Pengalaman Periksa Kehamilan Tanpa dan Dengan BPJS di RSIA Ananada Makassar

by - Friday, September 06, 2019


Bismilaahirrahmaanirrahiim

Pengalaman Periksa Kehamilan Tanpa dan Dengan BPJS di RSIA Ananada Makassar. Menginjak awal trimester akhir saya memutuskan pindah ke rumah orang tua di Gowa (dekat perbatasan Gowa-Makassar) karena berencana ingin melahirkan di Makassar.  Otomatis karena ingin melahirkan di Makassar saya harus cari RS atau tempat bersalin yang recommended. Kalau saran Bidan Yessie sih sebaiknya memang kita wisata RS saja dulu.

Nah, masalahnya sejak pindah ke Gowa saya dan suami terpaksa harus menjalani LDM. Jadi rada ribet juga ya kalau saya wisata RS sendirian tanpa ditemani suami. Apalagi Makassar kan bukan kota kecil, pilihan RS dengan layanan bersalin yang tersedia di Kota Daeng ini ada buanyaaak. Well, semakin banyak pilihan tentu akan membuat kita semakin kebingungan.

Makanya dalam menentukan tempat untuk bersalin ini saya ogah punya banyak pilihan, yang penting bisa ketemu dengan RS yang sesuai dengan kriteria yang saya inginkan . Setidaknya ada empat kriteria yang jadi pertimbangan utama saya ketika memilih tempat untuk bersalin, yakni pro ASI, pro IMD, pro Rom in dan provider dokter Obgyn yang bekerja di RS tersebut pro Normal.

Kenapa RSIA Ananda Makassar?

Pilihan saya akhirnya jatuh pada Rumah Sakit Ibu dan Anak Ananda yang terletak di jalan Andi Djemma no. 57 Makassar. Sebenarnya saya sudah pernah singgung terkait alasan mengapa pilihan saya untuk bersalin nanti jatuh di RSIA Ananda, tapi nggak papa yah saya perjelas lagi di postingan ini.


Jadi saya pertama kali tahu tentang RSIA Ananda dari Ana, teman kuliah sekaligus mak comblang eh maksud saya perantara saat saya menjalani taaruf dengan suami yang ternyata merupakan teman kuliah suaminya juga.

Waktu itu saya sempat nanya via WA ke Ana kira-kira dimana RS bersalin yang recommended karena dia sudah punya pengalaman melahirkan di salah satu RS yang ada di Makassar. Namun RSIA Ananda inilah yang Ana rekomendasikan ke saya, bukan RS tempatnya melahirkan dulu.

Lho kenapa? ya karena pertimbangan Ana waktu pilih RS untuk bersalin adalah yang jaraknya paling dekat dengan rumahnya sementara saya nggak terlalu peduli masalah jarak, asal masih bisa ditempuh dalam waktu tidak lebih dari sejam dan yang penting empat kriteria yang menjadi pertimbangan utama saya itu terpenuhi.

Lalu kenapa RS yang Ana rekomendasikan ke saya RSIA Ananda bukan yang lain? Kalau ini mah alasannya karena beberapa teman Ana pernah melahirkan di Ananda dan kata mereka pelayanan di Rumah Sakit Ibu dan Anak ini oke banget. Saya jadi penasaran dong. Apalagi Ana bilang Ananda punya akun IG (tanpa menyebutkan nama akunnya). Dia menyarankan saya sebaiknya langsung mencari informasi lebih lanjut terkait pelayanan termasuk nama-nama dokter obgyn Ananda di akun instagramnya.

Segeralah saya kepo dengan mencari akun IG RSIA Ananda di pencarian dan akhirnya ketemu. Benar saja, banyak informasi terkait pelayanan kesehatan yang ada di akun tersebut.

