah ulurkan ke kita ya harus kita terima, harus kita syukuri. Itulah wujud dari tawakal. Memasrahkan semua pada ketetapan-Nya. Yakin dengan segenap jiwa bahwa ketetapan-Nya yang terbaik. Iya, sebab Allah Maha Tahu segala yang terbaik untuk kita. Apa yang kita anggap baik belum tentu baik bagi-Nya dan apa yang kita anggap buruk pun belum tentu buruk bagi-Nya. Barangkali Allah memang tidak pernah memberikan apa yang kita inginkan tapi percayalah, Dia selalu memberikan apa yang kita butuhkan. 

Menjalin hubungan tak halal dengan seseorang yang belum tentu menjadi jodoh kita atau menjalin ikatan hati dengan seseorang yang kita yakini bakal jadi jodoh atau bahkan menyebut nama seseorang yang kita dambakan menjadi pasangan hidup kelak dalam doa, ketiganya boleh jadi termasuk dalam kekeliruan yang akan berujung pada kekecewaan. Alangkah baiknya ketika hendak menjemput jodoh yang telah Allah tetapkan jangan lewat jalur hubungan yang belum sah di mata agama dan negara, jangan pula memekarkan perasaan yang tidak tumbuh pada tempatnya dan jangan terang-terangan menyebut namanya dalam doa-doa kita. Jemputlah jodoh lewat jalur yang Allah ridhoi, berproseslah dengan seseorang yang menjemput kita lewat jalur yang sama, sekali pun tanpa rasa di kala itu dan cukupkan dengan meminta petunjuk jodoh yang terbaik, siapa pun dia sebab hanya Allah-lah yang tahu jodoh yang terbaik untuk kita.

Ya, karena kita kan nggak tahu siapa pasangan yang ditakdirkan menjadi pendamping hidup kita kelak. Kalau memaksakan diri menjalin hubungan pra nikah dengan si dia sekian tahun lamanya, atau tetap bertahan menunggu si dia yang dicintai diam-diam atau selalu memohon agar Allah menjodohkan kita dengan si dia yang namanya kita sebut dalam doa lantas esok-esok ternyata kita mendapati si dia berjodoh dengan yang lain atau kita yang justru bersanding di pelaminan dengan sosok lain, bukan si dia, bagaimana perasaan kita?

Hancur. Remuk. Kita yang patah hati, kita yang nelangsa, kita yang kecewa berat. Alhasil, sia-sia saja kan semua pengorbanan yang kita lakukan untuk si dia. Kita sudah mengorbankan waktu, pikiran, perasaan, tenaga, waktu, biaya de el el eh ujung-ujungnya si dia malah melamar anak orang lain eh ujung-ujungnya kita malah berjodoh dengan anak tetangga sebelah rumah. Bisa saja kan alur takdirnya seperti itu.

Kalau jodoh telah ditetapkan demikian, ngapain lagi kita susah-susah menentukan kriteria jodoh impian? Toh, seumpama kita menentukan sederet kriteria calon pasangan juga belum tentu jodoh yang telah Allah tetapkan itu sesuai atau sama persis dengan kriteria calon pasangan yang kita tentukan.

Nah, itu dia, setiap orang pasti punya kriteria idaman dalam memilih calon pasangan hidupnya masih-masing yang rata-rata sih kriterianya pada ideal semua. Misal; berparas menawan, berpenampilan menarik, berwawasan luas, berakhlak mulia, berkepribadian baik, dsb. Oke, menentukan kriteria calon pasangan yang ideal memang lumrah, yang nggak lumrahnya itu bila kita ngotot pengen dapat pasangan yang ciri-ciri fisik dan non fisiknya 'sempurna' alias sama persis dengan kriteria yang kita tentukan. Mustahil.

No body is perfect. Di dunia ini tak ada manusia yang sempurna sebab kesempurnaan mutlak milik Allah semata. So, secantik, sehebat, sebaik, seluar biasa bagaimana pun manusia dengan segala potensi diri dan kelebihan-kelebihan yang ia miliki pastilah ia juga memiliki banyak kekurangan. Ada yang smart, friendly but not good looking. Ada yang parasnya begitu memukau, cerdas namun sifatnya egois dan cenderung emosional. Ada yang cakep sih, tajir pula tapi kepribadiannya kurang baik, dan macam-macamlah karakter manusia itu.

Ya, boleh jadi kita berproses dengan calon pasangan yang tampilan luarnya sesuai dengan kriteria idaman kita namun pasca menikah eng ing eng, ternyata di balik penampilan luarnya yang memukau pasangan kita itu memiliki banyak kekurangan-kekurangan yang sangat mengecewakan. Atau boleh jadi kita berproses dengan calon pasangan yang jauh banget dari kriteria idaman tapi setelah menikah Maa syaa Allah ternyata pasangan kita itu memiliki kepribadian yang luar biasa membuat hati kita tak henti-hentinya bersyukur.

