Jatuh Cinta Kepada Jodoh Saja

by - Thursday, September 19, 2019


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Topik tentang jodoh selalu menjadi hal yang menarik untuk diperbincangkan. Terutama di kalangan muda-mudi yang telah memasuki umur 'siap nikah'. Pastinya di umur segitu kita sudah mulai memikirkan bagaimana dan dengan siapa kita akan mengarungi hidup di masa depan.

Banyak yang kemudian lebih memilih menjalin hubungan lebih dulu dengan dalih agar bisa mengenal lebih jauh pasangannya sebelum memutuskan melangkah ke pintu gerbang pernikahan. Namun tidak sedikit pula yang bertahan sebagai jomblofisabillaah or singlelillaah dan memilih menjemput jodohnya melalui proses taaruf even dengan seseorang yang belum pernah ia temui sebelumya.


Meski demikian, pilihan untuk jadi jomblofisabillaah or singlelillaah juga bukan perkara yang ringan lho. Godaaannya banyak bo' . Ah, saya jadi terngiang dengan masa-masa itu. Memang berat sih but daripada harus menanggung rasa kecewa yang berat lantaran telanjur jatuh cinta pada sosok yang bukan jodoh lebih baik kita jatuh cinta kepada jodoh saja.

Nah, Kepada Jodoh Saja inilah yang jadi tema Kajian Terasyik (KaTrik) bulan April lalu. Oya, yang belum tahu apa itu KaTrik, ini semacam kajian online. Sudah pernah saya jelaskan juga di Kamar Kenangan ini. Memang sih nggak semua tema yang pernah dibahas di KaTrik saya angkat jadi postingan blog. 

Sejauh ini malah baru dua tema Katrik yang baru sempat saya ulas, pertama meteri yang dibawakan oleh Kak Avry tentang makna silaturahmi, dan kedua yah tentang jodoh ini yang materinya dibawakan oleh Mbak Siti Juleha.


Sekilas tentang Mbak Siti Juleha, saya memang belum pernah bertemu orangnya secara langsung, selama ini kenal baru sebatas layar, tapi sudah merasa dekat begitu saja. Sampai-sampai saat hendak taaruf dengan sang jodoh, saya sempat dilanda dilema plus galau, trus bukannya curhat sama orang dekat atau murabbiyah, saya malah curhatnya ke beliau. 

Begitupula ketika Mbak Juleha hendak ta'aruf dengan seorang ikhwa Serui, beliau minta pendapatnya ke saya. Segitu saling percayanya kami padahal bersua wajah dan suara saja belum. Bahkan kami saling mendoakan agar sama-sama diberi jodoh yang terbaik. 



Qadarullaah, proses taaruf kami masing-masing berjalan lancar hingga ke pelaminan. Hanya saja ketika mbak Juleha hijrah ikut suaminya ke Serui eh malah saya yang sudah keburu duluan hijrah ikut suami ke luar kota Serui. Sayang sekali karena  sampai saat ini kami belum ditakdirkan bertemu secara nyata tapi tak apalah. Semoga suatu hari nanti Allah beri saya kesempatan bertemu beliau di Serui. Aamiin yaa Rabb.

Jatuh Cintalah Kepada Jodoh Saja


Baiklah materi tentang jodoh ini memang tepat sekali dibawakan oleh Mbak Siti Juleha yang sudah cukup berpengalaman. Setidaknya pengalaman beliau yang pernah gagal sekali dalam berumah tangga bisa jadi pelajaran yang sangat berharga. Bahwa pernikahan bukan hanya tentang memelihara rasa, namun ada visi misi yang harus diperjuangkan. Kalau visi dan misi dalam membangun rumah tangga tak lagi sejalan untuk apa dipertahankan?

Bukankah tujuan kita menikah bukan semata-mata untuk bahagia, melainkan menjadikan ibadah sebagai yang  utama. Bukankah pernikahan yang kita damba-dambakan adalah pernikahan yang penuh dengan barokah, yang diridhoi Allah ta'ala. Bukankah kita menikah untuk sama-sama mencapai sakinah, mawaddah dan rahmah. Menjadi pasangan yang dapat menciptakan keharmonisan dalam berumah tangga sehingga rumah yang dihuni bersama laksana surga "baitii jannati" . Namun bila semua itu tidak kita didapatkan setelah hidup menggenap, apa artinya sebuah pernikahan?

