Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tandem Nursing, Momen Bahagia Menyusui Kakak dan Adik Sekaligus

Simak yuk pengalaman saya tentang tandem nursing, momen bahagia menyusui kakak dan adik sekaligus. 

Tandem nursing momen bahagia menyusui kakak dan adik sekaligus

Zhaf, anak pertama saya baru menginjak usia delapan bulan ketika saya mendapati hasil testpack menunjukkan dua garis merah.

Kejutan yang sungguh tidak terduga. Di satu sisi saya senang karena saya memang pengen punya anak kembar atau paling tidak anak dengan usia jarak dekat.

Namun di sisi lain saya merasa sangat sedih dan bersalah karena kehamilan tersebut ternyata mempengaruhi produksi ASI saya. Dimana seiring dengan bertambahnya usia kehamilan kuantitas ASI saya semakin berkurang dan tidak lagi dapat memuaskan rasa lapar dan dahaga Zhaf kala terbangun tengah malam.

Alhasil proses menyusui pun jadi terhambat bahkan akhirnya saya merelakan Zhaf terpapar sufor.

Jujur hati saya remuk sekali melihat Zhaf minum susu selain ASI. Saya merasa gagal karena tidak maksimal memenuhi haknya untuk mendapatkan full ASI hingga usia dua tahun.

Setelah mengetahui kehamilan saya, banyak pula keluarga dan orang-orang terdekat yang menyarankan agar saya segera menyapih dini Zhaf dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal.

Menurut mereka ibu hamil tidak boleh menyusui. Alasannya karena ASI akan basi bahkan berubah menjadi darah, ada juga yang bilang anak tertua akan idiot, perkembangan janin pun bisa terhambat bila si ibu menyusui dalam keadaan hamil.

Apakah saya lantas percaya dan langsung mengiyakan saran mereka?

Tentu saja tidak. Saya tahu semua itu cuma mitos dan saya tidak harus mengikuti saran mereka walau maksudnya baik. 

Barangkali mereka hanya tidak ingin saya mengalami kesusahan karena menyusui dalam kondisi tengah berbadan dua apalagi sampai menyusui dua anak sekaligus.

Namun selagi kondisi saya memungkinkan untuk menyusui saat hamil bahkan setelah anak kedua lahir dengan menjalankan tandem nursing, why not?

Mengapa Memilih Tandem Nursing?

Sebelum mengemukakan alasan mengapa saya tidak menyapih Zhaf saat hamil bahkan tetap ingin menyusui anak pertama saya setelah adiknya lahir ada baiknya saya jelaskan dulu ya, apa itu tandem nursing? 

Dilansir dari ibupedia.com, tandem nursing diartikan sebagai kondisi menyusui dua bayi atau lebih di usia berbeda yang menyusu di waktu bersamaan. 

Tandem nursing juga bisa berarti tiap anak menyusu pada tiap payudara atau anak-anak bergiliran menyusu pada ibu.

Ya, tandem nursing adalah istilah yang melekat pada aktivitas ibu yang menyusui dua anak yaitu si adik yang baru lahir dan kakaknya yang belum genap dua tahun atau belum disapih.  Aktivitas ini dapat dilakukan secara bersamaan maupun sendiri-sendiri.

Menyusui satu bayi saja membutuhkan perjuangan ekstra apalagi dua bayi. Kenapa mau melakukannya? Padahal kamu bisa saja mengikuti saran orang-orang terdekat, menyapih kakak lebih awal agar bisa fokus menyusui adik setelah lahiran.

Berikut ini beberapa alasan mengapa saya memilih menjalani tandem nursing :

Memenuhi hak anak untuk mendapatkan ASI selama dua tahun

Sebelum Zhaf lahir saya sudah bertekad akan memenuhi haknya untuk mendapatkan ASI hingga menginjak usia minimal dua tahun. 

Qadarullaah dalam perjalanan menyusui Zhaf yang bahkan belum setengah jalan saya hamil anak kedua dan mungkin karena pengaruh hormon kehamilan sehingga produksi ASI saya menurun drastis.

Meski demikian tidak ada niatan sama sekali ingin berhenti menyusui Zhaf. Saya tidak menganggap kehamilan saya saat Zhaf belum disapih sebagai penghalang menyusui justru menjadi tantangan tersendiri bagi saya.

