Surat Cinta Dari Masa Lalu, Suami Wajib Baca

by - Sunday, December 09, 2018


بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

  Makassar, 04 Desember 2013

Dear Suamiku di Masa Depan

Hai, Bagaimana kabarmu di sana? Kuharap Tuhan senantiasa melindungimu dengan kasih-Nya. Tadinya aku ragu hendak menulis surat cinta ini. Abisnya banyak yang bilang, di era modern ini udah nggak level  nulis surat cinta. Mungkin lebih baik yah, kalau langsung kuungkapkan via bbm, line atau whatsapp atau biar kuumbar saja rasa ini lewat  status di facebook sekaligus pasang tweet? Biar dunia tahu aku sedang belajar mencintaimu lebih dulu sebelum kita bersua di pelaminan

Kau tahu kan,  jarak bukan lagi penghalang, apalagi waktu. Sejauh apapun dirimu berpijak hanya butuh sepersekian detik kala cinta yang tergores lewat tarian tanganku di atas keyboard ini sanggup melesat menempuh ribuan kilo lalu mendarat tepat di matamu. Tapi masalahnya, aku mungkin tak punya nomor hapemu, tak kutemui id mu di line maupun whatsappku, terlebih BBM. Mungkin  kita tidak berteman di facebook, mungkin pula aku bukan followermu di tweet. Jadi, bagaimana caranya, agar rasaku tersampaikan, bila mungkin diantara kita tak pernah terjalin komunikasi, atau mungkin pernah hanya saja?

Baca juga Media Sosia; Before and After Married

Ah, terlalu banyak kata mungkin. Dan teknologi yang terlalu canggih itu  bahkan tak kuasa mempertemukan kita. Dunia maya yang disanjung-sanjung dapat menembus ruang dan waktu pun tak mampu mempersatukan kita. Apa hebatnya coba? Mending kuabadikan rasa yang kupelihara diam-diam teruntuk kau yang ku damba lewat sepenggal surat cinta. Dan nanti, bila kau muncul, aku pasti menunjukkannya, menunjukkan surat cinta ini yang kutulis dengan senyum dan ketulusan.

Teruntuk kau yang kuterka-terka adalah A, B, C, D, M, R atau S. Entahlah, sulit memastikan huruf awal dari namamu yang masih tersembunyi dalam catatan takdir-Nya. Aku tak tahu kapan, dimana dan bagaimana cara Tuhan kan mempertemukan kita, sebab sosokmu masih menjadi rahasia yang hanya terungkap di waktu yang tepat. Bukan detik ini, mungkin  besok, lusa, dua sampai tiga tahun kedepan atau kapan?

Seperti apakah sosokmu? apakah kita pernah bertemu sebelumnya, apa kita pernah berpapasan sesekali atau tidak sama sekali. Kau tahu, aku kerapkali mimpi berjumpa dengan lelaki yang belum pernah kulihat di nyata, aku menangkap bayangannya, namun wajah lelaki itu tampak begitu buram hingga sulit kuterka. Kadang ketika terjaga aku sempoyongan menebak lelaki itu adalah kau, wahai lelaki yang ditakdirkan Tuhan menjadi imam dalam mahligai rumah tanggaku kelak.

Sekarang, aku hanya sedang berusaha memantaskan diri dengan meneguk setetes sabar sembari berikhtiar penuh harap pada-Nya. Tak peduli apa kata orang di luaran sana. Mungkinkah ada yang mengira pilihanku ini adalah sesuatu yang tolol? Memilih sendiri hingga  kau datang tuk menjadikanku halal di mata mereka. Sekali lagi kau, Siapa? kapan? Dimana? Mungkinkah yang terbersit, bagaimana bisa aku berharap sesuatu yang tak pasti, sesuatu yang tak jelas, sesuatu yang mungkin sekadar khayalan?

Tidak, kau bukan khayalku. Kau adalah takdir yang ditetapkan Allah untukku. Allah sendiri yang berjanji  dalam surat cinta-Nya, “lelaki yang baik untuk perempuan yang baik, begitu pula perempuan yang baik untuk lelaki yang baik”. Bukankah jodoh adalah cerminan diri? Baiklah, aku tidak merasa diriku baik, pun tak tahu bagaimana perangaimu. Yang bisa kulakukan hanya berusaha menjadi  pribadi yang baik. Bila aku mendamba jodoh yang baik, aku harus jadi baik dulu, kan? Tapi tentu saja bukan kau yang menjadi alasan. Aku ingin menjadi baik karena itu perintah Rabbku, Rabb kita. Walau tak kupungkiri, aku pun julangkan harap pada-Nya. Semoga Dia sudi mempertemukan kita dalam keadaan yang sama baiknya.

  Dari istrimu di masa mendatang


*note

Tema tantangan hari ke-sembilas ini sebenarnya tentang 10 daftar lagu di playlist tapi karena saya sudah lama tidak dengar music, applikasi pemutar musik di smartphorne pun nehi, so saya pilih tema pengganti saja. Dan kali ini tema pilihan saya jatuh pada menulis surat untuk seseorang (siapapun)

FYI, sepucuk surat yang saya temukan tergeletak di draft Kamar Kenangan ini adalah surat cinta yang sudah saya tulis dari lima tahun lalu, tepatnya empat tahun sebelum bertemu sang jodoh (baca: suami). Kalau pun sekarang, sengaja saya publish biar bisa dibaca sama pemabacakamarkenanganini suami.

Nah, kira-kira apa ya reaksi ayahnya bunay setelah membaca surat cinta ini?😂

You May Also Like

0 comments

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.