Nyatanya pernikahan memang bukan hanya perkara yang indah-indah. Bukan hanya soal rasa semata. Ada banyak badai yang sewaktu-waktu menerjang. Ada banyak aral melintang di depan sana. Oleh sebab itu, untuk membangun rumah tangga kita butuh pondasi yang kuat. Jika tidak, tentu saja rumah tangga kita akan mudah diterjang badai. Pondasi yang kuat tersebut jelas sudah harus kita bangun sejak mulai memikirkan jodoh dan mengikhtiarkannya.

Nah, lewat materinya ini Mbak Siti menyampaikan bagaimana seharusnya ikhtiar kita dalam menjemput jodoh, mengapa kita harus jatuh cinta kepada jodoh saja dan kepada siapa sebenarnya cinta kita dilabuhkan? Yuk, kita simak materinya.

Adalah wajar jika kita mulai memikirkan pendamping hidup, apalagi ketika umur sudah memasuki angka seperempat abad ke atas. Terlebih di berbagai penjuru mulai bertebaran kabar sejawat yang melepas masa lajangnya. Alih-alih mulai melirik sana-sini dan menebak-nebak siapa kira-kira jodoh kita tanpa kejelasan, lebih baik memantapkan hati dulu untuk jatuh cinta kepada jodoh saja. 

Lho, kan jodohnya juga belum tau siapa? Gimana jatuh cinta?

Nah, itulah poinnya. Tentu kita tidak mau ambil risiko untuk kecewa karena berharap, bukan? Maka jatuh cintalah pada jodoh saja. Artinya, siapapun yang hadir hari ini di hadapan kita, siapapun yang melintasi pikiran kita, ingat bahwa kita sudah jatuh cinta. 

Selama akad belum terucap, artinya siapapun itu, ia bukan jodoh kita dan kita tidak sedang jatuh cinta padanya. Kita justru telah jatuh cinta lebih dulu kepada sang jodoh. Jodoh yang dimaksud di sini adalah seseorang yang telah mengikrarkan diri untuk membersamai kita melalui akad.

Kepada jodoh saja.

Prinsip ini akan memudahkan kita untuk menjalani setiap proses agar selalu mengembalikan sesuatu pada Allah. Jika akhirnya menikah, berarti jodoh. Jika tidak, berarti bukan jodoh. Sederhana. Jadi tidak perlu ada kisah haru biru antara kita dengan seseorang yang bukan jodoh kita. Tidak ada kamus gagal move on bagi kita yang memahami dan menerapkan prinsip ini. Percayalah.

Kepada jodoh saja.

Mereka yang telah melalui proses khitbah pun nyatanya belum tentu jodoh. Khitbah atau lamaran sama sekali tidak memberikan ikatan apapun pada keduanya. Apalagi bagi yang belum melalui proses khitbah sama sekali. 

Artinya apa? Kita yang harus pandai-pandai mengatur hati. Syaitan lembut sekali godaannya. Kalaupun kita hendak menyebut nama seseorang dalam doa, tidak salah. Itu bukan hal yang buruk, in syaAllah. Tapi bawalah namanya dalam doa kita secara netral. Sebagai saudara seiman ya (bukan sebagai calon (?)  jodoh. Ingat, jodoh itu rahasia Allah). Bukan apa-apa, ini hanya upaya untuk menjaga hati kita. Bagi Allah, tidak disebut namanya pun, Dia pasti tahu. 

Baca juga Ikhtiar Menjemput Jodoh

Jika kita bisa mendoakan orang lain, kenapa tidak untuk mendoakan jodoh kita juga. Meskipun kita belum tahu siapa ia, tenang saja. Karena tujuan doa adalah Allah. Dan bagi Allah, jangankan jodoh. Anak-anak kita kelak pun Dia sudah tahu. Kalau perlu titip salam pada Allah untuk menyampaikan pesan kita pada sang jodoh, betapa kita mencintainya. Sah-sah saja, kan? :)

Kepada jodoh saja.

