Pengen Anak Laki-laki atau Anak Perempuan?

By Siska Dwyta - Thursday, October 03, 2019


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Pengen Anak Laki-laki atau Anak Perempuan? Menginjak trimester ketiga ini perut saya sudah semakin buncit dan semakin banyak pula yang kepo.  Sudah USG ya? Anaknya laki atau perempuan? Semoga perempuan ya biar sepasang. Lalu saya hanya akan tersenyum menanggapi, tidak lantas mengaminkan. Kenapa? Apa karena saya tidak pengen punya anak perempuan atau karena saya pengen punya anak laki-laki lagi?

Jawabannya tentu saja tidak. Bagi saya mau dianugerahi anak laki-laki maupun perempuan sama saja. Yang penting saya dan suami bisa diamanahi sang buah hati. Dan yang paling penting lagi, mudah-mudahan kami mampu menjaga 'amanah' itu dengan sebaik-baiknya. Well, sejak kehadiran si kecil saya sadari benar, betapa menjaga amanah ini sungguh amatlah berat. Tidak semudah yang kita bayangkan.

Kita Memang Boleh Menginginkan Anak dengan Jenis Kelamin Tertentu


gambar : baasnotes.com

Adalah wajar bila kita menginginkan sesuatu, termasuk menginginkan anak dengan jenis kelamin tertentu. Bukankah hasrat manusia memang seperti itu, selalu menginginkan banyak hal dalam hidupnya tanpa peduli apakah yang ia inginkan itu baik atau tidak untuk dirinya. 

Sampai-sampai kita sering khilaf, berburuk sangka pada Allah, karena keinginan yang dipinta lebih sering tak terkabul. Padahal hanya Allah yang tahu apa-apa yang terbaik untuk kita, sementara keinginan-keinginan yang kita panjatkan belum tentu semuanya baik. 

Lagipula, bukankah kita percaya bahwa selama ini Allah hanya memberi apa-apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan semata?

Jujur, bahkan jauh sebelum menikah dan hamil pun saya sudah menginginkan dan berharap anak pertama saya nantinya adalah laki-laki. Alasannya sederhana saja, karena saya tidak punya saudara laki-laki. Saudara kandung saya ada tiga dan semuanya perempuan. Pun karena sejak masih kecil saya sering membayangkan betapa bahagianya punya kakak laki-laki. Kalau ada yang ganggu, usil atau jahili pasti ada yang membela, ada yang menjaga. 

Sesederhana itu alasan saya ingin punya anak pertama laki-laki. Meski pada kenyataannya ketika hamil saya sama sekali tidak berani untuk memohon pada-Nya apalagi terlalu berharap agar dikaruniai anak laki-laki. Saya juga sengaja tak menampakkan jelas-jelas keinginan saya yang satu ini pada siapa-siapa, sekalipun pada suami sendiri.

Kenapa?

Karena saya begitu takut. Saya takut Allah tidak memperkenankan keinginan saya. Saya takut kecewa. Saya takut harapan yang menjulang itu akan terhempas. Sehingga saya memilih bungkam. Menyimpan ingin itu sendiri dalam hati.

Namun meski tidak disuarakan Allah selalu tahu segala isi hati kita, kan?

Maa syaa Allah keinginan suami (dan saya) agar dikaruniai anak pertama laki-laki akhirnya diperkenankan Allah. Malah kami sebenarnya sudah dapat bocoran terkait jk si Bunay sejak usia kehamilan saya baru 19 weeks. Dan semakin bertambah yakin karena setiap USG jknya tidak pernah berubah. Selalu laki-laki. Alhamdulillaah pas brojol, jk si Bunay sesuai dengan hasil USG.

Baca juga Beginikah Rasanya Hamil (Trimester Kedua)

Lalu bagaimana dengan kehamilan kedua ini?

Tentu, kami masih menginginkan anak dengan jenis kelamin tertentu. Suami tetap pengen punya anak laki-laki sementara saya diam-diam pengennya punya anak perempuan even kalau yang lahir laki-laki bagi saya nggak masalah. Toh, kalau laki-laki lagi bisa jadi teman main Zhafran atau kalau perempuan, Zhafran bisa belajar jadi kakak yang baik, penyayang dan melindungi adik perempuannya.

