Review Buku #Bebas Takut Hamil dan Melahirkan by Yesie Aprillia

by - Friday, February 14, 2020


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Review Buku #Bebas Takut Hamil dan Melahirkan by Yesie Aprillia - Melahirkan itu sakit! Sakitnya seperti apa, saya nggak tahu. Selama ini kan saya cuma dengar omongan orang-orang saja. Ada yang bilang sakitnya seperti patah tulang, ada yang mengatakan rasanya seperti kram haid yang parah banget, ada juga yang mengaku sakitnya bagai ditusuk, menghujam dari perut hingga ke punggung. 

Apapun itu, yang pasti sudah tertanam di otak saya melahirkan adalah proses yang sangat menyakitkan. Baru membayangkan saja bikin saya bergidik. Apalagi jika saya yang harus menjalani proses tersebut. Oh tidak. Saya akui saya sangat takut melahirkan.

Yap, gimana nggak takut bila pikiran saya telah dihantui dengan berbagai persepsi negatif terkait proses melahirkan. Coba kalau orang-orang pada bilang melahirkan itu enak, nikmat, tidak sakit, tidak mungkin saya takut.

Eh tapi memangnya ada ya proses melahirkan yang tidak sakit? Yang bisa dijalani dengan santuy dan terbebas dari rasa takut.

Baca juga Rahasia Melahirkan dengan Santuy dan Tanpa Rasa Sakit

Sebelumnya saya benar-benar nggak tahu ada proses melahirkan seperti itu sampai akhirnya saya bertemu dengan blogpostnya Mbak Lingga Pramesti yang berjudul Pengalaman Melahirkan Bayi di atas 4 kg Secara Normal. Di blogpost tersebut, Mbak yang saya ikuti blognya di dunialingga.com ini menyinggung istilah gentle birth dan menyebut akun instagram @bidankita. 

Karena penasaran dengan gentle birth saya langsung kepoin akun instagram yang dimaksud. Lewat akun instagram yang dikelola oleh bidan Yesie Aprilia inilah saya akhirnya mengetahui buku #Bebas Takut Hamil dan Melahirkan dan belajar sedikit banyak tentang gentle birth.

Sekilas Tentang Gentle Birth

Pernah nonton atau baca kisah penyanyi Andien Aisyah waktu melahirkan anaknya yang akrab dipanggil Kawa nggak? Nah, Andien ini termasuk salah satu ibu yang memilih melahirkan dengan water birth yakni teknik melahirkan di dalam air. 

Trus apa hubungannya dengan gentle birth?

Ya hubungannya karena metode yang digunakan Andien pada proses persalinannya di air itulah yang disebut gentle birth. Metode ini memang erat kaitannya dengan proses persalinan pervaginam yang dijalani di rumah dengan teknik water birth. Meski demikian bukan berarti ibu yang melahirkan di klinik, puskesmas maupun rumah sakit tidak bisa memilih gentle birth. Bahkan ibu yang melahirkan di meja operasi juga bisa menggunakan metode ini kok. Karena inti dari gentle birth adalah ibu bisa melahirkan dengan aman dan nyaman.

Pada dasarnya gentle birth merupakan metode yang berfokus pada rasa aman dan nyaman pada saat hamil, melahirkan maupun setelah melahirkan (post partum). Namun dalam buku yang hendak saya ulas ini lebih menekankan gentle birth pada proses persalinan secara pervaginam. Dengan menerapkan metode gentle birth, seorang ibu dapat menjalani proses persalinan yang tenang, lembut, santun dan minim trauma.

Gentle birth sendiri memandang proses melahirkan sebagai proses terindah dan penuh cinta kasih sehingga sudah selayaknya dilakukan dengan nyaman. Adapun filosofi metode ini adalah persalinan yang mengutamakan ketenangan, kelembutan dan pemanfaatan semua unsur alami dalam tubuh manusia. Dalam gentle birth, seorang ibu harus melakukan pemberdayaan selama masa kehamilan, bahkan sebelum hamil jika memungkinkan.

Dilihat dari konsepnya, jelas gentle birth bertolak belakang dengan metode persalinan yang lazim terjadi dimana proses persalinan selama ini dianggap menyakitkan dan dihadapi dengan penuh ketegangan. 

