Ketika Harus Berpisah dengan Si Kakak Menjelang Persalinan

by - Desember 23, 2019


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Bukan keputusan yang ringan ketika saya akhirnya memutuskan untuk berpisah sementara dengan Zhafran demi bisa melahirkan di tempat persalinan yang saya inginkan. Padahal sebenarnya saya bisa memilih tempat bersalin yang dekat, dimana saya tidak perlu berpisah lama dengan si Kakak tapi seperti yang sudah saya paparkan di postingan  sebelumnya. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan saya ketika memilih tempat untuk bersalin.


Yup, saya ingin menjalani persalinan kedua ini di RSIA Ananda Makassar, tempat yang sama dengan tempat saat saya menjalani proses persalinan pertama kali. Alasannya cuma satu sih, saya sudah merasa nyaman dengan RSIA tersebut. Lagipula semua yang menjadi pertimbangan saya dalam memilih tempat bersalin ada di RSIA Ananda. 

Dokter obgynnya pro normal, lingkungannya mendukung ASI Ekslusif dan IMD, menyediakan ruangan yang room in (tidak memisahkan ibu dan bayinya setelah lahir kecuali pada saat observasi), bekerjasama dengan BPJS dan yang lebih penting lagi saya sudah punya pengalaman melahirkan di sana.

Baca juga Pengalaman Melahirkan Anak Pertama di RSIA Ananda Makassar

Well, rasanya riweh saja kalau saya harus cari tempat bersalin yang lain. Itu juga belum tentu saya bisa dapat dokter pro normal seperti dokter Tiwi Palma. Dokter obgyn yang sama sekali tidak mempermasalahkan kondisi mata saya sekalipun minusnya cukup tinggi. Ketika saya pesimis bisa melahirkan normal, beliau yang justru optimis dan menyarankan saya untuk ikhtiar normal.

Meski tak dimungkiri, ada dokter obgyn yang tidak menyarankan bumil dengan mata minus tinggi seperti saya untuk menjalani proses persalinan normal karena tidak berani mengambil risiko. Ini kasusnya sudah banyak ya. Padahal si bumil yang matanya minus ini sebenarnya punya kesempatan melahirkan normal tapi karena dokternya tak mendukung akhirnya persalinannya berakhir di meja operasi. 

Alhamdulillaah, saya akhirnya bisa melahirkan anak pertama dengan persalinan normal. Of course, saya ingin anak kedua pun bisa lahir dengan persalinan yang sama. And i know, untuk bisa lahiran normal atau tidak itu sangat tergantung pada kondisi ibu dan janinnya, bukan sepenuhnya tergantung pada tempat bersalin maupun dokter yang menangani.


Bukan tidak mungkin dokter Tiwi juga bakal menyarankan operasi sesar jika kondisi kehamilan saya bermasalah. Syukurnya selama check up di beliau kondisi kehamilan saya baik-baik saja. Tidak terdapat indikasi yang memungkinkan saya untuk sesar.

Jadi memang penting bagi bumil yang memiliki mata minus tinggi dan ingin melahirkan normal untuk selektif dalam memilih dokter obgyn. Kalau dapatnya dokter yang kurang mendukung ya sebaiknya cari second opinion saja. Intinya sih ibu hamil dengan mata minus tinggi bisa kok melahirkan normal tapi dengan catatan kondisi kehamilan juga kudu normal.

Dalam hal ini, mata minus tidak termasuk indikasi yang mengharuskan ibu hamil menjalani operasi sesar. Yang termasuk indikasi di sini kalau kondisi kehamilan ibu dengan mata minus mengalami masalah seperti posisi janin sungsang, ketuban pecah dini, ada lilitan, terhalang tali pusat pinggul sempit dan lain sebagainya.

Nah, untuk kehamilan kedua ini saya terakhir periksa di dokter Tiwi awal bulan November lalu. Saat itu usia kehamilan saya sudah masuk 35 weeks. Alhamdulillaah hasil check upnya sama seperti kehamilan pertama. Tidak ada masalah dengan kondisi kandungan saya. Semuanya bagus. Air ketuban cukup. Kepala janin sudah di bawah. Tidak ada lilitan tali pusar, plasenta juga tidak menghalangi jalan lahir. 