Boleh dibilang salah satu rumah sakit swasta khusus ibu dan anak di Makassar yang ada di jalan Andi Djemma ini cukup aktif mengupdate informasi pelayanan kesehatannya di instagram. Dan tentu, informasi-informasi tersebut sangat membantu sekali terutama bagi bumil seperti saya yang pada waktu itu masih galau-galaunya mencari tempat yang tepat untuk bersalin.

Alhasil, setelah stalking akun @rsiaananda, saya langsung klik dengan RSIA ini. Padahal saya belum suvery ke sana lho, tapi hati sudah merasa yakin saja bahwa inilah tempat bersalin yang sesuai dengan kriteria idaman saya. Setidaknya, saya sudah dapat sedikit gambaran tentang RSIA tersebut dari isi di feed Instagramnya.

Selajutnya, saya tinggal cari dokter Obgyn di RSIA Ananda yang pro normal. Bukan kebetulan saat mencari info dokter yang recommended saya sempat baca komentar di postingan IG salah satu teman kuliah yang ternyata telah lebih dulu periksa kehamilan di  Ananda. Waktu itu teman saya itu memosting hasil USG 4Dnya. Trus ada temannya yang komen dan merekomendasikan nama satu dokter yang pro normal. Saya segera menandai nama dokter tersebut dan tinggal mencari waktu yang tepat untuk check up kehamilan.

Oh ya plusnya lagi RSIA Ananda punya aplikasi khusus pasien rawat jalan yang hendak registrasi atau buat janji dengan dokter. Nama aplikasinya My Ananda dan dapat didownload di play store atau app store.  

Tampilan Aplikasi My Ananda

Registrasi via aplikasi My Ananda ini praktis banget deh. Cukup dengan tiga langkah mudah, pilih tanggal berapa yang kita inginkan untuk pergi periksa, pilih juga dokter sesuai dengan tanggal yang kita pilih atau sebaliknya setelah itu akan muncul review pemesanan.

Of course, dengan adanya aplikasi ini, saya nggak perlu repot-repot datang ke RSIA Ananda dan antri hanya untuk ambil nomor. Tinggal buat janji saja di rumah.

Atas persetujuan suami saya memutuskan untuk daftar di awal Juni sebelum masuk libur lebaran 1439 H.  Waktu itu saya sudah install aplikasinya, jadi tinggal daftar doang. Eh sekalinya mau daftar ternyata saya diminta memasukkan nomor rekam medik. Berhubung saya belum pernah berobat di sana otomatis saya tidak dapat memasukkan data tersebut.

Bingunglah saya, kalau kayak gini ceritanya ya terpaksa saya harus ke RSIA Ananda terlebih dahulu. Jadi deh pas suami datang (FYI, selama tinggal di Gowa saya dan suami terpaksa LDM dan baru bisa ketemu saat weekend tiba) baru kami menyempatkan diri ke Ananda. Tak apalah, biar sekaligus juga kami bisa cek lokasi.

Dengan bantuan google maps, tak sulit menemukan lokasi RSIA Ananda. Jaraknya kurang lebih sekira 14 km atau sekira 30 menit perjalanan dari tempat tinggal sementara saya di Gowa. Sesampai di sana kami langsung menuju bagian registrasi yang ada di lantai 1.

Nah, tadinya tujuan utama saya sama suami saat datang pertama kali ke RSIA Ananda hanya untuk mendapatkan nomor rekam medik agar nantinya saya bisa melakukan registrasi sendiri via aplikasi. Tapi oleh salah satu petugasnya saat kami bertanya-tanya terkait jadwal dokter Tiwi Palma, dibilangin kayak gini, kenapa nggak sekaligus daftar saja langsung di sini?

Oh iya yah, kenapa musti daftar lewat aplikasi kalau saya sudah ada di RS dan bisa langsung melakukan pendaftaran di tempat saat itu juga. Jadi setelah mendapat nomor rekam medik saya segera daftar untuk jadwal praktik dokter Tiwi di hari Kamis yang jatuh tanggal 7 atau 14 Juni 2019, saya lupa persisnya yang pasti waktu itu menjelang lebaran idul fitri 1439. Saya pilih hari itu pun karena kata petugasnya di hari lain pasien yang daftar di dokter Tiwi sudah full.

