Menyusui Saat Hamil, Why Not?

By Siska Dwyta - Tuesday, September 03, 2019


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Menyusui Saat  Hamil, Why Not? Usia Zhafran baru menginjak delapan bulan saat saya mendapati hasil test pack menunjukkan dua garis merah. Yap, saya hamil lagi saat usia Zhafran bahkan belum genap setahun. Tentu saja, saya bahagia menyambut kehamilan tersebut. Walau bagi kebanyakan ibuk-ibuk biasanya justru akan bereraksi sebaliknya ketika mendapati dirinya hamil lagi sementara ia masih mengasuh bayi atau balita.

Baca juga Kehamilan Kedua
Sedih, kecewa, marah lalu akhirnya baru bisa ikhlas, itu reaksi yang wajar. Toh, memang tidak semua ibu menginginkan kehamilan jarak dekat. Malah mungkin mereka yang bakal menganggap saya aneh, kebobolan kok bahagia? Eits, tunggu dulu, siapa bilang saya kebobolan. I know, istilah kebobolan sudah sangat lekat bagi kehamilan kedua, ketiga, dst. Namun bukan berarti semua kehamilan yang jaraknya berdekatan itu termasuk kebobolan.

Ada lho ibuk-ibuk yang selepas melahirkan sengaja nggak mau KB dengan alat kontrasepsi karena pengen bisa segera hamil lagi (nunjuk diri sendiri). Iyes, saya tidak menganggap kehamilan kedua saya ini kebobolan, karena saya memang tidak KB. Kecuali kalau saya sudah pake alat kontrasepsi canggih tapi tetap hamil lagi, nah itu baru cocok disebut kebobolan.

Etapi saya pribadi sih nggak sreg dengan istilah kebobolan. Kenapa? Karena kehamilan itu adalah rejeki dari Tuhan. Allaah yang kasih. Jadi mau KB atau nggak, kalau Allaah kasih rejeki lagi berupa janin di rahim kita ya harusnya tetap disyukuri, sekalipun kita tidak merencanakannya.

Nah, masalahnya bagaimana dengan si Kakak yang masih membutuhkan asupan ASI? Bagaimana dengan proses menyusui si Kakak ke depannya sementara ibu dalam keadaan hamil? Bukankah si Kakak masih punya hak  untuk mendapatkan ASI hingga umurnya dua tahun?

Benarkah Ibu Hamil Tidak Boleh Menyusui?


gambar : alodokter.com

Jujur saja, saat menginginkan kehamilan kedua saya sungguh tidak memikirkan lebih jauh terkait bagaimana proses menyusui Zhafran nantinya. Bahkan tidak terlintas sama sekali di benak saya kalau kehamilan ini bisa berisiko membuat ASI saya menjadi tidak lancar. Yah, walau sebenarnya saya sudah pernah baca sekilas dan tahu kalau perubahan hormon kehamilan dapat menurunkan produksi ASI. Bukan cuma menurunkan produksi ASI saja
, pada sebagian ibu malah ada yang produksi ASInya benar-benar terhenti saat hamil.

Selain produksi ASI yang menurun, rasa ASI juga bisa berubah lho, karena pada saat usia kehamilan menginjak trimester dua, tubuh bumil akan memproduksi kolostrum. Nah, dari beberapa referensi yang saya baca, rasa kolostrum ini tidak semanis ASI yang biasanya diminum bayi. Perubahan tersebut menyebabkan sebagian bayi mulai kekurangan minat terhadap menyusu. Bahkan ada bayi yang sampai berhenti menyusu karena tidak suka dengan rasanya. Namun tidak sedikit juga bayi yang mengabaikan perubahan rasa tersebut dan memilih tetap menyusu. TIdak masalah sih kalau bayi kita termasuk tipe yang tidak peduli dengan perubahan rasa ASI saat kita hamil, tapi bagaimana kalau yang terjadi sebaliknya? Ah, mengapa saya benar-benar luput dengan hal sepenting ini.


