Cerita MPASI Bunay 8 Bulan : Baby Wead Leaning (BLW)

by - Friday, August 02, 2019

Sumber ilustrasi gambar :
 siraplimau.com
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Cerita MPASI Bunay 8 Bulan : Baby Wead Leaning (BLW)
Seharusnya cerita tentang MPASI Bunay di usia 8 bulan ini sudah saya posting dari bulan Mei lalu sih tapi karena di bulan yang bertepatan dengan Ramadan itu saya (sok) memberanikan diri menerima tantangan menulis #30HariKebaikanBPN jadi postingan terkait MPASI Bunay sengaja saya tunda dulu. Eh setelah tantangan menulis selama bulan Ramadan dari BPN berakhir, saya malah nggak mood melanjutkan cerita MPASI Bunay, bahkan sampai terbesit keinginan untuk menyudahi cerita tersebut. Biar ceritanya cukup sampai di MPASI 7 bulan saja, soalnya kalau mau lanjutin juga rada telat.

Baca juga : Cerita MPASI Bunay 7 Bulan

Apalagi usia Bunay sekarang sudah hampir setahun dan saya baru mau menulis cerita MPASInya di usia 8 bulan. Oke, alasan telat ini yang bikin saya males lanjutin cerita MPASI Bunay. Tapi kalau tidak saya lanjutkan ceritanya jadi menggantung dong!

Yowes, lebih baik telat ya daripada tidak melanjutkan sama sekali karena efeknya bisa bikin pembaca mati penasaran dengan cerita yang menggantung, hehe. Jadi ada cerita apa saja di MPASI Bunay 8 bulan ini?

Actually, di usia 8 Bulan ini saya nggak terlalu perhatiin gimana reaksi Bunay saat makan, karena tugas saya siapin MPASI doang, selebihnya neneknya yang ambil alih. Jadi waktu menjelang usia 8 bulannya yang tinggal beberapa hari, kakek dan nenek Bunay alias ortu saya datang dari Papua. Sejak saat itulah, selama kurang lebih sebulan urusan nyuapin Bunay diambil alih sama neneknya.

Nah, saya cuma tahu selama neneknya yang kasih makan, makanan Bunay sering habis, jarang ada sisa. Meski untuk habisi makanannya kadang butuh waktu lama sih, sampai sejaman gitu. Padahal idealnya jika mengikuti teori parenting batas waktu pemberian makan ke si Kecil maksimal hanya 30 menit, lewat dari itu harus segera dihentikan.

Tapi neneknya mana tahu teori parenting seperti itu. Tahunya yang penting si Kecil disuapin sampai makanannya habis. Aih, jangankan neneknya, saya saja masih sering melanggar teori ini meski tahu bila waktu makan anak menghabiskan waktu lebih dari 30 menit bahkan sampai sejaman itu artinya sudah nggak efektif lagi. Kenapa? Ya karena kalau makannya sampai menghabiskan waktu selama itu bisa jadi ada dua kemungkinan, bayinya sudah kenyang atau bosan dengan makanan yang kita suapkan. Trus kita tetap maksa dia agar menghabiskan makanannya gitu?

Kondisi bayi makan dalam keadaan dipaksa itulah yang bisa menimbulkan efek buruk, seperti bayinya jadi trauma makan, alhasil berujung dengan GTM berkepanjangan. Thats why saat memberi makan anak kita disarankan untuk menciptakan suasana makan yang menyenangkan dan sebisa mungkin tidak memaksa anak untuk segera menghabiskan makanannya setelah lewat dari 30 menit.

Iya, ngomongin teori saja gampang, tapi pada praktiknya maa syaa Allah. Memang butuh kesabaran yang kuat saat memberi makan anak sebab praktiknya memang nggak semudah teori. Syukurnya, meski sering disuapin hingga lewat dari setengah jam, Bunay nggak sampai mengalami trauma. Kalau GTM sih iya, itupun kadang-kadang.

Bahkan di usianya yang menginjak 8 bulan ini, Bunay sempat sakit tapi makannya masih tetap lancar walau tidak habis. Lagipula kalau anak sakit dan GTM itu wajar ya. Kita saja orang dewasa kalau sakit pastinya nggak mood makan apalagi anak-anak yang masih berusia bayi.

Ini juga yang bikin saya terharu setiap ingat momen sakit Bunay sewaktu mengalami demam tinggi selama sepekan. Selama itu pula kalau dikasih makan Bunay tetap buka mulut walau  tidak sampai mengosongkan piring makan, nenennya juga kuat lho. Hanya saja, sejak sakit di usia 8 bulannya, BB Bunay jadi turun drastis dan sampai sekarang naiknya ngirit banget.

Padahal setelah sembuh dari sakit, makannya makin lahap tapi kenaikan BBnya dalam sebulan hanya sekitar 100 gram. Syukurnya status gizi Bunay masih dalam batas normal jadi saya nggak terlalu khawatir.  Whatever-lah kalau badan Bunay sekarang terlihat kurusan alias nggak semontok dulu lagi yang penting tetap sehat selalu ya Nay sayang.

