Mendamba Jodoh dan Anak? Jangan Lupa Pasrah, Yuk!

By Siska Dwyta - 05:36

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Jujur saja, ketika melihat hasil test packku menunjukkan tanda positif, saya memang sempat kaget plus terharu. Betapa tidak? Di saat saya telah sampai pada titik itu, Allah lagi-lagi menunjukkan kuasa-Nya. Sesuatu yang sungguh di luar dugaanku kembali menghampiri.

Kali pertama adalah tentang jodoh. Tadinya saya pikir jodoh itu harus dicari, bukan dinanti. Nyatanya saya keliru. Memang benar sih, jodoh itu mustahil muncul bila kita hanya menanti dengan tinggal, duduk, diam tanpa usaha sama sekali, tapi kalau bilangnya jodoh kudu dicari, itu yang keliru. Ngapain sibuk mencari sesuatu yang tidak hilang. Toh, selama belum bertemu, jodoh kita nggak bakal kemana-mana, nggak bakal dicuri siapa-siapa. Percaya deh!

Jangankan mencari, tanpa dipinta pun yang namanya jodoh telah ditetapkan jauh sebelum kita terlahir ke dunia. Nama kita dan nama sang jodoh bahkan telah tertaut indah di lauhul mahfuz sejak limapuluh ribu tahun sebelum langit dan bumi tercipta. So, tugas kita bukan lagi mencari tapi cukup menjemput. Kalau mengutip kalimat motivasi pak Mario Teguh "Jodoh itu di tangan Tuhan. Benar. Tapi jika anda tidak meminta dan mengambil dari-Nya selamanya dia akan tetap di tangan Tuhan"

Baca juga; Menuju Halal; Ikhtiar Menjemput Jodoh

Tentang siapa, kapan, dimana, bagaimana, mengapa - apapun itu, bukankah Allah sudah mengatur semuanya. Jadi kalau kita pengen segera bertemu dengan sang jodoh, ya dijemput dong. Datang gih ke pemilik-Nya. Minta baik-baik. Pasti Allah kasih. Mana mungkin tidak. Sayangnya, kadang kita yang enggan bersyukur dengan jodoh yang Allah kasih.

Demikianlah bila fokus kita bukan menjemput melainkan sibuk mencari jodoh. Saking sibuknya mencari sampai-sampai tersesat di jodoh orang lain. Pantas saja kalau jodoh kita belum jua nampak keberadaannya, sekali pun diri telah melangitkan banyak doa dan melakukan usaha yang menggunung. Masalahnya, bagaimana doa-doa kita segera terijabah jika yang dipinta adalah nama yang bukan jodoh kita. Bagaimana pula usaha-usaha kita lekas menemui hasilnya jika yang diperjuangkan adalah jodoh orang lain. Lantas bagaimana jodoh akan datang jika kita sendiri yang menghalanginya.

Well, saya telat memahami konsep tersebut. Boleh jadi jodoh kita sampai saat ini masih belum nampak karena kita sendiri yang menghalangi kedatangannya. Barangkali salah duanya yang menjadi penghalang datangnya jodoh justru karena doa dan ikhtiar kita sendiri yang keliru. Atau karena kita yang luput akan satu hal. Bahwa menjemput jodoh dengan doa dan ikhtiar saja tidak cukup. Belakangan setelah bersanding dengan sang jodoh di pelaminan baru saya sadari kekhilafan saya itu. Ternyata doa jodoh yang saya pinta saat masih lajang memang keliru. Ikhtiar saya menggapai jodoh saat itu juga keliru. Kenapa saya bilang begitu?

Maybe you must know, Allah baru menunjukkan ini lho jodoh terbaik yang Aku persiapkan untukmu tepat ketika saya sampai di titik itu. Titik terendah dalam hidup dimana saya merasa sangat tak berdaya. Sungguh, saya tak memiliki kemampuan apa-apa untuk memaksa Tuhan mengikuti pintaku. Walau betapa besar keinginan agar kiranya Allah sudi menjodohkanku dengan sosok yang kumau. Sosok yang namanya kerap kurapal dalam doa. Bahkan karena saking berharapnya agar sosok itu yang kelak menjadi jodohku di masa depan saya lancang mengklaim he is my destiny. Sampai-sampai saya pun tak sanggup membayang bila berjodoh dengan sosok selain dia.