Zhaf masih punya hak untuk mendapatkan makanan terbaik di masa golden age-nya lalu kenapa saya harus berhenti menyusuinya hanya karena saya hamil?

Anak masih ingin menyusu

Mungkin kamu pernah dengar cerita mengenai bayi yang menyapih dirinya atau berhenti menyusu dengan sendirinya. Proses sapih alami ini biasanya terjadi karena perubahan pada ASI ketika ibu dalam kondisi hamil.

Menurut artikel yang pernah saya baca, pada masa kehamilan produksi ASI biasanya akan mengalami perubahan. Bukan hanya volumenya yang berkurang, rasa dari ASI juga akan berubah. 

Setelah masuk trimester kedua ASI berubah menjadi kolostrum. Rasa kolostrum sendiri tidak semanis ASI matang sehingga ada kemungkinan bayi tidak suka dengan rasanya.

Kebanyakan bayi yang tidak suka dengan rasa ASI yang berubah ini akan kehilangan minat untuk menyusu. Namun ada juga bayi yang tidak peduli dengan perubahan tersebut sehingga tetap mau menyusu.

Setidaknya saya bersyukur Zhaf termasuk tipe bayi yang tidak peduli dengan rasa ASI yang berubah. Dia masih mau menyusu sekalipun ASI yang keluar dari puting saya sedikit dan tidak membuatnya kenyang. Mungkin itu hanya membuatnya merasa nyaman, tapi tidak masalah yang penting dia tidak menolak ketika saya sodorkan puting.

Nah, anaknya saja masih mau menyusu, kenapa saya harus berhenti? Kecuali kalau Zhaf sediri yang mau berhenti ya apa boleh buat.

Kondisi ibu memungkinkan untuk menjalani tandem nursing

Alasan lain yang membuat saya optimis untuk tetap lanjut menyusui Zhaf dalam kondisi hamil bahkan setelah adiknya lahir karena saya tidak memiliki riwayat yang mengharuskan saya berhenti menyusui saat hamil.

Tidak ada larangan bagi ibu hamil yang ingin menyusui anaknya. Namun memang ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh ibu ketika ingin menyusui saat hamil.

Syaratnya apa saja? Saya sudah pernah menuliskannya di Kamar Kenangan ini. Setidaknya ibu yang ingin menyusui saat hamil memenuhi syarat-syarat berikut :
  • Tidak ada riwayat keguguran
  • Tidak ada riwayat melahirkan prematur
  • Tidak ada riwayat kontraksi dini
  • Tidak mengalami kontraksi berlebihan saat menyusui
  • Tidak mengalami kontraksi terus menerus apalagi sampai keluar flek
  • Jaga asupan cairan dan gizi
  • Konsultasikan sama dokter
Kalau kondisi saya tidak memungkinkan saya jelas akan berhenti dan tidak akan memaksakan diri untuk menyusui Zhaf. Namun alhamdulillaah kehamilan saya berjalan lancar dan normal. 

Saya juga tidak memiliki riwayat yang membahayakan bila menyusui dalam keadaan hamil. Dengan demikian saya tidak memiliki alasan untuk menyapih Zhaf sebelum waktunya.

Belum siap menyapih anak

Sejujurnya ini juga alasan yang bikin saya dengan senang hati mau menyusui Zhaf dan adiknya. Menjalani tandem nursing memang tidak mudah, tetapi saya juga merasa berat jika harus menyapih Zhaf terlalu dini.

Mungkin mudah saja bagi orang-orang di sekitar saya menyuruh untuk segera menyapih Zhaf. Namun bagi saya itu perkara yang berat. 

Memiliki banyak manfaat

Satu lagi nih alasan yang membuat saya semakin mantap menjalani tandem nursing. Bersyukur saya hidup di zaman sekarang dimana saya bisa mengakses informasi dengan cepat dan langsung dari sumber terpercaya. 

Mitos-mitos menyusui yang sampai ke telinga saya juga tak kalah banyak, termasuk menyangkut tandem nursing yang sudah saya singgung di atas. Nyatanya setelah saya cari tahu, aktivitas menyusui kakak dan adek bersama ini sama sekali tidak membahayakan lho, justru banyak manfaatnya.

