Tentang Gerakan World Hijab Day vs No Hijab Day

by - Sunday, February 02, 2020


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Kemarin, beranda facebook saya ramai dengan status teman-teman yang membagikan 'kenangan' mereka saat pertama kali mengenakan hijab. Sempat heran, ada apa? kok pada ramai cerita tentang hijab. Pas saya kepoin, oalah ternyata World Hijab Day itu jatuhnya tanggal 1 Februari toh.

Duh, kemana saja saya selama ini, Hari Hijab Sedunia saja nggak tahu. Tepatnya bukan nggak tahu sih, karena beberapa tahun terakhir ini saya sudah sering melihat gerakan teman-teman muslimah di media sosial yang mengkampanyekan hari berhijab di bulan Februari dan biasa dirangkaikan pula dengan pembagian jilbab secara gratis.

Lagipula saya juga pernah kok ikut berpartisipasi dalam kegiatan remaja mesjid yang juga mengkampanyekan tentang Hijab Day. Akan tetapi kegiatannya dikemas dalam bentuk  talkshow dan diselenggarakan pas tanggal 14 Februari dengan tema All About Valentine.

Kegiatan yang turut mengkampanyekan Hijab Day di Kota Serui namun sengaja dikemas dalam bentuk talkshow tentang valentine
Temanya memang tentang Valentine, tapi inti dari talkshow tersebut adalah mengajak adik-adik remaja agar jangan jadi muslim/ah yang ikut-ikutan merayakan hari kasih sayang karena budaya seperti itu tidak ada dalam ajaran Islam. Ya, daripada merayakan hari valentine mending ikut mendukung gerakan Hijab Day yang juga diperingati setiap bulan Februari.

Hanya saja, waktu itu saya sama sekali belum tertarik  mencari tahu lebih jauh tentang World Hijab Day. Yang ada saya malah bergumam, kok sampai ada perayaan hari berhijab segala?

Setelah empat tahun berlalu, pertanyaan-pertanyaan seperti  siapa yang pertama kali menggagas, apa latar belakangnya sehingga muncul World Hijab Day atau kenapa tanggal 1 Februari ditetapkan sebagai Hari Hijab Sedunia - baru munculnya kemarin itu dan langsunglah saya kepo.

Setelah mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut saya jadi tertarik membahas sedikit terkait gerakan Word Hijab Day di Kamar Kenangan ini. Ya kali mungkin masih ada teman-teman yang belum tahu kalau bulan Februari bukan hanya identik dengan coklat, bunga dan warna pink melainkan juga HIJAB. 

Atau mungkin kamu juga belum tahu, selain gerakan Hijab Day, belakangan muncul pula gerakan No Hijab Day. Seperti apa gerakan tersebut? Kita bahas satu-satu yuk!

Mengenal Gerakan World Hijab Day

Salah satu muslimah yang turut berpartisipasi dalam gerakan World Hijab Day awal Februari kemarin.
(Gambar : IG @mystic.marni)
Menggunakan hijab itu nggak mudah. Butuh perjuangan. Bersyukurlah kita yang tinggal di Indonesia atau negara-negara muslim lainnya. Setidaknya kita bisa menutupi aurat dengan bebas tanpa mendapat banyak rintangan. Apalagi semenjak hijab menjadi tren, peminatnya pun semakin banyak.

Baca juga Ketika Hijab Syari Menjadi Tren Muslimah Kekinian 

Bahkan boleh dibilang rata-rata muslimah  di Indonesia sekarang sudah pada berjilbab lho. Coba saja perhatikan di sekolah-sekolah, rumah sakit, pasar, atau tempat-tempat umum lainnya, jarang sekali kita temukan muslimah yang tidak mengenakan hijab. Kalau pun ada bisa dihitung dengan jari.

Setidaknya mengenakan hijab di zaman sekarang tidaklah sulit. Tantangannya paling datang dari dalam diri kita sendiri. Tapi coba tanyakan sama mereka yang telah berhijab sejak tahun 90-an. Tantangan apa saja yang mereka dapatkan. Perjuangan apa saja yang mereka hadapi. 

