Bismillaahirrahmaanirrahiim

Genap sebulan sudah saya mengikuti program ODOP selama bulan Oktober yang diadakan oleh Komunitas Blogger Muslimah. Artinya sudah sebulan juga saya bergabung di komunitas yang seluruh anggotanya merupakan blogger muslimah dari berbagai daerah di Indonesia.

Saya menerima tantangan ikut ODOP ini selang satu atau dua hari (hehe persisnya saya lupa) setelah di-approve di grup facebook oleh mbak Novia Syahidah Rais, founder Komunitas Blogger Muslimah. Karena yang masih terekam jelas dalam ingatan saya, tidak lama setelah bergabung di grup tersebut pendaftaran program ODOP bulan Oktober ini dibuka oleh PJ ODOP tepat tanggal 1 Oktober. Bukan sebuah kebetulan, momen yang tepat bagi saya yang baru bangun dari "tidur panjang" dari ngeblog, sehingga tanpa pikir panjang saya nekad saja menerima tantangan ikut ODOP. Pede banget ya saya😅.

Saya memang baru kembali ngeblog bulan September lalu setelah berbulan-bulan lamanya hiatus. Postingan saya sebelum ikut program ODOP malah cuma empat biji😂 tapi setelah berhasil ikut ODOP selama sebulan ini, maa syaa Allah, nggak nyangka banget. Melonjak drastis. Naik hampir tujuh kali lipat bo'.

Sekilas kesan saya tentang Komunitas Blogger Muslimah

Well, sebelum menceritakan pengalaman saya ikut tantangan program ODOP saya pengen bercerita dulu sedikit panjang lebar tentang keluarga baru saya di dunia blog. Yap, keluarga baru yang saya maksud adalah komunitas dimana saya baru bergabung sebulan ini. Komunitas Blogger Muslimah.

Perkenalan dan pertemuan saya dengan komunitas ini bukan terjadi secara kebetulan karena saya percaya di dunia ini nggak ada yang namanya kebetulan yang ada hanyalah kebenaran, hehe. Jadi ceritanya, akhir September lalu hasrat saya lagi menggebu-gebu, pengen ngeblog kembali. Etapi langkah pertama yang saya ambil bukannya rajin update tulisan di blog malah asyik blogwalking keliling dari satu blog ke blog yang lain sebatas mencari inspirasi dan ide menulis sekaligus pengen tahu perkembang dunia blog zaman now dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dan jujur saja, saya sempat kaget mendapati dunia blog mengalami banyak perubahan yang begitu pesat beberapa tahun terakhir ini tepatnya semenjak saya mulai menarik diri dari aktivitas ngeblog. Perbedaan yang paling jelas terasa ketika blog yang saya kunjungi rata-rata sudah menggunakan blog premium sementara saya masih menggunakan blog bawaan blogspot. Padahal dulu kayaknya rata-rata blogger masih menggunakan blog gratisan deh atau apa saya yang kudet.


Nah, ketika blogwalking itulah saya ketemu dengan banner Komunitas Blogger Muslimah terpajang di sidebar beberapa blog yang sempat saya kunjungi namun saat itu saya belum tertarik untuk mengenal lebih jauh komunitas ini. Ketika sementara berkunjung di wall grup komunitas lain barulah grup Blogger Muslimah ini juga ikut muncul, disarankan langsung oleh facebook, si facebook tahu saja kalau saya lagi butuh komunitas yang sesuai dengan style saya sebagai muslimah, hehe. Otomatis saya langsung klik permintaan join yang ternyata baru bisa diproses setelah mengisi formulir dengan beberapa option yang salah satunya meminta saya menerangkan alasan kenapa pengen bergabung di komunitas blogger muslimah.

Hmm, saya lupa apa persisnya jawaban saya ketika itu namun yang pasti karena saya adalah seorang muslimah dan saya juga seorang blogger sehingga saya merasa perlu bergabung di komunitas blogger yang mengkhususkan anggotanya adalah muslimah. Selain itu, sebagai blogger yang baru nongol kembali sepertinya saya butuh suasana dan lingkungan komunitas yang baru sehingga bergabung di komunitas blogger yang baru saya temui seperti Komunitas Blogger Muslimah bisa jadi alternatif yang tepat bagi saya.

Dan ta ra ra. Ternyata benar. Alhamdulillah saya sangat bersyukur ditakdirkan bisa bergabung di komunitas yang memiliki visi menjadi mesin penggerak para muslimah untuk aktif di media sosial (blog) ini. Baru sebulan saja saya sudah rasakan manfaat yang luar biasa. Selain produktif menulis karena ikut program ODOP, saya juga banyak dapat kenalan baru sesama blogger muslimah plus ilmu tentang blogging dan kemuslimahan

Sekilas Tentang Program ODOP

Komunitas yang satu ini memang lain daripada yang lain. Punya ciri khas tersendiri. Sesuailah dengan visinya, menjadi mesin penggerak para muslimah untuk aktif ngeblog sehingga program yang diadakan juga tak tanggung -tanggung. Benar-benar menggerakan. Salah satunya ya program yang saya ikuti ini. ODOP aka one day one post.

Waktu pertama kali baca kata ODOP pikiran saya spontan tertuju dengan kata ODOJ. Maklum kedua akronim tersebut hampir sama penyebutannya, yang membedakan cuma huruf terakhir. Ya, mungkin saja program ini terinspirasi dari ODOJ. Kalau ODOJ bertujuan agar kita bisa istiqomah baca Al-Qur'an, minimal sehari sejuz maka program ODOP ini bertujuan agar agar anggota blogger muslimah bisa konsisten menulis satu hari satu postingan.

Penanggung jawab program ODOP ini diamanahkan kepada mbak Anggarani Citra yang baru saya kenal setelah bergabung di komunitas blogger muslimah. Syarat untuk mengikuti program ini cukup simple. Diantaranya, kita harus pasang banner blog blogger muslimah dulu di sidebar kalau nggak ya nggak bisa ikut, postingan yang kita tulis tiap harinya harus dimasukkan dalam label khusus yang ditentukan PJ, jumlah karakter dalam satu postingan minimal 300 kata dan sebaiknya menambahkan kalimat postingan ini diikutkan dalam program ODOP Blogger Muslimah bla bla bla plus di-link-kan ke web blogger muslimah yang biasa saya tautkan di akhir catatan selama sebulan ini dan sebagai bonus keringanan, setiap peserta dibolehkan mengambil libur selama empat hari tanpa ditentukan waktunya. Artinya, maksimal ODOP yang dapat dicapai adalah sebanyak 30 postingan dan minimal 26 postingan.

Dan inilah postingan ODOP saya yang ke 26. Sengaja di postingan terakhir ini saya pengen bahas tantangan-tantangan apa saja yang saya lalui selama mengikuti ODOP bulan Oktober.

Kendala-kendala yang saya hadapi selama ikut ODOP

Awalnya saya mengira bisa dengan mudah menaklukkan tantangan ikut ODOP ini dengan mudah. Bahkan saya sudah optimis dan yakin bakal sanggup nge-ODOP tanpa ambil libur sehari pun. Tapi faktanya, ikut ODOP ternyata nggak semudah yang saya kira. Memang sih di awal, saya nulisnya masih mulus, nggak ada halangan toh kerjaan saya cuma di rumah sebagai istri rumah tangga tapi makin hari makin bermunculan kendala-kendala yang efeknya bikin saya nggak bisa menulis dan terpaksa harus mengambil libur.

#Ide menulis

Di hari pertama ikut ODOP, saya santai saja, nggak mikir soal ide karena temanya sudah ditentukan oleh PJ. Untuk ide menulis di hari kedua, saya sampai bolak-balik ngintip grup agar bisa segera dapat info terkait tema selanjutnya eh ternyata keesokkan harinya sebelum dibuka ODOP untuk hari kedua, saya baru tahu kalau tema untuk hari-hari lain ditentukan oleh peserta sendiri, kecuali di hari yang bertepatan dengan Hari blogger nasional, temanya ditentukan lagi oleh PJ.

Nah, mencari ide menulis ini yang sering bikin saya bingung dan kelabakan. Memang sih, ada banyak ide menulis yang berserakan di sekitar kita. Apa yang kita alami, apa yang kita rasakan, apa yang kita dengar, apa yang kita lihat, apa yang kita baca, semua bisa diangkat menjadi tulisan. Menuangkan ide ke dalam tulisan itu lho yang nggak mudah apalagi dalam jarak sehari. Di saat mesti fokus dengan tulisan hari kemarin, saya harus sibuk pula memikirkan ide yang bakal saya angkat sebagai postingan selanjurnya.

Besok nulis apa lagi ya? Tidak jarang saya juga ikut melibatkan suami untuk ikut mencari ide dan dan lumayan ide-ide yang dia usulkan cukup membantu kelancaran saya ikut ODOP.

#Waktu menulis

Meski kerjaan cuma di rumah bukan berarti saya bisa meluangkan semua waktu saya untuk menulis. Jujur saja, saya termasuk tipe yang membutuhkan waktu cukup lama dalam menulis. Biasanya postingan yang saya tulis bisa berlarut-larut baru selesai. Ya, karena saya juga bukan tipe yang suka nulis postingan yang pendek. Aslinya, postingan-postingan saya kebanyakan panjang panjang, bisa mencapai hingga seribuan kata. Jadi meski minimal tulisan yang diposting 300 kata saya tetap ngotot pengen nulis postingan melebihi 300 kata. Apalagi semejak kembali ngeblog saya sudah komit sama diri sendiri, harus memprioritaskan kualitas dari sebuah tulisan daripada kuantitasnya. Namun entahlah, apakah tulisan-tulisan yang saya posting selama sebulan ini masih berkualitas atau nggak?

Nah, ini jadi tantangan berat bagi saya, saya harus berusaha mengejar keduanya. Kualitas dan kuantitas. Well, ternyata ikut ODOP memang nggak ringan, hehe.

#Kondisi Saat Menulis

Ini kendala yang paling sering saya alami. Saya paling nggak bisa nulis di tempat ramai, termasuk bila cuma berdua dengan suami. Bawaannya saya memang suka nggak fokus nulis dalam keadaan berisik, ribut dan bla bla bla. So that, tempat terbaik bagi saya menulis adalah di kamar sendiri dalam keadaan hening, sunyi dan dan senyap. Kondisi idealnya sih seperti itu tapi kenyataan berkata lain. Selama sebulan ini, saya sering dihadapkan dengan keadaan tak terduga yang mengharuskan saya melakukan perjalanan ke luar kota dengan suami. Selain itu ada pula keadaan dimana tubuh saya drop sehingga bisanya cuma terbaring lemah, nggak bisa nulis.

Namun terlepas dari semua kendala itu, asal kita kuat memegang komitmen, kendala apa pun in syaa Allah bisa ditaklukkan. Semangat ODOP. Harapan saya mudah-mudahan bisa tetap istiqomah ngeblog walau program ODOP edisi bulan Oktober ini telah usai.

