Cerita Kehamilan Kedua Trimester Kedua

By Siska Dwyta - Wednesday, October 02, 2019


Bismillaahirrahmaanirrahim

Cerita Kehamilan Kedua Trimester Kedua. Alhamdulillaah saat menulis postingan ini usia kehamilan saya baru saja melewati trimester kedua dengan lancar dan bahagia. Perut saya juga sudah semakin buncit even tidak terlalu nampak karena tertutupi dengan kerudung besar yang biasa saya kenakan kalau keluar rumah.

Seperti yang sudah saya singgung di cerita trimester pertama, pada kehamilan kedua ini saya merasa seolah tidak hamil karena kondisi yang saya alami tidak sama seperti kehamilan ibu-ibu pada umumnya yang biasa ditandai dengan mual muntah, nafsu makan berkurang, hidung sensitif, ngidam macem-macem, mood swings, dsb.


Ye kan, kondisi kehamilan setiap ibu berbeda masing-masing. Ah, jangankan pada setiap ibu, kondisi pada kehamilan pertama dan kedua yang dijalani seorang ibu pun pasti berbeda. Ini saya rasakan benar. Waktu hamil Zhafran tahun lalu, nyaris tiada hari yang saya lewati tanpa mual dan muntah, selera makan pun ikut berkurang. Dan meski nggak ngidam parah yang sampai pengen ngelakuin atau minta hal aneh-aneh tetap saja keluhannya itu lho. Duh, jangan ditanya, yang namanya keluhan pasti rasanya nggak enak tapi tetap dong harus dinikmati😊

Syukurnya, trimester pertama yang saya jalani pada kehamilan kedua ini minim akan keluhan, begitupula setelah memasuki trimester kedua. Etapi minim bukan berarti tanpa keluhan sama sekali ya. Keluhan tetap ada but setidaknya nggak separah saat kehamilan pertama saya.

So, kira-kira ada cerita apa saja pada kehamilan kedua trimester dua saya ini? 

Trimester Kedua, Keluar dari Zona Nyaman, Kembali Tinggal di Pondokan


Sejak Zhafran lahir hingga usianya menginjak sepuluh bulan saya nggak pernah keluar dari zona nyaman. Zona nyaman yang saya maksud di sini tinggal bareng keluarga. Yap, dari usia Zhafran baru lahir hingga jalan 3 bulan saya tinggal bareng mama dan keluarga di Gowa. Setelah mama balik Papua, saya hijrah kembali ke rumah mama mertua di Parepare hingga si kecil berusia 10 bulan. 

Artinya selama sepuluh bulan itu hidup saya lumayan enaklah, masih bisa banyak santainya karena untuk pekerjaan rumah tangga seperti masak, menyapu, mencuci piring, dll tidak musti selalu saya yang kerjakan. Ada yang membantu, bahkan kalau saya mau mau mandi, mau kerja di dapur atau keluar bareng ayahnya tidak perlu rempong bawa si kecil, karena ada orang rumah yang bisa jagain.

Namun semenjak keluar dari zona nyaman dan hidup bertiga plus debay dalem perut, maa syaa Allah, baru kerasa benar begini toh rasanya jadi ibu rumah tangga yang harus ngurus segala keperluan baby besar dan baby kecil. Rempongnya bukan main.

Apalagi setelah pindah ke pondokan itulah baru Zhafran mulai antusias menunjukkan kemampuan barunya. Mulai dari merayap, duduk sendiri tanpa bantuan sekali, hingga merangkak dengan gaya ngesot sampai merangkak dengan gaya bayi pada umumnya. 

Padahal waktu masih tinggal di rumah neneknya dia anteng banget, distimulus berkali-kali agar bisa cepat merangkak dia ogah. Eh sekalinya pindah ke pondokan tanpa distimulus pun dia mulai bereaksi sendiri. Jadi bayi yang nggak bisa tinggal diam tenang di tempat, kecuali kalau sudah ngantuk. Aktifnya luar biasa. Saking aktifnya, jam tidurnya juga ikut berubah. 

Biasanya, paling lambat jam 9 malam dia sudah ngorok, eh sekalinya sudah lincah bergerak ke sana-ke mari jam segitu dia masih sibuk main, seolah nggak ada capek-capeknya. Saya dan ayahnya yang kewalahan menghadapi. Sampai mau kasih bobok si kecil pake acara drama dulu, hehe.

Belum ditambah dengan drama yang saya hadapi tiap hari saat harus berkutat di dapur sementara saya cuma berdua dengan Zhafran. Mau masak, mau mencuci pasti diekorin. Mana di dapur banyak benda-benda berbahaya yang nggak boleh di sentuh sama si bayi. Kebayang nggak gimana cara saya mengatasinya?