Sayangnya, ketika doa dan ikhtiar telah saya julangkan semaksimal mungkin, jodoh yang saya mau justru makin tak terjangkau, makin mustahil untuk saya gapai. Lalu apalagi yang bisa saya lakukan?

Pasrah.

Ya, apalagi yang bisa saya lakukan selain pasrah; memasrahkan jodohku pada Allah. Tidak lagi ngotot bertahan atas satu nama. Tidak lagi keukeh mempertahankan seseorang tanpa kepastian. Kala itu saya hanya meminta diberikan jodoh yang terbaik dan lihatlah apa yang terjadi kemudian. 

Persis ketika saya hempaskan segala rasa yang membelenggu hati. Ketika saya tidak lagi menyebut sebuah nama dalam doa. Ketika saya benar-benar berhenti berharap pada makhluk-Nya. Ketika saya sungguh pasrah sepasrah-pasrahnya. Jodoh saya sekonyong-konyong muncul begitu saja. Yap, jodoh terbaik yang Allah tetapkan untukku adalah lelaki yang tidak pernah saya sangka-sangka sebelumnya bakal jadi suami dan ayah dari anak-anakku kelak.

Baca juga Menikah Karena Allah

Nah, kali kedua adalah tentang kehamilan. Tadinya saya juga nggak nyangka bakal dapat tiket H di awal bulan November tahun kemarin. Gimana mau nyangka coba. Bulan-bulan sebelumnya saya dan suami memang rajin banget promil. Malah saya yang paling excited menyambut masa subur dan tidak pernah lupa mengingatkan suami. Pokoknya menjelang hari ovulasiku dia harus pulang ke rumah, titik, nggak boleh nggak😅

Semenjak numpang tinggal seatap di pondok mertua indah, suami saya memang tidak tiap hari pulang. Biasalah masalah klasik yang kerap dihadapi pasutri. Yup, karena urusan pekerjaan saya dan suami pun terpaksa harus LDM. Syukurnya LDM kami nggak sampai berpekan-pekan atau berbulan-bulan. Cuma selang-seling hari saja. Kadang sehari pulang, sehari nggak. Sehari pulang, dua hari nggak. Dua hari pulang, dua hari nggak. Demikianlah seterusnya, hehe sampai akhirnya kami berhasil pindah ke kontrakan sendiri.

Jadi di bulan November itu alhamdulillaah kami sudah tinggal seatap berdua di pondokan sendiri. Masih ngontrak sih but no problem yang penting saya dan suami tidak perlu lagi merasakan beratnya menahan rindu karena LDM. Pantesan ya langsung tinggal😂 Mungkin ada yang menduga demikian, hayoo. Sama. Saya juga kok. Tapi bukan itu yang bikin saya nggak nyangka. 

Barangkali ada banyak jawaban tersembunyi dibalik tanya yang sempat terlintas dalam hati. Mengapa Allah baru menitip amanah itu di tujuh bulan usia pernikahan kami? Apakah itu pertanda kami telah siap dan bersedia? Padahal kalau mau mengukur kesiapan dan kesediaan, sudah sedari awal nikah kami merasa siap dan bersedia. Dengan tidak menunda kehamilan, misal. Kan ada ya pasangan yang baru nikah langsung KB duluan karena merasa belum siap urus anak.

Baca juga; Reminder di Tujuh Bulan Pernikahan

Pengalamanku waktu baru nikah malah langsung dibelikan susu persiapan hamil sama suami mungkin karena suami mengira istrinya ini sudah siap kali ya urus anak😅 Yap, saya dan suami memang tidak ingin menunda kehamilan. Kalau langsung dikasih ya alhamdulillaah, kalau belum ya tetap alhamdulillaah. Tapi kalau saran mamaku sih sebaiknya nikmati dulu masa-masa pengantin baru. Nggak usah buru-buru pengen punya anak. 

