Menangani Demam Anak dengan Tepat

by - Thursday, February 06, 2020

Anak demam, kapan harus diberi obat? Kapan harus dibawa ke dokter? 
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Menangani Demam Anak dengan Tepat - Waktu baru masuk usia sebulan kemarin si adek jatuh sakit. Awalnya cuma batuk pilek sih yang kemudian berujung dengan demam. Pas tahu si adek demam saya sempat khawatir. Bukan apanya, langsung terngiang saja dengan drama saat kakaknya sakit pertama kali.

Baca juga Drama Ketika Si Kakak Sakit Pertama Kali

Masih usia 4 bulan kakak sudah dikasih minum obat puyer plus antibiotik. Padahal sakitnya cuma bapil dan demam doang yang notabene bisa sembuh sendiri sekalipun tanpa obat atau cukup dengan obat penurun panas. Tapi ah sudahlah, ingat kejadian itu bikin hati saya sakit.

Yang pasti saya tidak ingin mengulangi drama yang sama. Bukan berarti saya termasuk tipe orang tua yang antiobat ya, saya hanya ingin memberikan obat secara bijak dan rasional sesuai indikasi dan diagnosis si kecil. Karena tidak semua penyakit perlu obat, kan?

Seperti penyakit bapil dan demam yang sering menyerang anak-anak, ini sebenarnya nggak perlu obat lho. Justru yang namanya batuk pilek atau biasa disebut salesma/common cold memang tidak ada obatnya. Kalau pun ada kata Dokter Arifianto, S.pA (@dokterapin) obatnya cuma dua. SABAR dan GENDONG. 
Sayangnya apa yang saya pahami tentang RUM dalam hal ini terkait penggunaan obat secara bijak masih belum dipahami suami dan keluarga, makanya kalau tahu si kecil sakit saran mereka kalau bukan segera diberi obat, bawa ke dokter.

Pertanyaannya sekarang, kalau anak demam kapan sih waktunya untuk diberikan obat atau dibawa ke dokter? Apa harus sesegera mungkin? Setidaknya sebagai orang tua kita pun harus tahu cara menangani anak sakit dengan tepat, kan?

Bersyukur sekali menjelang akhir tahun kemarin saya sempat ikut Kulwap Orami Community dengan tema Mengenal Demam pada Anak yang dibawakan oleh dokter dari RSIA Tumbuh Kembang Depok yakni dr. Miza Dito Afrizal, SpA,BMedSci,MKes.


Dari mengikuti KULWAP tersebut saya jadi tahu cara menangani demam anak dengat tepat. Tidak hanya itu, ternyata persepsi saya tentang demam selama ini keliru. Mungkin masih banyak orang tua di luar sana juga yang belum tahu apa sebenarnya yang dimaksud dengan demam dan bagaimana cara menanganinya dengan tepat, terutama jika yang demam itu adalah si kecil.

So, pada postingan kali ini saya bakal sharing ilmu tentang demam pada anak yang saya dapatkan dari dokter Miza. Yuk simak!

Apa itu Demam?

Selama ini kita kalau mendapati suhu badan naik atau terasa hangat pasti bilangnya demam  ya padahal belum tentu. Suhu tubuhnya berapa dulu nih. Kalau masih 37,5 derajat itu belum termaksud demam. Begitu penjelasan dokter Miza.

Mengawali kulwapnya beliau mengajak peserta untuk menyamakan persepsi tentang demam. Jadi demam adalah keadaan kenaikan suhu tubuh manusia di atas suhu 37,5 derajat dengan pengukuran suhu aksila (ketek). Itu definisi demam menurut WHO.

Jika sudah paham dengan definisi ini berarti kalau suhu tubuh anak naik, kita wajib konfirmasi dengan termometer. Bukan hanya dengan menyentuh dahinya trus kalau terasa hanget atau sumeng kita bilangnya demam ya, itu sifatnya terlalu subjektif.

Apa Fungsi Demam?

