Tentang Uang Panaik, Budaya dari Suku Bugis Makassar

by - Sunday, May 12, 2019

Daftar Isi [Tampil]

You May Also Like

26 komentar

  1. Owh jadi begitu y asal usulnya
    Baru tahuu mb
    Logis juga kalau alasanny itu y

    ReplyDelete
  2. Subhanallah... Kalau ngomong budaya memang gak ada habisnya. Tapi lihat sejarahnya, memang gak bisa menyalahkan juga. Keren tulisannya mbak.. ☺️

    ReplyDelete
  3. mbak, masya alloh suoer keren, super ringan dan jadi paham bgt stlh baca tulisan mbak. bagusss!! terima kasih mbak πŸ’• Kurru SumangeπŸ˜πŸ’•(smoga saya tdk salah tulis hehe..makasih pokonya mb).

    ReplyDelete
  4. Makasih Mbak infonya, jadi tahu latar belakang ditetapkannya uang panaik itu 😊

    ReplyDelete
  5. Budaya uang panaik ini apakah masih kuat hingga saat ini?

    ReplyDelete
  6. Ribet juga ya, mbak kalau urusan adat dilihat dari sisi agama. Sebenarnya unik juga ya panaik, menjunjung derajat perempuan, sayang sekali kalau kini maknanya sudah bergeser.

    ReplyDelete
  7. Saya jadi inget cerita temen saya yang maju mundur mau ngelamar anak orang gara-gara uang panaik ini. Waktu saya tanya berapa nominalnya, disodorin daftar harganya bok. Seperti yang mbak bilang, makin tinggi pendidikannya, uang panaik makin tinggi.

    Adem panas banget laki-lakinya. Tapi ya jadinya gitu. Lamaaaaaaa sekali nggak nikah-nikah. Ya ngumpulin uang panaik, ya biayain sekolah adik-adiknya, ya bantu hidupin keluarga yang lain.

    ReplyDelete
  8. pas baca judulnya, kupikir uang panik, berhubungan dengan uang darurat, ternyata uang panaik yang ada kaitannya dengan momentum pernikahan ya mba

    ReplyDelete
  9. Jadi tahu sejarahnya, pernah dengar sih, kalau menikahi Wanita Bugis memang maharnya enggak sedikit. Ternyata awalnya dari zaman Belanda. Memang ada dua sisi penilaian, dari segi budaya dan agama. Btw, moga pernikahannya langgeng, ya, Mbak.

    ReplyDelete
  10. lengkap dan informatif banget mbak... saya baru tau istilah panaik... setiap budaya memiliki makna tersendiri ya

    ReplyDelete
  11. Baru tahu soal uang panaik ini mba. Kalau tradisi di kampungku si, bawa segala barang2 perabotan rumah dari sofa, lemari, peralatan dapur dan lainnya. Jika diuangkan bisa habis 50jt. Tapi sekarang zaman sudah berubah, tradisi tidak begitu dijalankan yang penting sudah memenuhi syarat sesuai ajaran islam.

    ReplyDelete
  12. Baru tau soal adat uang panaik ini. Makasiy tulisannya mba

    ReplyDelete
  13. Saya teringat dulu teman saya yg dari Makassar juga pernah cerita soal uang panaik ini, tapi enggak banyak, dan kami juga topiknya loncat2 gitu. Sekarang jadi makin tahu asal usulnya gimana.
    Kalau di Sumatera Barat, ada juga yg seperti ini. Di Sumbar sendiri pun bahkan ada beberapa perbedaan budaya (untuk daerah Minangkabau, kalau yg Kep Mentawai saya belum banyak paham). Di daerah pesisir seperti Pariaman itu justeru laki2nya yang "dibeli" oleh perempuan. Lain lagi dengan daerah darek seperti Payakumbuh, perempuanlah yang mendapatkan pemberian dengan istilah "maanta sasuduik" (menghantar barang2 kebutuhan rumah tangga seperti perabot dll). Kalau "membeli laki2" di Pariaman itu juga berdasarkan gelar, pendidikan, dsb (status sosial). Gimana kalau perempuan Payakumbuh menikah dengan laki2 Pariaman? Ada filmnya: Salisiah Adaik (wah jadi promosi, tapi ini bukan saya yg garap. Untuk lebih paham aja kalau mau hehe). Tapi, sebelum menikah itu kan ada musyawarah dan mufakat dg ninik mamak (kalau di minang), dan semua dibahas di situ untuk menjari jalan yg terbaik.
    <3

    ReplyDelete
  14. Panaik dari satu sisi untuk menaikkan derajat perempuan. Dari sisi lainnya agak menberatkan bagi yg gk mampu y mb? Hihi...menentukan nilainya dilihat dari status pendidikan seorang perempuan. Tp sdh jd budaya jd sulit untuk menghilangkan y? Yg gk mampu klu gk salah pernah dgr kawin lari atau silariang kmudian datang baik. Ada budaya sirri dll. Wah bnyk ya kaitannya. Btw tulisan mb lengkap n detil. Thx yaa...jd thu infonya ttg panaik.