Demi mengetahui ada metode yang memungkinkan saya melahirkan dengan tenang, aman, nyaman dan juga tanpa rasa sakit, saya langsung excited dong mencari tahu lebih jauh tentang gentle birth di @bidankita. 

Oya, ada yang belum kenal @bidankita? Cuss follow deh akunnya. Pokoknya akun ini recommended banget di-follow oleh para ibu maupun calon ibu, bapak-bapak juga boleh tapi pikirannya jangan mesum ya, haha. Soalnya di akun tersebut, ada beberapa konten video melahirkan secara pervaginam yang dishare ownernya tanpa sensor.

Selebihnya, hampir semua konten yang ada di akun feed @bidankita sangat informatif. Saya pun banyak belajar tentang gentle birth hanya dengan modal stalking akun media sosial yang didirikan oleh salah satu pelatih gentle birth sekaligus pendiri komunitas Keluarga Gentle Birth ini, baik itu yang ada di instagram, facebook maupun youtube tapi paling sering di akun instagram.

Owner dari akun @bidankita ini memang tidak pelit ilmu. Beliau suka berbagi informasi terkait gentle birth di semua akun media sosialnya. Namun kalau ingin lebih mendalami metode ini akan lebih baik lagi jika bisa ikut kelas yang dibukanya baik secara offline maupun online. Berbayar sih tapi pastinya peserta nggak bakal rugi wong baru nyimak akun medsos Bidan Kita saja tidak sedikit ilmu gentle birth yang saya dapatkan, apalagi kalau ikut kelasnya langsung.

Sayangnya karena nggak sempat ikut kelas yang diadakan bidan Yesie Aprillia jadi saya memilih untuk membeli bukunya saja. Selain buku #Bebas Takut Hamil dan Melahirkan, tadinya saya mau juga beli buku bidan Yesie yang berjudul Siapa Bilang Melahirkan itu Sakit, tapi pas cari di Gramedia Mall Panakukang Makassar, stok buku beliau yang ada cuma ini doang. Ya sudahlah, setidaknya ada tiga hal yang saya syukuri sebelum menjalani proses melahirkan untuk pertama kali. Bisa follow akun bidan kita, mengenal metode gentle birth dan punya buku #Bebas Takut Hamil dan Melahirkan.

You know why? Tiga hal tersebut berhasil mengubah persepsi saya tentang melahirkan. Kini, Melahirkan tidak lagi saya pandang sebagai proses menyakitkan tapi menyenangkan. Lebih spechlessnya lagi, setelah mempelajari gentle birth di akun @bidankita dan buku ini, saya tidak lagi dicekam rasa takut akan proses yang menghantarkan saya menjadi seorang ibu. 

Melahirkan adalah Tentang Persiapan


Knowledge is power!

Itu adalah kalimat andalan bidan Yesie Aprilia yang sudah saya hapal di luar kepala, saking seringnya beliau ulang dan tekankan di akun media sosialnya. Tidak heran jika kalimat tersebut juga saya jumpai di buku #Bebas Takut Hamil dan Melahirkan.

Kalimat yang benar saya akui adanya. Hamil dan melahirkan itu butuh ilmu, Moms. Setidaknya dengan knowledge kita bisa lebih siap menghadapi masa kehamilan dan kelahiran termasuk masa post partum. Bahkan dengan knowledge memungkinkan kita melahirkan secara alami. 

As we know, di zaman modern ini apa-apa serba praktis ya, termasuk dalam proses melahirkan. Terbukti dengan semakin meningkatnya jumlah persalinan secara sesar ketimbang pervaginam. Menurut bidan Yesie, fakta ini sangat memprihatinkan, seolah-olah perempuan telah kehilangan kemampuannya untuk melahirkan secara alami melalui vagina. 

Padahal jika si perempuan ini mau memberdayakan diri semenjak awal kehamilan atau bahkan sebelum hamil maka kemungkinan besar persalinan secara sesar masih dapat dihindari. Salah satu pemberdayaan dirinya ya itu tadi, kudu membekali diri dengan pengetahuan seputar kehamilan dan melahirkan.

Makanan apa yang harus dikonsumsi selama hamil, olahraga apa yang bisa dilakukan ibu hamil, bagaimana caranya agar ibu hamil bisa menjalani masa kehamilan dan proses melahirkan dengan aman dan nyaman, ketika mulai merasakan kontraksi kehamilan kapan sebaiknya memutuskan untuk ke rumah sakit atau tempat bersalin, bagaimana membedakan kontraksi palsu dan kontraksi persalinan, apakah ibu hamil dengan kondisi mata minus tinggi bisa melahirkan normal, benarkah bayi yang beratnya lebih di atas 4 kg harus sesar dan tentu masih banyak lagi pertanyaan lainnya yang jawabannya hanya bisa kita dapatkan dengan "knowledge", bukan?

Toh, sudah menjadi rahasia umum, banyak ibuk-ibuk yang persalinannya berujung di meja operasi karena terlalu banyak mendapatkan intervensi medis dari pihak rumah sakit. Bukan bermaksud menyalahkan ya, tapi faktanya memang demikian.

Saya kasih contoh realnya saja nih, banyak yang bilang ibu dengan mata minus tidak bisa melahirkan normal. Bukan kata orang saja, kebanyakan dokter pun tidak ingin mengambil risiko menangani ibu berkacamata dengan persalinan normal. Karena mendapat intervensi seperti itu akhirnya tidak sedikit ibu yang punya mata minus mengambil keputusan untuk melahirkan secara sesar padahal yang seharusnya si ibu ini masih bisa menjalani persalinan spontan.

Saya juga sempat mengambil langkah tersebut. Mendatangi dokter obgyn dengan tujuan ingin konsultasi terkait jadwal untuk operasi sesar. And you know what, apa respon dokter obgyn yang saya datangi.

Untuk apa sesar? Kondisi janin ibu semuanya bagus, posisi janin anterior, tidak ada plasenta yang menghalangi jalan lahir, tidak ada lilitan, air ketuban juga cukup, denyut jantung janin normal. Intinya tidak ada masalah sama sekali yang mengharuskan ibu melahirkan secara sesar. Masalahnya cuma di mata ibu saja, kan?

Saya mengangguk.

Oke kalau gitu kita ikhtiar normal dulu.

See! Di saat saya pesimis melahirkan normal karena kondisi mata yang konon bisa buta atau selaput retina robek bila dipaksa mengejan, si dokter malah optimis dan meyakinkan saya untuk melahirkan normal. 

Well, saya nggak terlalu heran dengan respon si dokter terlebih saya memang sengaja mendatangi dokter obgyn yang saya tahu beliau itu PRO NORMAL. Padahal sebelum hamil saya sudah pesimis pun beranggapan nggak mungkin bisa melahirkan normal karena terlalu percaya omongan orang-orang. 

Syukur, sebelum melahirkan saya berdayakan diri, saya cari ilmunya, saya beli buku ini, saya belajar tentang gentle birth, saya cari tahu pertimbangan yang tepat untuk memilih dokter maupun rumah sakit untuk bersalin. Alhamdulillaah atas takdir Allah pula, saya bisa melahirkan normal dua kali dengan kondisi mata minus. Coba kalau saya nggak berdayakan diri, nggak cari tahu ilmunya, asal pilih dokter obgyn mungkin ceritanya bakal lain kali ya. Dan yang paling penting lagi, saya berhasil melahirkan tanpa rasa takut sama sekali. 

Seperti yang sudah saya singgung di atas, ilmu terkait gentle birth yang saya pelajari dari akun @bidankita dan buku #Bebas Takut Hamil dan Melahirkan ini sukses mengubah sudut pandang saya. Proses melahirkan yang kata orang-orang menyakitkan itu bukan lagi menjadi momok yang harus saya takutkan.

So far, jika kamu pengen punya sudut pandang yang berbeda, jika kamu tidak ingin menghadapi persalinan dengan rasa takut coba deh baca buku yang ditulis oleh Bidan Yesie Aprillia ini. Ada banyak ilmu seputar kehamilan dan persalinan yang bisa kamu dapatkan dari membaca buku setebal 214 halaman ini. Bahkan dengan membaca buku #Bebas Takut Hamil dan Melahirkan saja, semua pertanyaan terkait apa-apa yang perlu kamu persiapan untuk menghadapi persalinan bisa kamu temukan.

Mengawali buku ini, Bidan Yesie langsung mengingatkan pembaca tentang betapa pentingnya persiapan itu. Mengibaratkan melahirkan itu seperti lari marathon yang pastinya butuh pengetahuan terlebih dahulu, persiapan fisik, peralatan maupun persiapan mental.

Beliau juga menganalogikan melahirkan ibarat orang yang hendak travelling yang sebelum melakukan perjalanan tentunya mesti menabung dulu, mencari tahu jadwal maupun harga tiket serta membuat itinerary sedetail mungkin agar rencana perjalanan tersebut bisa berjalan lancar. 

Atau juga ibaratnya mendaki gunung. Yang mulanya tidak suka naik gunung tapi ketika berhasil sampai ke puncak jadi ketagihan dan ingin mengulangi peristiwa yang sama. Begitu pula dengan melahirkan, bisa jadi ketika merasakan persalinan yang aman dan nyaman kamu pun akan ketagihan dan ingin kembali merasakan nikmatnya melahirkan. (Mungkin itu juga yang saya rasakan kali ya, makanya setelah melahirkan anak pertama, jadi pengen hamil lagi, wkwk) 

Intinya, untuk mencapai persalinan yang nyaman dan minim trauma yang dibutukan adalah PERSIAPAN. Nah, lewat buku ini, kamu akan mendapatkan berbagai tips praktis untuk MEMPERSIAPKAN diri, suami dan keluargamu agar mendapatkan pengalaman melahirkan dan dilahirkan yang indah dan layak dikenang. 

Semua adalah tentang PERSIAPAN. Bersiaplah untuk lahir kembali menjadi pribadi yang baru dan lebih baik saat proses persalinanmu (hal. 6)

Boleh dibilang buku yang ditulis oleh bidan plus pelatih hypnobirthing dan pranatal yoga di Indonesia ini bisa menjadi buku panduan sekaligus teman dalam menjalani masa kehamilan. Malah menurut saya panduannya lengkap banget, karena bahasan yang ada di buku ini mulai dari persiapan fisik hingga mental semua dijelaskan secara rinci.

Seperti pada pembahasan mengenai persiapan fisik, bidan Yesie mengajak kita untuk merawat tubuh dan bayi kita dengan memperhatikan asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh. Tentunya kita sudah tahu ya, ibu hamil sangat disarankan untuk tidak mengonsumsi sembarang makanan. Dianjurkan ibu hamil hanya makan makanan yang bergizi karena apa yang dimakan ibu hamil itu pula yang dimakan si jabang bayi. Jelas perkembangan bayi di dalam rahim sangat bergantung dengan makanan yang ibunya konsumsi.

Cintai tubuhmu dan dirimu terlebih dahulu, baru kamu bisa mencintai orang lain, termasuk janin dalam kandunganmu. (Hal. 27)

Di bagian persiapan fisik ini bidan Yesie mengulas nutrisi apa saja yang diperlukan oleh tubuh dan janin sesuai usia kehamilannya bahkan lengkap pula dengan kandungannya masing-masing.

Masih tentang persiapan fisik, bidan Yesie juga mengajak kita untuk mengenali dan menyayangi tubuh dengan olahraga yang tujuannya dapat mengurangi rasa sakit ketika persalinan. Oya olahraga yang dimaksud adalah prenatal yoga maupun senam kehamilan. Ini juga pembahasannya lengkap, mulai dari gerakan hingga caranya plus disertai gambar yang jika dipahami dengan baik bisa kita praktikkan sendiri di rumah.

Pada ulasan terkait persiapan mental, bidan Yesie memberitahu tentang betapa pentingnya menyadari napas, memberikan affirmasi positif agar dapat terhubung dengan janin serta mengenalkan teknik hypnobirthing yang jika dikuasai dengan baik maka kita bisa menjalani persalinan dengan rileks.

Lewat buku ini kita juga akan mendapatkan pengetahuan tentang gentle birth, termasuk bagaimana caranya menerapkan metode tersebut dalam persalinan sekalipun kita tidak mendapat dokter atau klinik yang pro gentle birth. Paling tidak dengan pengetahuan tersebut intervensi yang mungkin kita terima di tempat bersalin yang tidak menerapkan proses alami dari tubuh sang ibu bisa diminimalisir.

Tidak hanya itu, persiapan suami dan pendamping persalinan untuk mendukung kenyamanan istri pun diulas secara detail oleh bidan Yesie. Bahkan kalau kamu masih galau dalam menentukan tempat untuk bersalin, entah mau di rumah, klinik atau rumah sakit baca saja buku #Bebas Takut Hamil dan Melahirkan agar kamu bisa pertimbangkan baik-baik sesuai plus minus masing-masing yang sudah diterangkan oleh beliau di buku ini.

Overall, buku panduan kehamilan dan melahirkan yang ditulis oleh bidan Yesie Aprillia ini bagus sekali. Baik itu covernya maupun isinya. Lihat sampulnya yang berwarna pink cantik dihiasi dengan ilustrasi gambar ibu yang sedang hamil dan ibu yang menggendong bayi saja sudah menarik sekali apalagi bagian dalamnya. Sangat informatif. Disampaikan dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti meski ada beberapa istilah kebidanan yang tidak saya pahami.

Eh tapi baca buku ini juga menambah pengetahuan saya tentang ilmu kebidanan lho meski cuma seuprit, hehe. Tapi beneran deh, walau bukan dari jurusan kebidanan, sebagai perempuan kita juga perlu tahu sedikit ilmunya, kan?

Mana buku Bebas Takut Hamil dan Melahirkan ini juga dilengkapi dengan berbagai tips, panduan untuk membuat birth plan hingga birth story pun ada. Bahkan bagian yang paling menarik dari buku ini adalah penjelasan terkait fase persalinan itu sendiri. Pokoknya banyaklah ilmu yang bisa kamu dapatkan dari buku ini. Plusnya lagi ada bonus mini coloring book-nya.

Oke, sekian dulu ulasan buku saya kali ini. Semoga bermanfaat dan bisa nambah referensi buat kamu yang membutuhkan bacaan seputar kehamilan dan melahirkan yang recommended.


You May Also Like

25 comments

  1. Pengen kepo lebih dalam jadinya. Mengenai gentle birth ini. Apa sama metodenya dengan hypnobirthing terus sama metodenya Ibu Robin yang di Bali itu. Makasih yaa ulasannya, jadi pengen kepo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cuss Mbak bisa kepo langsung di akun @bidankita atau baca buku ini, hehe. Intinya hypnobirthing ini merupakan bagian dari gentle birth. Kalau metode ibu Robin di Bali saya belum tahu Mbak.

      Delete
    2. Pertanyaanku sama ini. Ibu Robin yang di Bali bantuin Ayudia itu kan? kadang aku masih bingung dengan metode-metode ini kok sekilas mirip-mirip

      Delete
  2. jadi penasaran sama buku nya. pengen baca sendiri kak biar semakin punya pengalaman. melahirkan sih sakit emang cuma pas udah nongol dedeknya udah keganti sama bahagia kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baca aja bukunya kak, biar rasa penasarannya terjawab, hehe. Iya melahirkan memang sakit, sakit banget malah tapi dengan menerapkan metode ini setidaknya kita jadi nggak terfokus sama rasa sakit itu dan yup pastiny lega banget setelah si jabang bayi nongol :)

      Delete
  3. Gentle birth itself views the birthing process as the most beautiful and loving process so that it should be done comfortably.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes i agree a birth should be done comfortably that's why i like gentle birth method

      Delete
  4. Keren nih bukunya. Bisa buat jadi kado para bumil. Juga bagi para gadis, agar lebih awal tahu dan mempersiapkan yang terbaik buat kehamilan dan momen melahirkan mereka.

    Salam kenal dari Lombok

    ReplyDelete
  5. Kalau dipersiapkan dengan baik, insyaAllah proses kehamilan dan melahirkan adalah pengalaman yg menyenangkan ya Mba
    Gentle Birth ini penting bgt diketahui ibu2 muda jaman now

    ReplyDelete
  6. Dulu, meski belum punya buku ini, tapi udah googling dan belajar dari info yang ada. Saya aslinya penakut banget, Mbak...diinfus aja saya nangis...hihi, tapi qadarallah pas lahiran saya nggak cengeng. Saya tahu melahirkan pasti sakit, tapi wanita sudah Allah kasih kekuatan jadi insya Allah pasti bisa melewati..

    ReplyDelete
  7. Saya sebenarnya salah satu orang yang rada takut juga kalau memikirkan melahirkan, jadi sepertinya saya harus belajar banyak mengenai gentle birth ini, deh. Terimakasih banyak ilmunya, bisa jadi pegangan buat jomblo kaya saya haha

    ReplyDelete
  8. Ada yang bilang melahirkan itu kapok lombok
    Kapok = ga mau mengulangi
    Lombok = cabai
    Walau kepedesan , eh makan lagi makan lagi 😁😁😁

    ReplyDelete
  9. Saya dua kali melahirkan melalui sectio, tapi tetep ngga kuat kalau lihat video tentang itu mba.

    Sekarang, karena faktor usia sudah tidak berencana menambah momongan,tapi balik lagi sama Allah sih, jika dikasih rejeki lagi ya Alhamdulillah. Review nya bermanfaat buat nambah pengetahuan tentang kehamilan dan melahirkan, mbak. Makasih yaa

    ReplyDelete
  10. Hamil dan melahirkan memang butuh ilmu ya mba, supaya kita gak terjebak dengan katanya begini dan katanya begitu yang malah bikin parno sendiri

    ReplyDelete
  11. Wajib dibaca untuk yang baru menikah nih tapi untuk anak remaja juga jadi bacaan bagus, karena kan mereka ngebayangin melahirkan itu sakit banget jadi buat wawasan mereka bukunya.

    ReplyDelete
  12. Kalau aku dari gadis mikirnya melahirkan itu sama saja kek pohon yang sedang berbuah dan masak pohon so kalo sdh waktunya ya g akan sakit hehe

    ReplyDelete
  13. Zaman sekarang banyak buku, e-book, dan informasi tentang hamil dan melahirkan. Zaman dulu yaa dijalanin aja, makanya banyak cerita-cerita serem. Film juga suka gitu, melahirkan teriak-teriak. Alhamdulillah kalau semua tahu tentang Gentle Birth, kaan engga heboh kayak di film.

    ReplyDelete
  14. Setuju!
    "Knowledge is Power" is so so so true!
    Keren banget penjabarannya, mba
    Aku suka, suka, suka!

    Ntar mau mampir lagi, baca-baca ulang lagi.

    You rock, beib!

    ReplyDelete
  15. Jujur dulu waktu pertama kali melahirkan di tahun 2005 saya itu takut banget dg yg namanya sakit. Eh keulang lagi di 2007, 2011 dan terakhir 2017 lalu melahirkan lagi hehe. Jadi yang saya takutkan itu ternyata jadi sahabat saya, krn kl gak ada si rasa sakit saya bakal gak dipertemukan dong dg keempat buat hati kami hehe. So, lebih baik berdamai dengan rasa sakit deh. Anyway tfs ya resensi buku Bebas Takut Hamil dan Melahirkan

    ReplyDelete
  16. Kalau aku, takutnya hamil, kalau melahirkan enggak.
    Karena tigakali hamil, dua bermasalah, bahkan yang hamil ketiga itu sampai 9 bulan, muntah-muntah terus. Kalau melahirkan mah cepat ya :)
    Senang ya kalau ada buku yang membahas detail tentang kehamilan dan melahirkan, buat persiapan jiwa raga.

    ReplyDelete
  17. Ulasannya sangat panjang hehe. Tergambar betapa menariknya buku #Bebastakut Hamil ini. Memang butuh knowledge dalam menghadapi kehamilan dan persalinan.

    ReplyDelete
  18. Saya belum pernah merasakan hal di atas, semoga nggak jadi trauma muda tapi dijadikan sebagai pengetahuan kedepannya kalau nanti tiba masanya merasakan hal itu

    ReplyDelete
  19. Duh, baca-baca tuisan ini bikin inget masa-masa hamil dan melahirkan 4 anakku. Beda-beda keempatnya. Dan setuju banget kalo melahirkan itu tentang persiapan. Sejak melahirkan anak kedua sampe yang keempat, aku persiapan lebih ke mental. Aku sugesti tiap hari kalo melahirkan itu gak sesakit seperti saat melahirkan anak pertama. Alhamdulillah, semuanya lancer dan beneran gak sesakit saat pertama.

    ReplyDelete
  20. Melahirkan merupakan kodrat seorang wanita, sempurna bila seorang perempuan sudah melahirkan seorang anak dan dipanggil sebagai ibu. Mau beli akh bukunya

    ReplyDelete
  21. Walaupum belum kesampean untuk baca bukunya, dengan ikutin Ig nya sudah bermanfaat banget. Jadi kepo kannn, sama bukunya!

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.