Saya sudah sering dengar cerita atau membaca kisah-kisah perjuangan muslimah dulu ketika memutuskan untuk berjilbab. Ada yang ditentang keras oleh orang tuanya, ada yang sampai diusir dari rumahnya, ada yang dikucilkan, dikasari bahkan sampai dikeluarkan dari sekolah maupun pekerjaannya. Tidak ada kebebasan berjilbab pada masa itu.

Kurang lebih kondisi seperti itulah yang mungkin sampai saat ini masih dialami oleh saudari-saudari mulimah kita di belahan dunia, terutama mereka yang tinggal di negara minoritas muslim. Banyak dari mereka yang dengan terpaksa mengenakan jilbab secara sembunyi-sembunyi.

Maka untuk merayakan kebebasan perempuan mengenakan jilbab di depan publik,  para perempuan yang mengenakan jilbab di seluruh dunia akhirnya merancang gerakan World Hijab Day.

Atas inisiatif seorang wanita berhijab asal Amerika Serikat bernama Nazma Khan, ditetapkanlah tanggal 1 Februari sejak tahun 2013 sebagai World Hijab Day. Ia juga mengimbau semua penduduk dunia agar menghormati semua perempuan yang mengenakan jilbab. 

Seperti yang kita tahu, di berbagai belahan dunia, perempuan yang memakai hijab masih sering mengalami diskriminasi. Nazma Khan sendiri mengaku ketika masih sekolah ia sering diejek, dihina bahkan ada yang mengatakannya ninja atau batman. Namun, keteguhan pada agamanya menguatkan wanita asal Amerika ini untuk terus mengenakan jilbab. 

Meski berat, nyatanya ia berhasil menghadapi semua perlakuan seperti itu. Kemudian, ia berpikir pasti banyak perempuan berjilbab lainnya yang mengalami bentuk diskriminasi sepertinya. Inilah yang membuat ia menggagas gerakan World Hijab Day dan disambut positif oleh banyak muslimah di penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Hidup ini sangat singkat untuk digunakan saling membenci, gunakanlah waktu untuk berbuat baik, menghargai apa yang orang lain pilih, apa yang mereka yakini benar, karena sesuai dengan ajaran agamanya.

Well, waktu pertama kali tahu ada Hijab Day, jujurly saya kurang setuju. I mean, nggak perlulah ada hari khusus terkait hijab. Tapi setelah menelusuri maksud dari munculnya Hari Hijab Sedunia ini barulah saya paham. Ini hanya sebuah gerakan atau upaya yang dilakukan oleh para muslimah di dunia agar pilihannya  dalam mengenakan hijab dapat dihormati dan tidak ditentang oleh siapa pun.

Lewat gerakan ini, muslimah yang belum mengenakab jilbab setiap harinya diharapkan dapat mengenakan busana tersebut satu hari itu saja sedangkan bagi non muslimah, hari itu bisa menjadi momen untuk mereka mengetahui tentang jilbab. Muslimah yang telah berjilbab pun turut meramaikan gerakan ini dengan membagikan pengalaman mereka saat memutuskan berjilbab di  akun medsos masing-masing.

Munculnya Gerakan No Hijab Day

Laman acara yang dibuat FP Hijrah Indonesia untuk
mengkampanyekan Gerakan No Hijab Day
(Gambar : mysharing.co)
Ternyata gerakan World Hijab Day tidak hanya mendapat reaksi positif karena belakangan muncul pula sekelompok perempuan yang menentang gerakan tersebut dan mengkampanyekan No Hijab Day di hari yang sama. Kampanye ini diprakarsai oleh kaum feminis-liberal dan diserukan lewat jejaring sosial.

Adalah Yasmine Muhammed, tokoh feminis-liberal yang pertama kali menggagas gerakan kampanye anti hijab pada awal Februari 2018 silam. Lewat akun twitternya, Yasmine melakukan aksi melepas kerudung kemudian membakarnya. Aksi tersebut sengaja dilakukan  Yasmine untuk melawan berbagai aturan yang memaksa perempuan untuk berjilbab, juga sebagai bentuk perlawanan terhadap gerakan World Hijab Day.

Di Indonesia sendiri gerakan kampanye No Hijab Day diselenggarakan oleh sebuah akun fanpage  bernama Hijrah Indonesia. Untuk melancarkan aksi kampanyenya, Hijrah Indonesia sengaja membuat laman acara di jejaring sosial buatan om Mark itu.