Tak dimungkiri, banyak sekali tantangan yang bakal kita hadapi bila ingin menyusui saat hamil. Terlebih, tantangan tersebut bukan cuma berasal dari diri kita sendiri melainkan juga dari orang-orang di sekitar. Baik dari keluarga saya maupun keluarga suami juga  menentang saya untuk lanjut menyusui. Mereka malah menyarankan saya untuk menyapih dini Zhafran. Oh No. Syukurnya suami masih mendukung istrinya ini untuk tetap menyusui meski tidak sepenuhnya karena produksi ASI saya yang semenjak hamil semakin seret.

As we know, menyusui saat hamil masih merupakan hal yang tabu di kalangan masyarakat.

Terbukti dengan banyaknya mitos-mitos yang beredar seputar bahayanya menyusui saat hamil, di antaranya ;
  • Ibu hamil ASInya akan basi atau ada juga yang bilang berubah menjadi darah sehingga tidak boleh diberikan kepada kakak
  • Menyusui saat hamil akan menghambat perkembangan janin atau membuat janin tumbuh cacat
  • Menyusui saat hamil dapat membuat si Kakak jadi idiot, karena ASI-nya bisa meracuni, dan lain sebagainya

Duh, ada-ada saja ya mitos yang beredar di masyarakat. Pantesan, banyak orang tua yang melarang anaknya menyusui dalam keadaan hamil. Mereka sudah keburu makan mitos turun temurun duluan, sih. Bersyukur, saya hidup di era sekarang dimana akses untuk mendapatkan berbagai informasi yang ilmiah terbuka lebar, sehingga saya pun tidak mudah termakan mitos.


Etapi meski demikian, ternyata masih banyak juga lho ibuk-ibuk millenial yang percaya mentah-mentah dengan mitos-mitos tersebut. Alhasil, mereka serta merta lebih memilih untuk menyapih dini si Kakak. Padahal faktanya menyusui bukanlah hal yang membahayakan selama kehamilan si Ibu berjalan normal dan sehat. Jadi sebenarnya tidak ada alasan bagi ibu yang kehamilannya baik-baik saja untuk menyapih bayinya yang lebih tua, apalagi bila si Bayi tersebut masih ingin menyusui. Namun ada baiknya sebelum memutuskan untuk menyusui saat hamil, konsultasikan dulu dengan dokter kandungan atau pastikan dulu apakah kondisi ibu sudah memenuhi syarat-syarat untuk bisa NWP atau tidak.

Syarat-Syarat Menyusui Saat Hamil


Siapa bilang ibu hamil tidak boleh menyusui? Boleh kok, tapi memang ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi bumil ketika ingin tetap menyusui anaknya yang masih berumur di bawah dua tahun

Oya, menyusui saat hamil ini juga sering dikenal dengan istilah NWP (nursing while pregnant). Saya pun baru tahu istilah ini setelah mencari-cari informasi seputar menyusui saat hamil, termasuk pengalaman dari ibuk-ibu yang pernah menjalani NWP. Sampai akhirnya saya bertemu dengan postingan dari akun FB Ade Ummi.

Maa syaa Allaah baca pengalaman Mbak Ade,  plus komentar-komentar di postingan tersebut bikin saya semakin pede untuk menjalankan NWP.  Yap, saya pede ingin tetap menyusui Zhafran karena merasa telah memenuhi syarat-syarat NWP. Selain itu saya juga bersyukur karena kehamilan kedua ini tidak seperti saat hamil Zhafran, yang mual muntahnya parah banget plus kehilangan nafsu makan di trimester awal. Kalau kehamilan sekarang alhamdulillaah, mual muntahnya cuma sekali-kali doang, nafsu makan pun tidak berkurang malah yang ada saya lahap sekali makannya.

Nah, syarat NWP apa-apa saja?

gambar : Akun FB Ade Ummi ( Sales Asi)

✔Tidak ada riwayat keguguran
Apakah saya pernah mengalami keguguran? Alhamdulillaah tidak.

