Bismillaahirrahmaanirrahiim

Setelah memecahkan teka teki untuk dapat membuka kerang istimewa, saya dan para penjelajah samudera yang masih bertahan di Bahtera Matrikulasi akhirnya berhasil mendapatkan Mutiara Ibu Profesional. Mutiara itu berupa Prinsip Berkomunitas.

Jadi prinsip yang harus kami pegang dalam berkomunitas di Institut Ibu profesional adalah SEMUA BOLEH, kecuali 5 hal yang tidak boleh, yaitu :

  • Tidak kritik pemerintah
  • Tidak Ghibah dan Fitnah
  • Tidak bicara SARAT
  • Tidak bicara Khilafiyah
  • Tidak konflik kepentingan
Kelima prinsip itu tujuannya jelas ya. Namanya berkelompok biasanya tidak lepas dari perbedaan pandangan, perselisihan maupun konflik. Ketiganya merupakan hal yang wajar terjadi. Beda kepala, beda pemikiran, itulah sebabnya dibutuhkan prinsip dalam berkomunitas.


Namun memegang prinsip dalam berkomunitas saja tidaklah cukup. Memegang aturan yang telah dibuat dan disepakati bersama juga penting. Nah, inilah misi pelayaran selanjutnya yang harus kami taklukkan. Membumikan CoC.

Sekilas Tentang Code of Conduct (CoC)

Seperti biasa, misi kali ini juga tidak lepas dari peran widyaiswara yang masih setia membersamai. Mutiara Ibu Profesional akan selalu digunakan selama berkomunitas, itu pesan mereka, namun agar lebih terjaga arah perjalanan kami sehingga diperlukanlah pedoman navigasi yang dikenal dengan istilah CoC.

Untuk menyelesaikan misi berikut widyaiswara telah memberikan kami bekal berupa e-book tentang CoC itu sendiri. Tugas kami cukup membaca dan memahaminya sebelum membumikan.

Setelah membuka bekal tersebut barulah saya pahami bahwa CoC atau Code of Conduct dapat diartikan sebagai pedoman perilaku bermartabat. Ini adalah pedoman berupa beberapa aturan yang dibuat setelah dipahami dan disepakati hingga menjadi komitmen bersama. 

Institut Ibu Profesional sendiri dibangun dengan salah satu tujuannya untuk meningkatkan kualitas diri perempuan terutama sebagai seorang ibu sehingga yang ditekankan pada komunitas ini adalah values ibu agar dapat menjadi teladan untuk anak-anaknya. Maka adanya CoC IIP akan menjadi pedoman agar para perempuan dalam komunitas dapat dilatih berperilaku bermartabat.


Berbicara tentang CoC, berikut ini adalah penjabaran pedoman perilaku dalam IIP

Perilaku bermartabat

Ini merupakan tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan yang menaikkan tingkat harkat martabat kemanusiaan dan kemuliaan hidup.

Berbagi dan Melayani

Ini merupakan sikap yang memang sudah harus ada ketika bergabung dalam komunitas yakni untuk berkontribusi baik secara material maupun immaterial

Integritas Tinggi

Ini merupakan perilaku yang menunjukkan moral karakter Institut Ibu Profesional secara utuh dan memegang kuat etika dalam berkomunitas.

Khusus untuk poin perilaku bermartabat lawannya adalah perilaku nista, ini merupakan tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan yang merendahkan tingkat harkat martabat kemanusiaan dan kemuliaan hidup.

Dalam penjelasannya sengaja digunakan kata nista untuk memberi efek psikis dalam praktiknya sebab menyebut kata "nista" saja pastinya kita malu ya apalagi melakukannya. 

Beberapan contoh perilaku nista dalam IIP antara lain : bergabung di IIP dengan tujuan awal karena ada kepentingan pribadi, menjadi silent reader, gabung di IIP tapi nggak ada kontribusi sama sekali baik secara online maupun offline, tidak memiliki integritas tinggi serta tidak taat pada prosedur yang berlaku dalam komunitas ini.

Semua perilaku nista tersebut tentunya harus dijauhi sementara perilaku yang harus dijunjung adalah perilaku bermartabat. 

Berhubung saat ini saya sedang mengikuti perkuliahan di IIP sebagai seorang mahasiwi sehingga perilaku bermartabat yang harus saya junjung adalah ;

  • Memiliki adab yang baik
  • Aktif dan bertanggung jawab
  • Publikasi bermartabat dan bertanggung jawab
Sedangkan perilaku nista yang harus saya jauhi sebagai mahasiswi IIP adalah ;

  • Memiliki adab yang tidak baik
  • Pasif dan tidak bertanggung jawab
  • Publikasi yang tidak bermartabat dan tidak bertanggung jawab
Demikian sedikit pemaparan saya tentang CoC yang materinya saya dapatkan dari widyaiswara Ibu Profesional. Well, sekarang waktunya untuk membumikan CoC.  

Menyelesaikan Misi Membumikan Code of Conduct (CoC)

Barangkali ada yang bertanya-tanya, bagaimana cara membumikan CoC. Baiklah dari "bekal" yang saya dapat, saya memahami bahwa yang namanya karakter itu menular. Itulah sebabnya CoC harus tertulis dan bisa dibaca setiap saat oleh setiap unsur komunitas. CoC juga harus selalu diingatkan secara periodik sampai terlihat di komunikasi seluruh pengurus, widyaiswara dan mahasiswi IIP. 

Jadi pada misi yang ketiga ini kami diminta untuk menuliskan aksi apa saja yang bisa kami lakukan untuk membumikan CoC.

Gambar : Grup FB Matrikulasi IIP batch 8 
Dan inilah aksi yang bisa saya lakukan sebagai mahasiswi Institut Ibu Profesional untuk membumikan CoC ;

#Aksi 1

Mengikuti perkuliahan tepat waktu, jika pun berhalangan setidaknya saya harus bisa memberi konfirmasi terlebih dahulu Terlibat aktif dalam kegiatan perkuliahan yang sedang berlangsung. 

#Aksi 2 

Senantiasa memberikan tanggapan yang positif serta menjalin komunikasi yang baik dengan para widyaiswara maupun sesama mahasiswi IIP lainnya.

#Aksi 3

Berbagi ilmu atau materi yang saya dapatkan di perkuliahan IIP namun dengan cara yang terhormat dan bermartabat. Tidak asal main salin tempel. Setidaknya materi dari perkuliahan IIP yang ingin saya bagikan harus berupa ulasan sendiri dan dicantumkan sebagai sumber. 

Menurut saya ketiga aksi tersebut benar karena sudah sesuai dengan poin 1, 2, dan 3 dalam perilaku bermartabat untuk mahasisiwi Institut Ibu Profesional

Aksi tersebut baik karena merupakan perilaku bermartabat yang memang harus dimiliki oleh setiap penuntut ilmu. Disiplin, menghargai waktu dan menerima materi dengan berungguh-sungguh.

Aksi tersebut bermanfaat karena itu merupakan komitmen agar saya bisa jadi penuntut ilmu yang memahami adab dengan baik. Tentunya ilmu yang didapatkan dengan perilaku yang bermartabat juga akan menjadikan saya sebagai pembelajar yang bermartabat. Terutama peran saya sebagai seorang ibu yang sudah seharusnya menjadi teladan yang baik untuk anak-anak.

Reminder dari pendiri Institut  Ibu Profesional
(Gambar : Grup FB Matrikulasi IIP batch 8)
Itulah misi ketiga yang baru sempat saya taklukkan menjelang jam cinderella. Oya penjelajahan saya bersama para penjelajah samudera di Bahterah Matrikulasi masih berlanjut, meski ada pula penjelajah yang terpaksa harus kembali ke pelabuhan awal karena tidak berhasil menyelesaikan misi.

So, mohon doanya ya. Semoga saya berhasil ikut berlayar sampai ke pelabuhan tujuan dengan menyelesaikan semua misi yang diberikan. Kira-kira masih ada misi apa lagi yang akan saya hadapi di depan sana? Oke, apapun misinya saya masih tetap semangat menghadapi.

Salam,

Pandemi COVID-19
Gambar : mindgameindo.wordpress.com
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Pintu-pintu yang Tertutup dan Terbuka di Masa Pandemi COVID-19 - Tidak menyangka dampak dari mewabahnya jenis baru dari virus corona sampai sedahsyat ini. Sekarang, semua kegiatan yang melibatkan banyak orang dilarang. Tidak ada lagi acara kumpul-kumpul. Berbagai perhelatan besar seperti acara wisuda, pesta pernikahan dan lain sebagainya ikut ditiadakan.

Termasuk aktivitas para pegawai atau karyawan, dan anak-anak sekolah maupun mahasiswa, semua dialihkan ke rumah. Bekerja dari rumah, belajar dari rumah hingga beribadah pun diimbau oleh pemerintah untuk dilakukan di rumah saja.

Tidak hanya itu, berbagai pusat perbelanjaan dan tempat-tempat wisata juga pada tutup. Jalan-jalan yang biasanya diwarnai dengan kemacetan kini menjadi lengang. Semua orang dianjurkan untuk tinggal di rumah atau melakukan pshycal distancing jika berada di tempat-tempat umum.

Sungguh, COVID-19 benar-benar telah mengubah banyak hal dari kehidupan manusia. Of course, tidak ada yang suka dengan kondisi saat ini. Apalagi pandemi telah merengut kebebasan kita untuk beraktivitas di luar rumah dan berinteraksi langsung dengan orang lain.

Bayangkan sudah sebulan lebih kita menghabiskan lebih banyak waktu hanya di rumah saja. Rasanya pasti membosankan ya meski anjuran tersebut sebenarnya bukan hal yang sulit bagi ibu rumah tangga seperti saya yang memang sudah terbiasa berlama-lama tinggal di rumah. Tapi bagaimana dengan mereka yang tidak terbiasa, yang hobinya suka jalan-jalan dan bersosialisasi dengan banyak orang?  

Oke, kondisi dunia yang tengah dilanda pandemi COVID-19 saat ini memang lagi tidak baik. Kita mau mengeluh juga nggak ada gunanya, yang ada hanya bikin kepala pusing tujuh keliling. Lagipula si COVID-19 tidak bisa kita enyahkan dari muka bumi hanya dengan merutuk. Jadi daripada tambah sesak dengan keadaan pandemi yang entah kapan berakhirnya, mending kita bersyukur saja yuk! 


Alhamdulillaah kita dan keluarga masih diberi kesehatan.  Alhamdulillaah meski hanya tinggal di rumah saja kita masih bisa makan hari ini. Masih bisa berinteraksi dengan keluarga, kerabat dan teman-teman lewat media sosial. Masih bisa belajar secara virtual. Masih bisa menimba ilmu via Kulwap atau Zoom meeting. Masih bisa menikmati banyak hiburan menyenangkan pula di rumah.

Ya saya nggak bisa bayangin saja bagaimana jika  pandemi COVID-19 melanda saat dunia belum secanggih sekarang?

Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yang kamu dustakan?

So far buat yang masih suka ngeluh gara-gara virus corona, ayo dong jangan fokus pada satu pintu saja, jangan cuma liat pintu yang tertutup. Soal ini saya jadi ingat dengan pintu tertutup dan pintu terbuka di masa pandemi COVID-19 yang sempat disinggung Coach Ochy beberapa waktu lalu ketika menyampaikan sharing about Positive Vibes ke saya dan teman-teman Blogger Makassar AngingMammiri via aplikasi Zoom.


Kata Coach Ochy, mewabahnya virus corona memang menutup banyak pintu dalam kehidupan manusia namun di saat bersamaan pula pandemi ini telah membuka pintu-pintu yang lain. Well, kita selalu bisa mengambil pelajaran dari pintu-pintu itu.

Yup, COVID-19 memang telah membawa pengaruh yang besar dalam hidup manusia. Namun perubahan tersebut tidak melulu negatif. Munculnya pandemi tidak lantas membuat kita jadi manusia yang kufur nikmat. Justru sebaliknya, ada banyak hal yang patut kita syukuri selama masa sulit seperti sekarang. 

Sekali lagi, jangan fokus hanya pada pintu yang tertutup tapi cobalah tengok ke sekeliling.  Barangkali ada lebih banyak pintu yang Allah bukakan untuk kita di masa sulit seperti ini.

Nah, di postingan kali ini saya bakal sharing terkait beberapa pintu dalam hidup saya yang tertutup dan terbuka selama masa pandemi dan hal-hal apa saja yang syukuri dari terbuka dan tertutupnya pintu-pintu tersebut.


Pintu-pintu yang Tertutup di Masa Pandemi COVID-19

Berikut ini beberapa pintu yang tertutup di masa pandemi COVID-19 yang tentunya bukan cuma saya saja yang mengalami;

Tidak bebas keluar rumah

Right, COVID-19 sudah merengut kebebasan saya untuk beraktivitas di luar rumah. Eh bukan saya saja sih, semua orang di negeri ini juga mengalami hal serupa. Apalagi di beberapa daerah termasuk di daerah tempat saya tinggal sudah diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Efek dari PSBB sungguh membatasi ruang gerak kita. Kita jadi nggak bisa kemana-mana. Mau sekadar jalan-jalan di mall atau nongkrong di cafe pun sudah nggak bisa. Semua serba dibatasi. Keluar rumah juga harus tetap jaga jaga jarak, nggak boleh kontak langsung dengan orang lain. 

Ya pokoknya kondisi saat ini benar-benar nggak enak banget. Tapi yah daripada ngeluh mending saya nikmati saja masa-masa tinggal di rumah. Lagipula adanya pembatasan sosial di luar rumah diterapkan juga untuk kebaikan kita bersama. Agar virus corona tidak semakin meluas penyebarannya.

Okelah, kita memang sudah nggak bebas keluar rumah tapi lebih aman, kan? Justru orang yang sering keluar rumah itu yang nggak aman, mereka rentan terpapar virus corona. Seperti suami saya yang masih harus berangkat kerja karena di perusahaan tempatnya bekerja tidak sepenuhnya menerapkan work from home.

Bukan suami saya saja, di luar sana masih banyak orang yang terpaksa harus keluar rumah di tengah masa pandemi demi menjalankan kewajibannya sebagai pencari nafkah. Mereka yang pekerjaannya tidak memungkinkan untuk dilakukan di rumah saja. 

Mungkin ini bisa jadi renungan buat saya kalau masih suka ngeluh karena nggak bisa kemana-mana. Ada orang yang juga ingin tetap tinggal di rumah bersama keluarganya tapi nggak bisa, sementara saya bisa tinggal di rumah sepuasnya  lalu mengapa saya nggak bersyukur?

Batal Mudik

Waktu si COVID-19 belum nyampai ke Indonesia saya memang berencana mau mudik ramadan ini. Sudah dapet tiket izin juga dari suami meski sebenarnya saya masih galau dengan keputusan mudik saat si kakak belum disapih.

Pasalnya kalau pun jadi mudik suami nggak bisa ikut. Itu berarti kemungkinan besar saya bakal mudik tanpa si kakak dan hanya membawa adiknya. Kenapa bisa begitu?  Ya karena jujur saja saya nggak sanggup bepergian sendiri dengan bawa dua bayi. Apalagi di usia toodler-nya sekarang si kakak maa syaa Allaah luar biasa  super duper aktifnya. 

Di sisi lain keinginan saya untuk mudik sudah menggebu. Saya rindu Serui. Saya ingin tahun ini bisa ramadan dan lebaran bareng orang tua. But qadarullaah wabah virus corona menghempaskan keinginan sekaligus kegalauan saya itu. 

Ya pada akhirnya saya nggak galau lagi karena batal mudik, alhamdulillaah saya bisa melanjutkan perjalanan mengASIhi si Kakak dan tetap bisa Ramadan dan lebaran bareng orang tua tahun ini, meski bukan di Serui. Lho kok bisa?
 
Itulah namanya kuasa Allaah. Benar, di saat satu pintu tertutup, akan ada pintu lain yang terbuka. So, buat man teman yang juga batal mudik lebaran tahun ini nggak usah sedih. Coba lihat pintu apa yang terbuka saat kamu nggak jadi mudik?

Tidak bisa balik ke tempat tinggal sebelumnya

Sebenarnya bukan nggak bisa, tapi keadaan yang memang tidak memungkinkan. Oya sejak awal Maret saya hijrah dari Parepare ke Gowa. Itu juga karena ada orang tua saya datang dari Papua. Selama ini saya dan saudara-saudara memang selalu ngumpul di rumah di Gowa kalau mereka datang. 

Mama dan papa sendiri baru akan balik ke Papua akhir Maret setelah acara wisuda adik saya Aya selesai. Yup tujuan kedatangan mereka ke Gowa memang untuk menghadiri acara wisuda anak ketiganya. But kamu bisa tebak apa yang terjadi kemudian?

Acara wisuda yang sedianya berlangsung tanggal 24 Maret itu diundur, Papua Lockdown dan baru-baru ini Makassar juga menutup semua jalur penerbangan masuk maupun keluar dari Bandara Sultan Hasanuddin. Alhasil orang tua saya terjebak di sini, belum bisa balik ke Papua. Saya juga nggak mungkin balik ke Parepare sementara mereka masih ada.

Ini pintu tertutup yang saya dan orang tua alami. Sama-sama nggak bisa balik tapi hikmahnya saya bisa jadi punya banyak waktu membersamai mereka. Speechlessnya lagi dalam kondisi terjebak Allaah membuka satu pintu lain yang sungguh tak disangka-sangka. Apa itu? Intip jawabannya di pintu terbuka ya.

Gaji suami dipotong hingga 30% dan ada kemungkinan dirumahkan

Tak dimungkiri COVID-19 jelas membawa pengaruh yang besar di bidang ekonomi. Salah satunya, banyak perusahaan yang akhirnya mengambil kebijakan untuk memotong gaji atau merumahkan para karyawannya agar bisa bertahan di masa pandemi. Perusahaan tempat suami saya bekerja juga memberlakukan kebijakan tersebut.

Gaji suami fix dipotong hingga 30% dan kemungkinan akan dirumahkan. Saat suami sampaikan kabar kurang baik itu saya cuma bisa bilang alhamdulillaah. Iya alhamdulillaah karena gajinya nggak sampai dipotong hingga 50% seperti yang sempat dia bilang sebelumnya. Alhamdulillaah kalau pun sampai dirumahkan dia masih bisa menerima upah sekitar 30-35%. 

Terkait pintu tertutup yang satu ini memang seharusnya kita melihat ke bawah bukan ke atas. Masih banyak orang yang jauh mengalami kesulitan akibat pandemi. Mau cari makan saja susah lho bahkan kemarin-kemarin saya sempat dengar berita ada orang yang mati kelaparan karena tak lagi punya penghasilan sehingga dia hanya bisa mengisi perutnya dengan minum air galon. InnalillaahšŸ˜„ Masih tak mau bersyukur?

Selain hal-hal di atas masih banyak pintu tertutup lainnya yang menimpa saya di masa pandemi but i think nggak perlulah saya ulas semuanya.

Pintu-Pintu yang Terbuka di Masa Pandemi COVID-19


Selanjutnya mari intip pintu-pintu apa saja yang terbuka dalam hidup saya di masa pandemi COVID-19 :

Menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga

Kapan lagi kita bisa menghabiskan banyak waktu bahkan hingga 24 jam setiap harinya bersama keluarga dengan personil lengkap? Well, ini pintu terbuka di masa pandemi yang pasti bukan cuma saya yang merasakannya.

Kalau selama ini kita sibuk dengan pekerjaan masing-masing, maka masa pandemi  adalah momen yang tepat untuk merajut kebersamaan lebih lekat bersama keluarga, kan?

Yah saya bersyukur sekali, saat wabah corona melanda Indonesia, saya sementara tinggal bareng orang tua dan saudara-saudara di Gowa which is kami sudah bertahun-tahun nggak ngumpul dengan personil lengkap kayak gini (eh sayangnya mines si bungsu). 

Jadilah hari-hari yang saya lalui selama tinggal di rumah saja diwarnai dengan kehadiran mereka. Suami juga, meski nggak WFH tiap hari tapi setidaknya ada dua hari dimana dia full tinggal di rumah. Gimana saya nggak bersyukur coba? Lebih bersyukurnya lagi karena di masa pandemi ini saya dan suami akhirnya tidak lagi menjalani yang namanya Long Distance Married šŸ„°

Tetap bisa menikmati bulan ramadan dan lebaran bareng orang tua

Batal mudik ke kampung kelahiran bukan berarti saya nggak bisa ramadan dan lebaran bareng orang tua. Ini benar-benar speechless banget sih.

Seperti yang sudah saya singgung di atas, sejak awal Maret saya hijrag ke Gowa dan tinggal bareng orang tua yang sudah datang jauh-jauh dari Papua. Rencananya mereka memang cuma tinggal sebulan di sini, nggak sampe ramadan apalagi lebaran. 

Tapi qadarullaah gara-gara Papua lockdown sudah dari pertengahan bulan Maret, Makassar juga baru-baru ini menutup semua jalur penerbangan hingga tanggal 1 Juni mendatang mereka jadi tertahan, tidak bisa balik Papua. Jadilah saya akhirnya tahun ini saya bisa merasakan kembali puasa dan lebaran bareng mereka, maa syaa Allaah.

Tinggal di rumah sendiri

Nah, ini pintu terbuka yang sungguh tidak saya sangka-sangka sebelumnya. Setelah menikah saya hijrah ikut suami ke Sulsel. Sejak saat itu hidup saya jadi nomaden, masih berpindah-pindah dari satu kota ke kota yang lain, bukan karena belum punya rumah sendiri.

Rumah ada tapi lokasinya jauh dari tempat kerja suami. Apalagi saat masih pengantin baru kan saya belum bisa jauh-jauh dari suami, jadi ke mana suami pergi di situlah saya mengekor, wkwkw.