Ini juga yang bikin saya sangat terharu. Padahal kalau dibilang pemberdayaan diri saya semasa hamil baik pada kehamilan pertama maupun kedua minim banget. Nyaris nggak pernah olahraga, nggak pernah juga ikut kelas semacam senam hamil, hypnobirthing atau pranatal yoga tapi qadarullaah, Allaah kuatkan dan sehatkan kandungan saya.

Karena kondisi kehamilan kedua saya juga memungkinkan untuk lahiran normal sehingga waktu kontrol itu saya sudah diberi surat keterangan untuk rawat inap dari dokter Tiwi yang tinggal ditunjukkan ke petugas administrasi rumah sakit nantinya. Beliau juga menyarankan saya check up kembali dua pekan atau satu bulan ke depan jika dalam rentang waktu itu belum ada tanda-tanda saya bakal melahirkan. Tapi perkiraan beliau sih saya sudah bisa melahirkan dari awal bulan Desember.

Awal Desember usia kehamilan saya memang sudah memasuki 37 weeks. Menurut beberapa artikel yang sempat saya baca, janin sudah cukup matang dilahirkan sejak usia kehamilan 37 weeks meski usia kehamilan ini masih dianggap terlalu dini dan berisiko. 

Saya sendiri memperkirakan adiknya Zhafran bakal lahir di usia kehamilan 38 weeks,maju sekira 7-8 hari dari HPL. Perkiraan saya seperti itu pun karena berpatokan pada pengalaman melahirkan sebelumnya. Zhafran kan lahirnya pas usia kehamilan saya menginjak 38 weeks 6 days jadi adiknya juga kemungkinan lahir di usia kehamilan yang sama. 

Padahal perkiraan saya belum tentu tepat, bisa jadi meleset. Tapi entah kenapa saya yakin akan melahirkan anak kedua saya di usia kehamilan 38 weeks. Apalagi setelah 37 weeks berlalu dengan kondisi perut yang semakin sering mengalami kontraksi palsu.

Masuk 38 weeks awal saya akhirnya berangkat ke Makassar bersama suami dan kami dengan sangat terpaksa meninggalkan Zhafran di rumah neneknya di Parepare. 

Jangan ditanya bagaimana perasaan saya saat itu. Hancur sehancur-hancurnya. Belum berangkat saja air mata saya sudah mengucur deras. Rasanya sungguh teramat berat meninggalkan Zhafran. Apalagi semenjak lahir, saya memang tidak pernah pisah dengan Zhafran. Jadi sekalinya berpisah, saya merasa seperti kehilangan belahan jiwa. Mungkin dekripsi saya ini terkesan lebay ya tapi beneran deh, berpisah dengan anak itu beratnya tak tertandingi. Jauh lebih berat dibanding berpisah dengan kekasih hati *eaa 

Ternyata begini rasanya menjadi seorang ibu. Bayangkan, sejak berpisah dengan Zhafran saya bawaannya mewek mulu. Ingat Zhafran, nangis. Lihat fotonya, nangis. Lihat videonya, nangis juga. Dengar suaranya, nangis lagi. Lebih-lebih kalau video call, tangisan saya makin menjadi-jadi.

Lalu Zhafran bagaimana setelah ditinggal Bundanya?

Boro-boro nangis, yang ada Zhafran malah hepi setelah kepergian bundanya. Kalau sama ayahnya mah memang sudah biasa ditinggal, tapi kalau sama bundanya? Ini baru pertama kali lho dan dia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi seolah kehilangan. Eh atau mungkin merasakan kali ya cuma tertepis karena di rumah neneknya banyak yang jagain. Ada om dan tante-tantenya, ada sepupunya juga.

Zhafran ini tipikal bayi yang suka dengan keramaian, dia juga suka banget kalau diajak jalan keluar rumah. Ini yang bikin saya nggak tahu harus merasa sedih atau senang dengan sikapnya. 

Biasanya bayi seumuran Zhafran kan lengket sama orang tuanya, ogah diambil sama orang lain apalagi sama orang yang baru dilihatnya. Dia malah sebaliknya, mudah akrab sama semua orang.

That's why, nggak susah ninggalin Zhafran di rumah neneknya. Di satu sisi ada plusnya sikap Zhafran yang mudah berbaur sama orang lain. Tapi di sisi lain saya jadi sedih dong, masa' bundanya pergi dia nggak cariin, hiks.

