Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tentang Media Sosial


Ini sekadar opini saya tentang media sosial. Ngomong-ngomong soal media sosial, jujur saja sebelum menikah saya termasuk tipe maniak medsos yang memiliki banyak akun di media sosial, mulai dari Facebook, Instagram, Twitter, Google plus, Path, Tumblr, Blog hingga applikasi chatting seperti BBM, Line, WhatsApp, dll. 

Nyaris tiada hari yang saya lewati tanpa berselancar di dunia maya. Saking maniaknya saya dengan yang namanya media sosial. 

Beda banget dengan suami yang nggak begitu peduli dengan dunia maya. Facebook dan BBM, cuma itu akun medsosnya yang menjalin pertemanan dengan saya sebelum kami berproses. 

Saya malah baru berteman di WhatsApp dan Line dengan suami yang ketika itu masih berstatus calon menjelang pernikahan kami. Selain keempat akun media sosial tersebut, nope

Suami juga nggak suka mengumbar apa-apa di akun media sosialnya. Online pun hanya sesekali. Dan yang paling penting, dia bukan tipe lelaki yang suka stalking hal-hal yang gaje. Tidak seperti istrinya ini yang sehari tanpa main medsos dan stalking apa saja hidup sudah terasa begitu hampa.

Mulanya saya sempat heran dan merasa aneh. Kok di era serba medsos masih ada orang yang nggak ketagihan berselancar di dunia maya. Padahal rata-rata orang zaman now sudah kecanduan ber-medsos ria dan dia sama sekali tidak. Kok bisa ya? 

Etapi sekarang setelah tiga tahun lebih hidup seatap dengannya, saya nggak heran dan merasa aneh lagi. Kami sudah sering bertukar pikiran dan ternyata memang banyak pikiran-pikiran saya yang nggak sejalan dengan pikiran suami.


Seperti aktivitas di media sosial yang bagi suami hanya sebagai selingan sementara bagi saya media sosial sudah menjadi kebutuhan. Suami tidak suka memiliki banyak akun di media sosial sedangkan saya malah sebaliknya. Suami juga tidak suka mengumbar apa-apa di media sosial karena begitu menjaga perasaan orang lain. 

Dia sangat khawatir bila postingan-postingannya nanti akan mengundang penyakit hati atau 'ain dari orang yang melihatnya.

Menurut saya pemikirannya itu terlalu berlebihan, apa salahnya berbagi kebahagiaan, kesedihan dan segala hal di media sosial. Toh, orang lain juga ketika mengumbar kebahagiaan dan segala tetek bengeknya, mulai dari jalan-jalannya, makanannya, kegiatannya dsb tidak pernah memikirkan perasaan kita. Lantas kenapa kita yang harus menjaga perasaan mereka?

Ketika diajak berdiskusi panjang lebar dengan suami mengenai hal tersebut, saya jadi banyak belajar dari pemikiran suami yang kalau dipikir-pikir memang ada benarnya dan masuk akal juga. 

Apa manfaatnya mengumbar segalanya di medsos? Berbagi kebahagiaan untuk apa, mau ditujukan kepada siapa? Bagaimana bila postingan kebahagiaan kita mengundang penyakit di hati orang lain? 

Lebih-lebih bila maniaknya kita sampai memosting hal-hal yang menyangkut privasi di media sosial sehingga tak ada lagi hijab antara dunia maya dan dunia nyata. 

Maka orang-orang di maya sana bebas mengeskpos apa saja terkait diri kita dan parahnya kita sama sekali tidak merasa risih. Menganggap semua itu lumrah. Sehingga wajar pula bila banyak orang bisa mengakses informasi apa pun terkait diri kita meski kita tidak pernah memberitahu keberadaan, kondisi, pikiran dan perasaan kita secara langsung.

Sadar atau tanpa disadari dibalik aktivitas kita yang doyan eksis di dunia maya bakal ada sebagian orang yang diam-diam sering membuntuti kita, yang tanpa menunjukkan diri kerap mengintip tingkah kita di media sosial. 

Di dunia nyata orang-orang yang demikian disebut penguntit. Begitu istilah kasarnya. Istilah halusnya mungkin disebut dengan secret admirer (pengagum rahasia). Nah, di dunia maya kedua istilah tersebut menyatu menjadi sebuah kata yang konotasinya memuat makna halus (positif) dan kasar (negatif), yakni stalker.

Ya, masalahnya kita tidak tahu apa motif dibalik orang yang sembunyi-sembunyi suka memperhatikan kita. Entah bermaksud baik atau buruk. Kita tidak bisa mendeteksi siapa-siapa yang mungkin pernah hatinya tergores oleh sikap dan tutur kata kita yang ternyata melukai hingga mengendap menjelma dendam. 

Kita pun tidak bisa melacak siapa-siapa yang hatinya tersentuh oleh perangai kita yang memesona hingga memekarkan sebuah rasa.

Kita harus siap menerima konsekuensi, selain kuota internet yang cepat ludes, waktu luang banyak terlalaikan, kecanduan gadget, aktivitas kita berselancar di medsos juga bakal di-stalking oleh orang-orang yang memang doyan mengawasi kita di dunia maya entah dengan maksud apa. 