Namun masalah kenaikan BB yang irit ini tetap harus saya evaluasi. Sepertinya memang ada yang salah dari pemberian MPASI-nya atau entahlah. Kata orang-orang sih kenaikan BB bayi sejak mulai masuk masa MPASI memang sedikit tidak seperti saat bayi masih mengonsumsi ASI saja. Eh ini bukan kata orang-orang saja lho, karena di KMS juga tertera demikian. Kenaikan BB di usia 6 bulan idealnya 400 gram sementara untuk usia 7-10 bulan 300 gram.

Jadi mestinya saya nggak perlu heran atau khawatir berlebihan bila melihat hasil timbangan Bunay saat masih ASI Ekslusif bisa naik hingga 1kg per bulannya lantas kini kenaikannya tinggal sekian gram per bulannya. Apalagi kalau grafik BBnya masih di garis hijau.

Baiklah saya tidak berniat membahas lebih jauh masalah BB, so mari kita kembali ke judul. Yup, kalau di cerita MPASI sebelumnya saya sudah bahas kenaikan tekstur maka di cerita MPASI kali ini saya tertarik menyinggung sedikit mengenai metode BLW. Alasannya tentu saja karena di usia 8 bulannya Bunay sudah bisa pegang makanan dan mememasukkan sendiri ke mulutnya tanpa perlu disuapi. Tapi apakah karena  alasan demikan saya benar-benar telah menerapkan metode BLW sepenuhnya pada MPASI Bunay? Eh kalau pertanyaan ini mah nggak perlu saya jelaskan lagi, jawabannya sudah jelas di atas.

Mengenal Baby Wead Leaning (BWL)


gambar : babyweadleaningideas.com

Baby Wead Leaning (BWL) adalah metode MPASI yang membiarkan bayi memilih dan memasukkan makanan ke dalam mulutnya sendiri. Jadi jika menerapkan metode BLW, orang tua tidak perlu ikut campur dalam proses pemberian makan bayi. Tugas orang tua di sini hanya sebagai fasilitator.

Dalam BLW makanan yang diberikan kepada bayi tidak dihaluskan atau disaring seperti puree melainkan diberi dalam bentuk utuh dengan ukuran yang disesuaikan dengan genggaman anak atau dikenal dengan istilah finger food. Namun teksturnya tentu saja harus lembut agar mudah dicerna bayi.

Of course, metode yang mengajarkan anak makan secara mandiri ini mungkin sudah tidak asing lagi di kalangan ibuk-ibuk millenial, malah BLW semakin populer di Indonesia. Apalagi semenjak penyanyi Andien menerapkan metode ini pada MPASI anaknya, Kawa.

But honestly, saya benar-benar asing dengan metode BLW. Selama ini kan saya tahunya bayi kalau makan ya di suapi. Jangankan bayi yang baru belajar makan, bayi yang sudah punya banyak gigi dan bisa jalan ke sana kemari saja kalau makan masih disuapi. Lha ini, ada satu metode yang membiarkan bayi makan sendiri bahkan bisa diterapkan sejak ia mulai MPASI. Benar-benar metode yang nggak masuk akal di pikiran saya saat itu.

Namun pikiran saya sekonyong-konyong berubah setelah membaca postingan tentang BLW di blog ranafiu.com. Saya yang tadinya sempat berpikir BLW adalah metode pemberian MPASI yang sangat tidak masuk akal jadi merasa takjub bahkan terpesona dengan metode ini. Sungguh, ini metode pemberian MPASI yang luar biasa dan begitu mengesankan. Betapa tidak?

Inti dari BLW adalah bayi makan secara alami, sesuai nalurinya. Metode ini membiarkan bayi memimpin sendiri proses makannya. Seberapa banyak makanan yang ingin ia lahap, kapan ia ingin makan, kapan ia mengakhiri makannya, bagaimana cara ia makan, apa yang ingin ia lakukan terhadap makanannya, muanya ditentukan sepenuhnya oleh si bayi. Yap, si bayi yang memiliki kontrol atas diri dan kemauannya terhadap makanan. Tugas orang tua cukup menyediakan makanan dan mengawasi si bayi pada saat makan.

Lantas mengapa metode pemberian MPASI dengan BLW bisa masuk akal?

Oke, kalau kita mengamati perkembangan bayi sejak ia lahir, kita dapat memahami bahwa setiap  bayi dapat berkembang lebih cepat ketika kita memberikan ia kesempatan untuk belajar. Agar bayi bisa cepat tummy time dan berguling-guling maka kita harus membiarkannya belajar sendiri dengan meletakkan di kasur. Begitu pula untuk proses merangkak, berdiri dan berjalan. Bayi harus diberi kesempatan untuk mengeksplorasi sendiri kemampuannya itu.