Awalnya saya memang sempat emosi. Sampai pernah tega ngurung si Kecil dan biarin dia nangis-nangis di kamar sendirian, daripada ikut saya ke dapur. Piring dan gelas kaca saja sudah beberapa berhasil dia pecahkan. Pegang pisau dan gunting, pernah. Dekati kompor yang menyala pun iya. 

Tahu sendiri kan tinggal di pondokan atau kos-kosan gitu nggak sama kayak tinggal di rumah sendiri. Minim perabotan. Lemari tinggi saja saya nggak punya, bukan karena nggak bisa beli tapi males belinya mengingat status hidup kami yang masih nomaden. Ruangan dapur juga nggak ada pintunya sehingga si Kecil bebas berkeliaran. Jadi memang saya yang harus ekstra ketat mengawasi.

Tapi sekarang karena sudah mulai terbiasa kerja diekori si kecil, yowes. Mau mencuci, mau masak, mau kerja apa-apa di dapur, saya bawa Zhafran. Yap, daripada pekerjaan saya nggak ada yang kelar-kelar dan sayanya juga kebawa emosi. Karena  melarang seribu kali pun si bayi ini mana ngerti jadi biarlah Zhafran ikut 'menambah' pekerjaan bundanya di dapur.


Baiklah itu kondisi ketika ayahnya pergi kerja dan saya masih berdua dengan Zhafran. Untuk saat ini saya belum bisa membayangkan gimana kondisi setelah adiknya lahir nanti😅

Tendangan yang Saya Rindukan itu Akhirnya Saya Rasakan Lagi


gambar : asianparent

Jujur saja, ini merupakan salah satu hal yang bikin saya kangen pengen hamil lagi pasca melahirkan. Merasakan tendangan-tendangan si jabang bayi dalam perut.
Finally, saya bisa merasakan kembali tendangan tersebut di trimester kedua ini. 

Bagaimana rasa tendangan itu? Entahlah, dari kehamilan pertama hingga kehamilan kedua ini saya masih sulit menggambarkannya secara  pasti. Ada yang bilang rasanya seperti kupu-kupu yang terbang dalam perut, ada juga yang bilang rasanya seperti popcorn yang meletup-letup tapi yang saya rasakan tidak demikian. 

Dulu saya malah mengira tendangan atau gerakan si kecil dalam perut bakal bikin saya merasa geli, ternyata tidak. Sensasinya itu lho, maa syaa Allaah. Betapa setiap tendangannya mengundang takjub. Sungguh tak terkira ada kehidupan baru yang sedang bertumbuh di rahim saya. Kehidupan yang kini kian teramat jelas kehadirannya. 

Eniwei, waktu hamil Zhafran, saya baru merasakan jelas tendangannya pertama kali dari dalam perut di usia kehamilan sekira 20 weeks. Malah saya lebih dulu tahu jk-nya ketimbang merasakan tendangannya, hehe. 

Waktu itu sempat khawatir juga sih karena menurut artikel yang saya baca, umumnya tendangan si kecil sudah bisa dirasakan sejak usia kehamilan 16 weeks. Terlebih dengar cerita teman-teman seangkatan hamil yang sudah merasakan tendangan janinnya bahkan saat masih trimester pertama. 

Lha saya? Sudah masuk 20 weeks tapi masih belum bisa merasakan tendangan si janin? Tepatnya mungkin bukan belum bisa merasakan, hanya saja waktu itu saya memang belum tahu sama sekali gerakan janin itu rasanya seperti apa. Dan ternyata memang wajar lho bila pada kehamilan pertama si ibu lambat merasakan tendangan si kecil.

Beda hal dengan kehamilan kedua ini. Karena sudah pengalaman sehingga tak sulit bagi saya untuk mengenali tendangan adiknya Zhafran. Bahkan saya sudah merasakan tendangan itu dari awal trimester kedua. Tendangan adiknya di dalem perut juga boleh dibilang lebih aktif dibanding kakaknya. Kalau Zhafran dulu biasa baru aktif gerakannya di siang hari, kalau adiknya ini bisa sepanjang hari. Pun seingat saya baru sering merasa perut kencang itu setelah usia kehamilan masuk 30 weeks ke atas eh yang ini malah sudah saya rasakan dari akhir trimester kedua.

Kondisi Kehamilan Kedua Trimester Kedua : Menikmati Begah dan Badan Pegal-pegal


gambar : health.detik

Seiring berlalunya waktu, perut saya makin buncit dan efeknya kurang lebih sama dengan keluhan yang saya rasakan saat trimester kedua pada kehamilan pertama. Hanya saja, lagi-lagi kondisi saya pada kehamilan kedua ini nggak parah-parah amat. 

