Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Memperingati Hari Pancasila, Yuk Belajar Toleransi Beragama dari Masyarakat Kepulauan Yapen

Masih dalam momen memperingati Hari Pancasila, yuk belajar toleransi beragama dari masyarakat Kepulauan Yapen sebagai wujud pengamalan kita terhadap sila pertama Pancasila.

Memperingati Hari Pancasila, Yuk Belajar Toleransi Beragama dari Masyarakat  Kepulauan Yapen
Source : FB Ashari Isa

Apa yang terlintas di benak kamu ketika melihat gambar di atas? Pemandangan yang  menakjubkan, bukan? dimana umat muslim terlihat sedang melakukan shalat hari raya di lapangan yang berhadapan langsung dengan gereja.

Gambar di atas merupakan pelaksanaan shalat hari raya Idul fitri beberapa tahun lalu di kampung kelahiran saya, yakni di Serui, Kepulauan Yapen.

Buat yang belum tahu, Kepulauan Yapen merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Papua. 

Saya lahir dan besar di sana. Setidaknya saya telah melewati 20 tahun hidup di tanah Papua.

Nah, kalau mendengar kata Papua, mungkin yang terlintas di benak kamu, Papua itu wilayah yang rawan konflik agama, di Papua itu toleransi beragamanya rendah, benarkah demikian?

Oh, tidak. Saya kurang tahu kalau daerah lain, tapi khusus di tanah kelahiran saya, Kepulauan Yapen boleh dibilang termasuk wilayah dengan toleransi beragama yang cukup tinggi.

Buktinya, selama 20 tahun tinggal di sana saya tidak pernah menyaksikan adanya konflik antar umat beragama. Sebaliknya, justru di sana umat kristen dan umat muslim hidup berdampingan dengan damai dan rukun.

Belajar Toleransi Beragama dari Masyarakat Kepulauan Yapen

Kalau mau ditelusuri, kehidupan masyarakat di Papua sebenarnya sangat toleran lho. Pasalnya masyarakat Papua sendiri sudah terbiasa hidup berdampingan dengan siapa pun.

Coba saja jalan-jalan ke Papua? Kamu akan menemukan banyak pendatang di sana. Mulai dari Aceh, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku. 

Makanya saya merasa hidup saya lebih berwarna ketika masih tinggal di Papua karena dikelilingi dengan orang-orang dari berbagai suku di Indonesia. 

Teman-teman saya di Serui, selain muslim, kebanyakan beragama Nasrani, ada yang Protestan, ada yang Katolik, yang Hindu pun ada. 

Nah, ketika pindah ke Sulawesi Selatan saya kehilangan banyak warna karena teman-teman saya di sini ya rata-rata dari suku Makassar dan Bugis saja. Itu pun semua beragama Islam. 

Itu sebabnya kalau mau belajar toleransi, tidak ada salahnya untuk berkaca pada masyarakat Papua. 

Walau Papua terkenal sebagai daerah yang rawan konflik, namun dibalik itu ada masyarakat yang hidup dengan damai dan rukun.

Memang sesekali ada gesekan antar suku maupun umat beragama namun hal itu tidak lantas bisa dijadikan kesimpulan bahwa Papua merupakan provinsi yang kurang toleransi. Terlebih bila kamu sendiri belum pernah menginjakkan kaki di Bumi Cendrawasih.

Karena kenyataannya itu tadi, selain memiliki tradisi yang unik, selama berpuluh bahkan ratusan tahun, masyarakat Papua sudah hidup berdampingan dengan masyarakat dari berbagai suku dan agama. 

Kita ambil contoh saja seperti di Kabupaten Kepulauan Yapen. Kabupaten yang satu ini memang terkenal sangat menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama.

Terlihat dari berbagai acara atau kegiatan keagamaan, dimana masyarakat baik umat nasrani maupun muslim saling mendukung dalam hal yang positif.

Seperti yang terjadi pada perayaan Idul fitri tahun lalu yang bertepatan dengan Hari Kenaikan Isa Al-Masih. 

Pelaksanaan shalat Idul fitri di Kota Serui sendiri biasa dilaksanakan di Lapangan Trikora yang berhadapan langsung dengan gereja.

Jika umat nasrani yang notabene merupakan mayoritas tidak toleransi sudah pasti mereka akan meminta umat muslim mencari lapangan atau tempat lain untuk melaksanakan shalat Idul fitri

Nyatanya tidak. Justru mereka memilih memberikan ruang dan tempat, serta mempersilahkan umat muslim untuk menjalani keyakinannya.

Dilansir dari kabardamai.id  , Pendeta Gereja GKI Imanuel Aser Haipon ketika diwawancarai saat itu menuturkan bahwa menjelang shalat yang biasanya jam 06.00 sampai 06.30 WIT kami membunyikan lonceng gereja, (tapi) karena umat muslim sedang beribadah, maka itu kami lakukan di jam setelah shalat Ied. Ini merupakan bentuk saling menghargai, terlebih di saat-saat bersamaan pada perayaan keagamaan yang berbeda, dan juga ibadah kami gelar pukul 09.00 pagi.

Sikap toleransi tersebut kemudian ditanggapi oleh Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kepulauan Yapen, Haji Adhan Arman yang mengapresiasi sekaligus menyampaikan terima kasih karena umat muslim diberikan kesempatan untuk mengumandangkan takbir dan beribadah lebih dulu.

Sangat harmonis, bukan? Tentu, bentuk toleransi antar beragama di kabupaten ini tidak hanya berlangsung saat ada perayaan hari raya saja, melainkan juga ketika ada pembangunan keagamaan.