Nah, pada kehamilan kedua ini saya dan suami juga sebenarnya sudah dapat bocoran terkait jk adiknya Zhafran. Tapi entahlah kalau sudah brojol nanti, apakah sama persis dengan hasil USG atau malah meleset? Wallaahu a'lam.

Baca juga Cerita Kehamilan Kedua Trimester Kedua

Tapi Anak Itu Hak Allah, Dia yang Berhak Menentukan


gambar : klikdokter.com

Sayangnya meski kita boleh sesuka hati menginginkan anak dengan jenis kelamin tertentu, tetap saja anak itu sepenuhnya adalah hak Allah. Allah yang punya hak menentukan apapun jenis kelamin buah hati yang Dia titipkan pada kita. Entah Dia hendak memberikan kita anak laki-laki, anak perempuan atau anak laki-laki anak dan perempuan sekaligus. Bahkan kalau Allah mau, Dia bisa saja tidak memberikan seorang anak pun pada kita. 


Bukankah hal ini sudah diterangkan Allah sendiri dalam QS Asy syura' : 50-51.

Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.

Lantas apa kita berhak protes bila Allah tidak memberi anak sesuai dengan jenis kelamin yang kita inginkan? Jelas tidak dong. Namanya hak ya terserah Allah, mau-maunya Allah, suka-sukanya Allah. 

Malah seharusnya kita nggak boleh kecewa, protes apalagi sampai berburuk sangka pada Allah. Cukup nrimo dengan ikhlas apapun jenis kelamin anak yang kita kandung. Alih-alih protes, rasa syukur yang semestinya kita julangkan.

Bayangkan, di luar sana masih banyak lho pasangan suami istri yang diuji dengan penantian sang buah hati. Yang masih tetap sabar, terus memohon dan gigih ikhtiar semaksimal mungkin walau usia pernikahannya telah menginjak belasan tahun namun buah hati yang dinanti tak kunjung hadir. 

Maka apakah pantas bila kita kecewa, protes, tak bersyukur padahal sudah dianugerahi momongan lebih dari satu, hanya karena anak yang tengah kita kandung berjenis kelamin sama dengan kakak-kakaknya?

Baca juga Ujian Penantian Buah Hati

Jadi Jangan Berdoa atau Meminta Dikaruniai Anak dengan Jenis Kelamin Tertentu



Saya pernah menghadiri tabligh akbar di masjid Al-Markaz Islami Makassar. Pematerinya adalah salah seorang syaikh dari Timur sementara penerjemahnya sendiri adalah ust. Khalid Basalamah.

Tema tabligh akbar waktu itu menarik sekali, tentang wasiat berharga shalaf shalih. Namun yang paling menarik perhatian dan membekas diingatan saya sampai saat ini adalah ketika ada jamaah yang bertanya terkait doa. Saya tidak ingat persis bagaimana bunyi pertanyaannya, yang jelas saat itu si Syaikh menjawab pertanyaan tersebut dengan menceritakan kisah nyata yang beliau dan istrinya sendiri alami.

Jadi si Syaikh dan istrinya ini dulunya termasuk pasangan yang lama baru dikaruniai momongan. Ah, tepatnya bukan tak dikaruniai, amanah itu malah sering dititipkan Allah di rahim istrinya. Sayang, setiap kali istri si Syaikh hamil, selalu berujung dengan keguguran. Kejadian itu bahkan bukan cuma sekali dua kali. Bayangkan, istrinya sampai enam atau tujuh kali berturut-turut mengalami keguguran (saya lupa berapa kali) persisnya. 

Yang bikin saya bergidik, ternyata penyebab sang istri selalu mengalami keguguran, menurut Syeikh, karena doanya. Karena selama itu Ia selalu berdoa, meminta pada Allah agar dikaruniai anak laki-laki. Hanya anak laki-laki. 