Manfaat Tandem Nursing

Kakak mendapatkan ASI hingga usia 2 tahun

Manfaat pertama dari tandem nursing tentu saja si kakak tidak akan kehilangan haknya  mendapatkan nutrisi terbaik dari Air Susu Ibu di masa golden age. 

Seperti yang kita ketahui, ada banyak sekali manfaat menyusui selama dua tahun sehingga kesempatan emas ini sangat layak untuk diperjuangkan.

Yah kecuali kalau kondisi ibu memang tidak memungkinkan untuk menyusui dua bayi atau anaknya sendiri yang tidak mau lagi nenen.

Pengalaman  teman saya seperti itu. Sewaktu hamil dia masih ingin lanjut menyusui anak pertamanya dengan tandem nursing namun setelah anak keduanya lahir si anak tertua sendiri yang menolak untuk disusui. 

Saya juga sempat khawatir Zhaf bakal bereaksi serupa. Apalagi hampir sepekan sebelum melahirkan saya berpisah dengannya otomatis dia juga berhenti minum ASI saat itu. Untungnya yang saya khawatirkan tidak terjadi. 

Setelah bertemu kembali Zhaf masih mau nenen dan berlanjut hingga usianya menginjak 2 tahun lewat 1 bulan. 

Mengatasi masalah nenyusui yang biasa muncul di hari-hari pertama paska persalinan

Saya tidak akan lupa dengan masalah yang saya alami di hari-hari pertama menyusui Zhaf. Payudara bengkak, puting lecet bahkan hingga berdarah. 

Rasanya tersiksa sekali menyusui dalam keadaan seperti itu. Namun demi memberikan Zhaf ASI eksklusif semua rasa sakit itu berhasil saya tanggung.

Entahlah, jika Zhaf berhenti menyusu sebelum adiknya lahir apakah saya akan mengalami masalah serupa atau tidak?

Karena saya menyusui Zhaf selama hamil sehingga ketika melahirkan ASI saya sudah langsung keluar gitu. Alhasil saya juga tidak  mengalami masalah menyusui seperti ASI tidak keluar, puting luka dan lain sebagainya.

Produksi ASI lancar dan banyak

Siapa bilang menyusui kakak dan adik sekaligus membuat ASI berkurang atau tidak cukup sehingga si adik akan kekurangan gizi? 

Justru sebaliknya. ASI saya sudah langsung keluar dengan lancar setelah Fath, anak kedua saya lahir. Malah setelah kakaknya ikut nenen, produksi ASI juga meningkat hingga baju saya selalu basah.

Tidak perlu heran kenapa bisa demikina karena memang prinsip produksi ASI  itu suply by demand. Artinya semakin banyak disusui/diperah semakin banyak pula ASI uang  keluar. 

Jadi nggak usah takut ASI habis karena tandem nursing. Yang ada malah sebaliknya, ibu akan kebanjiran ASI, hehe. Saya sudah mengalami sendiri soalnya.

Membangun bonding yang kuat antara ibu dan kedua anak serta bonding antara kakak dan adik

Salah satu manfaat menyusui adalah membangun bonding yang kuat. Tentunya dengan tandem nursing ini ikatan batin yang terjalin bukan hanya antara ibu dan sang kakak saja atau hanya ibu dengan si adik atau ibu dengan kedua anaknya melainkan ikatan batin antara kakak dan adik juga terbentuk.

Mencegah terjadinya sibling rivalry

Rasa iri maupun persaingan umum terjadi antara saudara, bahkan pada anak yang belum mengerti sama sekali.

Namun percayalah lewat tandem nursing ikatan yang kuat antara kakak dan adik akan terbangun.

Saya sendiri sudah sering lihat Zhaf membantu adiknya saat kami sedang asyik ber-tandem nursing ria, hehe.

Jadi saat saya menyusui si kakak dan adik sekaligus sering kejadian aktivitas nenen si adik yang masih bayi mungil terhenti karena tiba-tiba puting terlepas dari mulutnya.

Si kakak yang melihat hal itu selalu inisiatif sendiri membantu dengan mengarahkan kembali puting ke mulut adiknya sehingga si adik bisa kembali lanjut menyusu. Maa syaa Allah.

Tentunya dengan tandem nursing, secara tidak langsung kita juga sudah mengajarkan anak yang lebih tua untuk berbagi dan sayang kepada adiknya. 

