Pengalaman Mendapatkan Surat Rujukan (Online) dari Klinik Kimia Farma Pettarani

by - Wednesday, April 10, 2019




Bismillaahirrahmaanirrahiim

Saya baru terdaftar sebagai peserta BPJS sekitar awal tahun 2018 lalu. Itu pun mendaftarnya setelah tahu kalau diri saya tengah berbada dua. Yap, sejak awal kehamilan saya dan suami memang sudah berencana memanfaatkan BPJS untuk biaya persalinan nanti. Namun tidak terpikir sebelumnya kalau kami juga akan memanfaatkan BPJS untuk periksa kehamilan.

Sebelumnya saya sempat dua kali periksa kehamilan sekaligus USG di dokter praktik dengan uang pribadi karena waktu itu tunjangan kesehatan dari perusahaan suami belum dihilangkan sehingga kami masih terima reimburse. Usia kehamilan saya baru jalan enam bulan saat tunjangan kesehatan dari perusahaan suami dihilangkan. Saat itulah baru kami kepikiran memanfaatkan BPJS untuk periksa kehamilan.

Oya sebenarnya saya juga sudah menggunakan BPJS saat periksa kehamilan di Puskesmas dekat rumah sewaktu masih tinggal di Barru. Cuma kan pastinya beda ya periksa kehamilan di Puskesmas dengan periksa kehamilan di dokter praktik maupun rumah sakit. Kalau di Puskesmas yang menangani adalah bidan, periksa kehamilannya juga masih manual, tidak menggunakan alat canggih seperti USG. Sedangkan di dokter praktik atau rumah sakit, selain diperiksa dengan USG juga ditangani langsung oleh dokter specialis Obgyn (kandungan).

Selain itu periksa kehamilan di Puskesmas juga tidak perlu surat rujukan. Ya, kan Puskesmas sendiri termasuk faskes 1. Meski waktu itu faskes 1 saya bukan di Puskesmas tersebut yang merupakan tempat periksa kehamilan saya selama trimester dua. Beda hal kalau ingin periksa kehamilan di rumah sakit atau dokter praktik yang berkerjasama dengan BPJS. Harus ada surat surat rujukan dari faskes 1.


Jadi karena ingin memanfaatkan BPJS untuk periksa kehamilan sehingga saya sengaja pindah faskes 1 ke wilayah yang sama dan dengan RSIA Ananda Makassar. Pasalnya selain menerapkan sistem berjejang peserta yang ingin dirawat jalan juga hanya bisa dirujuk ke RS yang berada satu daerah atau satu wilayah dengan faskes 1 yang tertera pada kartu BPJS

Kenapa di RSIA Ananda Makassar ?

Ya, karena saya berencana melahirkan di rumah sakit tersebut. Dokter Obgyn yang saya inginkan untuk menangani persalinan saya nantinya juga bekerja di Ananda jadi salah satu pertimbangan saya dan suami saat hendak memilih faskes 1 adalah kemudahan memperoleh rujukan ke RS yang kami inginkan. Thats why, saya dan suami sepakat memilih pindah faskes 1 ke klinik tepatnya di klinik Kimia Farma Pettarani. Toh lokasinya juga tidak begitu jauh dari RSIA Ananda walaupun faskes 1 saya itu persis bersebelahan dengan RSIA Paramount.

Nah, kalau di postingan sebelumnya  saya sudah ulas pertimbangan saat hendak memilih faskes 1, antara klinik dan puskesmas, kali ini saya pengen share pengalaman memperoleh surat rujukan dari Klinik Kimia Farma Pettarani

FYI, kartu BPJS yang mengalami perubahan faskes 1 baru akan aktif dan bisa digunakan di awal bulan selanjutnya. Alhasil saya tidak perlu menunggu hingga sebulan lamanya karena telah melakukan pindah faskes 1 dari klinik perusahaan suami ke klinik Kimia Farma Pettarani lewat aplikasi Mobile JKN sekira akhir bulan Juni 2018 jadi pas masuk awal Juli 2018 kartu BPJS saya sudah aktif dan bisa digunakan di faskes 1 yang baru.


