Stop Body Shaming! Begini Cara menghadapinya

by - Saturday, February 22, 2020

Cara menghadapi body shaming
Gambar : deccanherald.com
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Cara menghadapi body shaming - Belum lama ini ada kasus seorang pria di Banyuwangi yang membunuh dan membakar teman kerjanya sendiri. Setelah diselidiki oleh pihak kepolisian ternyata motif dibalik tindakan kejam tersebut karena si pelaku merasa sakit hati dan dendam akibat sering diolok-olok gendut di hadapan banyak orang. 

Motif pembunuhan yang kedengarannya sepele ya. Kenapa hanya karena sering diejek gendut, si pelaku sampai tega menghabisi nyawa teman kerjanya itu. Apa karena si pelaku mengidap kelainan jiwa? Padahal paling si korban cuma bercanda saat memanggil pelaku gendut, bukan bermaksud mengejek. Lagipula memanggil seseorang dengan sebutan sesuai ciri fisiknya sudah menjadi hal yang biasa di negeri ini, kan? 

Justru itulah masalahnya. Karena sudah terbiasa memanggil seseorang dengan julukan seperti si gendut, si kurus, si botak, si pesek, badak, gajak, kutilang dan lain sebagainya, kamu menganggap hal itu wajar. Oke wajar bagi kamu tapi tidak bagi mereka yang dijuluki. Setidaknya hal seperti ini bukan masalah yang sepele bagi mereka yang kerap menjadi korban body shaming.

Baca juga Mom Shaming dan Depresi Paska Melahirkan, Apa Hubungannya?

Apa itu Body Shaming?

Gambar : kabar-24.bisnis.com
Body shaming adalah perilaku mengkritik atau berkomentar negatif terkait fisik atau tubuh sendiri maupun orang lain. Even maksudnya cuma bercanda, menganggap itu sebatas lelucon atau sekadar basa-basi, tetap saja ketika kamu menjuluki seseorang atau mengomentari fisiknya secara negatif itu sudah termasuk body shaming. 

Bahkan ketika kamu mengomentari tubuh sendiri saat menatap cermin, "kok aku kelihatan gemuk sekali ya?" Lalu membandingkan tubuhmu dengan tubuh orang lain, itu jatuhnya juga sudah body shaming.

Perilaku mengkritik atau mengejek fisik seseorang memang terkesan sepele namun akibatnya sangat fatal bagi kehidupan seseorang. See! Pria bertubuh tambun di Bayuwangi ini sampai nekat membunuh sekaligus membakar mayat teman kerja yang sering memanggilnya "gendut-gendut boboho". Ngeri ya, dampaknya kok bisa sampai sefatal itu.

Apa Dampak Body Shaming?

Gambar : suaramerdeka.com
Body shaming termasuk jenis perundungan secara verbal yang menyerang fisik orang lain atau diri sendiri. Sama halnya seperti kasus perundungan lain, body shaming juga dapat mempengaruhi kesehatan mental. Terutama bagi kaum perempuan yang notabene sangat memperhatikan penampilan fisiknya.

As we know, kebanyakan orang mengukur standar kecantikan dari bentuk fisik yang langsing, tinggi, putih, berhidung mancung, dan berambut lurus. So that orang yang tidak masuk dalam kategori tersebutlah yang kerap mendapat ejekan. Seperti si Rara dalam film Imperfect. Hayoo siapa yang sudah nonton film yang tokoh utamanya diperankan oleh Jessica Mila ini? Saya belum sih, hehe baru sempat liat trailer dan baca ulasannya yang mengandung spoiler *eh jadi tahu kalau film terbaru dari Ernest Prakoso ini mengangkat isu body shaming yang kerap dialami kebanyakan perempuan.

Bagi yang sudah nonton filmnya tentu tahu dampak apa yang dialami Rara akibat body shaming. Mulai dari munculnya rasa minder alias tidak percaya diri hingga berusaha untuk memenuhi standarisasi kecantikan menurut kebanyakan orang dengan melakukan segala cara. Seperti melakukan diet secara ekstrim yang tentunya dapat mempengaruhi kesehatan tubuh atau ada pula yang sampai rela melakukan operasi plastik demi memenuhi tuntutan kecantikan di mata masyarakat. 