Periksa Kehamilan Tanpa BPJS di RSIA Ananda Makassar?

Pada akhirnya saya baru bisa periksa kehamilan dan bertemu dengan dokter Tiwi di akhir bulan Juni. Registrasi sebelumnya yang saya lakukan langsung di RSIA Ananda batal karena H-1 saya dihubungi sama salah satu petugasnya, memberitahukan kalau hari Kamis itu dokter Tiwi berhalangan datang.

Eniwei, saya sempat bingung, untuk buat janji berikutnya apakah saya harus daftar ulang atau tinggal konfirmasi ke petugasnya soal pertemuan yang batal agar bisa diganti dengan hari lain. Baiklah, saya putuskan untuk daftar ulang saja via aplikasi.

FYI, pendaftaran via aplikasi My Ananda hanya berlaku untuk pasien umum. Jadi kalau mau daftar dengan BPJS nggak bisa lewat aplikasi. Waktu itu saya baru ganti faskes 1 dari Klinik perusahaan suami ke Klinik Kimia Farma Pettarani dan baru aktif tanggal 1 Juli, sehingga belum bisa digunakan makanya saya daftarnya sebagai pasien umum.

Seperti yang sudah saya singgung di atas, registrasi via aplikasi My Ananda simple banget. Cukup dengan tiga langkah. Pilih tanggal, pilih dokter, dan tunggu review pemesanan. Untuk tanggalnya saya pilih tanggal yang sesuai dengan jadwal dokter Tiwi Palma. Jadwal praktik dokter Tiwi sendiri ada dari hari Senin-Sabtu sehingga saya pilih pas weekend saja biar suami bisa menemani.


review pemesanan via aplikasi My Ananda
Nah, karena sudah daftar via aplikasi, jadi pas hari H saya tidak perlu antri lagi untuk mengambil nomor antrian. Tinggal konfirmasi ke petugasnya, nanti petugasnya akan memberitahu nomor antrian dan langsung mempersilakan kita menunggu di depan ruangan dokter yang menangani.

Kalau sudah di depan ruang dokter, kita tinggal tunggu panggilan saja. Tapi sebelum dipanggil masuk ke ruangan dokter kita bakal dipanggil dulu untuk periksa tekanan darah dan BB oleh perawat yang ada di luar.  Hasil periksanya saat itu, tekanan darah saya menunjukkan angka 120/80 dengan BB sudah mencapai 62 kg (di buku kontrol saya tertulisnya 61,9 kg tapi saya bulatkan saja ya jadi 62 kg, hehe)

Tidak lama setelah periksa tekanan darah dan timbang BB, barulah kita akan dipanggil masuk ke ruangan dokter. Tahu nggak apa kesan pertama saya saat pertama kali bertemu dengan dokter Tiwi Palma? Maa syaaa Allaah, dokternya sangat ramah dan murah senyum. Selain itu, ngasih penjelasannya juga nggak pelit-pelit banget dan terkesan buru-buru. Nggak sama dengan dokter Obgyn yang pernah saya datangi sebelumnya. Setelah USG langsung kesannya kayak diusir gitu dari ruangan, nggak diberi kesempatan buat konsultasi.

Yoweslah saya nggak bermasuk mau banding-bandingkan dokter obgyn yang sudah saya datangi semasa hamil, toh, setiap dokter punya karakter sendiri-sendiri. Ada yang terkesan jutek kayak dokter Obgyn yang saya temui sebelumnya, ada pula yang ramah banget kayak dokter Tiwi.