Sejauh ini saya sudah empat kali berkunjung ke Klinik Kimia Farma dengan tujuan yang sama. Minta surat rujukan. Namun sebenarnya pasien BPJS tidak diperkenankan minta surat rujukan apalagi tanpa indikasi medis. Saya jadi ingat, ipar saya waktu hamil kemarin juga ingin mendapatkan surat rujukan dari faskes 1 nya, namun tidak diberikan karena alasan tersebut. Tidak ada indikasi medis.

Well, saya sempat heran dong, kok mau minta surat rujukan saja tidak diberikan. Sementara saya waktu itu bisa dengan mudah dan cepat mendapat surat rujukan ke RSIA yang saya inginkan. Tadinya saya pikir karena sistem BPJS sekarang yang makin ribet tapi saya keliru ding. Bukan karena sistemnya melainkan karena pilihan faskes 1.

Dia pilih faskes 1 di Puskesmas yang notabene fasilitas maupun providernya (baik dokter obgyn maupun bidannya) lebih lengkap sementara saya pilih faskes 1 di klinik yang entahlah saya belum tahu apakah fasilitasnya lengkap atau tidak namun yang pasti dokter specialisnya masih kurang. Selain dokter gigi, kebanyakan dokter yang bertugas di faskes 1 saya ini adalah dokter umum.

Sampai di sini mungkin kamu juga sudah paham, mengapa saya dan suami lebih memilih faskes 1 di Klinik ketimbang Puskesmas karena pertimbangan utama kami memang ingin mendapatkan surat rujukan ke RS yang diinginkan dengan mudah dan cepat. Lagipula saya juga nggak ada rencana mau melahirkan di Puskesmas karena kondisi mata yang mines. Kata orang-orang sih mata mines  berisiko mengalami kebutaan bila dipaksa melahirkan secara pervaginam jadi buat amannya saya prefer melahirkan di RS terlebih lagi ada rencana untuk melahirkan secara sectio.

Rujukan untuk Periksa Mata 


Lho kok minta surat rujukan untuk periksa mata, bukannya periksa kehamilan? Tujuan saya waktu pertama kali datang ke Klinik Kimia Farma Pettarani memang bukan sekadar minta surat rujukan untuk periksa kehamilan di RSIA Ananda saja melainkan juga surat rujukan ke RS untuk periksa mata. For what? Jelas ada kaitannya dong. Seperti yang sudah saya singgung di atas, kata orang-orang bumil dengan mata mines tinggi seperti saya sangat berisiko untuk melahirkan normal.

Tapi itu kata orang-orang ya, kalau kata dokter Tiwi Palma (dokter Obgyn yang periksa kehamilan saya di trimester akhir sekaligus juga merupakan dokter yang saya pilih untuk menangani proses bersalin saya) lain lagi. Beliau justru optimis saya bisa melahirkan secara normal. Padahal tadinya saya sudah nyaris pasrah dan bersedia jika persalinan ini harus berujung di meja operasi. Sayanya saja yang rada pesimis sehingga beliau menyarankan agar saya periksa mata dulu sebelum konsul selanjutnya.

Oh ya, saya pertama kali datang ke klinik ini saat usia kandungan sudah masuk delapan bulan dan ditemani adik saya, Aya. Suami sendiri tidak bisa menemani karena harus masuk kerja. Waktu itu saya dan Aya datangnya agak kesiangan. Sudah hampir masuk dhuhur (istirahat siang) baru kami tiba. Alhasil pas kami datang langsung disambut dengan petugasnya yang menyuruh kami menunggu terlebih dahulu karena dokternya baru akan datang sekira jam 1 siang. Jadilah saya dan Aya melipir ke ujung Pettarani. Menikmati segelas es kelapa muda. Kemudian lanjut shalat di masjid terdekat lalu kembali lagi ke klinik setelah jam sudah menunjukkan pukul 1 siang.

