Apa yang Salah dengan Media Sosial?

by - July 13, 2020

Apa yang salah dengan media sosial

Waktu bulan April kemarin saya sempat baca postingan di blog Mbak Grace Melia tentang si Papi Ubii yang sudah dua bulanan deactivated akun facebook dan instagramnya. What it means?

Yap suami dari blogger parenting yang akrab disapa Gesi itu ternyata sudah nggak main media sosial lagi. Seketika saya langsung merasa suami saya nggak ada apa-apanya, haha.

Lha iya suami saya masih berada di fase main medsos tapi nggak maniak banget kayak istrinya ini, sementara suami Mbak Gesi sudah di tahap yang benar-benar ninggalin media sosial lho. Wah, keren ya?

Well saya selalu salut sama orang-orang yang bisa hidup tanpa media sosial. Secara kamu tahu sendiri kan, zaman sekarang medsos itu sudah kayak kebutuhan primer hampir semua orang.

Jadi kalau hari gini masih ada orang yang nggak punya akun facebook atau instagram bakal dianggap aneh. Yah kecuali kalau kamu tinggal di daerah pedalaman yang memang sama sekali belum terpapar teknologi.

As we know rata-rata orang di kota mah hidupnya sudah nggak lepas dari yang namanya media sosial. Yang sampai kecanduan facebook, instagram, twitter, dkk banyak. Bahkan sehari saja tidak buka medsos rasanya seperti makan sayur tanpa garam. Hampa rasanya hidup, bener nggak? Eh itu juga sih yang saya rasain kalau kuota internet habis, hehe.

Makanya saya takjub banget sama orang yang bisa menjalani hari-harinya tanpa berselancar di jejaring sosial. Of course, karena saya tahu meninggalkan media sosial sungguh bukan perkara yang mudah apalagi yang sudah kena candu.

Namun ternyata di luar sana ada lho orang-orang seperti Papi Ubii yang memutuskan untuk deactivated akun medsosnya. Memang apa salahnya media sosial? Kenapa sampai tutup akun segala?

Baiklah, mungkin kamu penasaran kira-kira apa saja alasan yang bikin sejumlah orang memilih meninggalkan media sosial, yuk kita bahas satu-satu.

Alasan Meninggalkan Media Sosial

Tak dimungkiri, media sosial membawa dampak yang begitu besar dalam kehidupan manusia. Kehadirannya memang sangat memudahkan kita berinteraksi dengan keluarga/kerabat/teman-teman yang terpisah jarak. Kita juga bisa dapat informasi dengan sangat cepat. 

Lebih dari itu, beberapa platform media sosial seperti instagram, facebook, twitter maupun youtube kini bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Sayangnya dampak dari media sosial tidak melulu positif. Itulah sebabnya ada orang-orang seperti Aditya Suryaputra, suami dari Grace Melia yang memilih angkat kaki dari hiruk pikuk dunia media sosial. Why? 

Buang-Buang Waktu

Segala sesuatu jika dilakukan secara berlebihan pasti jatuhnya nggak baik. Begitupula dalam bermedia sosial. Tak dimungkiri banyak orang yang sering kebablasan saat berselancar di media sosial.

Ini salah satu alasan yang menguatkan si Papi Ubii hingga mengambil keputusan menutup akun media sosialnya, dalam hal ini facebook dan instagram. Papi dari Ubii dan Aiden ini mengaku rata-rata screentimenya dalam sehari mencapai 6 jam dimana 50% dari 6 jam itu dia habiskan untuk media sosial saja.

Menurutnya 3 jam untuk media sosial itu terlalu berlebihan, karena dia bukan seorang influencer, bukan pula content creator, hanya pengguna medsos biasa yang tidak membutuhkan banyak waktu di beranda facebook maupun home instagram.

Lalu dia merasa menyesal atas 3 jam yang terbuang percuma sebatas untuk scrolling dan kepo aktivitas orang lain, padahal waktu selama 3 jam itu bisa dia gunakan untuk aktivitas lain yang produktif. 