Baru pas masa pandemi ini suami tiba-tiba ngajak pindah ke rumah sendiri. Ajak pindahnya juga bukan tanpa alasan sih. Melihat kondisi saat ini yang benar-benar nggak memungkinkan kami untuk balik ke Parepare, apalagi papa dan mama masih di sini, nggak mungkin juga kami balik duluan.  

Bersyukurnya karena lokasi rumah kami nggak jauh dari rumah orang tua yang sudah lebih sebulan ini jadi tempat kami sekeluarga ngumpul. Jadi meskipun pindah ke rumah sendiri anak-anak masih bisa tetap dekat dengan kakek-neneknya.

Dan di sinilah saya, suami dan anak-anak berada. In our sweet home, hehe. Setelah tiga tahun pernikahan kami akhirnya bisa pindah ke rumah sendiri. Rasanya lega banget karena itu artinya kami nggak bakal hidup berpindah-pindah lagi (semoga). Well, ini satu hal yang sangat saya syukuri di masa pandemi.

Tetap bisa produktif meski di rumah saja

Last but not least, meski tinggal di rumah saja selama masa pandemi sama sekali tidak membatasi aktivitas saya sehari-hari. Apalagi saya memang kerjanya di rumah, urus suami, urus anak, urus urusan domestik dan segala macamnya. 

Jadi adanya peralihan kegiatan di rumah nggak terlalu terasa pengaruhnya buat saya. Setidaknya sejauh ini saya masih nyaman-nyaman saja tinggal di rumah. Bukan berarti nggak pernah bosan sama sekali ya. Justru ujiannya di sini, harus pintar-pintarnya saya isi waktu dengan hal-hal yang produktif.

Bersyukurnya saat wabah corona melanda saya sudah gabung di Komunitas Ibu Profesional. Bukan kebetulan pula kelas-kelas dari komponen yang saya pilih (Komunitas dan Institut) di  kelas foundation terbuka saat sudah ada anjuran untuk tinggal di rumah. 

Jadilah selama dua bulan terakhir ini waktu saya di rumah juga diisi dengan mengikuti Kelas Orientasi Komunitas Ibu Profesional yang baru saja berakhir dan Kelas Matrikulasi yang masih berlangsung saat ini.

Selain belajar di Ibu Profesional alhamdulillaah selama masa pandemi ini saya juga dapat lebih banyak kesempatan belajar virtual untuk meningkatkan kualitas diri saya terutama sebagai seorang ibu lewat Kulwap, Kulgram, Roompi maupun meeting via  Zoom.

Oya satu lagi yang bikin saya merasa tetap produktif di rumah. Ngeblog. Yah, meski nggak bisa rutin update postingan setiap hari tapi paling tidak setiap hari saya selalu sempatkan untuk buka  blog. Lagipula aktivitas ngeblog bukan ditunjukkan hanya dengan adanya postingan baru, kan? Blogwalking itu juga salah satu kegiatan dari ngeblog lho, hehe.


Itulah pintu-pintu yang tertutup dan terbuka dalam hidup saya di masa pandetmi COVID-19 ini. Intinya saya cuma mau bilang, di masa sulit seperti sekarang ini pun pasti ada hikmah yang bisa kita petik. So kurangi mengeluh, tetap bersyukur dan jangan lupa untuk selalu langitkan doa, semoga wabah virus corona segera diangkat Tuhan dari muka bumi agar kita bisa bersosialisasi kembali seperti biasa.

Salam hangat,


Berkenalan dengan COVID-19
Gambar : Pixbay

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Berkenalan dengan COVID-19 - Virus corona pertama kali muncul di Wuhan, Tiongkok Desember 2019 lalu. Saya sendiri sudah mendengar tentang virus ini sejak pertengahan Januari 2020 hanya saja waktu itu saya belum tertarik mengikuti perkembangannya. Tidak penasaran juga meskipun orang-orang di sekeliling saya sudah ramai membicarakan keberadaan virus yang dinamai COVID-19 ini.

Apa itu COVID-19? Kenapa virus ini bisa muncul? Apa penyebabnya? Apa dampaknya? Semua pertanyaan tersebut sama sekali tidak terlintas di pikiran saya kala itu. Saya hanya tahu virus corona ada di Tiongkok dan telah menyebar ke berbagai negara namun konon (kata orang-orang di media sosial) virus corona tidak bisa masuk ke Indonesia karena warganya pada kebal semua. 

Well saya percaya begitu saja meski barangkali pernyataan yang nampak ilmiah itu sebatas lelucon. Yup tadinya saya pikir Indonesia termasuk negara yang aman dari serangan virus corona nyatanya tidak.

Tanggal 2 Maret 2020 Pak Jokowi mengumumkan ada 2 WNI yang positif terjangkit virus corona. Pengumuman itu cukup menggemparkan tanah air. Banyak warga yang kemudian melakukan aksi panic buying. Borong masker, handsanitizer hingga berbagai kebutuhan pokok karena mengira kondisi Indonesia akan mengalami lockdown seperti di Wuhan.

Apakah saya termasuk salah satu warga yang kalap borong masker dan lain sebagainya karena panik? Oh tentu saja tidak, saya malah masih bisa bersikap santuy dan bepergian ke sana kemari meski tahu virus corona telah masuk ke Indonesia. 

Ya kan saat itu saya masih belum mengenal COVID-19 dengan baik. Orang-orang yang sampai melakukan aksi panic buying pun pastinya belum kenal dekat dengan si COVID-19 makanya sampai kalap gitu. Belum lagi dengan orang-orang yang sampai mengalami stres hingga depresi akibat termakan hoaks terkait wabah ini.

Itulah sebabnya penting bagi kita untuk mengenal COVID-19 bukan sebatas nama saja. Gejala, dampak, istilah-istilah yang berkaitan hingga  cara mencegah penyebaran COVID-19  juga patut kita ketahui. Setidaknya dengan begitu kita bisa menghadapi virus ini dengan sikap mawas, tidak terlalu santai namun tidak juga terlalu panik hingga menimbulkan rasa khawatir dan takut berlebihan.


Apa itu COVID-19?

COVID-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona jenis baru yang ditemukan pada akhir 2019 lalu di Wuhan, China. CO diambil dari kata corona, VI untuk kata virus dan DI yang berarti disease. Sementara angka 19 merupakan tahun dimana jenis baru dari virus corona ini ditemukan.

Buat yang belum tahu, virus corona sebenarnya sudah ada sejak dulu. Virus ini memang dikenal sebagai virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan dan manusia. Beberapa jenis virus corona dapat menyebabkan infeksi saluran napas mulai dari batuk, pilek hingga yang terparah seperti MERS (Middle East Respiratory Syndrome) dan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome). Nah, sekarang ini muncul lagi virus corona jenis baru. Virus corona jenis baru inilah yang menyebabkan penyakit COVID-19.

Jadi COVID-19 yang disebabkan oleh jenis baru dari virus corona ini masih satu keluarga dengan virus yang menyebabkan MERS dan SARS. Namun jika mau dibandingkan, penularan COVID-19 jauh lebih cepat meski untuk tingkat kematiannya sendiri masih di bawah MERS dan SARS.

Bagaimana COVID-19 menyebar?

Tingkat kematian akibat COVID-19 memang kecil namun penyebarannya sangat cepat. Saking cepatnya kini hampir semua negara di belahan dunia telah terjangkit virus corona. Itulah sebabnya sejak tanggal 11 Maret kemarin wabah ini telah ditetapkan oleh WHO sebagai pandemi global.

Tidak heran sih kenapa penyakit menular yang berasal dari Wuhan ini mudah tersebar dan telah menginfeksi jutaan manusia dari berbagai negara dalam waktu singkat. Itu karena penularannya melalui droplet, yaitu cairan, percikan atau tetesan yang berasal dari sistem pernapasan orang yang terjangkit.

Cairan ini biasanya keluar saat orang batuk bersin maupun berbicara. Kita akan tertular secara langsung bila mengenai percikan tersebut atau tak sengaja menghirupnya. Selain itu COVID-19 juga dapat menular secara tidak langsung yaitu ketika orang yang terjangkit bersin atau batuk lalu cairan atau percikannya jatuh dan mengenai benda-benda atau permukaan sekitar. 

Pada saat kita menyentuh benda-benda atau permukaan yang sudah terkontaminasi dengan droplet tersebut lalu memegang wajah, mulut atau hidung maka kemungkinan besar kita pun terjangkit COVID-19. 

Apa saja gejala COVID-19?

Bicara tentang gejala COVID-19 saya jadi ingat waktu penyakit ini baru masuk ke Indonesia, pemerintah tidak menganjurkan orang-orang yang dalam kondisi sehat menggunakan masker. Masker hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang sakit dan para tenaga medis.

But now, bukan sebatas anjuran tapi di sebagian daerah bahkan sudah mewajibkan penggunaan masker di tempat-tempat umum. Langkah pencegahan yang satu ini akhirnya diambil setelah belakangan ditemukan beberapa kasus orang yang positif terjangkit COVID-19 tapi tidak menunjukkan gejala sama sekali.

Gejala yang muncul pada orang yang terjangkit COVID-19 memang beragam, tergantung daya tahan tubuh masing-masing. Namun demikian umumnya gejala COVID-19 yang terjadi bersifat ringan dan muncul secara bertahap. Seperti demam, rasa lelah, dan batuk kering atau ada pula pasien yang menunjukkan gejala nyeri hidung tersumbat, pilek, sakit tenggorokan atau diare.

Adapun gejala COVID-19 yang parah dan bahkan sampai menyebabkan kematian biasa terjadi pada orang-orang lanjut usia (lansia) dan orang-orang dengan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya seperti tekanan darah tinggi, gangguan jantung, diabetes, dan lain sebagainya.


Apa saja istilah-istilah yang berkaitan dengan COVID-19

Seiring dengan merebaknya wabah corona di Indonesia bermunculan pula istilah-istilah baru yang mungkin sudah sering kita dengar. Istilah-istilah terkait COVID-19 itu juga penting lho untuk kita pahami. 

Soalnya sudah banyak ya kasus orang yang statusnya ODP dan atau PDP dianggap sama seperti orang yang positif padahal belum tentu. Atau mungkin ada yang masih bertanya-tanya bedanya ODP dan PDP apa? Trus yang namanya rapid test itu apa? 

Baiklah saya sudah merangkum beberapa istilah terkait COVID-19 berikut ini ;

ODP (Orang dalam pengawasan)
Memiliki gejala ringan seperti batuk hingga demam namun tidak ada riwayat kontak fisik dengan penderita positif COVID-19

PDP (Pasien dalam pengawasan)
Memiliki gejala yang tampak seperti demam hingga sesak napas serta memiliki riwayat kontak dengan penderita positif COVID-19

Positif 
Pasien yang positif terjangkit COVID-19 setelah melalui serangkaian tes seperti cek darah hingga swab test.