✔Tidak ada riwayat melahirkan prematur
Yup, Zhafran lahir di usia 38w6d dengan BB normal

✔Tidak ada kontraksi dini
Yes, saya baru merasakan kontraksi hebat menjelang persalinan

✔Tidak kontraksi berlebihan saat menyusui
Kadang-kadang saja sih perut mendadak kencang atau nyeri gitu saat menyusui Zhafran tapi tidak berlebihan

✔Tidak kontraksi terus menerus saat menyusui apalagi sampai keluar flek
Syukur alhamdulillaah selama menyusui Zhafran saya tidak mengalami hal ini

❌Wajib berkonsultasi dengan dokter
Poin yang satu ini terpaksa harus saya skip. Bukan karena nggak mau konsultasi, saya malah suka banget kalau bisa tanya-tanya terlebih dahulu ke dokter sebelum memutuskan untuk NWP. Sayangnya waktu trimester awal saya masih LDM dengan suami, jadi nggak ada kesempatan ke dokter. USG saja baru sempatnya setelah usia kandungan saya memasuki 19 weeks. Lagipula kondisi saya selama menyusui saat hamil baik-baik saja jadi ya sudahlah.

✔Jaga asupan cairan dan gizi
Waktu awal-awal  NWP, tubuh saya memang mudah banget lemas. Kekurangan cairan atau terlambat makan saja bisa bikin tubuh saya langsung tekor. Jadi selama NWP ini saya berusaha untuk menjaga cairan dan gizi karena larinya bukan cuma ke saya saja tapi ke Zhafran dan adiknya yang masih dalam perut.

Itulah beberapa syarat yang sumbernya saya ambil dari postingan di FB Ade Ummi terkait NWP. Jadi sebelum memutuskan untuk NWP sebaiknya bumil pastikan dulu telah memenuhi syarat-syarat di atas, karena kemungkinan terjadi  keguguran saat NWP bisa saja terjadi.

Tips Menyusui Saat Hamil


gambar : hallosehat.com

Kehamilan bukanlah penghalang bagi ibu yang tetap ingin menyusui anaknya yang lebih tua. Jadi semestinya ibu yang hamil tidak langsung menyapih si Kakak, apalagi bila si Kakak berumur di bawah 6 bulan karena umur segitu ASI masih menjadi yang utama. Begitupula untuk bayi yang berumur di bawah 1 tahun sekalipun sudah MPASI, ASI tetap menjadi prioritas.

Well, saya akui menjalankan NWP memang tidak mudah. Banyak sekali tantangannya. Tantangan terberat yang saya rasakan sendiri selama menjalankan NWP adalah kondisi ASI saya yang tidak lagi bisa mengenyangkan Zhafran di malam hari. Efeknya Zhafran sering terbangun dan rewel di tengah malam. Untuk mengatasi rasa laparnya itu, awalnya saya masih bantu dengan air putih sampai akhirnya dengan sangat-sangat terpaksa di usia 11 bulan menjelang setahun saya mengalah dan membiarkan Zhafran minum susu selain susu bundanya.

Pasalnya BB Zhafran beberapa bulan belakangan terakhir ini tidak naik meskipun status gizinya normal. malah saya cek grafiknya di aplikasi primaku sudah masuk garis kuning. Selain itu, minatnya minum ASI juga mulai berkurang mungkin karena dia tidak suka dengan rasa ASI saya yang berubah di trimester dua ini.

Seperti yang sudah saya singgung di atas, memasuki trimester dua, tubuh bumil akan memproduksi kolostrum sehingga rasa ASI akan berubah. Perubahan rasa ASI ini bukan mitos ya tapi fakta. Kalau ada yang bilang ASI basi atau ASI akan berubah jadi racun saat ibu hamil itu yang namanya mitos. Nah, kemungkinan reaksi yang terjadi pada bayi saat perubahan ASI ini ada dua, bayi menolak menyusu (self-weaning) atau malah makin lengket.

Reaksi Zhafran gimana? Saya harapnya sih dia bisa cuek dengan perubahan rasa ASI tersebut dan makin lengket dengan saya, tapi yang terjadi malah sebaliknya.  Syukurnya reaksi Zhafran nggak sampai yang benar-benar ingin berhenti menyusu. Jadi sampai saat ini saya masih menyusui Zhafran meski dibantu dengan susu lain.
Langkah ini pun seharusnya saya dan suami ambil setelah berkonsultasi dengan dokter tapi lagi-lagi ter-skip.