Harus saya akui saya pun sering lupa waktu ketika buka media sosial. Padahal niatnya cuma mau rehat sejenak sembari ngecek medsos selagi anak tidur eh tapi pas liat ada status atau foto teman yang menarik jiwa kekepoan saya seketika muncul.

Ujung-ujungnya saya malah keasyikan stalking berlama-lama di akun profil teman saya tersebut. Itu baru satu akun, belum yang lainnya. Pas sadar anak sudah keburu bangun dan pekerjaan domestik saya belum ada yang beres, hiks.

Kalau sudah begini apa saya juga harus meninggalkan medsos?

Menjauhkan yang Dekat

Salah satu fungsi media sosial memang dapat menghubungkan kita dengan keluarga, teman-teman maupun kerabat dengan mudah. Berkat media sosial pula kita bisa tahu kehidupan orang-orang di sekitar kita dengan cepat.

Bahkan sering banget ya kejadian orang-orang yang aktif di media sosial bisa lebih dulu tahu kabar tentang kita ketimbang tetangga dekat rumah. Kendati demikian, sadar nggak sadar medsos sudah menjauhkan kita dengan orang-orang terdekat di sekeliling kita.

See! Kalau ada acara kumpul-kumpul dengan teman atau sanak saudara paling hanya sebatas formalitas belaka. Bilangnya saja lagi ngumpul atau reunian, tapi semuanya pada asyik dengan gawai masing-masing. 

Ada yang sibuk update status dan balas-balas komen, ada yang asyik bikin konten untuk youtube atau live di IG, ada juga yang sibuk foto-foto dan keliling cari spot yang bagus demi mendapat konten yang bagus untuk feed.

Semua fokus dengan media sosialnya sendiri, sampai tiba waktu berpisah, nggak ada kesan dan kebersamaan sama sekali yang dibawa pulang.

Nah, mereka yang menyadari media sosial telah menjauhkannya dengan orang-orang di sekelilingnya mungkin akan mengambil langkah seperti suaminya Grace ini.

Kehilangan Privasi

Sstiap orang pasti punya privasi masing-masing yang seharusnya bisa dijaga dengan baik. Namun semenjak munculnya media sosial banyak orang yang justru kehilangan privasi karena hampir semua yang ada dalam kehidupannya dia umbar ke media sosial, termasuk masalah dalam rumah tangganya.

Media sosial yang seharusnya cukup dijadikan sebagai tempat silaturahmi malah dijadikan ladang curhat. Ada masalah sedikit larinya ke media sosial, tersinggung sedikit curhatnya di media sosial, emosi dengan seseorang, pelampiasannya juga di media sosial. Orang-orang yang saling sindir dan sampai berantem di media sosial juga ada, buanyaaak. Miris banget ya?

Padahal menjaga privasi diri dan keluarga sangat penting. Apalagi kehidupan kita sepenuhnya ada di dunia nyata jadi tidak perlulah semua masalah dalam hidup kita bawa ke media sosial.

Itulah sebabnya pilihan untuk meninggalkan media sosial dirasa tepat bagi sebagian orang yang sering kecolongan curhat di ranah maya.

Banyak Racun

Tidak hanya di kehidupan nyata, justru orang-orang beracun alias toxic people lebih banyak berkeliaran di media sosial. Ingat, racun yang ada di media sosial bukan hanya dalam bentuk komen negatif dari si toxic people.

Kalau kamu liat postingan orang lain dan itu bikin hati kamu panas, kamu cemburu, gelisah, iri, dan mulai membanding-bandingkan dirimu dengan yang lain lalu menjadi tidak percaya diri itu juga termasuk racun yang bisa mengganggu kesehatan mentalmu.

