Benarkah Muslimah Berhijab Berisiko Kekurangan Vitamin D

by - March 02, 2020

Muslimah berhijab berisiko kekurangan vitamin D?
(gambar : winnetnews.com)
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Hari terakhir bulan Februari diperingati sebagai Hari Penyakit Langka (Rase Disases Day) sedunia. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai penyakit langka dan dampak bagi para penderitanya.

Sebagaimana yang kita ketahui, sebelumnya sudah banyak hari yang didedikasikan untuk penderita penyakit tertentu, seperti AIDS, Kanker, dll namun belum ada hari untuk mewakili penyakit langka sehingga ditetapkanlah tanggal 28 atau 29 Februari sebagai Hari Penyakit Langka.

Hari Penyakit Langka pertama kali diselenggarakan pada tanggal 29 Februari 2008. Tanggal tersebut dipilih karena 29 Februari termasuk "hari yang langka". Di Indonesia sendiri Hari Penyakit Langka baru diperingati sejak tahun 2016.

Peringatan Hari Penyakit Langka Sedunia ini diprakarsai oleh European Organization for Rare Disease (EURORDIS), lembaga non-profit yang berperan sebagai aliansi dari organisasi-organisasi penyakit langka di Eropa dan sekitarnya. 

Hijrah Indonesia mengajak muslimah untuk buka hijab di Hari Penyakit Langka Sedunia

Bagi yang belum tahu, Hijrah Indonesia adalah sebuah akun fan page di facebook yang menggagas gerakan #NoHijabDay di Indonesia pada tanggal 1 Februari kemarin. Hijrah Indonesia dalam keterangan "about" di akun fun page-nya mengaku sebagai komunitas yang membahas mengenai jilbab dan aurat dan fokus dalam QS Al-Baqarah 53, Al-Maidah 32, Al-Hujurat 13, Al Isra 82, dan Al-Baqarah 59. 

Well, kalau mau membahas tentang jilbab dan aurat harusnya Hijrah Indonesia fokus ke ayat-ayat yang berkenaan dengan keduanya saja kan seperti pada QS Al-Ahzab : 59 maupun An-Nur : 31, namun komunitas ini malah mencari ayat-ayat lain dan menafsirkannya sesuka akal mereka.

So far, nggak usah heran jika membuka FP Hijrah Indonesia lantas menemukan postingan-postingan yang mengundang kontroversi. Akun FP yang telah memiliki lebih dari 5000 likers ini memang dikelola oleh kaum feminis liberal yang menentang penggunaan hijab di kalangan muslimah.

Kaum feminis liberal menganggap hijab merupakan budaya arab sehingga TIDAK WAJIB digunakan. Bahkan menurut mereka, sebagian besar muslimah yang berhijab di Indonesia telah termakan dogma maupun doktrin.

Itulah sebabnya komunitas ini berani menjadi pelopor gerakan #NoHijabDay dan terang-terangan melawan gerakan #WorldHijabDay dengan mengajak para muslimah membuka jilbab maupun berbagi kisah terkait pengalaman mereka ketika memutuskan untuk tidak lagi menutup aurat.

Baca juga Tentang Gerakan World Hijab Day vs No Hijab Day

Oya salah satu alasan Hijrah Indonesia menggelar acara #NoHijabDay karena Vitamin D. Mereka meyakini bahwa hijablah yang menjadi penyebab tingginya prevalensi defisiensi vitamin D di kalangan muslimah di seluruh dunia. Vitamin D pula yang menjadi senjata utama mereka ketika menyebarkan virus Jilbab Tidak Wajib.

Menurut mereka banyak perempuan harus membuka jilbab/hijab karena masalah kesehatan, kebutuhan fisik serta disabilitas. Termasuk demi memperoleh akses yang adil dalam memperoleh vitamin D secara gratis dan alami sebagaimana kaum lelaki. 

Untuk itulah mereka sampai menggelar acara khusus yang diberi nama Akses Setara bagi Vitamin B sebagai bentuk solidaritas di Hari Penyakit Langka Sedunia. 

Lihatlah bagaimana mereka menyalahkan hijab sebagai penyebab menurunnya kualitas kesehatan umat Islam di dunia dan menganggap muslimah yang menggunakan busana ini telah termakan doktrin.