Jodoh adalah sesuatu yang perlu diikhtiarkan. Itu jelas. Tapi ingat bahwa bentuk ikhtiar menemukannya bukan dengan jatuh cinta pada yang bukan jodoh. Jatuh cinta seharusnya merupakan  ikhtiar kita dalam membersamai sang jodoh kelak untuk mendapat ridha-Nya. Ikhtiarkan ia dengan logika dan munajat cinta pada Yang Maha Pencipta. 

Kepada jodoh saja.

Menyematkan cinta kepada jodoh saja, adalah hal yang lebih dalam maknanya dari sebatas penjagaan diri. Ialah pembuktian cinta kita pada Sang Khalik. Karena sejatinya, seorang hamba hanya patut jatuh cinta pada Rabb-nya. Adapun cinta-cinta lain yang bermunculan hanyalah hasil bias dari cinta yang hakiki tersebut. 

Jika pun akhirnya kita bertemu dengan seseorang yang telah membersamai kita melalui akad, ingat bahwa cinta yang kita miliki sama sekali tidak berhak untuk berlabuh kepadanya. Pelabuhan cinta kita hanya kepada Allah semata. Begitupula dengan pasangan kita. Tidak perlu khawatir akan rasa yang jadi hambar. Karena kecintaan padaNya akan dengan indah melahirkan sakinah mawaddah warahmah secara otomatis pada kita dan pasangan.

Kepada jodoh saja.

Jadi kalau saat ini kita 'terlanjur' mengakui bahwa kita tengah jatuh cinta pada seseorang yang tidak jelas adakah ia jodoh atau bukan, lebih baik benahi sekarang juga. Jatuh cintalah pada jodoh kita saja- terlepas apakah kita dengannya akan berjumpa di dunia atau di akhirat kelak. 

Terakhir, jatuh cinta pada jodoh akan memacu kita untuk lebih produktif dan berkarya. Ada begitu banyak ilmu yang belum kita pelajari, ada begitu banyak ranah yang bisa kita tebari manfaat. Daripada meluangkan waktu untuk jatuh cinta pada orang lain yang belum tentu Allah ridha, lebih baik memantapkan hati dan mengoptimalkan potensi untuk semesta, kan?

Maka kepada jodoh Kita, selamat jatuh cinta! :)

*SJ*

Questions & Answer Seputar Jodoh



Q : Jodoh itu pilihan atau takdir ?

A : Jodoh itu bisa jadi pilihan yang menjadi takdir bagi kita. Jika kita bergaul dengan orang-orang buruk kemungkinan besar takdir jodoh yang menghampiri adalah orang yang buruk pula. Sebaliknya, jika kita bergaul dengan orang-orang baik dan selalu berusaha berbenah, memperbaiki diri menjadi lebih baik maka in syaa Allah jodoh yang akan menjadi takdir kita juga adalah orang yang baik. Kenapa demikian? Karena dibalik takdir yang akan menghampiri pasti ada ikhtiar yang telah dilakukan. Yakin saja, tidak ada usaha yang sia-sia sebagaimana hasil tidak akan menghianati proses. 

Q :  Persoalan jodoh itu kan hanya Allah yang mengetahui. Bagaimana bila kita sering bertemu dengan seseorang tanpa sengaja lalu kemudian berakhir dengan perasaan suka meski tidak diungkapkan sama sekali.  

Karena takut perasaan tersebut menjadi fitnah, maka shalat istikharah menjadi solusi.  Tetapi setelah shalat pun orang tersebut masih sering hadir di pikiran bahkan dalam mimpi, selain sering dipertemukan dengan cara tidak sengaja.

Pertanyaannya, apakah pertemuan-pertemuan yang tidak disengaja atau sering bermimpi tentang sosok yang sama itu merupakan petunjuk dari Allah bahwa dia adalah jodoh kita atau hanya muslihat syaitan saja yang ingin menjebak kita?

A :  Yang namanya rasa suka, cinta atau apa pun itu istilahnya, yang membuat kita ingin selalu ketemu, memikirkan bahkan sosoknya terus menerus hadir dalam pikiran kita bisa jadi adalah bentuk dari tipu muslihatnya syaitan agar kita terjerumus pada rasa yang seharusnya hanya boleh hadir saat kita sudah dihalalkan oleh seseorang.

Jadi jawabannya sebenarnya simple saja, jika muncul hal-hal seperti itu sebelum terjadi aqad, atau sebelum menjadi pasangan halal kita, maka itu belum pasti jodoh. 