Okelah, sebulan dua bulan kami masih enjoy menikmati indahnya masa pengantin baru. Tiga bulan mulai kepincut lihat teman-teman seangkatan nikah pun yang baru-baru nikah pada berhasil melambung kami dengan kabar baiknya masing-masing. Tiba di bulan keempat, saya langsung berinisiatif ngajak suami promil. Apalagi setelah dapat saran dari Ana. "Coba ukh, konsumsi ki *v*r E. Saya dari sebelum nikah udah konsumsi suplemen itu. Alhamdulillaah, setelah nikah langsung tinggal" Saran yang bikin saya sungguh merasa ketinggalan jauh. See! Ana sebelum nikah sudah mempersiapkan dirinya untuk menjadi calon ibu, sementara saya? Boro-boro konsumsi, suplemen yang dimaksud saja i don't know, bentuknya seperti apa, belinya dimana, harganya berapa, saya beneran buta. Jleb banget kan😅

Oh ya, Ana itu teman kuliahku. Kami sejurusan tapi beda kelas makanya nggak terlalu akrab semasa kuliah dulu. Baru akrabnya pas saya mau nikah. Lho kok? Ya iya, soalnya dia makcomblang perantaraku waktu berproses ta'aruf dengan lelaki yang ternyata juga merupakan teman kuliah suaminya.  Dan karena dia yang duluan nikah, duluan hamil, duluan pula dianugerahi anak jadi deh saya suka nanya-nanya ke dia, hehe. Rumah Sakit tempat saya melahirkan kemarin juga recommended dari dia lho😊

Atas saran dari Ana, saya dan suami akhirnya berkunjung ke salah satu apotik yang ada di kota tempat tinggal kami hanya untuk mencari suplemen yang dimaksud. Tapi sesampai di apotik yang kami kunjungi, suplemen yang dicari lagi kosong. Alhasil, kami ditawarkan suplemen lain yang kata si mbak penjaga apotik tak kalah mujarab, malah khasiatnya lebih bagus daripada *v*r E. Mbaknya sampai nyebutin beberapa pelanggan yang konon berhasil hamil setelah mengonsumsi suplemen tersebut. Oke, kami tergoda membelinya. Padahal niat awal kami ke apotik itu sebatas membeli suplemen yang Ana sarankan. Eh, pulang-pulang kami malah mengantongi suplemen lain plus madu kesuburan untuk suami.

Singkat cerita, madu kesuburan habis diminum suami dalam waktu kurang lebih sebulan. Suplemen yang saya minum juga seharusnya habis dalam waktu tiga puluh hari tapi baru sepekan konsumsi suplemen yang satu kapsulnya berukuran jumbo itu saya jadi keseringan banget buang air kecil. Masa' semenjak mulai minum suplemen tersebut dalam sehari bisa lebih dari sepuluh kali saya bolak balik kamar mandi. Well, karena merasa aneh dengan efek mengonsumsi suplemen yang kami beli tanpa resep dokter itu saya sampai konsul via WA dengan mbakku yang apoteker.


"Ika kan masih muda. Usia pernikahannya juga masih dini. Jadi kalau mau promil sebaiknya ikhtiar yang alami dulu. Gak perlu cepat-cepat konsumsi suplemen, apalagi tanpa pengawasan dokter. Mending yang dikonsumsi makanan-makanan bernutrisi tinggi yang dapat meningkatkan kesuburan. Banyakin makan sayur-sayuran hijau, kacang-kacangan, buah-buahan. Lakukan olahraga rutin tiap pekan. Olahraga yang ringan-ringan aja, kayak jalan kaki atau jogging bareng suami setiap ahad pagi. Dan yang penting jangan stres yah. Gak usah terlalu mikir promilnya berhasil atau nggak. Pokoknya dibawa happy aja. Oke " kurang lebih seperti itu saran mbak Edelweis yang begitu mencerahkan.

Saya akhirnya mengambil keputusan untuk berhenti mengonsumsi suplemen yang masih tersisa banyak itu dan mantap mengikuti saran mbak Edelweis. Sebenarnya sayang juga sih sudah beli suplemen mahal-mahal tapi nggak dihabisin, tapi yah mau gimana lagi. Toh, saya memang tidak cocok konsumsi suplemen tersebut. Kalau cocok mah pasti saya nggak bakal over buang air kecil.