Lho memang demam ada fungsinya? Hayoo, pasti banyak yang heran ya, kok demam ada fungsinya? Jadi begini buk ibuk, kata dokter lulusan UI ini, demam itu sebenarnya merupakan salah satu sistem pertahanan tubuh. Tubuh kita dilengkapi dengan “sistem security” yang luar biasa hebatnya.

Jadi kalau ada sesuatu yang nggak bener masuk ke dalam tubuh (misalkan virus) maka sistem pertahanan tadi akan mendeteksi lalu menyalakan alarm untuk memberitahu otak kita kalau lagi ada virus yang masuk ke dalam tubuh. Di sini otak akan memerintahkan tubuh untuk menaikkan suhunya.

Kenaikan suhu tubuh inilah yang mempunyai beberapa fungsi utama yaitu virusnya akan mati karena suhu yang panas dan kalaupun virusnya nggak mati, kecepatan virus untuk berkembang biak di dalam tubuh jadi diperlambat dan terakhir “pasukan kekebalan tubuh” bekerja lebih maksimal di suhu yang lebih tinggi. So far, jelas ya bahwa demam ternyata berfungsi juga untuk proses penyembuhan penyakit, dalam hal ini fungsinya dapat membantu melawan virus yang masuk ke dalam tubuh.

Apa Kerugian Demam?

Karena memiliki fungsi yang baik untuk proses penyembuhan berarti kalau anak demam dibiarkan saja ya, nggak perlu diapa-apain?

Eits, jangan salah paham dulu. Demam memang memiliki fungsi untuk melawan penyakit namun ada efek sampingnya juga atau kita sebut saja kerugian demam.

Jadi kalau tubuh anak mengalami demam yang terlalu tinggi efeknya akan membuat ia kesulitan istirahat karena merasa tidak enak badan. Si kecil pun akan mudah rewel dan terkadang mengalami halusinasi seperti berbicara melantur.

Selain itu ia juga bisa dehidrasi karena meningkatnya metabolisme tubuh sekalipun tidak muntah maupun diare. Dan terakhir yang paling menjadi momok menakutkan dan horor banget bagi orang tua yaitu demam mempunyai risiko untuk terjadinya kejang. Ingat ya bukan PASTI kejang, tapi mempunyai risiko, jadi sangat mungkin bisa nggak kejang juga walau demam setinggi apapun. Itulah beberapa kerugian demam.

Apa yang Dilakukan Jika Anak Demam?

Jadi ketika kondisi anak tidak seperti biasanya atau tampak tidak sehat ya nggak dibiarkan begitu saja. Sekalipun demam memiliki fungsi dapat melawan penyakit namun tetap harus diobservasi. Apakah demamnya ini membutuhkan obat atau tidak? Apakah harus dibawa ke dokter atau cukup dirawat di rumah saja? Itu bisa kita lihat dari hasil observasi.

Setidaknya berikut ini adalah beberapa hal yang bisa kita lakukan di rumah ketika suhu badan anak meningkat;