Lalu bagaimana dengan proses makan? Bahkan kita bisa lihat sendiri, bayi yang terlahir sehat dan tanpa kendala dalam proses persalinan ibunya bisa langsung merasakan IMD. Dimana dalam proses IMD, bayi diletakkan begitu saja di dada ibunya, kemudian dengan mengikuti naluri ia akan berusaha sendiri mencari sumber makanan lalu menghisapnya segera setelah berhasil mencapai puting ibunya.

Baca juga Pengalaman Inisiasi Menyusui Dini (IMD) yang Menakjubkan

Menjelang usia 6 bulan pun bayi sudah bisa meraih sesuatu lalu memasukkannya ke dalam mulut. Kita mengenal kebiasaan yang suka memasukkan jari maupun benda-benda di sekitarnya ke dalam mulut ini dengan istilah fase oral. Nah, bukannkah dari fase ini sudah jelas menunjukkan bahwa sebenarnya bayi memiliki kemampuan untuk makan sendiri berdasar nalurinya?

Plus Minus Metode Baby Lead Weaning (BLW)


gambar : mamapapa.id

Metode pemberian MPASI yang langsung mengenalkan bayi pada makanan padat ini memang tampak masuk akal namun tak dipungkiri kehadirannya juga mengundang kontroversi. Banyak yang pro namun tidak sedikit pula yang kontra dengan BLW karena seperti halnya metode lain, metode ini juga memiliki kelebihan dan   kekurangan.

Mereka yang pro BLW pastinya lebih melihat pada kelebihan dari metode ini, sebaliknya yang kontra justru terfokus pada kekurangannya. Nah, kalau kamu masuk tim yang mana nih, pro atau kontra? Kalau saya pribadi masuk tim netral saja, tidak pro tidak juga kontra dengan BLW. Ya, meski untuk makanan beratnya saya lebih memilih memberikan MPASI pada Bunay dengan metode active-respon feeding or spoon feeding sesuai dengan panduan MPASI WHO, namun untuk snack atau cemilannya baik berupa biskuit maupun buah sering saya berikan pada Bunay dengan dengan menerapkan metode BLW.

FYI, saya sebenarnya sudah menerapkan BLW, bahkan sedari Bunay mulai MPASI namun tidak totally. Jujur saja, saya memang tidak siap menerapkan BLW pada MPASI Bunay karena kekurangannya. Namun karena kelebihannya pula saya merasa tetap harus mengenalkan metode BLW walau saat itu Bunay baru belajar makan.

Jadi berdasarkan referensi yang saya baca, kelebihan dari metode BLW lebih banyak dibanding kekurangannya. Berikut beberapa plus dari metode BLW

Makan menjadi kegiatan yang menyenangkan

Kegiatan makan seharusnya menjadi kegiatan yang menyenangkan. Akan tetapi pada umumnya yang terjadi pada metode feeding konvensional justru sebaliknya. Anak kerap dipaksa untuk menghabiskan makanan yang mungkin tidak ia sukai atau ia tolak karena sudah kenyang. Sementara tidak sedikit orang khususnya si Ibu sampai pusing bahkan stress menghadapi anaknya yang tidak mau buka mulut atau sulit makan.

Keadaan seperti itu temukan dalam penerapan BLW karena metode ini benar-benar membebaskan anak makan sesuai keinginan dan nalurinya. Anak yang sepenuhnya memegang kendali terhadap makanannya. Tugas orang tua sebatas menyediakan makanan dan mengawasi anaknya saat makan.

Mengembangkan Potensi Bayi

Ada banyak potensi yang bisa berkembang saat bayi dibiarkan makan dengan mengambil dan menggenggam makanannya sendiri. Ketika ia mengambil makanannya, motorik halusnya akan terstimulasi. Lewat genggaman ia bisa mengekplorasi makanan dengan berbagai ukuran dan tekstur yang dapat meningkatkan kecekatannya. Begitupula ketika ia hendak memasukkan makanan ke dalam mulutnya, ia akan belajar koordinasi mata dan tangan. Hal tersebut konon dapat membantu keterampilannya dalam menulis dan menggambar nanti. Kegiatan mengunyah makanan padat yang disajikan dengan tekstur lembut pun dapat melatih otot-otot wajahnya yang akan berhubungan dengan proses belajar bicaranya kelak.

Mengatasi Gerakan Tutup Mulut (GTM)

Salah satu momok yang dikhawatirkan ibuk-ibuk ketika anaknya mulai MPASI adalah GTM, yakni gerakan si kecil yang tidak mau membuka mulut ketika disuapi. Aksi GTM si kecil ini sering sekali dihadapi Ibuk-ibuk terutama bagi mereka yang menerapkan pemberian MPASI secara konvensional atau spoon feeding.

Nah, metode BLW dianggap dapat mengatasi GTM karena terbukti tidak sedikit ibuk-ibuk yang mengaku setelah menerapkan metode ini anaknya yang sempat GTM jadi sangat menikmati makan. Hal ini tidaklah mengherankan karena ketika anak dibiarkan makan sendiri, ia akan bebas mengeksplorasi makanannya. Dari kegiatan eksplorasi tersebut anak pun bisa dengan mudah mengenali makanan apa yang ia sukai dan makanan apa yang tidak ia sukai.