Orang Tanpa Gejala (OTG)
Tidak memiliki gejala namun berisiko tertular dari penderita positif COVID-19

Suspect
Orang atau pasien dengan pengawasan yang menunjukkan gejala COVID-19, pernah melakukan perjalanan ke daerah yang menjadi lokasi pesebaran dan melakukan kontak atau bertemu dengan orang yang positif COVID-19.

APD (Alat Pelindung Diri)
Alat yang digunakan para tenaga medis selama merawat pasien positif COVID-19

Isolasi
Kondisi ketika seseorang yang sakit menjauhi orang lagi agar tidak menulari penyakit yang dideritanya

Lockdown
Mengunci seluruh akses masui maupun keluar dari suatu wilayah untuk meninimalisir penyebaran virus corona

Karantina 
Situasi dimana seseorang tinggal di rumah atau berdiam di suatu tempat dalam jangka waktu tertentu untuk menghindari penyebaran virus corona

Social or Pshycal Distancing
Menjaga jarak secara fisik dengan orang lain sekitar 1,5 - 2 meter ketika berada di tempat umum.

Work from Home (WFH)
Kebijakan yang diambil oleh kantor atau perusahaan dengan membiarkan pegawai atau karyawannya bekerja dari rumah demi meminimalisir penularan virus corona

Rapid Test
Tes cepat yang bisa memberikan hasil terkait COVID-19 dalam waktu hanya setengah jam

Epidemi
suatu wabah besar atau peningkatan secara mendadak, cepat dan dalam jumlah yang banyak suatu penyakit tertentu di tempat atau wilayah tertentu

Pandemi
Epidemi atau penyebaran penyakit tertentu yang tejadi secara global di banyak negara di dunia.

Selain 14 istilah di atas mungkin masih ada lagi, kamu bisa tambahkan di kolom komentar ya.

Bagaimana cara mencegah penularan COVID-19?

Sebenarnya sudah banyak edukasi terkait langkah-langkah apa saja yang bisa kita lakukan untuk menekan penyebaran COVID-19.  Sayangnya sampai saat ini jumlah kasus WNI yang positif COVID-19 terus meningkat yang mulanya hanya 2 orang sekarang sudah ribuan. 

Itu menununjukkan bahwa sekadar tahu saja tidak cukup. Pandemi ini adalah masalah kita bersama, bukan cuma pemerintah. Kalau pemerintah sudah gencar mengedukasi dan mengeluarkan berbagai macam protokol untuk penanganan COVID-19 ini tapi masyarakatnya masih cuek bebek yah sama saja.

Ayolah kita sama-sama bantu pemerintah untuk memutuskan rantai penyebaran virus corona. Caranya cukup dengan 7 langkah ini saja kok.


Cuci tangan sesering mungkin. Ini bukan cara yang sulit, kan? Cukup cuci tangan saja di bawah air yang mengalir dengan menggunakan sabun. Itu hanya membutuhkan waktu dua detik kok. Ya, hanya dua detik yang kita butuhkan untuk membunuh virus corona. That's why kita dianjurkan untu mencuci tangan sesering mungkin.

Hindari menyentuh wajah. Virus corona masuk ke dalam tubuh manusia melalui mata, mulut maupun hidung. Jadi usahakan agar kita tidak sering menyentuh area wajah apalagi dalam keadaan tangan yang belum dicuci.

Tutup mulut dengan siku atau tisu ketika batuk. Ingat untuk selalu tutup mulut ketika batuk maupun bersin tapi pake siku atau tisu ya jangan sekali-kali menggunakan tangan.

Hindari Keramaian. Jangan datangi tempat-tempat ramai atau kalau pun terpaksa keluar rumah usahakan untuk jaga jarak lebih dari 1 meter.

Tinggal di rumah saja. Ini cara yang paling aman sih menurut saya, kalau memang tidak ada keperluan yang mendesak di luar mending tinggal di rumah saja

Minta pertolongan medis jika merasakan gejala COVID-19. Sudah tahu kan gejala penyakit menular ini apa saja? Nah, kalau merasakan gejala tersebut muncul segeralah untuk minta pertolongan medis tapi sebelum memutuskan untuk ke rumah sakit sebaiknya konsultasi via telpon dulu. Kalau memang gejalanya ringan kamu bisa lakukan isolasi mandiri di rumah.

Dapatkan informasi dari sumber terpercaya. Miris  sekali karena di tengah mewabahnya virus corona, virus hoaks juga menyebar dengan sangat cepat. Mendengar update berita terkait kasus virus corona yang terus meningkat setiap harinya saja sudah cukup meresahkan apalagi ditambah dengan berita-berita hoaks. 

So, kalau mau mendapatkan informasi yang valid terkait COVID-19 mending langsung ke covid-19.go.id karena itu situs resmi milik pemerintah yang ditangani langsung oleh gugus tugas percepatan penanganan COVID-19.

Ok, sekian dulu perkenalanan kita dengan COVID-19. Semoga dengan mengenal lebih baik si COVID-19 nggak ada lagi cerita orang yang kalap sampai borong masker segala, atau stres sampai depresi karena khawatir dan takut berlebihan atau didera resah resah gelisah hanya karena mendapat berita yang tidak jelas kebenarannya.


Untuk saat ini cukuplah kita fokus bantu pemerintah. Rajin-rajin cuci tangan, jaga jarak atau kalau  perlu tinggal di rumah saj selama masa pandemi. Jangan lupa untuk langitkan doa, semoga wabah ini segera berlalu. 

Salam,


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Perjalanan saya bersama para penjelajah samudera di Bahtera Matrikulasi Ibu Profesional masih berlanjut. Setelah berhasil menemukan kerang istimewa di kotak harta karun Widyaiswara sekarang waktunya untuk beralih ke misi kedua.

Kerang istimewa itu sudah ada dalam genggaman, saya hanya perlu membuka cangkang dan mengambil mutiara di dalamnya. Yup, misi kedua yang harus saya kerjakan adalah membuka kerang istimewa.

Masalahnya tidak mudah untuk membuka kerang istimewa itu, Kawans. Ada teka-teki yang harus saya dan teman-teman sesama penjelajah samudera pecahkan terlebih dahulu. Kira-kira apa isi teka-teka itu? Ah, rasanya penjelajahan ini semakin seru saja. 


Memecahkan Teka-teki untuk Membuka Kerang Istimewa


Tentunya kami tidak perlu khawatir. Kerang istimewa itu pasti bisa kami buka karena ada para Widyaiswara yang membersamai. Mereka akan membantu kami memecahkan teka-teki. Tugas kami cukup mengikuti petunjuk yang mereka berikan.

Sayangnya petunjuk dari WI agar kami mampu memecahkan teka-teki untuk membuka kerang istimewa itu sifatnya rahasia sehingga saya tidak bisa menceritakannya di sini.

Namun tak masalah yang penting teka-tekinya berhasil terjawab. Yup, berkat petunjuk dari para widyaiswara kami akhirnya bisa memecahkan satu per satu teka-teki untuk membuka kerang istimewa. 

Menyelesaikan Misi Kedua di Bahterah Matrikulasi : Membuka Kerang Istimewa


Bismillaah, hai kerang istimewa! Izinkan saya membuka cangkang dan mengambil mutiaramu ya. Saya sudah berhasil menjawab teka-tekimu. Saya tahu, teka-tekimu itu adalah petunjuk agar saya mengenal prinsip berkomunitas.


Mengenal Prinsip Berkomunitas di Ibu Profesional

Dalam suatu komunitas tentu saja terdapat anggota yang berasal dari berbagai macam latar belakang berbeda, baik suku, agama, RAS, golongan, pendidikan dan lain sebagainya. 

So far demi menciptakan suasana komunitas yang  nyaman dan kondusif untuk semua anggota maka diperlukanlah yang namanya prinsip berkomunitas. Nah, kalau boleh saya simpulkan prinsip berkomunitas khususnya di Komunitas Ibu Profesional adalah semua boleh kecuali yang tidak boleh, yaitu ;

Kritik

Mengajukan kritik sebenarnya sah-sah saja tapi yang sifatnya membangun. Kalau hanya sekadar pandai mengkritik tapi tak memberi solusi malah menjatuhkan ini yang terlarang, apalagi dalam berkomunitas. 

Dalam kehidupan sehari-hari pun mungkin kita sudah sering ya bertemu dengan tipe orang yang suka mengkritik namun tidak bisa memberikan jalan keluar. Asal mengkritik tapi dia sendiri nggak paham apa yang dia kritisi. Perilaku orang seperti inilah yang tidak boleh ada dalam komunitas karena bisa merusak. 

Ghibah & Fitnah

Ibu Profesional termasuk komunitas yang semua anggotanya adalah perempuan baik para ibu maupun calon ibu. And as we know, kebanyakan perempuan jika sudah berkumpul baik di nyata maupun maya hobinya bergunjing.

Ya mungkin awalnya sebatas ngobrol biasa tapi ujung-ujungnya bisa menyerempet hingga membicarakan keburukan orang lain bahkan parahnya tidak sedikit pula ibu-ibu yang doyan membicarakan sesuatu yang belum pasti kebenarannya.  Hati-hati lho itu jatuhnya bisa fitnah.

Setiap komunitas termasuk Ibu Profesional pastinya dibangun dengan tujuan yang mulia, bukan untuk tempat bergunjing maupun menyebarkan fitnah. Oleh sebab itu keduanya terlarang dalam komunitas. Bahkan sebenarnya bukan di komunitas saja karena tidak ada agama apa pun yang mengajarkan pemeluknya untuk melakukan ghibah maupun fitnah. Saking buruknya kedua perilaku tersebut.

Sampai-sampai dalam Islam sendiri orang yang berghibah dianggap seperti memakan bangkai saudaranya sendiri sementara perbuatan fitnah diibaratkan lebih kejam daripada pembunuhan.

SARAT

Komunitas didirikan untuk menyatukan bukan memecah belah. Itulah sebabnya dalam berkomunitas, segala hal yang menyinggung Suku, Agama, Ras dan Anggota Tubuh  (SARAT) sangat terlarang. Apalagi keempatnya merupakan hal yang sangat sensitif, yang jika disinggung sedikit saja bisa menimbulkan konflik bahkan perpecahan. 

Yang perlu kita ketahui, semua anggota dalam komunitas itu memiliki posisi yang setara. Tidak ada yang lebih tinggi pun tidak ada yang lebih rendah. Semua sama. Jadi tidak perlu menjatuhkan anggota lain. 

Toh, tujuan kita berkomunitas selain untuk menimba ilmu juga untuk mendapatkan kenalan/teman/saudara/keluarga baru, kan? Bukan musuh. Ingat semboyan negara kita, Bhineka Tunggal Ika, biar berbeda-beda tetap satu, itu juga diterapkan dalam berkomunitas.

