Ketika Orang Kaya Harus Menikahi Orang Miskin

by - Februari 25, 2020

orang kaya harus menikah dengan orang miskin
Ketika si kaya harus menikah dengan si miskin
(gambar : liputan6.com)
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Ketika Orang Kaya Harus Menikahi Orang Miskin - Selama ini tidak ada aturan yang mewajibkan orang kaya harus menikah dengan orang miskin, tapi entah dapat ide darimana, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy tiba-tiba mengusulkan untuk memberantas kemiskinan orang kaya harus menikahi orang miskin.

Usulan tersebut beliau tujukan kepada Menteri Agama Fachrul Razi agar menerbitkan fatwa perkawinan lintas tingkat perekonomian. Beliau sangat meyakini bila orang kaya menikahi orang miskin, itu akan memutuskan mata rantai kemiskinan. 

Beliau menyayangkan pola pikir di masyarakat yang kerap mencari jodoh atau menantu dengan status sosial ekonomi yang setara. Akibatnya orang kaya selalu menikah dengan orang kaya, sebaliknya orang miskin selalu menikah dengan sesama orang miskin.

Menurut beliau, kalau orang miskin menikah dengan orang miskin nanti akan melahirkan keluarga miskin baru. Nah, hal itulah yang membuat Bapak Menteri PMK ini mengharapkan ada gerakan moral agar si kaya bersedia menikahi si miskin.

Tentu saja, usulan tersebut menghebohkan berbagai kalangan termasuk warganet. Ada yang pro tapi lebih banyak yang kontra. You know-lah bagaimana reaksi para netizen. Masalah RUU Ketahanan Keluarga yang diusulkan sejumlah anggota DPR saja masih memicu kontroversi eh ada lagi usulan fatwa si kaya harus menikahi si miskin. Tak heran bila ada netizen yang merasa bingung lama-lama tinggal di Indonesia, wkwk. 

Jika Orang Kaya Harus Menikahi Orang Miskin

Infografis : indozone.id
Pertama kali dengar wacana ini saya langsung tergelitik ikut angkat bicara, di blog tapinya. Yap, kalau ada berita viral atau heboh di luar sana saya lebih suka untuk sekadar mengamati lalu mengeluarkan uneg-uneg aka opini di blog daripada ikut-ikutan heboh di media sosial.

Baca juga Tiga Pertanyaan dari Kisah Layangan Putus

Menurut saya usulan Bapak Muhadjir Effendy tersebut sangat menarik. Bayangkan, selama ini nggak ada yang punya ide seaneh itu, yang barangkali saking pedulinya beliau dengan masalah kemiskinan di Indonesia sampai memikirkan hal yang mungkin belum pernah terlintas di pikiran orang lain.

Bahkan beliau sampai usul lho ke Menteri Agama untuk mengeluarkan fatwa pernikahan lintas tingkat ekonomi meski Kemenag sendiri sudah pasti tidak dapat mengabulkan usulan tersebut. Ini mah jelas ya, yang berhak mengeluarkan fatwa kan MUI bukan Kemenag, hehe.

Kalau pun usulan tersebut disetujui MUI, kira-kira apa yang akan terjadi? Hayoo coba kita main tebak-tebakan, hehe.

Ditentang banyak orang

Pastinya akan menuai banyak penolakan, terutama dari kalangan bucin. Namanya juga bucin (baca ; budak cinta) jelaslah mereka pengen menikah hanya dengan orang yang dicintai.

Lha kalau misalkan orang yang dicintai itu punya tingkat ekonomi yang setara dengannya, bagaimana dong? Masa' harus ditinggalkan demi mengikuti fatwa tersebut? Sedangkan orang yang saling mencintai saja belum tentu berjodoh lho. Memangnya dengan mengeluarkan fatwa seperti itu jodoh bisa diatur seenaknya ya?

Banyak warga yang tidak ingin tinggal di Indonesia

Sepertinya belum ada negara yang menerapkan aturan orang kaya harus menikahi orang miskin. Kalau ada pun pasti warganya nggak bakal betah tinggal di negara yang ikut campur masalah hati warganya.