Di bulan kelima saya dan suami mulai menjalankan promil alami sesuai saran mbak Edelweis dengan penuh semangat. Saking semangatnya waktu itu saya sampai bikin list promil dengan harapan mudah-mudahan dapat tiket H di bulan keenam pernikahan kami.



Selain saran dari mbak Edelweis, saya sengaja menambah banyak poin ibadah dalam list promil kami. Setidaknya karena saya paham bahwa promil yang kami jalani bukan hanya tentang hubungan saya dan suami melainkan juga tentang hubungan kami dengan Allah. So i think, bukan cuma asupan nutrisi makanan yang perlu dipenuhi, bukan cuma olahraga yang perlu dirutinkan, bukan cuma pikiran yang perlu disegarkan, hubungan dengan Allah pun sangat perlu dieratkan. Sebab ending dari promil yang kami jalankan adalah mendapat kepercayaan dari-Nya. Dan untuk mendapat kepercayaan itu tentu kami yang harus mendekat kan, bukan malah semakin menjauh dari-Nya.

Di bulan keenam tamu bulananku ternyata masih datang it means Allah masih ingin melihat ikhtiar kami. Lagipula sekali pun sudah menyusun list promil se-perfecto mungkin, ikhtiar kami tetap saja belum maksimal. Nyatanya memang masih banyak poin yang belum berhasil kami penuhi secara konsisten. Tak apalah. Masih ada bulan-bulan berikutnya. In syaa Allah. Satu hal yang pasti. Saya dan suami tidak akan berputus asa :)

Nah, di bulan ke tujuh pernikahan kami, si M lagi-lagi datang, menghempaskan segenap pengharapanku. Setelahnya saya seakan terperosok jatuh ke titik terendah dalam hidup. Merasa kembali tak berdaya. Sungguh, saya tak memiliki kekuatan apa-apa untuk memaksa Tuhan mengikuti inginku. Walau betapa besar diri ini mendamba agar kiranya Allah pun sudi memberi amanah itu kepada kami. Apalagi inginku kali itu menyangkut anak bukan jodoh. Kalau jodoh mah tanpa dipaksa pun Allah bakal kasih karena memang itu hak kita. Tapi kalau anak, kita sama sekali nggak bisa maksa karena itu adalah hak Allah bukan haknya kita.

Baca juga ; Ujian Penantian; Buah Hati

Ya, di bulan November itu saya kembali pasrah persis seperti saat saya memasrahkan jodohku pada-Nya lalu sekonyong-konyong jodoh yang telah Dia siapkan untukku muncul begitu saja. Jadi di bulan itu, entah kenapa saya dan suami tidak lagi riuh membahas promil kami seperti bulan-bulan sebelumnya. Yang ada tiba-tiba saja kami malah serius membahas 'masalah' yang mungkin terjadi di antara kami. Lalu kami mulai menebak-nebak, bagaimana jika masalah itu ada pada dia atau bagaimana jika masalah itu justru ada pada saya?

Aih, sejujurnya saya enggan bahas masalah demikian. Terlalu menggelikan saja menurut saya. Ayolah, menikah bukan hanya tentang memperoleh keturunan, kan? Tapi kalau masalahnya memang ada pada suami, saya akan memilih setia. Serius deh! Sebaliknya jika masalahnya ada pada saya? Hmm, saya berharap dia pun akan setia tapi di sisi lain saya kok jadi nggak tega ya. Dia kan masih dibolehkan nikah lagi dua, tiga, sampai empat kali #eh

Kita Adopsi anak saja atau program bayi tabung. Bagaimana? Saya tertawa sambil menggeleng kepala menanggapi tawaran suami yang mencoba mencari alternatif lain setelah menemukan jawaban pengandaian kami sama-sama pelik.

Tidak dua-duanya deh.

Kenapa?

Mengadopsi tidak akan mengubah anak itu menjadi mahram kita, kan? Kalau program bayi tabung biayanya nggak murah lho. Sanggup?

Jadi?