Nikmatnya menyusui kakak dan adik sekaligus


Mata saya berkaca-kaca ketika pertama kali bertemu dengan Zhaf setelah adiknya lahir. Karena memutuskan melahirkan di RSIA Ananda Makassar sehingga saya dan ayahnya menitipkan Zhaf di rumah neneknya di Parepare.

Sebelumnya saya tidak pernah berpisah dengan Zhaf jadi itu adalah momen pertama kali saya berjauhan dengan anak pertama saya. Selama itu pula Zhaf "cuti" menyusu. Kurang lebih ada sekitar lima hari. 

Lumayan lama juga Zhaf tidak nenen jadi saya memang sempat khawatir Zhaf tidak mau menyusu lagi. 

Apalagi saat Zhaf dibawa ke rumah sakit untuk melihat saya dan adiknya yang baru lahir dia tidak mau mendekat bahkan menolak ketika saya menawari untuk menyusuinya.

Kali kedua saya menawarinya nenen saat kami sudah di rumah. Tepatnya di kamar dimana cuma ada kami berempat, saya, ayahnya, dia dan anggota baru di keluarga kami :D

Saat itulah baru dia menunjukkan eksperesi malu-malu tapi mau, hehe. Perlahan dia mendekat   dan mulai menyusu.

Nenennya lahap sekali, bikin saya terharu. Pasalnya saya ingat masa-masa menyusui saat hamil, Zhaf selalu rewel tengah malam karena tidak puas nenen. Sampai pernah di suatu malam dia menolak ketika saya sodorin puting dan lebih memilih minum air putih.

Saat itu saya hanya bisa bilang ke Zhaf untuk bertahan dan sabar. Tunggu sampai adik lahir dulu. Kalau adik sudah lahir kakak bisa kembali nenen dengan puas. 

Rasanya bahagia sekali mendapati produksi ASI saya sudah kembali normal dan saya bisa menyusui Zhaf dan adiknya.

Menyusui dua anak sekaligus memang pekerjaan yang melelahkan. Sampai-sampai saya merasa waktu saya habis hanya untuk menyusui, haha. Tapi saya menikmati aktivitas tersebut. Sungguh!

Sekalipun tantangan yang saya hadapi juga banyak. Terutama dari orang-orang terdekat yang memprotes dan menyuruh saya segera menyapih si kakak.

Untungnya suami mendukung saya menjalani tandem nursing, dan buat saya dukungan dari suami itu sudah lebih dari cukup membuat saya semangat membara menyusui Zhaf dan Fath, hihi.

Omongan orang lain saya anggap angin lalu. Bukan berarti saya tidak menghargai saran dari mereka. Saya tahu maksud mereka baik, tapi saya juga punya hak untuk menentukan apa yang menjadi pilihan saya. Dan yah saya memilih menyapih si kakak hanya setelah umurnya menginjak dua tahun.

Nah, justru karena saya menghargai saran dari orang-orang yang sudah peduli dengan saya sehingga saya terpaksa menyusui Zhaf secara sembunyi-sembunyi.

Setiap Zhaf mau nenen saya suruh dia masuk kamar dan tutup pintu. Ya, semenjak menjalani tandem nursing saya lebih sering menyusui Zhaf di kamar tidur atau di ruangan yang nggak ada orang-orang terdekat lihat kecuali ayahnya. Meski pada akhirnya ketahuan juga kalau saya masih menyusui si kakak, hehe.

Oh ya, tandem nursing yang saya lakukan juga tidak lepas dari drama. Namun drama yang paling sering terjadi adalah kakak nggak mau mengalah dari adiknya. 

Setiap kali dia lihat adiknya nenen pasti dia juga mau menyusu. Kalau saya menolak dan menyuruhnya menunggu sebentar hingga  adiknya selesai nenen, dia akan tantrum jadi mau tidak mau meski badan ini sudah pegal minta ampun saya harus meladeni keduanya.

Jadi selama tandem nursing lumayan sering  menyusui Zhaf dan adiknya secara bersamaan. Baru bisa menyusui Fath dengan bebas itu kalau si kakak sudah tiduršŸ¤­

Tips Sukses Menjalani Tandem Nursing dengan Bahagia

Sekarang saatnya saya berbagai tips sukses tandem nursing berdasarkan pengalaman saya menyusui Zhaf dan Fath selama kurang lebih sembilan bulan.