Melatih Keterampilan Mengunyah Bayi

Jika metode spoon feeding lebih melatih keterampilan pada awal MPASI dengan makanan dalam bentuk puree maka metode BLW ini justru lebih mengutamakan keterampilan mengunyah dengan langsung mengenalkan si kecil makanan padat. Dan seperti yang kita ketahui, keterampilan mengunyah ini dapat merangsang pertumbuhan gigi bayi dengan cepat.

Mudah dan Praktis

Dibanding dengan spoon feeding, metode pemberian MPASI dengan BLW ini tentu jauh lebih mudah dan praktis. Kita tidak perlu memberikan makanan pada bayi dalam bentuk puree yang prosesnya harus dimasak dulu hingga jadi bubur lalu disaring atau dicincang untuk bayi yang sudah makan nasi tim. Kita juga tidak perlu repot-repot menyuapi bayi. Cukup sajikan makanan dalam bentuk padat dengan tekstur yang lembut agar mudah dikunyah bayi dan jangan lupa tetap awasi kegiatan bayi pada saat makan. Sesimple itu metode BLW.

Selain kelima poin di atas masih banyak lagi kelebihan BLW yang tidak perlu saya sebutkan semuanya (silakan kamu cari kelebihannya sendiri ya, hehe). Namun seperti yang sudah saya singgung, metode ini juga tidak luput dari kekurangan. Nah, sejauh ini dari beberapa referrnsi yang saya baca saya hanya menemukan tiga kekurangan dari BLW. Kekurangannya apa saja?

Tersedak

Bayi yang baru mulai belajar makan dan langsung dikenalkan dengan makanan padat tentu akan memiliki risiko tersedak lebih besar dibanding bayi yang diberi makanan lumat yang disaring. Meski bagi para praktisi BLW, hal ini seharusnya bukanlah menjadi kekurangan karena setiap bayi yang baru belajar makan pasti berisiko mengalami tersedak.

Orang tua pun seharusnya tidak perlu khawatir bila si bayi tersedak saat makan karena ia memiliki respons gagging, yakni respons alami si kecil untuk menangani makanan yang masuk terlalu jauh ke dalam mulutnya. Bunay sendiri sempat beberapa kali mengalami gagging. Saya ingat sekali waktu Bunay baru belajar makan di usia 6 bulan, saya dan ayahnya sudah memberikan cemilan finger food berupa buah pepaya. Nah, saat makan buah pepaya itu Bunay sempat tersedak dan bersuara “hoek”, tidak lama kemudian keluar dari mulutnya buah pepaya seukuran dadu. Duh, saya lihatnya sempat panik juga, untung saja Bunay berhasil mengeluarkan buah yang tidak dikunyahnya itu.

Meski demikian orang tua tetap harus mengawasi bayi pada saat makan karena selain gagging, adapula respons tersedak yang patut diwaspadai karena bila terjadi bayi tidak dapat bernapas. Saat bayi tersedak dan tidak bisa bernafas inilah yang disebut choking. Jadi berbeda ya antara gaggging dan choking.

Berantakan

Salah satu risiko yang juga harus ditanggung orang tua ketika menerapkan metode BLW adalah berantakan. Ya, kondisi si kecil bila dibiarkan makan sendiri pastinya akan berantakan. Tentu ketika disuguhkan makanan, ia tidak akan langsung melahap makanannya melainkan mengeksplorasinya terlebih dahulu. Menjadikan makanannya sebagai mainan sehingga tangan dan bagian tubuhnya yang lain pun akan belepotan.

Kekurangan nutrisi

Risiko yang satu ini merupan alasan utama mengapa banyak para dokter khususnya IDAI tidak menyarankan pemberian MPASI dengan metode BLW. Metode ini dianggap tidak dapat mencukupi kebutuhan nutrisi bayi karena biasanya menu yang dihidangkan dalam BLW adalah buat atau sayur yang dikukus sementara bayi juga sangat membutuhkan daging yang merupakan sumber zat besi utama.

Lalu mengapa tidak memilih untuk menerapkan metode BLW sepenuhnya saja pada MPASI Bunay, toh kelebihan dari metode ini lebih banyak daripada kekurangannya?

Bagi saya metode BLW bukan hanya menyangkut masalah pilihan melainkan juga kesiapan. Saya baru mengenal metode ini beberapa hari sebelum Bunay mulai memasuki masa MPASI. Belum terlambat memang namun butuh kesiapan ekstra bila saya benar-benar ingin menerapkan metode yang mengajarkan bayi makan secara mandiri ini. Apalagi saya tidak bisa mengambil keputusan sendiri karena ayahnya juga ikut terlibat. Ah, saya jadi ingat dengan drama yang terjadi menjelang MPASI Bunay hanya karena saya dan ayahnya berbeda pendapat terkait menu makanan pertama apa yang akan kami berikan pada Bunay.