Setidaknya masih bisa saya nikmatilah rasa begah ini, pun dengan badan yang gampang pegal. Padahal seingat saya, baru rasakan benar badan pegel-pegel sampai rasanya kayak mau remuk setelah masuk trimester ketiga. Sementara ini, baru masuk akhir trimester kedua dan saya sudah merasakan pegal-pegal yang luar biasa.

Eh tapi suami memang sempat bilang, perut saya kelihatan jauh lebih buncit yang ini ketimbang pas hamil pertama. Pas lihat diri di cermin,  eh iya juga sih, ini baru trimester kedua lho tapi perut saya buncitnya sudah kayak hamil delapan bulan😅

Periksa Kehamilan Kedua Trimester Kedua


gambar : klikdokter

Seperti trimester pertama, selama trimester kedua ini saya juga cuma sempat dua kali pergi periksa kehamilan. Pertama di dokter Nursiah, RSIA Ananda Trifa Parepare. Kedua di Bidan Praktik Mandiri Siti Mariani Assaad di Jalan Abu Bakar Lambogo no. 256 Makassar

19 Weeks, Intipin si Adek dalam Perut ; Laki-laki atau Perempuan?

Di usia kandungan yang sama, RSIA yang sama dan dokter yang sama saat saya pertama kali tahu jenis kelamin (jk) Zhafran dulu. Apakah kira-kira JK adiknya juga sama? Hahaha masih rahasia dong😅

Yup, jadi saya baru periksa pertama kali di dokter Obgyn saat usia kehamilan kedua ini sudah masuk 19 weeks. Sengaja pilihnya pas 19 weeks karena ingat waktu hamil Zhafran di usia segitu sudah kelihatan jk-nya. Bukan kebetulan juga waktu itu kami lagi weekend di rumah mama jadi sekaligus deh pergi periksa.

Ternyata benar, si dokter baru mulai USG, belum periksa yang lain-lain eh sudah keliatan jk-nya

Anak pertamanya apa? Tanya dokter

Laki-laki. Jawab saya.

Oh ini . . . Kata dokter tanpa basa-basi langsung memberitahu jk adiknya Zhafran.

Maa syaa Allaah, saya cuma senyam-senyum menanggapi. Haha, kakak dan adik ini kompakan banget ya, nggak mau bikin ayah bundanya penasaran. 

Hasil USG 19 weeks. Jk adiknya Zhafran sudah keliatan lho, ada yang bisa tebak? Hehe

Ngomong-ngomong soal jk, saya pribadi nggak masalah, mau anak laki-laki atau perempuan sama saja. Toh, bukan hak kita yang menentukan, Allah yang kasih jadi apapun JK si janin nantinya harus tetap disyukuri
dong.  Ya, meski ayahnya pengen banget punya jagoan lagi biar bisa jadi teman main Zhafran, sementara orang-orang di sekitar saya lebih mendoakan agar bayi kedua saya ini perempuan biar bisa sepasang gitu. Oke, kita lihat saja nanti setelah melahirkan, laki-laki atau perempuan😄

Mengenai dokter Nursiah sendiri sudah pernah saya singgung ya di cerita kehamilan pertama trimester kedua. Walau pada postingan tersebut sengaja tidak saya sebut namanya karena kesan saya waktu pertama kali bertemu dan periksa kehamilan di beliau kurang begitu bagus.

Malah saya sempat bilang sama diri sendiri kalau hamil lagi nggak mau periksa di beliau. Tapi faktanya? Ok, saya kembali periksa kehamilan di dokter Nursiah karena saya nggak punya rekomendasi dokter obgyn lain selain beliau di kota Parepare ini. Selain itu, tak dimungkiri walau kesan pertama saya saat bertemu, dokternya nggak recomended karena kelihatan cuek dan nggak ramah0 tapi tetap saja kalau kamu cari atau minta rekomendasi dokter Obgyn terbaik di kota kelahiran almarhum eyang Habibie ini pastinya kebanyakan dari mereka akan menyebut nama beliau. 

Nyatanya saat ketemu kedua kali dengan beliau, kesan yang saya dapatkan justru berbeda. Tidak secuek yang sebelumnya. Kali kedua ini beliau malah menyambut saya dan suami dengan ramah, padahal saya tahu pastinya beliau sudah penat banget bertemu dengan banyak pasien malam itu. 

Sudah lewat pukul 10 malam lho ketika akhirnya nama saya dipanggil setelah berjam-jam menunggu antrian. Saya menjadi pasien kedua terakhir saat itu dan beliau masih bisa melayani dengan baik. Sempat juga ngasih saran kalau sudah melahirkan nanti nggak usah nunggu lewat dari 40 hari baru KB😅


Periksa Kehamilan dengan BPJS di Bidan Praktik Mandiri

Berhubung di trimester kedua ini, tepatnya pertengahan bulan September kemarin saya, suami dan si Kecil sempat jalan-jalan ke Makasar  jadi sekaligus deh pengen periksa kehamilan dengan menggunakan BPJS di dokter Tiwi yang menangani persalinan anak pertama saya. Mumpung posisi kami saat itu dekat dengan faskes 1 saya di Klinik Kimia Farma Pettarani.


As you know, kalau mau periksa kehamilan dengan BPJS musti urus surat rujukan dulu di faskes 1. Nah, pengalaman saya waktu urus surat rujukan masih bisa request dirujuk ke dokter atau rumah sakit yang saya inginkan. Lha kali ini aturannya sudah beda. Saya tidak bisa lagi minta surat rujukan sesuai keinginan sendiri. 

Kalau minta rujukan sesuai keinginan sendiri, BPJS tidak akan tanggung, begitu aturannya. Jadi hanya dokter faskes 1 yang berhak merujuk kita sesuai RS yang telah ditentukan. 

Kakak saya juga sebelumnya sudah infokan sih, sekarang kalau mau periksa kehamilan atau melahirkan dengan menggunakan BPJS harus di faskes 1 atau di bidan praktik yang bekerjasama dengan faskes 1 kita. 

Misal nih, karena di faskes 1 saya nggak ada ahli obgyn baik dokter maupun bidan sehingga oleh dokternya saya dirujuk ke tempat Bidan Mandiri Praktik (BPM) yang statusnya kurang lebih samalah dengan faskes 1. I think, Klinik Kimia Farma Pettarani ini telah bekerja sama dengan BPM tempat saya dirujuk untuk periksa kehamilan. Entah perkiraan saya itu benar atau salah. Kalau salah tolong diluruskan ya.

Lho kenapa nggak langsung dirujuknya ke dokter Obgyn? Nah, dokter di faskes 1 baru akan merujuk kita ke dokter obgyn hanya bila ada indikasi tertentu. Aturan ini juga berlaku untuk persalinan. 

Duh, ternyata bukan cuma tarif iuran BPJS yang naik, aturannya juga makin ribet ya rasanya. Makanya saya sempat kaget waktu tahu dapat rujukannya ke BPM bukan ke RS. Agak kecewa sih karena kalau dirujuknya ke BPM otomatis saya tidak bisa dapat layanan USG gratis, hehe tapi tak apalah, yang penting saya bisa periksa kehamilan lagi di trimester kedua ini.

So far, usaii urusan di faskes 1, kami langsung cuss menuju BPM tempat saya dirujuk, tepatnya di jalan Abubakar Lambogo no. 256. Berbekal google maps, tidak sulit menemukan tempat praktik yang dikelola oleh Bidan Siti Mariani ini.

Sesampai di sana kami langsung disambut hangat oleh si Bidan dan perawatnya. Prosedur pemeriksaan yang saya dapatkan kurang lebih sana dengan pemeriksaan di Puskesmas. Karena sebelummya saya sudah tes laboratorium dan suntik TT3 sehingga pemeriksaannya yang saya dapatkan kali itu tinggal pemeriksaan perut (di luar timbang BB dan cek tensi) untuk mengetahui denyut jantung janin, letaknya dan tinggi fundus serta pemberian obat/suplemen kehamilan. Sayang sekali waktu datang ke sana saya lupa bawa buku KIA jadi tidak ada catatannya.

Oya ngomong-ngomong soal BB saya hampir lupa, waktu periksa di dokter Nursiah pas usia kehamilan masuk 19 weeks, BB saya sudah mencapai 52 kg. Sementara BB saya pas periksa kedua di BPM Siti Mariani ini, tepatnya saat usia kehamilan saya sudah jalan 27 weeks atau masuk akhir trimester akhir sudah mencium angka 55 kg.
Untuk hasil tensi sendiri saya tidak hapal, yang jelasnya masih normal.

Semoga di trimester ketiga ini kehamilan saya juga bisa berjalan dengan lancar dan bahagia. Tinggal tiga bulan lagi Nak, kita akan segera bersua. In syaa Allah😊

Oke, itulah sedikit cerita tentang kehamilan kedua saya pada trimester kedua kemarin. Sampai jumpa di cerita kehamilan selanjutnya :)

Salam, 

@siskadwyta

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.