Saya angkat bahu.

Ayo deh ke dokter kandungan. Periksa. Ajak suami tiba-tiba. Kontan saya tanggapi pula dengan kembali tertawa.

Sabar sayang. Belum juga setahun. Nanti kalau sudah lewat setahun pernikahan kita dan masih belum ada tanda-tanda saya akan hamil baru kita ke dokter. Kita menabung saja dulu karena biaya ke dokter juga pasti tidak murah, kan?

Dia mengangguk. Saya tersenyum.

Lepas percakapan tersebut, saya beneran merasa plong. Sampai-sampai saya dan juga suami tidak terlalu fokus mikirin promil. Apalagi akhir bulan kami sudah berencana hendak melakukan safar ke luar kota untuk menghadiri acara pernikahan teman masing-masing yang bukan kebetulan harinya bersamaan, waktunya saja yang berbeda. Karena akan melakukan perjalanan jauh, naik kendaraan roda dua pula jadi saya sempat berpikir kalau promil bulan itu pun pasti tidak efektif.

Beidewei, saya bingung juga ngejelasinnya. Entah dikatakan promil atau nggak, karena di bulan November itu saya dan suami tetap rajin konsumsi kacang ijo dan tauge. Jadi hampir tiap pagi kami sarapannya bubur kacang ijo. Siangnya makan sayur tauge atau sayur daun-daunan hijau kayak bayam dan daun kacang panjang. Sedangkan malamnya kami konsumsi susu d*nc*w coklat sebelum tidur. Tiap menjelang fajar atau sebelum masuk subuh pun kami rutinkan  bangun walau hanya mendirikan dua rakaat ditambah witir plus banyak-banyak beristighfar terutama di waktu sahur.

Cuma masalahnya baru di bulan itu saya tidak peduli dengan yang namanya masa subur dan hari ovulasi. Padahal salah satu poin yang paling penting dan sangat memungkinkan keberhasilan promil adalah mengetahui masa subur dengan tepat dan benar. Untuk mengetahui mengenai masa subur dan ovulasi silakan baca penjelasannya sendiri di alodokter.

Jadi untuk dapat menghitung masa subur terlebih dahulu kita harus mengetahui siklus haid. Siklusnya teratur atau nggak? Sebab akan lebih mudah menghitung masa subur bila siklus haid kita teratur tapi kalau tidak teratur cara hitungnya beda lagi. Berhubung zaman semakin canggih muncullah applikasi-applikasi yang dapat memudahkan kita dalam menghitung masa subur. Selama ini sih saya sangat terbantu dengan adanya applikasi semacam "Kalender Saya". Cukup dengan memberi tanda awal dan akhir haid setiap bulannya maka secara otomatis baik masa subur maupun ovulasi akan muncul pada app kalender tersebut dan ditandai dengan simbol khusus.


Contohnya bisa lihat pada gambar di atas. Awal haid saya waktu bulan Oktober tahun kemarin jatuh tanggal 11 dan berakhir pada tanggal 17. Tanggal 18-23 yang disertai dengan simbol bunga pink itu merupakan masa subur, sementara tanggal 22 yang simbolnya beda sendiri menunjukkan hari ovulasi.

Baca juga Catatan di Awal Kehamilan Anak Pertama

Selain mengetahui masa subur dengan melihat kalender tersebut, saya juga biasa memperhatikan lendir serviks. Entah kenapa pula waktu bulan November itu belum masuk masa subur pada kalender tapi lendir serviksku sudah menunjukkan seolah-olah saya berada pada masa subur. Ya, saya jadi bingung dong. Kok makin ke sini rasanya saya makin kesulitan menentukan masa subur. Bahkan saya sampai merasa kesempatan agar segera dapat tiket H semakin jauh, semakin tak mampu saya jangkau. Lantas apalagi yang bisa saya lakukan?

Pasrah.

Ya, berawal dari bingung menentukan masa subur itulah yang bikin saya akhirnya tiba pada titik pasrah. Padahal doa dan ikhtiar kami belum seberapa dibanding dengan mereka yang doanya telah menahun, ikhtiarnya pun sudah tak berbilang. Namun ketika saya pasrah sepasrah-pasrahnya, lagi-lagi Allah menunjukkan kuasa-Nya. Dia memberi kejutan itu jauh lebih cepat dari yang saya sangka.