Baca juga Menu Makanan Pertama : Menu Tunggal atau Menu 4 Bintang?

Yup, baru masalah menu makanan pertama saja kami sudah bertentangan, apalagi bila saya tambah dengan mengusulkan metode pemberian MPASI seperti BLW ini. Entah drama apa yang akan terjadi, hehe. Selain itu jujur saja, saya memang tidak siap menerima risiko yang akan terjadi bila saya ngotot menerapkan metode ini secara full dengan pengetahuan tentang BLW yang masih minim.

Untuk itu saya lebih memilih menggunakan metode pemberian MPASI sesuai panduan MPASI WHO dan juga direkomendasikan IDAI secara dominan. Namun sekali lagi bukan berarti saya kontra dengan BLW, karena tak dimungkiri ini metode pemberian MPASI yang sangat bagus, dimana bayi sejak pertama mengenal makanan selain ASI langsung diajarkan makan secara mandiri, mengikuti nalurinya. Makan menjadi proses belajar yang menyenangkan juga baginya sekaligus merupakan proses ia melatih mengembangkan potensi dirinya.

So far, menerapkan BLW atau tidak bukan hanya kembali pada pilihan masing-masing orang tua tetapi juga kembali pada kesiapan ayah, bunda dan tentu saja si Kecil. Jika kita ingin menerapkan metode ini memang sebaiknya dikombinasikan dengan metode konvensional. Ada pula yang berpendapat bahwa sebaiknya metode BLW baru dikenalkan anak setelah usianya menginjak 8 bulan, karena pada saat itu kondisi dan kemampuan si kecil sudah lebih siap untuk diajarkan makan secara mandiri.

Baiklah sekian dulu cerita MPASI Bunay 8 bulan yang menyinggung sedikit tentang BLW. Sampai jumpa di cerita MPASI Bunay selanjutnya dengan topik yang berbeda.

Salam,

@siskadwyta






You May Also Like

70 comments

  1. Betuul, kalo dipaksa malah anak-anak itu membuat gerakan tutup mulut.
    Jadi inget dulu kalo anakku makan agak rewel, aku nyalakan TV yang memutar film anak2 dan lagu2 anak *zaman dulu masih banyak tayangan lagu2 anak di TV :D Nonton itu sambil makan, cepet habis makannya haha.

    ReplyDelete
  2. Waktu zaman anak-anak saya masih kecil, belum ada teori semacam ini. Saya hanya menerapkan kalau makan itu harus duduk. Gak boleh sambil jalan. Kalaupun anak mau makan sendiri, saya bagi makanan menjadi 2 porsi. Satu buat dia makan sendiri, satunya lagi buat saya suapin. Karena ada kalanya anak-anak hanya memainkan makanannya. Jadinya, saya tetap masih nyuapin juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya pribadi gak mau ambil pusing sama pro kontra. Pokoknya yang penting udah tau manfaat dan resiko yang diambil

      Delete
  3. Yup, metodenya macam2 sih, yg penting anak dan ortu sama2 bahagia dan ikhlas :D
    Kalo MPASI, betul kata mba Siska kudu mengacu WHO aja
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  4. Hihiii Bunay disuapin sama neneknya ya, bwner banget pola pengasuhan nenek kan yang penting nyuapin kalo laper.
    Nah kalo BLW ini kubaru tau huahaaa, soalnya ga punya anak baby, jadinya lupa dan ga apdet.Makasih loh sharingnya, ku jadi tauu..

    ReplyDelete
  5. Iya nih, waktu di sebuah acara parenting ada yang nanya ke dokter anak tentang pendapatnya mengenai baby wead leaning.
    Menurut dokter bagus jika sesekali, namun jangan terus-terusan.
    Karena dengan bisa jadi anak kekurangan nutrisi

    ReplyDelete
  6. Memang seharusnya orang tua mengenal betul sistem yg akan diterapkan sebelum benar2 menerapkan pada Baby ya.. TFS mba, aku baru tahu tentang metode ini..hehe..

    ReplyDelete
  7. Telatenin anak buat MPASI itu nggak mudah. Tapi semua itu proses yang harus kita lewatin ya mba :)

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah, dulu semua anakku dikenalkan dengan ini. Walopun gak sering. Tapi bermanfaat banget buat anak-anak. Terutama dalam hal menyukai kegiatan makan. Yang akhirnya mengurangi GTM

    ReplyDelete
  9. Bungsuku dulu juga GTM tapi edukasi ke para ibu belum sebagus sekarang. Belum ada blog juga. Jadinya stress sendiri tiap nyuapin anak. Artikel seperti ini sangat bermanfaat untuk para ibu dengan balita.

    ReplyDelete
  10. Klo saya metode ini saya campur dengan suapan juga karena ia hanya menghabiskan apa yg ia suka saja kawatir apa yg ia makan belum sempurna gizinya

    ReplyDelete
  11. Waaah inspiratif sekali ini cerita MPASI Bunay 8 tahun. Jadi tahu perbedaan panduan MPASI menurut metode MPASI dari WHO dan metode BLW....ini cocok banget diketahui oleh ibu balita agar baby nya sehat dan tumbuh dengan asupan gizi yang didapat nya.