Selain itu, para korban body shaming juga bisa mengalami stres bahkan depresi yang berujung pada tindakan memilih untuk bunuh diri atau membunuh pelaku yang kerap mem-bully fisiknya. Kasus orang yang kehilangan nyawa akibat body shaming sudah banyak terjadi lho dan masalah ini tidak bisa lagi dianggap sepele.

Baca juga Agar Depresi Tak Berujung Bunuh Diri

Bagaimana cara menghadapi body shaming?

Gambar : sketsaunmul.co
Tentu, tidak ada orang yang ingin mendengar komentar negatif mengenai penampilan fisik mereka tapi kenyatannya kita tidak bisa mengontrol ucapan dan perilaku orang-orang di sekitar. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengendalikan cara kita dalam menanggapi komentar negatif tersebut. 

Apalagi body shaming memang memiliki dampak yang buruk bagi korbannya but least dengan mengetahui cara yang tepat untuk menghadapi perilaku yang kerap menyudutkan fisik ini dapat menghindarkan seseorang dari rasa minder bahkan depresi yang berujung kematian. 

Untuk itu body shaming harus dihadapi dengan cara yang elegan tanpa emosi. Berikut beberapa cara yang bisa kamu lakukan ketika menghadapi body shaming :

Hadapi dengan santuy, jangan tersulut emosi

Saya tahu menghadapi orang yang berkomentar negatif terkait fisik atau penampilan tubuh kita tidaklah mudah, tapi cara ini harus kamu lakukan. Jangan langsung tersulut emosi karena bisa jadi kamu pun akan menanggapi komentar tersebut dengan melakukan body shaming pula.

Untuk itu, ketika ada yang mengejek fisikmu baik itu keluarga, teman maupun kerabat berusahalah tetap bersikap santuy. Cobalah untuk lebih rileks menghadapi pelaku body shaming dengan menarik nafas dalam-dalam lalu agar obrolan tidak mengenakkan itu berlanjut segeralah alihkan topik. 

Abaikan komentar orang lain yang mengarah pada body shaming

Akan selalu ada orang yang berkomentar negatif terkait penampilan kita. Entah itu tujuannya sekadar bercanda, basa-basi, atau benar-benar ingin memojokkan. Apapun alasannya, sebaiknya memang tidak perlu ditanggapi dengan serius.

Saya tahu cara ini juga tidak mudah, apalagi bagi kaum hawa yang mudah baper kayak saya, hehe tapi cobalah renungkan, apa gunanya menanggapi bully-an orang-orang yang selalu merasa fisik atau penampilannya jauh lebih baik. Buang-buang energi saja, bukan?

Jadi daripada menanggapi komentar mereka yang dampaknya justru membuatmu terpuruk sampai benci dengan diri sendiri mending bersikaplah acuh. Anggap saja angin lalu, tidak usah peduli dengan omongan mereka.

Terima kekurangan dan cintai diri

No body is perfect. Tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing, termasuk mereka yang hobi mengejek. Mungkin mereka hanya lupa "bercermin" saat berkomentar negatif terkait penampilan fisikmu. Tapi apa gunanya juga bersikap acuh kalau kamu tidak bisa menerima kekurangan yang ada pada dirimu.

Maka cara terbaik menghadapi body shaming adalah dengan mencintai diri sendiri. Tentu akan lebih mudah mencintai diri ketika kamu sudah bisa menerima kekurangan pada fisikmu. Lagipula masih banyak orang di luar sana yang terlahir dengan fisik cacat, lalu mengapa kamu harus merasa minder dengan anggota tubuhmu yang lengkap?

Memiliki hidung pesek, badan gemuk atau terlalu kurus, kulit hitam maupun rambut keriting bukanlah hal yang negatif. Kamu tidak perlu malu hanya karena memiliki tubuh yang tidak sesuai standar kecantikan menurut kebanyakan orang. Akan lebih baik jika kamu bisa mencintai dirimu dan mensyukuri bagaimanapun kondisi tubuhmu.

Balas body shaming dengan menunjukkan prestasi

Tak dimungkiri body shaming dapat memicu korbannya melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Itu pun karena korbannya menyimpan dendam lalu melampiaskannya dengan cara yang negatif. 

Namun tentu, kamu bisa memilih membalas dengan cara yang lebih elegan. Air tuba tidak harus selalu dibalas dengan air tuba, bukan? Alih-alih membalas dengan hal yang merugikan diri sendiri, balaslah dengan menunjukkan kelebihan. Tunjukkanlah bahwa kekurangan yang ada pada dirimu bukan penghalang bagimu untuk berprestasi.