Khilafiyah

Wajar sekali jika dalam komunitas terjadi perbedaan pendapat. Isi kepala manusia memang tidak ada yang sama, kan? Beda kepala, beda pemikiran. Yap, setiap orang pastinya punya pendapat atau pandangan masing-masing.

Hanya saja, khilafiyah ini akan jadi masalah besar bahkan berujung konflik jika ada anggota yang ngotot mempertahankan pendapatnya sampai memicu terjadinya perdebatan berlarut-larut. Khilafiyah seperti inilah yang tidak ada boleh ada dalam komunitas.

Kepentingan

Hal terakhir yang tidak boleh dibawa masuk dalam komunitas khususnya di Ibu Profesional adalah kepentingan, baik itu kepentingan kelompok apalagi kepentingan pribadi. Ini jelas karena kepentingan apa pun itu bisa menimbulkan sikap egois yang dapat meruntuhkan persatuan dalam berkomunitas.

Itulah 5 poin yang TIDAK BOLEH dilakukan dalam berkomunitas di Ibu Profesional. Kelima hal yang tidak boleh itu juga sebenarnya sudah saya dapatkan sewaktu mengikuti kelas foundation, tapi di martikulasi ini saya jadi lebih paham dan bisa hapal di luar kepalašŸ˜ƒ

Well, saya yakin prinsip berkomunitas itu benar-baik-bermanfaat karena akan menjadi pedoman bagi kami agar bisa menjalin keakraban sesama anggota dengan rasa saling menghormati, menghargai dan tolerasi, sehingga yang tercipta adalah suasana komunitas yang nyaman dan kondusif.


Dengan begitu komunitas akan jauh dari konflik, pertikaian maupun perpecahan. And right prinsip komunitas itu akan menyatukan, tidak memecah belah.

Finally, berhasil juga saya menyelesaikan misi kedua. Mutiara sudah di tangan. Bahtera Matrikulasi akan kembali berlayar. Perjalanan ini belum usai. Sampai jumpa di misi berikutnya.


Bismilaahirrahmaanirrahiim

Lawan Rasa Takut dan Cemas di Masa Pandemi dengan Menularkan Vibrasi Positif - Terlalu banyak mengonsumsi informasi mengenai virus corona ternyata tidak baik lho untuk kesehatan mental kita. Saya baru menyadari hal tersebut ketika mulai dihinggapi rasa cemas berlebih akhir-akhir ini. Bahkan saking cemasnya sampai terbawa mimpi berkali-kali. 

Di dalam mimpi itu saya terjangkit virus corona. Tertular dari suami yang sejak mewabahnya virus mematikan ini masih harus ke luar rumah demi mencari nafkah. Namun yang bikin saya merasa sesak bahkan sampai terisak dalam mimpi itu karena bayi saya ikut terpapar COVID-19.

Syukurnya itu hanya bunga tidur meski efeknya membuat saya kerap terjaga dengan rasa takut. Yup, saya takut sekali virus corona menyerang keluarga kecil saya. Saya sangat takut virus yang menyebar begitu cepat ini merengut orang-orang yang saya sayangi. 

Dampak Virus Corona

Gambar : republika.co.id
Virus corona pertama kali muncul di Wuhan, China di penghujung Desember 2019 lalu dan telah menyebar dengan sangat cepat ke penjuru dunia. Rasa takut dan cemas pun wajar dialami oleh setiap orang. Apalagi virus yang ditetapkan oleh WHO sebagai pandemi sejak tanggal 11 Maret 2020 ini telah menelan korban hingga ribuan jiwa secara global. 

Di Indonesia sendiri angka kematian akibat COVID-19 mencapai 469 jiwa sementara jumlah WNI yang terkonfirmasi positif sudah sebanyak 5.136 orang dan yang berhasil sembuh baru 446 orang (sumber : covid19.go.id per tanggal 15  April 2020).

Well, data di atas saja sudah cukup membuat warga Indonesia termasuk saya panik dan diliputi kecemasan. Belum lagi ditambah dengan banyaknya informasi terkait COVID-19 baik terpercaya maupun tidak yang kita konsumsi setiap harinya. 

Seperti yang sudah saya singgung, banyaknya informasi yang kita dapatkan di tengah wabah corona dapat mengganggu kesehatan mental. Asumsi ini bukan opini saya semata, mungkin kamu juga tengah mengalami hal serupa atau coba deh tanya ke diri kamu sendiri setiap nonton berita di TV  atau buka medsos dan grup-grup yang ada di WhatsApp. Semua pada bahas corona, kan?

Apakah dengan membaca semua informasi mengenai COVID-19 itu membuatmu merasa tenang atau malah sebaliknya? 

Kalau saya pribadi, jujur saja yang saya rasakan justru sebaliknya. Saya jadi mudah panikan, sering was-was dan cemas berlebih. Ya kali kalau sekadar cemas biasa nggak mungkin sampai kebawa mimpi horor gitu. Untung baru sebatas terbawa mimpi nggak sampai terkena psikomatis, ikut-ikutan melakukan panic buying, stres atau bahkan mengalami depresi.

Zoom meeting bareng Coach Ochy dan teman-teman Blogger AngingMammiri about
Positive Vibes
Bersyukurnya tanggal 10 April kemarin saya sempat ikut sharing yang diadakan oleh Fauziah Zulfitry, seorang profesional trainer, leadership dan executive coach yang akrab disapa Coach Ochy about Positive Vibes via aplikasi ZOOM. 

Before i want to thanks very much Kak Ery sudah ngajakin saya untuk ikut zoom meeting yang materinya benar-benar membuat hati dan pikiran saya sekarang alhamdulillaah jauh lebih tenang dan positif dalam menghadapi masa pandemi.

Oya sebenarnya pemilik blog emaronie.com ini sudah ngajak teman-teman di WAG Blogger Anging Mammiri untuk ikut sharing bareng Coach Ochy dari tanggal 6 April kemarin. Waktu itu  ada sih niat mau mendaftar, yang diajak maksimal 15 orang tapi karena nggak pede dan belum pernah pake Zoom (padahal sudah punya aplikasinya) saya jadi urung. Ups!

Baru tanggal 10 kemarin saya tertarik ikutan. Itu pun karena diajak langsung sama kak Ery yang tadinya saya kira beliau japri sekadar untuk mengingatkan kewajiban blogwalking di WAG Blogger Lifestyle Makassar yang belum saya tuntaskan eh ternyata tujuannya mau ngajakin saya ikutan sharing toh, hehe. Ayolah kalau begitu.

Well yang pertama kali muncul di benak saya ketika membaca istilah "positive vibes" apaan tuh dan sama sekali nggak terlintas sebelumnya kalau materi ini akan membahas seputar kondisi sekarang yang tengah dilanda wabah virus corona.


As we know virus corona membawa dampak yang begitu dahsyat bagi kehidupan manusia. Setidaknya ada 3 dampak besar yang kita rasakan saat ini.



Perekonomian melemah

Masalah ekonomi yang melemah di masa pandemi bukan cuma menyangkut perekonomian dunia maupun suatu negara tapi juga keluarga. Banyak para pekerja di luar sana yang penghasilannya menurun drastis karena adanya anjuran untuk tinggal di rumah saja. 

Para pedagang berkurang pelanggannya, para tukang ojek atau ojol berkurang penumpangnya, para buruh dan berbagai pekerja lepas yang berhubungan dengan banyak orang pun berkurang pemasukannya.

Ya pokoknya efek mewabahnya virus corona sangat melemahkan perekonomian di segala lini. Perusahaan tempat suami saya bekerja juga kena imbasnya. Beberapa hari lalu suami cerita, akan ada banyak karyawan di perusahaan tempatnya bekerja yang dirumahkan alias di-PHK. Bisa saja dia salah satunya. Selain itu gaji yang  dia terima mulai bulan ini pun dikurangi karena dipotong hingga 50%. 

See! Dampaknya sampai separah itu. But however saya dan suami harus tetap bersyukur. Yah semoga saja suami tidak sampai dirumahkan dan masih untung gajinya dipotong sekian persen, lha bagaimana dengan nasib para pekerja lainnya yang penghasilannya di masa pandemi bukan hanya berkurang tapi tidak ada sama sekali.

Tidak bisa beraktivitas seperti biasa

Tak dimungkiri kehadiran virus corona di negeri ini telah mengubah banyak hal. Semua aktivitas yang berbau kerumunan dibubarkan, termasuk acara resepsi pernikahan sekali pun. Mulai dari bekerja, belajar hingga beribadah semua dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja. Semua tempat-tempat yang merupakan pusat perbelanjaan, hiburan maupun destinasi wisata ditutup. Tak ada rekreasi, tak ada traveling, tak ada acara kumpul-kumpul.

Kalau pun ada keperluan mendesak di luar rumah masyarakat dianjurkan untuk melakukan social distancing, wajib pakai makser dan harus selalu cuci tangan yang benar dengan sabun atau menggunakan hand sanitizer.

Ya, aktivitas normal yang biasa kita lakukan kini dihindari. Ketemu harus jaga jarak minimal 1 meter, tak ada jabat tangan, tak ada mudik lebaran. Bahkan kemungkinan besar, Ramadan ini, mesjid-mesjid akan sepi dari para jamaah tarawih. 

Oya aturan terkait menjalankan ibadah Ramadan selama masa pandemi sebenarnya sudah keluar sih tapi saya masih berharap semoga ada keajaiban. Semoga sebelum Ramadan menyapa, wabah Corona sudah berlalu. Semoga saja.

Ketakutan, panik menyebar dan membuat orang mudah lemah

Nah, ini dampak virus corona yang sudah saya singgung dari awal. Jadi sebelum mengulas lebih jauh tentang positive vibes, Coach Ochy meminta kami untuk menulis di chat box apa yang kami rasakan di masa pandemi? 

Ada yang bilang takut. Ada yang merasakan panik dan cemas berlebihan. Ada juga yang bilang bosen karena cuma tinggal di rumah. Saya sendiri mau ikut menjawab tapi rempong karena ikutan meeting sambil nyuapi si kakak, hehe. Selain itu juga karena baru pertama kali pake Zoom jadi nggak tahu dimana letak chat box-nya. 

Wong baru masuk di Zoom saja saya bingung, sudah pasang headset kok suaranya nggak kedengaran ya. Pas saya lempar pertanyaan ke WAG, kak Ery bilang saya harus klik join audio baru suaranya bisa kedengaran. Oalah pantesan haha harap maklum baru perdana pake aplikasi webinar ini soalnya wkwkw. 

Oke itu sekadar intermezo. Selanjutnya Coach Ochy menerangkan sebuah fakta yang cukup mencengangkan. You know what?


Yup ternyata banyak orang yang meninggal bukan karena penyakit tapi karena panik. Ada sebuah anekdot sufi yang kemudian diceritakan oleh Coach Ochy mengenai fakta tersebut.

Kurang lebih ceritanya seperti ini, ada seorang sufi yang bertemu dengan virus lalu terjadilah percakapan di antara keduanya. Si sufi bertanya pada virus 

"kamu mau kemana?"