Banyak lho orang terserang racun jenis ini. Termasuk saya salah satunya. Ya saya pernah merasa insecure karena media sosial. Bahkan ada masa dimana saya sering menangisi diri sendiri hanya karena melihat postingan-postingan berupa foto selfie yang diunggah oleh teman saya di akun media sosialnya.

Entah kenapa setiap kali lihat postingan selfie teman saya itu bikin dada saya sesak, rasa iri dan cemburu yang langsung menyeruak. Mungkin karena hasil dari foto selfie saya nggak sebagus foto selfie miliknya kali ya, hehe.

Eh tapi gara-gara itu juga sih saya sampai menghapus semua foto selfie yang ada di semua akun media sosial saya. So far, jangan heran, kalau kamu berkunjung ke akun media sosial saya baik di IG, FB maupun Twitter kamu nggak bakal ketemu dengan foto selfie saya, hehe.


Padahal dulu aseli saya orangnya tukang selfie, dan lumayan eksis  di medsos terutama Facebook dan Instagram. Di facebook saya rajin update status panjang-panjang hampir setiap hari sementara di IG penuh dengan unggahan foto wajah saya, haha. 

Nah, kalau ada orang yang memilih detoks mesdsos dengan cara deactivated akunnya atau rehat sejenak dari aktivitas jejaring sosial, saya lebih memilih untuk nggak eksis di media sosial. 

Mulai dari tidak lagi mengumbar foto wajah  di medsos, tidak lagi sering update status atau unggah foto hingga memilih untuk fokus menulis di blog saja. 

Setelah itu saya merasa hidup saya jauh lebih tenang. Bahkan sebenarnya nggak ada niatan saya mau kembali eksis di medsos. Saya sudah merasa cukup bahagia dengan menjadi blogger. 

Sayangnya tuntutan untuk jadi blogger profesional di zaman sekarang nggak lepas dari media sosial. That's why sejak Kamar Kenangan ini dimonetisasi saya mulai aktif kembali bermedia sosial. Bahkan bisa dibilang jauh lebih aktif karena dulunya meski rajin update status dan unggah foto, saya masa bodoh dengan yang namanya followers dan engagement

But now? Saya sampai ikut list saling follow, ajang follow loop hingga menjadi sponsor giveaway demi bisa swipe up dan memenuhi syarat agar bisa kebagian job😂

Begitulah kira-kira alasan mengapa ada orang yang butuh detoks media sosial, sampai tutup akun segala. Sebenarnya masih banyak alasan lain tapi cukup saya sebutkan 4 poin saja ya. Atau mungkin kamu termasuk orang yang saat ini juga sedang berhenti sejenak untuk buka medsos. Bisa dong share alasanmu di kolom komentar.

Kesimpulan

Sebelum mengakhiri postingan ini, jika ditanya apa yang salah dengan media sosial? Menurut saya nggak ada yang salah karena medsos sebatas platform yang membantu menghubungkan kita dengan banyak orang lewat jaringan internet. Pengaruh positifnya juga ada banyak kok.

Bahkan kalau kita pintar memanfaatkannya, medsos bisa kita jadikan ladang untuk menambah penghasilan dari rumah saja. Kalau pun ada yang salah, semua tergantung dari penggunanya. Yap tergantung bagaimana kita bisa menggunakan medsos dengan bijak.

Kalau saya sekarang aktif kembali di medsos tujuannya memang cuma untuk membangun branding dan menunjang aktivitas utama saya sebagai blogger. Andaikata blogger tidak butuh medsos, of course saya akan lebih nyaman main di blog saja. How about you? Share juga yuk opinimu tentang media sosial di kolom komentar.

Salam, 


You May Also Like

21 komentar

  1. Memang sih kalau nggak ada kepentingan yang terlalu mendesak untuk berlama-lama dengan medsos (misal, promosi konten dll), ngapain juga spend 3 jam/hari mantengengin timeline.

    Lain cerita kalau ada keperluan lainnya.