  • Pastikan dulu bahwa anak kita benar-benar demam. Tadi sudah disinggung ya dipastikannya itu dengan menggunakan alat bernama termometer buka dengan tangan kosong. Kalau suhu tubuhnya di atas 37,5 derajat berarti ini sudah pasti demam dan usahakan JANGAN PANIK ya buk ibuk. Biasanya orang tua salah mengambil keputusan anaknya mau diapain gara-gara panik duluan.
  • Monitor suhu tubuh anak secara berkala. Sebaiknya antara 4-8 jam sekali diukur suhunya agar kita tahu kapan perlu diberi obat.
  • Hidrasi secukupnya. Demam bisa bikin anak dehidrasi walaupun nggak ada muntah atau diare jadi pastikan si kecil minum yang cukup selama demam biar nggak dehidrasi.
  • Awasi tanda dehidrasi. Tanda-tanda dehidrasi pada anak yang paling gampang dicek di rumah adalah kulit kering, bibir kering, mata cekung, jarang atau hanya pipis sedikit dan berwarna keruh
  • Jangan pernah membangunkan anak sakit yang lagi tidur. Ketika anak sementara tidur itu adalah fase dimana sistem imun paling efektif melawan virus makanya kata dokter Miza kalau anak tidur ketika sakit jangan dibangunin walaupun itu adalah jamnya si anak untuk minum obat. 
  • Berikan si kecil nutrisi yang cukup. Nutrisi adalah “bensin” buat sistem imun melawan virus jadi orang tua harus pastikan anak mendapat nutrisi yang cukup. Iya sih anak sakit bakal susah makan tapi orang tua bisa akalin dengan memberi makanan padat bergizi seperti jus homemade atau tambahkan mentega di nasi/bubur anak supaya kalorinya bertambah per sendok makan
  • Skin to skin, ini juga sangat efektif menurunkan demam pada anak maka selagi anaknya bisa di-skin to skin lakukanlah cara ini.
  • Kompres, kompres disini HARUS HANGAT bukan dingin ya dan lokasinya boleh dipilih antara leher, kedua ketiak, atau kedua lipat paha jadi bukan di jidat kaya yang di sinetron-sinetron ituπŸ˜…
Jika setelah melakukan langkah-langkah di atas, tidak ada perubahan dengan kondisi si kecil, malah suhu badannya semakin naik barulah orang tua bisa pertimbangkan untuk memberikan obat. Tapi untuk pemberian obat ini harus memperhatikan indikasinya ya.

Kapan Anak Demam Perlu Diberi Obat?

Seperti yang sudah disinggung di atas, demam ternyata mempunyai fungsi yang cukup besar dalam proses penyembuhan penyakit, meski tak dimungkiri efek sampingnya juga ada. That's why, ketika anak demam kita sebagai orang tua perlu tahu cara menanganinya dengan tepat, termasuk dalam hal pemberian obat. Ya sebaiknya jangan terburu-buru memberikan obat tapi jangan juga sampai terlambat.

Jadi gini, menurut dokter Miza ada beberapa indikasi pemberian obat demam, diantaranya sebagai berikut :

  1. Indikasi suhu. Sebaiknya kita berikan obat pada anak jika suhu tubuhnya di atas 38.5 derajat.
  2. Indikasi gangguan istirahat. Ketika anak sakit, waktu dimana sistem imun tubuh bekerja paling efektif adalah pada saat anak sedang tidur. Jadi anak yang sakit harus mempunyai waktu tidur yang cukup, makanya kalau anak lagi demam sampai nggak bisa tidur itu salah satu indikasi which is orang tua bisa pertimbangkan untuk memberikan obat demam.
  3. Indikasi nutrisi. Sistem imun juga butuh “bensin” buat perang melawan virus/kuman/bakteri. Nah, “bensin” nya adalah nutrisi jadi kalau anaknya demam sampai nggak mau makan sama sekali barulah orang tua bisa pikirkan untuk pemberian obat demam.
Kalau sudah tahu indikasinya berarti seharusnya nggak bingung lagi ya dan bertanya-tanya kapan harus memberikan anak obat penurun demam. Perhatikan saja kondisinya, kalau misal demam anak mencapai lebih di atas 38,5 derajat atau dia jadi kesulitan tidur dan susah makan maka orang tua bisa menanganinya dengan memberikan obat pada si kecil.

Kapan Harus Bawa Anak yang Demam ke Dokter?

Selain mengetahui apa yang perlu dilakukan di, rumah, orang tua juga harus tahu kapan sebaiknya anak  yang demam dibawa ke dokter.

Kalau kata dokter Miza nggak perlu terburu-buru bawa ke dokter. Lihat anaknya kalau masih santai dan ceria, masih bisa main, makan minum ya  nggak papa diobservasi saja di rumah dengan catatan orang tua sudah paham dengan cara yang tepat menangani anak demam di rumah.