Terkait kesempurnaan itu saya ingin sedikit mengutip penjelasan Ahmad Rifai Rifan dalam prolognya di buku The Perfect Muslimah.

"Tidak ada satu pun manusia yang sempurna. Memang seperti itu kenyataannya. Akan tetapi pada waktu yang sama Allah juga memerintahkan kita agar berusaha menjadi pribadi yang sempurna atau setidaknya mendekati kesempurnaan. Mungkin kita berpikir, mengapa kita diperintahkan melakukan sesuatu yang tidak mungkin menjadi kenyataan? Adakah kesalahan dalam perintah ini? Tidak! Jawaban pokoknya ternyata terletak pada relativitas kesempurnaan yang diyakini oleh masing-masing manusia. Iya sempurna itu relatif. Kapankan manusia bisa disebut sempurna? Yakni saat kemampuan kita sudah mencapai batas maksimum untuk berkembang. Kita sudah menggunakan segala daya, upaya, kerja keras, perjuangan hingga pada batas maksimum yang kita mampu"

Artinya apa? Bukan berarti karena jodoh kita telah ditetapkan oleh Allah lantas kita merasa tidak perlu lagi menjemput jodoh yang sesuai dengan kriteria impian. Kita asal saja menerima lelaki mana pun yang datang melamar kita atau bebas melamar wanita mana pun tanpa mempertimbangkan kriteria jodoh impian yang seharusnya kita usahakan dan perjuangkan sampai kemampuan kita mencapai batas maksimumnya.

Allah tidak mungkin mengubah keadaan diri kita kalau bukan kita sendiri yang mengubahnya. Pengen pasangan yang hapal Qur'an, tapi kita boro-boro hapal Al-Qur'an, sentuh Al-Qur'an saja jarang. Duh. Pengen calon istri/suami yang baik hati tapi suka berkata kasar, hobi main judi dan minum-minum,  aih, bagaimana ceritanya?

Jodoh itu cerminan diri lho. Seperti apa diri kita sekarang, seperti itu pula jodoh kita kelak. Kalau saat ini, kita sedang gigih menuntut ilmu agama, jodoh kita juga sedang fokus menuntut ilmu agama. Kalau saat ini kita memutuskan berhijrah, jodoh kita pun sedang menempuh jalan hijrah. Kalau saat ini kita malah asyik dengan gemerlapnya dunia, jodoh kita juga sedang terlena dengan fatamorgana. Kalau saat ini kita jauh dari Allah, bukan tidak mungkin Allah ikut menjauhkan kita dengan jodoh yang telah ditetapkan-Nya.

Jadi sebenarnya gampang saja kan, mengetahui seperti apa jodoh kita kelak. Cukup dengan bercermin dan lihat, apakah diri kita telah menjadi baik atau masih terseok-seok dalam keburukan. Kita mengharapkan jodoh yang baik tapi ternyata kita sendiri masih jauh dari kebaikan. Kita mendamba imam yang taat tapi ternyata kita sendiri masih jauh dari ketaatan. Lantas ketika Allah mengulurkan jodoh yang tidak sesuai dengan keinginan kita bahkan jauh dari yang diharapkan, justru kita yang protes, sulit menerima, tidak bersyukur.

Padahal persoalan Allah mengulurkan jodoh yang sesuai atau tidak dengan kriteria yang kita impikan itu urusan belakangan. Malah sebenarnya nggak perlu terlalu mengkhawatirkan siapa sosok yang kelak akan menggenapkan separuh dien kita. Sebab mau tidak mau, kita pasti akan bersatu dengan jodoh yang telah Allah takdirkan. Percaya saja pada-Nya. Tugas kita yang utama, cukup fokus berusaha membuktikan di hadapan Allah bahwa kita pantas dan layak mendapatkan jodoh yang sesuai dengan kriteria impian kita. Coba deh tanyakan pada diri; apakah dalam menjemput jodoh itu kita sudah mengerahkan segenap ikhtiar hingga mencapai batas maksimum atau asal pasrah menerima siapa saja yang bakal jadi jodoh kita tanpa usaha sedikit pun?

Nah, ini poin pentingnya; mengapa kita perlu menentukan kriteria jodoh impian sekali pun jodoh kita telah ditetapkan? Karena ikut menentukannya itu juga merupakan bagian dari ikhtiar. Karena kita tetap harus mengupayakan apa yang kita inginkan. Tidak lantas berputus asa dan menyerah pada takdir begitu saja.

