Catatan Seputar Periksa Kehamilan (Anak Pertama) di Trimester Tiga

By Siska Dwyta - Friday, March 29, 2019

gambar : honestdocs.id
    Bismillaahirrahmaanirrahim

Hallo haa, di catatan kali ini saya bakal sharing seputar pengalaman periksa kehamilan di trimester tiga. Dibanding dua trimester sebelumnya, pemeriksaan yang saya jalani selama trimester tiga lumayan rempong karena saya memutuskan untuk melahirkan di Makassar. Ya, gimana nggak rempong coba, karena ngotot pengen lahiran di Makassar saya terpaksa harus LDM dengan suami. Padahal di trimester akhir ini saya butuh banget kehangatan kehadiran suami entah sekadar untuk menemani saya JJP atau pijitin badan saya yang pegel-pegel tiap bangun pagi😅


Apa boleh buat, pekerjaan suami di Barru nggak bisa ditinggalkan. Sebagai istri, saya juga nggak tega banget liat suami harus PP Gowa-Barru tiap hari. Sudah seharian kerja, masih harus melakukan perjalanan jauh berjam-jam lagi. Capeknya itu lho. Makanya saya yang harus ngalah.

Lagian, siapa juga yang nyuruh lahiran jauh banget, kenapa nggak dekat-dekat aja dari tempat kerja suami?

Oh iya ding. Saya memutuskan ingin melahirkan di Kota Daeng bukan tanpa alasan.

Alasan pertama karena mama. Siapa sih yang nggak mau melahirkan ditemani mamanya? Apalagi kelahiran anak pertama. Kehadiran mama tentu akan sangat berarti. Nah, mama saya sudah bersedia mau datang jauh-jauh dari Papua untuk menemani proses bersalin putri keduanya ini, asalkan saya melahirkan di daerah sekitar Makassar atau Gowa. Kenapa harus begitu?

Karena kakaknya mama alias om saya waktu itu lagi sakit keras. Dirawatnya di daerah Gowa-Makassar. Jadi, beliau memang  sudah berencana ambil cuti dari kantornya untuk dua alasan penting. Selain ingin menemani putrinya yang akan melahirkan juga menjenguk saudaranya yang sakit parah. Makanya Beliau nggak bisa menemani kalau saya melahirkan di Barru atau Pare-pare.



Alasan lainnya sebenarnya lebih ke masalah hati saja sih. Kalau mengikuti kata hati, saya memang pengennya melahirkan Bunay di Makassar. Selain karena alasan itu, sebenarnya sudah ada tempat bersalin yang recomended banget dan saya incar di Makassar.

Well, bila merujuk pada buku KIA, minimal bumil disarankan periksa kehamilan sebanyak 2 kali pada usia kandungan 7-9 bulan sedangkan periksa kehamilan saya sepanjang trimester tiga kemarin sampai 4 kali. Semangat banget yah sayanya, hihi.

Yuk, ah cuss langsung saja kita ulas satu per satu hal-hal yang berkaitan dengan periksa kehamilan saya di trimester tiga;



#Gagal Periksa Kehamilan di Puskesmas Samata

Sesuai jadwal yang tertulis pada kolom "Kapan Harus Kembali" di buku KIA, seharusnya tanggal 6 Juni 2018 saya periksa kehamilan di Puskesmas Barru. Seharusnya sih, tapi karena sejak awal trimester tiga saya hijrah ke Gowa, tepatnya di daerah Samata, otomatis tempat periksa kehamilan saya pun berpindah.

Tadinya saya pengen periksa kehamilan tepat di tanggal 6 Juni itu di Puskesmas Samata yang jaraknya lumayan dekat dari tempat tinggal di Gowa. Sekaligus periksanya bareng kakak saya yang baru-baru dapet hasil test pack positif. Sayangnya sesampai di sana kami tidak dilayani karena kartu BPJS kami bermasalah.