Sekadar informasi, Klinik Kimia Farma Pettarani terdiri atas dua lantai. Apoteknya berada di lantai bawah sedangkan lantai atasnya itulah yang dijadikan klinik. Otomatis setelah saya dan Aya kembali ke klinik petugasnya langsung mengarahkan kami ke lantai atas. Sesampai di lantai atas sudah ada yang mengantri. Namun tidak banyak, cuma satu dua orang. Makanya saya pun cepat dapat giliran.

Berhubung saya peserta baru di Klinik Kimia Farma Pettarani, maka saat registrasi petugasnya langsung menyerahkan formulir berisi data diri dan keluarga yang harus saya isi. Di kartu BPJS saya juga sebenarnya faskes 1 nya masih tertera di klinik yang lama karena saya tidak datang dan meminta pengajuan ganti kartu di kantor BPJS. Nah, saya sempat khawatir kalau-kalau tidak bakal dilayani karena persoalan kartu ini namun ternyata petugasnya sama sekali tidak mempermasalahkan.

Jadi tidak masalah ya kalau kamu sudah ganti faskes 1 dan tidak ganti kartu BPJS. Saat kunjungan pertama kali, kamu bilang saja ke petugasnya kalau kamu sudah melakukan ganti fakes 1 lewat aplikasi JKN Mobile dan belum ganti kartu. Petugasnya nanti akan mengecek di komputernya. Jika datanya sesuai, kamu akan langsung dipersilakan menemui dokter namun jika sebaliknya pasti petugas akan meminta keterangan lebih lanjut.

Setelah giliran saya tiba, Mbak yang bertugas di bagian administrasi mempersilakan saya masuk ke ruangan dokter. Dokter yang pertama kali saya temui di Klinik ini adalah dokter umum perempuan yang saya taksir umurnya masih berada di kepala dua. Dokternya menyambut saya dengan ramah dan hangat lalu saya jelaskanlah keluhan kedatangan saya yang ujung-ujungnya mau minta surat rujukan. Malah saya langsung todong dokternya dengn pertanyaan, bisa nggak ambil dua rujukan sekaligus? Ya, daripada saya harus bolak-balik, mana jarak rumah ortu yang saya tinggali dari Gowa ke klinik tersebut lumayan jauh.

Sayang, dokternya hanya bisa mengeluarkan satu surat rujukan/indikasi medis. Artinya saya harus pilih salah satu antara rujukan untuk periksa mata atau periksa kehamilan. Baiklah, tanpa pikir panjang saya sampaikan ke dokternya agar diberi rujukan untuk periksa mata. Ketika dokternya nanya mau dirujuk ke RS mana eh saya malah bingung karena tidak punya referensi RS yang recommended. Malah tadinya saya jawab saja di RS PCC Wahidin karena ingat mama saya pernah berobat di sana namun atas pertimbangan jarak yang jauh plus pasien yang biasanya membludak di RSUD tipe A itu sehingga si Dokter merekomendasikan RS Awal Bross yang kemudian saya iyakan. Jadilah surat rujukan pertama saya dituju ke RS yang terletak di Jalan Urip Sumaharjo itu.

Namun sebelum menetapkan rujukan tersebut tentunya saya telah diperiksa terlebih dahulu. Selain diperiksa tensi, dokter muda tersebut juga memeriksa kondisi mata saya dengan tes manual yakni dengan menunjukkan huruf-huruf tertentu yang ukurannya berbeda-beda kemudian saya disuruh menyebut satu per satu. Pemeriksaannya singkat saja sih, makanya tidak sampai 10 menit dalam ruangan saya sudah dipersilakan keluar dengan membawa berkas berupa catatan dari dokter tersebut yang diminta untuk diserahkan ke mbak yang bertugas di bagian administrasi. Tidak sampai lima menit pula surat rujukan yang saya minta selesai.