#ODOPOKT26

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah

Pixabay

Bismillahirrahmaanirrahiim

Kalimat tanya tanpa tanda tanya yang ada pada judul postingan saya kali ini bukan bermakna pertanyaan yang jawabannya adalah karena lalu diikuti sederet alasan, tetapi lebih bersifat anjuran, mengajak, merekomendasi yang bijaknya biasa diawali dengan kata-kata sebaiknya, seharusnya atau semestinya.

I know, tidak semua pengguna media sosial yang selanjutnya saya singkat medsos memiliki ketertarikan yang sama terhadap jenis medsos tertentu. Misal hampir sebagian besar pengguna media sosial memiliki akun facebook malah termasuk hal yang aneh atau tidak lazim bila masih ada orang di era milenial ini yang belum punya akun facebook. Terutama yang tingal di kota-kota besar. Orang yang demikian bisa dicap gaptek dan kejam (baca ; ketinggalan jaman). Kecuali orang-orang yang tinggal di pedalaman atau di daerah-daerah pelosok dan terpencil. Memang wajar sih. Jangankan punya akun facebook, wong pegang gadget saja mereka belum pernah.

Sedangkan untuk jenis medsos tertentu seperti blog ternyata belum diminati pengguna medsos secara keseluruhan layaknya minat mereka terhadap facebook sehingga bukanlah hal yang aneh dan termasuk lazim bila di jaman now masih banyak yang tidak memiliki akun blog. Boleh dikata rata-rata semua blogger punya akun facebook tapi tidak semua facebooker (pengguna facebook, red) memiliki akun di blog.

Well, saya mengambil kesimpulan tersebut berdasarkan jumlah pertemanan saya di facebook yang kebanyakan memang didominasi oleh facebooker yang juga berstatus blogger. Dan hanya segelintir yang bersatus facebooker sekaligus blogger, itu pun saya baru menjalin pertemanan dengan mereka di facebook setelah bergabung di beberapa komunitas blogger. Segelintir bukan berarti tak banyak. Entahlah saya tidak bisa memastikan jumlah blogger di Indonesia mencapai angka berapa (nggak sempat nanya eyang google) mungkin ada sekitar puluhan ribu atau jutaan namun yang pasti urutannya berada di bawah pengguna facebook atau pengguna media sosial lainnya seperti twitter, instagram, dll.

Namun tidak menutup kemungkinan sih ke depannya pengguna blog bakal melonjak atau bisa sampai menyaingi atau melampaui pengguna facebook mengingat perkembangan blog yang kian ke sini kian dilirik sebagai salah satu job yang bisa menghasilkan uang. Terbukti, sudah banyak blogger yang sukses mengumpulkan pundi-pundi rupiah bahkan dollar dari aktivitas ngeblog. Banyak pula emak-emak yang beralih profesi dari wanita karir menjadi IRT yang kemudian melirik dan menjadikan blogger sebagai aktivitas rumahan yang lumayan menambah penghasilan, dan tentu saja masih banyak manfaat blog lainnya yang bisa kita dapatkan dari ngeblog.

Baca juga Jadilah Muslimah yang Menginspiratif

Namun sebelum membahas manfaat ngeblog saya pengen fokus dulu ke pembahasan terkait menulis. Ya, sebenarnya kita bisa saja menulis di media mana pun. Di buku catatan, di diary pribadi mau pun media cetak seperti koran, surat kabar atau majalah (dengan mengirim karya tulis kita). Banyaklah wadah yang menunjang aktivitas kita untuk menulis.

Bila menengok ke jaman dulu, saat dunia belum secanggih sekarang, orang-orang menulis dengan menggunakan pena, kemudian muncul mesin ketik diikuti dengan komputer dan selanjutnya lahir inovasi baru berupa laptop hingga gadget berupa smartphone mau pun iphone yang semua itu sungguh sangat memudahkan kita dalam menulis. Lebih-lebih di jaman now, aktivitas menulis semakin ditunjang dengan hadirnya berbagai media sosial yang membuka ruang menulis sebebas-bebasnya secara online dan memungkinkan tulisan kita dibaca oleh banyak orang. 

Di facebook kita bisa menulis di kolom status atau memuat tulisan di fitur catatan yang jumlah karakternya tak terlalu dibatasi, di Twitter kita bisa mengupdate tulisan singkat, padat dan jelas, atau membuat tulisan panjang yang bersambung berdasarkan batasan jumlah karakter per tweetnya atau kita bisa menulis caption yang mendukung gambar yang kita unggah di instagram namun dengan karakter terbatas, begitu pun dengan media sosial lainnya yang semuanya memfasilitasi kita untuk menulis. Bahkan kita bisa menulis dan menyebarkan tulisan-tulisan kita via applikasi chatting seperti WhatsApp, Line Chat, Facebook Messenger, Telegram mau pun BBM.

Tapi kalau boleh saya sarankan, sebaiknya, seharusnya dan semestinya menulislah di blog atau kalau meminjam kata bunda HTV, Menulislah (di blog) dan Bercahayalah!

Barangkali banyak pengguna media sosial lainnya yang tidak berani mengambil langkah untuk membuat akun di blog karena beranggapan blog adalah media sosial yang cocok bagi para penulis atau orang-orang yang hobi dan bakatnya adalah menulis.

Anggapan tersebut jelas keliru. Sebenarnya siapa saja bisa jadi blogger asal ada niat dan mau usaha. Toh, mereka biasa menulis di facebook, di instagram, di twitter, di applikasi chat, dan secara otomatis mereka juga bisa kok menulis di blog namun nyatanya banyak yang enggan. Alasannya tidak bisa (karena tidak mau) atau tidak pintar (karena ogah berusaha). Doyannya hanya menulis status gaje di facebook atau asal ikut-ikutan men-share tulisan-tulisan gaje alias hoax yang beredar bebas di lini masa. Kenapa nggak berinisiatif untuk ambil bagian dan belajar menulis tulisan yang baik, yang bermanfaat, yang menginspirasi. Kenapa sukanya cuma copas postingan-postingan orang lain yang bila bagus asal comot saja sampai lupa mencantum sumber. Kenapa hanya suka berkomentar dan ikut debat tanpa ada keinginan untuk menuliskan opini kita sendiri secara bijak.

Trus kok malah saya yang kesannya sewot ya, hehe. Mereka mau jadi blogger atau tidak ya terserah mereka. Hidup-hidup mereka. Sebagaimana hidup adalah pilihan. Menjadi blogger pun adalah pilihan. Dan hanya orang-orang terpilihlah (yang memilih menjadi blogger) yang bisa merasakan besar manfaatnya ngeblog.

Nah, karena saya termasuk orang yang terpilih eh maksud saya salah satu pengguna medsos yang selain memiliki akun di banyak medsos lainnya juga berani memilih menjadi blogger sehingga saya merasa perlu berbagi manfaat-manfaat yang sudah dan akan saya rasakan dengan menjadi blogger

1. Ngeblog bernilai ibadah

In syaa Allah jika niat ngeblog kita murni lillaahi ta'ala bukan semata-mata karena ingin menyalurkan hobi, ngincar hadiah atau ingin dapet pujian dari orang lain, maka aktivitas kita ini bakal dinilai ibadah oleh Allah. Asalkan ya asal postingan yang kita tulis tidak keluar dari koridor agama, mengandung kebaikan, bermanfaat dan kalau bisa menginspirasi orang lain. Syarat suatu amalan dinilai ibadah kan cuma dua. Niat ikhlas dan tidak menyimpang dari perintah Allah dan Rasul-Nya. Jangan menganggap yang namanya ibadah cuma shalat, puasa, ngaji, bersedekah, dll. Ngeblog pun bisa jadi ibadah. Besar banget kan manfaatnya?Langsung dapat pahala dari Allah. Aamiin.

2.  Berdakwah lewat blog, why not?

Jadi selain niat yang harus diluruskan, postingan yang kita tulis dan publish ke blog juga harus benar, mengajak pada kebaikan bukan pada kemaksiatan. Jangan menganggap sempit makna dakwah ya apalagi sampai berpikiran yang boleh berdakwah hanya kiayi, ustad/zah atau para da'i da'iyah saja karena sebenarnya setiap muslim muslimah dibebankan untuk mengemban amanah ini. Sabda Rasul "Sampaikanlah walau hanya seayat" dan dalam firman Allah yang tertuang di surah Al-Ashr, kita dianjurkan untuk saling nasihat menasihati dalam hal kebenaran dan kesabaran.

Dakwah juga tidak melulu dengan ucapan. Dengan tulisan pun jadi. Apalagi di era medsos, dimana para generasi milenial kebanyakan lebih sering eksis di dunia maya ketimbang dunia nyata dan karena medsos berkaitan erat dengan tulisan sehingga berdakwah lewat tulisan bisa jadi ladang dakwah bagi kita. Minimal ada kebaikan yang selalu kita selipkan saat memosting status, update tweet atau ungguh foto beserta caption di instagram. Percaya nggak percaya, sudah banyak lho orang yang hijrah karena terinspirasi dari postingan-postingan berpesan dakwah yang beredar di medsos.

Sekarang ini lagi gencar-gencarnya dakwah disalurkan via instagram, di facebook, di twitter, whatsapp hingga telegram. Orang-orang semua berlomba-lomba dalam kebaikan. Apa kita nggak tertarik ikut ambil bagian? Sebagai blogger kita juga bisa kok ikut andil dengan berdakwah lewat postingan-postingan kita di blog. Yuk, pahalanya juga tak kalah besar lho!

3. Dari ngeblog kita bisa jadi penulis buku

Banyak pula yang sudah membuktikan manfaat yang satu ini. Berawal dari ngeblog akhirnya punya banyak karya. Berawal dari ngeblog akhirnya jadi penulis buku best seller. Berawal dari blog akhirnya jadi penulis beneran. Bahkan yang sudah jadi penulis besar pun memilih menjadi blogger. 

Tapi bukan itu intinya. Entah kita punya impian menjadi penulis  buku atau tidak tetaplah menulis. Sebab menulis bukan soal bakat tapi latihan. Ada yang mengatakan menulis itu 1% bakat 99% latihan. Jadi, meski kita sama sekali nggak punya bakat menulis no problem. Saya juga nggak punya bakat menulis kok. Cuma modal minat dan latihan doang. Mulanya juga tulisan saya nggak bagus, alay banget, dibaca bukannya adem tapi bikin mata sakit plus kepala pusing. Tapi karena nggak patah semangat untuk menulis, menulis dan menulis, terutama semenjak punya blog tulisan saya jadi ngalir dan mulai tebentuk sendiri. Yup, selama ini blog saya jadikan sebagai ajang latihan saya untuk menulis dan manfaatnya. See! Tulisan saya nggak alay (lagi) kan? Saya nggak bilang lho tulisan saya sekarang sudah bagus tapi lumayanlah dibanding tulisan-tulisan saya di jaman jahiliyah. 