Thats why, ada yang namanya second opinion dalam memilih dokter yang bakal menangani persalinann kita nantinya. Kalau memang sama dokter obgyn yang satu kurang cocok, kita masih bisa cari dan pilih dokter obgyn yang lain. Tapi sebaiknya setelah masuk trimester tiga kita sudah menemukan dokter yang tepat.

Oya, saat itu saya request di-USG 4D. Pengen saja gitu lihat kondisi si Bunay di dalam perut saya dengan jelas. Terutama yang bikin saya paling penasaran adalah wajahnya, kira-kira mirip siapa ya, saya atau ayahnya? Hehe

Sayangnya, harapan saya untuk liat penampakan wajah Bunay lewat USG 4D tidak terpenuhi even saya sudah disuruh batuk berkali-kali sama dokter Tiwi agar posisinya bisa berubah. Posisi Bunay yang tampak di layar saat itu seperti menelungkup, dan wajahnya tertutupi tangan makanya nggak keliatan.


Hasil USG usia 33w6d, BB janin 2,3 kg

Agak kecewa sih but no problem, yang penting hasil periksa kehamilan saya yang saat itu telah memasuki 33 weeks 6 days (8 month) semuanya baik. Air ketuban cukup, tidak ada lilitan, plasenta tidak menutup jalan lahir, posisi janin bagus, BB janin juga bagus  begitu kurang lebih penjelasan dokter Tiwi yang benar-benar bikin saya sangat terharu.

Gimana nggak terharu coba, mengingat pemberdayaan diri saya semasa hamil minim sekali. Jarang olahraga, nggak pernah senam kehamilan, yoga pun tidak dan Bunay bisa bertumbuh dengan baik dalam rahim saya. Maa syaa Allaah, laa hawla wa laa quwwata illa billaah.

Setelah USG, saya dan suami sempat konsultasi sama dokter Tiwi mengenai masalah mata saya yang minus. Karena tahu dokter Tiwi ini pro normal, setidaknya saya sudah bisa tebak apa tanggapan beliau. Benar saja, dokter Tiwi sama sekali tidak mempermasalahkan mata saya yang minus. Beliau malah menyarankan saya untuk ikhtiar normal karena kondisi janin saya juga sangat memungkinkan untuk lahiran normal. Tapi yah, agar saya dan suami tidak ragu, beliau juga mempersilakan kami untuk periksa mata terlebih dahulu sebelum periksa kehamilan selanjutnya.  

Lagi-lagi saya terharu mendengar tanggapan  dokter Tiwi. Ditambah lagi dukungan dari suami yang juga optimis saya bisa lahiran normal. Padahal jujur saja, saat itu sebenarnya saya sudah pasrah bila divonis harus sesar namun syukurlah saya datang di dokter yang tepat.

Terkait biaya yang kami keluarkan untuk periksa kehamilan tanpa BPJS atau sebagai pasien umum rawat jalan di RSIA Ananda ini adalah sebesar Rp250.000,- tanpa obat maupun suplemen dengan rincian, administrasi Rp25.000,- buku kontrol, Rp25.000,- (ini karena saya lupa bawa buku KIA jadi saat petugasnya tawarin mau ambil buku kontrol atau nggak, saya iyain saja. Ternyata buku kontrolnya nggak free, hehe) USG Rp200.000,- (Cuma saya nggak tahu nih harga segitu untuk biaya USG biasa atau biaya USG 4D. Pasalnya waktu saya periksa, di layar memang muncul USG 4D foto namun hasil USG yang diberikan ke saya hanya foto USG biasa. Eh tapi rincian biaya periksa waktu tahun 2018. Kalau sekarang saya nggak tahu, belum pernah periksa sebagai pasien umum lagi di sana soalnya.