Rujukan untuk Periksa Kehamilan



Kali kedua datang ke Klinik Kimia Farma Pettarani masih ditemani Aya. Kali itu kami sengaja berangkat dari rumah selepas dhuhur namun lagi-lagi sampai di klinik saat dokternya sudah tidak ada di tempat. Mungkin karena kami datangnya telat lagi ya, pasalnya menjelang ashar baru tiba karena sebelum ke klinik kami singgah di tempat lain atau karena saat itu memang sudah pergantian dokter. Entahlah. Petugasnya menyuruh kami kembali sekira jam 4 sore.

Oke, masih ada waktu sejaman. Alhasil, saya dan Aya melipir cari rumah makan, lanjut shalat ashar baru kemudian kembali ke klinik. Berhubung sudah ada pengalaman sebelumnya, sampai di klinik saya dan Aya langsung menuju lantai 2. Pasien BPJS yang berkunjung hari itu juga tidak banyak. Jadi tidak perlu menunggu lama saya sudah dipanggil masuk ke ruangan dokter setelah menunjukkan kartu BPJS.

Ruangan yang saya masuki kali kedua itu berbeda dengan ruangan yang saya masuki saat minta rujukan untuk periksa mata. Dokter yang menangani pun berbeda. Syukurnya masih dokter perempuan cuma kelihatan umurnya lebih tua dari dokter yang pertama kali saya temui.

Saya minta surat rujukan untuk periksa kehamilan ini setelah periksa mata di RS Awal Bross. Namun saya nggak bingung lagi saat dokternya nanya mau dirujuk ke RS mana. Jelas di RSIA Ananda dong. Malah ketika dokternya tanya, "Dokter Kandungannya di Ananda siapa? Dokter Tiwi Palma, dok. Jawab saya mantap, hehe.

Baiklah, si dokter kemudian mengukur tensi lalu mempersilakan saya berbaring di tempat tidur untuk mengukur denyut jantung janin yang ada dalam perut saya dengan doppler. Sekali lagi, proses pemeriksaannya tidak berlangsung lama. Kurang dari 10 menit saya sudah keluar dengan membawa berkas catatan dokter lalu memberinya pada si mbak yang berjaga di luar. Tidak lama kemudian surat rujukan yang saya minta pun sudah ada di tangan.

Surat Rujukan untuk Periksa Kehamilan (lagi)

Saya masih ingat sekali, hari itu kali ketiga ketika berkunjung ke Klinik Kimia Farma Pettarani adalah hari Rabu, 01 Agustus 2018. Persalinan saya tinggal menunggu hari dan karena belum ada tanda-tanda Bunay bakal brojol jadilah saya kembali ke klinik tersebut untuk minta surat rujukan agar hari Kamisnya saya bisa menemui dokter Tiwi. FYI jadwal dokter Tiwi melayani pasien BPJS di RSIA Ananda adalah hari Kamis pagi.

Senangnya kali itu suami yang menemani saya ke klinik. Padahal rencana awal dia baru akan datang Rabu malam jadi Kamis paginya kami bisa sama-sama ambil surat rujukan di Klinik sekaligus langsung ke Ananda. Namun entah kenapa dia justru datang lebih awal dari jadwal yang kami rencanakan sebelumnya. But no problem, saya justru happy dengan kedatangannya. Maklum selama trimester tiga saya dan suami lebih banyak menjalani LDM. Namun syukurnya meski LDM dia selalu menyempatkan datang untuk menemani istrinya periksa kehamilan. Dia sampai rela ambil cuti gitu. Ya intinya suami saya tidak pernah alpa menemani saya saat periksa kehamilan di dokter Obgyn. Saking tidak maunya ketinggalan lihat penampakan si Bunay di layar USG, hehe.

Etapi kedatangan saya yang tiga kali ini tidak sampai bertemu dan diperiksa dokter di klinik karena indikasi medis saya masih sama dengan indikasi pada rujukan sebelumnya. Ditambah lagi surat rujukan untuk periksa kehamilan ke RSIA Ananda tersebut belum genap sebulan which is masih bisa digunakan. Artinya bila dalam sebulan itu saya hendak melakukan lebih dari satu kali periksa kehamilan di Ananda maka seharusnya saya tidak perlu lagi minta surat rujukan di faskes 1 karena surat rujukan yang ada masih berlaku. Tapi dari pihak RSIA Ananda (dalam hal ini disampaikan oleh dokter Tiwi) saya diharuskan untuk mengurus surat rujukan lagi bila ingin mendapatkan pelayanan kesehatan sebagai peserta BPJS.