4. Dengan blog kita bisa ketiban banyak rejeki

Lebih-lebih manfaat yang satu ini. Sudah dirasakan oleh para blogger yang telah menjadikan blog sebagai job sampingan bahkan seperti yang sudah saya singgung di atas banyak wanita karir jaman now yang memutuskan resign dari pekerjaannya di luar rumah lalu memilih menjadi blogger sebagai aktivitas yang menunjuang pekerjaannya di rumah. 

Yup, tidak sedikit perusaahan atau brand yang menawarkan kerja sama dengan para blogger. Bahkan rata-rata lomba berhadiah jutaan rupiah, gadget mahal atau tiket travelling di dalam hingga luar negeri beserta penginapan di hotel berbintang gratis ditujukan hanya bagi para blogger. Duh, siapa yang nggak tergiur?

Tapi tetap ingat ya jangan ngeblog hanya karena ngejar hadiah, niat pertama yang harus diluruskan. In syaa Allah yang lainnya bakal ngikut. Termasuk rejeki yang datang dari ngeblog.

Saya sendiri meski belum pernah dapat rejeki berupa tawaran kerja sama atau menang lomba blog tapi alhamdulillaah waktu masih eksis ngeblog dulu sering ketiban rejeki menang GA yang hadiahnya lumayan.  Namun karena sempat lama hiatus dari dunia blog saya jadi ketinggalan banyak info dan berasa seperti newbie yang mulai merintis blog dari awal lagi, huhu. But whateverlah, yang namanya rejeki kita nggak bakal lari ke orang lain. Jangan dulu berpikir mau memonetisasi blog kalau kualitas, traffik dan rate blog kita masih kurang, tetap semangat saja ngeblognya.

5. Indahnya Ukhuwah sesama blogger

Manfaat yang satu ini juga berasa banget setelah saya menjadi blogger dan bergabung di beberapa komunitas blogger. Saya jadi mengenal banyak orang yang punya hobi dan passion yang sama dengan saya. Jadi lingkaran pertemanan saya nggak yang itu-itu saja. Efek dari ngeblog juga nggak hanya bikin saya terbang keliling indonesia tapi juga keliling dunia karena seringnya saya berkunjung ke blog yang pemiliknya berasal dari berbagai macam daerah di Indonesia bahkan ada pula yang tinggal di luar negeri.

Plusnya lagi bila kita gabung di komunitas sesama blogger, kita bakal punya banyak saudara baru yang walau jauh di mata tapi dekat di layar. Bahkan bukan hal yang aneh bila kita bisa mengenal saudara sesama blogger nun jauh di sana yang belum pernah bersua muka dengan kita lebih detail ketimbang saudara-saudara yang dekat di mata. Pasalnya, para blogger itu suka banget menuangkan kisah hidup dan pengalaman pribadi ke blog personalnya otomatis jika kita membacanya seolah-olah kita yang menyaksikan, kita yang merasakan, padahal kita nggak bersama mereka lho. Tapi kalau sama saudara yang bukan sesama blogger, hmm gimana bisa kenal lebih dalem bila kisahnya disimpan sendiri, berbagi cerita sama kita pun tidak. Apalagi, biasanya nih yang lebih membekas dalam ingatan itu tulisan ketimbang ucapan. Kalau sebatas ucapan, bila lupa susah diingat kembali tapi kalau tulisan, lupa bisa tengok kembali.

Nah, ini juga enaknya kalau kita punya saudara yang sesama blogger, jadi lebih nyambung ngobrolnya, mudah akrab juga karena sama-sama punya hobi dan passion  yang sama sehingga bisa saling mengingatkan, mendukung dan memotivasi dalam ngeblog. Oleh sebab itu kalau punya blog sebaiknya jangan ngeblog sendiri. Bergabunglah dalam komunitas. Banyak kok komunitas blogger di Indonesia. Dan ini beberapa komunitas blogger yang saya masuki. Blogger Energy, Kumpulan Emak-Emak Blogger, Warung Blogger, Blogger Muslimah, dan Blogger Perempuan Network. Selain kelima komunitas tersebut, di luar maya sana masih banyak komunitas blogger lainnya.

6. Kenangan apa pun akan abadi di blog

And the last but not least, abadikan hidupmu dengan tulisan. Sebenarnya ada banyak media yang bisa kita jadikan sebagai tempat menyimpan tulisan (sudah saya singgung di atas) tapi sejauh ini media yang paling bagus untuk menyimpan kenangan adalah blog, oleh karena itu blog ini saya namakan kamar kenangan, hehe. Kenapa kenangan, ya karena tulisan apa pun yang saya torehkan di kamar ini bakal jadi kenangan. Kenangan yang akan tetap hidup walau pemiliknya kelak tiada. 

Jadi sayang banget kan bila selama hidup kita nggak meninggalkan jejak kenangan apa pun. Memang sih di facebook juga ada notif khusus yang bakal mengingatkan kita akan kenangan-kenangan yang pernah kita abadikan di sana, namun menurut saya kenangan yang diabadikan di blog jauh lebih rapi, lebih indah, tidak monoton dan lebih mudah untuk dicari. Nggak perlu diubek-ubek dan bakal tenggelam karena postingan-postingan yang lain. Tinggal buka arsip atau label, pilih tahun atau bulan yang dicari, ketemu, selesai. Nah, kalau facebook atau medsos lainnya? Hmm, saya bukannya mau membanding-bandingkan ya tapi memang sedikit agak ribet sih.

Selain enam manfaat ngeblog yang saya paparkan di atas masih banyak lagi manfaat lainnya yang bisa kalian rasakan hanya ketika kalian memilih menjadi blogger. So, tunggu apa lagi. Yuk, menulis di blog. Dan bagi reader yang  telah aktif menulis di blog boleh dong share manfaat yang kalian rasakan di kolom komentar :)

#ODOPOKT25

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia
pixabay

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Mimpi. Saya merasa tiga tahun belakangan ini, tepatnya semenjak memutuskan kembali ke rumah orang tua di penghujung duaribuempatbelas silam semua yang saya alami seperti mimpi. Dan memang seperti itulah mimpi yang saya tautkan dalam hati. Allaah yang mewujudkannya. Menjadikan mimpi saya bukan sebatas khayalan semata. Ia menjelma nyata, beriringan dengan jalan hidup yang saya pilih.

Keputusan memilih kembali ke rumah orang tua selepas wisuda juga sebenarnya bukan pilihan mudah semudah mengedipkan mata. Jujur saja, setelah berhasil mengenakan toga saya justru dilanda galau yang hebat. Berupa-rupa emosi negatif berhasil menghantui. Bingung. Takut. Cemas. Kalut. Panik. Entahlah, saya benar-benar tak tahu harus kemana melangkahkan kaki setelah pensiun berstatus sebagai mahasiswi. Berhari-hari saya larut memikirkan jawabannya. Lanjut kuliah ke jenjang yang lebih tinggi atau fokus meniti karir seharusnya bisa menjadi pilihan terbaik.

Anehnya, saya malah menemukan pilihan yang lain. Padahal saya telah mengantongi 'tiket' untuk mendaftar pascasarjana S2 atau melamar pekerjaan sebagai guru honorer di sekolah-sekolah sembari menunggu pendaftaran CPNS kembali terbuka. But, salah satu atau salah duanya dari kedua pilihan tersebut sama sekali tidak menarik hati saya. 

IRT. 

Itu pilihan lain yang tidak pernah terlintas dalam benak saya akan menjadi mimpi atau sebut saja cita-cita. Sejauh ini cita-cita saya memang kerap berubah. Semasa kanak-kanak saya pernah bercita-cita menjadi dokter namun cuma bertahan hingga menginjak usia remaja. Dengan penuh kesadaran harus saya akui, saya tidak lagi bercita-cita ingin menjadi dokter setelah berkali-kali isi perut saya serasa dikoyak-koyak lalu terdesak keluar setiap melihat darah merah yang bercucuran dari tubuh orang lain. Barangkali bila sanggup melihat 'darah' saya akan bersungguh-sungguh menggapai cita-cita saya itu. Lagipula saya berhenti bercita-cita menjadi dokter bukan karena tidak bisa lho. Bisa sih tapi ya bagaimana mau jadi dokter, lihat darah saja, mual-muntah, menatap luka menganga, ngeri. Masuk rumah sakit, bergidik. Ah, saya keliru. Mungkin, waktu pertama kali ditanya tentang cita-cita, saya asal saja menjawab pengen jadi dokter, secara waktu itu kan saya masih kanak-kanak, masih belum paham arti cita-cita.

Sekalinya sudah paham dan sadar kalau dokter bukan cita-cita yang cocok dengan 'keadaan' yang seperti itu, saya yang kelimpungan. Bingung, mau bercita-cita jadi apa selain dokter. Saya telat sadar, ternyata menetapkan cita-cita itu lebih susah dari mengerjakan soal-soal ujian nasional. Yup, semestinya jauh-jauh tahun saya sudah menetapkan lebih dulu cita-cita saya yang baru bukannya menjelang UN baru kelabakan, cari cita-cita.

Sebelumnya sempat bilang sih ke mama, lulus SMA saya pengen kuliah di jurusan sastra saja. Reaksi mama pas tahu putri keduanya mau masuk jurusan sastra, Oh, No! Kata mama, jurusan sastra kurang menjamin masa depan. Mungkin maksud mama kalau ngambil sastra ribet cari kerjanya dan kecil peluang buat jadi PNS. Maklum, mama pengen anaknya ngikutin jejak beliau. Sepertinya kebanyakan orang tua punya pola pikir yang sama deh, anak mereka dibilang sukses dan terjamin masa depannya kalau sudah resmi jadi PNS. Tapi pemikiran saya sebagai anak, malah sebaliknya. Sukses itu nggak musti jadi PNS. Ada banyak jalan kok menuju sukses bukan cuma menuju roma saja yang banyak jalannya, hehe. Dan ya, saya nggak terobsesi jadi PNS.

Pengen masuk jurusan sastra pun bukan karena saya pengen jadi sastrawati, cuma karena hobi dan minat saya di dunia membaca dan menulis jadi kayaknya saya lebih cocok deh masuk di jurusan sastra ketimbang eksak. Saking sukanya saya dengan buku-buku dan menarikan jemari di atas kertas sembari mengkhayal kalau-kalau saya bisa nerbitin buku yang di sampulnya ada nama @siskadwyta. Sempat pula terlintas cita-cita pengen jadi penjaga perpustakaan semasa masih rajin-rajinnya saya mengunjungi perpustakaan tiap pulang dari Sekolah (Menengah Pertama).