Lewat laman acara tersebut, Hijrah Indonesia mengajak para perempuan Indonesia baik Muslim maupun bukan Muslim untuk meramaikan #NoHijabDay dengan menayangkan foto-doto berbusana dengan nuansa Indonesia dengan memperlihatkan kepala tanpa memakai hijab/jilbab/niqab/cadar/ dan semacamnya di akun media sosial masing-masing baik di Instagram, Facebook, Twitter maupun Blog dengan hashtag #NoHijabDay dan #FreeFromHijab pada 1 Februari 2020.

Sebelum lanjut boleh nggak saya ngakak dulu, hehe๐Ÿ˜… Menurut saya aksi yang diselenggarakan Hijrah Indonesia ini lucu sekali, apalagi setelah membaca alasannya mengadakan kampanye Hari Tanpa Hijab. Tahu nggak apa alasannya?

Pertama, karena hijabisasi baru marak tiga dekade terakhir sedangkan niqabisasi marak satu dekade terakhir. Kedua, karena tidak semua ulama, tarekat dan sarjana keislaman medakwahkan dan bersetuju dengan hijabisasi dan niqabisasi. Pandangan mengenai batasan aurat berbeda-beda. Ketiga, kita berdiam di rumah, berada di habitat, bekerja dan atau memiliki fisik yang kesemuanya berbeda-beda. Kempat, kebutuhan vitamin D, terutama yang mendesak.

Alasan yang sungguh tidak masuk akal plus tidak nyambung. Apa hubungannya juga dengan poin keempat itu *eh. Eniwei, saya akan merasa kasihan sekali jika sampai ada muslimah yang telah mantap menutup auratnya tapi masih latah hingga dengan mudahnya terpengaruh ikut-ikutan aksi tidak masuk akal seperti ini. Hijab bukan untuk lucu-lucuan, Gaes.

World Hijab Day vs No Hijab Day

Saya termasuk perempuan yang awalnya berjilbab karena terpaksa. Saya masih ingat sekali, waktu itu umur saya baru 12 tahun, saya baru saja lulus dari sekolah dasar dan mama bilang masuk SMP saya harus menutup aurat. Itu keputusan yang beliau ambil sendiri tanpa meminta persetujuan saya terlebih dahulu. Bahkan jauh-jauh hari beliau sudah langsung menghadiahi saya seragam SMP berlengan panjang plus rok semata kaki dan beberapa lembar kerudung berwarna putih dan coklat.

Kata mama, itu untuk kebaikan saya. Menutup aurat itu wajib sama halnya seperti kewajiban shalat. Mama berusaha menjelaskan namun saya tidak peduli. Mana mau mau saya mengerti. Saya protes. Saya marah. Hanya saja saya tidak berani menentang keputusan beliau.

Baca juga Awal Aku Berkerudung

Ternyata apa yang saya alami saat pertama kali menutup aurat punya kemiripan dengan apa yang dialami Yasmine Muhammed. Coba simak penuturannya berikut ini :

Ketika saya berusia sembilan tahun, ibu saya mengenakan jilbab pertama di kepala saya. Saya tahu itu akan terjadi. Keluarga saya telah mengisyaratkan hal itu. “Oh, lihatlah bagaimana kamu sudah dewasa! Sudah saatnya bagimu untuk mengenakan jilbab segera! ”

Saya langsung membencinya. Kain itu membungkus kepala saya dan mengaburkan kemampuan saya untuk mendengar dengan benar. Kain itu juga membuat saya berkeringat. Tapi saya diberitahu betapa cantiknya saya terlihat. Saya diberitahu bahwa saya adalah permen yang harus dibungkus dan dilindungi agar tetap bersih untuk calon suami saya kelak. Saya harus tetap murni.

“Apa yang akan kamu lakukan jika kamu memiliki cincin berlian yang indah?”

