Agar Depresi Tak Berujung Bunuh Diri

by - Sunday, October 20, 2019


Bismilaahirrahmaanirrahiim

Agar Depresi Tak Berujung Bunuh Diri. Memasuki bulan Oktober ini dunia maya sempat dihebohkan dengan kasus bunuh diri yang dilakukan oleh salah satu artis asal negeri Ginseng. Saya nggak kenal sih sama artisnya tapi tentu saja kasus serupa ini juga menarik perhatian saya. Terutama terkait alasan dibalik mengapa sang artis sampai nekat mengakhiri hidupnya sendiri.

You know why? Dulu, kalau dengar kasus bunuh diri, apalagi kalau pelakunya masih muda cewek pula, pasti alasannya tidak jauh-jauh dari persoalan asmara. Teman saya semasa SMA juga ada lho yang memutuskan mengakhiri hidupnya hanya gara-gara cinta.

But now? Bukan hanya masalah cinta yang bisa bikin seseorang yang masih dalam usia produktif sampai berpikiran sempit dan mengambil jalan pintas dengan cara bunuh diri. Ternyata masih ada yang lebih kejam daripada cinta. Apa itu?

Media sosial. Yup, kabarnya alasan si artis ini bunuh diri karena sering dibully oleh para netizen (baca haters) di akun media sosialnya. See! Betapa komentar-komentar yang berserakan di media sosial mampu membunuh seseorang. Separah itu dampak negatif yang ditimbulkan dari dunia maya.

But well, di postingan ini saya tidak ingin membahas lebih jauh terkait dampak negatif dari media sosial dan hubungannya dengan bullying atau perundungan. I just wanna share materi Kulwap dengan tema Kesehatan Mental dibawakan oleh dokter Ismi Prastaswati (alumni Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa UGM) di grup KELASI beberapa hari lalu.

Lho apa hubungannya kesehatan mental dengan kasus bunuh diri? Yuk kita simak langsung materinya.

Tanggal 10 Oktober kemarin kita memperingati hari kesehatan mental sedunia, dimana fokus dunia ke arah kesehatan mental khususnya depresi pencegahan bunuh diri. Kasus bunuh diri sudah menjadi masalah kita bersama, dimana 60% kasus akibat depresi. Setiap kita menghitung 40 detik maka ada 1 orang di dunia bunuh diri. Setiap 30 detik ada yang melakukan percobaan bunuh diri.

Apa Itu Depresi?


gambar : brilio.net

Depresi adalah kondisi suasana perasaan sedih yang berlangsung lebih dari 2 minggu. Orang-orang yang mengalami depresi dapat mengalami perasaan sedih, marah, mudah lelah, putus asa yang sangat dalam dan juga berbagai gejala lain seperti kehilangan minat, merasa tidak berguna dan paling parahnya sampai terlintas keinginan untuk bunuh diri.

Pertanyaan yang muncul kemudian, apakah bila kita sedih karena sesuatu langsung bisa dikatakan depresi? Terrnyata tidak. Depresi dibedakan dengan beberapa kriteria diagnosa dan durasinya lebih dari 2 minggu dengan gejala penyerta dan gangguan fungsi peran sehari-hari. Jadi tidak semua reaksi sedih normal bisa dikatakan depresi.

Bicara tentang depresi saya jadi ingat dengan kondisi psikologis yang rentan dialami oleh seroang ibu setelah melahirkan. Yang mulanya hanya ditandai dengan baby blues namun umumnya kondisi ini hanya berlangsung paling lama dua pekan. Pantes ya bila ada seorang ibu yang pasca melahirkan mengalami kesedihan berlarut-larut dan perubahan mood tak seperti biasanya hingga lebih dari dua pekan maka kondisinya itu bukan termasuk baby blues, melainkan sudah sampai pada tahap depresi.


Nah, menurut dokter Ismi gambaran seseorang yang mengalami depresi seperti warna abu-abu surat. Begitulah suasana perasaan seseorang yang mengalami depresi. Semua terasa gelap, seperti tidak ada jalan keluar. Nampak bahagia di luar namun merasa sendirian di dunia.