Saya jadi ingat waktu periksa mata di RS Awal Bross, saya dapat surat keterangan dari dokter yang mememeriksa mata saya. Kata dokternya saya bisa berobat kembali tanpa perlu minta surat rujukan dari faskes 1 dengan menunjukkan surat tersebut. Namun surat keterangannya hanya berlaku sebulan. Nah, surat keterangan agar tidak perlu meminta rujukan kembali di faskes 1 tidak saya dapatkan dari dokter Tiwi.


Surat Rujukan dari Faskes 1

Mbak yang saya dan suami temui di klinik Kimia Farma Pettarani hari itu menjelaskan, seharusnya dokter yang memeriksa saya mencentang option Kontrol Kembali ke Rumah Sakit dan menyertakan tanggal pada option tindak lanjut yang ada di surat rujukan bukannya langsung mencentang option konsultasi selesai. Saya dan suami jadi bingung dong, bagaimana mau periksa kembali di Ananda dengan menggunakan BPJS kalau tidak membawa surat rujukan baru?

Berhubung tidak bisa dibuatkan surat rujukan baru sehingga si Mbak memberi saran agar saya bawa surat rujukan yang lama saja. Nanti kalau dari pihak RS bertanya baru dijelasin atau disuruh telpon langsung ke klinik Kimia Farma Pettarani yang merupakan faskes 1 saya itu. Syukur pula saat registrasi di Ananda tidak ada pertanyaan terkait surat rujukan lama yang saya bawa. So, bisa jadi catatan nih kalau mau periksa kehamilan di Ananda dengan BPJS; minta dua lembar rujukan yang sama sekaligus dari faskes 1 atau jelaskan ke dokter yang memeriksa perihal tindak lanjut pada surat rujukan yang akan dicentang. But sekarang kan rujukan BPJS sudah Online jadi mungkin aturannya sudah beda kali ya.


Rujukan Online untuk Periksa Mata



Baru awal bulan ini saya kembali ke Klinik Kimia Farma Pettarani setelah delapan bulan berlalu. Tujuan saya masih sama sih, pengen mendapatkan surat rujukan lagi. Tapi bukan surat rujukan untuk periksa kehamilan ya, hehe. Bila tahun lalu tujuan saya periksa mata sebatas untuk mendapat jawaban apakah saya bisa melahirkan normal dengan kondisi mata saya yang parah atau tidak, kali ini tujuan saya mau periksa mata sekaligus ganti kacamata.

Waktu periksa mata di Awal Bross saya memang tidak sempat ganti kacamata karena fokus sama persiapan melahirkan. Baru sempatnya ya sekarang ini, mumpung lagi di Makassar (di Gowa tepatnya). Mungkin ada dari kamu yang bertanya, kenapa mau ganti kacamata saja pake BPJS segala? Ya suka-suka saya dong, hehe. Lagian buat apa punya kartu BPJS tapi tidak dimanfaatkan sementara tiap bulan gaji suami dipotong untuk bayar iuran. Lagipula lumayan juga, selain bisa periksa mata tanpa keluarin uang, kita juga bisa klaim kacamata dengan BPJS.

Oya, ada yang berbeda dengan kunjungan saya kali ini. Jelas dong, terakhir kali datang ke klinik ini kan si Bunay masih saya gendong dalem perut lha sekarang gendongnya di luar perut, mana beratnya sudah sekira 9 kilo lagi, hehe. Tapi bukan beda itu yang saya maksud. Bedanya, sekarang sistem rujukan BPJS sudah online lho.