"Saya ingin menuju suatu kampung dan menjangkiti 100 orang di sana" jawab si virus

Mereka kemudian berpisah lalu tidak lama berselang si sufi mendapat kabar bahwa ada sebuah kampung yang diserang virus dan telah memakan korban sebanyak 10.000 jiwa. Heranlah si Sufi. Akhirnya ketika mendapat kesempatan bertemu kembali dengan virus yang telah menyebarkan penyakit itu, sang Sufi bertanya. 

"Katanya kamu hanya ingin menjangkiti 100 orang lalu kenapa penyakit yang kamu bawa itu telah menelan 10.000 jiwa?"

"Benar" kata virus. Saya hanya menjangkiti 100 orang, yang 9.900 jiwa itu meninggal karena cemas dan takut" lanjutnya.

Meski hanya sebuah anekdot tapi kita bisa ambil pelajaran dari cerita ini. Lagipula memang begitulah kenyataannya. Virus corona merupakan penyakit yang dapat disembuhkan meski belum ditemukan vaksinnya. Tingkat kematiannya bahkan masih di bawah MERS dan SARS. Hanya saja penyebarannya sangat cepat dan jika menulari orang-orang yang memiliki daya tahan tubuh lemah seperti para lansia, orang-orang yang memiliki penyakit penyerta dan lain sebagainya itu yang berbahaya.

Itulah sebabnya di masa pandemi kita diwajibkan untuk menjaga imun. Banyak orang yang kemudian rajin berjemur di pagi hari, mengonsumsi rempah-rempah seperti jahe, kunyit, dkk yang dipercaya dapat meningkatkan daya tahan  tubuh untuk berjaga-jaga. Jika kemungkinan terserang virus corona, orang yang memiliki imun kuat inilah yang dapat sembuh. 


But you must know, sekalipun sudah rajin bejemur tiap pagi, konsumsi berbagai macam suplemen hingga rempah-rempah dan bahan herbal lainnya tapi kalau pikiran kita terganggu seperti gampang panik, cemas dan takut berlebihan tetap saja dapat menurunkan daya tahan tubuh.

So far, menjaga kondisi fisik agar tetap kuat memang penting, tapi harus pula diingat bahwa menjaga pikiran dan hati kita itu juga tak kalah pentingnya. Nah, menurut Coach Ochy di masa pandemi seperti inilah Positive Vibes (selanjutnya saya sebut dengan Vibarsi Positif) sangat dibutuhkan.

Apa itu Vibrasi Positif ?

Kalau kata positif pastilah semua orang pada tahu tapi kalau vibes, mungkin masih ada yang bertanya, apa itu ?

Vibes atau dalam versi Indonesianya dikenal dengan kata vibrasi yang berarti getaran. Getaran ini memiliki arah positif atau negatif yang dapat memengaruhi semesta mendukung (mestakung). 

Jadi sederhananya positive vibes atau vibrasi positif adalah getaran positif yang dapat memengaruhi semesta atau dalam arti lain semesta dapat mendukung kita dengan adanya getaran positif tersebut.

Eniwei tujuan dari Coach Ochy mengadakan sharing terkait vibrasi positif agar kami dapat meningkatkan getaran itu dalam diri dan ikut menyebarkannya. Diadakannya sharing yang dilakukan via Zoom ini juga merupakan upaya beliau dalam menyebarkan vibrasi positif.

Bagaimana Meningkatkan Vibrasi Positif?

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, vibrasi positif adalah getaran ke arah positif yang untuk menghadirkannya tentu ada upaya yang harus kita lakukan. So, pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah bagaimana meningkatkan vibrasi positif?

Dari penjelasan Coach, setidaknya ada 3 cara yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan vibrasi positif


Mulailah dari pikiran dan hati yang jernih

Yang pertama harus kita lakukan adalah mulai dari diri sendiri dengan menghadirkan pikiran dan hati yang jernih. Jangan sampai pikiran dan hati kita tercemari dengan hal-hal yang negatif, termasuk dalam menyikapi pandemi ini. 

Buang jauh-jauh pikiran dan perasaan yang membuat kita kalut, cemas dan takut. Ingat bahwa pikiran yang negatif dan hati yang kotor bisa menurunkan imunitas. Ketika imun kita turun maka akibatnya virus akan mudah menyerang.

Nah, sebaiknya memang kita harus mengurangi mengakses informasi negatif terkait COVID-19. Apalagi informasi terkait wabah ini sudah tak terbendung lagi sehingga berita hoaks pun dengan mudah dan cepatnya tersebar dan meresahkan banyak warga. Informasi positif terkait wabah corona seperti data kasus dan cara pencegahannya pun kalau dirasa mengganggu ya mungkin bisa kita skip. 

Apalagi saya yakin sudah banyak yang paham dengan protokol yang dikeluarkan pemerintah untuk menekan rantai penyebaran virus corona. Jadi kalau mau akses informasi mengenai virus ini mending tidak usah berlebihan. Selain itu kita juga perlu membiasakan diri untuk memberi respon positif dan terus berusaha menjernihkan hati.

Menjernihkan pikiran dan di hati di masa pandemi memang tidak mudah. Untuk itu kata kata Coach Ochy, kita harus menyikapinya dengan tenang, jangan panik! Panik hanya akan memperkeruh keadaan.

Berusahalah untuk menerima kenyataan bahwa kondisi dunia selama mewabahnya virus corona telah mengubah banyak hal. Kita tidak lagi bisa melakukan aktivitas normal seperti biasanya. Harus menghabiskan waktu di rumah saja, menjaga jarak dengan semua, ruang gerak terbatas pun kebebasan kita untuk beraktivitas di luar ruangan terengut.

Semua perubahan tersebut jelas merugikan. Tidak ada yang suka dengan kondisi sekarang but believe selalu ada hikmah dibalik setiap musibah. Maka setelah kita mampu bersikap tenang dan menerima, ambil hikmah dan pelajaran dari musibah tersebut. 

Eniwei saya suka sekali dengan pembahasan Coach Ochy di bagian ini. Kami diajak untuk melihat pintu yang terbuka dan pintu yang tertutup lalu pembelajaran apa yang bisa kami petik dari masing-masing pintu.

Sayangnya di sesi ini saya nggak bisa ikutan menjawab pertanyaan terkait pintu tertutup dan terbuka meski sudah ketemu chat box-nya karena harus mengurusi baby Fath setelah menyuapi si kakak. Untung ada ayahnya jadi saya masih bisa lanjut meeting sambil momong si baby, hehe.


Nah, kalaupun sempat jawab pertanyaan di atas pas sesi sharing kemarin , jawaban saya kurang lebih akan seperti di bawah ini

Pintu yang tertutup akibat COVID-19

  • Batal mudik ke Papua
  • Tidak bebas beraktivitas di luar rumah
  • Tidak bisa balik ke tempat tinggal sebelumnya (rumah mertua atau kontrakan dekat kantor suami)
Pintu yang terbuka akibat COVID-19

  • Masih bisa melanjutkan menyusui si kakak hingga usianya menginjak 2 tahun
  • Menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga
  • In syaa Allah akan tinggal di rumah sendiri
Pembelajaran yang bisa dipetik, apa?

  • Saya memang berencana pengen mudik ke Papua ramadan ini, tapi kalau pun jadi kemungkinan besar si kakak bakal ditinggal sama ayahnya. Ini juga yang bikin galau sih karena saya masih menyusu si kakak. Qadarullaah gara-gara corona rencana itu terpaksa saya batalkan. That means saya bisa melanjutkan menyusui si kakak hingga usianya menginjak 2 tahun. Kalau si kakak sudah disapih kan setidaknya saya agak lega ninggalin dia sama ayahnya.
  • Tinggal di rumah saja memang membosankan tapi alhamdulillaah dengan adanya anjuran tersebut waktu saya untuk berkumpul dengan keluarga jadi lebih banyak. 
  • Sejak menikah saya harus merasakan yang namanya hidup nomaden. Masih pindah-pindah tempat tinggal, kadang di rumah mertua, kadang di rumah kakak, pernah juga ngontrak. Padahal ada sih rumah cuma karena lokasinya jauh dari kantor suami terpaksa tidak ditinggali. Barulah di saat kondisi seperti ini saya dan suami memutuskan akan menempati rumah kami. 
See! Di saat satu pintu tertutup, pintu yang lain terbuka. Maa syaa Allaah. Banyaklah pembelajaran yang bisa kita petik dari musibah, bencana teguran atau apalah kita menyebut pandemi ini.

Termasuk menyadari bahwa kita hanyalah manusia biasa yang tidak memiliki kuasa apa-apa. Pun hanyalah makhluk yang lemah, yang tidak punya kekuatan apa-apa, jadi apa yang patut disombongkan?

Namun coba lihat, betapa Maha Kuasanya Allah, Dia cukup hanya menurunkan makhuk kasat mata bernama virus corona untuk kembali mensucikan bumi. Bahkan negara adidaya seperti Amerika pun tumbang melawan virus ini.

Tingkatkan Ibadah Kapan pun


COVID-19 adalah masa yang sulit bagi semua orang. Di masa seperti inilah seharusnya menjadi momen yang tepat untuk kita semakin mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Ini juga jadi reminder buat saya pribadi .

Adapun 4 cara mendekatkan diri kepada Allah di masa COVID-19 yang disebutkan Coach Ochy, yaitu :

Berbaik sangka 

Pertama, kita harus tetap berprasangka baik kepada Allah. Jadi seburuk apa pun kondisi yang tengah kita hadapi saat ini tidaklah patut kita menyalahkan Allah dan takdir yang ditetapkan-Nya. Wabah ini bisa saja merupakan teguran, ujian, musibah atau bencana yang pasti ada hikmahnya. Di sinilah tugas kita sebagai hamba untuk instropeksi diri, bukannya merutuk.

Sabar

Kedua, dalam menghadapi masa sulit seperti ini kita harus tetap bersabar.  Sabar bukan berarti diam tanpa ikhtiar. Kita sabar untuk tinggal di rumah atau terpaksa tidak mudik itu juga merupakan ikhtiar kita untuk membantu upaya pemerintah dalam mencegah penularan virus corona.

Syukur

Ketiga, bersyukurlah karena hari ini kita dan orang-orang yang kita sayangi masih terbangun dalam keadaan sehat wa alfiat, tidak terpapar virus. Bersyukur karena meski hanya tinggal di rumah kita masih bisa melakukan berbagai aktivitas menyenangkan.  Masih bisa belanja sesuka hati via marketplace, masih bisa berinteraksi dengan teman-teman via media sosial, masih bisa bercakap-cakap lewat WhatsApp bahkan masih bisa meeting dan belajar virtual lewat aplikasi Zoom. 

Tawakal

Terakhir, jangan lupa tawakal. Allah yang menurunkan wabah ini, Allah pula yang akan mengangkatnya. Kita sudah melangitkan doa, sudah menjulangkan ikhtiar maka yang diperlukan selanjutnya adalah berserah diri pada Allah. 