“Aku akan memakainya”

Tidak, aku akan …”

“Ini untuk perlindunganmu sendiri! Berhenti berdebat! ”

Saya merasa sangat dibatasi. Sekarang saya harus menutupi setiap inci kulit kecuali tangan dan wajah saya. Celana tidak lagi diizinkan karena menunjukkan bentuk tubuh saya. Saya harus memakai rok panjang. Pakaian berlebih ini melarang saya berenang, bermain ayunan, mengendarai sepeda, semua hal yang masih ingin saya lakukan sebagai gadis muda!

Masa kecil saya direnggut hari itu.

Jadi si Yasmine ini punya trauma masa kecil terkait penggunaan jilbab. Dia menganggap dirinya sebagai korban jilbab paksa. Merasa masa kecilnya terengut karena harus menutup aurat dan itu membuatnya terkekang.

Jika Nazma Khan menggagas World Hijab Day karena dilatarbelakangi oleh pengalamannya yang ketika memutuskan berhijab kerap mendapat perlakuan tidak enak dari orang-orang sekitarnya maka Yasmine sebaliknya. Dia mempelopori gerakan No Hijab Day karena rasa dendam, marah dan benci terhadap syariat Allah ini. Barangkali selama mengenakan jilbab dia tidak pernah bahagia kali ya, atau yang ada dia justru menderita dan mengalami siksaan batin karena terpaksa harus menutup auratnya demi mematuhi perintah orang tuanya.

Ya gimana Yasmine Muhammed bisa bahagia dengan hijabnya, gimana dia nggak merasa tertekan dengan jilbab yang dikenakannya kalau tujuannya menutup aurat hanya karena mengikuti perintah orang tua bukan karena menaati perintah Allah.

Seperti yang sudah saya singgung di atas, saya juga berjilbab mulanya memang karena terpaksa tapi itu tidak lantas membuat saya trauma. Kenapa? Karena pada akhirnya saya memutuskan berjilbab dengan niat ikhlas lillaahi ta'ala bukan lagi semata-mata mengikuti kemauan mama.

Well, saya tidak akan membahas panjang lebar tentang hukum berjilbab di postingan ini. Toh, kamu pun mungkin sudah tahu, kaum feminis-liberal menganggap jilbab, cadar maupun niqab adalah budaya arab sehingga bagi mereka hukum berjilbab adalah TIDAK WAJIB.

Maka tidak heran bila mereka bersemangat sekali mengkampanyekan Hari Tanpa Jilbab. Mau berdebat dengan orang-orang yang pikirannya liberal seperti ini juga percuma.

Baca juga : Jilbab Tentang Kewajiban Bukan Pilihan


Baik World Hijab Day maupun No Hijab Day sama-sama merupakan gerakan yang menyuarakan kebebasan. Yang satu ingin bebas mengenakan jilbab tanpa mendapat diskriminasi satunya lagi ingin terbebas dari kewajiban menggunakan jilbab.

Di saat ada sebagian muslimah di belahan bumi ini berjuang sepenuh hati dan tenaga agar bisa menjalankan kewajibannya menutup aurat dengan bebas di depan publik tanpa mendapat perlakuan diskriminasi, sebagian 'muslimah' lainnya yang bisa dengan bebas menggunakan jilbab tanpa tantangan dan halangan justru merasa kewajiban itu adalah bentuk pemaksaan.

Hei, bagaimana bisa dikatakan pemaksaan sedangkan hijab yang kau kenakan itu adalah perintah dari Tuhanmu. Bahkan, kalau pun itu adalah suatu pemaksaan, terkadang kita memang  membutuhkannya untuk menjalankan kewajiban, bukan? Barangkali setelah dipaksa, kita bisa ikhlas nantinya.  Namun ah sudahlah, sekali lagi untuk apa berdebat dengan orang yang menuhankan akal.

Tentunya sebagai muslimah yang cerdas dan tidak menganut paham liberal, kamu pastinya tahu gerakan mana yang harus didukung dan gerakan mana yang harus ditentang dengan keras? Share juga opinimu di kolom komentar ya.


Sumber bacaan ;
http://www.farah.id/read/2020/02/01/2388/ini-dia-muslimah-pencetus-gerakan-hari-hijab-sedunia
http://mysharing.co/hijrah-indonesia-gelar-kampanye-no-hijab-day/
http://mysharing.co/ini-alasan-yasmine-mohammed-dirikan-kampanye-nohijabday/

You May Also Like

0 comments

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.