Periksa Kehamilan dengan BPJS di RSIA Ananda Makassar #1

Awal Juli 2018, kartu BPJS yang saya pindahkan faskes 1 nya ke Klinik Kimia Farma Pettarani via aplikasi JKN Mobile sudah aktif dan bisa digunakan. Segeralah saya mengurus surat rujukan, baik itu surat rujukan untuk periksa mata maupun cek kehamilan di faskes 1. Namun karena dokter yang saya temui saat pertama kali datang ke Klinik Kimia Farma pettarani tidak bisa memberikan dua surat rujukan sekaligus akhirnya saya memilih ambil surat rujukan ke dokter mata duluan. Pengalaman saya dalam mendapatkan surat rujukan sudah pernah saya ceritakan yah di Kamar Kenangan ini.


Jadi sesuai hasil konsul dengan dokter Tiwi, sebelum kembali bertemu beliau saya bakal bertemu dengan dokter specialis mata terlebih dahulu untuk mengetahui kondisi retina mata saya. Setelah hasil cek retina mata saya keluar saya ingin minta pandangan atau setidaknya ada rekomendasi dokter mata terkait persalinan saya nanti, apakah memungkinkan untuk normal atau tidak dengan kondisi retina mata saya yang seperti itu?

Lha, kenapa yang dicek retina mata bukan cek minus? Bukankah mata minus tinggi itu yang berbahaya bagi ibu hamil yang menginginkan persalinan secara pervaginam?

Untuk tahu jawabannya silakan baca juga Pengalaman Cek Retina Mata dengan BPJS di RS Awal Bross

Sayangnya, dokter mata yang memeriksa retina saya saat itu tidak memberikan kesimpulan apa-apa. Merekomendasikan pun tidak. Beliau hanya menyampaikan hasil pemeriksaannya dan menuliskan di secarik kertas. Kata beliau, sudah terjadi penipisan selaput retina baik di mata kiri maupun kanan saya tanpa berkomentar lebih lanjut terkait hubungannya dengan persalinan saya nanti. Saya dan suami jadi bingung, dong. Pada akhirnya, keputusan kembali ke kami.

Suami tetap optimis saya bisa lahiran normal, sementara saya sungguh masih ragu. Masalahnya kata dokter selaput retina kedua mata saya sudah mengalami penipisan dan setahu saya bukan mata minus melainkan selaput retina tipis inilah yang berisiko bisa sobek atau pecah saat proses mengejan berlangsung. Ah, saya benar-benar galau.

But alhamdulillaah kegalauan saya hilang seketika setelah bertemu kedua kali dengan dokter Tiwi. Tahu nggak apa keputusan dokter Tiwi saya saya dan suami bahkan belum memberitahukan hasil yang kami terima dari periksa di dokter specialis mata?

Yup, dokter Tiwi fix mengambil keputusan akan menangani persalinan saya secara normal. Bahkan sebenarnya sekalipun saya tidak cek kondisi mata, itu tidak masalah bagi dokter Tiwi. Beliau kemudian langsung menuliskan surat pengantar. Jadi kalau saya sudah merasakan tanda-tanda melahirkan seperti konstraksi yang hebat bisa segera ke RS dan menyerahkan surat tersebut pada perawat yang bertugas di IGD.

Keputusan dokter Tiwi itu benar-benar bikin saya pengen mewek deh. Pasalnya saya sudah pasrah saja bila harus SC karena kondisi mata saya yang tidak memungkinkan untuk persalinan normal. Eh tapi nyatanya dokter Tiwi memang sama sekali nggak peduli dengan apapun hasil periksa mata saya. Bahkan sekalipun saya nggak periksa mata juga nggak papa.

Kenapa? Karena kondisi kehamilan saya baik-baik saja. Janin saya di dalam pun bertumbuh dengan sangat baik. Tidak ada indikasi saya harus sesar. Masalahnya cuma di saya doang, hanya karena kondisi mata saya yang berisiko. Namun dengan kondisi mata tersebut bukan berarti saya nggak bisa lahiran normal. Ok, kalau dokter Tiwi dan suami saya saja yakin saya bisa lahiran normal, kenapa saya nggak? Bismilaaah.