Banyak perempuan karena doktrin mengenai busana dan aurat yang sedang populer pada hari ini tidak dapat mengakses sinar matahari secara adil dan setara walaupun hanya untuk 15 menit sehari daripada mereka yang dapat mengakses UVB secara setara dengan lelaki, telah menyebabkan menurunnya kualitas kesehatan umat Islam di seluruh dunia. Ini terjadi karena doktrin yang sedang populer tersebut telah menyebabkan mereka terhalang memperoleh sumber terbaik vitamin D. 

Lewat laman acara Akses Setara bagi Vitamin D ini mereka mengajak perempuan bersolidaritas pada Hari Penyakit Langka sedunia dengan tidak berkerudung atau memberikan akses kepada perempuan untuk memperoleh vitamin D serta berbusana sesuai keadaan fisiknya.

Belakangan saya baru tahu mengapa komunitas ini begitu semangat mengkampanyekan pentingnya vitamin D dan mengajak para muslimah untuk membuka jilbabnya demi mememeroleh vitamin D dari sumber alami yang gratis dan secara langsung, yakni sinar matahari.

Rupanya pemimpin sekaligus salah satu pelopor page FB Hijrah Indonesia, Syekah R.A Gayatri W.M adalah seorang yang menderita penyakit autoimun SLE (Lupus), MCTD serta pemphigus foliaceus akibat defisiensi vitamin D. Menurut pengakuannya, dia telah berhijab selama 17 tahun namun kemudian melepasnya demi kesehatan. Dimana setiap harinya ia harus berjemur walau hanya 15 menit untuk mendapatkan vitamin D langsung dari sinar matahari. Berdasarkan pengalamannya itulah sehingga sosok di balik Komunitas Hijrah Indonesia ini aktif mengajak perempuan muslimah untuk membuka jilbab agar tidak mengalami penyakit seperti yang ia derita.

Baiklah, postingan ini saya tulis tanpa maksud mendebat argumen orang-orang seperti mereka. Didebat atau diajak diskusi baik-baik pun percuma, walau menyandang agama Islam toh mereka lebih menuhankan akal. Padahal tidak semua hal di dunia ini dapat dijangkau oleh akal manusia, ya kan?

Saya hanya tergelitik dengan pernyataan mereka soal vitamin D, benarkah menggunakan hijab dapat menyebabkan seorang muslimah berisiko kekurangan vitamin D? Lalu saya mencari berbagai referensi terpercaya di google. Tahu nggak jawaban apa yang saya temukan? Ternyata benar, muslimah yang berjilbab berisiko mengalami defisiensi vitamin D.

Baca juga Ada Apa dengan Jilbab Syari?

Muslimah Berhijab Berisiko Kekurangan Vitamin D

As we know, cahaya matahari memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembentukan vitamin D di dalam tubuh. Itulah sebabnya ketika berbicara tentang vitamin D orang-orang lebih fokus mendapatkannya dari paparan sinar matahari. Lalu berasumsi jika seseorang jarang terkena sinar matahari maka akan berisiko mengalami defisiensi vitamin D. 

Muslimah dengan busananya yang serba tertutup pun ikut disoroti. Banyak yang beranggapan busana yang dikenakan itu menghalangi seorang muslimah dari paparan sinar matahari sehingga menyebabkan ia berisiko kekurangan vitamin D. Benarkah demikian?

Tentu untuk menjawab pertanyaan tersebut kita tidak bisa langsung mengambil kesimpulan tanpa data yang mendukung. Setidaknya kita harus mengetahui lebih dulu beberapa hal terkait vitamin D. Untuk itu saya tertarik dengan penjelasan yang disampaikan oleh Stefanus Paulus di blognya https://skinchemically.wordpress.com/

Dari namanya mungkin kita bisa tebak ya, Stefanus ini adalah seorang kristiani dan lagi blognya masih gratisan. Katanya mau cari referensi yang terpercaya di google ini kok malah referensinya dari blog yang masih gratisan, selain itu penulisnya beda agama pula?

Oh jangan salah paham dulu, blog gratisan memang terkesan tidak profesional tapi belum tentu dengan isinya. Saya tertarik mengambil referensi dari artikel berjudul Jilbab dan Vitamin D yang ditulis oleh Stefanus Paulus ini karena doi menggunakan referensi lengkap bukan bersumber dari google semata.