Jalani dengan ikhlas

Pertama, agar proses menyusui dua anak tidak menjadi beban yang berat maka jalanilah dengan ikhlas. Menanamkan niat dari awal sangatlah penting. Yakinlah bahwa dengan ikhlas, pekerjaan menyusui akan terasa ringan bahkan menjadi berkah.

Bersyukur dan nikmati

Tandem nursing adalah aktivitas yang sangat melelahkan jadi bohong kalau saya bilang saya tidak pernah mengeluh selama menyusui si kakak dan adiknya.

Sebaliknya, hampir tiap hari saya mengeluh malah karena aktivitas ini sungguh menguras tenaga. 

Bayangkan, pagi, sore, siang, malam nyaris tidak ada waktu yang saya lewati tanpa menyusui. Setiap hari badan saya seakan remuk, haha tapi sekali lagi saya bilang, saya menikmatinya. 

Menurut saya sendiri, mengeluh itu adalah hal yang manusiawi tapi cukup sebentar saja mengeluhnya, setelah itu perbanyak syukur

Meski diwarnai dengan banyak tantangan dan keluhan tetapi kalau kita bersyukur dan menikmati proses menyusui dua anak yang usianya yang terpaut dekat in syaa Allaah akan terasa ringan dan menyenangkan.

Dahulukan menyusui adik

Kebutuhan ASI untuk anak yang berusia di atas satu tahun sudah berkurang. Apalagi si anak juga sudah dikenalkan dengan makanan pendamping ASI   Beda halnya dengan bayi yang baru lahir yang belum mendapat asupan nutrisi selain ASI.

Oleh sebab itu pada tandem nursing, ibu tetap harus memprioritaskan kebutuhan adik terlebih dahulu. Misalkan kondisi ibu tidak memungkinkan untuk menyusui dua anak sekaligus maka ibu wajib mendahulukan si adik.

Si kakak harus dipahamkan mengenai hal ini. Memang tidak tidak mudah sih apalagi seperti Zhaf yang tidak mau mengalah. 

Pokoknya kalau dia lihat adiknya nenen dia juga harus nenen. Akhirnya saya yang mengalah, menyusui keduanya berbarengan.

Atur posisi yang nyaman

Dibandingkan tandem nursing saya merasa jauh lebih berat dan kelelahan di hari-hari pertama menyusui Zhaf. 

Penyebabnya bukan semata-mata karena payudara bengkak dan puting lecet tapi karena saya kesulitan menemukan posisi menyusui yang nyaman. 

Nah, poin ini penting sekali. Kalau tidak bisa menemukan posisi menyusui yang nyaman badan kita akan mudah mengalami pegal-pegal.

Oleh sebab itu sebelum menyusui kakak dan adiknya bersamaan pastikan ibu sudah menemukan posisi yang nyaman. Agar memudahkan untuk atur posisi adiknya lebih dulu, kakaknya nanti bisa menyesuaikan.

Penuhi asupan gizi dan cairan

Energi yang ibu butuhkan saat menyusui dua anak tentu lebih besar dibanding hanya menyusui satu anak. Itu sebabnya ibu harus harus benar-benar menjaga asupan gizi dan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh. 

Pastikan makan makanan yang bergizi dan jangan lupa minum air secukupnya agar tubuh tidak kekurangan cairan. Kalau saya selama tandem nursing kemarin sempat konsumsi susu hamil dan minum ASI booster juga.

Istirahat yang cukup

Memang aktivitas tandem nursing menyita hampir seluruh waktu ibu. Rasanya dalam sehari 24 jam itu pekerjaan yang ibu lakukan hanyalah menyusui.

Meski demikian jangan lupa penuhi juga kebutuhan tubuh ibu. Bukan hanya dengan mendapat asupan nutrisi dan cairan yang tapi tubuh juga butuh istirahat yang cukup.

Kalau perlu sesekali minta bantuan suami atau orang terdekat lainnya yang mendukung ibu sehingga ibu bisa sesekali menikmati me time.

Dukungan dari suami

Tips berikutnya yang tidak kalah penting adalah minta dukungan dari orang-orang terdekat. Menjalani tandem nursing memang tidak mudah makanya butuh support system, minimal ibu dapat dukungan dari suami.

