Catatan Imunisasi dan Pertumbuhan Bunay di Usia 0-6 Bulan

By Siska Dwyta - Friday, February 15, 2019



Bismillaahirrahmaanirrahiim

Waktu masih hamil, hal yang paling saya nanti-nantikan setiap bulannya adalah jadwal periksa kehamilan baik di bidan puskesmas atau bidan praktik, lebih-lebih ke dokter Obgyn. Yup, saya excited sekali setiap hendak pergi check up kehamilan. Saking excitednya, saya sampai protes dalam hati, kenapa jadwal periksa kehamilan untuk bumil nggak tiap pekan sih atau kenapa nggak tiap hari saja sekaligus😅


Memantau tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan memang selalu menjadi hal yang menyenangkan yah. Apalagi bagi bunda yang baru berpengalaman seperti saya. Makanya, setelah melahirkan pun hal yang paling saya nanti-nantikan setiap bulannya adalah jadwal imunisasi si Bunay. Tepatnya sih bukan pemberian vaksin saat imunisasinya yang saya nanti-nanti tapi pengukuran timbang BB dan PBnya, hehe. Ya, kan setiap imunisasi pasti ada penimbangan BB dan pengukuran PB (termasuk juga pengukuran lingkar kepala).

Well, ada rasa bahagia tersendiri yang menguap di hati saya saat mengetahui pertumbuhan Bunay meningkat tiap bulannya. Ibaratnya, mengetahui BB dan PB Bunay sama seperti mengetahui nilai hasil belajar mengASIhi saya selama sebulan. Apalagi kalau ingat masa-masa awal menyusui, saya sering sekali dapat komentar-komentar senada seperti ini.

ASI-mu kurang  ya makanya bayinya nangis terus. Atau jangan-jangan ASI-mu tidak cukup ya, kok bayinya kelihatan sering kehausan. Sakit banget hati saya dikomentarin kayak gitu, Guys. Tapi, apalah daya saya sebagai bunda baru yang belum punya pengalaman apa-apa tentang dunia perASIan. Saya hanya tahu, satu-satunya yang harus saya lakukan adalah membuktikan pada mereka bahwa ASI saya tidak kurang dan cukup memenuhi kebutuhan Bunay lewat pertumbuhannya. Toh, kalau pun ASI saya kurang atau  tidak cukup, pertumbuhan Bunay tidak mungkin meningkat, kan? yang ada malah menurun.

Nah, di catatan kali ini saya akan terang-terangan menyebutkan BB dan PB Bunay sebagai bahan evaluasi untuk membandingkan pertumbuhan Bunay dari bulan ke bulan dengan standar pertumbuhan ideal menurut WHO sebagai patokan, sekaligus sebagai kenangan Bunda untuk Bunay. Jadi kalau Bunay besar dan pengen tahu pertumbuhannya sejak lahir, dia bisa bukan catatan yang dibuat khusus oleh bundanya ini.


Ngomong-ngomong soal pemberian vaksin, itu yang malah bikin saya ketar-ketir. Tahu sendiri, kan, efek pemberian vaksin seperti apa? Namun demi kebaikan si kecil, ayah dan bunda rela membiarkan Bunay mengalami sakit ringan sesaat ketimbang sakit parah yang bisa menimbulkan cacat bahkan kematian. Yup! Lebih baik mencegah daripada mengobati, kan?

Oke, saya tahu masalah vaksinasi ini masih menjadi polemik. Ada yang pro, ada pula yang kontra (antivax). Syukurnya, saya dan ayahnya berada dalam kubu yang sama, sama-sama mendukung capres dan cawapres number ... eh maksud saya sama-sama pro vaksin, sehingga nggak ada tuh drama imunisasi seperti Drama Pertama Kali Si Bunay Sakit kemarin, hehe. Toh, waktu kecil ayah dan bundanya juga diimunisasi kok. Alhamdulillah, efek dari imunisasi pun sudah kami rasakan. Sekarang, giliran Bunay yang diimunisasi.

Membawa Bunay imunisasi adalah bentuk ikhitiar kami sebagai orang tua yang ingin ia tumbuh dan berkembang dengan sehat, tak mudah terserang penyakit. In syaa Allah, kami percaya, dengan imunisasi, Allah beri daya tahan tubuh yang kuat untuk Bunay.