Qadarullaah, setelah mengubah bunyi doanya, tidak lagi memohon anak dengan jenis kelamin tertentu, kini si Syaikh dan istrinya telah dikarunai banyak momongan. Jumlah anaknya yang hidup sekarang bahkan melebihi jumlah janin yang gugur di rahim istrinya. Maa syaa Allaah.

Apa yang bisa kita petik dari kisah Syaikh tersebut? Yup, kita tidak perlu memanjatkan doa secara spesifik, terutama jika yang kita pinta itu berkenaan dengan hak atau kehendak Allah. Seketika saya teringat dengan apa yang pernah dikatakan suami. Saya tidak ingat waktu itu lagi ngomong apa, ketika suami tiba-tiba menimpali, jangan berdoa minta jodoh dengan terang-terangan menyebutkan nama. Lho kenapa? Apa salahnya minta jodoh dengan sebut nama?

Jujurly, saya tidak bisa terima dengan statement itu. Bukankah Allah tidak pernah membatasi doa-doa hamba-Nya? Bukankah Allah justru senang mendapati hamba-Nya banyak bermunajat, lalu kenapa hanya berdoa dengan menyebut nama saja tidak boleh? 

Pada akhirnya saya menemukan jawabannya sendiri. Yah, sekarang saya tahu, saya paham mengapa doa-doa yang berkenaan dengan hak atau kehendak Allah tidak perlu kita sebutkan secara spesifik. Baik itu menyangkut anak maupun jodoh. 

Jawabannya sederhana saja, jodoh dan anak itu Allah sudah atur lho, sudah Allah tetapkan. Sudah tertulis di lauhul mahfuz bahkan sebelum kita terlahir di dunia. Bukan berarti pula karena Allah sudah tetapkan takdir kita akan seperti itu kita jadi bersikap masa bodoh. 

Ingat, konsep menjemput bahkan termasuk mengubah takdir itu ada tiga, bukan cuma sebatas doa dan ikhtiar saja tapi ada yang namanya tawakal. Ini yang sering luput dari perhatian kita. Karena sudah merasa diri telah memohon dan berusaha semaksimal mungkin, sehingga ketika yang didapatkan tidak sesuai dengan yang diinginkan kita lantas kecewa, berprasangka yang tidak-tidak, marah pada-Nya. Lupa pasrah, lupa tawakal. 

Padahal mungkin kita sudah paham benar, Allah hanya akan memberi apa-apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Mengenai kebutuhan itu tentu Allah yang lebih tahu, bukan?

Berarti boleh dibilang, kalau kita memohon anak dengan jenis kelamin tertentu, atau meminta jodoh dengan menyebutkan nama seseorang berarti doa tersebut kita panjatkan semata-mata hanya atas dasar keinginan, dong, bukan karena kebutuhan.

Kalau kebutuhan, tentu kita tidak akan berdoa secara spesifik. Doa yang kita panjatkan, cukup dengan memohon agar dikaruniai anak atau jodoh yang baik dan shalih(ah). Selebihnya kita tinggal tawakal, pasrah sepenuhnya pada kehendak Allah. Terserah Allah mau kasih kita anak laki-laki, anak perempuan, dua-duanya atau tidak sama sekali. Terserah Allah pula mau kasih kita jodoh yang mana. Toh, Dia tahu segala yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya, jadi kenapa musti ragu dengan apa-apa yang telah Allah tetapkan untuk kita?


Lebih Baik Berdoa Memohon Anak dengan Doa-doa yang Diabadikan dalam Alquran


gambar : bidanku.com

Daripada berdoa dikaruniai anak hanya dengan jenis kelamin tertentu, lebih baik kita berdoa, memohon dikarunia anak yang kehadirannya dapat menjadi cahaya bagi orang tuanya di akhirat kelak. 

Doa-doa memohon anak seperti itu juga yang dicontohkan oleh para Nabi yang sempat diuji dengan penantian sang buah hati dan diabadikan Allah dalam Al-quran. Salah duanya adalah doa Nabi Zakaria alaihissalam dan doa Nabi Ibrahim alaihissalam.