Waktu dalam keadaan pasrah itu saya sempat lho berpikir mungkin masih setahun lagi, dua tahun lagi, kapan-pun itu atau tidak sama sekali. Tak apa. Saya ikhlas. Saya rela. Terserah Allah. Maunya Allah. Saya tidak punya hak. Toh, sebagai hamba saya cuma bisa meminta dan mengusahakan, selebihnya, Allah yang punya hak.

Nah, barangkali saja selama ini doa kita memang terus mengalir, ikhtiar kita pun tak  henti-hentinya namun kita luput akan satu hal. Kita menyangka dengan doa dan ikhtiar saja sudah cukup. Lantas ketika doa yang kita panjatkan tak kunjung diijabah, ikhtiar yang kita kerahkan tak kunjung dipenuhi, serta merta kita berburuk sangka pada-Nya. Menganggap Tuhan tak adil. Kita lupa, tawakal. Lupa, pasrah. Lupa, menyerahkan keputusan yang terbaik pada-Nya.

Memang sih, ada pasangan yang tanpa banyak doa dan ikhtiar langsung dikasih sama Allah, sebaliknya ada pula yang doa dan ikhtiarnya tak lagi terhitung tapi masih saja belum diamanahi. Bukan berarti Allah tak adil. Okelah, mungkin sama seperti yang saya dan suami rasakan sedari awal nikah, merasa sudah siap dan bersedia mengemban amanah itu. Padahal yang paling tahu sejauh mana kesediaan dan kesiapan kami hanya Allah. Terlebih anak itu sepenuhnya hak Allah. Urusan siapa yang dikasih dan siapa yang duluan diamanahi ya terserah Allah. Kita nggak bisa protes dong. Kok kita yang duluan nikah, dianya yang duluan punya anak atau kok kita yang sudah bertahun-tahun berumah tangga belum dikasih momongan lha dia baru sebulan nikah saja sudah langsung hamil. Sekali lagi, karena anak merupakan hak Allah maka memintanya dengan doa dan ikhtiar saja tidak cukup, kan?

Boleh jadi lho Allah sebenarnya sudah menyiapkan kejutan itu untuk kita, Dia hanya menunggu kita untuk pasrah. Tentu, pasrah tak sama dengan berputus asa. Orang yang berputus asa adalah orang yang melupakan Tuhan-Nya. Merasa tidak mampu, tidak kuat, tidak sanggup padahal dia punya Tuhan yang Maha Kuasa. Sedangkan orang yang pasrah adalah orang yang menyadari benar kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Tuhan yang memberinya kekuatan, kemampuan dan kesanggupan itu. Ketika segalanya telah ia kerahkan, didapatilah dirinya ternyata begitu kerdil, begitu hina, begitu tak berdaya.

Laa hawla walaa quwwata illaa billaah.

So, bagi calon ibu yang masih menjalankan promil, tetap semangat ya! Jangan lupa jadikan pasrah di ujung doa dan ikhtiar kita. Doaku, semoga Allah pun segera memperkenankan pinta kalian. In syaa Allaah.

Sekian dulu postingan saya kali ini yang pengen tanggapi tulisan saya ini silakan tinggalkan jejak di kolom komentar😊


  • Share:

You Might Also Like

3 comments

  1. Masyaallah semoga doanya segera terjawab ya mba. Betul mba, kunci utama memang pasrah dan yakin sama Allah.. sambil kita penuhi hari dgn amalan-amalan terbaik :)

    ReplyDelete
  2. biasanya sesuatu yang bener-bener di inginkan datang tiba-tiba, kalo sekarang sih saya ada di masalah yang pertama, susah dapet jodoh nya :D, gak tau sih mungkin bener kalo kadang kita sendiri yang menghalangi jodoh kita datang :)

    ReplyDelete
  3. Terima kasih sudah diingatkan, Insya Allah akan selalu pasrah, tawakal.. semoga Allah mudahkan ☺

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.