Ibu Hamil dengan Mata Minus Tinggi, Bisakah Melahirkan Normal?

by - Saturday, September 07, 2019



Bismillaahirrahmaanirrahiim

Ibu Hamil dengan Mata Minus Tinggi, Bisakah Melahirkan Normal? Jujur saja saya sempat galau segalau-galaunya waktu menjalani kehamilan anak pertama. Bagaimana tidak? Usia kehamilan saya telah memasuki pertengahan trimester tiga namun kepastian terkait proses persalinan saya nantinya sungguh masih abu-abu. SC atau normal?

Of course, seperti keinginan ibuk-ibuk pada umumnya, saya pun ingin menjalani persalinan normal namun mengingat kondisi mata saya yang nggak memungkinkan, saya jadi ragu. Kata orang-orang bumil dengan mata minus itu berisiko melahirkan normal. Bukan cuma kata orang-orang saja sih, dari pihak medis juga banyak yang tidak menganjurkan ibu dengan mata minus untuk menjalani persalinan normal.

Thats why, mama sempat khawatir dan menyarankan saya agar memilih persalinan secara SC saja. Beliau bahkan sudah mewanti-wanti saya dari akhir trimester dua pasalnya saat itu ada kerabat  yang anaknya terpaksa melahirkan secara SC karena mata minus. Kata mama, dokter obgyn yang menangani anak kerabat tersebut nggak mau ambil risiko karena bila dipaksa melahirkan normal bisa menyebabkan kebutaan.

Oke, siapa juga yang mau menempuh persalinan normal kalau risikonya seperti itu. Mending pilih jalur aman, daripada setelah lahiran nggak bisa lihat bayi yang selama sembilan bulan lamanya kita kandung, ya kan?

Well, sebenarnya saya juga sudah sering dengar desas-desus di luar sana, kalau ibu hamil dengan mata minus sangat rentan melahirkan secara normal. Makanya pas tahu hamil, saya juga nggak terlalu berharap tinggi bakal bisa menempuh persalinan yang diidam-idamkan kebanyakan perempuan. Apalagi mama juga ikut mewanti-wanti saya agar tidak usah melahirkan normal. Makin pasrahlah saya dengan keadaan.

Yowes, nggak papa SC, yang penting saya dan bayi saya selamat. Begitu pemikiran yang sempat terlintas di benak saya kala itu.

Etapi semenjak doyan stalking akun @bidankita, pemikiran saya sekonyong-konyong teracuni. Saya yang tadinya nyaris pasrah dengan keadaan mulai kembali memupuk harap. Terlebih setelah saya curcol terkait kegalauan saya dalam menghadapi persalinan dengan kondisi mata saya yang minus pada bidan Yessie, owner @bidankita via dm instagram.

Kata bidan Yessie, bumil dengan mata minus tidak harus SC. Yang penting berdayakan diri.

Yup, tanggapan bidan Yessie cuma itu, memang singkat tapi benar-benar mengena, bikin saya jadi semangat mau melahirkan normal.

Baca juga Beginikah Rasanya Hamil (Trimester Tiga)


Mengapa Ibu Hamil dengan Mata Minus Tinggi Berisiko Melahirkan Normal?

infografis : tirto.id
Berdasarkan beberapa referensi yang saya baca, sebenarnya bukan mata minus yang dapat menimbulkan risiko kebutaan bagi ibu hamil yang ingin melahirkan normal, melainkan kondisi retina mata yang sudah tipis. Itulah sebabnya saat saya periksa di poliklinik mata RS Awal Bross, dokter yang menangani hanya mengecek kondisi retina mata saya, bukan minusnya.

Padahal waktu itu saya cuma bilang ke dokternya, tidak lama lagi saya bakal menjalani persalinan dan ingin periksa untuk memastikan apakah kondisi mata ini memungkinkan saya untuk melahirkan normal atau tidak. Yah, walau ujung-ujungnya si dokter specialis mata yang menangani saya saat itu tidak memberi kesimpulan maupun rekomendasi apa-apa.

Beliau hanya memberitahu hasil pemeriksaannya, bahwa selaput retina saya telah mengalami penipisan baik mata di sebelah kiri maupun kanan. Untuk masalah persalinan, sebaiknya dokter kandungan ibu saja yang menentukan, begitu kira-kira kata beliau yang merasa tidak berhak mengambil keputusan mengenai persalinan yang akan saya jalani.

Duh, piye iki? Kalau selaput retina mata saya memang sudah tipis seperti yang diberitahukan dokter, berarti sebaiknya saya menjalani persalinan secara SC saja, lebih aman. Namun karena dokter matanya juga nggak kasih rekomendasi  untuk disampaikan ke dokter obgyn, jadinya suami tetap optimis saya bisa lahiran normal.