Sebagaimana kita tahu Nabi Zakaria alaihissalam dan Nabi Ibrahim alaihissalam adalah dua Nabi yang baru dikaruniai buah hati ketika mereka telah berusia lanjut. Bahkan boleh dibilang di usia mereka yang sudah tua itu rasanya sungguh mustahil bisa memiliki anak. But kun fa yakun. Semua terjadi atas kehendak Allah.

Jadi buat kamu dan pasangan yang masih dalam penantian akan hadirnya sang buah hati jangan pernah berputus asa ya! Tetap semangat jemput si kecil dengan doa, ikhtiar dan jangan lupa tawakal. 

Nah, ini adalah dua contoh doa terbaik dalam memohon anak yang terdapat dalam Al-Quran dan bisa kamu amalkan.


Doa Nabi Zakariya alaihissalam.


رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Robbi hab lii min ladunka dzurriyyatan thoyyibatan innaka samii’ud du’aa’

Artinya: “Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisiMu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa” (QS. Ali Imrah: 38)

Doa Nabi Ibrahim alaihissalam


رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Robbi hab lii minash shoolihiin

Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shalih” (QS. Ash Shaffat: 100)

Of course, kedua doa di atas tentu jauh lebih bermakna ketimbang berdoa hanya memohon agar dikarunia anak laki-laki saja, atau anak perempuan saja. Sebab jika bunyi doa kita hanya seperti itu maka anak yang kita lahirkan kelak pun belum tentu bisa tumbuh jadi anak yang baik dan shalih(ah).

Sebaliknya jika yang kita pinta pada-Nya adalah keturunan yang baik atau anak-anak yang shalih(ah) maka In syaa Allah mereka akan tumbuh seperti doa yang kita panjatkan. Bukan tidak mungkin juga Allah akan menuntun kita agar jadi orang tua yang mampu mendidik anak-anak kita dengan baik dan menjadi shalih-shalihah.

Ketahuilah, betapa beruntungnya orang tua yang memiliki anak-anak yang shalih(ah). Mereka adalah investasi terbesar bagi orang tuanya di akhirat kelak. Seperti yang pernah disabdakan Rasul. Ketika seseorang meninggal semua amalannya akan terputus kecuali tiga hal. Salah satunya adalah amal yang didapatkan dari doa-doa anaknya yang shalih(ah). Maa syaa Allah.

Karena Setiap Anak Baik Laki-Laki maupun Perempuan punya Keutamaannya Masing-Masing


gambar : mamypoko

Sampai di sini sudah paham kan, mengapa ketika berdoa memohon anak sebaiknya tidak serta merta menyebutkan jenis kelaminnya
even kecenderungan untuk memiliki anak dengan jenis kelamin seperti yang kita inginkan itu pasti ada dan wajar. Apalagi bagi orang tua yang telah dikarunia banyak anak dan semuanya berjenis kelamin sama.

Orang tua saya pun termasuk pasangan yang dikaruniai 4 orang anak dan semua jenis kelaminnya sama. Perempuan. Yup, selama bertahun-tahun hidup seatap, satu-satunya lelaki di rumah kami adalah papa. Tapi alhamdulillah sekarang papa nggak sendiri, selain beliau, sudah ada tambahan  4 personil laki-laki di keluarga kami. Dua menantu dan dua cucu. Kalau anak yang sementara saya kandung ini juga laki-laki berarti bakal nambah lagi dong, hehe. Kita lihat saja nanti. 

Nah, kalau kita tengok masa lalu, pastinya kita tahu anak perempuan dulunya dianggap sebagai aib atau hal yang sangat memalukan dalam keluarga. Oleh sebab itu, tak heran di zaman jahiliyah, jika seorang melahirkan bayi perempuan maka bayi tersebut akan dikubur hidup-hidup. Sebegitu hinanya anak perempuan dulu.

But now, tepatnya sejak Rasulullaah datang membawa cahaya kebenaran, derajat perempuan diangkat setinggi-setingginya hingga menyamai derajat laki-laki, terkhusus dalam hal keimanan. Perempuan yang pernah dianggap makhluk paling hina di muka bumi itu kini justru sangat dimuliakan oleh Islam. Saking mulianya perempuan diibaratkan mutiara yang tidak sembarang orang boleh menatapnya, tidak sembarang orang boleh menyentuhnya. Diturunkan pula perintah berhijab khusus perempuan agar iffah dan maruahnya tetap terjaga.