Intinya, Bunda yang mengalami kondisi seperti saya, hamil saat si Kakak masih masa menyusui, nggak perlu galau bin khawatir berlebihan. Nggak perlu juga terburu-buru untuk menyapih si Kakak, apalagi bila si Kakaknya masih mau menyusu dan Bunda nggak punya permasalahan seperti saya yang sampai harus dibantu dengan susu pertumbuhan.

So, ini sekadar tips dari saya buat Bunda yang ingin menjalakan NWP :

Pastikan kondisi Bunda memenuhi syarat-syarat NWP. Kalau misalkan ada salah satu syarat yang tidak terpenuhi seperti pernah keguguran atau melahirkan prematur, Bunda WAJIB banget konsultasi sama dokter terlebih dahulu sebelum memutuskan NWP. Kalau dokter membolehkan silakan NWP, silakan tapi kalau dilarang sebaiknya jangan memaksakan diri ya.

Banyak baca referensi-referensi ilmiah serta pengalaman-pengalaman ibu-ibu yang menjalankan NWP. You must know, Bunda tidak sendiri karena di luar sana ternyata banyak juga Bunda yang menjalankan NWP dan mereka berhasil.

Jangan percaya mitos-mitos seputar menyusui saat hamil yang katanya berbahayalah, basilah, racunlah, apalah-apalah. Karena faktanya justru menyusui saat hamil sangat dianjurkan oleh para ahli selama kondisi kehamilan Bunda berjalan normal dan sehat.

Tidak usah peduli dengan saran orang-orang sekitar, yang menyuruh kamu untuk segera menyapih si Kakak, even saran itu datangnya dari orang tua, mertua atau saudara kamu sendiri. Maksud mereka mungkin baik ya tapi kalau memang kondisi kamu memenuhi syarat untuk NWP, why not?

Support system dari orang-orang sekitar terutama keluarga memang penting banget bagi ibu yang menjalankan NWP. Sayangnya justru keluarga sendiri yang biasa menentang kita untuk melanjutkan menyusui selagi hamil. So, meskipun keluarga menentang, kamu pastikan saja suami mendungkan. For me, support system dari suami itu yang paling utama. Asal suami mendukung saja, saya sudah bahagia sekali. Sekalipun, keluarga saya yang lain nggak mendukung saya buat NWP.

Pastikan Bunda jaga asupan cairan dan gizi dengan baik ya, karena apa yang Bunda makan dan minum larinya bukan ke tubuh Bunda sendiri, tapi ke Kakak dan adeknya yang dalam perut juga. Mengutip apa yang dituliskan Mbak Ade Ummi di postingan FBnya terkait NWP, saat ia mengikuti kelas ASI AIMI, dr.Annisa Karnadi, IBCLC bilang (kurleb) "Maasyaa Allaah, luar biasa, kalau NWP, OTOMATIS TUBUH KITA TERBAGI JADI 3 JALUR ASUPAN, untuk Ibunya, Janinnya dan Kakaknya. Tapi kalau asupannya tidak dijaga, asal-asalan, nanti tubuh si Ibu-lah yg akan tekor. Jadi ingat menjaga asupan saat NWP ini penting bangeeet.

Terakhir, lagi-lagi saya ingin mengutip kata Mbak Ade, NWP memang tidak mudah, tapi jika Allaah sudah memberi, itu salah satu tanda bahwa kita mampu menjalani NWP.  Namun jika kenyataannya si Kakak berhenti, anggaplah rezeki ASI kakak hanya sekian dan pasti itu yang terbaik untuk kita semua 😊

Semangat Menjalankan NWP.

Salam,

@siskadwyta

  • Share:

You Might Also Like

1 comments

  1. Tidak setuju dengan istilah kebobolan. n_n . Soalnya Sekehendak Tuhan dan suami istri

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.