    ReplyDelete
  2. aku juga pernah hengkang dari per-dunia sosial-an sekitar hampir 2 bulan, bukan karena niat, tapi karena Hp ilang, hihi..
    Tapi dari 2 bulan itu, aku ngerasa tenang aja jiwanya. Tapi disisi lain, jadi KUDET gitu, wkwk..

    Btw, warbyasak ya suami mbak Gesi, mantul!
    Kalo suami aku sih, malah merambat ke-dunia games, hadeh.. Tapi katanya sih mau menghasilkan pundi-pundi, hihi..

    ReplyDelete
  3. Kalau dipikir memang serikali kita lupa waktu pas buka medsos. Selalu pengen scroll ke bawah terus. Padahal nggak ada gunanya juga lihatin foto orang-orang yang nggak dikenal. Kecuali kalau buka medsos untuk bisnis.
    Saya juga termasuk orang yang susah keluar dari medsos kalau udah terlanjur buka.lupa waktu tanpa sadar....

    ReplyDelete
  4. Pokoknya bikin lalai hahahahaha

    Mending dikurang2in deh kalau di jam kerja wkkwkw

    ReplyDelete
  5. saya termasuk yg mudah insecure mbak. Makanya main blog bener2 masih healing aja, blm pengen monetisasi, karena belum siap dgn resiko2 yg akan muncul.

    Kerasa banget bahwa medsos berpengaruh dlm hidup saya, apalagi kalo menengok ke belakang. Jadi, kalo skrg mah masih ditingkat ga deactivated tapi jarang posting2, tapi malah bnyk scrolling sih, haha. Ini malah buang2 waktu yaaa.

    Emang balik ya, kita kudu bisa memenej waktu dan disiplin diri dgn medsos ini.

    ReplyDelete
  6. Setuju, sekarang cenderung lebih ingin mengurangi waktu bermedia sosial. Karena capek juga main media sosial.

    ReplyDelete
  7. setuju bgt mbak siska, tos dulu yuk. hihi
    aku pun rasanya nggak bisa hidup tanpa medsos, ih ngeri bgt ya. wkwkw. nggak ding, aku nggak smpe ketahap yg kecanduan parah sih, cm ya memang main medsos ada sisi positif dan negatif, tinggal gimana kitanya aja ya

    ReplyDelete
  8. yang saya rasakan malah kadang kita sendiri yang membuat orang2 tau apapun tentang kita
    membuat privasi itu hilang.
    pengen juga sih off sosmed
    tp kok kayanya sekarang susah ninggalin sosmed karena banyak kegiatan blog yang harus di share di sosmed

    ReplyDelete
  9. Saya sempet mikir, kalau nggak pegang komunitas, mungkin FB yang pertama saya tutup untuk sekarang ini. Tapi, nggak mungkin juga, udah merasa ada tanggung jawab udah ngumpulin banyak orang, masa tiba-tiba saya ilang? Semoga apa yang saya kerjakan ada manfaatnya buat orang lain.

    ReplyDelete
  10. dulu saya juga jarang banget aktif di sosmed, baru tahun 2017 akhir saya aktifkan IG, karena saya sekolah lagi di bidang Tourism, jadilah mua gak mau saya punya tanggungjawab untuk membantu atau berkontribusi terhadap pariwisata di Indonesia dan beberapa tempat yang saya teliti. sekarangpun aktif hanya untuk bangun branding sama kayak mba, meski saya belom fokus 100% sih, tapi jika digunakan dengan bijak, sosmed ini sangat bermanfaat

    ReplyDelete
  11. sering sering mantengin layar sosmed sekian jam yang kadang nggak terasa alias sampe lupa waktu memang ada nggak baiknya, kadang mataku sampe pedes liatin hape mulu hahaha. kalau udah gitu aku cuekin si hape dan mending beralih lama lama di depan laptop sambil ngeblog.
    dulu aku post di sosmed cuman buat hal hal pribadi,tapi sekarang agak berubah fungsi buat cari duit juga hehe