So far, memiliki anak perempuan di zaman sekarang bukan lagi hal yang memalukan. Malah orang tua yang dikarunia anak perempuan lebih dari satu harusnya bersyukur. Kenapa? Karena dalam beberapa hal, anak perempuan memiliki keutaman yang lebih dibanding anak perempuan. 


See. Anak perempuan dapat menjadi penghalang bagi orang tuanya dari siksa api neraka. Bahkan dalam hadis lain dengan bunyi serupa Rasalullaah shallallaahu'alaihi wassalam juga pernah bersabda :

Siapa yang memiliki 3 anak perempuan, lalu dia bersabar, memberinya makan, minum, dan pakaian dari hasil usahanya, maka semuanya akan menjadi tameng dari neraka pada hari kiamat. (HR. Ahmad 17403, Ibnu Majah 3669, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Seperti halnya anak perempuan, anak laki-laki juga punya keutamaannya sendiri. Salah satunya adalah akan selalu menjadi milik ibunya sekalipun ia sudah beristri.


Yup, anak laki-laki ketika telah menikah, selain bertanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya, tetap memiliki tanggung jawab juga terhadap ibunya. That's why, sebagai istri kita nggak boleh protes apalagi cemburu ketika perhatian suami tidak hanya tertuju pada kita dan anak-anak melainkan juga kepada ibunya.

Hal ini pula yang kadang bikin saya merasa sedih bila ingat orang tua, karena semua anak mama dan papa erempuan. Tahu sendiri kan, rata-rata anak perempuan setelah menikah akan keluar dari rumah orang tuanya, karena harus mengikuti sang suami. Kalau keluarnya masih dalam satu kota sih nggak terlalu masalah karena si anak bisa tetap mengunjungi rumah orang tuanya sesering mungkin.

Tapi kalau yang keluarnya jauh, sampai terbentang pulau, kayak yang saya alami, ortu di Papua, sayanya di Sulsel ya nggak bisa sering-sering berkunjung. Ini saja sudah dua tahun lebih, tepatnya semenjak menikah dan hijrah ikut suami, saya belum pernah lagi injak rumah ortu di Papua. Hiks.

Nah, selain keutamaan yang saya sebutkan di atas, masih banyak lagi keutamaan dari memiliki anak laki-laki maupun anak perempuan. Silakan kamu cari tahu sendiri ya.

Setiap anak yang lahir dari rahim kita adalah anugerah, terlepas dari apapun jenis kelaminnya. Anak laki-laki punya keutamaannya sendiri. Anak perempuan pun demikian. Intinya mau dikaruniai anak laki atau anak perempuan, kita harus tetap bersyukur ya😊

Salam,

@siskadwyta

  • Share:

You Might Also Like

6 comments

  1. YANG PENTING JADI ANAK YANG SOLEH ATAU SOLIHAH DAN BERTAQWA PADA aLLAH

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, bener banget. Intinya memang itu ya Bang. Yang penting anaknya bisa tumbuh shalih/shalihah.

      Delete
  2. Yup, tawakal. Kuncinya di situ. Sering saya dengar orang yang sampai terobsesi punya anak misalnya jenis kelamin laki jika anak yg lahir perempuan, orientasi seksualnya berbelok menjadi penyuka perempuan atau sebaliknya. Kasihan kan jadinya.

    ReplyDelete
  3. Orangtua saya dikaruniai dua anak laki-laki dan dua anak perempuan, jadi seimbang. Hehe. Semoga anak keduanya lahir dengan selamat dan sehat, Kak!

    ReplyDelete
  4. Wow, panjang ya tulisannya, hehe.. But nice share.
    Apapun jenis kelamin anak kita, yang penting nantinya jadi anak yang sholeh/sholehah.

    ReplyDelete
  5. semoga kita semua dikaruniai keturunan yg sehat, baik budinya, baik imannya, baik Islamnya.. amanah, cerdas, pandai bergaul.. dan selalu sayang sama mamapapanya.. Aamiin

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.