That's right, saya pun pernah merasakan depresi jadi saya tahu benar apa yang saya alami saat itu. Saya kehilangan mimpi. Saya kehilangan semangat hidup. Setiap pagi saya terbangun dalam keadaan hampa, seolah tak ada lagi hal menarik yang dapat saya lakukan di dunia ini. Hidup saya benar-benar gelap. Syukurnya saya bisa keluar dari penjara gelap itu.


You must know, depresi bisa mengenai siapa saja tanpa batasan profesi, umur, sosial, ekonomi, dll. Yap, semua orang bisa terkena depresi ringan, sedang dan berat, apapun profesinya, berapapun umurnya, siapapun dia.

Faktor-Faktor Depresi


Depresi yang dialami seseorang tentu tidak muncul begitu saja, pasti ada pemicunya. Berikut beberapa faktor depresi yang saya kutip dari materi Kulwap dokter Ismi;

Faktor Pencetus Depresi

  • Loss of trheated loss of major source gratification (Kehilangan sumber semangat hidup, seperti suami meninggal, istri minta cerai, anak sakit, orang tua meninggal, dsb)
  • Loss of basic security (Kehilangan pangkat, jabatan, ekonomi, dll)
  • Hostile (rasa permusuhan)
  • Impulse
  • Increase guilty feeling (meningkatnya perasaan bersalah)
  • Decrease ego defence or ego adaptation (saat mengalami kelelahan atau gangguan somatis lainnya

Faktor yang Berkaitan dengan Prevalensi Depresi di Indonesia

  • Usia muda
  • Mempunyai masalah terkait penyakit kronis
  • Persepsi ketidakcukupan ekonomi
  • Bencana alam
  • Merasa lingkungan tidak aman
  • Kurangnya aktivitas fisik
  • Penyalahgunaan zat

Adapun Riset Kesehatan Dasar oleh Kemenkes 2018, hanya 9% dari 100% orang dengan depresi yang menjalani pengobatan. Banyak yang tidak terdeteksi dan takut menjalani pengobatan karena stigma atau takut mendapat label jelek dari masyarakat.

Apa yang Bisa Kita Lakukan terhadap Keluarga, Teman atau Kerabat yang Mengalami Depresi?


WHO menyarankan kita peduli dengan sekitar kita. Selain itu, kita bisa juga menerapkan program PFA. Apa itu PFA (Pshycological First Aid)? .

Psychological first aid (PFA) adalah tindakan suportif dan manusiawi, berupa dukungan sosial, emosional, atau praktis yang diberikan terhadap seseorang yang mengalami peristiwa krisis

Program PFA  ini oleh WHO awalnya sering dipakai saat terjadi bencana, namun ibarat P3K pada kecelakan. PFA ini merupakan pertolongan pertama pada kesehatan mental yang semua orang bisa melakukan, tidak hanya tenaga medis, semua orang (termasuk kita)

Namun perlu diingat, bila ingin melakukan PFA ada prinsip dan etika yang perlu kita perhatikan.

Apa prinsipnya?

Look, listen and link. WHO mengembangkan tiga prinsip dasar yang menjadi pedoman dalam memberikan psychological first aid, yaitu look (lihat), listen (dengar), dan link (terhubung). Look menjelaskan pentingnya untuk melihat, mengamati dan memastikan situasi darurat yang dimasuki sudah aman. Listen menjelaskan pentingnya untuk mendengarkan dan memahami apa yang dibutuhkan oleh korban. Link menjelaskan pentingnya penyediaan informasi agar korban terhubung dengan informasi atau bantuan praktis yang dibutuhkan.

Apa etikanya?

Berikut panduan Etika PFA

Do's

  • Jujur
  • Menghormati
  • Hati-hati dengan penilaian kita
  • Jelaskan, walau mereka menolak bantuan kita sekarang, ke depan mereka tetap bisa dapat bantuan lagi
  • Menjaga kerahasiaan
  • Bersikap sopan dan sesuai budaya setempat

Dont's

  • Mengeksploitasi hubungan sebagai "helper"
  • Jangan meminta imbalan
  • Jangan berjanji atau memberikan info palsu
  • Jangan terlalu memaksakan diri
  • Memaksa orang bercerita kisahnya
  • Menceritakan kisah orang kepada orang lain
  • Jangan menghakimi

Akhirnya memang harapan kita menjadi manusia yang sehat secara fisik dan jiwa dengan hal-hal kecil namun bisa membantu kita mengurangi resiko mengalami masalah kesehatan mental.