Hal tersebut disampaikan sendiri oleh Bapak Bupati Kepulauan Yapen, Tonny Tesar bahwa pemerintah di Kepulauan Yapen secara serius mendukung pembangunan keagamaan dengan tidak memihak satu agama saja.

“Seluruh tempat ibadat di Yapen diberikan bantuan untuk pembangunan dan kegiatan lainnya. Bukan karena mayoritas Yapen adalah nasrani, bukan berarti kami tidak melihat agama lain. Semua agama dirangkul. Ini dapat dibuktikan sampai saat ini Yapen selalu damai dalam toleransi.

Jika dikaitkan dengan peringatan Hari Pancasila yang jatuh pada tanggal 1 Juni kemarin maka sikap masyarakat Kepulauan Yapen yang selama ini menjunjung tinggi solidaritas dan toleransi beragama tersebut mencerminkan sila pertama.

Hari Lahir Pancasila, Memaknai Sila Pertama 

Berhubung masih dalam suasana memperingati Hari Pancasila yuk kita flashback dulu dengan mengingat-ingat kembali materi terkait Pancasila yang kita dapatkan saat di bangku sekolah.

Apa bunyi sila pertama Pancasila? Apa nilai dan makna yang terkandung di dalam sila ini? Apa saja butir-butir sila pertama? Hayoo, masih pada ingat tidak?

Keterlaluan sih kalau kamu sampai lupa sila pertama Pancasila. Apa? Yup, benar sekali. Ketuhanan Yang Maha Esa.

Well, sila ini mengandung banyak amal yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari lho. Namun untuk lebih mudah menerapkannya kita harus pahami dulu apa nilai dan makna yang terkandung di dalam sila pertama Pancasila.

Sesuai dengan bunyinya, nilai yang terkandung dalam sila pertama Pancasila adalah nilai Ketuhanan. Hal ini bisa kita maknai sebagai nilai kepercayaan dan ketakwaan.

Mengutip dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), sila pertama Pancasila mengandung makna bahwa Bangsa Indonesia mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa.

Selanjutnya kita juga perlu tahu butir-butir yang terkandung dalam sila pertama Pancasila. Ada tujuh butir nilai yang terkandung dalam sila pertama Pancasila, yaitu :

  1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaan dan ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Manusia Indonesia percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Mengembangkan sikap saling menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  4. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  5. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
  6. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
  7. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Nah, berangkat dari nilai, makna dan butir-butir tersebut maka sila pertama khususnya untuk pemberdayaan masyarakat dapat kita terapkan dengan berbagai cara berikut :

  • Tidak memaksa orang lain untuk memeluk agama yang kita anut.  Karena setiap orang berhak untuk memilih kepercayaannya masih-masing.
  • Menjaga toleransi antar masyarakat yang berbeda agama. Seperti yang disinggung di atas, kita bisa belajar toleransi antar umat beragama dari masyarakat Papua khususnya di Kepulauan Yapen.
  • Saling menolong dan berbuat baik kepada tetangga maupun orang lain yang membutuhkan tanpa memandang agama. Dalam artian meski tetangga atau orang tersebut berbeda keyakinan, kita tetap harus bisa berbuat baik bahkan membantu mereka yang tengah mengalami kesulitan.
  • Hidup rukun dan damai bersama masyarakat meskipun berbeda keyakinan.

Hidup beragama di Papua Semakin Harmonis karena Internet Menyatukan Indonesia 

Seperti yang kita ketahui bersama, umat muslim di Papua termasuk di Kepulauan Yapen merupakan minoritas. Namun berdasarkan pengalaman hidup di Papua, alhamdulillah kami umat muslim yang ada di sana dapat menjalani ibadah dengan tenang. 

Berbagai kegiatan keagamaan pun dapat kami laksanakan dengan lancar seperti peringatan hari-hari besar, pelaksanaan MTQ, tabligh akbar, donasi Alqur'an dan lain sebagainya. 

Kegiatan keagamaan di Papua
Source : dokpri
Nah, selain masyarakat Papua yang memiliki toleransi tinggi, lancarnya kegiatan keagamaan di Kepulauan Yapen tentunya tidak terlepas dari peran IndiHome yang merupakan bagian dari Telkom Group.

Kita tahu bersama bahwa internet sudah menjadi kebutuhan semua masyarakat, tidak terkecuali masyarakat Kepulauan Yapen. Terutama di masa pandemi dimana hampir semua aktivitas offline menjadi terbatas

Namun pandemi tidak lantas menjadi penghalang. Semua kegiatan keagamaan di Serui alhamdulillah bisa tetap berjalan lancar karena adanya jaringan internet yang stabil dari IndiHome.

Maka bukan merupakan ungkapan yang berlebihan jika dikatakan Internet menyatukan Indonesia

Setidaknya berkat Internet menyatukan Indonesia, orang-orang di luar sana bisa mengenal bahwa Papua tidak seseram yang dibayangkan. 

Bahwa di Papua masih banyak daerah-daerah seperti salah satunya di Kepulauan Yapen yang umat nasrani dan umat muslimnya hidup berdampingan dengan rukun dan damai.

Ya, bukan hanya Pancasila yang menyatukan Indonesia, Internet menyatukan Indonesia juga sehingga membuat kehidupan beragama di Papua semakin harmonis.

Demikian sedikit cerita saya terkait sikap toleransi yang dimiliki masyarakat Papua di tanah kelahiran saya, Kepulauan Yapen.