Apakah itu merupakan tanda-tanda jodoh atau tidak, wallaahu a'lam yang penting kita jangan sampai membiarkan hati larut dalam prasangka. Sekali lagi ingat, konsekuensi yang harus kita terima bila sampai jatuh cinta sebelum akad adalah kekecewaan.

Jadi tetaplah bertahan dan buat komitmen dalam hati, Wahai hati. Jodohku adalah dia yg menghalalkanku dan membuatku jatuh cinta padanya karena Allah, setelah akad kami berlangsung.

Q : Berdasarkan materi yang disampaikan, bila ada rasa yang hadir sebelum akad maka kita harus curiga bahwa syaitanlah yang tengah meniup-niup rasa itu ke relung hati. Nah, bagaimana kalau misalnya kita memang tidak punya niat untuk jatuh cinta pada seseorang yang belum tentu jodoh kita. 

Namun tak dimungkiri setiap manusia terutama makhluk yang bernama perempuan pasti pernah mengagumi seseorang yang berujung pada rasa suka terhadap orang tersebut sekalipun kita menyadari bahwa ia belum tentu jodoh kita.

Pertanyaannya, apakah kita tidak boleh memiliki rasa suka terhadap seseorang? Apa perasaan tersebut juga termasuk godaan syaitan? Lantas bila ada akhwat yang berta'aruf dengan seorang ikhwan, apakah dalam proses tersebut rasa suka juga tidak boleh hadir?

: Sebagai manusia, sangat manusiawi sekali bila kita punya rasa suka terhadap lawan jenis. Itu normal, menandakan bahwa kita masih sehat. Tapi di sini kita diharapkan bisa bijak dalam menyikapi rasa yang timbul di hati.

Jangan sampai rasa itu bikin kita baper lantas kecewa lantaran orang yang kita kagumi bukanlah orang yang ditakdirkan Allah menjadi pasangan halal kita kelak. Jangan biarkan hati kita larut dalam rasa yang tak pasti. Hibur hati kita dan tanamkam persepsi bahwa kita hanya akan jatuh cinta  pada dia yang menghalalkan kita. Bukan dia yang selalu bikin kita baper.

Walaupun rasa itu selalu muncul, tetaplah bentengi hati  dengan keyakinan bahwa Allah telah mempersiapkan jodoh terbaik buat kita yang tentu jauh lebih baik dari siapapun yang bisanya cuma bikin kita baper tanpa berani menghalalkan.

Q : Benarkah jodoh adalah cerminan dari diri kita sendiri?

A : Jodoh adalah cerminan diri kita? Yup, itu benar sekali. Bukankah setiap laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik. Maka seperti apa jodoh kita, seperti itulah diri kita. Coba yang sudah punya pasangan, perhatikan sifat, kebiasaan dan bahkan sampai pada tingkat keimanan dan ibadah pasangan kita. Akan selalu ada kesamaan dengan diri kita, bukan?

Sejatinya dua insan berbeda yang dipertemukan dalam kehidupan rumah tangga memang akan memiliki kesamaan, walau awalnya berbeda. Baik dari sifat, kebiasaan, makanan kesukaan sampai pada tingkat iman dan ibadah. Tapi yang paling penting di sini adalah bagaimana cara kita membawa jodoh kita kepada kesamaan dalam hal kebaikan. 

Jarang sekali kita lihat jika seorang suami sholeh, istrinya tidak. Walaupun ada beberapa pasangan yang kalau kita lihat secara kasar mata sangat bertolak belakang. Tapi kalau diperhatikan secara cermat pasti memiliki kesamaan yang mungkin hanya mereka sendiri yang tahu.

Saat bercermin yang muncul memang adalah bayangan diri kita sendiri tapi ada satu hal yang sering kita lupakan. Bahwa bayangan diri kita yang muncul di cermin selalu melakukan hal yang terbalik. Misal, ketika kita mengangkat tangan kanan, maka tangan yang terangkat pada bayangan kita yang muncul di cermin adalah tangan kiri, begitupula sebaliknya. Jadi walaupun jodoh adalah cerminan diri, pasti ada beberapa hal yang berbeda. Tidak mutlak semua sama persis. 