Please, bedakan ya orang yang berputus asa dengan orang yang pasrah dengan keputusan Allah alias tawakal. Orang yang berputus asa adalah orang yang udah nyerah duluan padahal belum berusaha maksimal atau yang parahnya belum mencoba udah angkat tangan. Udah mengaku kalah pertama, bilangnya nggak bisa, nggak sanggup padahal belum menghadapi medannya. Lupa minta sama yang memberi kekuatan, atau kalau minta pun (doa, red) nggak sungguh-sungguh. Mintanya cuma sekali dua kali, udah. Nyerah. Sementara orang yang tawakal itu sebaliknya, tidak langsung pasrah pada keadaaan, melainkan pasrahnya pada yang Kuasa. Tentu, setelah mengajukan pinta dan mengerahkan upayanya semaksimal mungkin. Pintanya banyak. Berkali-kali. Nggak cuma sekali dua kali. Sungguh-sungguh pula. Di tiap sujud-sujud panjangnya. Di waktu-waktu yang mustajab. Di setiap kesempatan. Kerjanya pun bukan cuma meminta tapi ia iringi pula dengan segenap usaha tanpa putus asa.

Dalam hal menjemput jodoh ini,  bentuk usahanya ya mengajukan atau menerima proposal ta'aruf yang di dalamnya tertera jelas kriteria calon pasangan yang ia dambakan. Kriteria yang ia tuliskan berdasarkan keadaan dirinya. Setidaknya jauh-jauh hari, semenjak terbesit niat hendak menyempurnakan separuh agamanya, ia segera menentukan kriteria jodoh impiannya dan itulah yang ia upayakan. Ia ingin jodoh yang baik dan taat sehingga ia pun berusaha menjadi pribadi yang baik dan taat. Ia ingin jodohnya adalah seorang hafidz/ah sehingga ia pun berusaha untuk menghapalkan Al-Qur'an. Ia menginginkan jodoh yang rajin menghadiri taman-taman surga (majelis-majelis ilmu) sehingga ia pun berusaha rajin menuntut ilmu. Namun tentu alasan di balik semua usahanya itu bukan semata-mata demi menggapai jodoh yang diimpikan.  Lebih dari itu, usahanya untuk menjadi baik, dapat menghapal Al-Qur'an dan menjadi penuntut ilmu agama adalah bentuk pengharapannya pada Allah agar diberikan jodoh yang serupa. Sebab Allah sendiri yang menjanjikan bahwa laki-laki yang baik adalah untuk perempuan yang baik sebaliknya perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik pula. Adapun laki-laki yang munafik adalah untuk perempuan yang munafik begitu pun perempuan yang munafik adalah untuk laki-laki munafik pula.

Ya, jodoh kita adalah yang kita upayakan. Jika kita bersungguh-sungguh menjadi baik karena-Nya, Allah pun akan mendatangkang pasangan yang baik dalam hidup kita. Sebaliknya, jika kita berpura-pura baik hanya kerena mengharap dapat jodoh yang baik, bukan semata-mata karena Allah ta'ala maka boleh jadi Dia akan menghadirkan jodoh yang juga berpura-pura baik untuk kita.

Lantas bagaimana dengan laki-laki yang buruk perangainya namun ternyata berjodoh dengan perempuan yang cantik akhlaknya begitupula sebaliknya? Atau apakah jika diri kita baik, kita sudah pasti dipertemukan dengan jodoh yang baik atau sebaliknya jika kita buruk maka kita akan dipertemukan pula dengan jodoh yang buruk? Apakah rumusnya selalu seperti itu? Jika iya, pertanyaan yang muncul kemudian; mengapa seorang Asiah, salah satu wanita terbaik yang telah dijamin surga bersuamikan Firaun yang lancang mengaku dirinya Tuhan, atau bagaimana dengan Nabi Nuh dan nabi Luth yang keduanya beristri durhaka? Bukankanh keimanan ketiganya, Asiah, nabi Nuh dan Nabi Luth tak diragukan. Mereka termasuk hamba yang shalih dan shalihah lantas mengapa Allah menakdirkan mereka memiliki pasangan yang kufur lagi kafir?

Wallaahu a'lama bisshawab. Janji Allah adalah pasti. Dia tidak pernah menyalahi janji-Nya. Cukuplah kita yakini; pasangan hidup kita kelak adalah cerminan diri kita. Kalau pun di kemudian hari kita malah berjodoh dengan pasangan yang pribadinya berbanding terbalik dengan diri kita, bukan berarti ada yang salah dengan janji Allah. Kita-lah yang perlu mengoreksi diri.  Jangan sampai timbul ujub dalam dada, sampai-sampai menganggap diri kita baik lalu merendahkan pasangan kita. Kita mengaku diri shalih/ah lantas mencap pasangan kita buruk. Padahal kita hanya belum tahu kebaikan apa yang tersembunyi di balik kekurangan pasangan kita. Atau boleh jadi Allah sengaja menjodohkan kita dengan pasangan yang buruk perangainya dengan maksud tertentu. Boleh jadi Allah menghadirkan jodoh itu sebagai ujian yang dapat mengangkat derajat keimanan kita atau dengan menjadikan kita sebagai perantara yang dapat menghantarkan jodoh kita menggapai hidayah-Nya. Ya, boleh jadi demikian, kan? Lagipula; kita nggak pernah tahu akhir hidup seseorang seperti apa termasuk akhir hidup kita sendiri. Khusnul, kah? su'ul, kah? surga atau neraka? Wallaahu a'lam.