Yah, perpustakaan adalah surga bagi si kutu buku; tempat paling indah dan tentu lebih nyaman dibanding rumah sakit. Ya iyalah siapa juga yang doyan mengunjungi rumah sakit. Enaknya menjadi penjaga perpustakaan, bakal dikelilingi buaaanyaaak buku dan bisa membaca puasss-puaasss secara gratisss. Allaahu, saya sampai ngebayangin betapa nikmatnya menjadi penjaga perpustakaan.

Tapi, karena reaksi mama kurang mendukung, cita-cita masuk di jurusan sastra saya anggap angin lalu. Pun karena semenjak SMA kekutuan saya pada buku mulai meredup jadi minat saya menjadi penjaga perpustakaan ikut pula meredup. Apoteker menjadi cita-cita saya selanjutnya. Entah, itu asal pilih cita-cita (lagi) atau obsesi semata. Saya tetap pengen melanjutkan pendidikan di bidang kesehatan. Namun mengingat 'keadaan' yang nggak bisa berhubungan langsung dengan luka, darah dan bla bla bla ditambah nggak suka berlama-lama di rumah sakit so pilihan saya jatuh pada jurusan farmasi. Setidaknya bau obat-obatan nggak bakal bikin saya mual-muntah, ngeri dan bergidik. Toh, seorang apoteker kerjanya di apotik, atau bisa buka usaha apotik sendiri, nggak wajib kerja di rumah sakit.

Lepas kelulusan SMA, semakin ngotot keinginan saya masuk jurusan farmasi. Target perguruan tinggi incaran saya pun tak tanggung-tanggung. Pokoknya saya pengen kuliahnya nanti di kampus A (perguruan tinggi negeri ternama di kota Daeng). Saya sampai ikut tiga jalur pendaftaran di kampus tersebut. Pertama, jalur non test. Hasilnya belum beruntung. Kedua lewat jalur ujian seleksi nasional (dulu namanya masih SMPTN) hasilnya juga masih sama. Belum beruntung. Nah, ketiga kalinya saya ikut jalur lokal non subsidi dan hasilnya, maa syaa Allah, bikin saya langsung sujud syukur, nangis terharu seketika. Ujung-ujungnya saya malah nangis sesenggukan di pinggir danau kampus A diiringi lagu "Ya Sudahlah" milik Bondan Prakoso yang sengaja saya putar lewat hp.


Ketika mimpimu yang begitu indah
Tak pernah terwujud ya sudahlah
Saat kau berlari dan mengejar anganmu
Dan tak pernah sampai ya sudahlah

Apapun yang terjadi
Ku kan selalu ada untukmu
Janganlah kau bersedih
Cause everythings gonna be OK
...



Lagunya mewakili banget kondisi hati saya saat itu. Paling tidak lirik lagunya bisa sedikit menghibur hati saya yang lagi mellow-mellownya. Hiks. Pupus sudah harapan saya jadi mahasiswi jurusan farmasi di kampus A.

Setelah keluar pengumuman di kampus A, saya baru tahu bahwa calon mahasiswa/i yang lulus mengikuti jalur non subsidi diwajibkan membayar uang pendaftaran yang biayanya subhanallaah menyaingi uang panai' lho. Haha. Mikirin uang sebanyak itu saja sudah bikin beban pikiran. Saya nggak mau cuma gara-gara ngotot masuk farmasi di kampus A orang tua juga ikut terbebani. Mending saya mundur, cari kampus lain yang biaya masuk kuliahnya terjangkau ketimbang bertahan di kampus yang biayanya selangit.

Meski akhirnya orang tua tetap mendukung dan menyanggupi biaya masuk di kampus A, tapi namanya bukan jodoh pasti ada saja halangannya. Ijazah SMA saya masih tertinggal di Papua, sementara untuk mendaftar ulang masuk di kampus A, salah satu persyaratan wajib harus menunjukkan ijazah asli, bukan dalam bentuk fotokopian atau fax. Ah, ya sudahlah. Allah tidak menakdirkan saya berjodoh kuliah di kampus A. Tak apa. Esok-esok malah saya yang tertakjub-takjub dengan takdir Allah yang menjodohkan saya bukan dengan kampusnya tetapi langsung dengan orangnya, maksud saya seseorang yang pernah kuliah di kampus yang dulu saya idam-idamkan itu. Uhuk.

Next, gagal lulus di kampus A, saya sempat beralih ke kampus swasta, cuma sebatas mendaftar dan ikut test tertulis. Test wawancaranya saya sengaja tidak datang karena merasa nggak 'sreg' dengan lingkungan di kampus tersebut.

Qadarullaah, saya malah terdampar di kampus C (satu-satunya perguruan tinggi negeri islam yang ada di kota Daeng) dengan jurusan yang tidak pernah ada dalam kamus saya semasa sekolah, terlintas sedikit pun tidak. Selain rumah sakit, tempat yang paling tidak ingin saya kunjungi kembali adalah sekolah. Bahkan di mata saya sekolah adalah tempat paling membosankan se-dunia. Ibaratnya sekolah itu semacam penjara bagi saya, lulus dari sekolah bagai keluar dari tahanan. Wajar saja anggapan seperti itu yang bikin saya ogah kembali ke sekolah selama-lamanya. Namun siapa sangka, lima tahun kemudian setelah menanggalkan status sebagai siswi SMA, hanya saya satu-satunya dari sekian ratus teman seangkatan yang kembali ke sekolah tersebut dengan status sebagai guru.

Amazing. Rencana Allaah sungguh di luar dugaan. Seumur-umur saya tidak pernah bercita-cita menjadi guru, bahkan setelah gelar S.Pd tersemat di belakang nama, saya tidak berniat akan bekerja dan mengabdikan diri di sekolah. Kalau dari dulu bercita-cita menjadi guru pasti target saya kuliah di kampus B (perguruan tinggi negeri khusus pendidikan guru yang ada di kota Daeng). Nyatanya, saya tidak pernah mendaftarkan diri di kampus tersebut karena saya tidak ingin menjadi guru. Lha kok bisa kuliah di jurusan yang berorientasi guru?

Sebenarnya waktu mendaftar di kampus C, pilihan pertama saya masih jurusan farmasi, pilihan ke-dua-nya saya iseng ambil jurusan pendidikan, eh malah pilihan ke-dua saya yang lulus. Terpaksa deh, saya merelakan diri kuliah di jurusan pendidikan daripada nganggur alias ngak kuliah. Huhuhu.

Well, selama menjalani dua semester, saya mulai merasa nyaman dan kondusif dengan suasana kampus C, akhirnya malah bersyukur Allah menakdirkan saya menjadi mahasiswi di kampus yang basicnya agama. Maklum, pendidikan yang saya tempuh sejak SD-SMA di sekolah umum, bukan di MI/MTs/MA jadi mata pelajaran kuliah seperti Bahasa Arab, Sejarah Peradaban Islam, Akidah Akhlak, Tafsir, Hadis, Ummul Qur'an baru saya dapatkan saat kuliah. Alhamdulillaah, banyaklah pencerahan-pencerahan yang hinggap di kepala saya selama menjadi mahasiswi di kampus C.

Eniwei, karena sudah betah dengan lingkungan kampus C tapi masih terbayang-bayang pengen jadi apoteker, tahun berikutnya saya kembali mendaftar jurusan farmasi di kampus yang sama. Yup, saat itu mindset saya tentang kampus sudah berubah. Nggak kayak dulunya yang ngebet pengen masuk kampus A hanya karena kampus tersebut adalah kampus terbaik se-Sulsel bahkan masuk sepuluh besar kampus terbaik se-Indonesia. Padahal kampus terbaik mana pun tidak menjamin setiap mahasiswanya juga menjadi yang terbaik dibanding mahasiswa-mahasiswa dari kampus yang berada di level bawahnya. Menjadi terbaik atau sebaliknya tergantung pada masing-masing individu mahasiswanya. Lagipula mahasiswa yang kuliah di kampus terbaik tapi malas-malasan ke kampus, nilai anjlok, suka ikut demo-tawuran sama saja, levelnya berada di bawah mahasiswa rajin yang kuliah di kampus lain namun nilainya tinggi, akhlaknya baik dan nggak pernah ikut demo-tawuran. Iya nggak?

Ups. Saya tidak bermakud ngeles lho, cuma share pemikiran saja, hehe jangan sampai pemikiran kita terlalu sempit memaknai hidup. Tidak semua yang kita inginkan, itu yang terbaik. Namun, takdir yang Allah kasih, meski kadang tak sesuai dengan keinginan, pastilah yang terbaik. Believe. Saya sudah ngejalanin sih, jadi bisa sok bijak nulis kayak gini. Awalnya saya memang pengen kuliah di kampus A, tapi setelah saya jalani kurang dari empat tahun justru saya sangat bersyukur dan merasa takdir saya di kampus C adalah yang terbaik.

Menjadi mahasiswa farmasi juga barangkali bukan takdir terbaik untuk saya atau boleh jadi saya nanti yang tidak sanggup melewatinya mengingat waktu masih semester-semester awal di jurusan pendidikan saja, saya begitu kewalahan nyaris tak sanggup menjalani praktikum fisika, biologi dan kimia. Sedangkan yang namanya jurusan farmasi makanan sehari-harinya adalah praktikum. Praktikumnya pun bukan cuma di semester awal tapi di sepanjang semester. Oh, my God. Saya tidak bisa ngebayangin misalkan saya beneran lulus di jurusan farmasi di tahun berikutnya, apa jadinya saya?

Syukurnya, kali kedua di tahun kedua saya mendaftar jurusan farmasi di kampus C hasilnya tidak lulus dan sejak saat itu saya mulai menerima kenyataan dan menyadari bahwa menjadi mahasiswa pendididikan calon guru adalah takdir terindah yang Allah tetapkan untuk saya, walau saya masih saja tidak bercita-cita menjadi guru.

Finally, saya ingin menjadi IRT. Itu kalimat yang terbetik di hati saya lepas berhari-hari dilanda galau yang berat lepas wisuda. Haha, konyol banget ya? Untuk apa sekolah tinggi-tinggi bila endingnya cuma mau bekerja di rumah?


Yip. I know. Tapi justru itulah cita-cita saya yang sebenarnya yang baru saya temukan setelah menjalani dua tahun di TK, enam tahun di SD, tiga tahun di SMP, tiga tahun di SMA dan tiga tahun lebih di Perguruan Tinggi. Justru itulah jawaban yang saya dapatkan setelah mengenyam pendidikan berbelas tahun lamanya. Justru itulah alasan yang hati saya pilih setelah menyabet gelar sarjana.

Really, i want to be IRT.

Bukan dokter. Bukan sastrawati. Bukan Penjaga perpustakaan. Bukan Apoteker. Bukan Guru. Bukan apa pun. Mimpi saya sederhana saja. Ingin menjadi IRT.