Paling yang dia cari nenen doang *eh. Oya sejak usia 11 bulan Zhafran sudah kenal susu selain susu bundanya. Itu juga diberikan dengan sangat terpaksa karena semenjak hamil produksi ASI saya menurun drastis. Tidak lagi dapat memuaskan rasa dahaga dan laparnya, terutama di malam hari.

Baca juga Pengalaman Setahun Menyusui Zhafran

Meski demikian Zhafran masih tetap saya berikan ASI. Banyak yang menyarankan saya untuk berhenti menyusui si Kakak tapi saya ogah, lebih tepatnya saya yang nggak siap menyapih dini Zhafran. Apalagi saya bertekad bakal tandem nursing setelah adiknya lahir.

Ini juga bikin berat sih. Pasalnya meski sudah minum susu pertumbuhan, Zhafran tidak pernah melewati hari tanpa nenen. Itu artinya, baru kali ini, saat berpisah dengannya Zhafran tidak menyusu.

Makanya saya berharap kami pisahnya sebentar doang. Bahkan kalau bisa cuma sehari atau dua hari gitu. Tapi nggak mungkin kali ya, karena persalinan normal tidak ditahu waktunya. Bisa maju atau lewat dari HPL. Meski saya yakin bakal maju seperti saat melahirkan kakaknya di usia kehamilan 38 weeks tapi kan belum pasti juga.

Masalahnya lagi, perjalanan dari Parepare ke Makassar menempuh waktu sekira tiga jam. Khawatirnya kalau telat ke Makassar, bisa-bisa brojol di jalan.

Akhirnya pas masuk 38 weeks awal, saya dan ayahnya berangkat. Meski sebelum berangkat saya sempat dilanda galau bin dilema. Sempat kepikiran juga mau urung berangkat dan memilih melahirkan di Parepare saja ketimbang harus berpisah dengan Zhafran. Apalagi paginya itu saya diserang diare hebat.

Qadarullaah, ujung-ujungnya saya dan ayahnya tetap jadi berangkat dengan membawa hati yang berat karena harus meninggalkan Zhafran. Maafkan Ayah dan Bunda ya, kami terpaksa harus meninggalkan Zhafran di rumah nenek.

Ketika Berpisah dengan Anak, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Sejak kehadiran si Kecil, saya sadari benar "beban hati" saya semakin bertambah. Beban hati yang saya maksud di sini adalah rasa sayang dan takut kehilangan yang muncul secara bersamaan. Saya pikir rasa ini wajar dan pasti dirasakan oleh semua orang tua. Apalagi sebagai seorang ibu yang waktunya full membersamai si kecil sepanjang waktu. 

Dari Zhafran lahir hingga usianya menginjak 16 bulan, saya memang nggak pernah pisah dengan dia, makanya wajar kalau saya mellow se-mellow-mellownya saat kami hendak berpisah. Padahal itu baru akan berpisah sementara. Saya hanya pergi untuk melahirkan adiknya dan akan kembali kemudian.

Meski demikian, tak dimungkiri perasaan cemas itu ada. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak diharapkan pada proses persalinan saya? Bagaimana bila kondisi saya memburuk pada  saat persalinan? Bagaimana bila saya tidak bisa bertemu kembali dengan Zhafran setelah persalinan, bahkan melihat wajah adiknya pun tidak? Atau bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk saat saya dan ayahnya jauh dari Zhafran?

Ah, begitu banyak hal mengkhawatirkan yang sempat muncul di benak ini namun segera saya halau. Memikirkan hal-hal negatif semacam itu hanya bikin perasaan saya tidak enak dan saya sungguh takut. Bukan takut dengan perjuangan antara hidup dan mati  yang bakal saya hadapi saat persalinan. Saya justru lebih takut bila tidak bisa bertemu kembali dengan Zhafran

Begini ternyata perasaan seorang perempuan setelah memiliki buah hati. Dibanding dengan dirinya sendiri, dia akan lebih memikirkan anaknya dan mengutamakannya dalam segala hal.

So far, ketika hendak berpisah dengan anak memang seorang ibu kudu siap mental. Kalau nggak kuat bakal nelangsa. Makanya saya pas pisah dengan Zhafran, mewek mulu di sepanjang jalan. Untungnya saya pake kacamata dan masker jadi nggak kelihatan meweknya. 