Hasil USG 36w4d, BB janin2,9 kg
FYI, waktu periksa kehamilan kedua di dokter Tiwi ini kehamilan saya sudah memasuki usia 36 weeks 4 days (9 month). BB saya saat itu sudah mencapai 64 kg sementara hasil periksa tekanan darah menunjukkan angka 100/80.

Nah, karena sudah memasuki bulan lahiran jadi saya kira periksa selanjutnya bakal sekali sepekan, ternyata nggak ding! Saya disuruh datang kembali untuk periksa dua pekan ke depan bila dalam rentang waktu itu saya belum juga melahirkan. Namun kata dokter Tiwi HPL saya bisa saja maju, akhir bulan Juli atau Awal Agustus. Jadi jika tanda-tanda melahirkan sudah muncul, apagi kalau air ketuban rembes maupun pergerakan janin berkurang saya diharuskan segera langsung ke IGD dan menunjukkan surat pengantar dari beliau.

Oya, karena periksa kehamilan kali ini saya menggunakan BPJS jadi sebelum keluar dari ruangan, dokter Tiwi juga sempat mengingatkan kalau saya harus mengurus surat rujukan baru dari faskes 1 bila ingin kembali berobat dengan BPJS.


Periksa Kehamilan dengan BPJS di RSIA Ananda Makassar #2

Jadwal Praktik Poliklinik BPJS
(gambar : @rsiananda)

Pada dasarnya periksa kehamilan baik tanpa dan dengan BPJS sama saja ya, bedanya cuma di proses pendaftaran dan jadwal praktik. Khusus untuk yang daftar sebagai pasien rawat jalan bisa dilakukan lewat aplikasi dan bebas pilih tanggal, sementara pendaftaran dengan BPJS hanya bisa dilakukan di tempat dan hari itu juga.

Selain itu setiap dokter obgyn di RSIA Ananda hanya punya jadwal praktik satu hari untuk melayani pasien yang daftar dengan BPJS. Jadwal praktik dokter Tiwi sendiri untuk paisen BPJS etiap hari Kamis meskipun di hari itu dia juga melayani pasien umum. Etapi itu jadwal tahun lalu ya, nggak tahu yang sekarang. Mungkin saja ada perubahan jadwal, soalnya selama hamil kedua ini saya belum sempat periksa lagi ke beliau di Ananda. Waktu pendaftaran untuk pasien BPJS juga terbatas, hanya dari pukul 7-12 siang dan tentunya ada syarat dan ketentuan berlaku yang harus dipenuhi. Makanya khusus peserta BPJS daftarnya hanya bisa dilakukan langsung di tempat, tidak bisa lewat aplikasi.


Surat Rujukan saat Konsul di dokter Tiwi

Eniwei
, selama dua kali periksa kehamilan dengan BPJS di RSIA Ananda saya sama sekali tidak mengalami kesulitan cuma memang sempat ada sedikit masalah saat saya hendak kembali minta surat rujukan untuk periksa kehamilan yang kedua ini. Pasalnya surat rujukan yang saya urus sebelumnya sudah dicentang Konsultasi selesai oleh dokter Tiwi, padahal semestinya yang beliau centang menurut mbak petugas BPJS di Klinik Kimia Farma adalah Kontrol Kembali ke RS tanggal. Kenapa? Karena surat rujukan tersebut berlaku selama sebulan sedangkan saat saya hendak kembali kontrol kembali hanya berselang dua pekan dengan kontrol yang pertama.


Akhirnya saya kembali dengan membawa surat rujukan yang sama dengan surat rujukan sebelumnya yang syukurnya tidak dikomentari oleh pihak RSIA Ananda. Saya sudah singgung soal ini juga di postingan terkait Pengalaman Mengurus Surat Rujukan di Faskes 1. Nah, itu pengalaman saya waktu masih mendapat rujukan offline, kalau sekarang saya kurang tahu karena sudah ada rujukan online dengan masa berlaku 3 bulan.