    ReplyDelete
  15. Saya baru tau tentang adanya uang panaik ini. Kakak ipar saya orang Makasar, ketika menukahkan anak laki-lakinya harus menyerahkan sertifikat tanah yang dibelikan untuk si wanita. Untung tanahnya di kampung, jadi nggak semahal du Jakarta. Menurut saya yang keliru adalah jika uang panaik ini digunakan sebagai alasan oleh keluarga wanita untuk mempersulit upaya melamar dari seorang lelaki yang baik dan soleh pilihan anaknya, karena dianggao tidak sepadan dengan keluarga si wanita.

    ReplyDelete
  16. baru tahu ada uang panaik ini sis, dan nominalnya wow banget yaaa...kasihan kali kalau yang pihak cowo bukan keluarga yang berada. Kalau di Jawa, nggak ada kayak begitu. Paling kasih seserahan aja berupa barang barang macam tas, perhiasan dll tapi nggak ditentukan nominalnya berapa.

    ReplyDelete
  17. x: pacarmu orang apa, mas?
    Y: orang Bugis mas.
    X: waduh, namanya siapa?
    Y: Andi Tenri bla bla bla
    X: waduh.. dia sarjana?
    Y: iya, sekarang udah mau selesai S2
    x: waduh... sudah haji?
    Y: udah dua kali ke tanah suci katanya mas
    X: waduh... selamat ya mas. yang tabah dan kencang berdoanya

    *sebuah fragmen yang terinspirasi dari kisah nyata*

    ReplyDelete
  18. Wah... Mamanya Siska udah wanti-wanti soal uang panai sebelum Siska menikah ya? Haha...

    Kalo saya dan ortu malah gak pernah ada pembicaraan sama sekali soal itu.
    Waktu dilamar sama camer pun, camer cuman bisikin ortu, dan ortu saya langsung mengangguk, heheee...

    ReplyDelete
  19. Sungguhlah memang masalah uang panaik ini.. Saya juga perempuan bugis belum nikah dan semoga nanti tidak ada masalah soal pembicaraan uang panaik ini.. hihihi agak ngeri juga sih kalau nanti akan dipersulit.

    ReplyDelete
  20. Kalau jodoh sudah ditentukan olehNya, panaik mah urusan lain kak hihihi... Kata teman saya, Jodoh di tangan Tuhan, Panaik di tangan dewan tante wkwkwkwk

    ReplyDelete
  21. Alahamdulillah lolosma saya dari uang panaik, sudah laku dengan bahagia hihi... Kalo Bugis - Makassar bahkan bukan sekedar uang panaik saja, tapi ada dibilang sunrang. Kalau uang panaik untuk belanja, sebenarnya ini sama saja di jawa pun ada uang belanja, di sumatera pun ada tapi buat laki-laki untuk nilai bukan masuk dalam syarat. Tapi kalo sunrang nilainya bisa lebih jauh dari uang panaik. Sunrang itu tanda hormat berdasarkan status soasial.

    ReplyDelete
  22. Memang ribet ya urusan panaik ini. Tapi sebenarnya yg moderat, tidak mempersoalkannya juga sudah lebih banyak.

    ReplyDelete
  23. Kalo bicara soal uang panaik, sebenarnya sukuku sendiri menganut budaya uang panaik ini sih kak. Secara sukuku itu Bugis Bone. Tapi setelah belajar agama, terutama maceku sendiri malah bilang ke saya nanti kalo saya menikah nda usah pake tradisi uang panaik. Deh kak, jujur senang bangetka dengar ini perkataan keluarki dari mulutnya maceku. Justru dia akan permudah kalo ada memang laki-laki mau seriusika.

    Nah, masalahnya lelaki itu belum muncul. Jadi gimana dong kak? Haha, maafkanka kak ujung-ujungnya jadi curhat. :D

    ReplyDelete
  24. Bicara uang panai mmf tdk ada habisnya hemmm. Ksian yg mau nikah tp uangnya blm cukup2 juga padahal sudah lama saling sama

    ReplyDelete
  25. Uang panaik, salah satu momok menakutkan bagi laki-laki yang berniat melamar gadis Bugis Makassar. Tapi betul itu, kalau jodoh akan selalu ada jalan yang memudahkan.

    Saya jadi ingat candaan yang belakangan ini, waspada memang mi para cowok sekarang makin bertambah mi panaik ka adami juga mukena syahrini yang harganya jutaan :))

    ReplyDelete
  26. Patokan itu ada karena dasar "Prestidge", harusnya kan uang panaik diperuntukkan sebagaimana peruntukannya, yaitu kebutuhan pesta dan modal pasangan untuk menjalani hidup kedepannya. Jadi harusnya tidak usah diberi patokan nilai. hihi.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.

Iklan Billboard (Ads)