Well, demi menggapai mimpi sederhana itu, pasca wisuda saya memutuskan pulang ke rumah orang tua, bukan memilih melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi atau sibuk mencari jodoh pekerjaan.

Kalau sudah niat banget jadi IRT harusnya langkah selanjutnya yang saya ambil; cari patner hidup yang mau mengajak saya membangun tangga dalam rumah berdua bukannya malah pulang ke rumah orang tua. Eh, atau jangan-jangan ada yang mengira saya memutuskan pulang karena mau cari jodohnya di Papua. Kenapa nggak cari jodohnya di kota Daeng saja. Ups!

Cita-cita saya menjadi IRT memang hanya bisa terwujud bila saya telah menggenap bersama seorang lelaki yang kelak saya panggil Zaujii (baca ; suamiku). Tapi, saya sama sekali tidak berpikiran mau fokus cari jodoh. Yang terhujam dalam tekad saya malah, saya harus pulang, kembali pada orang tua. Bukan dengan maksud, supaya mereka yang carikan saya jodoh lho, haha.

Berbakti. Itu langkah yang saya ambil sebelum cita-cita menjadi IRT terwujud. Sebenarnya saya bisa saja memilih untuk tidak pulang, toh, orang tua juga tidak memaksa apa pun pilihan saya, tapi dengan konsekuensi semua 'beasiswa' yang sebelumnya saya terima tiap bulannya dari mereka akan diputuskan.

Okelah, saya sanggup menerima konsekuensi itu. Saya sudah cukup dewasa hidup mandiri dan cari uang sendiri. Lagipula saya yang akan merasa malu bila sudah disekolahkan sampai perguruan tinggi namun setelah meraih gelar sarjana masih bergantung sama orang tua. Paling kalau menetap saya bakal cari kerja di sekitaran kota Daeng.

Sempat pula sih ada tawaran dari salah seorang kakanda di Ikatan yang mau mengusahakan mencarikan saya sekolah asal saya tidak pulang kampung. Atau barangkali sembari mencari kerja saya juga fokus menyiapkan diri untuk bisa mendapatkan beasiswa S2. Jaman sekarang kan mudah mengakses info-info tawaran beasiswa baik dalam negeri mau pun luar negeri.

Seingat saya, ada beberapa orang juga yang sempat menyarankan saya lanjut S2 bahkan terkesan mendesak, seolah-olah menyayangkan kepulangan saya. Sayangnya, keputusan itu sudah terlanjur membulat. Orientasi saya bukan lagi menambah gelar atau berkarir. Cita-cita saya setelah sarjana hanya ingin menjadi IRT karenanya saya harus pulang.

Alasan pastinya, entahlah. Saya cuma merasa, cepat atau lambat akan ada yang datang membawa saya pergi dari kedua orang tua saya. Entah, malaikat perengut nyawa atau jodoh yang Allah utus lebih dahulu menjemput saya. Atau justru saya yang akan lebih dulu ditinggalkan oleh mereka. Entah apa yang akan terjadi bila saya tetap memilih berjarak dengan mereka sementara kian waktu berlalu, jatah hidup kami pun kian berkurang.

Kurang. Itu juga perasaan yang saya rasakan selama hampir tujuhbelas tahun tinggal seatap bersama mereka. Bakti saya sungguh masih sangat berkurangan. Saya belum bisa membalas jasa-jasa kedua orang tua saya dan selamanya memang tidak akan bisa. Namun, saya berusaha mencerna apa yang paling diinginkan orang tua ketika anak-anaknya telah menjelma dewasa.

Berkumpul.

Yup. Waktu berkumpul bersama keluarga dengan personil lengkap menjadi hal yang sangat langka semenjak saya dengan kedua saudari saya melanjutkan pendidikan di tanah rantau. Syukurnya, Allah masih menganugerahkan mama dan papa si putri bungsu yang umurnya terpaut belasan tahun dengan kakak-kakaknya, jadinya beliau berdua tidak terlalu kesepian saat ketiga putrinya meninggalkan rumah.

Waktu itu, Kak Vhie, kakak saya satu-satunya yang pertama meninggalkan rumah setelah menikah, ikut suaminya, adik saya Aya masih kuliah di kota Perantauan lalu yang tersisa di rumah cuma mama, papa dan si putri bungsu. Sedangkan posisi saya resmi telah menjadi pengangguran, baru lulus kuliah, belum sempat cari kerja apalagi cari jodoh, nggak niat lanjut kuliah lagi niatnya mau langsung nikah *eh trus untuk apa saya tetap bertahan di kota Daeng sementara ada orang tua yang lebih membutuhkan keberadaan saya di rumah.

Baiklah. saya pulang. Balik Papua. Meninggalkan semua kenangan saya yang ada di kota Daeng. Orang-orangnya. Jalan-jalannya. Senjanya. Hujannya. Semua semuanya. Hiks. Ya Allah, rasanya berat banget ningalin kota yang meski belum sempurna lima tahun saya jejaki namun telah menyublim bertumpuk kisah yang mengakar kuat di hati.

Sejujur-jujurnya dari lubuk hati yang paling dalam saya tidak ingin meninggalkan kota pertama yang mengenalkan saya pada ukhuwah paling indah. Di sana ada saudara-saudara seikatan yang senantiasa mengajak saya pada kebaikan dan berjuang di jalan kebenaran. Saudara-saudara yang saya anggap layaknya saudara kandung sendiri bahkan rasanya melebihi saudara sedarah.


Tak berbilang 'kenangan' perjuangan yang telah kami rangkum bersama. Menaklukkan panjangnya perjalanan. Menembus hujan. Menghalau angin. Bermalam-malam menahan rasa kantuk. Bersiang-siang di bawah terik. Melingkar hingga menjemput senja. Allah, ukhuwah yang semacam itu dan saudara-saudara yang layaknya seperti mereka dimana lagi bisa saya temukan?

Itu satu-satunya hal yang bikin saya cemas bin khawatir kalau-kalau setelah kembalinya saya ke tanah kelahiran, saya tidak mendapati saudara-saudara baru yang seperti mereka, yang setia menularkan saya semangat untuk terus berjuang di jalan Allah. Saya kalut sekali, kalau-kalau dengan perginya saya dari tanah Daeng menarik saya kembali ke 'jaman jahilayah' bila tidak dikelilingi orang-orang yang bergairah berbagi kebaikan kepada saya.

Namun benarlah nasihat indah ini; "percayalah. Jika kita meninggalkan sesuatu karena Allaah, Allaah pasti akan menggantinya bahkan dengan sesuatu yang lebih baik"

Dan lihatlah! Apa yang terjadi setelah kepulangan saya. Setelah meninggalkan saudara-saudara seikatan di kota Daeng lantas sekejap saja Allah telah menggantinya dengan menghadirkan saudara-saudara baru dalam lingkaran ukhuwah bahkan dengan jumlah yang lebih banyak yang kerap menghiasi hari-hari saya. Mereka yang tak sungkan menegur bila saya salah. Mereka yang tiap pekannya semangat berlomba-lomba menularkan kebaikan. Mereka yang begitu sayang, begitu cinta begitu tinggi rasa pedulinya pada sesama.

'Mereka', ah betapa saya ingin berlarut-larut menceritakan tentang mereka 'saudara-saudara yang mengelilingi saya semasa di tanah Papua' tapi catatan ini pun sudah terlalu larut. Bila sempat saya akan menceritakannya di postingan lain saja.


Fokus kembali ke mimpi. Mimpi yang saya kejar hingga ke tanah Papua. Demi menjadi IRT. Saya pulang. Membawa misi terselubung. Cukup Allah yang tahu. Bagi saya, mengabdi pada orang tua adalah jalan terbaik meraih mimpi. Sebab mimpi saya bukan pengen jadi doktor atau wanita karir jadi saya tidak perlu sibuk-sibuk kuliah lagi kejar tittle sampai level S3 atau melamar pekerjaan di sekolah-sekolah. Mimpi saya di rumah saja. Membantu orang tua. Mengerjakan pekerjaan rumah tangga sebelum saya benar-benar menjadi IRT sungguhan.

Dan sekarang. Dalam hitungan kurang dari tiga tahun. See! Mimpi saya sungguh terwujud. Dan rasa-rasanya memang (masih) seperti mimpi. Saya pulang ke Papua demi mengejar mimpi lantas mimpi itu pula yang mengejar dan membawa saya kembali ke Sulawesi, ke Tanah Daeng.

#ODOPOKT24

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Pixabay

Sekitar tiga atau empat tahun silam, blogger yang menggunakan blog gratisan masih sering saya temui saat blogwalking. Saat itu blogger yang menggunakan blog berbayar atau ber-TLD sepertinya masih langka. Sekarang, kondisi yang saya temukan malah sebaliknya, rata-rata blogger yang saya temui sudah beralih dari blog gratisan ke blog ber-TLD, tinggal beberapa blogger yang masih bertahan dan betah dengan blog gratisan (termasuk saya, hehe).

Apa nggak minat pindah ke blog ber-TLD yang tentu terlihat lebih profesional dan sudah pasti keren dibanding blog gratisan?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, barangkali masih ada reader kamar kenangan ini yang awam dan belum mengenal mana blog gratisan dan mana blog dengan TLD. Tanpa perlu dijelaskan panjang lebar pun, kita bisa dengan mudah mengenali kedua jenis blog tersebut. Namun saya merasa perlu menuliskan perbedaan keduanya di postingan ini yang sumbernya saya kutip dari Rumah Digital Annisa.

#BLOG GRATISAN

Blog gratisan adalah blog yang kita buat dengan tanpa mengeluarkan uang sedikit pun untuk membuatnya. Beberapa blog engine populer yang menyediakan fasilitas gratis tersebut adalah wordpress, blogspot dan Tumblr. Untuk membedakannya dengan blog yang berbayar adalah adanya nama penyedia jasa tersebut di belakang nama blog yang kita punya.  contoh ; www.siskadwyta.blogspot.co.id www.siskadwyta.wordpress.com
www.siskadwyta.tumblr.com

Untuk membuat blog gratisan tersebut sangat mudah, Kita tinggal mengunjungi www.wordpress.com, www.blogger.com atau www.tumblr.com.

Etapi dari dulu saya sudah setia dengang platform blogger/blogspot, nggak pernah berpindah ke wordpress. Ada tumblr juga sih tapi jarang saya gunakan.