    ReplyDelete
  12. bener mba Siska, aku juga kadang ingin hiatus dari media sosial, tapi gimana ya, gabisa aja gitu haha. Emang dasarannya ingin berbagi dan suka aja gitu share-share, mungkin ada beberapa hal sih yg emg mengganggu, terutama aku pas lagi PMS, suka muncul overthinkingnya, trus suka baper liat riuhnya sosial media

    ReplyDelete
  13. Benar banget mba, dari sisi negatifnya bahkan bisa bikin hidup tak nyaman, mulai dati berita hoaks hingga postingan cling-cling yang bikin rasa syukur perlahan terdegradasai. Namun, daftar positifnya pun tak kalah panjang. Bagi saya, medsos kini menjadi media belajar dan berburu inspirasi. Meski tak dipungkiri, efek negatifnya tidak benar-benar hilang, meski kita sudah berusaha untuk lebih bijak bermedia sosial. Paling tidak, kita masih bisa meminimalosir efek negatifnya, ya. Jika dirasa sudah tak sehat, mungkin keputusan untuk sejenak "berpuasa" media sosialbisa menjadi pilihan. 🙂

    ReplyDelete
  14. Saya lebih setuju jika media sosial hanya sebagai alat. Kita sendirilah yang menentukan bermanfaat apa tidak. memangsih godaanya banyak banget, asal inget waktu dan kita gunakan untuk apa, insyaAllajh media sosial akan berdampak positif bagi kita.

    terlebih sebagai influencer atau blogger, dimana branding dna juga jumlah follower diperlukan untuk meningkatkan kualitas diri dan juga blog

    ReplyDelete
  15. saya juga dulu rajin upload foto di facebook, tapi belakangan uploadnya paling di IG, itu juga jarang sih karena malas buat caption. Kalau cuma upload tanpa caption rasanya gimanaaa gitu, hahahh.
    iyaah, sempat baca postingan Mami Ubii tentang ini, salut lah tuk Papi Adit itu, sekarang jadi lebih produktif pastinya ::)

    ReplyDelete
  16. aku juga masih suka buka medsos mbak, tapi di IG mulai mengurangi foto selfie. skrng lebih seringnya foto2 hasil kunjungan atau maen kemudian ada uraian sedikit tentang tempat tersebut..ya sapa tau mengundang orang untuk mengunjungi juga. Masih berharap diriku tidak addict dengan medsos. semoga hehehe

    ReplyDelete
  17. Kalau aku ngerasa lebih tenang Mbak tanpa medsos. Walau belum bisa sepenuhnya lepas medsos. Kadang medsos jadi sumber update informasi soalnya. hehe

    ReplyDelete
  18. Saya pribadi meski tahu banyak damak negatifnya, bakal tetap pakai sih mbak. Ya gimana, butuh banget buat branding diri dan olshop yang dikelola. Jadi ya mau nggak mau pakai. Tinggal gimana maintain diri sendiri biar nggak terlalu hanyut sih.

    Soalnya emang tkxic banget kalau keterusan. Malah sekarang main sosmed lebih sering buat sharing-sharing tipis aja. Udah jarang scrolling nggak penting. Waktunya terbatas sih.

    ReplyDelete
  19. Salut dengan orang-orang yang sudah mulai meninggalkan hingar bingar media sosial. Saya terus terang belum mampu karena hp saja saya taruh dibawah bantal ketika tidur. bukannnya tak takut kena radiasi tapi kadang ada pesanan online.

    ReplyDelete
  20. Saya seperlunya aja sih bermedia sosial, Media promosi tulisan di blog. Hihihi. Saling sapa teman yang jauh, kemudia nyari ilmu pada komunitas menulis. Terkadang baca tulisan atau teman yang sudah lebih maju, seperti pukulan untuk segera sadar dari kelalaian jalan ditempat.

    ReplyDelete
  21. Memang harus bijak dalam bermedia sosial

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.