Mengenai hal ini ada video yang menarik sekali yang bisa kamu jadikan pelajaran.


Ungkapkan rasa tidak nyaman dengan jujur

Ada kalanya kamu juga perlu bersikap jujur. Jangan biarkan hal yang membuatmu merasa tidak nyaman itu terus berlarut-larut. Daripada menyimpannya sebagai sebuah dendam lebih baik kamu ungkapkan saja dengan jujur.

Seperti contoh kasus di atas, kalau memang si pria bertumbuh tambun dari Banyuwangi ini tidak suka dipanggil gendut oleh rekan kerjanya, dia bisa saja memilih mengungkapkan ketidaksenangannya dipanggil dengan sebutan tersebut. 

Kalaupun sudah jujur tapi masih sering mendapat perlakukan body shaming maka akan lebih baik bila ia meninggalkan lingkungan yang membuatnya semakin terpuruk itu. Setidaknya dengan begitu ia tidak akan sampai melakukan tindakan kriminal yang membuatnya kini harus mendekam di penjara.

Ubah mindset, jangan suka membandingkan

Cantik itu relatif lho. Jadi meskipun menurut sebagian besar orang standar kecantikan itu dinilai dari hidung yang mancung, rambut yang lurus dan tubuh yang langsing serta kulit yang putih mulus, kamu tidak harus berpikiran serupa. Terserah apa kata orang, be your self!

Hilangkan stereotip bahwa orang-orang dengan fisik tertentu harus mengikuti pola hidup tertentu. Misalnya orang yang kurus didorong untuk makan lebih banyak atau orang yang gemuk didorong untuk berolahraga dan diet. Hindari membandingkan gaya hidupmu dengan orang lain.

Cobalah untuk berpikiran terbuka. Ubah pola pikirmu. Kamu tidak harus bersusah payah mengubah penampilanmu demi memenuhi standar kecantikan di mata orang-orang. Lagipula kecantikan sejati itu terpancar bukan dari luar tapi dari dalam dirimu. So, be your self! 

Bijak menggunakan media sosial

Last but not least, body shaming kini semakin marak pun tidak mengenal ruang dan waktu karena kita hidup di zaman serba medsos. Dimana orang-orang dengan mudah dan seenaknya berkomentar di lini masa tanpa memikirkan dampak negatif dari komentarnya itu.

Sudah banyak lho kasus orang-otang yang bunuh diri karena perundungan yang mereka dapatkan via media sosial. So far, saat ini tantangan menghadapi body shaming sebenarnya jauh lebih berat, karena terlontar bukan hanya dari bibir melainkan juga jemari. Kita pun tidak bisa mengontrol jemari para netizen untuk cukup berkomentar yang baik-baik saja. Oleh sebab itu jangan lupa untuk tetap bijak menggunakan media sosial.

Baca juga Ayo Lawan Hoaks dengan Bijak Menggunakan Media Sosial

Itulah beberapa cara yang bisa kamu lakukan ketika menghadapi komentar negatif terkait penampilan atau tubuhmu. Intinya setiap orang terlahir dengan tubuh yang unik dan itu harus disyukuri bukannya malah di-bully. Lantas bagaimana jika tanpa sadar kamu sendiri pernah dan atau menjadi pelaku body shaming?

Yah, yang penting sekarang kamu sudah tahu body shaming merupakan perilaku yang tidak baik dan bisa berdampak buruk bagi dirimu maupun orang lain yang kamu komentari fisiknya. Jangan sampai lho ada orang yang menyimpan dendam gara-gara komentarmu yang tidak terkontrol, sekalipun maksud kamu cuma bercanda, tapi hati orang siapa yang bisa menebak. 

Tidak semua orang bisa menanggapi candaamu dengan candaan pula. Kalau kamu bercanda terkait fisik dengan orang yang suka bercanda pula mah nggak masalah, tapi kalau bercandanya sama orang yang seriusan itu bisa fatal. Ingat, mulut dan jemarimu adalah harimaumu. Apalagi sekarang ini sudah ada UU  ITE lho yang mengatur tentang body shaming.