BLOG dengan TLD

Top Level Domain (TLD) adalah blog atau website yang kepemilikan sudah menjadi kepemilikan pribadi masing-masing penggunanya. Blog dengan TLD memiliki ketentuan berbayar, baik itu perbulan, per semester atau pertahun (tergantung layanan dari providernya). Biasanya blog ini ditandai dengan akhiran [dot] com, [dot] co [dot].id, [dot] org dsb. Pemilihan akhiran TLD tersebut ditentukan oleh si pembuat blog itu sendiri, namun ada ketentuan-ketentuan tertentu yang bisa diikuti dalam memilih domain mana yang sesuai untuk blog kita.

contoh : www.siskadwyta.com 😄

Dari penjabaran kedua jenis blog tersebut mana yang lebih baik, blog gratisan atau blog dengan TLD jawabannya sebenarnya tergantung dari si pemilik/pengelola blog. Misal bagi blogger pemula yang baru belajar ngeblog atau bagi blogger yang jarang update atau nggak eksis ngeblog sebaiknya dan lebih cocoknya sih menggunakan blogger gratisan. Sedangkan bagi blogger yang sudah lama terjun di dunia blog, eksis ngeblog, rajin update tulisan, terlebih bagi mereka yang bertujuan hendak memonetisasi blognya, menggunakan TLD adalah pilihan yang paling tepat.

Nah, kalau dalam kasus seperti saya yang boleh dibilang kenal blog sudah lama, punya blog juga bukan baru kemarin sore, bahkan sudah punya niat plus rencana pengen dapat penghasilan dari blog tapi masih bertahan dengan blog gratisan. Why? Apa alasannya?

Oke, pertanyaan tersebut kita skip dulu. Biar saya jawab pertanyaan sebelumnya, sebelum menguraikan sedikit panjang lebar alasan-alasan yang bikin saya bertahan dengan blog gratisan.

Jika ditanya mau punya domain sendiri nggak? Jawabannya, mau pake banget. Berminatlah. Siapa sih blogger yang nggak mau blognya tampil kece dan profesional dengan domain personal yang nggak ada embel-embel blogspot.co.idnya. Saya bahkan sudah lama meniatkan ingin beli domain tapi karena satu dan lain hal niatan itu akhirnya belum terealisasi bahkan nyaris saya tiadakan.

Well, inilah lima hal yang menjadi alasan sehingga saya masih bertahan dengan blog gratisan yang barangkali sama dengan alasan blogger lain yang masih bertahan dengan blog gratisannya.

😣LAMA HIATUS


Hiatus barangkali bisa jadi alasan paling logis bagi blogger yang masih betah dan bertahan dengan blog gratisannya. Ya, gimana mau move up ke blog premium wong blog gratisannya aja ditelantarin. Nah, ini yang saya alami. Karena kelamaan hiatus saya jadi ketinggalan banyak hal dan tutup mata dengan perkembangan dunia blogging yang ternyata semakin ke sini semakin kereen nan tjakeep. Alhasil, saya berasa jadi newbie. Orang-orang udah sampai di bintang eh saya masih di bumi. Blogger lain udah pada beli domain sendiri eh saya masih pake blogspot. But whatever yang penting sekarang saya udah kembali eksis ngeblog dan semoga bisa istiqomah seterusnya. Nggak hiatus lagi.


😭 JARANG UPDATE POSTINGAN DI BLOG

Nggak eksis ngeblog juga masih termasuk alasan yang  logis bagi blogger yang memilih bertahan dengan blog gratisannya. Logikanya, ngapain pake blog berbayar kalau ngeblog cuma sekali-sekali. Tiga bulan sekali, lima bulan sekali atau setahun sekali. Selain hiatus saya juga mengalami problem ini. Sebenarnya keduanya bisa sepaket sih, tergantung kita memandang pengertian hiatus seperti apa. Kalau yang dimaksud hiatus adalah tidak memosting satu postingan pun dalam jangka setahun maka saya tidak termasuk di dalamnya karena setidaknya semenjak eksis ngeblog dari tahun 2013 saya tidak pernah melewatkan setahun pun tanpa postingan. Tapi, ya karena saya pernah berkomitmen dan bikin target minimal menulis satu postingan dalam sebulan sehingga definisi hiatus bagi saya adalah ketika saya melanggar komitmen dan target yang saya bikin tersebut. Dan saya melanggarnya bukan cuma sebulan, tapi berbulan-bulan. Bahkan nyampe setahun. Lihat saja di tahun 2016 saya cuma berhasil memuat satu postingan. Ckckck.

Etapi ada juga sih beberapa blogger yang meski jarang ngeblog tapi tetap ngotot dan nekad ngeluarin budget buat beli domain tiap tahun untuk blog yang nggak terlalu dia rawat dan urus dengan baik. Kesannya sayang banget yaak. Ini bukan masalah uangnya, blognya itu lho. Entah apa tujuan beli domain bagi blogger yang tipenya demikian, sekadar mau gaya-gayaan, ikut-ikutan, senang-senangan atau apa gitu. Ups, saya nggak maksud su'udzhon. Cuma asal menebak saja, hihi tapi apa pun itu ya terserah mereka. Suka-sukanya mereka. Uang-uangnya mereka, kok kita yang sewot. Eh, bukan sewot, mungkin lebih tepatnya peduli kali ya. Blog dengan domain keren kok dianggurin. Sayang banget kan? 

😮ARTIS JUGA BLOGNYA GRATISAN KOK?

Eh, ini maksudnya apa? Artis siapa yang dimaksud? Kalau googling pasti deh kalian bakal menemukan sederetan artis yang punya blog. Tidak banyak sih tapi nyatanya memang ada artis yang punya blog bahkan ada pula yang gara-gara blog bisa jadi artis beneran. Sebut saja Raditya Dika yang mengawali karirnya dari ngeblog. Tulisan-tulisan yang kebanyakan diangkat dari kisah hidupnya di blog itu pun yang menginspirasi Radit buat bikin karya buku berbau komedi. Tak disangka buku pertamanya yang berjudul Kambing Jantan yang mulanya tak laku di pasaran itu akhirnya masuk kategori best seller bahkan sampai dilayarlebarkan. Disusul dengan karya-karyanya yang lain, seperti Cinta Brontosaurus, Single, Koala Kumal, Manusia Setengah Salmon, dll yang beberapa di antaranya diperankan oleh Radit sendiri. Selain tampil di layar lebar Radit juga pernah menjadi pemeran dalam sinetron Mico dan Comic Story pada salah satu station TV nasional. Sekarang ini Radit lebih sering nongol di layar kaca sebagai juri dari ajang stand up comedy. Oh ia Radit juga merupakan salah satu tokoh yang mendongkrak Stand Up Comedy di Indonesia.

Duh, ini kok saya malah ngelantur bahas Raditya Dika padahal artis yang saya maksud bukan doi tapi Alysa Soebandono atau akrab dipanggil Icha. Mungkin belum atau banyak yang (sudah) tahu kalau istri dari Dude Herlino dan ibu dari dua putra itu punya blog sejak tahun 2009. Dan seperti kebanyakan blogger personal pada umumnya, blog Icha berisikan tulisan-tulisan yang diangkat dari kisah pribadi. Termasuk kisah tentang pernikahannya dengan Dude dan luapan perasannya ketika melahirkan buah hati pertamanya Rendra lengkapnya Muhammad Dirgantara Ariendra Harlino yang ia tuangkan dan abadikan dalam blognya yang masih menggunakan blog gratisan.



Tuh, kan arti selevel Alysa Soebandono saja blognya masih gratisan. Bila mau, Icha bisa saja menggunakan blog premium tapi dia tetap bertahan dengan blog gratisan yang platformnya sama dengan saya. Blogspot. Well, karena artis seperti Icha saja pede dengan blog gratisannya kenapa saya yang bukan artis ini merasa tidak pede? Hehe

Jujur saja, gara-gara berkunjung ke blognya Icha yang masih berplatform blogspot itu saya sampai kebawa pikiran. Ngapain juga mesti beli domain kalau cuma mau buat gaya-gayaan, biar blog saya terlihat OK gitu. Toh, dengan blog gratisan, blog saya tetap bisa tampil OK kok, lihat saja Alysa blognya masih gratisan. Eng ing eng.

Etapi. Pemikiran saya ini nggak usah ditiru ya. Itu alasan saya kemarin-kemari tapi sekarang nggak lagi ding. Beda artis beda blogger. Maksud saya, memang ada artis yang punya blog namun tujuan ngeblognya sebatas selingan bukan dijadikan sebagai passion, sebab passionnya ya di dunia entertaiment beda halnya dengan blogger yang menjadikan blognya sebagai passion sehingga wajar bila menggunakan blog premium sebab dengan domain sendiri tentu lebih menunjang passion sebagai blogger ketimbang menggunakan blog dengan bawaan platform gratisan. Kepoin saja blognya Icha  yang postingan terakhirnya agustus tahun lalu dan sampai sekarang belum mempublish postingan baru atau blog artis lainnya yang jarang update bahkan banya yang sudah hiatus. Berbanding terbalik kan dengan blogger profesional yang hari-harinya memang didominasi dengan ngeblog. Jadi kalau ada pengguna blog gratisan yang beralasan seperti itu, segera ubah sudut pandang kalian deh. Pasalnya alasan ini memang nggak logis.

😯 NGGAK TAHU CARA BELI DOMAIN

Bertahan dengan blog gratisan hanya karena nggak tahu mau beli domain dimana, nggak tahu caranya seperti apa, prosedurnya gimana dan bla bla bla. Ini mah bukan alasan yang bisa diterima. Bisanya ngeles doang. Entah malas atau nggak mau usaha. Maunya enaknya saja. Kalau emang udah niat beli domain ya usaha dong. Jangan diam saja. Malau bertanya sesat di jalan. Kalau nggak mau tersesat, ya jangan malu bertanya ke yang sudah berpengalaman atau bisa bertanya di grup komunitas blogger, atau bisa japri langsung ke blogger yang telah menggunakan blog premium yang kita kenal. Kalau nggak punya keberanian bertanya yowes, masih ada cara yang lebih aman dan terkendali. Tanya ke eyang google. Belajar otodidak. Masa' bikin blog saja bisa otodidak, beli domain sendiri nggak bisa?

Faktanya memang ada beberapa blogger yang masih bertahan dengan blog gratisan dengan alasan kurang masuk akal seperti ini. You know that, salah satu blogger yang dimaksud adalah saya. Ups! Iya, kayaknya keinginan saya beli domain sebatas modal niat yang belum digenapi dengan tekad yang kuat dan aksi yang nyata. Mungkin lebih tepatnya saya cuma baru sebatas berkhayal pengen punya domain www.siskadwyta.com tapi untuk realisasinya. Masih NOL. Belum ada usaha apa-apa. Belum tergerak untuk mencari tahu prosedur apa yang harus saya lakukan saat hendak membeli domain. Padahal suami sudah ngasih isyarat nyata. Ini uang, silakan beli domain. Eh, dasar sayanya saya yang lambat bertindak, hehe. Alasan ini juga jangan ditiru ya! Kalau udah ada niat, ada tekad, langsung saja action. Tunggu apa lagi :) Yuk, hijrah ke blog peremium

😦 KHAWATIR DOMAIN YANG DIBELI BAKAL KADALUWARSA DAN BILA TIDAK DIPERPANJANG BLOG BAKAL HILANG DARI DUNIA MAYA

Tapi etapi saya terlalu khawatir bagaimana bila sudah beralih ke blog premium yang jangka waktunya setahun, namun setelahnya blog saya ini nggak bisa diperpanjang lagi. Ini bukan masalah budget lho tapi tentang masa depan. Ya kita kan nggak tahu masa depan kita bakal seperti apa, kita juga nggak bisa menerka-nerka lamanya hidup kita bakal sampai kapan. Bagaimana bila belum genap setahun setelah beli domain kita sudah menemui ajal lebih dulu. Lantas bagaimana dengan nasib blog kita? 