    ReplyDelete
  12. Saat anak masuk fase MPASI itu yang paling khatir saat GTM ya, berbagai cara dilakukan untuk mengatasinya. Ternyata pakaimetode BWL juga bisa diatasi ya, dulu aku pernah tau waktu anak pertama tapi kurang info jadinya gak bisa menerapkannya

    ReplyDelete
  13. aku sering baca pro kontra BLW ini tapi menurutku memang ini murni keputusan masing masing orang tua selama asupan nutrisinya bisa terjamin menurutku gak masalah, anakku juga sudah kuajari finger food sejak 7 bulan walaupun gak full BLW juga sih hehe

    ReplyDelete
  14. Sekarang banya metode dalam emngasuh baby ya salah satunya mengenai BLW. Kalau saya sendiri agak gimana sama BLW soale ya itu takut baby tersedak dan ga semua baby ngerti gangging. Tapi kalau biskuit baby ya suka dikasih sih soale gampang lumatnya.

    ReplyDelete
  15. Selalu akan ada pro dan kontra ya jika berkaitan dengan dunia parenting. Metode apapun yg dilakukan, asalkan kitanya mantap dan yakin, semoga saja membawa kebaikan untuk buah hati kita.

    ReplyDelete
  16. Setuju banget nih terutama makan hrs menyenangkan jd anak bakal hobi makan n ga trauma dgn salah satu jenis makanan.

    ReplyDelete
  17. Dimana mana pasti ada pro kontra soal BLW ini
    Apalagi jika dilakukan pada bayi yang masih usia di bawah 1 tahun
    Saya saja dulu sering konflik sama mertua soal ini

    ReplyDelete
  18. Bicara tentang tumbuh kembang anak memang selalu menarik dan ngga akan ada habisnya ya.. jadi kembali mengingat tentang BWL anakku yang saat ini sudah berusia 5 tahun.. ngga jauh beda dengan kakaknya sih.. referensi penting, tapi kesiapan orangtua dan anak itu sendiri yang jauh lebih penting ya mbak

    ReplyDelete
  19. Si kecilku juga sudah memasuki 8 bulan mbak dan artikelnya buat aku makin banyak belajar soal MPASI dan BLW ini, semula sih agak takut menerapkannya tapi sekarang sudah mulai sedikit-dikit dia pegang sendok dan memasukkan sendiri makanannya. Tapi kalau sudah kenyang biasanya piringnya dibalikin mbak haha

    ReplyDelete
  20. Aku kenal BLW setelah anak pertama MPASI trus tertarik deh. Buat anak kedua ingin coba cara ini karena melatih anak mandiri. Semoga enggak GTM yaa
    btw, kebolak-balik nih kepanjangannya BLW. Hehehe

    ReplyDelete
  21. Hoo saya baru tahu nih yang namanya BLW. Dan aku setuju sih lambat laun anak pasti akan merasakan tersedak dan harus paham juga apa itu tersedak serta penangannya. Sehat selalu bunay dan bundanya yaa!!

    ReplyDelete
  22. Jujur aku batu tahu BLW ini setelah anakku besar mba hehe. Sebelumnya mpasi ya seperti biasa disuapi aja. Andai udah tahu ini, mungkin aku jadi tertarik coba hehe.

    ReplyDelete
  23. kalau sekali - kali boleh lah menggunakan metode "baby wead leaning", tapi jangan tiap hari akh ... kotor dan berantakan banget lihatnya.

    ReplyDelete
  24. Dulu aku sempat mau coba BLW tapi Karena tinggal Di rumah nenek dan nenek ga suka nyag messy batal lah huhu padahal Blw ini menurut mengikuti naluri Ddn perkembangan motorik anak.

    ReplyDelete
  25. Yang bagus metode pemberian MPASI dipadu dengan Baby Wead Learning...

    ReplyDelete
  26. Huaaa ini yang lagi aku rasakan mba, babyku 9 bulan dan masih GTM aja. Mungkin bener sih aku ga boleh melanggar teori 30 menit itu makanya dia jadi trauma dan bosan. Abis kan sayang ya udah capek masak kalo gak diabisin sediih rasanya

    ReplyDelete
  27. Aku juga menerapkan metode ini sesekali karena aku pikir nutrisinya bisa saja kurang jika terus2an BLW. Karena anak2 memilih makanan saat itu. Tapi mungkin juga cara yang aku terapkan masih salah. Harus banyak belajar lagi aku.

    ReplyDelete
  28. Baru tau tentang BLW, kemaren2 MPASI nya aku suapi aja, biar nggak belepotan dll. Jadi makin paham aku nya mbak, besok kalo adek sudah 6 bulan bisa nih diterapin.