So, kita nggak bisa asal menjudge seseorang apalagi pasangan kita sendiri hanya dengan menilai masa lalu atau masa sekarangnya yang buruk, karena boleh jadi di masa depan ia justru menjadi orang yang lebih mulia dari kita. Pasangan yang menjadi sebab dimasukkannya kita ke surga. Seseorang akan yang melindungi kita dan anak-anak dari siksaan api neraka. Olehnya, jika ternyata kita berjodoh dengan pasangan yang buruk akhlaknya jangan langsung mencap yang nggak-nggak, apalagi sampai berburuk sangka pada Allah. Tetap husnuzhon. Tetap memohon kebaikan untuk pasangan kita. Tetap ikhtiar, perlakukan pasangan kita dengan baik dan lemah lembut meski perlakuannya terhadap kita kasar.

Well, barangkali kita anggap sepele apa yang telah kita usahakan sejak sebelum hingga bertemu sang jodoh, tapi Allah tidak kok. Dia dengar doa-doa kita. Dia lihat kerja-kerja kita. Apa yang kita pinta? Apa yang kita usahakan selama ini pasti Allah penuhi. Mungkin memang tidak langsung diijabah-Nya. Tapi nanti. Pasti.

Atau bila kasusnya seperti Asiah yang bersuamikan Fir'aun laknatullaah atau nabi Nuh dan Nabi Luth yang istrinya durhaka maka saya tidak bisa memberi jawaban pasti namun saya ingin kalian bisa menemukan jawabannya sendiri dengan ikut mentadabburi tiga ayat terakhir di QS At-Tahrim dan membaca tulisan mbak Afifah Afrah tentang Perempuan Sempurna yang sengaja saya post di kamar kenangan ini.

Intinya sih, jika kita mendamba jodoh yang baik ya kita harus menjadi baik pula. Kalau pun nanti dapatnya jodoh yang nggak baik ya kita tetap harus menjadi baik. Karena apa? Karena Allah semata. Jangan sampai, karena dapetnya jodoh yang nggak baik, kita jadi berburuk sangka sama Allah, tidak terima, tidak bersyukur trus ujung-ujungnya justru kita yang terjerembat. Ikut-ikutan jadi pasangan yang nggak baik juga. Maka terbuktilah janji Allah, laki-laki yang nggak baik untuk perempuan yang nggak baik dan perempuan yang nggak baik untuk laki-laki yang nggak baik pula.

Beda halnya dengan kasus Asiah, Nabi Nuh dan Nabi Luth yang meski ditakdirkan hidup dengan pasangan yang pembangkang, mereka tetap taat pada Tuhan-Nya. Tidak terpengaruh sama sekali dengan keburukan pasangannya. Maka, kelak mereka pun akan dipertemukan dengan jodoh yang baik dan taat di surga. Sungguh, janji Allah itu pasti.

Oh ya, mungkin, kita mengira pasangan yang duduk di pelaminan dengan kita adalah jodoh. Padahal jodoh yang sebenarnya adalah yang tidak pernah berpisah dengan kita. Baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia bersama menapak di jalan kebaikan, di akhirat pun melangkah beriringan ke surga berdua. Tapi meski di dunia bersama, kalau di akhiratnya berpisah ya sama saja bukan jodoh. Lebih-lebih yang di dunia udah memilih berpisah padahal baru menikah sekian bulan. Yang kayak gitu mah namanya bukan jodoh eh atau bolehlah dibilang jodoh tapi jodoh sementara bukan jodoh selamanya. Yang namanya jodoh selamanya itu ya yang sehidup sesurga dengan kita. In syaa Allaah.

Sampai di sini, semoga kita sudah benar-benar paham dengan kriteria jodoh impian yang seharusnya kita jemput. Pilihannya hanya ada dua. Jodoh sementara ataukah jodoh selamanya? Jika sudah paham dengan konsepnya, kita pasti memilih pilihan yang kedua (jodoh selamanya) sehingga kriteria jodoh yang kita impikan pun sesuai dengan kriteria jodoh selamanya.


  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.