Gambar : Fimela via doripos.com
Jadi kalau ada yang melakukan body shaming khususnya di media sosial akan dikenai pasal 27 ayat 3 ITE dengan sanksi penjara paling lama empat tahun dan atau denda paling bangak 750 juta. Duh, sanksinya berat banget ya so, masih berani berkomentar yang merendahkan penampilan atau fisik orang lain?

Satu lagi yang perlu diingat, jika kita menghina atau mengomentari negatif fisik seseorang maka itu sama saja kita menghina ciptaan Tuhan. Kuy, sekian dulu postingan saya terkait cara menghadapi body shaming, postingan ini juga sekaligus jadi reminder buat diri saya pribadi.

Oya, postingan dengan topik body shaming ini adalah postingan collab perdana saya dengan Kak Diah Alsa๐Ÿ˜ Mamak-mamak yang aktif ngeblog pasti kenal dong ya dengan mamak dari 3F ini. Apalagi kak Diah juga sudah lama ngeblognya. Bayangkan dari tahun 2006 dan sampai sekarang masih produktif ngeblog, keren ya? Eh atau kalau kamu belum kenal dengan mamak dari Faraz, Fawwaz dan Faiz ini bisa segera meluncur ke www.diahalsa.com. Jangan lupa baca juga postingan kak Diah Tentang Body Shaming

Eniwei, sampai jumpa di collab bulan berikutnya dengan topik yang tidak kalah menarik๐Ÿ˜‰

Salam,

You May Also Like

33 comments

  1. Kebiasaan membanding-bandingkan itu tidak baik. Soalnya sejak kecil orang tua banyak yang suka membandingkan-bandingkan. Entah dirinya, anaknya dengan anak orang lain, atau antar anaknya sendiri diperbandingkan. Kalo datang neneknya, tantenya, sepupunya, eh begitu juga. Sedih.

    ReplyDelete
  2. Sebelum menerima kekurangan dan menerima diri apa adanya tentunya orang butuh perjuangan menuju ke sana. Semoga korban body shaming bisa semakin tangguh dengan adanya tulisan - tulisan seperti ini.

    ReplyDelete
  3. Waktu masi kecil kayaknya ga terlalu dalam sakitnya ketika di ejek, tp pas dah gede justru baperan hehe
    Stop body shamming, kasian

    ReplyDelete
  4. Nah loh, body shaming skrg ada hukum pidana nya ya. Jd harap lebih bijak lg bersosmed ataubahkan bercandaan lanhsung dgn teman2.

    ReplyDelete
  5. Bagi orang yang suka membully, mau kita berprestasi setinggi apa pun, tetap aja ada celah untuk melakukan body shaming. Aku sih memilih jaga jarak dengan orang seperti itu.

    ReplyDelete
  6. Body shaming ini seringnya memang terkesan becanda, tapi efeknya sangat diluar perkiraan bagi sebagian orang.
    Memang harus dari sendiri yg harus lebih kuat menangkalnya.
    Saya dr kecil juga termasuk yg dipanggil aneh2. Tapi anggap aja itu tanda perhatian mereka pada tubuh saya.

    ReplyDelete
  7. Saya juga pernah kena body shaming. Pernah dibilang, "ih kamu kurus banget, kayak yang gak dikasih makan sama suami kamu", pernah juga dibilang "kamu gendut ya", dll. Cape lah kalau harus nanggepin orang yang hobinya ngejekin fisik. Pas lagi kurus dibilang terlalu kurus, pas gendut dibilang kegendutan. Jadi saya mulai menetapkan standar untuk diri saya sendiri saja, yaitu sehat. Bahkan saya nyampe beli timbangan biar bisa tenang, jadi kalau ada yang bilang kurus atau gendut, tinggal cek dan jadi tenang saat timbangan menyatakan berat badan saya masih normal ko. Standar sehat atau nggak yang saya pake bisa meredam rasa rendah diri saat ada orang lain nyinyir tentang fisik. I love my self. Maka saya akan berusaha menjaga tubuh saya agar tetap sehat. Abaikan nyinyiran mulut2 yang kurang beradab dalam menjaga lisannya. Dan biasanya memang yang suka nyinyir itu gak berkaca pada dirinya sendiri. Hihihi. Tapi saya suka menunjukkan ketidaksukaan saya kalau ada orang yang nyinyir dengan bahasa tubuh saya. Ga ngomong, diem, dan pergi. Itu sudah cukup untuk mengungkapkan rasa tidak suka saya atas kata2 orang yang nyinyir. Kalau bisa tambahin ekspresi mata, istilah saya mah "ngadelekan". ๐Ÿ˜‚

    ReplyDelete
  8. Bicara body shaming bikin sedih ya. Anak perempuan saya yang sulung memiliki perawakan kecil. Kadang dia suka minder. Agar ia tak jadi bahan perundungan dan tak kesulitan bersosialisasi, saya sering ingatkan bahwa ia itu cantik dan pintar. Setiap orang punya kekurangan dan kelebihan. Maka fokuskan pada kelebihan sampai orang tidak melihat lagi kekurangannya sebagai sesuatu yang kurang.