Ya iya, masalah pernikahan kan menyangkut masalah hati juga.  Selama ini orang-orang cenderung memilih pasangan sesuai pilihan hatinya, bukan semata-mata karena tingkat ekonomi yang setara. Kalau sregnya sesama orang kaya atau sesama orang miskin, negara bisa apa?

Lagipula hidup ini bukan seperti dongeng cinderela, tidak semua orang kaya mau menikahi orang miskin. Pun tidak semua orang miskin sudi dinikahi orang kaya. Selain itu, sekarang zamannya generasi milenial, Pak. Generasi milenial itu nggak mudah diatur-atur, apalagi menyangkut masalah perjodohan. Bapak sendiri tahu kan ini sudah bukan zamannya Siti Nurbaya.

Baca juga Menikah Tanpa Cinta, Yay or Nay?

Si kaya nelangsa, Si miskin keenakan

Kalau si kaya ini cinta sama si miskin mah nggak  terlalu masalah tapi kalau nggak? Tentu si kaya akan merasa nelangsa, dan bagi si miskin yang memang dasarnya matre, adanya aturan tersebut tentu membuat hidupnya jadi keenakan, eh tapi nggak semua orang miskin matre sih.

Namun yang jelas aturan tersebut sangat menguntungkan orang miskin dan mereka bisa saja berpikiran sempit, untuk apa kerja dan bersusah payah cari uang kalau nantinya saya juga bakal hidup kaya setelah menikah. Sebaliknya orang kaya akan merasa sangat dirugikan, untuk apa saya capek-capek kerja dan punya harta berlimpah ini kalau bakal dinikmati oleh pasangan yang tidak saya cintai sama sekali.

Alih-alih menyebut aturan ini sebagai gerakan moral, yang terjadi nantinya justru gerakan kawin paksa. Bapak tahu apa efek dari pernikahan yang dipaksakan? Belum lagi kalau si kaya atau si miskin atau keduanya sama-sama tidak paham agama, entah bagaimana nasib rumah tangga mereka?

Bukankah adanya gerakan pernikahan lintas ekonomi ini akan semakin menambah kasus kekerasan dalam rumah tangga maupun tingkat perceraian di Indonesia. Dan bukan tidak mungkin kasus kemiskinan justru akan semakin merajalela.

Duh, maafkan kalau tulisan saya jadi ngelantur kayak gini. Saya cuma membayangkan saja bagaimana jika usulan dari Bapak Menteri PMK ini benar-benar direalisasikan. See! Baru bahas tiga poin saja, tulisan saya sudah melantur kemana-mana.

Alasan Menolak Jika Orang Kaya Harus Menikahi Orang Miskin

Saya anggap usulan dari bapak Muhadjir Effendy yang menganjurkan orang kaya harus menikahi orang miskin ini adalah ide yang benar-benar aneh sekaligus konyol.  Bukannya tidak menghargai usulan tersebut, terlebih maksud beliau baik kok, hanya saja bagi saya itu sama sekali bukan solusi untuk memutuskan mata rantai kemiskinan. Kenapa?

Jodoh itu Allah yang Atur

Seandainya jodoh bisa diatur, saya bisa dong request pengen yang cakep dan tajirnya kayak Oppa Lee Min Ho, haha. Atau kalau jodoh bisa ditentukan dengan mudahnya tentu setiap orang punya pilihan hati masing-masing, kan? Nggak bakal ada tuh cerita kasih tak sampai, hehe.

Sayangnya, jodoh itu Allah yang atur, bukan manusia. Manusia tugasnya mah cuma menjemput siapapun jodoh yang telah Allah tetapkan untuknya, entah itu kaya, miskin, cakep or nggak, who knows?

Jadi misalkan tiba-tiba ada aturan si kaya harus menikahi si miskin, keduanya juga nggak mungkin bersatu kali jika tidak ditakdirkan berjodoh. Makanya saya anggap ini ide yang sama sekali tidak masuk akal.

Baca juga Ikhtiar Menjemput Jodoh

Rejeki itu Allah juga yang tur

Bukan perkara jodoh saja, rejeki pun Allah yang atur, bukan manusia. Menurut pak menteri jika orang kaya menikahi orang miskin, itu bisa mengurangi tingkat kemiskinan. Setidaknya tidak akan lahir keluarga miskin baru.

Siapa yang bisa menjamin orang kaya menikah dengan orang kaya akan tetap kaya. Atau siapa yang bisa memastikan orang miskin yang menikah dengan orang miskin akan tetap miskin. 

Banyak kok orang kaya saat ini dulunya juga adalah orang miskin. Saya sering dengar atau baca kisah sepasang suami istri yang semasa awal pernikahannya hidup tak bercukupan. Mereka sama-sama berjuang dari nol bahkan minus sebelum akhirnya merasakan hidup mewah dan bergelimang harta. Sebaliknya ada pula orang kaya yang hidup melarat setelah menikah karena usahanya bangkrut. Ini kisah fakta ya bukan fiksi dan nyatanya memang  ada yang demikian.

Oya tahu nggak apa tanggapan mama mertua saya saat mendengar berita usulan orang kaya harus menikahi orang miskin yang ditayangkan di salah satu stasiun TV? Beliau langsung celetuk kayak gini "Itu kan yang kaya orang tuanya bukan anaknya".

Dengar celetukan tersebut saya sempat berpikir agak lama sebelum akhirnya sadar, benar juga kata mama, meskipun orang tuanya kaya tapi kalau anaknya yang menikah ini belum punya pekerjaan tetap atau bahkan masih pengangguran, apa bedanya dengan orang miskin? Kecuali kalau si anak ini memang dari sononya sudah kaya karena hasil keringat sendiri, tapi kalau mengandalkan kekayaan orang tua, apa masih pantas disebut kaya?

Menikah sebaiknya sekufu

Dalam Islam sendiri ada anjuran memilih pasangan yang sekufu. Kufu diambil dari kata kafaah yang bermakna kesepadanan sehingga kufu berarti seseorang yang sepadan dengan seseorang lainnya. Jadi yang dimaksud sekufu dalam pernikahan adalah sepadannya suami dan istri baik dalam agama, pendidikan, status sosial, kekayaan dan lain sebagainya.

Nah, menurut Muhadjir Effendy ada kekeliruan dalam tafsir agama memaknai pernikahan yang harus sekufu ini. Padahal dari penjelasannya saja sudah jelas, apanya yang keliru. Bukan berarti orang kaya tidak bisa menikahi orang miskin pun sebaliknya. Namun dalam memilih pasangan memang sebaiknya harus pilih yang sekufu. Anjuran ini bukan tanpa alasan. At least, saya bisa memahami betapa pentingnya sekufu dalam hubungan pernikahan setelah merasakan sendiri.

Menyatukan dua orang asing yang selama ini hidup dan tumbuh besar di keluarga dan lingkungan yang berbeda itu nggak mudah, Pak. Itu pula yang menjadi salah satu alasan kenapa ada pasangan yang baru menikah, belum genap setahun atau tidak sampai lima tahun berumah tangga lantas memilih untuk berpisah.

Baca juga Tips Menghadapi Masa Kritis dalam Pernikahan

Kita bisa saja menyayangkan keputusan mereka yang memutuskan bercerai padahal pernikahannya baru seumur jagung. Tapi bagi mereka itulah keputusan terbaik, lagipula apa gunanya bertahan jika tidak menemukan kecocokan satu sama lain. Sedangkan yang sekufu saja masih banyak cekcoknya eh ketidakcocokannya, lebih-lebih yang tidak sekufu.

Apalagi yang namanya pernikahan lintas pasti buaanyak tantangannya. Mau itu lintas agama, suku, budaya, agama, negara maupun ekonomi sama saja. Tantangannya besar, Pak.  Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ya, bapak enteng saja mengusulkan si kaya harus menikah si miskin untuk mengatasi masalah kemiskinan tapi bagi mereka yang menjalani, tentu itu bisa jadi hal yang sangat berat dan membebani.


Benarkah Jika Orang Kaya Menikahi Orang Miskin dapat Memutuskan Mata Rantai Kemiskinan?

Seperti yang sudah saya singgung, pernikahan lintas ekonomi bukan solusi yang tepat untuk memberantas kemiskinan. Sebaliknya usulan ini justru akan memperkeruh keadaan dan menambah masalah baru dalam negara. 

Para bucin akan demo besar-besaran, menentang keras adanya aturan pernikahan yang dilaksanakan bukan atas dasar suka sama suka, warga yang tidak mau ribut akan memilih mengungsi ke negeri dimana mereka bisa menikah tanpa paksaan, belum lagi perseteruan yang bisa saja terjadi di kalangan orang kaya dan orang miskin. Itu semua masalah, bukan?

Ya, meski belum tentu juga skenarionya berjalan seperti yang saya gambarkan, tapi jika MUI benar-benar mengeluarkan fatwa sesuai usulan bapak menteri PMK, kemungkinan besar keadaan negara akan sekacau itu, bener nggak?

Bersyukur ide untuk mengurangi angka kemiskinan dengan adanya fatwa pernikahan lintas ekonomi ini hanya sekadar usulan dari seorang Muhadjir Effendy. Ketika dimintai keterangan beliau hanya bilang, itu kan cuma selingan atau intermezo dari ceramahnya.

Menurut beliau, dirinya hanya menyarankan kepada Fahrul Razi selaku Menteri Agama untuk menerbitkan fatwa tentang pernikahan antartingkat ekonomi. Fatwa itu kan memiliki arti saran atau menganjurkan. Jangan dipahami harus wajib jadi segala gitu. Begitu kilah menteri PMK ini yang saya lansir dari berita kompas.com.

Lebih lanjut beliau mempersilakan usulan tersebut dianjurkan (baca : difatwakan) jika dirasa cocok oleh MUI. Apa MUI akan merasa cocok dengan usulan tersebut? Saya pikir tidak. Dan meski hanya berupa saran, ide tersebut cukup mencengangkan hingga tokoh seperti Ridwan Kamil maupun Sandiaga Uno pun turut menanggapi.

Kalau kata Ridwan Kamil, cinta itu tidak bisa dipaksakan. Cinta mah urusan batin dan takdir Allah. Kata Sandiaga Uno beda lagi tapi kurang lebih maksudnya sama. Jodoh itu di tangan Allah. Beliau yakin jodoh tak mungkin tertukar. Jika ingin memberantas kemiskinan bisa dengan memberikan sumbangan atau kegiatan filantropi. Tapi untuk mengawinkan si kaya dan si miskin dianggap masuk ke ranah privat

Sementara Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Depok, Yetti Wulandari ikut menanggapi dengan melontarkan kritik pedas terkait usulan menteri PMK. Menurut Ibu Yetti, usulan Bapak Muhadjir Effendy ini merupakan jalan pintas yang tidak ilmiah dan tidak mendasar. Mengentaskan kemiskinan tidak bisa dengan cara instan seperti itu.

Well, saya setuju dengan pernyataan para tokoh tersebut. Memberantas kemiskinan bukan hal yang mudah. Masalah kemiskinan sudah ada sejak dulu dan bukan cuma di Indonesia saja. Kalau pun ingin memutuskan mata rantai kemiskinan, yang harus diberantas itu akarnya. Yang jadi pertanyaan apakah pernikahan sesama orang miskin ini yang menjadi akar kemiskinan di Indonesia?

Balik lagi ke rejeki itu merupakan takdir Allaah tadi. Rejeki manusia siapa yang tahu? Belum tentu orang miskin menikah dengan orang miskin akan menambah keluarga miskin baru, kan? Lebih dari itu, tujuan pernikahan khususnya dalam Islam adalah untuk ibadah. Kalau ada aturan orang kaya harus menikahi orang miskin berarti tujuannya bakal melenceng dong.

Bukan hanya itu, yang seharusnya menjadi pertimbangan utama ketika seseorang memutuskan untuk menikah adalah "agama" pasangannya. Jika orang kaya menikah dengan orang miskin tapi agamanya nggak benar, kasihan dong anak-anaknya akan jadi apa nanti kalau tumbuh dan dibesarkan di keluarga kaya namun miskin akhlak, miskin agama?

Baca juga Menikah Karena Allah

I think, Bapak Menteri PMK tidak berpikir panjang ke sana saat mengusulkan ide orang kaya harus menikah orang miskin. Fokus beliau mungkin hanya ke persoalan kemiskinan dalam arti miskin harta. Mungkin beliau lupa atau luput, negara kita juga masih miskin dalam hal moral maupun akhlak. Padahal persoalan seperti ini juga sangat penting.

Masih banyak orang kaya di luar sana yang tidak puas dengan kekayaannya sehingga sekalipun sudah menyabet jabatan tinggi dan punya rumah mewah tetap saja tergoda mengambil hak orang lain.

Ya daripada mengusulkan memberantas kemiskinan dengan cara pernikahan lintas ekonomi ada baiknya pemerintah fokus dulu memberantas korupsi. Karena percuma saja, orang kaya menikah dengan orang miskin kalau moralnya masih miskin. Mungkin iya, melahirkan keluarga kaya baru namun keluarga yang dibangun bukan dengan dasar agama yang kuat akan rentan berbuat tamak.

Akhirnya orang-orang orang  akan berlomba-lomba menjadi kaya dengan menghalalkan segala cara. Orang tamak dimana-mana. Korupsi pun semakin merajalela. Duhai, bukankah akan lebih baik jika mata rantai kemiskinan itu  cukup diputuskan dengan menganjurkan orang kaya agar jadi dermawan, ringan tangan untuk berbagi dan membantu sesama.

Referensi ;
https://amp.kompas.com/nasional/read/2020/02/20/14415481/usul-orang-kaya-nikahi-orang-miskin-menko-pmk-sebut-untuk-putus-rantai
https://nasional.kompas.com/read/2020/02/20/13570561/soal-fatwa-pernikahan-orang-miskin-dan-kaya-ini-penjelasan-menko-pmk
https://www.google.com/amp/s/amp.wartaekonomi.co.id/berita273271/soal-orang-kaya-nikahi-orang-miskin-muhadjir-dituding-tak-ilmiah

You May Also Like

30 komentar

  1. saya setuju jika ide ini dikatakan aneh, lah jodoh kan ditangan allah. Banyak juga kok orang kaya yang menikahi orang miskin. Gak melulu yang kaya sama yang kaya atau yg miskin dapatnya miskin. Lagipula juga kalau dipaksakan gimana jadinya ya? hehehe

    BalasHapus
  2. Sempat baca komentar warganet(entah di mana, lupa), "Coba bapak kasih contoh dulu, anak bapak nikah sama saya." Kira-kira mau nggak ya. Memang nyleneh usulan bapak menteri ini. Nikah kok dipaksa-paksa negara.

    BalasHapus
  3. Setuju: mata rantai kemiskinan itu cukup diputuskan dengan menganjurkan orang kaya agar jadi dermawan, ringan tangan untuk berbagi dan membantu sesama.
    Jadi kemiskinan moral yang diperbaiki
    Apalagi lebih enak kaya berdua..Mulai dari nol berjuang sama-sama. Daripada salah satu kaya karena warisan orangtua..pasti ada bedanya

    BalasHapus
  4. emang gak beres kok itu prof muhadjir
    dari dulu juga waktu jadi mendikbud
    apaan itu kebijakan dan usulannya selalu kontroversial
    gak masuk akal
    gak paham aku dah kenapa masih dipake lagi

    BalasHapus
  5. sempet kaget sih ada anjuran ini dari pemerintah hehe. tapi ga harus nikahhin, ckup menyantuni dan bantuu..

    BalasHapus
  6. hahahaha, saya baru tahu sih berita ini, sungguh kenapa ini Indonesia bermunculan orang-orang aneh yang menduduki jabatan krusial di pemerintahan :D

    Tapi kalaupun ada aturan begitu sebenarnya saya setuju.
    Asal si miskin itu kompeten, ya kenapa tidak?
    Maksudnya, tiap orang kan punya kelebihan masing-masing, terlepas dari rezekinya dalam hal harta yang mungkin kurang :D

    Etdah, saya ikutan gila juga lama-lama :D
    Tapi memang, hidup itu butuh duit sih ya, makanya dipikirkan pemerataan kayak gitu :D

    BalasHapus
  7. Hahaha makin aneh aja menteri RI
    Kalo aneh tapi berprestasi mah Gapapa
    Jadi inget dulu menteri pertanian nyuruh emak emak name cabe daripada ngegosip ceunah 😁😁😁😁

    BalasHapus
  8. Aku sepakat orang kaya menikahi orang miskin itu bukan solusi. Apalagi kalo alasannya memberantas kemiskinan. Wahhh pernikahan macam apa yang akan dirasakan bila semua didasarkan pada aturan bukan hati. Sangat tidak masuk akal bapak satu itu.

    BalasHapus
  9. sungguh aneh memang aturan ini, diomongin sekelas mentri lagi, beuh

    BalasHapus
  10. Saya setuju jika pernikahan/jodoh itu urusan pribadi dan urusan Tuhan, tak perlu diatur. Toh standar kaya dan miskin juga berbeda-beda juga ya Mba tiap orang.

    Lagipula justru dalam agama disarankan menikah dengan orang yang sekufu. Banyak yang mengartikan sekufu itu satu frekuensi atau seimbang levelnya (atau hampir setara) agar tidak terjadi ketimpangan dalam cara berpikir, cara mengatasi masalah, cara berperilaku, gaya hidup, dll. Sekufu itu seimbang bisa dalam hal kemapanan, keilmuan, cara pandang, budaya, dll. Banyak faktornya.

    Selain itu ada efek domino. Jangan sampai niat menikah untuk mengatasi kemiskinan, tapi justru menambah masalah baru dalam rumah tangga yang jelas tidak akan baik untuk atmosfer pendidikan anak dalam keluarga sebagai generasi penerus bangsa.

    BalasHapus
  11. Masalah rezeki dan jodoh Allah yang atur, jadi menikahi miskin atau kaya ya tergantung takdir juga kali yah yang penting usaha menaikkan taraf hidup saja.

    BalasHapus
  12. Ketika dengar ide ini, aku kok langsung terlintas seperti nonton FTV.

    Kayaknya cerita FTV yang lebay itu bakalan terwujud kalo beneran peraturan lucu ini dibuat.

    Bakal ada cerita "istriku mantan gembala kambing" atau "jodohku tukang ojek pengkolan "

    Hehe becanda Ding ..
    Tapi sebaiknya ketika orang yang punya jabatan ngomong, harusnya punya data. Jangan bikin gaduh di masyarakat. Ini yang sering terjadi .

    BalasHapus
  13. Kalo saya mah santai aja menanggapi ide Pak Muhajir ini. Karena kekuatan netijen lebih dahsyat. Hehehe. Anggap aja bapaknya lagi ngelawak. Urusan hati kok dipaksa-paksa.

    BalasHapus
  14. Aku juga merasa kok semakin aneh2 sih pejabat publik ini komentarnya. Apakah tidak ada masalah yg lebih besar dan darurat lainnya, yg bisa dia urusin. Kok malah ngurusin soal jodoh rakyatnya. Jodoh mah soal masa depan pak. Mending Bapak pikirin soal yg di depan mata nih, gimana caranya biar anak2 Indonesia jadi generasi yg maju, beeadab, tapi juga keren akhlaknya. Dimana peran pemerintah disitu??

    BalasHapus
  15. Hadeeh. Pernikahan urusan hati juga kali Pak. Hihi pengen ketawa tapi miris dengan ide beginian.

    BalasHapus
  16. Hahha.. Ngakak juga baca wacana itu, digulirkan oleh seorang menteri yang notabene tingkat pendidikan dan pemahamannya terhadap kehidupan mungkin lebih dalam lah dibanding kita yang orang awam ini.

    Wajar kalo banyak yang mencemooh pemerintahan sekarang. Sukanya aneh-aneh terhadap rakyatnya.

    BalasHapus
  17. Konteks lain "sekufu" bisa jadi keto ketika dua manusia datang dari latar belakang ekonomi setara. Susah nyambungnya kalo ndak setara. Bisa ada KDRT juga.
    😂😂😂

    BalasHapus
  18. Yah mba saya sih setuju kalau usulan ini konyol. Haha. Iya kalau kedua manusianya saling sayang tulus tanpa ada udang di balik batu, kalau sebaliknya? Yang ada bukan jadi sakinnah mawaddah warrahmah tapi zonk ketika satu pihak memanfaatkan pihak lain.

    Saya sih tim "masalah hati gak bisa dipaksakan,". Aahhh, jadi pengen ngelantur kemana-mana juga. Hahaha..

    BalasHapus
  19. Kok saya kaget juga ya mba membaca artikel mb ini, masa iya ada orang seperti itu, aneh banget mb setuju dengan kata-kata mb, semoga diberikan pencerahan beliau hihi makasih artikelnya

    BalasHapus
  20. Topiknya menarik dan agak berat nih buat saya. Yang pasti masalah menikah seharusnya tidak boleh dipaksakan ya.

    BalasHapus
  21. Aiih... Aku jg shock pas denger aturan macam ini. Aduuh. Pdhl dpt yg Mbak bilang, rezeki dan jodoh itu udah diatur, manusia g usah atur2. Hix

    BalasHapus
  22. Kalo saya mendengar usulan itu terbayang telenovela macam Maria Mercedes, Marimar dan sebangsanya. Habis memang telenovela biasanya ceritanya tentang si kaya dan si miskin jatuh cinta.

    Alhamdulillah cuma usulan aja, karena benar gak ilmiah dan gak mendasar. Daripada nikahin si kaya dan si miskin, lebih baik ciptakan lapangan kerja dan berikan subsidi. Harga barang juga jangan tinggi-tinggi.

    Topiknya bagus nih mba 👍

    BalasHapus
  23. bener mba, aku juga kurang setuju perihal ini, kenapa apa-apa meski materi, ya. padahal mah belum tentu jg si miskin dan si miskin nikah stelah nikah tetap miskin siapa tau Allah mudahkan rezekinya jadi orang kaya, kan banyak yang seperti itu.

    BalasHapus
  24. Aku malah baru tahu info ini lho Mbak. Duh, sampe segitunya mau bikin aturan. Bener kata Mbak, kalau gitu malah bikin malas kerja, malas usaha, malas berkreativitas. Terutama untuk perempuan miskin. Ngapain kaya? Kalau bakal nikah sama orang kaya. Begitu juga sebaliknya.

    BalasHapus
  25. Sepakat banget kalau nikah itu harus sekufu. Dalam masalah kelas sosial, pemahaman & banyak hal. Ini anjuran Rosulullooh saw yang tentu sangat banyak maslahatnya.

    Kaya atau miskin sebenarnya masalah mental. Rizqi Allah itu luas. Cara2 mencarinya juga sudah jelas, Harta bisa dicari.

    BalasHapus
  26. Setuju , jodoh itu Allah yang atur..ga juga miskin dan kaya atau sama level hartanya, kalau sudah jodoh mau dibilang apa kan ya?

    BalasHapus
  27. Ada-ada aja sih himbauan dari Pak Menteri ini. Takutnya nih Pak Menteri ga tau ilmu agama, hehehe...

    BalasHapus
  28. Kayaknya MUI gak akan menyetujui apalagi mengeluarkan fatwa itu deh. Kalaupun difatwakan, paling nggak akan ada yang menuruti. Buat orang miskin yang matre ya bakal mau banget nikah sama orang kaya. Tapi buat orang kaya, apalagi kalau tanpa cinta, mana mau 'menyerahkan' kekayaannya sama orang miskin. Belum lagi, belum apa-apa mungkin mereka akan berpikir, "gak mau ah, gak level".
    Lama-lama Indonesia makin aneh aja 🤔

    BalasHapus
  29. Betul, saya juga setuju kalau menikah itu sekufu. Biar ngga 'njomplang' , baik yg tampal atau tidak tampak

    BalasHapus
  30. Itu usulannya menurutku bisa melahirkan sinetron ala drama Korea berjudul: Ketika Jodoh Diatur Negara; Cintaku di Ujung Tanduk Negara, dsb 😁 Mungkinkah ia terinspirasi drakor-drakor yang tokohnya chaebol semacam The Heirs? Atau telenovela seperti Mari Mar dan Maria Mercedez? Entahlah, yang jelas aku terpana dengan usulan itu, mengingat ia sebelumnya adalah seorang mendikbud. Aku pernah terlibat proyek sosial di bidang pendidikan di pedalaman NTT. Masyarakat di sana tingkat kemiskinannya tinggi. Menurutku salah satu solusinya bukan perkawinan, justru akses pendidikan yang lebih merata, pendidikan formal dan informal. Pengentasan kemiskinan tak sesederhana melalui perkawinan. 😢

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.