Walaupun depresi merupakan gangguan yang bisa membaik dengan sendirinya namun harapannya tidak berlarut menjadi depresi yang berat dan menjadi gangguan jiwa berat bahkan sampai dengan risiko bunuh diri.

Q n A Seputar Depresi dan Kesehatan Mental


Seperti biasa, namanya Kulwap pasti ada sesi tanya jawabnya. Berikut tujuh pertanyaan yang mssuk beserta jawaban singkat dan jelas dari dokter Ismi.

1. Kalau kita merasa susah untuk memperbaiki diri apakah itu merupakan gejala gangguan kejiwaan?

Alhamdulillah Allah menciptakan makhluknya mempunyai sel otak yang fleksibel dan selalu ada harapan untuk bisa diubah walaupun perubahan setiap orang berbeda beda kebutuhan waktunya. Semakin muda umurnya semakin mudah dan kesulitan mengubah bukan gejala gangguan jiwa.

2. Bagaimana sebaiknya sikap yang tepat jika kita merupakan keluarga dari OGDJ (Orang dengan Gangguan Jiwa) 

Yang pertama kali tentu kita harus menerima apapun kondisi anggota keluarga kita. Kita sayangi karena mereka juga mempunyai perasaan dan tahu saat anggota keluarganya memberikan kasih sayang dan perhatian.

Kemudian menciptakan suasana yang nyaman dan tidak mengucilkan, ajak bersama dalam kegiatan sehari-hari walaupun sederhana dan jangan lupa tetap dukung ia dalam proses pengobatan

3. Apakah itu delusi?

Gangguan isi pikiran berupa suatu keyakinan palsu dalam diri seseorang yang diyakini dan pasien hidup dalam keyakinannya itu dalam keseharian 

Contoh : 
seseorang merasa menjadi titisan raja, maka penderita berperilaku seolah-olah raja, berbicara dengan gaya raja, dll

Delusi adalah *waham* dengan jenis yg bermacam-macam.

Ngomong-ngomong soal delusi, kondisi seperti ini juga kerap menyerang seorang ibu paska melahirkan. Of course, kalau seseorang sudah mengalami delusi itu bahaya banget. Mungkin kamu juga sering dengar kasus seorang ibu yang tega membunuh bayinya. Padahal kalau kita selidiki lebih jauh, si ibu tersebut bukannya tega tapi memang karena kondisinya yang dalam keadaan tidak sadar.

Seperti kasus bayi usia tiga bulan yang meregang nyawa di tangan ibunya sendiri awal September kemarin. Ketika diselidiki oleh pihak kepolisian, si ibu mengaku membunuh bayinya sendiri karena mendapat bisikan. Nah, pengakuan si ibu ini sudah jelas mengarah pada delusi dan kemungkinan besar kondisi psikologis yang dialaminya sudah sampai pada tahap pshychosis.


4. Apakah rasa senantiasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri bisa jadi pemicu depresi? Apabila bisa menjadi pemicu kapan sebaiknya berobat/berkonsultasi dengan psikolog atau dokter sp jiwa?

Bisa, bilamana kondisi tersebut sudah menimbulkan penderitaan pada seseorang, artinya sudah mengganggu fungsi dan peran sehari-hari seseorang.

Misalnya pada seorang ibu rumah tangga karena perasaan sedihnya yang berlangsung lama membuat si ibu sudah tidak bisa memasak, sering lupa dan tidak mau merawat anak-anaknya, dll.

5. Kapan cemas dikatakan wajar, kapan cemas mulai 'berbahaya'?

Cemas untuk hal dan kondisi yang orang lain pun merasakan hal yang sama itu masih wajar. Misalkan saat akan ujian kita cemas, itu wajar. Saat kita akan maju berpidato, wajar. Namun bila rasa cemas itu tanpa sebab yang jelas muncul dan frekuensinya sering sehingga mengganggu maka perlu dikonsultasikan lebih lanjut.

6. Apabila kita memiliki gejala depresi yang sifatnya ringan, seperti kadang muncul dan kadang hilang apa yang harus kita lakukan di awal agar tidak mengganggu aktivitas dan bisa menjadi pribadi yang bahagia?