    ReplyDelete
  29. sebenarnya metode MPASI ini bagus2 cuma harus diseimbangkan dengan kemampuan masing-masing anak karena beda2 ya mbak

    ReplyDelete
  30. Nah bun mu tanya resiko tersedak yg perlu diwaspadainya lbh tinggi kan ya bahkan trsedak bisa juga menyebabkan kematian kan y daripda ngikutin panduan mpasi who. Nah, apa yg membuat bunda ttp melnjutkan BLW ini? Kalau untuk usia 8 bulan, memang makan cemilan juga sebaiknya udah langsung kita kasih k tangan anak ya. Biar anak belajar makan sendiri, menstimulasi sensorinya juga dll. Jdi bagian yang ini memang sama ya baik di BLW maupun metode mpasi menurut WHO juga

    ReplyDelete
  31. Pas anak saya MPASI dulu saya gak berani pake BLW ini, mbak. Ngeri gitu lihatnya kalau anak tersedak karena saya orang yang mudah panik kalau anak kenapa2. Akhirnya full spoon feeding sampe umur setahun. Sesekali saya kasih finger food.

    Andalan saya dulu perkedel 😀 karna bocil suka banget. Lagipula praktis xixixi.

    ReplyDelete
  32. Pas anakku masih bayi, aku nggak pakai metode ini mba. Tapi semua memang berbalik pada orangtua maisng-masing ya

    ReplyDelete
  33. Dulu anakku susah banget kalo makan sampai saya suapin sambil jalan keliling perumahan demi dia mau makan makanya suka sebel liat ibu2 yang gak sabar saat nyuapin anaknya..jngan dipksa deh anak bkin trauma

    ReplyDelete
  34. Pemberian MPASI ini memang seru yaa..
    Zamanku dulu..pas inet belum kaya sekarang, infonya dikit banget.
    Jadi antara anak pertama dan kedua, berbeda treatment.
    Jadi menurutku tetep yaa...otangtua boleh idealis, tapi tetap mengikuti kemampuan masing-masing anak.

    Untuk tahu gimana?
    Di cobakan masing-masing metode.

    Semoga tetap semangaaatt, Bunay...

    ReplyDelete
  35. metode BWl ini yang sering orang tua nggak sabaran ya karena passtinya berserak dan mulut celemotan. dulu sih biasanya saya yang harus telaten memunguti, seiring anak mulai besar, saya ajarkan untuk memunguti makanan yang berserak saat mereka makan. dan itu berhasil dan diterapkan hingga kini.

    ReplyDelete
  36. Anak saya 2 mbak, udah 8 th dan 11 th. Yg pertama dikenalkan cara makan konvensional dan yg kedua saya belajar BLW. Qadarullah anak kedua tdk picky eater sampai usia 8 th ini. Dia tahu kapan waktu makan. Sementara kakaknya picky eater banget, makan harus diingetin, disuruh berulang2.. Mungkin ini salah satu efek positif BLW ya.. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  37. Aku ijin bookmark ya mbaaa karena ak masih belajar banget soal konsep BLW ini yang masih ada beberapa pikiranku masih dilematis hehe

    ReplyDelete
  38. Tertarik banget sama sharing tentang BLW ini, nice info kak. Aku jadi tambah tau nih seputar Mpasi dan BLW ini.

    ReplyDelete
  39. jadi inget masa MPASI dulu deh, memang tricky tapi seru jadi rajin aktifitas di dapur demi si kecil makannya lahap.

    ReplyDelete
  40. Oh ini mamamnya BLW ya. Aku baru ngeh ini namanya BLW. Aku dulu sering ngasih makanan di piring anak terus dia maem sendiri.

    ReplyDelete
  41. Jadinya berantakan dan belemotan di mulutnya, tapi belajar lebih mandiri sejak dini ya, hihi. Yang penting sabar aja yak

    ReplyDelete
  42. Kalau aku, anak ke dua yang pernah aku praktekkan BLW,dikarenakan yang pertama malas makan ahirnya yang kedua aku bebasakan makan apa saja dan dibiasakan makan sendiri..alhamdulilah sekarang anak kedua ku mandiri sekali.

    ReplyDelete
  43. Yap makan jd menyenangkan. Biar anak ga GTM memang jam makan harus dibuat menyenangkan. Thanks for sharing.

    ReplyDelete
  44. Sama sis, ku juga campuran sih ngasih makan Julio. Jadi kadang juga kalau makan nasi tim aku kasih dia sepiring sendiri buat belajar makan plus ku punya piring sendiri buat menyuapi dia biar cepet haha.

    ReplyDelete
  45. Saya belum menikah apalagi punya bayi. Pengetahuan ini baru sekali buat saya.
    @perempuankopi

    ReplyDelete
  46. Keliatannya mudah ya tapi kalo gak terbiasa ya risih juga melihat makamam berceceran karena bayi makan sendiri. Harus beli kursi makannya juga tuh hehe

    ReplyDelete
  47. Lebih mandiri si anak kalo diajarkan disuruh makan sendiri walaupun buat mamanya peer untuk beresin nya hehehe

    ReplyDelete
  48. Hmmm, informasi yang bermanfaat banget ini euy. Persiapan kalau nanti punya baby sendiri. Heheh

    ReplyDelete
  49. Waaah trnyata butuh perjuangan bgt ya buat ibu klo mulai masuk mpasi. Aku kira lebih mudah. Maklum belum menikah dan puny anak.. semangat terus ya bun.