Semoga kita bisa belajar hidup toleransi beragama dari mereka ya. Karena pastinya hidup ini akan lebih indah dan damai kalau kita semua bisa menghargai satu sama lain. Ingat, walau berbeda-beda Indonesia tetap satu.

Salam Pancasila. Salam Bhineka Tunggal Ika.

Referensi :

  • https://kabardamai.id/menilik-potret-toleransi-di-yapen-papua-barat/
  • https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/skola/read/2021/02/10/134934569/contoh-penerapan-sila-pertama-pancasila


125 komentar untuk "Memperingati Hari Pancasila, Yuk Belajar Toleransi Beragama dari Masyarakat Kepulauan Yapen"

  1. Aku baru denger kepulauan Yapen. Bacanya ikutan adem dan seneng saat toleransi dan pemaknaan pancasila ini diterapkan dengan baik di sana. Perbedaan bikin kita saling melengkapi. Semoga selalu terjaga kekompakan dan keharmonisan antar umat di sana ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak. Masih banyak yang belum tahu Kepulauan Yapen, maybe. Alhamdulillaah iya toleransi di sana cukup tinggi makanya sampai sekarang warganya yg terdiri dari berbagai suku dan agama hidup rukun

      Hapus
    2. Iya mbak aku juga baru tau banget mbak Kepulauan Yapen.
      Seneng juga ya di sana internet makin menyatukan warga desanya. Semoga rukun selalu semuanya. Melihat kekompakan warga kepulauan Yapen juga semoga jadi inspirasi bagi kita untuk menghargai perbedaan dan belajar toleransi

      Hapus
    3. Iya ya kak, bisa mencontoh mayarakat yang tinggi toleransinya. Ini juga kan sebenarnya diajarkan semua agama dan hati nurani manusia sendiri.

      Hapus
  2. Sungguh keren sekali masyarakat Yapen yang hidup berdampingan dengan dami meski berbeda agama. Semoga semua masyarakat di Indonesia ini bisa meneladani masyarakat Yapen.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Aamiin. Pastinya hidup damai jika kita bisa saling menghargai perbedaan tanpa permusuhan.

      Hapus
  3. Iya mikirnya sih emang Papua kaya yang rawan konflik. Ternyata memang malah hidup damai dengan toleransi dan saling berdampingan yah. Untung juga ada IndoHome yang mendukung aktivitas keagamaan di sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar banget Mbak. Masih banyak daerah di Papua yg jauh dari konflik. Salah satunya di tempat kelahiran saya ini. Bersyukur juga IndiHome udah menjangkau sampai ke Kep.Yapen jadi jaringan di sana sudah lancar

      Hapus
    2. Berkat adanya internet Indihome, yang jauh dari Papua jadi mengetahui bahwa ada wilayah di Papau yang toleransi beragamanya sangat patut dicontoh. Semoga dapat ditiru daerah lain.

      Hapus
  4. Seneng yaa mba lihatnya. Kalau di Malang sini masjid Jami di depan alun2 kota juga bersebelahan sama gereja besar. Jadii pas idul Fitri halaman gereja selalu dipakai untuk parkir juga. MasyaAllah

    BalasHapus
  5. Luar biasa banget cerita di Yapen ini kak, salah satu alasan kenapa aku suka banget jalan2 ke daerah Indonesia Timur adalah biarpun mereka relatif jauhu dari pusat ibukota, toleransinya nggak main-main, semoga tetap dan selalu terjaga sampai kapanpun

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga pengen banget kesana nih kak arai, kebayang kan landscap eindah yapen khas papua. in my opinion, berita yang menyatakan suatu daerah sering ada konflik nyatanya malah lebih toleran ya, berita kadang memperbuas. padahal gak seperti yang diberitakan juga

      Hapus
  6. Toleransi umat beragama yang saya rasakan di Papua sangat tinggi mbak. Meski belum pernah ke Yapen, tapi saya 8 tahun tinggal di Jayapura, disitu pula saya memahami arti toleransi beragama. Mereka sangat menghargai agama lain. Bahkan ketika kita baik dengan mereka...mereka pun juga demikian. Semoga internet mampu menyatukan mereka dan Sila2 dalam Pancasila dapat diresapi maknanya dan dijalankan dalam kehidupan sehari2.

    BalasHapus
  7. Suka kalau masyarakat saling toleransi agama, tapi semiga saja toleransi.y tidak kebablasan ya. Pasalnya marak fenomena sekarang yang mengatasnamakan toleransi tp bertentangan dengan agama sendiri

    BalasHapus
  8. Jika daerah penuh dengan toleransi tentu rasanya akan lebih damai ya mbak seperti halnya yang dialami masyarakat kepulauan Yapen. semoga seterusnya bisa seperti itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju banget nih Mbak, adem banget ya rasanya lihat toleransi beragama masyarakat Kepulauan Yapen ini.
      semoga di tempat lain pun juga bisa seperti ini ya.