Ada yang mungkin sekadar stalking tanpa maksud apa-apa, ada yang mungkin punya maksud u dibalik b. Boleh jadi karena benci atau sakit hati yang dipendam atau boleh jadi karena suka dan jatuh hati diam-diam. Bisa saja demikian. 

Kalau bermaksud baik sih nggak masalah tapi kalau ada yang punya niat jahat dengan kita lalu sengaja mencari kelemahan atau kekurangan lewat kekepoan dia terhadap akun media sosial kita itu yang bahaya bin darurat. 

Selain itu kita juga bisa terjangkit penyakit hati yang bernama riya', ujub dan sombong.
Atau hidup kita nggak bakal tenang karena hari-hari yang ia lakukan hanyalah sibuk melihat dan memperhatikan kehidupan orang lain dari layar gadget sampai-sampai luput dengan kehidupannya sendiri. 

Alih-alih menjadi diri sendiri, karena keseringan stalking bisa jadi kita bakal terpengaruh ingin menjadi orang lain, nekat meniru style mereka yang sering kita  ikuti timelinenya di dunia maya. 

Lebih-lebih lagi kalau kita doyan stalking masa lalu, dijamin hidup kita nggak bakal berkembang, nggak bakal maju-maju karena terus larut dengan masa  yang telah berlalu dan mustahil bisa diputar kembali. 

Masa lalu yang sering kita tengok itu menjelma tameng yang menghalangi sehingga kita sulit fokus mengejar masa depan yang masih cerah nan gemilang. 

Besar tidak menutup kemungkinan, akibat suka stalking hati kita juga jadi gampang digerogoti oleh penyakit hati yang sangat mematikan. Iri, dengki, dendam bahkan hubbuddunya (cinta dunia). 

Nah, semenjak menikah dan bertukar pikiran dengan suami itulah saya baru menyadari jelas efek negatif yang ditimbulkan dari maniak dalam ber-media sosial mau pun stalking yang sebelumnya masih samar dalam pandangan saya. 

Selama ini saya menganggap lumrah saja bila saya punya banyak akun media sosial di dunia maya. Saya menganggap biasa saja bila menelusuri akun media sosial orang lain baik yang saya kenal mau pun tidak tanpa batas. 

Tapi ternyata dua hal yang saya anggap lumrah dan biasa saja itu justru tidak wajar dalam ajaran agama.

Sesuatu yang alay bin lebay, over, kelewat pede berlebih-lebihan, mubazir, boros dan sebangsanya tidak diajarkan dalam Islam. Pelit, kikir. minder, less, minus dan sejenisnya juga tidak dianjurkan dalam Islam. 

Sebah Islam adalah agama washatan , pertengahan; tidak lebih dan tidak kurang, sehingga sebagai penganutnya seharusnya kita menerapkan konsep wasathan ini dalam melakukan hal apa pun. 

Makan sebelum lapar berhenti sebelum kenyang. Tidak boros dalam berbelanja namun tidak juga kikir untuk berbagi kepada sesama terutama yang membutuhkan santunan kita. 

Termasuk dalam beribadah pun kita dilarang berlebih-lebihan mau pun mengurang-ngurangi. Menambah-nambah atau mengurang-ngurangi gerakan dalam shalat  yang bahkan tidak pernah dicontohkan oleh Rasullullaah shallallaahu 'alaihi wassalam atau beribadah (shalat) terus menerus di masjid tanpa melakukan amalan lain di luar masjid pun sebaliknya, ibadah yang demikian bakal tertolak.

Nah, maniak ini bagian dari alay, lebay, berlebih-lebihan dan seterusnya dan you know, kan, yang namanya berlebihan pasti nggak baik, pasti ujung-ujungnya berdampak kerusakan so that alangkah baiknya bila kita bisa menjadi pengguna internet yang bijak, yang pandai menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Memang seharusnya dan sebaiknya dalam bermedsos kita harus berhati-hati. Atau kalau pengen aman tidak ada salahnya juga bila kita mempraktikkan tips ala masyarakat Jepang dalam bermedia sosial yang dibagikan Mbak Vidyagatari di blognya.

Dari postingan Mbak Vidya saya jadi tahu bagaimana masyarakat Jepang memandang media sosial. Jujur saya salut banget dengan sikap mereka. Betapa orang Jepang sangat menjaga yang namanya privasi di media sosial. Sampai-sampai jika ingin memposting foto yang ada teman, kerabat atau orang lain mereka pasti minta izin.

Kalau di Indonesia? Duh, jangan tanya lagi tapi ini bisa jadi pelajaran. Bermedia sosial memang perlu batasan. Tidak semua yang merupkan privasi perlu kita umbar ke khalayak maya. Tapi yah ini kembali lagi ke masing-masing individu. Setiap individu kan punya pandangan yang berbeda tentang media sosial. Bagaimana menurutmu?


Salam,

Posting Komentar untuk "Tentang Media Sosial"

Berlangganan via Email