Q : Selama ini pemahaman kita terutama bagi yang belum menikah, yang namanya jodoh itu seseorang yang menggenapi hidup kita. Tapi tak dipungkiri pada kenyatannya ada yang pernikahannya langgeng, ada pula yang pisah di tengah jalan. Ada yang menikah cuma sekali ada pula yang menikah lebih dari sekali. Nah, mungkin bisa dijelaskan kalau dalam kondisi demikian yang mana yang dimaksud dengan jodoh kita sebenarnya?

A : Seperti pembahasan dalam materi. Jodoh adalah sesiapa yang menjadi pasangan halal kita, yang memang benar-benar diridhoi oleh Allah. Sebagian dari kita mungkin awalnya ketika menikah tidak pernah bertanya kepada Yang Menyiapkan jodoh. Yang penting saling suka, saling cinta, pasti jodoh. 

Tapi ternyata tidak sesimpel itu. Jodoh yang sebenarnya adalah yang bisa menjadi pembimbing dan membersamai kita di dunia dan akhirat. Ketika seseorang menikah hanya atas dasar suka dan cinta di awalnya. Maka bukan menjadi jaminan untuk memastikan bahwa dialah jodoh kita. 

Jodoh adalah cerminan diri kita. Akan selamanya menjadi jodoh bila kita dan pasangan bisa tetap berada dalam satu visi dan misi yang sama. Namun bila visi dan misi dalam membina rumah tangga tak lagi sama maka tentu akan sulit bertahan. Nah, ketika sebuah rumah tangga berakhir dengan perceraian, berarti dia bukan jodoh kita. Sama seperti kita mencari sebuah tutup untuk panci. Kalau tidak cocok maka meski dipaksa pun hasilnya tetap tidak bisa menutupi panci itu dengan sempurna.

Itulah beberapa pertanyaan yang masuk pada kajian terasyik beberapa waktu lalu. Giliran masalah jodoh saja banyak yang antusias bertanya, hehe. Intinya, kalau bahas jodoh memang nggak ada habis-habisnya ya.

Selamat Jatuh Cinta, Kepada Jodoh Saja



Setiap kali kita menaruh harapan-harapan kepada seseorang baik besar maupun kecil, pada akhirnya kita tetap akan kecewa. Karena orang tersebut tidak akan bisa memenuhi apa yang kita harapkan darinya. Sebab apa? No body is perfect. Setiap orang pasti ada sisi baik dan buruknya, ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. 

Intinya, jika tak ingin kecewa, berharaplah hanya pada Allah semata. Karena Allah yang Maha Sempurna, senantiasa akan memenuhi semua harapan kita, apapun itu. Hanya saja terkadang kita yang tidak menyadarinya.

So, pesan Mbak Siti sebelum mengakhiri materinya, jika kita telah terlanjur menjalin hubungan tak halal dengan seseorang maka segeralah beristighfar, memohon ampunan Allah. Jangan lupa bicarakanlah baik-baik untuk mengakhiri hubungan tersebut. Buang jauh-jauh rasa yang semu itu. Biarkan rasa yang tumbuh di hati kita hanya rasa cinta yang tertuju pada sang jodoh karena Allah semata.

Percayalah, hubungan yang terjalin setelah akad itu jauh lebih nikmat ketimbang menjalin hubungan yang tak halal. 

Jadi selamat jatuh cinta kepada jodoh saja.

Salam,

@siskadwyta



You May Also Like

4 comments

  1. Jadi selamat jatuh cinta kepada jodoh saja.
    bagi yang sudah "terlanjur?"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagi yang sudah terlanjur

      jika kita telah terlanjur menjalin hubungan tak halal dengan seseorang maka segeralah beristighfar, memohon ampunan Allah. Jangan lupa bicarakanlah baik-baik untuk mengakhiri hubungan tersebut. Buang jauh-jauh rasa yang semu itu. Biarkan rasa yang tumbuh di hati kita hanya rasa cinta yang tertuju pada sang jodoh karena Allah semata.

      Itu pesan pematerinya. Sudah saya tuliskan juga di atas

      Delete
  2. Menarik sekali judulnya kak, pas baca isinya lebih menarik. Terimakasih Ka Siska untuk tulisannya yang sangat bermanfaat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillaah ya Mbak kalau materi yang saya sharing ini bisa bermanfaat😊

      Delete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.