Sebenarnya saya sudah tahu tentang rujukan online ini. Cuma ya saya keliru. Pasalnya saya sempat mengira untuk bisa mendapatkan surat rujukan online ini cukup diakses di rumah atau dimana saja asal tersambung dengan internet dan punya aplikasinya seperti saat saya melakukan pindah faskes 1 secara online lewat aplikasi JKN Mobile. Tapi oh bukan seperti itu maksudnya, gaes.

Kita tidak bisa mendapatkan atau meminta surat rujukan tanpa indikasi medis. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan rujukan, kita tetap harus menemui dokter di faskes 1. Dokternyalah yang berhak mengeluarkan surat rujukan dan menentukan tempat rujukan kita. Biasanya sih dokter akan merujuk kita ke RS terdekat dengan faskes 1 atau bisa juga dirujuk ke RS sesuai permintaan kita. Namun pastikan saat mengajukan RS tertentu, kamu sudah punya alasan jelas dan meyakinkan ya karena barangkali dokternya tidak setuju dan malah merujuk kamu ke RS yang tidak sesuai dengan keinginan kamu.

Selanjutnya, karena sudah paham alur mendapat surat rujukan dari faskes 1, saya tidak lagi terang-terangan menyatakan maksud kedatangan. Saya bilang saja sama dokternya (dokter perempuan, namun beda dengan dua dokter yang saya temui sebelumnya) mau periksa mata. Dokternya mencatat sesuatu lalu menyampaikan kalau dia akan merujuk saya ke Klinik Orbita, Klinik Mata yang jaraknya cukup dekat dari Klinik Kimia Farma. Oke, saya langsung setuju dan semangat sekali. Soalnya saya sudah sering lewat di depan klinik Mata yang berada di pinggir jalan poros Pettarani itu (dekat lampu merah Pettarani - Hertasning) namun belum pernah berobat di sana dan seingat saya dulu klinik Orbita tidak bekerjasama dengan BPJS.

Setelah itu, dokter menanyakan apakah saya masih punya keluhan lain? saya tanggapi dengan jawaban tidak. Oke, dokternya mempersilakan saya ke luar ruangan tanpa membawa berkas apapun seperti yang lalu-lalu. Mbak di bagian administrasi juga mempersilakan saya bisa langsung pulang. Padahal biasanya saya menunggu beberapa menit untuk mengambil surat rujukan yang sudah diprint dan distempel.

Sekarang surat rujukannya sudah online. Tinggal tunjukin kartu BPJSnya saja nanti. Sudah ada datanya kok di sana. Jelas Mbaknya yang bikin saya mangut-mangut. Ternyata ini toh yang dimaksud sistem rujukan online. Praktis banget. Jadi saya tidak perlu bawa surat apa-apa ke Klinik Orbita, cukup bawa kartu BPJS. Tidak perlu khawatir juga kalau ketinggalan surat rujukannya, asal kartu BPJSnya tidak tertinggal. Speechlessnya lagi, masa berlaku surat rujukan online ini lebih lama lho. Kalau surat rujukan offline masa berlakunya hanya sebulan, surat rujukan online berlaku hingga tiga bulan. Lama banget, kan?



Survei Pelayanan Faskes 

Eniwei, setiap selesai mendapatkan layanan kesehatan dengan BPJS, akan muncul notifikasi perihal survei pelayanan faskes seperti ini di aplikasi JKN Mobile. Coba tebak, kira-kira saya jawab ya atau tidak untuk pertanyaan di atas. Benar banget, waktu tunggu saya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di Faskes 1 tidak pernah lebih dari 30 menit. Malah waktu datang tanggal 6 April kemarin saya tidak pake acara nunggu segala. Langsung temui dokternya setelah menunjukkan kartu BPJS karena tidak ada antrian.