Saya pengen jelasin baik-baik ke suami mengenai apa yang mengganggu pikiran saya sepulang dari periksa mata, eh malah dianggap pesimis. Padahal saya nggak bermaksud pesimis, cuma khawatir dan saya rasa itu wajar.

Toh, saya juga mau kok bisa lahiran normal tapi kata dokter selaput mata kiri dan kanan saya sudah mengalami penipisan. Jelas, saya jadi ragu dong. Apakah dengan kondisi mata seperti itu saya benar-benar bisa menjalani persalinan normal dengan baik dan lancar tanpa menimbulkan risiko belakangan seperti robekan retina atau retina lepas yang akhirnya menyebabkan kebutaan?

Untuk lebih jelasnya terkait hal ini, saya akan kutip penjelasan dari dr Referani Agustiawan, SpM. Dilansir dari situs okezone.com, menurut dr Referani, gangguan mata yang biasa terjadi saat kehamilan ada dua jenis yaitu ablasio eksudatif (retina lepas) dan ablasio regmatogen (retina sobek). Ablasio retina eksudatif biasanya terjadi pada bumil yang menderita preklampsia (tekanan darah tinggi), sededangkan ablasio retina regmatogen ini yang dapat terjadi pada orang yang memiliki rabun jauh atau mata minus.

Nah, risiko terjadinya robekan pada retina atau ablasio regmatogen memang lebih besar pada mata dengan minus tinggi. Kriteria minus tinggi adalah di atas 6 dioptri ada juga yang bilang di atas 8 dioptri. Namun yang perlu diingat, robekan retina pada dasarnya dapat terjadi pada semua orang, tidak hanya pada orang yang memiliki mata minus. Tapi, memang robekan retina lebih rentan terjadi pada mata minus tinggi.

Itulah alasan mengapa ibu dengan mata minus tinggi berisiko melahirkan normal. Karena robekan retina memang sangat rentan terjadi pada ibu dengan mata minus tinggi. Apalagi yang kondisi matanya seperti saya, termasuk minus tinggi dan setelah dicek juga ternyata hasilnya memang benar, kedua selaput retina mata saya telah mengalami penipisan sehingga robekan retina sangat mungkin terjadi.

Namun apakan benar, ibu hamil dengan mata minus tinggi tidak bisa melahirkan normal?

Benarkah Ibu Hamil dengan Mata Minus Tinggi Tidak Bisa Melahirkan Normal?


gambar : produktiensonline.com
Kalau saya jawab berdasarkan pengalaman pribadi, jelas tidak benar alias hoax, hehe. Faktanya ibu hamil yang kondisi matanya minus tinggi kayak saya ditambah silinder bahkan sudah divonis juga sama dokter SpM kalau kedua selaput retina mata saya telah tipis bisa menempuh persalinan normal. Risiko yang sempat saya khawatirkan itu pun tidak terjadi. Lho, kok bisa? Gimana ceritanya?

Oke, kita skip dulu soal pengalaman saya berhasil melahirkan normal sekalipun dengan kondisi mata yang minus tinggi dan retina yang sudah tipis. Sekarang mari kita lihat jawabannya dari pandangan para ahli.

Dilansir dari hallosehat.com, anggapan bahwa wanita hamil yang punya mata minus tidak boleh melahirkan normal tidak pernah terbukti secara medis. Tidak ada cukup bukti ilmiah yang mampu membuktikan bahwa tekanan kuat yang terjadi saat ibu hamil mengejan bisa merusak retina mata.

Mengejan (ngeden) memang membutuhkan banyak tenaga dan dapat menimbulkan ketegangan berat. Hal ini diyakini bisa meningkatkan tekanan pada otot-otot perut, dada, dan mata. Tekanan besar inilah yang dikhawatirkan dapat memicu lepas atau robeknya retina mata.

Sebuah penelitian terbitan jurnal Graefe’s Archive for Clinical and Experimental Ophthalmology tidak menemukan adanya masalah pada retina mata yang muncul ketika ibu hamil bermata minus melahirkan secara normal. Penelitian ini dilakukan dengan mengamati 10 wanita yang mengalami penurunan gangguan penglihatan tertentu sampai yang memang memiliki riwayat ablasio retina.

Berdasarkan penelitian di Polandia tahun 1996 mengenai hubungan antara myopia tinggi dengan cara persalinan, ternyata tidak didapatkan hubungan bermakna antara robekan retina dengan cara melahirkan.

Penelitian lain di Rusia tahun 2003 dengan mengukur tekanan intraokular dan hemodinamik bola mata, didapatkan bahwa pada penderita myopia tinggi dapat melahirkan secara normal.