Tularkan Vibrasi Positif ke Lingkungan Sekitar


Satu lagi cara untuk meningkatkan vibrasi positif adalah dengan menularkannya ke lingkungan sekitar. Menyebarkannya bisa dengan cara seperti berkaloborasi, membagikan gerakan positive vibes ini ke keluarga, teman atau kerabat, mengajak dan mendorong orang lain untuk peduli atau seperti artikel dari Mbak Dhika Suhada ini yang mengajak pembaca blognya  untuk sebar-berita-kebaikan

Tentunya banyak manfaat yang kita dapatkan dari menularkan vibrasi positif ke lingkungan sekitar. Salah satunya ya itu tadi, dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Jadi kita menularkan vibrasi positif, bakteri baik dalam tubuh kita akan aktif. Bakteri baik inilah yang berfungsi melawan kuman atau virus yang masuk ke dalam tubuh. 

Jadi meningkatkan imun tidak cukup dengan berjemur di bawah matahari pagi  dsn mengonsumsi makana sehat saja ya, menularkan vibrasi positif ini juga penting.

So ayo kita lawan rasa takut dan cemas di masa pandemi ini dengan menularkan vibrasi positif ke orang-orang yang ada di lingkungan sekitar kita. Kuy, sekian dulu sharing saya kali ini. Semoga mencerahkan.

* Slide Gambar : Festival Trainer Nasional 2020 #GerakanIndonesiaBicaraPositif


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Sebelumnya nggak punya pengalaman sama sekali menghadapi blog error jadi ketika mendapati Kamar Kenangan ini tiba-tiba tidak bisa diakses badan saya langsung lemas dan kepala mendadak pusing. 

Mana saya tahunya pertama kali dari tim SosiaGo yang menginformasikan kalau dua task artikel content placement yang saya kerjakan di blog ini tidak bisa diakses. Jika sampai tanggal 7 April masih belum bisa diakses maka pembayaran task tersebut akan di-pending (waktu itu saya sempat panik jadi yang ada di pikiran saya bukan ditunda tapi dibatalkanšŸ˜…)

Pikiran saya makin mumet mengingat blog dengan domain siskadwyta.com sudah lumayan sering mendapat tawaran kerja sama dengan agency atau brand lain. Jadi kalau bermasalah pasti semua website yang menanam backlink di blog ini juga kena imbasnya dong. Lalu bagaimana kalau semuanya nuntut ganti rugi *eh. 

Tapi yang bikin saya merasa paling nyesek karena blog ini sudah saya anggap sebagai Kamar Kenangan sendiri, aset berharga yang sungguh tidak ternilai dengan uang. Jadi ketika tiba-tiba mendapatinya error seperti itu rasanya saya pengen nangis bombayšŸ˜­


Panik? Sudah pasti. Saya sampai berpikiran yang nggak-nggak lho. Syukurnya berbagai pikiran negatif itu masih bisa saya halau dengan berusaha menenangkan diri dan mencari bala bantuan agar blog saya segera pulih. Ya pokoknya saya nggak bisa tenang kalau Kamar Kenangan ini belum bisa diakses kembali. 

Jadilah seharian itu saya sibuk urus blog. Untung ayah anak-anak lagi nggak masuk kerja sehingga saya bisa curi-curi waktu untuk mencari tahu cara mengatasi domain blog saya yang tiba-tiba tidak bisa diakses ini.

Mengapa domain blog tiba-tiba tidak bisa diakses?

Entahlah. Sebenarnya sehari sebelumnya saya dapat mention dari Mbak Grandys di grup FB Estrilook Community yang bilang kalau blog saya nggak bisa dia akses lewat laptop, tapi saya coba buka lewat hp bisa.

Berhubung saya sudah lama nggak buka blog lewat laptop dan masalah blog saya yang tiba-tiba nggak bisa diakses lewat laptop tapi lewat hp bisa itu pernah kejadian makanya saya nggak terlalu ambil pusing. Saya saranin saja agar Mbak Grandys blogwalking lewat hp. 


Setelah itu saya nggak sempat cek lagi karena fokus selesaikan postingan draft yang sudah berhari-hari menunggak. Rencananya malam itu mau saya kelarin setelah kelonin Zhafran dan adiknya tapi yang ada eh saya malah ketiduran, ckck.

Keesokkan harinya barulah saya kaget setelah baca email dari tim SosiaGo dan percakapan teman-teman di WAG Estrilook yang mau menuntaskan kewajiban blogwalking-nya di blog saya tapi nggak bisa karena error.

Duh jangan tanya kenapa blog saya bisa tiba-tiba error gitu, saya pun tidak mengerti. Selama ini saya tahunya ngeblog doang, buta dengan masalah teknis. Coding-an saja saya nggak begitu paham apalagi yang menyangkut blog error. 

But setelah saya telusuri dengan tanya ke sana kemari, kemungkinan penyebab errornya itu kalau bukan karena Google Search Console (GSC) ya Domain Name Server (DNS). Nah, kira-kira masalahnya di mana? Yuk kita cari tahu dulu. 

Cara mengatasi domain blog yang tidak bisa diakses

Jadi gimana cara saya mengatasi blog yang tiba-tiba error? Bohong kalau saya bilang nggak panik makanya sebisa mungkin saya harus mengatasi kepanikan itu dulu. Setiap orang tentunya punya cara tersendiri ya ketika dilanda panik. 

Kalau saya saat itu pilih mandi biar badan dan pikiran saya bisa lebih fresh. Setelah itu kelonin anak-anak baru deh fokus kembali urusi blog. Nah, berikut ini cara-cara yang saya lakukan selaku blogger yang awam masalah teknis ketika menghadapi blog error alias tidak bisa diakses.

Mengajukan Pertanyaan ke WAG Blogger


Beruntungnya karena saya gabung di beberapa WAG blogger jadi ketika dapat masalah blog error seperti kemarin saya inisiatif mengajukan pertanyaan ke sana. Tapi nggak nanya ke semua grup blogger juga sih.

Saya cuma nanya ke WAG Blogger AngingMammiri dan WAG Belajar Web & Blog - Free, itu juga karena saya tahu penghuninya ada yang pakar dalam masalah teknis blog dan pastinya akan ada yang menanggapi atau berbaik hati mau membantu mengatasi permasalahan blog yang saya hadapi. Lagipula malu bertanya sesat di jalan, kan?

Nah, dari hasil bertanya ke kedua WAG tersebut saya dapat kesimpulan kemungkinan besar penyebab blog saya tidak bisa diakses itu karena settingan DNSnya bermasalah dan itu yang harus saya perbaiki. 

Menghubungi Customer Service Penyedia Domain

Karena kemungkinan besar masalah blog saya yang tiba-tiba tidak bisa diakses itu berkaitan dengan domain jadi selain tanya ke WAG Blogger saya juga menghubungi customer  service Qwords, tempat saya beli domain.

Well saya berharapnya sih setelah menghubungi cs Qwords masalah blog saya yang error itu bisa segera teratasi. Sayangnya nggak, yang ada malah bikin saya tambah pusing. 

Pasalnya waktu saya hubungi lewat layanan WA dan menginformasikan blog dengan domain siskadwyta.com tidak bisa diakses, cs-nya langsung ambil kesimpulan kalau domain saya error karena sedang dalam validasi perbaikan masalah cakupan  yang dilakukan Google Search Console (GSC). Kesimpulan itu diambil berdasarkan aktivitas terakhir yang saya lakukan sebelum blog ini bermasalah.

Ya memang sih, ketika cs-nya mengajukan pertanyaan yang kurang lebih maksudnya kira-kira aktivitas mencurigakan apa yang terakhir saya lakukan sebelum blog error? Saya seketika terngiang dengan email dari GSC yang saya terima sehari sebelumnya dan tindakan yang saya lakukan setelahnya. 

Intinya setelah menerima email dari GSC saya asal mengkonfirmasi tindakan validasi untuk memperbaiki 1 halaman error di blog saya yang ternyata perbaikannya itu memakan waktu beberapa hari. Mana saya sama sekali nggak tahu apa efeknya dan apakah selama tindakan validasi itu berlangsung akan mempengaruhi blog saya, seperti tidak bisa diakses atau tidak muncul dalam pencarian?

That's why saya sempat curiganya di situ, apa mungkin karena proses validasi tersebut sehingga blog saya tidak bisa diakses.  Eh tapi kalau baca penjelasan kak Andita dan teman-teman yang sempat menanggapi pertanyaan saya di WAG masuk akal juga sih. Kemungkinan besar masalahnya ada pada DNS. Tapi kok si cs ini yakin masalahnya ada pada validasi perbaikan yang dilakukan GSC. So, mana yang benar nih?

Googling dengan keyword sesuai masalah blog 

Setelah mendapatkan dua kesimpulan yang berbeda terkait masalah blog yang saya hadapi  saya mencoba untuk cari cara mengatasinya dengan bertanya pada eyang google.

Baik dari teman-teman yang menanggapi pertanyaan saya di WAG maupun dari si cs juga tanggapannya seperti itu. Si cs yang yakin blog saya error karena sementara divalidasi oleh GSC menyarankan saya untuk searching dengan keyword "Cara Mengatasi Masalah Cakupan Indeks Di Google Search Console" sedangkan dari WAG Blogger Anging Mammiri saya dapat saran untuk googling dengan kata kunci "Cara mengatasi DNS Probe Finished NxDomain"

Sayangnya meski sudah googling ke sana ke mari dan membaca artikel-artikel terkait, masalah blog saya masih  belum terpecahkan. Lagipula gimana mau terpecahkan coba kalau saya sendiri bingung dengan cara-cara dan istilah-istilah yang digunakan dalam berbagai artikel blog yang sempat saya baca itu, haha. Lalu apakah saya menyerah? Oh tidak!

Berusaha mengatasi sendiri

Meski sudah mengajukan pertanyaan ke WAG blogger dan menghubungi cs, saya masih harus mengatasi masalah blog saya sendiri. Ya kan saya yang pegang akun. Mereka cuma bisa bantu sebatas kasih solusi atau mengarahkan tapi untuk perbaikannya harus saya yang turun tangan sendiri.

Oya waktu saya lempar pertanyaan ke WAG Belajar Web & Blog - Free ada yang menanggapi. Katanya dia juga sempat mengalami masalah blog error seperti saya tapi karena malas dengan urusan settingan DNS jadi dia suruh saja cs-nya perbaiki tapi nggak gratis, ada biaya perbaikannya. Itu juga yang bikin saya prefer menyimpulkan penyebab blog saya sampai error bukan karena sedang dalam proses validasi dari GSC tapi pengaturan setting DNSnya yang bermasalah.

Yah, semoga masalahnya memang benar-benar bukan karena GSC soalnya saya nggak tahu proses validasi itu bisa makan waktu beberapa hari. Kalau kata si cs Qwords yang melayani ajuan saya sih saya diharuskan menunggu proses validasi itu sampai selesai. Sayangnya saya nggak bisa menunggu begitu saja apalagi menunggu tanpa kejelasan jadi saya ikuti saran yang saya dapatkan dari WAG Blogger. Atur ulang settingan DNS.