Ya karena saya nggak punya referensi dari buku jadi sekaligus saja saya ambil referensi di artikel tersebut, at least datanya lebih akurat. Dan yang bikin saya lebih tertarik lagi karena solusi yang diberikan Stefanus dari artikelnya ini sungguh tidak sesuai dengan dugaan awal saya.

Apakah benar kalau perempuan berjilbab lebih mudah kekurangan vitamin D?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita mengetahui beberapa hal terkait Vitamin D.

Apa itu vitamin D dan kegunaannya?

Vitamin D adalah senyawa secosteroid yang larut lemak dan berbeda dengan beberapa jenis vitamin yang lain. Vitamin D sebenarnya adalah sejenis hormon (perlu diketahui juga bahwa sesuatu bisa dikategorikan sebagai vitamin jika tidak bisa dihasilkan oleh tubuh). 

Jenis vitamin D yang bisa digunakan tubuh adalah vitamin D3 (cholecalciferol) dan D2 (elgocalciferol) dan keduanya bertanggung jawab dalam meningkatkan kemampuan sistem pencernaan menyerap mineral penting seperti kalsium, fosfor, dan magnesium, makanya vitamin D sangat baik untuk kesehatan tulang. Tidak hanya itu, vitamin D juga berperan penting dalam menjaga fungsi saraf, sistem imun, bahkan mencegah kanker.

Vitamin D diperoleh dari mana saja?

Vitamin D bisa diperoleh dari makanan yang berlemak dari sumber hewani seperti telur, minyak hati ikan, dll. Meski demikian, vitamin D yang bisa diperoleh dari makanan sangatlah sedikit dan seringkali kurang dari kebutuhan tubuh manusia sehari-hari. Untungnya, tubuh manusia dapat menghasilkan hampir semua vitamin D yang dibutuhkan dengan bantuan sinar matahari.

Apa peran sinar matahari dalam pembentukan vitamin D?

Mungkin selama ini kita memahami bahwa cahaya mataharilah yang menghasilkan vitamin D, ternyata itu keliru. Tubuh manusialah yang menghasilkan prekursor atau ’calon’ vitamin D dan sinar matahari yang membantu mengubahnya menjadi senyawa pre-vitamin D dan nantinya diubah tubuh lagi menjadi vitamin D yang siap dipakai tubuh. Begitu penjelasannya, semoga paham ya?

Jadi sinar matahari ini berperan penting dalam pembentukan vitamin D karena ia mengandung sinar ultra violet B (UV-B). Tanpa sinar UV-B, ‘calon’ pre-vitamin D tidak bisa diubah menjadi pre-vitamin D dan ini berarti kita tidak bisa mendapatkan bentuk calon vitamin D yang nantinya diubah tubuh menjadi vitamin siap guna. 

Secara normal, kita pasti bisa menghasilkan prohormon si calon vitamin D dalam jumlah cukup banyak. Namun tanpa sinar UV-B proses selanjutnya tidak bisa berjalan karena ginjal tidak bisa mengubah prohormon (bukan pre-vitamin D) menjadi vitamin D. Intinya, NO UV-B, NO VITAMIN D.

Nah, salah satu sifat atau karakteristik dari si UV-B adalah sinarnya dapat tertahan akibat penggunaan pakaian atau kain namun ini juga tergantung dengan ketebalannya.

Dari uraian di atas berarti bisa kita simpulkan bahwa sangatlah mungkin muslimah mengalami kekurangan vitamin D karena jilbabnya. Namun yang perlu kita ketahui jilbab bukan satu-satunya faktor risiko kekurangan vitamin D, masih banyak faktor lainnya.

Baca juga Jilbab Tentang Kewajiban Bukan Pilihan

Faktor Risiko Kekurangan Vitamin D

Pakaian yang menutupi seluruh tubuh memang bisa mengurangi paparan sinar matahari terhadap kulit dan itulah yang memungkinkan wanita yang menutup auratnya berisiko kekurangan vitamin D.

Namun alih-alih mempermasalahkan pakaian para ahli justru menekankan penyebab utama kekurangan vitamin D adalah perilaku orang-orang yang anti  dengan sinar matahari.