Kalau nggak diperpanjang kan otomatis domain kita bakal kadaluwarsa trus nggak bisa dikunjungi lagi dong. Saya pernah mengunjungi blog yang ownernya telah tiada, dan mungkin karena domainnya udah kadaluwarsa blognya jadi bermasalah, nggak bisa kebuka lagi. Ya, sayang banget kan kalau kejadiannya seperti itu. Padahal salah dua nya tujuan ngeblog adalah agar kita bisa mengabadikan hidup dengan menulis di blog dan karena blog adalah kenangan paling berharga yang bisa kita tinggalkan untuk orang-orang terdekat Setidaknya mereka tetap bisa mengenang hidup kita selama mengunjungi dan membaca tulisan-tulisan yang kita abadikan di blog.

Namun bila setelah tiada blog kita juga ikut tiada,, duh, sayang pake banget kan? Duh, ini mungkin alasan yang paling nggak logis. Saya nggak tahu apa ada blogger yang bertahan dengan blog gratisannya di luar sana yang juga beralasan demikian. Semoga nggak ada. Sepertinya, kekhawatiran saya ini terlalu berlebihan. Entahlah bila ada blog yang beneran nggak bisa terbuka lagi setelah domainnya kadaluwarsa sementara masa berlakunya tidak diperpanjang.



Nah, jawaban di atas datangnya dari kak Adityar pemilik blog planetyar.com ketika mengometari postingan saya yang iniWell, niatan beli domain yang sempat saya urungkan mencuat kembali setelah membaca komentar tersebut.

Finally, setelah menguraikan panjang lebar kelima alasan tersebut maka sudah tidak ada lagi alasan bagi saya untuk tetap bertahan dengan blog gratisan. In syaa Allah dalam waktu dekat ini saya berencana hijrah ke blog premium yang budgetnya disponsori oleh suami, hehe. Barangkali ada yang bersedia memberi rekomendasi beli domain dengan harga terjangkau lengkap dengan prosedurnya, boleh dong share di kolom komentar. 

#ODOPOKT23

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Tidak sedikit muslimah jaman sekarang yang memilih tinggal di rumah setelah menikah sekali pun telah menyabet gelar sarjana. Tak jarang pula kita temukan muslimah yang karirnya di kantor kian melejit namun di saat yang sama ia memutuskan resign dari tempat kerjanya demi fokus mengurus suami dan anak-anak.

Tentu, tidak ada yang salah dengan sikap muslimah yang mengorbankan pekerjaan di luar rumah demi tugas utamanya sebagai seorang istri dan ibu, yang salah adalah orang-orang yang memandang rendah dan remeh sikap tersebut. Seolah-olah seorang wanita yang menempuh pendidikan hingga ke perguruan tinggi tidak layak berstatus sebagai ibu rumah tangga semata. Image yang barangkali sudah terlanjur mendarah daging di masyarakat pada umumnya bahwa wanita yang menggenggam ijazah sarjana selayaknya bekerja di kantor bukan di rumah.

Credit

"Ngapain sekolah tinggi-tinggi kalau cuma mau jadi ibu rumah tangga. Buang-buang uang saja" demikian sindiran senada yang juga kerap dilontarkan segelintir orang yang mungkin pemikirannya masih sempit. Seakan menganggap wanita yang bekerja di rumah tidak membutuhkan pendidikan apalagi sampai ke perguruan tinggi.

Pandangan yang jelas-jelas keliru sebab menempuh pendidikan adalah kewajiban bagi setiap orang. Negara mengaturnya dalam Pasal 31 ayat 1 UUD 1945 yang menyatakan bahwa "setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan". Kewajiban menempuh pendidikan atau menuntut ilmu ini pun diatur dalam agama. Rasulullaah shallallaahu'alaihi wassalam bersabda :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ

”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. (HR. Ibnu Abdil Barr)

Dengan adanya undang-undang yang mengatur hak warga negara untuk memperoleh pendidikan ditambah dengan dalil agama yang menyatakan bahwa menempuh pendidikan adalah kewajiban bagi setiap muslim muslimah sehingga lebih tepatnya bila image tidak layak itu ditujukan kepada orang-orang yang masih berpikiran sempit dan  beranggapan wanita yang ingin menjadi IRT tidak perlu sekolah tinggi tinggi karena ujung-ujungnya akan kembali ke dapur.

Credit

Barangkali jawaban cerdas dari seorang Dian Sastrowardoyo inilah yang perlu dipahamkan pada orang-orang yang masih memandang sebelah mata status IRT. Seorang wanita entah dia berkarir di luar mau pun dalam rumah memiliki kewajiban yang sama, yakni wajib berpendidikan tinggi karena kelak ia akan menjadi seorang ibu sebagai Madrasatul 'al-ulaa. Ibulah yang menjadi guru pertama dalam mendidik anak-anaknya sebelum menempuh pendikan di luar rumah. Ibulah yang paling menentukan kualitas seorang anak. Baik buruknya anak tergantung dari bagaimana si ibu mendidik dan mengajarkan akhlak kepada anaknya.

Bisa kita saksikan berita-berita yang kerap ditayangkan di televisi mau pun yang beredar bebas di media sosial, banyak anak-anak jaman now yan berani melakukan tindakan kriminal, seperti pencurian, pelecehan seksual, minum-minuman keras, mengonsumsi narkoba hingga melakukan pembununah. Na'udzubillaahi min dzalik.

Padahal mereka masih di bawah umur tapi kok bisa melakukan perbuatan yang di luar kewajaran. Anak usia belasan tahun lho. Ada yang masih di duduk di tingkat dasar pula. Bahkan ada yang belum baligh. Apakah dengan kejahatan bejat tersebut kita lantas menghakimi dan menimpakan semua kesalahan pada mereka? Tentu tidak. Memang ada banyak faktor yang memengaruhi mereka melakukan tindakan kriminal, selain faktor pergaulan dan kemajuan teknologi. Namun dibanding kedua faktor tersebut, faktor orang tua terutama ibulah yang paling menentukan. Seorang ayah sudah pasti tidak bisa mengontrol aktivitas anaknya seharian full karena kewajibannya adalah bekerja mencari nafkah. Sedangkan seorang ibu, walau bukan kewajiban namun diperbolehkan bekerja di luar rumah, tugas utamanya tetap di rumah, mengurus suami dan anak-anaknya. Jika salah satu atau kedua tugas utamanya itu terbengkalai, misal karena sibuk bekerja dia tidak sanggup mengontrol anaknya sehingga ketika si anak berbuat ulah bahkan sampai melakukan tindakan kriminal seorang ibulah yang paling patut dipersalahkan pertama. Bukan suaminya. Bukan anaknya. Tapi dirinya yang telah lalai sebagai seorang ibu.

Pantaslah bila seorang wanita diibaratkan tiang negara, sebab dari didikan seorang ibulah lahir generasi-generasi baru yang akan menentukan kualitas masyarakat dan negaranya. Begitu pentingnya peran seorang ibu sehingga sangat wajar wanita-wanita yang bakal menjadi ibu wajib untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya karena sebenarnya dan seharusnya tujuan utama seorang wanita dalam menuntut ilmu adalah sebagai bekal untuk mendidik anak-anaknya kelak. Ya, ibu-ibu cerdas akan menghasilkan anak-anak yang cerdas. Ibu-ibu berakhlak akan melahirkan anak-anak yang berakhlak pula. Sebaliknya ibu-ibu yang minim pendidikan akan menghasilkan anak-anak yang tidak cerdas. Ibu-ibu yang tidak berakhlak akan melahirkan anak-anak yang mengalami krisis akhlak. Percayalah dengan kata bijak ini, sungguh buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Oleh karena itu sebagai calon ibu mau pun yang telah menjadi ibu, kita perlu berkomitmen jadi ibu yang luar biasa. Sekali pun gelar sarjana hanya menghantarkan kita pada karir sebagai house wife alias ibu rumah tangga.



Iya. Siapa bilang IRT bukan karir? Justru IRT adalah karir yang sangat mulia. Bukan berarti wanita karir yang bekerja di luar rumah tidak mulia. Boleh jadi mereka yang terpaksa berkarir di luar rumah untuk membantu financial keluarga dan tetap bisa menjalankan tugas utamanya sebagai istri dan ibu dengan baik adalah lebih mulia daripada wanita yang hanya berkarir di rumah. Jujur saja, saya sangat kagum dengan wanita karir yang tidak pernah melalaikan tugas utamanya di rumah. Di mata saya, wanita-wanita yang demikian bagai superwomen yang memiliki kekuatan super ekstra. Penilaian saya ini jelas tidak berlebihan karena bertahun-tahun lamanya saya merasakan supernya kekuatan yang dimiliki oleh ibu saya. Beliau adalah wanita karir yang merangkap istri dan ibu sekaligus bagi keempat putrinya. Namun kesibukannya di luar rumah tidak lantas mengabaikan tugas utama beliau sebagai IRT.

Baca juga Impian Menjadi Istri Shalihah

Akan tetapi dibanding ibu rumah tangga yang merangkap wanita karir, saya sangat kagum dengan wanita yang memutuskan karirnya di luar rumah demi menjadi ummu a rabbatul bait ibu yang mengatur rumah tangga. Maa syaa Allah. Seperti yang saya katakan di awal postingan ini, tidak sedikit wanita khususnya muslimah jaman now yang memutuskan berhenti dari pekerjaannya demi menjadi IRT.

Nah, dari yang tidak sedikit itu, saya mengenal secara tidak langsung salah satu sosok muslimah yang menghentikan karirnya di luar rumah dam memutuskan menjadi ibu rumah tangga lewat tulisan-tulisan yang biasa ia tuangkan Rumah Ketjil-nya. Namanya mbak Rahma. Lengkapnya Siti Rahmadayanti. Ummu dari (alm) Ruwaifi dan Ruwaid. Blogger asal Jawa yang menyelesaikan jenjang pendidikan S1 di Fakultas Teknik jurusan Teknik Elektro Unhas Makassar dan sekarang berdomisili di kota Ambon Manise bersama suami dan kupu-kupunya yang sementara belajar merangkak, Ruwaid.