Anak demam yang harus dibawa ke dokter adalah mereka yang menunjukkan tanda-tanda berikut ini;

  • Terlihat lemas dan tidak bisa bermain atau beraktivitas
  • Tidak mau makan dan minum dengan jumlah yang cukup atau tidak mau makan minum sama sekali
  • Demam lebih dari 38.5 derajat dan tidak respon dengan pemberian obat
  • Terdapat sesak pada anak
  • Terdapat perbedaan kesadaran pada anak misalnya anak tidur terus, sulit dibangunkan
  • Demam berlangsung lebih dari 3 hari tanpa adanya perbaikan.
Itulah beberapa tanda yang bisa orang tua perhatikan sebelum memutuskan untuk membawa anaknya ke dokter. So far, jika setelah observasi terdapat salah satu atau beberapa tanda di atas, orang tua bisa langsung ambil tindakan untuk membawa anak yang demam ke dokter untuk mendapat penanganan lebih lanjut.

Bersyukur waktu si adek sakit sakit pertama kali tidak sampai berujung drama seperti kakaknya. Lagipula itu juga sakitnya karena ketularan dari si kakak yang lebih dulu demam dan bapil. Makanya saya nggak kaget waktu mendapati adek sakit padahal usianya baru masuk sebulan dan masih ASI Eksklusif (ASIX).

Bukan berarti karena masih ASIX, bayi nggak bisa sakit, kan? Jujurly, saya sempat beranggapan kalau bayi semasa masih ASI Eksklusif nggak bakal jatuh sakit. Itulah sebabnya saya sempat heran sekaligus bertanya-tanya kenapa anak pertama saya bisa jatuh sakit sementara umurnya belum genap 6 bulan dan dia masih ASIX. 

Belakangan baru saya pahami, bila dibandingkan dengan bayi non ASIX, bayi yang minum ASI eksklusif jelas memiliki imun yang lebih kuat, itulah yang membuatnya nggak gampang jatuh sakit. Kalau pun sakit paling hanya sesekali.
Dan karena masih ASIX, jadi waktu sakit kemarin saya gempur saja dengan ASI even ayahnya sudah nyuruh agar saya memberikan adek obat. Jelas saya nolak dong. Lagipula saya tahu penyakit seperti deman dan bapil memang mudah banget menular apalagi ke bayi yang baru lahir tapi itu bisa hilang dengan sendirinya.

Benar saja, si adek demamnya cuma sehari dan setelah saya gempur dengan ASI, suhu badannya alhamdulillaah bisa kembali normal tanpa perlu saya berikan obat penurun demam. Tinggal batuk pileknya saja yang beberapa hari kemudian baru sembuh sendiri tanpa dikasih obat puyer apalagi antibiotik.

So far, materi seperti ini kelihatannya sepele ya tapi penting lho. Setidaknya selaku orang tua kita kudu membekali diri dengan ilmu agar ketika menghadapi anak demam kita nggak panikan dan salah mengambil langkah. Yang seharusnya anak bisa ditangani cukup dengan dikompres dengan air hangat malah segera kita berikan obat atau kondisi demam anak masih bisa diatasi dengan obat tapi kita segera ambil keputusan bawa ke dokter padahal tidak ada tanda-tanda kritis. Atau jangan sampai kita jadi orang tua yang masa bodoh, yang ketika anak sakit, selalu hanya mengandalkan obat padahal kondisi menunjukkan tanda-tanda dimana ia sudah harus dibawa ke dokter.

Kuy, sekian dulu sharing terkait ilmu menangani demam anak yang saya dapatkan dari dokter Miza di kulwap Orami. Semoga bermanfaat dan bisa dipraktikkan di rumah kalau mendapati anak demam. Masih ingat kan hal pertama yang harus dilakukan? πŸ˜„

Oya, buat kamu yang tertarik ingin mencuri ilmu seputar tumbang dan kesehatan anak lainnya dari dokter yang mengaku suka bercanda ini bisa langsung kepo di akun IGnya @mizaafrizal. Atau kamu tertarik juga nih gabung di Komunitas Orami dan ikutan KULWAP gratissnya dengan materi-materi yang menarik dan menghadirkan pemateri-pemateri yang profesional, cuss stalking di akun IG @orami.circle.

Salam,

You May Also Like

0 comments

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.