Hasil USG 38w4d, BB Janin 3,2 kg

Alhamdulillaah, hasil periksa kehamilan saya yang sudah memasuki 38 weeks 4 days ini, sama seperti pemeriksaan sebelumnya. Semua baik. Dede bayi di dalam juga sudah siap untuk dilahirkan. Tinggal tunggu waktu. BB saya juga sudah mencapai 66 kg dengan tekanan darah normal 110/60.

Oya hampir lupa, selama periksa di dokter Tiwi ini, keluhan saya cuma satu. Kaki bengkak. Keluhan yang satu ini wajar dialami bumil, cuma memang efeknya juga bisa berbahaya tapi menurut dokter Tiwi tidak perlu khawatir karna tekanan darah saya normal.

Periksa kehamilan kali ini juga sekaligus menjadi periksa kehamilan yang terakhir untuk anak pertama saya karena keesokkan harinya saya sudah mengalami tanda-tanda melahirkan dan akhirnya bisa melahirkan normal di usia kehamilan 38w6d.

Baca juga Beginikah Rasanya Hamil Trimester Tiga

Perbedaan Periksa Kehamilan Tanpa dan Dengan BPJS di RSIA Ananda Makassar.

Berdasarkan pengalaman periksa kehamilan tanpa dan dengan BPJS di RSIA Ananda Makassar, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa perbedaannya hanya terletak pada proses registrasi dan jadwal praktik. Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, untuk pasien rawat jalan bisa mendaftar lewat aplikasi dan booking tanggal jauh-jauh hari. Sementara pasien rawat jalan yang daftar dengan rawat jalan hanya bisa melakukan pendaftaran langsung di RSIA Ananda sesuai dengan jadwal dokter yang diinginkan. Waktu pendaftarannya juga terbatas, hanya sampai pukul 12.00 WITA.

Pelayanan RSIA Ananada untuk pasien BPJS

Meskipun terdapat perbedaan pada proses registrasi maupun jadwal praktik, akan tetapi pelayanannya yang saya rasakan sama saja ya. Tidak ada perbedaan pelayanan baik saat saya mendaftar tanpa maupun dengan BPJS. Hal ini sesuai dengan yang diiformasikan RSIA Ananda lewat akun instagramnya. Intinya saya puas dengan pelayanan Ananda, termasuk pelayanan yang saya dapatkan saat melahirkan. Rencananya, untuk persalinan kedua saya akhir tahun ini, saya pengen juga tetap di RSIA Ananda dan ditangani oleh dokter Tiwi Palma. Semoga saja dilancarkan. Mohon doanya :)

Salam,

@siskadwyta

You May Also Like

4 comments

  1. Wow, panjang ya.. Heheh.
    Sekarang udah brojol belum nih, Siska?

    Ngomongin soal BPJS, terbantu banget yaa kita dengan fasilitas tersebut. Mudah juga kalau minta rujukan ke rumah sakit yang kota inginkan.

    ReplyDelete
  2. Wah, keren ya kalau instansi kesehatan aktif di medsos dan sampai ada aplikasinya. Semoga bisa diikuti oleh instansi kesehatan lainnya yang dinaungi pemerintah.

    ReplyDelete
  3. Detailnya eksplorasinya Siska. Alhamdulillah ya kalau sudh nyaman.
    Alfu juga melahirkan di RS ini dulu.

    ReplyDelete
  4. Wuih sudah menuju ke anak kedua. Barakallah semoga ibu dan janinnya sehat dan lahirannya lancar. Betewe, memilih rumah bersalin memang sangat penting karena ini berkaitan dari rasa nyaman dan kepercayaan. Syukurmi Siska sudah dapat rumah sakit bersalin yang cocok.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.