Nah, kalau memang masalahnya di settingan DNS saya masih bisa atasi sendiri. Toh saya sudah beberapa kali berkutat dengan yang namanya Domain Name Server sehingga tidak terlalu mengalami kesulitan soal ini. 

Benar saja, setelah saya kembalikan pengaturan DNS ke default dan memasukkan kembali CNAME dan A Record dari blogspot, blog saya dengan domain siskadwyta.com akhirnya bisa diakses kembali.

Namun rasa senang yang muncul karena blog saya tidak lagi error itu hanya berlangsung sesaat, pemirsa. Badan saya kembali lemas ketika mengetahui kenyataan bahwa siskadwyta.com hanya bisa diakses dengan gawai yang saya gunakan. Dari gawai lain masih error. Saya sudah cek pakai gawai suami. Sudah tanya teman-teman blogger lainnya juga untuk tolong bantu cek blog saya apa sudah terbuka atau belum? Jawaban mereka belum. 

Saya masih belum menyerah. Mungkin masih ada yang keliru pada settingan DNS-nya. Saya kembali berkutat dengan A record dan CNAME. Berkali-kali memastikan IP server dan kode unik yang saya masukkan sudah benar. Berharap domain saya bisa kembali diakses seperti semula.

But you know, hasilnya malah bikin blog yang tadinya sudah bisa saya akses dengan gawai sendiri kembali error dengan masalah baru. Makin pusinglah saya. 

Mengajukan Ticketing ke penyedia domain

Saya akhirnya mengajukan ticketing setelah menyadari bahwa saya tidak bisa mengatasi masalah domain blog yang tidak bisa diakses ini sendirian. Padahal saya sudah seharian berkutat, berusaha memperbaiki dan sepertinya tinggal sedikit lagi. Tinggal bagaimana caranya agar orang lain juga bisa mengakses siskadwyta.com dari gawainya masing-masing. Tapi ah sudahlah daripada saya makin pusing dan blog ini tak kunjung pulih lebih baik saya serahkan ke ahlinya saja.

Buat yang belum tahu, ticketing adalah layanan pengaduan yang diajukan pelanggan kepada penyedia domain. Sepertinya semua jasa penyedia domain punya layanan ini kali ya cuma mungkin ada yang pengaduannya ditangani dengan free ada juga yang berbayar.

Di Qwords sendiri pengaduan terkait teknis tidak dipungut biaya sama sekali. Setidaknya itu yang saya tahu karena saya sudah dua kali mengajukan ticketing. Pertama waktu saya menyadari bahwa domain blog ini ternyata tidak bisa diakses tanpa www padahal di pengaturan dashboard sudah saya centangkan tanda untuk redirrect

Waktu itu saya sendiri sempat otak-atik settingan DNS dan mengikuti langkah-langkah terkait cara agar blog ini bisa diakses dengan dan atau tanpa www. Saya juga sudah tanya ke cs-nya dan akhirnya disuruh untuk mengajukan ticketing tapi hasilnya sama saja. Meski sudah mengajukan  ticketing blog ini masih tidak bisa diakses tanpa www.  

Di situ jujur saya kecewa dengan pelayanan Qwords sampai-sampai saya berniat pengen pindah layanan domain tapi nggak jadi ding karena kebayang rempongnya, hehe. Nah, kali kedua saya mengajukan ticketing ya baru-baru ini, saat domain blog saya tiba-tiba tidak bisa diakses. 

Memang sih saya sudah menghubungi cs Qwords saat mendapati blog ini error tapi lagi-lagi saya kecewa dengan pelayanannya. Seharusnya si cs ini cari tahu dulu permasalahan blog saya apa, bukan langsung menyimpulkan gitu. Apalagi setelah terbukti masalahnya memang bukan pada validasi GSC tapi settingan DNS. 

Baiklah, daripada kembali menghubungi cs mending saya langsung saja mengajukan ticketing. Mungkin ada yang pengen tahu, bedanya menghubungi cs dan mengajukan ticketing itu apa? 

Kalau menghubungi cs Qwords bantuan yang kita dapatkan paling sebatas saran atau diarahkan saja tapi kalau mengajukan ticketing, nanti dari tim Qwords khususnya yang paham masalah teknis akan langsung turun tangan membantu mengatasi permasalahan blog yang kita hadapi. 
Email yang saya dapatkan setelah mengajukan ticketing
See! Nggak sampe lima menit setelah mengajukan ticketing, blog saya akhirnya bisa diakses kembali. Leganya Maa syaa Allaah. Tahu gitu kenapa bukan dari awal saja saat tahu blog error saya mengajukan ticketing, haha. Eh tapi ada hikmahnya juga lho, gara-gara kejadian blog error itu saya jadi dapat ilmu baru yang berkaitan dengan domain dari Kak Andita Seli Bestoro.

Solusi untuk domain blog yang tidak bisa diakses

Salah satu blogger yang aktif menanggapi pertanyaan saya di WAG khususnya di WAG Blogger Angging Mammiri (AM) adalah kak Andita Sely Bestoro. Who is he? Haha saya juga nggak tahu. Maklum ya saya baru setahunan gabung di AM dan selama itu belum pernah ikutan acara tudang sipulung (kopdar) jadi belum terlalu kenal dengan anggota Blogger Makassar lainnya. Kalau kenal pun sebatas nama saja.


Belakangan baru saya tahu kalau Kak Andita ini rupanya termasuk salah satu pakar SEO di Makassar. Oalah pantesan ya kalau ada yang nanya-nanya masalah blog di WAG Blogger Angging Mammiri beliau paling sering nanggapi, ternyata memang ahlinya toh.

Nah, waktu saya lempar pertanyaan ke WAG terkait blog saya yang error kak Andita langsung ngecek. Katanya A Record sama cname domain siskadwyta.com nggak kedetect. Kalau mau dites saya harus buka dulu custom domainnya. Kalau url blogspotnya bisa kebuka berarti problem di DNS domain managernya. 

But seperti yang sudah saya singgung di atas setelah menghubungi cs tempat saya beli domain, si cs yakin masalahnya ada pada GSC. Kak Andita pun tetap pada pendapatnya. Masalah blog saya lebih ke domain dengan server ke blogspot. Menurut beliau, search console itu cuma sekedar reporting terkait masalah indeksisasi blog jadi nggak bisa bikin blog down. Benarkah demikian? Untuk membuktikannya saya coba lepas custom domain. Hasilnya?

Yup, kamar kenangan ini bisa diakses dengan alamat siskadwyta.blogspot.com, sebaliknya kalau dipasang kembali domainnya nggak. So? Berarti si csnya yang keliru dong tapi ya sudahlah yang penting blog dengan domain siskadwyta.com sekarang sudah bisa diakses.

Penjelasan dari Kak Andita Sely Bestoro terkait domain blog yang tidak bisa diakses

Kasus blog saya yang error dan berujung dengan percakapan yang didominasi antara saya dan kak Andita di WAG Anging Mammiri itu ternyata mengundang tanda tanya. Ada beberapa anggota grup yang kemudian menjapri kak Andita untuk tanya-tanya soal domain. Tadinya saya juga berniat mau japri beliau tapi nggak berani, haha. 

Menanggapi beberapa pertanyaan yang masuk kak Andita akhirnya inisiatif membahas soal domain di grup dengan menjadikan masalah blog saya yang sempat tidak bisa diakses itu sebagai contoh kasus.

Berikut ini penjelasan dari Kak Andita (oiya saya sudah minta izin ke orangnya untuk di-share ya dan beliau izinkan)

Sebenarnya, solusi masalah seputar domain itu sederhana saja. Kuncinya kita harus paham logika domain dan hosting. 

Kembali ke teori dasarnya dulu :
Apa itu domain? 
Apa itu hosting?

Domain itu sederhananya adalah nama panggilan untuk sebuah website. Kenapa nama panggilan? Karena pada dasarnya, semua website di dunia ini alamatnya berupa kumpulan alamat IP : xxx.xxx.xxx.xxx

Karena menyusahkan orang buat menghafal alamat IP setiap website, maka dibutuhkan mekanisme penamaan yang unik tapi mudah diingat. Muncullah domain sebagai solusinya.

Sedangkan hosting atau dalam skala lebih besarnya server, sederhananya adalah tempat menyimpan semua file website kita. Tidak hanya itu, hosting juga berfungsi sebagai tempat menyimpan webserver, aplikasi database, dll. Bentuknya berupa PC yang disimpan di datacenter dan dihubungkan dengan jaringan internet.

Supaya domain dan hosting ini bisa berjodoh, maka dibutuhkan sesuatu yang bisa menghubungkan keduanya dan ini harus fleksibel. Dalam artian, domain bisa dipindah-pindah ke hosting lain. Pun hosting bisa dipakai oleh bermacam-macam domain.

Sesuatu yang bisa menghubungkan domain dan hosting inilah yang disebut DNS atau Domain Name Server.

Jadi ilustrasinya :

Domain ---- (domain name server) --- hosting 

Umumnya, DNS itu fasilitasnya sudah disediakan oleh tempat kita beli domain.

Kalau kejadiannya kayak punya saya, domain tidak mau connect ke website, maka kata kak Andita perlakuan standarnya sebagai berikut :

Cek dulu domainnya aktif atau nggak.
Cek hosting paketnya aktif atau nggak.
Kalau keduanya aktif, maka kemungkinannya adalah domain nggak connect ke hosting. Ini umumnya bisa disebabkan oleh DNS server yg down, atau IP address hosting yang berganti, atau semisalnya.

1. Domainnya aktif atau nggak?

Ternyata, hasil dari whois domain masih aktif. Expired masih di tanggal 5 November. Jadi ini nggak ada masalah.

2. Hosting aktif atau nggak?

Karena pakai blogspot, maka model ngeceknya adalah dengan melepas custom domain dari blogspotnya dan membuka url asli blogspotnya. Ternyata setelah dilepaa bisa connect. Artinya, dari sisi hosting nggak ada masalah.

3. Kemungkinan domain nggak connect ke hosting

Asumsi ini sebenarnya kelihatan di langkah pertama. Pas cek whois, A record dari domain siskadwyta.com nggak muncul. Begitu pula dengan CNAMEnya. Padahal, kedua record ini adalah syarat standar supaya custom domain bisa terhubung dengan blogspot. Dan kalau record domain ini nggak muncul, besar kemungkinan karena permasalah DNS server tempat beli domain karena konfigurasinya ada di situ.

Demikian penjelasan dari Kak Andita. Alhamdulillaah dapat ilmu baru tentang domain. Setidaknya kalau domain siskdwyta.com tidak bisa diakses kembali, saya sudah tahu cara mengatasinya dengan tepat dan yang pasti nggak bakal pake drama panik lagi, hehe.

Sekian sharing saya kali ini. Semoga bermanfaat.