Saat perjalanan yang membawa saya dan Ayahnya semakin jauh dari Zhafran, saya sempat berdoa dalam hati, "Allah saya titip Zhafran pada-Mu. Jaga dan lindungi ia dengan sebaik-baik penjagaan dan perlindunganmu.

Eh tapi setelah itu saya mikir lagi. Sepertinya ada yang keliru dengan doa saya itu. Ternyata benar, memang keliru. Kenapa saya nitip Zhafran ke Allaah, bukannya Allaah yang nitip Zhafran ke saya dan ayahnya. Tugas kamilah yang harus menjaga titipan itu dengan sebaik-baiknya.

Allaah tidak perlu diingatkan untuk menjaga dan melindungi apa-apa yang merupakan kepunyaan-Nya. Meski demikian, sudah menjadi keharusan bagi kita sebagai orang tua agar selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anak kita, apalagi dalam keadaan berjarak.

Ingat, anak milik Allaah, dan ini baru drama perpisahan pertama. Tetap kuatkan mental dan jangan terlalu berlebihan mencintai sesuatu (termasuk pasangan dan anak) karena apa-apa yang kita anggap milik sejatinya bukan milik kita. Semua hanya titipan dan pasti akan diambil kembali oleh pemilik-Nya.


NB ;

Postingan ini sebenarnya pengen saya publish sebelum lahiran, qadarullaah belum sempat posting adiknya Zhafran keburu brojol. Bahkan lebih cepat dari yang saya perkirakan, hehe.

Fyi, postingan terkait pengalaman melahirkan adiknya Zhafran menyusul ya :)

You May Also Like

22 komentar

  1. Mbakk.. beberapa waktu yang lalu mbak siska rajin bacain postinganku tentang MPASI karena usia Zhafran menuju 6 bulan. Sekarang, Zhafran udah jadi kakak. Dan giliranku bacain postingannya mbak siska tentang pengalaman melahirkan anak ke-2, karena saat ini aku juga sedang hamil anak ke-2.

    Makasih sharingnya ya mbak. Sehat selalu buat Zhafran dan adiknya.

    BalasHapus
  2. Ibu nahan perasaaan, si anak merasa senang ya mba. Ah.. luar biasa pengalaman mba sebagai orang tua ya.

    BalasHapus
  3. Whoaaaa Zhafran luarrr biasaa MasyaAllah TabarokAllah
    Senang yaaaa dikelilingi sodara2 yg baik, ini bagaikan intan permata yg tak ternilai dalam hidup kita.
    Zhafran juga hepi pastinya, udah punya adek, yeayyy

    BalasHapus
  4. Berati Zafran belun 2 tahun ya Mak saat ini? Saya dua kali lahiran swcar semua Mak, alasannya usia, berat badan, dan jarak kehamilan pertama dan kedua, yaweslah manut saja meskipun sangat ingin merasakan lairan normal. Sekarang dah gak pingin nambah anak lagi.

    Semangat Mak. Tentu akan lebih ringan atinya dengan meninggalkan anak yang mudah membaur sama keluarga yang lain. Tapi aku tetep sedih bacanya. Pasta Kak Zafran masih akan nyari bundanya sekali dua.

    BalasHapus
  5. Cerita yang menyentuh. Menjadi orang tua apalagi seorang ibu, memang kadang galau ninggalin anak meskipun ditinggalin sama neneknya.Itu pun yang saya alami

    BalasHapus
  6. Selamat atas kelahiran adeknya Zhafran mba.
    Kakak Zhafran pinter banget, ngerti akan kondisi bunda dan adek yg mau lahir.
    Semoga semuanya sehat2 ya mba

    BalasHapus
  7. Peluukk.. Pastinya berat ya berpisah dengan anak, apa lagi untuk pertama kalinya. Semoga dirimu sekeluarga sehat selalu dan diliputi oleh kasih sayang satu sama lain di mana pun berada

    BalasHapus
  8. Pengalaman mau melahirkan selalu menarik diceritakan. Aku juga mba. Tiga anak lahir dengan pengalaman yang berbeda-beda dan sekarang pas udah gede cuma bisa bersyukur melihat mereka tumbuh sehat dan pintar 😊