Hasil penelitian di atas pun sesuai dengan pernyataan dr Referani via okezone.com, yang mengatakan tak perlu khawatir, bumil dengan mata minus pun masih tetap dapat melakukan persalinan secara normal. Pasalnya, risiko robekan retina tidak berhubungan dengan aktivitas mengejan baik saat melahirkan maupun buang air besar (BAB). Robekan retina dapat terjadi akibat benturan di kepala maupun di mata.

Hal senada juga dikatakan dr Yahya Darmawan, SpOG dari RS Graha Kedoya Jakarta. Menurut beliau, wanita bemata minus dapat melahirkan secara normal asalkan sebelumnya diperiksakan dulu kondisi retinanya.

Jadi berdasarkan pengalaman saya sendiri dan juga hasil beberapa penelitian, jelas ya ibu hamil dengan mata minus tinggi bisa kok melahirkan normal. Bukan cuma saya saja lho, karena sebelum memutuskan untuk melahirkan normal saya sempat cari tahu info dan menemukan ternyata banyak ibu yang kondisi matanya sama seperti saya, bahkan ada yang lebih parah tapi bisa menjalani persalinan normal.

Oya, waktu itu saya juga sempat share kegalauan terkait persalinan yang akan saya hadapi nantinya di feed IG @siskadwyta dalam rangka ikut giveaway yang diadakan @bidankita.



Tak disangka, karena postingan tersebut, saya jadi kebanjiran dm dari beberapa ibu hamil yang juga merasakan kegalauan serupa. Bukan kebetulan pula, ada yang hplnya berdekatan dengan saya. Karena merasa senasib segalauan hehe, kami jadi saling menyemangati buat ikhtiar normal via dm.


Dan saat lahiran ternyata . . .


Alhamdulillaah bisa sama-sama melahirkan normal even dengan kondisi mata minus


Tips Melahirkan Normal untuk Ibu Hamil dengan Mata Minus Tinggi

Pasca melahirkan, saya juga masih sempat menerima dm dari ibu-ibu hamil dengan mata minus yang mengalami kegalauan seperti yang saya alami saat hamil dulu. Lewat dm itu mereka pada curcol, mencurahkan kegalauannya.




Well, saya tahu benar bagaimana berada dalam posisi itu karena saya pun pernah merasakannya. Bahkan ada yang punya kondisi mata serupa dengan saya. Minus tinggi dan retina sudah tipis. Hanya saja bedanya, dokter mata yang saya datangi nggak kasih rekomendasi, dokter mata yang menangani si Mbak ini malah sebaliknya. Oleh dokter matanya itu dia gak direkomendasikan buat lahiran normal, sehingga dokter obgynnya yang sebelumnya pro norma jugal jadi ikut-ikutan nggak rekomen karena khawatir akan risikonya.

Nah, kalau kasusnya seperti si Mbak ini, saya nggak berani berkomentar panjang lebar, apalagi kasih tips macem-macem. Pasalnya, saya pun bukan ahli mata maupun ahli kandungan. Yang bisa saya lakukan ya cuma sharing pengalaman saya waktu lahiran normal dengan kondisi mata minus tinggi.



Namun masalahnya lagi suaminya juga sudah keburu takut dan pasrah duluan. Entahlah gimana reaksi suami saya kalau misalkan dokter mata yang saya datangi dulu juga nggak ngasih recomended buat lahiran normal. Apakah reaksinya bakal sama dengan suami si Mbak ini atau tetap optimis istrinya bisa lahiran normal even dokter mata menvonis saya harus SC.

Entah keputusan apa juga yang bakal diambil oleh dokter obgyn saya, ikut rekomendasi dari dokter mata atau mengambil keputusan sendiri? Mengingat waktu saya datang kembali untuk konsultasi, beliau sama sekal tidakitertarik ingin tahu apa hasil cek up mata saya. Bahkan saya tidak pergi periksa mata pun sebenarnya tidak masalah bagi beliau.

So, kalau ditanya tips melahirkan untuk ibu hamil dengan kondisi mata minus tinggi itu apa-apa saja, saya cuma bisa ngasih tipsnya berdasarkan pengalaman pribadi dan kondisi yang saya hadapi saat itu.

Salam,

@siskadwyta

Referensi :




You May Also Like

1 comments

  1. wahh terimakasih atas sharingnya.

    Saya belum menikah, tapi nanti waktu sudah menikah pasti tetep butuh info info kayak gini karena mata saya skrg minusnya udah lumayan ^^

    Emang kalau sama yang "katanya katanya"itu harus dicek lebih jauh lagi ya, nggak asalh terima informasi :D

    Senang deh tau fakta ini, semoga nanti jg bisa lahiran normal kalau udah nikah dan mau punya anak :D

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.