Riset yang dilakukan di berbagai negara seperti Malaysia, Jerman, Yordania, dan Arab Saudi menunjukkan bahwa model pakaian atau berhijab bukan yang menjadi penyebab utama kekurangan vitamin D, tapi penyebab utamanya adalah perilaku yang menjauhi paparan dengan cahaya matahari.

Lha memangnya ada ya orang yang tidak ingin terkena sinar matahari?

Yup, ada banyak kan orang yang tidak ingin atau berusaha menjauhi sinar matahari karena takut hitam atau lebih suka menghabiskan banyak waktunya di dalam ruangan ber-AC? Termasuk penggunaan sunscreen maupun sunblock secara berlebihan itu juga dapat meningkatkan risiko kekurangan vitamin D lho.

Bukan hanya itu, orang-orang yang selalu menghindari makan-makanan yang berlemak karena takut gemuk pun rentan kekurangan vitamin ini.

Intinya semua orang di masa modern ini berisiko kekurangan vitamin D. Namun orang-orang yang dengan sengaja menjauhi paparan sinar matahari jelas jauh lebih berisiko, termasuk jika itu adalah wanita berhijab. Apalagi jika si wanita dalam kondisi hamil.

Jangan dikira dampak dari kekurangan vitamin D tidak berbahaya. Sebaliknya, dampaknya cukup mengerikan mengingat wanita lebih mudah terkena osteoporosis dibandingkan laki-laki.  Selain itu kekurangan vitamin D khusus pada wanita hamil dapat berimplikasi pada bayi yang dikandungnya dimana kekurangan vitamin D dapat menyebabkan si kecil ketika lahir mengalami rakitis yang ditandai dengan kaki ‘melengkung’ sehingga menyerupai huruf O atau X.

Apa itu berarti seorang wanita harus melepas jilbabnya agar tidak kekurangan vitamin D dan dapat terhindar dari dampak negatifnya?

Solusi yang diberikan oleh Komunitas Hijrah Indonesia yang notabene anggotanya sendiri muslim adalah iya, mereka bahkan berasumsi jilbab tidak wajib karena tidak mungkin Tuhan menurunkan syariat yang dampaknya dapat mengganggu kesehatan manusia.

But see! Solusi yang diberikan Stefanus Paulus ini yang bikin saya nggak menyangka. Doi bukan muslim tapi menurutnya solusi dari permasalahan ini bukanlah dengan meninggalkan jilbab. Lalu bagaimana solusinya?

Berjemurlah dengan cara yang tepat atau mengonsumsi suplemen vitamin D secukupnya alias tidak berlebihan bisa menyelesaikan masalah ini.

Jadi nggak usah khawatir ya, karena meski berjilbab pun kita masih bisa mendapatkan vitamin D dengan cukup, Kuy, sekian dulu sharing saya kali ini. Semoga bermanfaat.

Referensi
https://skinchemically.wordpress.com/2018/06/22/jilbab-dan-vitamin/amp/
https://theconversation.com/apakah-perempuan-berjilbab-berisiko-kurang-vitamin-d-riset-tunjukkan-ada-banyak-penyebabnya-120347

You May Also Like

24 komentar

  1. Kalau jilbab merugikan kesehatan logikanya kan semua perempuan sakitnya seperti Mbak Syekah. Kenyataannya kan tidak.

    ReplyDelete
  2. Sekarang sudah mulai banyak komunitas perempuan feminis yang salah kaprah dengan ajaran agama, termasuk kewajiban berjilbab itu.

    Semoga mereka tersadarkan dan kembali pada fitrahnya. Aamiin.

    ReplyDelete
  3. kalau dirumahji bermalas2an iya pasti kekurangan vit D. tapi kalau kluar rumah stiap hari pasti dapat trusji asupan vit D hahaaa

    ReplyDelete
  4. Gemess ya kak dengan gerakan non hijab day ini. Seberapa yakin nih mereka tidak kekurangan vit D, nanti kalau sudah dicubit oleh Allah baru deh sadar

    ReplyDelete
  5. Meskipun berhijab, memang harus diusahakan untuk selalu terkena sinar matahari, ya mbak. Olah raga pagi, keluar sejenak dari kantor, cukup membanti juga

    ReplyDelete
  6. artikel yang menarik sih. Kadang yang berhihab saja, bisa kurang vitamin D klo jarang keluar rumah

    ReplyDelete
  7. Wah bu dekter nih, penjelasannya mantabsss jd tau aku terkait vit D tadi pun dari sinar matahari aja hehe
    Yq paparannya

    ReplyDelete
  8. Pastinya ada solusi terbaik untuk para hijabers TANPA harus membuka aurat.
    Sip sippp, makasiii artikelnya yg super enlightening, mak

    ReplyDelete
  9. Pasti ya saya berhijab sebagai upaya untuk taat. Dan saya yakin kalau itu sudah diperintahkan, pasti terbaik. Sesimple itu aja, sih

    ReplyDelete
  10. Kak Siska, gak heran deh dengan para feminis.. mereka suka mengubah ayat-ayat untuk pembenaran kepingin mereka. Bahkan di Medan sendiri ada yang ngaku ustadz tapi menyuruh istrinya buka hijab. Dunia udah Tua kak..

    ReplyDelete
  11. Ih aneh banget ya?
    Baru tau ada gerakan non Hijab di hari peringatan penyakit langka
    Mirip aliran sesat 😁😁😁

    ReplyDelete
  12. Ih aneh banget ya?
    Baru tau ada gerakan non Hijab di hari peringatan penyakit langka
    Mirip aliran sesat 😁😁😁😁

    ReplyDelete
  13. Kalau aku lebih memilih utk mencuekkan mereka sih..engga usah di up nanti malah jd tambah gede.. Org2 yg mwmpeetuhankan rasio tanpansadar rasio sangat terbatas kemampuannya...xixixi

    ReplyDelete
  14. Semuanya bisa jadi..yg gak dibenarkan adalah mempengaruhi orang lain apalagi hanya demi cari teman hehe

    ReplyDelete
  15. hihihi cuma butuh berjemur 15 menit per hari, sampai menanggalkan jilbabnya selama 24 jam.
    Tapi sudah lah, percuma juga di debat

    ReplyDelete
  16. Tiap pagi selalu berjemur di balkon...
    Juga rutin minum suplemen, meski berhijab tak akan kekurangan vit D, ya kan mbak

    ReplyDelete
  17. Untuk mendapatkan UV-B kan nggak harus melepas jilbab di luar rumah. Kalau masih punya halaman belakang di rumah yang nggak terlihat oleh orang lain, perempuan berhijab bisa berjemur selama 15 menit setelah pukul 9 pagi. Atau berenang di kolam renang khusus muslimah. Banyak jalan mendapatkan sinar UV-B tanpa harus melepas jilbab, asal kita mau berusaha aja.

    ReplyDelete
  18. ah nohijabday mah akal2an saja biar ada alasan lepas hijab. padahal kan tahu kalau Allah sudah jelas memerintah kita dan tertuang dalam AlQur'an. kalaupun butuh lepas hijab agar maksimalnya.kerja sinar matahari dalam ubah pro vit D dalam tubuh jd vit D, kan bisa di rumah. ada teras yg terhalang pagar dan tak sembarangan dilihat orang

    ReplyDelete
  19. Sukkaaa mbak tulisannya, dalem banget.
    Suatu aturan tentu ada manfaat yang diberikan, seperti jilbab ini..
    Dan sebagai pengguna jilbab saya tidak takut kekurangan vitamin D bahkan bangga menggunakannya.

    ReplyDelete
  20. Rajin berjemur dan minuman vitamin, biar ga kekurangan vitamin D yah, soalnya kan berjilbab tertutup yah.

    ReplyDelete
  21. Rajib berjemur & minum multivitamin biar gak kekurangan vitamin D yah, saya berjemurnya pas jemur pakaian, lumayan lah sejam berjemur gerah diatas hehe

    ReplyDelete
  22. Wow. Baru tau saya Mbak soal ini. Emang matahari gak bisa nembus kulit kepala dengan adanya jilbab kah? Agak kurang mudeng aku soalan ini. Semoga kita senantiasa diberi kesehatan ya Mbak.

    ReplyDelete
  23. Harus selalu menyempatkan untuk berjemur dan konsumsi vitamin biar asupan vitamin D nya terpenuhi yah

    ReplyDelete
  24. Saya sempat baca juga gerakan No Hijab Day ini dan bertanya-tanya, ini apaaaa. Pas baca postingan ini baru tau info lengkapnya.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.