    ReplyDelete
  50. Terima kasih atas pengetahuan yang bernas ini. Mungkin Saya belum memerlukan sekarang, tapi suatu saat akan berguna.

    ReplyDelete
  51. BLW ini emang pro kontra ya di terapkannya sehingga akupun pake nyuapin sama blw juga kadang2kalau cemilan

    ReplyDelete
  52. aq kayanya yang gak mau pake metode blw ke anakku gak sanggup liat berantakannya makanan di meja di baju dilantai. Duhhh peer banget. Jd masih ttp pake nyuapin aja deh dan sabar2 sm gtm

    ReplyDelete
  53. zaman anak-anakku masih bayi, nggak paham teori ini, hanya tahu Mpasi diberikan setelah 6 bulan menyusui. Tapi aku pun kasih makanan padat, saat anaknya siap ngunyah :)

    ReplyDelete
  54. Iya mbak, pernah suatu hari saya ikutanseminar mini yang diadakan RS Deket rumah, katanya anak yang baru makan justru harus dibiarkan makan sendiri agar dia punya pengalaman yang menyenangkan saat makan. Biarkan aja berantakan, muka celemot, rambut kena makanan baju kotor karena dengan seluruh anggota tubuh anak kena makanan kerasa sensasinya dan itu akan jadi pengalaman pertama yang membuat anak ketagihan makan.gak ada lagi gtm deh .

    ReplyDelete
  55. Bermanfaat banget artikelnya kak, salut deh di usia bayi yang belum genap setahun, kk aktif nulis, jadi ngiri aku tuh. Btw mdh2an bsa bljr bxk hal ttg MPASI dari sini

    ReplyDelete
  56. Aku tahu trend BLW ini setelah anak anak aku besar mba. Jadi aku tidak mengalami masa MPASI lagi dengan BLW. Belum pernah juga sih baca review mendalam mengenai BLW, tapi dari segi positif nya memang anak jd mandiri.

    ReplyDelete
  57. Waktu denger soal teknik BLW, aku langsung praktekkin ke anakku di rumah ato di resto saat kami makan bersama. Etapi klo lagi main di rumah mertua mahh gak bisa dipraktekkin 😂

    ReplyDelete
  58. Dulu anak pertamaku suka pake gtm (gerakan tutup mulut) tapi anak yang kedua jauh lebih mudah

    ReplyDelete
  59. Apapun pilihan metode MPASI yg digunakan, yang jelas harus fun bagi anak dan ibunya. Jangan sampai metode yg sekiranya menjadi unggulan malah bikin stress dua-duanya ;)

    ReplyDelete
  60. menerapkan metode BWL memang penuh cerita ya mba. Aku dulu masih pakai puree dan membantu anak mengenal MPASI. BWLmemang seru bangeeet ya

    ReplyDelete
  61. Ini semua jadi pelajaran buat saya biar nantinya semakin mahir dalam mengasuh buah hati nantinya

    ReplyDelete
  62. Aku tau tentang metode ini tapi baru tau namanya tuh BWL atau BLW.. Dan aku sepertinya kalau nanti udah punya anak bakal lebih pro ke metode ini siih

    ReplyDelete
  63. Banyak ya metode mpasi..

    Mnrt syaa apapun metodenya yg penting anak nyaman , dan harus sehat juga higenis

    ReplyDelete
  64. Karena aku masih belum punya anak, kayaknya tips ini bisa kusimpen dulu untuk persiapan jadi orangtua beberapa tahun ke depan, hehe

    ReplyDelete
  65. Wah pengetahuan baru buat aku apalagi menikah ajah Belum apalagi anak he hehe . tapi ini pengetahuan buat masa depan nanti . baru tau istilah istilah kayak gini . jadi lebih punya persiapan

    ReplyDelete
  66. Bener nih metode blw ini minim gerakan tutup mulut. Sianak jaid seneng makan karena dia yang punya kendali atas makanannya. Tapi efeknya rumah jadi berantakan. Haha

    ReplyDelete
  67. Kalau aku kadang BWL kadang aku suapin kalau lagi terburu-buru apalagi pas ada tamu hehehe... Tapi, anak keduaku lebih seneng BWL, Mbak...

    ReplyDelete
  68. wah jadi ilmu buat aku nih suatu saat nanti. biar anak ngga ikutan jadi gerakan tutup mulut🙈

    ReplyDelete
  69. saya seorang ibu yang minim pengetahuan seputar MPASI, apalagi ini pengalaman saya yang pertama menjadi seorang ibu
    jadi biasanya saka suka search di google atai bertanya ke teman. takutmya nanti saya salah memberi menu makanan tambahan untuk anak saya.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.