Ah, sejujurnya saya sedikit tahu banyak tentang Mbak Rahma ini dari blognya, dari kebaikan-kebaikan yang selalu ia selipkan di setiap postingan-postingannya. Dari tutur tulisannya yang bikin saya seketika -jatuh bangun cinta dan menjadikan blog nya sebagai blog favorit  yang wajib saya  kunjungi nyaris tiap hari. Saya bahkan selalu menantikan tulisan-tulisan terbarunya. Etapi sampai detik ini mbak Rahma-nya belum tahu kalau dia punya fans sefanatik saya. Ups! Pasalnya saya belum pernah menyapa dan meninggalkan jejak di rumah ketjilnya baru sebatas meminta pertemanan di facebook yang alhamdulillah dikonfirmasi.


Awal perkenalan dan pertemuan saya dengan mbak Rahma terjadi bukan secara kebetulan. Ketika itu saya masih hiatus, masih berencana ingin kembali ngeblog tapi belum dapat inspirasi dan semangat yang menggebu-gebu. Baru sekadar rencana. Padahal suami sudah mendukung penuh agar saya kembali aktif menulis. Mungkin efek lama nggak ngeblog, saya merasa kesulitan menulis dan kebingungan mencari ide. Hingga suatu ketika suami men-share link artikel berjudul Obesistuff Penyakit Muslimah Kekinian via whatsapp. Pada saya, suami ikut mengomentari artikel yang menurutnya sesuai dengan pemikirannya meski isi dari artikel tersebut lebih menyoroti kaum hawa. Tapi suami saya memang tipenya juga kayak gitu, sangat sayang dengan benda-benda miliknya. Seolah semua barang miliknya memiliki ikatan emosional sehingga semua barang-barangnya benar-benar sangat dijaga dan dirawat dengan sangat baik. Bertolak belakang dengan istrinya ini yang kurang pandai merawat barang, hehe. Well, barangkali maksud suami sengaja mengirim artikel tersebut agar saya juga bisa bersikap lebih sayang kepada barang-barang saya, tidak perlu mengoleksi banyak barang dan cukup membeli barang yang dibutuhkan.

Siapa sangka bermula dari membaca artikel yang di-share suami langsung ke saya itulah saya jadi sangat tertarik untuk menelusuri seluruh isi postingan blog Rumah Ketjilku tersebut yang ownernya tidak lain adalah mbak Rahma.

Apa yang menarik dari blog Rumah ketjilku?

Tidak ada. Sekilas memang blog mbak Rahma tampak biasa-biasa saja. Terlalu sederhana malah. Seperti blog pada umumnya. Blognya juga masih menggunakan blog gratisan seperti blog saya ini. But you know, dari sekian banyak blog yang pernah saya kunjungi, blog sederhana milik mbak Rahmalah yang rasanya 'saya banget'.

Saya mengenal blog pertama kali saat masih duduk di bangku kelas tiga SMA, sekitar tahun 2009 atau 2010, persisnya saya lupa, namun baru benar-benar mulai konsisten menulis di blog sejak tahun 2013 hingga tahun 2015. Namun postingan saya di tahun 2015 mulai menurun drastis dibanding postingan dua tahun sebelumnya. Puncaknya di tahun 2016, saya hanya berhasil mempublish satu postingan dalam setahun itu lalu hiatus begitu saja. Ckckck.

Sebenarnya ada banyak alasan yang membuat saya akhirnya menjauh dari kamar kenangan saya ini. Namun satu-satunya alasan yang paling mendasar adalah karena niat ngeblog saya yang masih keliru, masih bengkok, belum lurus. Saya ngeblog sebatas menyalurkan hobi menulis. Menurut saya media sosial yang paling cocok menampung tulisan-tulisan saya adalah di blog. Ketimbang menyimpan tulisan-tulisan saya secara offline, lebih baik saya menyimpannya di media online seperti blog yang sangat memungkinkan tulisan-tulisan saya menemukan pembacanya.

Niat saya ngeblog pun sekadar mengabadikan kenangan. Saya memang suka sekali mengoleksi kenangan, namun kenangan apa pun itu mudah sekali luput dalam ingatan, dipudarkan oleh waktu, karena itu saya merasa harus mengabadikannya di blog yang saya sebut sebagai Kamar Kenangan. Kenangan apa saja, tidak peduli apa yang saya torehkan baik atau nggak. Bermanfaat atau sebaliknya. Menginspirasi atau tidak. Saya asal saja menulis, curcol sebarangan mulai dari hal-hal yang nggak penting sampai nggak penting banget, termasuk hal-hal yang gaje.

Nah, semua niatan keliru itu yang bikin saya berpikir ulang. Ada niat yang wajib saya luruskan dan untuk  meluruskan niat tersebut saya sampai hiatus karena membutuhkan waktu cukup lama untuk mikir. Mau dibawa kemana blog saya ini? Mau diarahkan seperti apa? Mau dibentuk bagaimana? Mau diisi kenangan-kenangan seperti apa? Setumpuk pertanyaan itu yang merecoki pikiran saya selama berhenti sejenak dari aktivitas ngeblog.

Baca juga Lama Hiatus, Ini Alasan Saya Kembali Ngeblog

Ketika niat ngeblog berhasil saya luruskan, in syaa Allah lillaahi ta'ala, Allah pertemukan saya dengan Rumah Ketjilku milik mbak Rahma lewat perantara suami, padahal sebelumnya saya telah bergabung di komunitas blogger yang sama dengan mbak Rahma. Di rumah Ketjilnya itulah saya menemukan jawaban yang saya cari selama hiatus. Ibarat menemukan jati diri, di blog mbak Rahma saya menemukan jati blog saya.  Blog yang isinya penuh dengan kebaikan-kebaikan seperti itulah yang saya dambakan ada pada kamar kenangan saya. Tulisan-tulisan yang ringan namun bermakna. Dengan bahasa-bahasa yang santun, tidak menggurui. Ide tulisan di Rumah Ketjilnya pun kebanyakan diangkat dari kisah pribadi yang dapat dipetik hikmahnya. Berpesan dakwah. Sangat menginspiratif.

Salah satunya tentang kisah beliau yang memutuskan resign dari profesinya sebagai engineer dan memutuskan menjadi ibu rumah tangga biasa yang ia bagikan dalam postingan berjudul Emak-Emak Mengejar Mimpi

Setahu saya gaji seorang engineer berkali-kali lipat di atas gaji seorang guru honorer dan mbak Rahma bersedia melepaskan karirnya itu hanya demi menjadi ibu rumah tangga yang dampaknya otomatis bakal mengurangi penghasilan keluarganya. Resign dari pekerjaan tentu bukan keputusan yang ringan. Galaunya itu lho. Kegalauan yang juga saya rasakan ketika memutuskan resign dari sekolah tempat saya mengajar demi hijrah ikut suami. Ya, meski kegalauan yang saya rasakan tidak sebandinglah dengan kegalauan yang mbak Rahma rasakan. Mbak Rahma resign dari profesinya sebagai engineer yang begaji besar sementara saya resign dari pekerjaan sebagai guru honorer yang gajinya kalah banyak dengan gaji seorang asisten rumah tangga atau baby sitter.  *eh

Namun terlepas dari masalah besar kecilnya gaji, wanita-wanita muslimah yang berhasil mengalahkan kegalauannya dan memutuskan resign dari pekerjaannya adalah mereka yang telah sampai pada keyakinan bahwa rejeki Allah amat luas. Resign dari pekerjaan sama sekali tidak akan mengurangi jatah rejeki mereka dengan pasangan. Sungguh, rejeki bisa datang kapan saja dan dari arah yang tak disangka-sangka. Bahkan sekali pun mereka hanya tinggal di rumah.

Dan terbukti. Sekarang ini telah bermunculan jenis pekerjaan di rumah yang menghasilkan uang tanpa perlu ke kantor, di luar usaha jualan di rumah. Pekerjaan yang cukup bermodalkan gadget dan kuota internet. Sebut saja bisnis online atau menjadi penulis online. Kedua pekerjaan tersebut tentu bisa menjadi alternatif terbaik bagi muslimah yang selain fokus menjadi IRT tetap ingin berpenghasilan. Muslimah yang punya minat dan bakat di bidang  usaha bisa melirik bisnis online sedangkan muslimah yang memiliki minat dan bakat di bidang menulis bisa menekuni usaha menjadi penulis online khususnya sebagai blogger.

Iya, ternyata blogger merupakan salah satu jenis pekerjaan online dengan penghasilan yang cukup menggiurkan yang nominalnya entahlah saya tidak tahu karena sampai saat ini belum pernah dapat income dari ngeblog, tahunya dari blogger-blogger lain yang telah memonetisasi blognya dengan menerima affiliasi, iklan, sponsorship, ikut lomba blog, dll. Kebanyakan mereka adalah muslimah yang karir utamanya sebagai emak-emak rumah tangga (IRT, red) lho. Keren yaaak.

Kalau blognya mbak Rahma, meski tidak  atau belum dimonetisasi (blog saya juga, hehe) tapi karena berteman di facebook saya jadi tahu, selain fokus berkarir sebagai ibu rumah tangga ia juga terjun di bisnis online dan biasa mempromosikan produk onlinenya di media sosialnya itu. Sementara saya? Eh, skip saja.

Entah mau jadi blogger profesional yang menghasilkan pundi-pundi uang mau pun blogger personal yang menyalurkan hobi menulis dengan topik lifestyle, blogger bisa menjadi alternatif yang tepat bahkan terbaik bagi para muslimah yang tetap ingin produktif sebagai IRT.

Sekarang sudah banyak muslimah yang berkiprah di dunia blogging. Tentu, selain mbak Rahma dengan Rumah Ketjilku, di luar sana masih banyak muslimah-muslimah hebat yang sukses mengembangkan sayap karirnya di rumah dengan menjadi blogger. Yang terus berbagi kebaikan dengan tulisan-tulisan penuh inspirasi sesuai niche masing-masing.

Nah, kamu tertarik pengen jadi blogger yang seperti apa? Yang biasa-biasa saja. Yang sebatas menjadikan blog sebagai diary online. Atau ngeblog hanya untuk mendapatkan penghasilan atau menjadikan blog sebagai ladang dakwah?

Ya, setiap orang sebenarnya bisa menjadi blogger namun tidak semua blogger bisa menginspirasi. Maka sebagai muslimah kita harus punya komitmen, tulis yang baik-baik, bagikan yang baik-baik. Jadilah blogger muslimah yang menginspirasi

Selamat Hari Blogger Nasional 2017

*noted Rumah Ketjilku adalah blog yang menginspirasi saya untuk menjadikan Kamar Kenangan ini sebagai blog yang diisi dengan tulisan-tulisan yang mengandung kebaikan, bukan sekadar curcol semata. Mudah-mudahan tulisan-tulisan saya di blog ini juga bisa menginspirasi kalian.

#ODOPOKT22

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia