Pengalaman Melahirkan Normal Anak Pertama dengan Kondisi Mata Minus Tinggi

by - Monday, November 04, 2019


Bismillaahirrahmaanirrahiim

"Gelombang cinta itu mulai menerjangku nyaris tanpa jeda. Nikmatnya bukan main. Membuatku terus merintih, menanggung rasa yang entah bagaimana menggambarkannya"

Menurut artikel yang pernah saya baca, badan manusia hanya mampu menanggung rasa sakit hingga 45 del. Tetapi selama bersalin, seorang ibu akan menanggung rasa sakit hingga 57 del, sama dengan rasa sakit akibat 20 tulang yang patah bersamaan. Bayangkan! 20 tulang patah bersamaan. Satu tulang patah saja sakitnya minta ampun, apalagi 20 tulang yang patah sekaligus. 

Ternyata sedahsyat ini sakit yang dirasakan perempuan yang 26 tahun lalu berjuang melahirkanku ke dunia. Ternyata begini rasanya menjadi seorang ibu. Perjuangannya sampai mempertaruh nyawa; antara hidup dan mati. 

Sudah lewat dari 12 purnama, umur Zhafran sekarang sudah menginjak 15 bulan dan saya baru sempat mengabadikan pengalaman tak terlupakan sepanjang hidup saya itu di Kamar Kenangan ini. Oke mungkin ini bisa dibilang sangat telat, padahal target saya paling lambat pengalaman berharga tersebut sudah saya posting tepat ketika usia Zhafran genap setahun. But it's Ok, tak apalah telat, daripada tidak mengabadikan sama sekali, hehe.

Kenapa Bisa Telat Posting Pengalaman Melahirkan?

Sebelum lanjut, ada baiknya saya jelaskan dulu kenapa saya bisa setelat ini menulis postingan terkait pengalaman pertama kali saat saya menjalani proses melahirkan. 

Mood swings
Selama menjalani masa kehamilan anak pertama, saya dilanda perubahan mood yang aneh. Kenapa saya bilang aneh? Ya kalau bumil lain kan biasa perubahan moodnya lebih ke kondisi emosional. Dari yang tadinya happy, kemudian jengkel, marah-marah lalu tiba-tiba menangis tanpa alasan yang jelas dan bla bla bla.

Lha kalau saya perubahan moodnya lebih ke aktivitas. Jadi selama hamil saya kehilangan mood menulis di blog. Padahal waktu itu saya baru saja kembali aktif ngeblog setelah sekian lama hiatus, baru selesai ikut program ODOP selama bulan November 2017 yang diadakan komunitas Blogger Muslimah, baru juga sebulan beralih dari blog gratisan ke blog dengan TLD lalu sekonyong-konyong negara api menyerang. Apa boleh buat?


Alih-alih menulis, saya lebih banyak menghabiskan waktu semasa hamil dengan menonton. Alhasil, selama itu pula blog saya yang sudah ber-TLD ini jadi sepi tak terurus. Kalau sempat posting pun hanya sekali-kali. 

Sok perfectionis,
Saya akhirnya baru kembali aktif ngeblog setelah melahirkan. Yup, setelah si Bunay (panggilan sayang saya untuk Zhafran sejak masih dalam kandungan) brojol barulah gairah saya untuk menulis kembali membara, menggebu-gebu. 

Namun agak disayangkan juga sih, punya banyak waktu luang buat nulis selama hamil tapi nggak dimanfaatkan, giliran sudah disibukkan dengan pekerjaan mengurus baby newborn baru mau ngeblog, ckckck. Yah mau gimana lagi, namanya juga orang kehilangan gairah menulis saat hamil, untung gairahnya datang lagi  setelah saya melahirkan.

Nah, karena saya orangnya sok perfeksionis *halah saya nggak mau dong langsung to the point menuliskan pengalaman melahirkan. Pokoknya saya harus menuliskan terlebih dahulu perjalanan yang saya lalui sebelum sah menjadi seorang ibu. 

Bagaimana perasaan saya ketika pertama kali mendapati hasil test pack menunjukkan dua strip merah, apa ikhtiar yang saya dan suami lakukan hingga saya akhirnya hamil di tujuh bulan usia pernikahan kami, sampai hal-hal terkait drama kehamilan yang dirasakan di setiap trimester, semua-muanya pengen saya abadikan di Kamar Kenangan ini.

Jadi setelah melahirkan saya baru menuliskan semua hal yang berkaitan dengan kehamilan saya itu. Pokoknya sekecil apapun itu tidak ingin saya lewatkan. Termasuk pengalaman saat periksa kehamilan dan periksa mata dengan BPJS untuk memastikan apakah kondisi mata saya yang minus tinggi ini memungkinkan untuk melahirkan normal atau tidak. Se-sok perfect itu diriku?

Alhamdulillaah postingan berupa pengalaman melahirkan anak pertama ini akhirnya bisa saya publish setelah semua catatan perjalanan saya semasa hamil telah rampung dan telah saya abadikan di sini. Beidewei, kalau dikumpulkan semua sudah bisa jadi satu buku lho. 😅

Baca juga Kehamilan Pertama

Less Focus
Salah satu alasan yang juga bikin saya telat posting pengalaman yang mendebarkan ini adalah karena kurang fokus. Yup, coba dari awal saya fokus, paling catatan perjalanan dari hamil hingga melahirkan ini bisa kelar lebih cepat. At least tidak berlarut-larut hingga setahun lebih baru selesai.

Masalahnya, gimana postingan ini bisa cepat kelar kalau saya lebih mendahulukan menulis postingan dengan tema lain. Mana selama setahun belakangan ini saya juga kerajinan ikut ajang menulis seperti ODOP maupun SETIP, sehingga mau tidak mau saya harus kejar tayang. 

Yah, meski tema yang ditentukan dari ODOP maupun SETIP khususnya yang diselenggarakan oleh Estrilook Community bebas, tapi saya sengaja tidak menyertakan tulisan yang berkaitan dengan kehamilan saya ini (kecuali beberapa) dalam ajang menulis tersebut. Kenapa? Karena untuk menulis satu postingan terkait kehamilan saja saya butuh waktu sampai berhari-hari. Bahkan waktu baru melahirkan itu saya cuma bisa menyelesaikan satu dua postingan doang selama sebulan. Sementara kalau ikut ajang menulis kan saya harus gerak cepat agar bisa setor tulisan sebelum deadline.

Itulah beberapa alasan ngeles mengapa postingan terkait pengalaman melahirkan anak pertama ini baru muncul setelah si Kecil sudah berusia lebih dari setahun, malah tidak lama lagi bakal punya adik, hehe. 

Baca juga Kehamilan Kedua

Lima Hari Sebelum Melahirkan

HPL saya jatuh tanggal 12 Agustus 2018. Rencana yang bakal menemani persalinan saya nantinya kalau bukan mama ya suami. Mama saya sendiri baru akan datang dari Papua ke Makassar tanggal 7 Agustus 2018 sebelum HPL. Tak disangka persalinan saya ternyata maju lebih cepat dari perkiraan.

Baiklah, saya akan memulai cerita pengalaman yang sangat berkesan ini dari H-5. 

Senin, 30 Juli 2018 (38 weeks 1 days)

Firasat akan segera melahirkan itu muncul malam ini. Tepatnya setelah menunaikan shalat Isya, perut saya rasanya sudah kencang banget. Jadi selepas shalat saya tidak langsung bangkit. Sengaja duduk lebih lama di atas sajadah lalu bercengkrama dengan si Bunay sambil mengelus-elus perut.

Bunay jangan keluar dulu malam ini ya sayang, tunggu ayah datang dulu. Nggak papa deh kalau Bunay mau keluar lebih cepat, nggak mau tunggu kedatangan nenek dari Papua, yang penting keluarnya pas ada Ayah di samping Bunda ya. Bunda juga senang kok kalau Bunay mau keluar cepat karena itu artinya kita akan segera bertemu tapi tunggu ayah datang dulu ya Nay sayang. Biar Ayah bisa mendampingi Bunda saat proses melahirkan nanti. Biar kita bisa berjuang sama-sama.

Saya nggak bisa membayangkan saja sih kalau beneran melahirkan saat saya dan suami sementara LDM. Well, saya masih larut bercengkrama dengan Bunay ketika mendengar ketukan pintu dan suara salam yang sangat saya kenali. Baru juga saya bilang ke Bunay, tunggu ayahnya datang dulu eh tak disangka yang ditunggu datang juga malam ini.

Benar-benar kejutan meski saya sempat protes kenapa suami datangnya lebih cepat dari yang direncanakan, tanpa kabar pula. Padahal rencananya suami baru akan datang Rabu malam untuk menemani istrinya ini periksa ke dokter Tiwi Palma di RSIA Ananda keesokkan paginya. Lha, baru juga malam Selasa dan dia sudah datang. Oke firasat saya semakin kuat meski tidak terbukti, hehe. But bersyukur sekali suami pulang malam ini. Kenapa? Karena saya nggak bisa tidur nyenyak. Lho?

Selama hamil saya memang selalu bisa tidur dengan nyenyak. Namun baru kali ini tidur saya benar-benar terganggu akibat kontraksi yang saya rasakan nyaris sepanjang malam. Sebenarnya kontraksi yang saya rasakan ini bukan kontraksi persalinan karena setiap mengubah posisi kontraksinya hilang kemudian muncul kembali. Tapi karena saya sendiri belum tahu persis rasanya kontraksi persalinan itu seperti apa jadi belum bisa juga membedakannya secara jelas dengan kontraksi palsu. 

Padahal saya sudah berulang-ulang baca tanda-tanda kontraksi palsu dan perbedaannya dengan kontraksi persalinan tapi ketika si braxton hicks itu muncul lagi apalagi sampai menggangu kenyamanan tidur saya sepanjang malam, saya jadi ragu dong. Ini benaran kontraksi palsu atau kontraksi nyata? Jawabannya baru saya temukan keesokkan paginya. Ternyata cuma kontraksi palsu, dasar saya saja yang kegeeran, hehe.

Selasa, 31 Juli 2018 (38 weeks 2 days)

Hari ini saya terbangun dengan badan seakan remuk dan tulang-tulang serasa patah. Pegelnya minta ampun. Keluhan saya selama trimester tiga memang paling sering pegel-pegel apalagi pas baru bangun tidur. Maa syaa Allaah pegelnya kayak habis kerja berat non stop selama berhari-hari.

Kali ini malah pegelnya kian menjadi-jadi mungkin karena efek diserang si braxton hicks semalaman. Ini yang saya syukuri dari kedatangan suami lebih awal. Dipijit, hehe. Maklum, sejak masuk trimester tiga terutama saat usia kehamilan saya sudah menginjak bulan ke sembilan, saya dan suami kebanyakan LDM. Ketemunya paling cuma pas weekend doang. Jadi bisa merasakan pijitan suami juga cuma sekali-kali. Risiko, siapa suruh mau melahirkan jauh dari tempat kerja suami, hehe

Setelah dipijit baru agak enakan meski perut masih kencang dan kram. Lalu seperti rutinitas yang biasa saya lakukan dari usia kandungan 36 weeks atau tepatnya setelah mendapat kepastian dari dokter Obgyn kalau saya bisa melahirkan secara normal meski dengan kondisi mata minus tinggi, apalagi kalau bukan jalan pagi.

Namun ada yang beda pagi ini, saya jalannya nggak sendiri lho eh maksud saya nggak berdua saja dengan si Bunay  melainkan bertiga dengan ayahnya. Senang dong akhirnya suami bisa menemani saya jalan pagi juga. Honestly, sebenarnya saya males jalan kalau nggak ada teman. 

That's why, sebelum ada kepastian bakal melahirkan normal, saya ogah-ogahan jalan pagi. Malah karena tadinya sudah berasumsi akan melahirkan secara SC jadi saya nyantai banget, malas olahraga even cuma jalan kaki doang. Sekalinya ada kepastian baru deh mau nggak mau saya harus rajin melakukan pemberdayaan diri, minimal jalan pagilah selama 30 menit tiap harinya.

Oya yang disarankan dari bidan Yesie (owner @bidankita) sebenarnya bukan sebatas jalan pagi sih tapi jalan cepat. Hanya saja karena  kandungan saya waktu jalan pagi di H-4 ini seperti sudah turun banget, saya nggak bisa jalan cepat. Jalan pelan saja rasanya kayak ada yang mengganjal.

Rabu, 01 Agustus 2018 (38 weeks 3 days)

Agenda saya dan suami hari ini ke faskes 1 di Klinik Kimia Farma Pettarani untuk minta surat rujukan agar saya bisa kembali periksa kehamilan di RSIA Ananda dengan BPJS. Sayang sekali, sesampai di sana ternyata petugasnya tidak bisa memberi surat rujukan baru karena surat rujukan saya yang sebelumnya masih berlaku.

Waktu itu sistem rujukan memang masih offline dan berlaku sebulan, beda dengan sistem rujukan sekarang yang sudah online dan masa berlakunya lebih lama, yakni tiga bulan. Terkait pengalaman saya saat mengurus surat rujukan untuk periksa kehamilan kedua kalinya dengan BPJS di RSIA Ananda ini sudah saya ulas ya.

Yup, karena petugasnya tidak bisa memberi surat rujukan baru so that sebagai alternatif saya diberikan surat rujukan lama yang diprint ulang. Ok, tak apalah, nanti ada masalah saat pengurusan administrasi BPJS di RSIA Ananda baru akan saya jelaskan baik-baik kalau surat rujukan tersebut berlaku selama sebulan sementara saya kembali periksa kehamilan hanya berselang dua pekan dari periksa sebelumnya.

Setelah urusan di Faskes 1 beres, saya dan suami tidak langsung pulang ke rumah. Suami menawarkan mau jalan-jalan ke mana. Saya jawab ke Mall. Buat apa? Cuci mata, eh maksud saya olahraga jalan kaki, wkwk. Iyess, kalau masuk mall kan otomatis saya bakal banyak jalannya, apalagi kalau kelilingnya di Mall yang luas dan panjangnya kayak Mall Panakukang (MP), sudah lumayan banget.

Nyatanya sesampai di MP, bukannya banyak jalan saya dan suami malah nongkrong di Gramedia then masuk nonton film di Bioskop, haha. Iya, H-3 ini saya masih sempat-sempatnya jalan di Mall dan nonton bioskop bareng suami, meski tadinya agak ragu juga karena kondisi saya yang sedang hamil besar (tinggal tunggu launching). 

Emang bisa ibu hamil masuk bioskop? Entahlah, yang jelas saya masuk saja meski saya tahu risikonya mungkin bakal bikin Bunay di dalam perut terkaget-kaget karena mendengar suara yang menggelegar. Eh benar saja, selama di ruangan bioskop gerakan Bunay aktif sekali, hehe. 

Waktu itu saya dan suami nontonnya film Fallout, sekuel keenam dari series Mission Impossible, yang tayangan perdananya dari tanggal 25 Juli 2018. Ngomong-ngomong soal film yang dibintangi Tom Cruise ini, saya pertama kali lihatnya sepintas saat diputar di TV Kapal Feri penyeberangan Bira - Selayar. Nggak tahu sekuel yang mana yang jelasnya saya langsung tertarik dan minta suami buat dicarikan film tersebut.

Akhirnya saya bisa nonton full film Mission Imposible pertama kali berdua dengan suami via laptop di kamar kosan kami, hehe. Etapi itu bukan series yang sama dengan yang saya liat di kapal Feri, edisinya berbeda namun tak kalah seru.

Nah, kali kedua saya nonton film series Mission Impossible bareng suami ya di bioskop ini. Ini juga kali kedua saya nonton di bioskop bareng suami dan pilihannya bukan film Indonesia. Padahal sebelum menikah, pilihan saya kalau datang ke bioskop pasti film Indonesia. Baru setelah menikah, saya nonton film non Indonesia di Bioskop. Haha sepertinya saya sudah ketularan selera film suami nih.

Oya ada kejadian lucu saat kami sementara nonton. Jadi di pertengahan film itu saya sempat kebelet pipis. Biasalah ibu hamil, apalagi hamil besar pasti langganannya ke kamar kecil. Suami ikut menemani saya ke luar, padahal adegan di layar lagi seru-serunya. 

Saya masuk ke toilet wanita, suami tadinya menunggu di luar. Pas saya keluar dari toilet setelah BAK, suami nggak ada. Jadi saya pikir mungkin dia sudah kembali duluan ke ruangan bioskop. Sekalinya kembali ke ruangan, saya tidak menemukan sosoknya di bangku kami. Nggak kepikiran juga untuk balik cari suami di luar. Sementara suami saya di luar rupanya masih setia beberapa saat menunggu saya di depan toilet. 

Well, karena saya tak kunjung ke luar dari toilet wanita, doi balik juga ke ruangan. Sekalinya lihat istrinya sudah duduk tenang di bangku tanpa merasa bersalah sama sekali wajahnya langsung cemberut, manyun gitu. Suami sampai protes kenapa saya tega ninggalin dia sendirian setelah ditemani.

Duh, ya ampun maafkan istrimu yang lugu ini. Kenapa juga saya tidak kepikiran, mungkin suami juga masuk ke toilet laki-laki. Hah, istri macam apa saya ini😂

Kamis, 02 Agustus 2018 (38 weeks 4 days)

Hari ini jadwalnya saya untuk periksa kehamilan kembali ke dokter Tiwi di RSIA Ananda. FYI, jadwal dokter Tiwi melayani pasien BPJS hanya Kamis pagi (ini jadwal beliau di tahun 2018, nggak tahu kalau sekarang). Makanya suami bela-belain cuti dari Kantor demi bisa menemani istrinya check up. Cuma ya itu, tadinya saya sempat protes kenapa doi ambil cutinya cepat sekali. Kamis baru pergi periksa, lha dia sudah ambil cuti dari hari Selasa😅

Oya, sebenarnya di pemeriksaan sebelumnya dokter Tiwi sendiri sudah kasih surat pengantar agar saya bisa langsung ke IGD bila sudah merasakan tanda-tanda kontraksi persalinan. Namun karena sampai usia kandungan saya memasuki 38 weeks 4 days ini belum ada tanda-tandanya, yang ada cuma konpal doang jadi saya kembali periksa lagi.

Hasil pemeriksaannya lagi-lagi bikin saya terharu, pengen nangis. Betapa tidak. Mengingat pemberdayaan yang saya lakukan selama hamil masih sangat minim but alhamdulillaah Bunay di dalam bertumbuh dengan sangat baik. Posisinya bagus. Plasenta tidak menutup jalan lahir. Tidak ada lilitan tali pusar. Air ketuban cukup. BB pun telah mencapai 3,2 kg. 

Intinya kondisi Bunay normal dan sudah siap pula untuk dilahirkan secara normal. Ah, saya jadi ingat dengan perkataan dokter Tiwi pada pertemuan kami sebelumnya.  Waktu itu saya datang dengan membawa hasil check up dari dokter mata di Poliklinik Mata RS Awal Bros yang hasilnya menunjukkan kalau retina sebelah kiri maupun kanan saya telah mengalami penipisan. Dengan hasil seperti itu, jelas saya pesimis bisa melahirkan secara normal. Tujuan saya datang periksa saat itu pun untuk membicarakan jadwal untuk operasi SC.

Tak disangka, tanggapan dokter Tiwi malah sebaliknya. Beliau bahkan tidak melihat hasil pemeriksaan mata saya dan langsung mengambil keputusan. Ok, normal ya. Kita usahakan lahir nomal dulu. Lagipula kondisi janin ibu sama sekali tidak bermasalah. Semuanya baik. Kalau pun ada masalah,  masalahnya cuma di ibu saja. Saking optimisnya beliau. Tak ketinggalan suami juga ikut mendukung dan optimis istrinya ini bisa melahirkan normal. So?

Benar kata dokter Tiwi, masalahnya ada di saya. Dengan kondisi mata minus tinggi dan retina kedua mata yang telah mengalami penipisan ditambah pula silinder, apa mungkin saya bisa melahirkan secara normal?

Jumat, 03 Agustus 2018 (38 weeks 5 days)

I know, meski suami yakin dan sama optimisnya dengan dokter Tiwi kalau istrinya ini bisa melahirkan normal tapi tetap dalam hatinya yang terdalam masih ada rasa was-was. Itulah sebabnya siang ini dia serius menonton tutorial cara melepaskan cincin di youtube sambil mempraktikkannya di jari tengah saya.

Cincin nikah saya memang sengaja saya letakkan di jari tengah karena longgar bila dimasukkan di jari manis. Saya pun luput melepaskannya ketika hamil. Alhasil ketika berat badan saya naik drastis termasuk tangan saya yang ikutan bengkak parah, cincin itu jadi nggak bisa dilepaskan.

Dikeluarkan dengan menggunakan sabun, handbody atau bahan pelicin lainnya juga sudah tidak mempan jadi saya dan suami mencoba cara lain, yakni dengan menggunakan benang. Ada sekira sejamanlah saya dan suami berkutat demi meloloskan cincin tersebut dari jari tengah saya tapi tak kunjung berhasil. Yang ada malah cincin tersebut sempat terperangkap di tengah-tengah, tidak bisa keluar, pun tidak bisa kembali ke posisi semula.

Jari tengah saya sampai berubah warna jadi biru keunguan. Jangan tanya gimana rasanya? Sakitnya bikin meringis. Gara-gara itu juga suami sampai panik dan bercucuran air keringat. Syukurnya setelah berjuang sekuat tenaga, cincin tersebut berhasil kembali ke tempat semula alias gagal dikeluarkan😅

Eh kamu pernah liat nggak highlight di akun IG @tasyakamila yang judulnya Jari Bengkak. Kurang lebih drama lepas cincin nikah menjelang persalinan seperti itu yang saya alami. Pas lihat highlight tersebut saya langsung ngakak mengingat drama serupa yang saya alami dengan suami😂

Usaha yang dilakukan suami Tasya untuk mengeluarkan cincin nikah istrinya itu juga gagal. Ujung-ujungnya mereka memilih ke toko emas dan terpaksa merelakan cincin tersebut dikeluarkan dengan cara dipotong.

Ya mau gimana lagi, kalau masuk ke ruang operasi kan memang nggak diperkenankan pake emas. Nah, usaha yang dilakukan suami saya untuk lepas cincin nikah istrinya menjelang persalinan ini buat jaga-jaga saja, karena tidak menutup kemungkinan persalinan saya yang sudah direncanakan spontan bisa berujung pula di meja operasi.

Namun karena usaha keras suami mengeluarkan cincin nikah yang melingkar di jari tengah saya gagal, ya sudah kami cuma berharap persalinan saya nantinya benar-benar bisa normal. Sayang juga kalau kami langsung ambil keputusan potong cincin nikah. Setelah drama lepas cincin nikah yang tak membuahkan hasil itu, suami ngajak saya masuk kamar. Jangan tanya buat ngapain ya😀

Beidewei, kamu pernah dengar nggak kalau salah satu cara untuk mempercepat kontraksi persalinan adalah dengan berhubungan suami istri. Ini bukan mitos ya, faktanya HB memang termasuk salah satu induksi alami. Tapi saya dan suami sama sekali tidak ada niatan mau mempercepat kontraksi lho, hanya saja setelah HB siang ini saya mengalami flek dengan warna merah kecoklatan. Selain itu saya juga mulai merasakan kontraksi yang intens.

Adanya flek dan kontraksi yang cukup intens ini merupakan tanda-tanda kalau saya bakal segera melahirkan. Alih-alih ke rumah sakit, saya memilih memberitahu kakak saya yang sudah lebih dulu berpengalaman dalam hal ini. Saran dia sih nggak usah terburu-buru ke rumah sakit.

Oke, dari bukunya Bidan Yesie yang berjudul #BebasTakut Hamil dan Melahirkan serta beberapa referensi yang saya baca, saran yang saya dapat juga demikian. Kalau sudah keluar flek atau merasakan kontraksi yang intens jangan langsung terburu-buru ke rumah sakit. Tunggu sampai kontraksinya semakin kuat hingga intervalnya hanya berselang lima menit. 

Berhubung kontraksi yang saya rasakan saat  itu masih ringan jadi sore harinya saya dan suami masih sempat jalan-jalan. Malam harinya, kami juga masih datang menjenguk om saya yang sakit. Tak disangka, ternyata itu adalah malam terakhir saya bertemu om di dunia, malam terakhir saya mendengar suaranya, malah terakhir saya memijit kaki beliau 😢

Oya, di rumah om saya sempat telpon mama dan memberitahu kondisi saya yang sudah mengalami flek dan kontraksi teraratur. Saat saya beritahu itu mama langsung feeling, berarti tidak lama lagi.

"Coba kalau mama belum pesan tiket tanggal 7, mama bisa langsung berangkat besok" begitu kata mama.

Sayangnya mama sudah terlanjur pesan tiket pesawat tanggal 7, karena perkiraan beliau persalinan saya kalau bukan pas HPL paling majunya dua atau tiga hari. Perkiraan mama ternyata meleset.

Sepulang dari menjenguk om, kontraksi yang saya rasakan mulai kuat dengan interval masih sekira 20 menit. Sesampai di rumah barulah saya aktifkan aplikasi Kontraksi Nyaman-nya @bidankita yang sudah saya donwload jauh-jauh hari. Seperti namanya, aplikasi ini bukan sebatas menghitung interval kontraksi namun juga dilengkapi dengan fitur suara hypnobirthing bidan Yesie yang bisa bikin kita menghadapi terjangan gelombang cinta dengan lebih nyaman.

Semakin malam kontraksi yang saya rasakan semakin kuat. Intervalnya juga semakin dekat, yang tadinya per 20 menit, menjadi 17 menit, 15 menit, 10 menit dan akhirnya saya sungguh benar-benar tidak bisa menahannya lagi.

Drama Menjelang Persalinan

Ekspresi saat baru pembukaan dua. Foto selfie ini diambil suami tanpa sepengetahuan saya😅

04 Agustus 2018, lewat pukul 00.00 WITA


Setiap terjangan gelombang cinta itu datang saya spontan mencengkeram tangan suami dengan sangat kuat lalu suami dengan refleks pula memeluk dan mengelus-ngelus punggungku. Cengkeraman saya baru lepas ketika terjangan itu mereda. Lalu suami akan kembali terlelap dan terbangun lagi dengan reaksi serupa. Begitu berulang-ulang.

Sudah larut malam dan saya memang tidak bisa memejamkan mata. Bagaimana mata saya bisa terlelap sementara tiap berapa menit saya selalu diterjang dengan gelombang cinta yang rasanya aduhai. Sakitnya jangan ditanya. 

Di samping saya ada suami yang siap siaga, sedikit-sedikit terbangun lalu sedikit-sedikit tertidur lagi. Ah, rasanya saya juga tidak tega mengganggu tidur nyenyaknya tapi apa boleh buat saya tidak bisa menanggung gelombang cinta ini tanpa mencengkeram tangan suami.

Pukul 02.00 WITA, Kontraksi Semakin Kuat, Keluar Flek Semakin Banyak

Kontraksi yang saya rasakan sudah sangat kuat tapi saya masih bertahan di rumah. Malah tadinya saya pengen biar sekaligus bakda subuh saja baru ke rumah sakit. Namun sekitar pukul 2 pagi saya ke kamar kecil dan mendapati flek ke dua kalinya. Kali ini malah fleknya lebih banyak dengan warna merah kental.

Kembali ke kamar, saya bangunkan suami dan bilang kayaknya sudah waktunya deh kita ke rumah sakit. Oke, saat itu juga kami langsung berkemas. Karena jauh-jauh hari saya sudah mempersiapkan perlengkapan yang bakal dibawa ke rumah sakit jadi kami tinggal ganti pakaian.

Syukurnya ada mobilnya kakak ipar yang stand by. Kakak ipar yang mengantar kami, tak ketinggalan kak Vhie dan ponakan Al juga ikut menemani. Berhubung kami berangkat ke RSIA Ananda tengah malam jadi perjalanan juga lebih ringkas, hanya sekira 10-15 menit. Si Kakak Ipar juga sengaja ngebut, khawatir saya keburu melahirkan di mobil, itu pun karena hampir sepanjang perjalanan saya tak berhenti mengerang, hehe.

Pukul 02.30-03.00 WITA, Tiba di RSIA Ananda

Saya tidak ingat persis jam berapa sampai di RSIA Ananda, kalau bukan jam setengah tiga, pukul tiga pagi, sekira jam itulah. Sesampai di RSIA saya langsung dibawa ke IGD sementara suami mengurus administrasi. Kak Vhie dan suaminya sendiri tidak bisa tinggal lama menemani karena ada si ponakan Al. Mereka pamit duluan sebelum saya dipindahkan ke ruang bersalin jadi tinggalah saya berdua dengan suami.

Untuk pertama kalinya saya merasakan yang namanya di-VT (pemeriksaan dalam)  waktu masih di ruang IGD. Kalau baca pengalaman melahirkan normal ibu-ibu lain, katanya sih di-VT itu rasanya sakit, nggak enak, nggak nyaman tapi kok saya rasanya biasa-biasa saja yah. Pemeriksaan yang satu ini tujuannya untuk mengecek pembukaan dan yes saat pertama kali di-VT saya memang sudah mengalami pembukaan, tapi baru pembukaan dua😅

Duh, baru pembukaan dua saja rasanya sudah sedahsyat itu. Untung petugasnya nggak nyuruh saya pulang dulu. Saya juga ogah minta pulang. Meski baru pembukaan dua tapi beneran deh saya  seperti merasa sudah nggak berdaya. 

Perawat yang mengantar saya dari ruang IG menuju ruang bersalin sempat berkomentar, bersyukur ya buk sakitnya terus menerus jadi tidak perlu diinduksi. Dapat komentar seperti itu, saya langsung teringat dengan bumil di samping tempat tidur saya waktu di ruang IGD yang sama sekali tidak merasakan sakit sehingga oleh perawat diambil tindakan untuk induksi.

Lantas terlintas dalam benak, apa sakit kontraksi yang saya rasakan terus menerus ini akibat pengaruh induksi alami yang diberikan suami?😅

03.30 WITA Masuk Ruang Bersalin

Anggap saja sekira pukul setengah 4 saya sudah berada di dalam ruang bersalin. Saya benar-benar tidak memperhatikan jam. Jangankan jam, pegang hp saja saya tidak sanggup. Bahkan saat mama menelpon, saya juga tidak bisa bicara dengan beliau, tidak sempat minta maaf pula, hiks maafkan anakmu ini Ma, Pa.

Bergulat dengan rasa sakitnya kontraksi yang begitu dahsyat membuat kondisi saya seperti dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar. Padahal baru pembukaan dua lho, baru pembukaan dua.

Ah, pupus sudah harapan saya melahirkan secara gentle. Tadinya ekspektasi saya bisa melahirkan dengan tenang dan nyaman, masih bisa jalan ke sana-ke mari, main gymball (kalau ada), masih bisa menahan gelombang cinta dengan senyuman manis, masih bisa dandan cantik dan main medsos, pasang status atau selfie gitu. But realitanya apa? Saya justru tergeletak tak berdaya di tempat tidur kamar bersalin, sambil teriak-teriak, mengerang kesakitan.


Astaghfirullaah, Allaahu Akbar ya Allaah saya tidak kuat. Saya tidak pernah menanggung rasa sakit sedahsyat ini ya Allaah, tolong hamba-Mu ya Allaah. Kuatkan hamba ya Allaah. Laa hawla wa laa wuwwata illaah billah dan entah kalimat apa lagi yang keluar dengan lantang dan keras dari mulut saya.

Pukul 04.30-05.00 WITA, Waktu Subuh

Menjelang waktu subuh saya dilanda kantuk yang berat. Semalaman saya memang tidak pernah tidur. Gimana mau tidur kalau gelombang cinta terus menerjang dengan jarak yang semakin dekat dan durasi yang lama. 

Suami tetap setia membersamai. Bahkan dia tidak pernah meninggalkan saya sedetik pun selama di ruang bersalin, kecuali subuh ini. Di tengah rasa kantuk yang bergejolak dan deraan rasa sakit yang menerpa, saya masih sempat mendengar dia meminta ijin untuk shalat subuh di mushallah RS setelah memastikan berkali-kali kalau saya baik-baik saja ditinggal sebentar. Saat itu saya hanya mengangguk. Mengiyakan.

Lalu entahlah, saya tidak ingat persis gimana kondisi saya ketika ditinggal sendiri di ruang bersalin. Sebenarnya tidak benar-benar sendiri, toh, ruangan tersebut penuh dengan ibu-ibu yang juga tengah mengalami kondisi sama seperti saya. Ibu-ibu yang kelepasan kontrol menahan terjangan kontraksi dengan teriak-teriak pun tak sedikit. 

Saya juga sampai ikut-ikutan teriak karena terpengaruh ibu-ibu yang kelepasan kontrol, itu menurut suami. Kata suami, coba kalau suasana ruang bersalin kondusif, tenang, pastinya saya nggak bakal teriak-teriak macam orang kesurupan😅 Etapi pendapatnya itu tida ksepenuhnya saya setujui. Biar keadaan ruang bersalin tenang, kalau sayanya tetap nggak bisa menahan rasa sakit  dan menguasai napas ya jelas saya bakal lepas kontrol juga, hehe.

Sekira pukul 07.30 WITA, Pembukaan 4

Sejak masuk ruang bersalin, perawat rutin memeriksa kondisi saya, baik itu mengecek tekanan darah maupun denyut jantung janin, dll. Cuma saya tidak ingat berapa kali pemeriksaan tersebut dilakukan. Saya hanya ingat pagi ini sekira pukul setengah delapan saya kembali di-VT dan hasilnya baru pembukaan 4. 

Sudah berjam-jam saya di ruang bersalin menghadapi gelombang cinta yang tak henti-henti menerjang dan hasilnya baru pembukaan 4? Duh, badan saya mendadak lemes seketika. Masih lama, masih harus melewati 6 pembukaan lagi untuk sampai di pembukaan lengkap. Lantas saya terbayang dengan cerita kak Vhie yang sampai dua hari berada di ruang bersalin dengan menahan rasa sakit yang teramat karena pembukaannya berjalan lambat, sekalipun sudah diinduksi.

Apakah saya juga akan mengalami hal serupa? Apakah saya harus menanggung rasa sakit ini selama itu, hingga lewat dari 24 jam? astaghfirullaah. Laa hawla wa laa quwwata illaah billaah. Apalagi yang bisa saya lakukan selain terus menerus memohon ampun dan berpasrah pada-Nya.

Lewat Pukul 09.00 WITA Pembukaan Lengkap

Sekira pukul 8 pagi, adik saya Aya datang membawa makanan dan beberapa teh kotak. Disuruh makan, saya menolak. Beneran deh, dalam kondisi seperti itu mana selera saya mengisi perut sekalipun makanan yang dihidangkan tampak begitu lezat. 

Suami ngotot maksa saya harus makan. Dengan telaten dia menyuapi, walau yang berhasil masuk hanya beberapa sendok. Selebihnya saya memilih menutup mulut rapat-rapat layaknya anak kecil yang mengalami GTM😅 Suami nyerah, paling tidak sudah ada sedikit makanan yang masuk ke dalam perut istrinya.

Sekira pukul 9 saya merasa ada yang aneh. Tiba-tiba saja muncul keinginan yang kuat untuk mengedan. Saya benar-benar tidak bisa menahannya. Saat itu yang ada di samping saya cuma suami dan Aya, bidan maupun suster sepertinya sedang sibuk menangani pasien lain jadi ketika keinginan untuk mengedan semakin kuat  tak tertahankan, tak ada yang menghalangi. Mengedanlah saya sendiri tanpa ada instruksi dari siapa-siapa.

Oya saya sempat juga menyentuh selangkangan dan merasa seperti ada yang hendak keluar. Itu seperti kepala bayi. Saat itu saya langsung panik dan minta suami segera memanggil perawat atau bidan. Tapi suami dengan santainya bilang sabar, nanti mereka datang sendiri ke sini, tidak perlu dipanggil.

Dengar suami bilang gitu saya jadi gemes deh. Ya sudah saya lanjut ngedan lagi. Kali ini karena mengedan saya cukup kuat, bidan/perawat yang sementara menangani pasien lain sampai teriak berulang-ulang "ibu jangan mengedan dulu, nanti tenaganya habis".

Tidak lama kemudian bidan dan perawat pun datang menghampiri ranjang saya. Di cek VT, sudah pembukaan lengkap. Demi mendengar kata pembukaan lengkap wajah saya seketika sumringah dan rasa sakit yang menjalar di tubuh saya seolah sirna. Ah, saya jadi bersemangat sekali karena itu artinya tidak lama lagi saya akan segera melahirkan.

Semua bergegas. Aya disuruh keluar karena yang bisa menemani di ruang bersalin hanya satu orang. Perawatnya juga sudah menelpon dokter Tiwi yang seharusnya menangani persalinan saya, sayangnya beliau akan terlambat datang. Jadi bidan dan perawat yang ada segera mengambil tindakan.

Sebelum pukul 09.30 WITA, Waktunya Mengedan

Saat bidan bilang sudah pembukaan lengkap, keinginan untuk mengejan memang sempat hilang. Saya lalu dipersiapkan untuk ambil posisi bersalin. Hehe ada yang lucu waktu disuruh ambil posisi ini saya malah maunya peluk suami😂

Eh bidannya protes.  Posisinya bukan begitu buk. Saya disuruh ngangkang dan meletakkan tangan di kaki. Meski sudah sering nonton adegan melahirkan tapi saya baru tahu nih kalau posisi melahirkan pada umumnya seperti itu. Tangan harus diletakkan di kaki dan nggak boleh sambil meluk suami😅

Ya ampun ini kalau saya lahirannya di Klinik Bidan Kita atau ditangani langsung dengan bidan Yesie atau bidan lain yang pro gentle birth mungkin bisa kali ya saya request posisi bersalin yang sambil peluk suami atau setidaknya pegang tangan suami, haha. Sayangnya bidan yang menangani saya ini nggak pro gentle birth, mana galak pula.

Setelah siap dengan posisi bersalin, bidannya ngasih instruksi supaya saya juga siap-siap untuk mengedan kalau rasa itu muncul. Ingat ya buk, mengedannya nanti kayak mau pup. 

Well, sebelumnya saya sempat khawatir, kira-kira bisa nggak ya saya mengedan nanti. Pasalnya saya sama sekali nggak tahu gimana cara mengedan saat melahirkan. Tapi pas bidannya bilang kayak mau pup saya optimis bisa. Bismillaah.