Yap, kalau kamu pengen dapat layanan kesehatan dengan cepat, terutama bila tujuan kamu hanya ingin mendapatkan surat rujukan maka memilih faskes 1 di klinik bisa jadi pilihan yang tepat. Apalagi sistem rujukan BPJS sekarang sudah online. Sekarang ini peserta yang mendaftar faskes 1 di Klinik Kimia Farma Pettarani sudah lebih dari 2000 orang. Jumlah peserta untuk setiap faskes 1 hanya dibatasi sampai 5000 kuota. Kita tidak bisa mendaftar di faskes 1 yang pesertanya sudah lebih dari 5000. Jadi masih ada kesempatan bagi kamu yang tinggal di sekitaran Makassar dan tertarik ingin mendaftar faskes 1 di klinik Kimia Farma Pettarani. Tapi sebaiknya sih kamu pilih faskes 1 yang jaraknya paling dekat dengan lokasi tempat tinggal kamu. Oke sekian dulu sharing pengalaman saya kali ini, semoga bermanfaat

Salam,
@siskadwyta

You May Also Like

10 comments

  1. Saya pun pindah Faskes dari Puskesmas ke Kimia Farma, alasannya cuman karena males ngantri di Puskesmas dan gak suka dengan attitude dari petugas-petugas di Puskesmas yang suka bentak-bentak pasien, terutama pasien yang (maaf) terlihat kurang mampu.

    ReplyDelete
  2. terlepas dari kontroversi BPJS, skrg BPJS sdh canggih krn sdh ada sistem onlinenya, dari ulasan di atas, saya baru tau klau ibu bermata minus ternyata memiliki resiko saat melahirkan, selain itu dpt dipetik sebuah hikmah yaitu perjuangan seorag ibu dlm mengandung hingga melahirkan seorg anak adalah hal yg perlu persiapan baik dari segi mental maupun kesempatan mendptkn pelayanan kesehatan yg baik

    ReplyDelete
  3. Kebetulan tahun ini semua karyawan di kantor paksu wajib daftar BPJS juga. Jadi kami akan pakai 2 fasilitas kesehatan asuransi dan BPJS. Tahun ini rencana daftar ke ke fasilitas BPJS di Kimia Farma Daeng Tata, baca ini jadi lumayan paham tentang fasilitas BPJS dan Faskes 1. TFS Siska 👍

    ReplyDelete
  4. Keren ya haha. Tapi memang harusnya RS juga bisa beradaptasi dengan kondisi masyarakat yang keinginannya dan tuntutannya ingin cepat dan segera. Hehe.

    ReplyDelete
  5. Banyak yah kelebihan dari faskes 1 ini..sangat bermanfat infonya Kak, Sediakan payung sebelum hujan..Lengkapi BPJS faskes 1 adalah langkah yang tepat..

    ReplyDelete
  6. Wah-wah😍 rujukan sekarang udah ada onliennya jg yah😅..jadi makin mudadh deh. Kira-kira kalau pemilu efektif gk yah basis online kaya gini?

    ReplyDelete
  7. Masih sepi ya Klinik Kimia Farma karena banyak yang belum tahu bisa minta rujukan di sana.

    ReplyDelete
  8. Masyallah perjuangannya dapat surat rujukan ya kak. Alhamdulillah gak begitu ribet kalau kita memang sudah paham prosedurnya. Waktu lahiran saya juga pakai BPJS tapi gak ngerti dengan surat rujukan ini karena yang ngurus suami, aku tinggal terima beres saja, hehehe.

    ReplyDelete
  9. baru tahu kalau BPJS bisa klaim kacamata, mau periksa mata dan sekalian ganti kacamata ah..

    ReplyDelete
  10. Wah, jadi bisa bayangin urutan prosesnya klo cari Surat Rujukan pakai BPJS. Makasih sharing-nya ya mbak... :)

    Oiya mbak, waktu hamil itu ngerasa ada perbedaan treatment/pemeriksaan antara saat pakai Rujukan BPJS & saat bayar sendiri?

    Waktu aku hamil pertama kali (walaupun keguguran akhirnya) sempet ngobrol sama beberapa temen. Kebanyakan ngasih saran kalau periksa kehamilan mendingan pakai biaya sendiri. Untuk persalinannya, barulah nggak apa2 pakai BPJS. Tapi aku rada kurang jelas juga alasan mereka bilang gitu, makanya jadi agak penasaran

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.