      Hapus
    2. bener banget mbak, rasanya hal paling bikin nyaman hidup dengan orang ya karena bisa saling toleransi :) jadi gak perlu terlalu memusingkan urusan pilihan hidup orang ya, yang penting saling mendukung dalam kebaikan :)

      Hapus
  9. Senangnya membaca cerita inspiratif seperti ini
    Indonesia memang sangat beragam, makanya perlu yang namanya toleransi ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju kak, semoga Indonesia selalu damai seperti di Yapen yang selalu damai karena toleransi yg tinggi

      Hapus
  10. Dalam kehidupan bermasyarakat, sikap toleransi inilah yang kita butuhkan untuk bisa hidup rukun dan damai yaa mba. Seperti yang dilakukan oleh masyarakat di Kepulauan Yapen.. meski ada andil IndiHome tapi saya yakin niat masyarakat untuk hidup rukun disana yang mendorong terciptanya kehidupan masyarakat yang penuh toleransi

    BalasHapus
  11. Semoga toleransi beragama di wilayah Yapen tanah Papua ini menjadi inspirasi untuk wilayah lain di Indonesia. Internet yang lancar dan stabil seperti Indihome dapat menginformasikan keberagaman ini dengan cepat ke seluruh pelosok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Senangnya kalau internet sudah terhubung hingga pelosok negeri. Memungkinkan orang bisa mengakses informasi dan ilmu untuk kebijaksanaan hidup.

      Hapus
  12. internet memang ada sisi positif dan negatifnya ya tentang toleransi ini :) jadi ya kudu pinter pakainya juga biar lebih menebarkan hal positif apalagi soal toleransi

    BalasHapus
  13. Masya allah keren ya mbak aku takjub masih ada daerah yang menunjukan toleransi yang tinggi. Semoga hal ini berlaku di daerah manapun ya

    BalasHapus
  14. Kalau membaca tentang pengamalan sila jadi ingat waktu pelajaran PKN di sekolah. Selain diketahui dan dihayati perlu diamalkan agar bermanfaat untuk sekitar ya

    BalasHapus
  15. Masya Allah, ternyata asli papua ya mba siska dwyta tu.. Membaca ini jadi dapat pandangan dan sisi lain dari warga papua nih.. Gak nyangka keberagaman mereka dalam beragama bisa seperti ini.. Solidaritasnya bagus sekali yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. adem ya liatnya kalau bisa hidup damai begini :) karena pada dasarnya semua agama sama mengajarkan kebaikan dan toleransi

      Hapus
  16. Wahh karena tidak pernah ke papua, lalu cuma bisa lihat dari televisi atau berita saja ternyata aslinya tidak begitu ya... Saya jadi paham dan percaya kalau sudah orang asli sana berkata seperti ini, harus viral nih informasi yang seperti ini. Di berita banyak hoaksnya, jadi banyak orang terpikirkan hal lain yang sebenarnya tidak begitu di papua..

    BalasHapus
  17. Nice banget nih cerita tentang keselarasan dalam keberagaman dari masyarakat Kepulauan Yapen, inspiring banget!

    BalasHapus
  18. Juni tuh bulannya Pancasila, bulannya kearifan Indonesia yang berbeda-beda tapi tetap satu jua yaa mba

    BalasHapus
  19. Aku baru tahu kalau Mbak Siska besar dan tinggal di Papua. Salut banget sama toleransi beragama di sana. Dan memang internet menyatukan Indonesia. Bnr2 berharap banyak konten baik dari internet

    BalasHapus
  20. Benar juga ya kak, jangan menjustifikasi Papua begini begitu jika belum pernah menginjakkan kaki langsung ke tanah Papua. Ah keren rupanya toleransi di sana.

    BalasHapus
  21. Ternyata dalam sehari-hari pengaplikasian butir-butir Pancasila ini sudah kita lakukan dengan baik, sehingga perlu untuk terus dilestarikan budaya saling toleransi menghargai umat beragama atau suku lain.

    Dengan internet yang baik, maka semua hal yang baik-baik dimulai dari arus informasi yang lancar.

    BalasHapus
  22. Masya Allah baru tahu ada kota bernama Yapen. Tinggal di kota yang beraneka ragam suku, agama dan budayanya tuh bikin kita jadi lebih toleransi sama perbedaan ya mbak.

    Nggak dikit2 ribut...

    Jangankan ma yang beda agama, kadang hanya beda tempat ngaji aja banyak yang suka saling serang. Sediih. Semoga kita bisa mengamalkan sila 1 dengan baik.

    BalasHapus
  23. aku selalu kagum sama cerita-cerita toleransi yang datang dari saudara di wilayah timur ini mbak, khususnya papua

    BalasHapus
  24. Indah sekali kalau melihat mengenai toleransi dalam kehidupan sehari-hari ini, saling menghormati, dan damai rasanya. Jadi ingat cerita seorang teman yg sedang volunteering di Papua, saya lupa sih tepatnya dmn namun juga menceritakan mengenai toleransi ini di sana, rasanya ikut seneng krn beribadah bisa secara aman. Indah sekali :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saling menghormati satu sama lain agar nyaman saat beribadah, karena dengan berangkulan itu membuat damai ya mbak

      Hapus
  25. Pernah stay di papua juga y mbak? Wah keren. Ngomong2 soal toleransi, Indonesia dipikir2 keren juga ya. Bisa hidup berdampingan dengan segala perbedaan yg ada dan minim konflik. Ak bersyukur ada pancasila dan juga IndiHome sebagai pendukung pemersatunya

    BalasHapus
  26. Senangnya tahu informasi ini, betapa toleransi di Papua termasuk Kepulauan Yapen begitu tinggi. Padahal di luaran Papua itu diidentikkan dengan gesekan antar berbagai kepentingan.
    Btw, memang pemersatu Indonesia bisa apa saja termasuk internet ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbaa, aku pun juga takjub dengan masyarakat Yapen ini, alhamdulillah ikut seneng banget bacanya. Jadi punya banyak harapan nantinya untuk Indonesia

      Hapus
    2. Iya ya mbak
      Internet benar benar bisa menyatukan Indonesia ya
      Hepi baca kabar baik seperti ini

      Hapus
  27. Media adalah salah satu yang mempengaruhi opini masyarakat. Pemahaman orang jika Papua begini dan begitu ya dipengaruhi media, karena belum pernah ke sana dan melihag langsung.