Sekali gagal. Dua kali gagal. Tiga kali masih gagal. Ok, sedikit lagi buk. Kepala bayinya sudah mau keluar. Saya mengambil napas dalam-dalam. Perjuangan tinggal sedikit, saya harus kuat. Suami ikut menyemangati. 

Eniwei, selama proses mengedan berlangsung, saya sambil minum teh kotak. Suami yang menyodorkan. Katanya sih, minum teh kotak dapat menambah tenaga saat mengedan. Saya percaya-percaya saja dan buktinya memang benar lho. Meski makanan yang masuk ke perut saya hanya sedikit, dan meski tenaga saya sudah banyak terkuras akibat teriak-teriak nggak jelas, tapi saat mengedan saya merasa nggak lemas sama sekali.

Pukul 09.30 WITA, Ahlan Wa Sahlan Bunayya


Tepat ketika saya mengedan untuk ke-empat kalinya si Bunay akhirnya brojol dengan tangisan yang memecah. Maa syaa Allaah rasanya PLONG banget. Seperti mimpi melihat bayi yang saya kandung selama 9 bulan itu kini dapat saya dekap dengan erat.

Alhamdulillaah Bunay lahir dengan
berat 3,2 kg dan panjang 51 cm
Yup, setelah dibersihkan, Bunay langsung diletakkan di atas dada saya. Kami menjalani proses yang namanya IMD. Sungguh itu adalah pertemuan pertama saya dengan Bunay yang sangat indah. Pertemuan yang rasanya bahkan jauh lebih indah dibanding saat saya pertama kali bertemu dengan ayahnya di pelaminan, hehe. 

Ada sekira sejamanlah saya menjalani IMD bersama Bunay sebelum akhirnya bayi mungil yang baru saya lahirkan itu dibawa oleh perawat untuk diobservasi. 

Selanjutnya saya masih harus menjalani proses pengeluaran plasenta dan dijahit. Eh, ini saya beneran lupa apa prosesnya dilakukan saat masih IMD atau setelahnya. Tapi sepertinya sih setelah Bunay dibawa ke ruang observasi.


Setelah IMD Lanjut Proses Pengeluaran Plasenta dan Dijahit

Untuk proses pengeluaran plasenta dan dijahit langsung ditangani oleh dokter Tiwi yang baru datang setelah proses bersalin saya usai. Syukurnya proses yang saya jalani setelah bersalin ini tidak begitu sakit. Bahkan sebelum dijahit saya pastikan dengan bertanya sampai dua kali ke dokter Tiwi, apakah dibius atau tidak? 

Ya kali kalau dijahit tanpa dibius pasti rasanya sakit sekali. Bahkan katanya jauh lebih sakit dijahit daripada menghadapi sakitnya kontraksi. Untung saja saya dibius sebelum dijahit apalagi sobekannya juga nggak terlalu banyak. 

Sementara dalam proses jahitan itu dokter Tiwi sempat bertanya, 

Gimana? Matanya baik-baik saja kan setelah mengedan? 

Hehe, iya dok. Alhamdulillaah tidak seperti yang sempat saya khawatirkan

Mengejan saat melahirkan itu kurang lebih sama seperti mengejan saat pup. Apakah orang yang matanya minus mengalami kebutaan atau robekan bila mengejan saat pup? Tidak, kan? Begitupula dengan ibu dengan mata minus yang mengejan saat hendak melahirkan? Begitu jelas dokter Tiwi.

Intinya ibu dengan mata minus tinggi bisa kok melahirkan dengan normal, nggak harus sesar. Bukan cuma saya saja lho, sudah banyak ibu-ibu lain dengan kondisi mata seperti saya yang juga sudah membuktikan, mereka dapat melahirkan secara normal.


Etapi nggak tahu yah untuk persalinan ke dua saya nantinya. Entah masih bisa lahiran normal lagi atau terpaksa SC. Apapun itu yang penting ibu dan bayinya selamat ya😊

Demikian sharing pengalaman melahirkan anak pertama saya. Fyuuh, akhirnya postingan ini bisa selesai juga sebelum adiknya Zhafran lahir. Fyi, tepat hari ini usia Zhafran menginjak 15 bulan dan in syaa Allaah adiknya bakal lahir saat usianya menginjak 16 bulan. Yup, kurang lebih tinggal sebulan saya akan melahirkan anak kedua. Mohon doanya, semoga persalinan kedua saya juga bisa berjalan dengan lancar dan nggak pake drama teriak-teriak lagi, hehe.


Salam,

You May Also Like

31 comments

  1. Sebelumnya gmn? Apakah takut terjadi kebutaan setelah ngdan?

    ReplyDelete
  2. Sama nih, saat ini sy jg lg hamil dan mata sy minus lumayan tinggi (-4) trs banyak org yg nakut2in bilang sy g bisa lahiran normal harus SC padahal Obgyn sy aja belum ada komentar soal mata minus saya kok org lain yg cuma liat dr luar udah seenaknya judge ini itu, Kan bikin khawatir yaa...

    ReplyDelete
  3. Minusmu berapa? Minusku 7 dan 6 anakku semua lahir normal. Kuncinya, pas mengejan jangan sambil tutup mata.
    Pas anak ketiga, aku sempat mengejan sambil ngantuk. Kok bisa ya? Alhasil mata ada keluar sedikit darah. Tapi ya sejam udah pulih lagi.
    Intinya memang masalah kebutaan itu baru kekawatiran kok. Belum pernah ada kejadian

    ReplyDelete
  4. Masya Allah panjang mbak dan masih inget detil2nya. Kalo mata minus tinggi agak ryskan ya mbak saat melahirkan?

    ReplyDelete
  5. MasyaAllah TabarokAllah... aku ikut merinding sekaligus bergembira dgn cerita ini, Mak.
    Sungguh luar biasa ya, ALLAH Maha Kuasa memberikan kekuatan untuk para ibu di muka bumi ini
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  6. Masyaallah kalau Allah sudah berkehendak maka terjadi ya Mbak Alhamdulillah...

    ReplyDelete
  7. Pengalaman melahirkan memang nggak akan terlupakan ya. Samaa, waktu anak pertama dulu aku merasakan kontraksi intens yg lumayan kuat dan kukira sudah pembukaan 6 ke atas, ternyata baru pembukaan 2. Ke RS jam 6 pagi, disuruh pulang lagi. Jam 11 siang balik lagi ke RS dan baru melahirkan jam 9 malam :)

    ReplyDelete
  8. Wah ceritanya lengkap sekali mba dari yang mampir dulu ke bioskop hahah sampe akhirnya melahirnkan dengan selamat alhamdulilah..emang iya pas anak pertama aku lahiran normal beuh sakitnya masyaAlloh tapi kalau aku2x mengjan mba alhamdulilah plong :) selamat mba ternyata selisih 4 bulan sama kelahiran anak keduaku :)

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah sudah lahir sehat dan selamat ya Mbak. Pengalaman luar biasa deh hehehe...
    Meski semua ibu pernah mengalami melahirkan tetapi pengalaman satu sama lain beda-beda ya...

    ReplyDelete
  10. Ternyata bisa, ya. Saya baru tau lho ini. Semoga dilancarkan juga proses melahirkan yang kedua. Melalui cara apapun, insya Allah ibu dan bayi sehat dan selamat. Aamiin

    ReplyDelete
  11. Wah moga2 anakku minusnya gak nambah ya. Dia minus 6. Semoga lahiran keduanya juga sehat semua. Aamiin. Trus segera pulih juga supaya nanti jeda ngeblognya nggak lama.

    ReplyDelete
  12. wahhhh mmakasih cerita dan sharingnya mbakk..aku yg masih lajang suka bgt baca ceria seputar kehamilan dan persalinan... bikin lebih aware aja

    ReplyDelete
  13. Aku jadi pengeeen tulis cerita melahirkan juga.. dua kali normal, ceritanya beda - beda hehehe

    ReplyDelete
  14. Pengalaman hamil dan melahirkan itu memang momen yang gak bisa dilupakan ya, Mbak. Setiap orang punya ceritanya masing-masing tapi tetap meninggalkan kesan yang mendalam. Memang sih, kalau diceritakan bisa jadi satu buku hihihi..eh kenapa gak dibukukan saja, Mbak? :D

    ReplyDelete
  15. Mbak aku sangat salut dengan Ibu yang dengan berbagai kondisi masih bisa memperjuangkan untuk normal. Semoga sehat selalu dan si kecil ya mbak siska.

    ReplyDelete
  16. Wah ternyata boleh ya mata minus tinggi melahirkan normal. Ponakan pada caesar sih, alasannya minusnya udah tinggi. Urusan cincin yang dipotong itu aku ngalami juga, gara-gara gak bisa dilepas karena jari bengkak. Waktu lihat TAsya kayak gitu, aku cuma bisa ngakak inget kejadianku sendiri

    ReplyDelete
  17. Wah, aku baru tahu kalo mata minus punya risiko sampingan jika melahirkan secara normal. Alhamdulillah ya semuanya lancar. Duh, baca kronologis kayak gini, aku jadi keingetan masa-masa melahirkan dulu. Berjuta rasanya. Tapi saat lihat si bayi, semua rasa berganti bahagia. :D

    ReplyDelete
  18. aku sendiri punya riwayat beberapa penyakit dalam juga mbak. alhamdulillah bisa me;ahirkan normal dan malahanb induksi juiga loh

    ReplyDelete
  19. MashaAllah mbak, perjuangan banget ya melahirkan itu.. perjuangan belum berakhir masih ada masa masa menyusui.. semangat mbak.. aku sejak awal hamil memang tidak memakai cincin mbak, untuk menghindari yang mbak alami.. karena memang kalo hamil saya akan membengkak dimana mana hiks.. Alhamdulillah ya mbak setelah perjuangan panjang akhirnya merasakan gelombang cinta dan melahirkan normal..

    ReplyDelete
  20. Pengalaman melahirkannya luar biasa. Syukurlah berakhir dengan bahagia ya, Mbak. Saya baru tahu lho ternyata mata minus tinggi ada pengaruhnya untuk melahirkan normal. Mesti konsultasi juga berarti ya mengenai kondisi mata ketika mau melahirkan normal

    ReplyDelete
  21. Alhamdulillah sehat ya kak, aku udah ngerasain lahiran normal dan sesar, semua punya sensasi tersendiri hehe tapi menurutku selama kita dan baby sehat ya Alhamdulillah banget.

    ReplyDelete
  22. Wooww baca kisah ini kayak nambah ilmuku mengenai bagaimana kelahiran nantinya. Masih single sih nih mba doakan segera double dan nyusul ya, haha

    ReplyDelete
  23. Ternyata minus tinggi bukan halangan untuk melahirkan normal yaa.. Saya melahirkan yang kedua 5 tahun lalu, minusnya baru 1,5, normal. Tapi setelah melahirkan, minusnya jadi cepet banget nambahnya. Sekarang anaknya umur 5 tahun, saya minus 4 dan silinder 0,5.

    Waktu kakaknya, 8 tahun lalu, saya melahirkan secara caesar. Minus baru 1, dan nambahnya ngga drastis. Cuma nambah 0,5 aja sampai kehamilan kedua.

    Entah ini pengaruh melahirkan normal, atau karena saya sering terpapar radiasi komputer juga.

    ReplyDelete
  24. wah... ceritanya lengkap.... sejak beberapa pekan sebelum melahirkan ceritanya. hehehe. selamat ya akhirnya melahirkan dengan sukses dan sehat semua ibu dan anak.

    ReplyDelete
  25. Wow.. Panjanga ya ceritanya. Jado semakin panjang karena di tengah cerita beberapa kali teralihkan dengan cerita lain, yang juga lumayan panjang. Jadinya agak boring baca hingga akhir.

    ReplyDelete
  26. hebat sekali ya bisa lahiran normal dengan minus mata yang lumayan tinggi. saya trauma sekali dengan lahiran normal, lebih suka lahiran dengan proses cesar

    ReplyDelete
  27. Sukaaa ... MengetahuinSiska rajin baca buku untuk pengalaman seru ini. Jadinya siap ya dan saat VT malah biasa2 saja 😅

    ReplyDelete
  28. Sy mmg blm pernag melahirkan tp dr artikel ini trlihat bahwa melahirkan mmg benar2 butuh lebih dr skedar perjuangaaaan

    ReplyDelete
  29. Waaahhh jadi ingat ipar-ipar saya yang minus nya memang tinggi-tinggi, semua pada sesar, katanya bahaya kalau minus tapi lahiran normal.

    Keren ih perjuangannya, kalau saya udah pasti milih yang dianjurkan saja hahaha

    ReplyDelete
  30. Luar biasa perjuangan seorang ibu. Mulai mengandung, melahirkan, hingga membesarkan anak. Terharu membacara tulisannya.

    ReplyDelete
  31. MasyaAllah luar biasa sekali pengalamannya kak, terima kasih sudah membaginya melalui tulisan ini, sehat-sehat terus bersama dedek bayi selamat mengASIHI. Tulisannya sangat mengisnpirasi...

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.