    ReplyDelete
  9. Wuaaa seru deh bisa nulis collab sama Mba Diah.

    Iya banget sih. Kadang saking body shaming udah dianggap biasa, jadi tanpa sadar kita mungkin akan menjadi pelaku juga. Dan mana kita tahu, dampak dari ocehan canda yang kita lontarkan. Bagi saya, kalau becanda sebaiknya hati hati. Mau nggak saya dibecandain begitu juga.

    ReplyDelete
  10. Kudu hati hati banget sekarang mah kalo ngomong juga. Mana nyangka ya begitu bisa berakhir dengan pembunuhan.

    ReplyDelete
  11. Noted banget buat teman2 yang memang sering terucap atau langsung memberi label pada kekurangan seseorang. Jadi belajar untuk selalu menghormati orang lain dalam segala bentuk.

    ReplyDelete
  12. Sekarang saya paling sering dengar orang bilang "Ery agak gendutan ya?" atau "koq Ery makin lebar sekarang?" biasanya kalo orang yang sama yang bilang gitu atau kalo sudah keterlaluan mi cara negurnya, saya jawab aja "kau mau saya makan skalian?" hahah...

    ReplyDelete
  13. sedih ya kalau uda ada orang yang body shaming :(
    semoga tidak ada lagi orang yang melakukan ini, dan korban bisa menghadapi dengan santai.
    Tapi ini tuh bisa tersimpan dibawah alam sadar, jadi bisa membuat orang jadi merendahkan diri :(

    ReplyDelete
  14. sampe sekarang jujur aku masih suka keceplosan soal body shaming ini sih, tapi bukan di medsos. mudah-mudahan bisa berkurang sama sekali karena ku rasakan juga dibilang hidung minimalis itu rasanya sedih

    ReplyDelete
  15. Emang ya mba body shamming tu suka gak dianggep sebagai penghinaan. Mungkin karena Kita sejak kecil terbiasa ngeliat ya. Padahal efeknya bisa sangat berbahaya. Harus bisa ngerem mulut dan jempol deh biar ngga jadi bumerang. Makasih mba sudah menuliskan ini. Bisa jadi pengingat buat saya.

    ReplyDelete
  16. Huhuhuh, inimi body shaming yg bikin greget dunia.
    Syukurnya sekarang sudah ada undang2 yg mengatur ya. Tinggal ancam saja orang yg sering berbuat gini kalau kita sudah bilang tidak suka atau ndk ingin diperlakukan seperti itu namun orangnya masih tetal bandel, hmm, mungkin dia butuh nginap di "hotel" ๐Ÿ˜

    ReplyDelete
  17. Inimi tindakan yang paling sering terjadi di sekolah. Anak-anak bisa menemukan cela sedikit saja untuk melakukan perundungan buat temannya, dan gurulah yang bekerja keras untuk menangani hal ini.

    ReplyDelete
  18. Semua orang diciptakan berbeda-beda. Kalau sama semua kan susah membedakan satu sama lain. Tapi entah kenapa perbedaan itu dianggap aneh, semuanya harus sesuai dengan standar kecantikan yang sudah ditentukan.

    Terkadang aku merasa kalau iklan produk kecantikan juga berperan dalam body shaming ini. "Eh kulitmu kusam. Kusam tuh jelek. Pake produk ini biar putih", "Eh kamu gendut. Gendut tuh jelek. Pake produkku biar langsing", dan sebagainya yang bunyinya mirip-mirip. Intinya yang kamu punya jelek, pake produk ini supaya bagus. Lama kelamaan pesan dari iklan itu berkembang menjadi suatu standar kecantikan yang harus dipatuhi semua orang. Kalau gak sesuai standar berarti jelek. Salah-salah malah karena maraknya iklan seperti itu mengakibatkan orang melakukan body shaming terhadap dirinya sendiri.