Masalahnya, lokasi faskes 1 saya masih di Klinik tempat suami bekerja. Untuk bisa dilayani, saya harus pindah faskes 1 dulu ke Puskesmas tersebut. Kalau kak Vhie, faskes 1-nya memang di Puskesmas Samata cuma masalahnya BPJS dia nunggak. Harus dibayar tunggakannya dulu baru dilayani. Ok fix. Dengan PD-nya kami minta jalur umum. Nggak papa deh bayar yang penting bisa dilayani. Eh, petugasnya malah menolak mentah-mentah. Karena sudah punya kartu BPJS, kami tidak bisa dilayani lewat jalur umum, begitu aturannya.

Hmm, padahal waktu di Puskesmas Barru saya bisa periksa lewat jalur umum kok. Mungkin aturan baru kali ya, atau karena peraturannya ketat banget di Puskesmas Samata. Whateverlah.




#Periksa Kehamilan di Bidan Praktik Mandiri (BPM) Rosita

No probem, gagal periksa kehamilan di Puskesmas, masih banyak alternatif lain kok. Salah satunya periksa kehamilan di bidan yang membuka praktik mandiri. Sebelumnya saya belum ada pengalaman sama sekali periksa kehamilan di bidan praktik. Jadi tanggal 7 juni 2018 lalu adalah pertama kalinya saya periksa kehamilan di bidan praktik mandiri (BPM), tepatnya di BPM Rosita wich is bidan yang pernah membantu proses persalinan pertama kakak saya. Hanya saja, yang melayani kami waktu itu bukan bidan Rosita melainkan anaknya yang juga merupakan bidan.

Sekilas periksa kehamilan di bidan praktik mirip dengan periksa kehamilan di bidan puskesmas. Tapi memang lebih enakan periksa kehamilan di bidan praktik deh ketimbang bidan puskesmas. Setidaknya di BPM Rosita saya tidak perlu antri dan berhadapan dengan banyaknya mahasiswi kebidanan yang sementara PPL. Plusnya lagi saat diperiksa denyut jantung janin (djj) saya juga bisa ikut mendengarnya😍

Yup, doppler yang digunakan di BPM Rosita lebih canggih daripada 4 yang digunakan bidan di Puskesmas Barru. Selain pasien bisa ikut mendengar denyut jantung janin, bidannya juga bisa menghitung djj. Hasil djj bunay waktu itu 135 kali per detik. Kalau doppler yang digunakan bidan di Puskesmas Barru malah sebaliknya. Sudah saya singgung juga soal ini di trimester kedua.

Baca juga Beginikah Rasanya Hamil Trimester Dua
Oh ya, waktu datang periksa kehamilan di BPM Rosita usia kandungan saya sudah menginjak 30 weeks dengan BB mencapai 59 kg. Untuk biaya periksa di bidan praktik, menurut saya lumayan mahal sih. Karena untuk periksa djj dan suntik TT2 saja saya harus mengeluarkan 100k. Itu tanpa suplemen lho.

Sedangkan waktu saya periksa jalur umum (tidak pake BPJS) di Puskesmas, untuk pemeriksaan djj, suntik TT1 plus suplemen biayanya nggak sampai 50k (namanya juga periksa di Bidan praktik ya jelas biayanya lebih mahal dibanding periksa di bidan Puskesmas😅) Saya sengaja tidak minta diresepkan suplemen karena sudah konsumsi suplemen sendiri.

Kak Vhie juga membayar dengan biaya yang sama, bedanya dia nggak suntik TT dan cuma diresepkan suplemen. Tapi soal pelayanannya oke banget deh. Bidannya ramah dan banyak ngasih masukan. Katanya kandungan saya sudah di bawah banget jadi beliau sarankan agar saya banyak istirahat dan sebaiknya tidak sering-sering melakukan perjalanan jauh.

Dia juga menyarankan agar saya maupun kakak tidak memaksakan diri untuk berpuasa (waktu itu memang masih bulan Ramadhan) demi kesehatan si janin. Cuma kayaknya ada satu masukannya ke saya yang keliru deh. Yakni saat kak Vhie (mewakili saya) mengajukan pertanyaan, bisa nggak mata minus melahirkan normal?

Bisa kok. Mata minus bisa melahirkan normal. Nanti merem saja pas mengedan. Begitu kira-kira jawabannya yang menarik perhatian saya. Demi jawaban itu juga sampai terlintas keinginan untuk melahirkan di situ saja. Yap, barangkali mimpi saya agar dapat melahirkan secara pervaginam bakal terwujud bila saya melahirkan di BPM Rosita.

Untungnya, sebelum memutuskan melahirkan di BPM Rosita, saya menemukan fakta bahwa justru dengan merem saat melahirkan akan menyebabkan gangguan pada mata, yakni pembuluh darah di mata bisa pecah dan menyebabkan mata memerah. Meski merahnya akan hilang dalam beberapa hari tapi ya siapa juga yang mau pembuluh darah di matanya pecah. Jadi, setelah mengetahui fakta tersebut saya langsung urung melahirkan di BPM tersebut, mending melahirkan di rumah sakit saja, lebih aman.

#Periksa Kehamilan di RSIA Ananda Makassar

Baiklah, tidak menjadi masalah bila di trimester pertama dan kedua saya sudah sering gonta-ganti tempat untuk periksa kehamilan. Namun di trimester tiga ini tentunya saya sudah harus menetapkan pilihan. Artinya yah saya musti periksa kehamilan di tempat dimana saya berencana akan melalui proses persalinan. Akhirnya saya memutuskan periksa kehamilan selanjutnya di RSIA Ananda. Di rumah sakit ibu dan anak yang terletak di jalan Andi Djemma no. 63 inilah saya hendak berencana melahirkan.

Sebenarnya saat berniat ingin melahirkan di Makassar, saya masih bingung mau melahirkan di mana. Secara Makassar kan kota besar, ada banyak sekali rumah sakit yang bisa jadi pilihan untuk tempat bersalin. Syukurnya ada Ana, ukhtii sekaligus teman saya semasa kuliah ini memang paling berjasa banget deh. Mulai dari menjalani proses ta'aruf, menikah, hamil sampai saya melahirkan pun tidak lepas dari perannya. Walau perannya hanya sekadar memberi saran, masukan atau sharing tentang pengalamannya yang lebih dulu berkeluarga tapi itu sangat bermakna buat saya. Sekilas tentang Ana sudah pernah saya singgung di Kamar Kenangan ini.



Silakan baca Mendamba Anak dan Jodoh? Jangan Lupa Ikhtiar, Yuk!


Nah, saya tahu RSIA Ananda juga dari Ana. Dia yang kasih rekomendasi karena ada beberapa temannya yang melahirkan di Ananda dan menurut teman-temannya itu pelayanan di RS ini terbilang bagus. Yah, meski Ana sendiri waktu melahirkan tidak di Ananda karena dia dan suaminya lebih memilih tempat bersalin yang jaraknya paling dekat dengan rumahnya.

Etapi yang bikin saya tertarik dan tanpa pikir panjang ingin periksa dan melahirkan di RSIA Ananda bukan semata-mata karena rekomendasi dari Ana. Pertimbangan saya lebih karena kriteria RS bersalin yang saya cari semua ada di Ananda. Pro IMD, pro ASI, pro Room In, dokternya ada yang pro normal pula. Komplit deh. So, kalau sudah ketemu dengan RS yang klik dengan kriteria yang saya mau ngapain lagi pusing-pusing wisata RS. Lagipula semakin banyak pilihan semakin membingungkan, kan?

Makanya sekalinya tahu Ananda sesuai dengan kriteria RS bersalin yang saya incar sekalipun jaraknya lumayan jauh juga dari rumah, saya langsung fix dan tidak berminat cari second opinion. Itupun tahunya cuma lewat IG lho. Jadi Ananda sendiri punya akun IG yang terbilang cukup aktif mengupdate informasi terkait pelayanannya. Selain itu RSIA ini juga telah meluncurkan aplikasi yang bernama My Ananda Hospital. Lewat aplikasinya, kita bisa mendaftarkan diri sebagai pasien rawat jalan. Tapi pendaftaran lewat aplikasi My Ananada Hospital hanya dikhususkan untuk pasien umum ya jadi tidak berlaku untuk pendaftaran peserta BPJS.

Saya sendiri pernah sekali mendaftar sebagai pasien umum lewat aplikasi  ini sementara dua pendaftaran lainnya dengan BPJS, dimana untuk pendaftaran peserta BPJS dilakukan langsung di Ananda dengan syarat-syarat tertentu. Nah, pengalaman periksa kehamilan di RSIA Ananda baik lewat jalur umum maupun dengan BPJS bakal saya ulas di postingan tersendiri ya. (In syaa Allaah)

Jadi periksa kehamilan saya di Ananda pada trimester tiga ini sebanyak tiga kali. Pertama lewat jalur umum saat usia kandungan saya masih menginjak bulan ke delapan. Sementara periksa kehamilan yang kedua dan ketiga dengan BPJS saat usia kandungan saya sudah menginjak sembilan bulan. Ketiganya diperiksa oleh dokter yang sama, yakni dokter Tiwi Palma.

Yap, selain menetapkan akan melahirkan di RSIA Ananda, saya juga berusaha ingin ditangani oleh dokter yang pro normal. Nah, dokter TIwi Palma ini termasuk dokter di Ananda yang pro normal. Kenapa saya tahu? Ya, sebelumnya saya cari informasi dulu dong. Pemilihan dokter Obgyn yang bakal menangani persalinan kita itu juga penting banget lho. Apalagi bagi kamu yang penderita miopi (mata minus) seperti saya. Yah, meski mata minus tidak termasuk dalam indikasi medis yang mengharuskan persalinan secara sectio namun banyak dokter yang  tidak menganjurkan bumil dengan kondisi mata tersebut untuk melahirkan secara pervaginam.

Syukurnya dokter Tiwi tidak demikian. Justru Beliau yang optimis dan meyakinkan saya bahwa mata minus bisa melahirkan normal. Padahal waktu konsul itu saya sudah nyaris pasrah saja. Bahkan tadinya niat saya datang ketemu beliau untuk konsul terkait tanggal operasi eh tahu-tahu dokter Tiwi malah nyuruh saya dan suami untuk ikhtiar normal, jangan langsung ambil keputusan buat sesar.

Apalagi kondisi janin saya sama sekali tidak bermasalah. Tidak ada lilitan, air ketuban cukup, plasenta tidak menutupi jalan lahir,  berat janin tidak berlebihan, posisinya juga sudah bagus. Ya, pokoknya semua baik-baik saja. Kalaupun ada masalah ya masalahnya tinggal di saya, di mata saya yang minus ini.

Jujur saja, tiga kali periksa di dokter Tiwi, tiga kali pula perasaan saya dihantam haru bahkan rasanya pengen mewek saat itu juga. Bagaimana tidak? Pemberdayaan diri saya minim banget. Selama hamil saya hampir tidak pernah olahraga. Boro-boro yah mau ikut yoga, senam kehamilan saja nggak, apalagi ngempel jongkok. Satu-satunya olahraga yang saya lakukan adalah jalan pagi. Itu pun baru rutin saya lakukan di pekan ke 36 setelah dapat kepastian dari dokter Tiwi bahwa persalinan saya bakal dilakukan secara pervaginan.

Kebayang nggak, dengan pemberdayaan seminim itu kira-kira bagaimana persalinan yang bakal saya hadapi? Apakah berjalan lancar atau terhalang hingga harus diinduksi? Atau apakah kondisi mata saya benar-benar berisiko hingga akhirnya saya harus melahirkan di meja operasi ataukah jika memang saya bisa melahirkan secara pervaginam, bagaimana kondisi mata saya setelahnya. Ah, saya juga sudah tidak sabar pengen segera menceritakan pengalaman melahirkan anak pertama saya awal Agustus 2018 lalu.

FYI, sekarang usia si Kecil menjelang sembilan bulan dan Bundanya masih belum kelar menulis pengalaman saat melahirkan dia, huhu. Ya, semoga saja dalam waktu dekat ini postingannya bisa segera saya publish di Kamar Kenangan ini. Btw buat kamu yang ingin membaca pengalaman saya seputar kehamilan anak pertama bisa intip di label pregnancy atau beginikah rasanya hamil. Terima kasih.

Salam,
@siskadwyta

  • Share:

You Might Also Like

1 comments

  1. Aku juga pas mau lahiran anak pertama kemarin diwanti-wanti periksa mata dulu karena minus tinggi. Tapi kemudian nanya beberapa teman katanya bisa aja normal asal matanya jangan merem

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)