    BalasHapus
  9. Oh begitu ya mbak siska? Mata minus tinggi secara umum ga diperbolehkan melahirkan normal? Tapi alhamdulillaah yaaa... tergantung kegigihan bumil termasuk sang dokter kandungannya. Iya sediiih berpisah sama si kakak. Demi kebaikan ga apa2 deh kan nantinya bertemu juga 😘😍

    BalasHapus
  10. Bagi seorang ibu berpisah dengan anak nya ialah hal yang paling menyakitkan, kemarin sempet nih si bayik mau saya tinggal event di Surabaya tapi dari malam sebelumnya saya udah nangis-nangis mikirin si bayik tapi akhirnya di ajakin juga tapi dengan catatan ngajak sepupu buat jagain dia nanti. Hehe
    Ya gitu lah mbak suka dukanya..

    BalasHapus
  11. Wah Zhafran punya adik?
    Selamat ya, semoga jadi anak soleh yang menjadi kebanggaan orang tua

    BalasHapus
  12. Hai, Mbak Siska. Selamat dulu dong ah atas kelahiran adiknya Zhafran. InsyaAllah semuanya dalam kondisi sehat, ya. Punya anak yang selisih usianya berdekatan memang suka bikin melow, tuh. Aku mengalami dulu sewaktu mau melahirkan anak kedua. Waktu itu sulung baru mau usia 2 tahun. Di rumah sakit sih melow, tapi begitu kembali ke rumah, wew rempooong banget.

    Adiknya Zhafran dikasih nama siapa, nih?

    BalasHapus
  13. Jadi inget waktu lahiran anak kedua.
    Rasanya juga berat berpisah dgb si kakak. .

    BalasHapus
  14. Selamat ya Zhafran, sekarang sudah jadi kakak. Aih senang banget nih sekarang sudah ada adik yang jadi teman bermain yaa.

    BalasHapus
  15. Saya jadi berpikir bagaimana nanti kalau saya mengalaminya ya? Memilih tempat bersalin memang tidak bisa asal sih, menurut saya. Akan tetapi kalau sudah anak kedua memang harus rela berpisah dulu untuk sementara waktu dengan si kakak. Aaah, saya jadi sedih membayangkannya.

    BalasHapus
  16. Alhamdulillah selamat lahiran anak keduanya ya Mom... senang sekali membaca tulisannya. Emang sedih banget ya mesti berpisah sementara dg anak sulung. Soalnya anak pertama itu cinta pertamanya kita huhu...

    BalasHapus
  17. Meski Zafran happy pas ditinggal pasti ga lama langsung kangen...

    Lancar dan sehat semuanya, Mbak.

    BalasHapus
  18. Huhuhu ikutan sedih bacanya. Rasanya seperti patah hati ya pisah sama anak. Aku aja mau pisah sama ponakan, berat lho, apalagi anak sendiri.

    Berarti sekarang sudah bisa berkumpul lagi dong ya, horeee

    BalasHapus
  19. Tuh jadi terharu baca cerita di atas saya sendiri berencana memiliki anak kedua sudah mempertimbangkan ketika lahiran nanti itu artinya saya harus mempersiapkan jauh-jauh hari dan berkomunikasi kepada Kakak Wawan karena tentu ada perubahan buat si Kakak terutama untuk perhatian harus terbagi menjadi dua

    BalasHapus
  20. Perpisahan sementara ya gpp, demi ingin melahirkan adek di RSIA makasar, pasti punya kenangan dan kenyamanan tersedia ya ... Bisa melahirkan di makasar

    BalasHapus
  21. Aduhh Mba, terbayang saya betapa beratnya berpisah dengan buah hati walau hanya untuk sementara.. Apa kabarnya si kecil dan Kakaknya sekarang Mba? Semoga semuanya sehat2 ya...

    BalasHapus
  22. Wahhh kaka Zhafran keren sekali 🤗 aku pernah tuh ka ngalamin begitu pas mau lahiran anak yg kedua. Kakanya masih umur 3,5 tahun. Kasihan karna di rumah sakit juga gak boleh masuk. Ribetnya pertamaku susah mau sama orang lain. Jadi lumayan ribet kala itu 😄😄

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.