Depresi pada dasarnya mirip sakit flu dalam kondisi yang ringan maka kita akan bisa beradaptasi sendiri dan sembuh dengan sendirinya. Kembali ke kegiatan-kegiatan yang positif, yang bisa menjadi pilihan seperti olahraga, silaturahmi, hobi, dkk.

7. Apakah anak-anak bisa mengalami depresi?

Bisa, namun gejalanya berbeda dengan orang dewasa. Anak-anak yang depresi sering mengalami perubahan perilaku, misal mogok makan, mogok sekolah, menjadi menentang, menjadi pendiam, dll.

Kasus bunuh diri bukanlah hal yang baru. Seperti yang dipaparkan WHO setiap 40 detik di dunia ada orang yang melakukan tindakan bunuh diri. Mirisnya, 60% persen kasus bunuh diri khususnya di Indonesia terjadi karena depresi.

That's why, masalah kesehatan mental ini penting sekali. Saking pentingnya sampai ada yang namanya Hari Kesehatan Mental Sedunia. Sayangnya, permasalahan kesehatan mental di Indonesia sendiri masih kurang mendapat perhatian. Tak heran bila kasus bunuh diri akibat depresi di negeri tercinta kita ini cukup tinggi. Padahal pendeteksian depresi sebenarnya sudah bisa dilakukan sejak dini oleh orang orang terdekat atau bahkan oleh diri kita sendiri.

Well, depresi merupakan gangguan yang bisa membaik dengan sendirinya namun seperti yang disampaikan dokter Ismi, harapannya tidak berlarut menjadi depresi yang berat seperti mengalami gangguan jiwa bahkan sampai dengan risiko bunuh diri.

So, agar depresi yang dialami oleh seseorang baik itu keluarga, saudara, teman, kerabat maupun artis idola kita tidak berujung dengan tindakan bunuh diri, kita punya peran untuk mencegahnya.

Yup, semua orang bisa menjadi psikolog untuk pertolongan pertama dengan prinsip, LIHAT, DENGARKAN dan HUBUNGKAN (kader, tokoh masyarakat, keluarga atau dokter) dan pahami etikanya. Cukup dengarkan jangan memaksa untuk KEPO, apalagi sampai ikut-ikutan bullyng.

Sekali lagi, semua mempunyai peran besar dalam pencegahan depresi. Bukan hanya saya, kami tetapi KITA SEMUA.


Sekian sharing Kulwap dengan tema Kesehatan Mental yang dibawakan oleh dokter Ismi di WAG Kelasi. Semoga bermanfaat.

Salam,

You May Also Like

19 comments

  1. Paling nyebelin kalo ada orang yang depresi, malah dicengin / diejek segala macem. Giliran orangnya bunuh diri baru deh pada panik.

    -Fajarwalker.com

    ReplyDelete
  2. Wah, thanks for sharing. Awal tahun lalu aku ingin share soal mental health tapi batal mulu. Tulisan Siska lengkap sekali. Aku jg pernah stres dan hampir depresi, tapi Alhamdulillah, bisa jadi salah satu manfaat nulis adalah jd cara refleksi thdp diri sendiri. Akhirnya mikir gimana caranya pulih. Semoga kita jadi lebih peka sama sekitar dan bisa bersikap baik ke semua orang ya. Karena kita gak pernah tahu apa yang sudah dialami org lain selama hidupnya.

    ReplyDelete
  3. Terimakasih materi kuliah WhatsApp nya. Ikut menyerap ilmunya ya.

    Depresi bisa dialami setiap orang. Karena itu kita harus punya ilmu dan cara untuk memanage nya, ya.

    Jangan sampai putus asa lalu mengakhiri hidup, selain itu bukan penyelesaian masalah, itu juga bukan solusi.

    ReplyDelete
  4. Yup. Depresi butuh kepedulian kita bersama. Minimal dgn kenali gejalanya..we know what to do

    ReplyDelete
  5. belakangan ini, banyaaak yg ngaku depresi.
    Yap, isu mental health ini memang krusial sekali.
    Makasi mba, udah memproduksi Artikel yg komleeett dan komprehensif
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  6. Banyak hal yangbisa dibantu dengan mendengarkan saja ya, jangan berkomentar yang tidak perlu.