    Aku setuju banget dengan solusi-solusi menghadapi body shaming di atas. Intinya abaikan saja apa kata mereka-mereka yang melakukan body shaming dan lanjutkan hidup dengan lebih baik lagi kalau bisa sampai mencapai prestasi. Ngomong-ngomong kita hanya punya dua tangan yang gak cukup banyak untuk membungkam satu per satu mulut pelaku body shaming. Tapi dua tangan itu cukup untuk menutup kedua telinga kita supaya kita gak mendengar suara sumbang dari mulut mereka.

    ReplyDelete
  19. Becanda sih becanda, tapi nggak semua hal bisa jadi becandaan, pun nggak semua becandaan itu lucu juga untuk yang dibecandain. Apalagi kalau tentang body shamming.

    ReplyDelete
  20. siapa yang mendapat body shaming?
    perempuan!
    Siapa yang melakukan?
    sesama perempuan
    Jadi sebenarnya memulai dari diri sendiri dan dengan kemampuan kita menyebarkan virus positif agar tidak lagi melakukan body shaming ini. Seperti yang dilakukan Mbak Siska dan Mbak dyah di blognya
    Suka dengan ulasannya, mbak!

    ReplyDelete
  21. Aku klo ada yg ngatain gensut, skrg aku cuekin..
    Nggak aku anggap, soalnya emambg kenyataan nya hahah..
    Tapi benar kok, klo ada yg body shaming ke kita, cuekin aja..

    ReplyDelete
  22. Bener, aku setuju. Kita bisa kok balas Body shaming. Tapi dengan cara yang bijak, yaitu dengan prestasi. Tunjukan kalau yang berbeda masih bisa dianggap dengan cara dan martabat yang lebih tinggi.

    ReplyDelete
  23. makanya aku mah gak pernah body shamming karena aku merasakan sendiri bagaimana rasa sakit dikatain dan sama anak-aank asuhku juga ya suka body shamming sama temannya selalu aku tegur

    ReplyDelete
  24. Dulu waktu kecil aku kg sempet kena body shaming... dikatain item, pesek dll..

    Sampe gede kadang gak percaya diri,.orang santai ngayain tapi dulu waktu ABG itu jadi beban buat aku.

    Setelah SMA dan dapet temen yg support aku jadi bisa pede dan bahkan berani tampil.

    Memang selain butuh support dari dalam,.support dari luar jg samgat membantu

    ReplyDelete
  25. Memang ga terasa ya kalau body shaming itu sudah terbiasa diucapkan. Padahal bisa benar2 menyinggung orang lain dan bisa bikin orang ga pede. Ujung2nya perkara besar terjadi :(

    ReplyDelete
  26. gendut itu karena makmur,...daripada kurus, kurang gizi

    ReplyDelete
  27. Hua bener si, Mbak, ejekan tentang tubuh bisa bikin orang sesensitif itu. Aku pernah juga ngalamin body shaming dan itu gaenak bgt.

    ReplyDelete
  28. Body Shaming, memang sangat sensitif ya mbak..

    Apalagi kalau lagi bercanda yang kelewatan, bahkan tanpa sengaja kita terkena body shaming atau bahkan kita sendiri yang melakukannya:(

    ReplyDelete
  29. Body shaming ini hal yang sering dianggap lumrah padahal memiliki efek yang luar biasa. Harus bisa mengajarkan anak kita untuk jangan mudah mengolok-olok orang lain. Untuk para korban bisa dengan menutup kedua kuping dan masa bodoh. Insha Allah berhasil.

    ReplyDelete
  30. Betul bgt nih mba ga boleh membanding bandingkan.
    Harus sejak dini kita beri pengertian kepada anak2 dan stop body shaming lah pokonya.

    ReplyDelete
  31. Aku dulu juga mengalami body shamming mbak. Karena aku item dan rambut ikel. Bukan standar kecantikan anak² saat itu.

    Bahkan 25tahun berlalu, aku masih belum melupakan body shamming yg kualami di masa smp itu

    ReplyDelete
  32. Bahaya juga ya Mbak ternyata dampak body shaming ini. Kita emang kudu belajar ngerem komen yg mengarah ke body shaming, yg susahnya itu sebagian udah terbiasa. Udah masuk UU ITE pula, kudu hati2 nih netizen.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.