Pasalnya menyusui dua anak berbarengan sepertinya masih menjadi hal yang aneh dalam masyarakat kita sehingga tidak usah heran jika banyak yang tidak setuju dengan tandem nursing.

Apalagi kebanyakan orang termasuk para orang tua juga masih percaya berbagai macam mitos jadi agak sulit memahamkan mereka. Namun tidak masalah kalau ibu belum  dapat dukungan dari orang tua atau keluarga dekat lainnya. 

Setidaknya dukungan dari suami itu sudah cukup menguatkan dan menyemangati ibu yang bertekad ingim memenuhi hak kakak dan adik untuk mendapatkan ASI selama dua tahun.

Jangan stres, harus bahagia

Tips selanjutnya yang tidak boleh dilewatkan adalah bahagia. Yap, kunci kelancaran ASI baik pada ibu yang hanya menyusui satu anak maupun dua anak sama saja. Harus bahagia. Kenapa?

Karena salah satu hormon yang berperan dalam proses menyusui adalah oksitosin. Nah, oksitosin atau dikenal juga dengan nama hormon cinta inilah yang punya peran dalam kelancaran ASI.

Si oksitosin tidak bisa keluar jika ibu merasa tidak bahagia atau mengalami stres. Sekalipun banyak makan dan sampai minum ASI booster segala tapi kalau ibunya banyak pikiran, stres bahkan depresi ya sama saja bohong. ASI ibu akan terhambat. Itu sebabnya ibu menyusui harus bahagia agar ASI bisa keluar dengan lancar.

Edukasi diri, jangan percaya mitos

Last but not least, manfaatkanlah teknologi untuk mencari informasi yang benar, akurat dan terpercaya. Jangan mudah percaya apa "kata orang" karena kebanyakan informasi yang berasal dari apa "kata orang" hanyalah mitos belaka. 

Apalagi mitos-mitos yang berkaitan dengan kehamilan maupun menyusui ada banyak sekali dan sudah tersebar kemana-mana. Kalau kita bukan ibu yang cerdas kita pasti sudah menelan mentah-mentah informasi yang berbau omong kosong tersebut.

Nah, kalau mau jadi ibu yang cerdas saya saranin deh ibu-ibu untuk sering mengunjungi Ibupedia di website atau instagramnya karena di sana ada banyak sekali ilmu seputar parenting, kehamilan, menyusui dan lain sebagainya yang sumbernya itu langsung dari ahlinya.

Selama ini saya memang belajar banyak dari webiste parenting yang sangat recommended. Termasuk informasi mengenai tandem nursing ini saya juga tahunya dari Ibupedia. 

Coba kalau dari awal saya tidak mengedukasi diri mungkin saya akan mudah termakan mitos dan tidak berani melakukan tandem nursing.

Penutup

Demikianlah sharing saya mengenai tandem nursing mulai dari alasan saya hingga tips agar proses menyusui dua anak secara bersamaan dapat berjalan lancar.

Ya mungkin masih banyak ibu-ibu di luar sana yang mengalami kondisi tersebut dan galau antara mau melanjutkan menyusui anak tertua atau menyapihnya

Nah, sebenarnya si ibu yang hamil dan memiliki anak di bawah dua tahun tidak perlu galau karena tandem nursing bukan tentang paksaan tetapi pilihan. 

Kalau memang kondisi ibu tidak memungkinkan untuk menyusui dua anak sekaligus ya jangan dipaksa karena bisa membahayakan kondisi ibu dan anak-anak. 

Sebaliknya, kalau memungkinkan dan si anak yang lebih tua juga masih ingin menyusu maka tidak ada salahnya memperjuangkan haknya untuk mendapatkan ASI hingga tiba waktu si anak yang lebih tua untuk disapih.

Dukungan dari orang-orang sekitar juga dibutuhkan ibu yang menjalani tandem nursing. Jadi tolong jangan sampai "kita" menjadi penghalang bagi ibu yang ingin menyusui kedua anaknya sekaligsus. 

Sebab sekali lagi tandem nursing adalah tentang pilihan, bukan paksaan. Sekian cerita saya tentang tandem nursing, momen bahagia menyusui kakak dan adik sekaligus. Semoga bermanfaat.

Salam,

Posting Komentar untuk " Tandem Nursing, Momen Bahagia Menyusui Kakak dan Adik Sekaligus"

Berlangganan via Email