    Saya terkesiap di bagian ini:
    Loss of trheated loss of major source gratification (Kehilangan sumber semangat hidup, seperti suami meninggal, istri minta cerai, anak sakit, orang tua meninggal, dsb)


    Itulah makanya kita di dalam Islam, selalu ditekankan untuk menggantungkan segala sesuatunya hanya pada Allah ya. Masya Allah.

    Saya pun pernah depresi, Siska. Saya tahu tidak enaknya merasakannya. Untung saat itu ada yang membantu saya. Dan Allah masih sayang sehingga saya bisa keluar dari depresi.

    ReplyDelete
  7. Yup, peran kita semua dalam pencegahan depresi ini. Sedih sekali ya kalo baca berita orang bunuh diri karena depresi, apalagi jumlah kematian karena hal ini juga bisa dibilang termasuk banyak.

    ReplyDelete
  8. Jika tidak bisa membantu yang sedang depresi, setidaknya kita cukup jadi pendengar yang baik dan tidak menghakimi ya.
    Terima kasih sharing-nya, mba. Semoga menambah kesadaran baru pada semua yg membaca.

    ReplyDelete
  9. Bahasannya bagus banget mbak. Di blogku itu ada tulisan singkat yang membahas ttg kesehatan jiwa. Singkaaat bgt, tapi akhir2 ini trafiknya naik. Kebayang banyak juga org yg cari info ttg kesehatan jiwa. Semoga tulisan ini yang bernas dan sarat info bisa jadi referensi mereka ya

    ReplyDelete
  10. MashaAllah.. baca tulisan ini menyentil banget, bahwa saya merasa bersyukur bahwa dikelilingi dengan orang orang yang peduli, seperti keluarga dan teman dekat, aku membayangkan jika ada seseorang dengan masalah, lalu tidak ada keluarga dan teman dekat sebagai support systemnya.. semoga tulisan ini bisa menyadarkan bahwa agar kita senantiasa terhindar dari rasa depresi ya mbak

    ReplyDelete
  11. selalu suka sma tulisannya mbak siska

    mental illness emang nggak bisa dianggap sepele ya mbakk

    ya yang mengidap, ya org sekitanya harus sama2 sadar bukan dijauhkan...


    liat baca artis korea makin byk yg bunuh diri itu ngeness gituu

    ReplyDelete
  12. Ngeri banget kalau udah baca tentang depresi dan berujung yg tidak seharusnya. Mereka butuh dirangkul, dihibur dan ditolong. Mereka seperti overthinking gitu bener gak ya mba. Semoga sy bisa terjauh dari sifat stress & semacamnya. Aamiin

    ReplyDelete
  13. kebetulan aku gabung di komunitas kejiwaan, dan masalah bunuh diri ini masih jadi perbincangan yang sensitif

    ReplyDelete
  14. Materi kulwapnya menarik banget mba siska. Saya jadi ikutan dapat ilmu di sini.
    Baru tahu nih kalau PFA ada etika2 yang harus diperhatikan juga.

    ReplyDelete
  15. Sedih banget ya kalau baca berita ada anak muda yang sudah bunuh diri karena depresi :(
    Memang dengan perkembangan teknologi seperti media sosial dan tekanan hidup, pasti akan depresi jika tidak kuat iman. Tinggal bagian kita bisa memilih dan menolong orang untuk tidak terlalu dalam depresinya :(

    ReplyDelete
  16. Salah satu kesalahan yg sering dilakukan adalah tidak sepenuhnya membantu orang yg sedang depresi. Kebanyakan menghakimi dan sebagainya. Semoga kita bisa lebih peka terhadap sekeliling kita ya mbak.

    ReplyDelete
  17. Depresi memang banyak dampak buruknya yaaa mba.. dan harus diawasi dwngan baik

    ReplyDelete
  18. Sejak film joker aku jadi sadar bahwa penyakit mental kayak depresi gak bisa disepelekan, banyak orang masih anggap ini tabu ya

    ReplyDelete
  19. Betul mbak, pencegahan depresi harus dilakukan oleh kita semua karena ini menjadi tanggungjawab bersama. Apalagi zaman medsos begini, mudah banget membuat orang depresi hanya dengan komentar komentar yang tak diharapkan. Ngeri ya membayangkan teman dekat kita bunuh diri gara gara kita ga peka.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.