    Artikel seperti ini yang perku ditambah agar informasi yang didapat lebih jernih dan jelas. Internet juga punya andil dalam membantu perluasan informasi, brtapa media dan internet takbbisa terpisahkan. Lalu tinggal masyarakat pintar memilih dan memilah informasinya.

    Terima kasih sudah berbagi mbak

    BalasHapus
  28. Saya juga tahunya Papua rawan konflik. Tidak menyangka ternyata Papua, khususnya Yapen malah damai dan indah sekali pengaplikasian toleransi beragamanya.

    BalasHapus
  29. Harusnya sikap bertoleransi beragama baiknya diajarkan sejak anak' masih kecil ya. Karena miris banget liat berita ditelevisi meributkan hal yang harusnya tak perlu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mbak,
      Dengan penerapan sejak dini bisa menjadi bekal buat dia nantinya ketika beranjak remaja dan dewasa

      Hapus
  30. wah saya baru tahu kalo mba Sis kelahiran papua, hehehe. pengen banget tuh saya kesana, udah pasti pengen ke raja ampat ya, hehehe. btw emang sih dari berita informasi yang sering ditangkap soal konflik di papua, tapi ternyata gak seperti itu ya. malah lebih rukun dan tinggi nilai toleransi. kalau ngomongin konflik sih di daerah lain juga sama ada konflik antar suku juga.

    BalasHapus
  31. Kisah-kisah seperti inilah yang seharusnya banyak dikabarkan
    Agar makin banyak yang tahu bahwa toleransi itu bikin adem, aman dan nyaman
    Pancasila sebagai dasar negara menyatukan kita semua
    Internet menghubungkan dengan baik

    BalasHapus
  32. Aku kagum dengar ceritamu dan tetanggamu yg hidup rukun semua. Alhamdulilah.. smoga semakin banyak org2 baik diIndonesia, dunia. Dan aku baru tau Indihome sampai papua? Kereen menurutku. Internetvsemakin luas lancar tanpa hambatan.

    BalasHapus
  33. Wow ternyata di Yapen saling menjunjung toleransi ya Mbak. Salut saya. Sementara selama ini denger beritanya malah sebaliknya. Ternyata salah. Aq setuju internet menyatukan seluruh pulau di Indonesia

    BalasHapus
  34. Salut buat toleransi masyarakat Yapen. Soalnya di media, emang konflik selalu ditonjolkan. Padahal sebenarnya banyak masyarakat di sana juga memiliki toleransi tinggi. Ini loh yg harus dirawat. Jangan dikasih berita konfliknya mulu. Ini yang malah memecah persatuan bangsa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaya kak, padahal seharusnya diliput juga hal positif seperti kerukunan umat beragama ini. Karena melihatnya bikin adem dan damai.

      Hapus
  35. Aku tinggal di Jawa sih, tapi beruntung tinggal di kota yang toleransi beragamanya sangat tinggi. Waktu kecil tinggal di Salatiga, di mana ada banyak etnis, beberapa agama juga tinggal berdampingan. Ketika besar tinggal di Semarang, juga positive vibesnya terasa banget... tapi tetep sih karena tinggal di Jawa, masih jadi mayoritas yaa pasti akan berbeda kalau tinggal di luar Jawa dan jadi bagian yang minoritas tapi tetap diayomi dan dilindungi sama yang mayoritas.. pasti nyess banget ya...

    BalasHapus
  36. dengan adanya toleransi dalam beragama terutama dalam kemajemukan agama dan budaya tentu akan mempererat hubungan antara warga masyarakat

    BalasHapus
  37. Oh, Yapen ini yang dulu namanya Kabupaten Yapen Waropen ya? Rukun dan damai sekali ya di sana. Jadi pengen bisa melihat langsung suasana dan keadaannya di sana deh.

    BalasHapus
  38. Pasti nyaman dan tentram hidup di lingkungan yang tinggi toleransi. Lebih aman dan hidup damai. Perbedaan juga membuat warna tersendiri yang membuat masyarakat lebih dinamis.

    BalasHapus
  39. Percaya tentang toleransi antar umat beragama di Papua. Karena bapakku tinggal di sana. Meski bukan di Yapen. Tapi, alhamdulillah. Beliau merasa nyaman menjalankan ibadah. Terlebih saat hari-hari besar keagamaan Islam.

    BalasHapus
  40. Aku pernah merasakan shalat Id di depan gereja, waktu mudik ke Solo :) Tapi toleransi antarumat beragama (umatnya yang bertenggang rasa, bukan mencampuradukkan ajaran agama), kupelajari semasa ABG di Medan. Sudah sangat biasa kami menunggu teman yang beragama lain selesai beribadah dulu baru kami berkegiatan bareng.

    Makanya sekarang sering merasa aneh, kenapa orang Indonesia seperti kehilangan rasa toleransi gini. Semoga akses IndiHome yang makin luas ini juga membuka hati dan pikiran baik masyarakat kita.

    BalasHapus
  41. semoga toleransi beragama di negeri kita tetap terjanlin harmonis yaa. memang banyak sekali peran internet untuk toleransi dg menyajikan informasi yang kondusif untuk kehidupan toleransi di negeri kita

    BalasHapus
  42. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  43. Wah mantap ibadahnya sampai diundur jam 9 pagi. Untung ngga ada yang protes ya. . Alhamdulillah selama tinggal di sana ngga ada konflik antar agama ya mba..

    BalasHapus
  44. Aku jadi pengen deh menjelajahi Indonesia Timur. Selain pemandangan alamnya yang masih cantik, di sana juga masyarakatnya ramah2 dan rukun.

    Ikut senang kalau pancasila gak cuma soal tertulis dalam kertas, tapi betul2 dimaknai dengan baik sama masyarakat Indonesia. Indahnya perbedaan

    BalasHapus
  45. dalam islam sendiri kita harus bertoleransi terhadap agama masing-masing warga wajib di lindungi

    BalasHapus
  46. Subhanallah... Rasa toleransi di Yapen begitu besarnya. Umat beragama bisa hidup rukun dan tentram sesuai Asas Dasar Pancasila

    BalasHapus
  47. Aku baru ngeh dengan Kepulauan Yapen :) Terima kasih sudah membagikannya, mbak :) Wah, ini patut diteladanin ya, toleransi beragama Nasrani, Islam dan lainnya bisa saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Salut sama masyarakat di Papua yang menjunjung tinggi nilai2 persatuan dan kesatuan bangsa.

    BalasHapus
  48. Keren banget toleransi di Yapen ya Mbak...
    Menurut saya, di daerah mana pun di Indonesia sebenarnya bertoleransi tinggi antar agama, lho.
    Seringnya cuma ada oknum2 tertentu yang bikin kedamaian terusik.

    Btw, internet selain menyatukan Indonesia, bisa juga utk memecah belah bangsa, kalau dipakai oleh para oknum pembuat onar itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Toleransi antar agama itu penting sih menurut saya, supaya gak terjadi perang dll. Yang penting intinya rukun sama tentangga, tidak mengusik hidup orang lain, dan toleransi ini yang harus diperkuat sesuai dengan amalan butir pancasila.

      Hapus
  49. Anonim15:07

    Mbak kukira disana Muslim minoritas jadinya agak tersisihkan gitu ternyata Enggak ya... Keren banget ya masyarakatnya

    BalasHapus
  50. Wah Keren ya Mbak masyarakat disana itu ternyata sangat bertoleransi terhadap keberagaman agama. Beruntung nih mbak sudah pernah tinggal disana

    BalasHapus
  51. semoga kedamaian dan kerukunan antar etnis maupun agama selalu dijunjung tinggi oleh semua rakyat Indonesia seperti yg terjadi pada Kepulauan Yapen. Jadi teringat premis yg di utarakan oleh mamat alkatiri di salah satu standup nya, kalau di desanya sangat rukun dan damai meski islam merupakan minoritas.

    BalasHapus
  52. Saat mengetikkan "Yapen, Papua" di pencarian google, yang kemudian muncul foto-foto alamnya yang luar biasa indah. Pantai dengan pasir putih, air bening bak kaca. Haaaa indahnya. Lebih senang lagi mengetahui kalau di sana toleransi dijunjung tinggi. Jadi pingin main ke sana.

    BalasHapus
  53. Senang sekali melihat masyarakat hidup rukun. Wah, kebayang betapa berwarnanya kehidupan tinggal di sana, bergaul dengan orang-orang yang berbeda tapi juga ada kesamaannya.

    BalasHapus
  54. Apapun agama yang kita anut, sudah seharusnya saling menghormati dan saling menghargai. Perbedaan bukan untuk memisahkan, tetapi untuk menyatukan.

    BalasHapus
  55. Bersyukur bangettt bangsa Indonesia punya Pancasila yg menjadi kompas utk hidup penuh toleransi.

    Keren bgt ya...dan salut IndiHome betul² menyatukan Indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget kak, tapi kita tetap perlu banyak edukasi biar gak dikit-dikit saling hina. pengin banget negara ini adem seadem-ademnya

      Hapus
  56. jadi kepikiran, di papua lebih banyak pendatang atau asli ya? belum pernah ke papua, tapi temenku bilang di papua enak juga katanya.

    BalasHapus
  57. Keberagaman itu indah dan membuat hidup ini lebih berwarna.
    Semoga dengan adanya keberagaman dan internet yang mewarnai, kita semua bisa menjalin kebaikan demi kebaikan untuk banyak orang.

    BalasHapus
  58. duh bikin ngiri
    saya ingin banget ke Papua, paling tidak sekali aja
    Mbak Siska malah pernah tinggal di sana
    saya penasaran banget dengan kulinernya, mungkin rasanya aneh
    beda banget dengan selera saya
    tapi saya pingin, hehhehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama saya juga penasaran mbak sama kulinernya.. terutama sagu asli sana..

      Hapus
  59. MasyaAllah... Pelajaran banget ya mbk buat kita semua, betapa toleransi antar umat beragama byk sekali manfaatnya buat kehidupan kita semua...

    BalasHapus
  60. Btw toleransi antar lintas agama emg penting dipupuk untuk mencegah aksi sukuisme, kontra di masyarakat dll.

    BalasHapus
  61. Meemang selama ini yang terbayang tentang Papua tuh daerah yang rentan dengan konflik karena orangnya keras. Padahal Kepulauan Yapen menangkis asumsi itu, makasih ya udah dibagikan cerita bagus ini, Kak. Jadi sadar bahwa toleransi bisa banget diwujudkan dengan kepedulian dan sikap terbuka para pemimpn agama masing2, jangan ngoto dengan ego sendiri sehingga merusak kerukunan.

    BalasHapus
  62. Baru tahu kalau Mbak pernah tinggal di Papua. Masya Allah, ya, Mbak. Adem lihatnya kalau masyarakat di sana bisa bertoleransi terutama soal agama. Hidup berdampingan dengan damai merupakan impian kita semua. Semoga daerah lain dapat mencontohnya juga.

    BalasHapus
  63. Masya Allah. Aku juga punya teman2 banyakan dari Timika Papua sampai saat ini biarpun agama kita berbeda kita masih saling menghormati. Dulu sebelum mendalami agama islam, saya masih mengucapkan natal, masih menghadiri acara pernikahan teman didalam gereja, biarpun saya berhijab. Tapi skrg saya sudah mulai memberikan pemahaman bahwa kami yg muslim gabisa masuk gereja untuk menghadiri acara nikah. Jadi kita tetap hadir namun cukup di depan pintu gereja atau tunggu acara nikah selesai kita bertemu di resepsi. Alhamdulillah pertemanan seperti kekeluargaan masih harmonis sampai saat ini. Kitorang Papua mba. Hehe padahal aku orang betawi.

    BalasHapus
  64. Memahami toleransi sebenarnya gak rumit. Selama hati kita bersih dan berkenan menerima perbedaan. Kuatkan apa yang kita percayai dan dibiarkan orang lain beribadah menurut apa yang dia/mereka percayai. Mudah-mudahan dengan cara begini kita bisa saling menghormati dan menjaga.

    BalasHapus
  65. Kepulauan Yapen dan memperingati hari kesaktian Pancasila menjadi penguatan kewarganegaraan.

    BalasHapus
  66. MasyaAllah, salut dengan toleransi agama di Papua ya, saling menjaga dan menghormati.
    di Kendari juga ada beberapa Masjid yang berdampingan dengan Gereja, ada yang berhadapan bahkan ada yang hanya tembok antar gedung yang memishkan (seperti bangunan rumah couple gitu) dan ini salah satu Masjid dan Gereja tertua di Kendari.

    Internet melalui IndiHome ini memang menyatukan semua ya :)

    BalasHapus
  67. Semoga kita semua dapat hidup berdampingan dengan damai ya, memang kalau ada provokator gak boleh ikutan tersulut :)

    BalasHapus
  68. Toleransi beragama memang harus ditegakkan agar umat beragama bisa saling menghargai satu sama lainnya

    BalasHapus
  69. Dulu...Bapak (rahimahullah) pernah ditempatkan di Papua selama 3 tahun.
    Tapi karena aku gak pernah ke Papua, jadi gak paham kondisi di tanah Papua yang kabarnya rawan. Baru memahami hingga salah seorang sahabatku pindah Papua karena menikah dengan PNS dan kebetulan ditempatkan di sana.

    MashaAllah~
    Kita yang di kota fokus dengan masalah pemerintah yang memperebutkan kursi jabatan, dkk... namun saudara-saudara kita di Papua mempertahankan keberagamannya untuk bisa hidup damai saling berdampingan.

    BalasHapus
  70. Masyaallah salut sama masyarakat kepulauan Yapen. Bener2 menjunjung toleransi ya. Ga hanya teori tapi praktik. Aku sepakat sih kalau internet menyatukan Indonesia. Yang pasti internet nya harus kenceng kayak IndiHome

    BalasHapus
  71. nyaman ya lihat toleransi beragama seperti ini.
    ternyata Papua tidak semenyeramkan berita-berita yang beredar ya, toleransi beragama masih dijunjung tinggi kok di tanah Papua.

    BalasHapus
  72. Damaaaaaaaaai sekali ya, Mbak. Toleransi umat beragama begitu bagus. Tidak ada yang ini harus lebih unggul, semua disamakan. Senang melihat yang seperti ini. Nyaman hati ini

    BalasHapus
  73. Sayaa belum tahu daerah ini, tapi kalau menyangkut Papua biasanya mengarah ke primitif (maaf). Nyatanya, masyarakat yang memandang adat itu masih menjaga perilaku agar damai, termasuk perbedaan agama.

    BalasHapus
  74. indahnya toleransi beragama, saling menghormati dan menghargai kebebasan beragama

    BalasHapus
  75. masyaAllah alhamdulillah bacanya adem kalo masyarakat bisa hidup berdampingan dan toleransinya tinggi gini hati juga damai

    BalasHapus
  76. Senang mendengar berita baik seperti ini
    Betapa toleransi adalah hal yang sangat dibutuhkan di Indonesia yang beragam ini ya mbak

    BalasHapus
  77. ma syaa aAllah, adem banget mbacanya, Indonesia memang dari berbagai macam dan golongan dan memang butuh toleransi supaya tidak ada benturan ego

    BalasHapus
  78. Suka banget baca kisah-kisah ini, keberagaman itu indah

    BalasHapus
  79. keren mbak baru tahu ada kepulauan yang memiliki budaya seperti ini

    BalasHapus
  80. Cerita-cerita toleransi menginspirasi seperti ini mesti diperbanyak di tengah berkembangnya akun media abal-abal, buzzer yang kampanye negatif, supaya terlihat bahwa Indonesia sejatinya seperti ini. Nggak dikit-dikit ribu dan saling serang. Nice story.

    BalasHapus
  81. Wah. Pernah tinggal di Papua ya Kak. Pasti keren nih pengalamannya. Sepakat kita harus saling bertoleransi.

    BalasHapus
  82. Keren sekali toleransi masyarakat Yapen ini. Jarang diketahui dan diekspos media sih. Yg diekspos malah kerusuhan antarsuku aja di sana. Jadinya ya gerakan separatis makin membara. Yuk jaga persatuan dgn belajar toleransi dr masyarakat Yapen ini ya.

    BalasHapus
  83. Mungkin, karena masyarakat umum lebih banyak mengonsumsi berita di media mengenai pertikaian dan lain sebagainya tentang tanah Papua, makanya jarang ada yang tahu bahwa budaya toleransi di Papua pun berkembang dan membudaya dengan luar biasa. Seperti yang Kakak kisahkan tentang toleransi yang terjadi di Kepulauan Yapen, Papua. Duh, adem kalau lihat orang-orang yang saling menghargai dalam toleransi beragama begini.

    BalasHapus
  84. Aku pun dulu waktu hidup di Povinsi NTB dikelilingi oleh berbagai suku bangsa, Mbak. Jawa, Cina, Bugis, Flores yang semuanya saling menghormati.
    Apalagi dengan adanya internet ke pelosok desa seperti IndiHome, semoga kerukunan makin terjalin, bukannya malah gontok-gontokan.

    BalasHapus
  85. Ilmu baru ini, kepulauan yapen di papua, semoga bisa segera menginjak tanah papua. Bagus banget ya mbk, toleransi beragamanya, semoga bisa lihat secara langsung

    BalasHapus
  86. Toleransi antar umat beragama penting sekali ya. Terutama di Papua yang rawan konflik. Harus saling menghormati cara ibadah dan juga kepercayaan agama masing-masing, itu kunci buat menyatukan Indonesia yang juga kaya perbedaan suku dan budaya.

    BalasHapus
  87. Karna beda, kita bisa saling melengkapi. Kalau dalam islam ada istilah "perbedaan itu salah satu bentuk rahmat"

    BalasHapus
  88. Peringatan hari kelahiran Pancasila menjadi momentum yang tepat untuk memupuk toleransi ya mbak
    Mengingat Pancasila itu Bhineka tunggal Ika

    BalasHapus
  89. Luar biasa toleransi umat beragama di Kepulauan Yapen. Patut dibanggakan karena seluruh laisan masyarakat bisa mengaplikasikan nilai nilai sila pertama

    BalasHapus
  90. berbeda itu indah, kita hrs sadar itu dan menularkan kesadaran kepada generasi-generasi penerus untuk belajar toleransi

    BalasHapus
  91. Meski hidup berbeda agama tetap menjaga kerukunan ya. Salut banget sama mereka

    BalasHapus
  92. Papua salah satu provinsi yg kaya akan keberagaman. Aku pernah baca2 utk wilayah timur toleransinya memang cukup baik.
    Dan nilai butir pancasila akan KETUHANAN hendaknya juga mampu di maknai oleh semua orang

    BalasHapus
  93. Aku jadi ingat zaman SD, Mbak, hafal banget 7 butir arti Sila Pertama di atas karena memang tiap hari selalu dibaca dan diminta menghafalkan. Pancasila dan internet memang menyatukan berbagai agama dan kebudayaan, ya.

    BalasHapus
  94. Bener banget belajar toleransi beragama ini lebih baik langsung turun ke masyarakat langsung gini ya, Mbak. Bukan sekadar ceramah aja tapi no action!

    BalasHapus
  95. indahnya keberagaman, menyenangkan ya kak saling menghormati dan menghargai perbedaan itu, hidup akan jadi lebih indah
    Indonesia itu beragam maka tak harus seragam

    BalasHapus
  96. Masyaa Allah. Jadi ingat kalau aku dulu besar di Tanah Karo, sebuah daerah di Sumatera Utara yang penduduknya mayoritas non muslim. Kalau di kehidupan nyata sebenarnya kita memang adem adem rukun selalu. Tapi kadang di dunia Maya beda lagi ceritany. Semoga kita semua rukun terus.

    BalasHapus
  97. waru tahu aku mbak Siska ternyata kelahiran Papua, kirain orang sulawesi. hehe. memang sih sekarang ini kita sering sekali tersulut isu-isu seputar toleransi ini padahal dulu adem ayem aja jadi sedih rasanya

    BalasHapus
  98. Belum pernah ke kepulauan Yapen, namun dari tulisan ini telah tergambarkan informasinya dengan baik

    BalasHapus
  99. Belajar toleransi salah satunya ada di kepulauan Yapen, menurut ulasannya tergambarkan masyarakatnya toleransi.

    BalasHapus
  100. Perbedaan itu indah, hal itu yg menjadikan Indonesia satu dengan berbagai keberagaman agama, budaya & rasa ya

    BalasHapus
  101. Masyaa Allah terima kasih sudah berbagi cerita tentang toleransi di sana, betapa pentingnya toleransi ya untuk kemajuan bangsa dan negara semoga Tanah Air tercinta selalu damai

    BalasHapus
  102. Anonim19:38

    Jujur aku baru tau loh pulau ini, ternyata luar biasa banget toleransinya di indonesia ini..

    BalasHapus
  103. Saya percaya kalau toleransi beragama di Papua sangat bagus. Juga toleransi dengan budaya baru. Kan banyak sekali orang dari luar Papua yang di sana, Diaspora Papua juga tersebar di seluruh dunia dan beberapa dari mereka kembali untuk membangun daerahnya.

    BalasHapus
  104. toleransi memang sudah mendarah daging di darah setiap muslim seharusnya ya kak. jadi mau di papua, di medan, atau dimanapun tempatnya harus menjadi suatu kewajiban tiap muslim mengamalkan lakum dinukum waliyadin. Untuk mu agamau dan untukku agamaku.

    BalasHapus
  105. Bersyukur ya mbak bisa diterima dengan baik di masyarakat Papua. Berharap internet digunakan untuk hal-hal positif saja

    BalasHapus