Sekilas Tentang Imunisasi

Pasti ibuk-ibuk bisa tebak dong bahkan mungkin sampai hapal di luar kepala jenis vaksin yang diberikan kepada bayi saat diimunisasi. Jujur saja, sebelumnya saya cuma familiar dengan istilah imunisasi dan vaksin bahkan menganggap imunisasi dan vaksinasi adalah hal yang sama padahal keduanya berbeda. Pun tidak tahu menahu mengenai jenis-jenis vaksin apa yang diberikan pada anak saat diimunisasi. Tahunya cuma imunisasi doang. 

Setelah jadi orang tua baru saya ngeh. Oh ternyata ada lima imunisasi dasar wajib yang harus diberikan pada anak sebelum berusia 1 tahun,  yaitu; vaksin Hepatitis B, Polio, BCG, DPT, Pentavalen (DPT-HB-Hib) dan Campak. kelima vaksin tersebut sudah disubsidi oleh pemerintah ya jadi bisa didapatkan secara gratis di Puskesmas, Posyandu maupun rumah sakit yang bekerjasama dengan BPJS.

Selain lima vaksin dasar, ada juga tambahan vaksin lain yang dapat diberikan pada anak, seperti vaksin PCV, Varicella, Influenza, Hepatitis A, MMR, rotavirus, tifoid dan lainnya. Tapi vaksin tambahan tersebut tidak wajib, artinya mau diberikan atau tidak pada anak itu tergantung pilihan orang tua. Vaksin tambahan juga biasanya tidak didapatkan di puskesmas maupun posyandu, melainkan tersedia di rumah sakit dan tidak disubsidi oleh pemerintah. 

Jadi kalau pengen bayi kita dapat tambahan vaksin, selain vaksin dasar, silakan datang ke rumah sakit dan jangan lupa bawa dompet tebal, hehe karena biayanya tidak gratis. Kalau pengen si kecil diimunisasi dengan vaksin yang efeknya relatif tidak menimbulkan demam juga bisa lho. Tinggal bilang saja sama dokternya, mau pilih vaksin yang impor (bukan lokal). Cuma ya itu dia, kudu bayaar.

Selain itu, saya juga baru tahu, ternyata ada dua jadwal Imunisasi yang digunakan di Indonesia yaitu jadwal imunisasi IDAI dan jadwal imunisasi dari Kemenkes. Jadwal imunisasi rekomendasi dari IDAI biasanya digunakan sebagai rujukan oleh dokter di rumah sakit atau klinik, sedangkan jadwal Kemenkes dipakai oleh fasilitas pemerintah seperti puskesmas/ posyandu, dsb.

jadwal imunisasi, imunisasi IDAI, imunisasi bayi 0-6 bulan
Jadwal Imunisasi IDAI 2017 (Sumber IDAI)

Imunisasi di Rumah Sakit/Klinik atau Puskesmas/Posyandu ?

Bunay pertama kali diimunisasi di rumah sakit (ya kali karena lahirnya juga di RS😅), faskes 1 BPJS-nya juga di klinik bukan puskesmas namun pada akhirnya saya dan suami prefer membawa Bunay imunisasi di Puskesmas /Posyandu. Kenapa?

Tentu saja karena imunisasi di puskesmas/posyandu gratiss, hehe nggak ding! Pertimbangan kami bukan cuma itu, masih ada pertimbangan lain, diantaranya ;

  • Jarak. Masalah jarak ini yang menjadi pertimbangan utama kami. Kalau ada tempat imunisasi yang dekat, ngapain cari tempat lain yang jauh. Apalagi suami tidak bisa menemani saya setiap kali membawa Bunay imunisasi karena urusan pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan.
  • Kualitas. Setelah cari referensi dan baca-baca pengalaman ibuk-ibuk lainnya, ternyata kualitas vaksin untuk imunisasi dasar yang digunakan di rumah sakit/klinik dan puskesmas/posyandu SAMA SAJA (kecuali kalau kita mintanya vaksin jenis impor atau ingin anak kita mendapat imunisasi tambahan). Sejauh ini, saya dan suami hanya sepakat Bunay diberi imunisasi dasar dan tidak berencana memberi imunisasi tambahan.
  • Ekonomis. Kalau pertimbangan ini, sudah pasti ya. Lagipula jika membawa Bunay ke rumah sakit/klinik kami tetap memanfaatkan BPJS. Sedangkan BPJS hanya menanggung vaksin untuk imunisasi dasar.


Catatan Imunisasi Dasar & Pertumbuhan Bunay 0-18 Bulan

catatan imunisasi, imunisasi dasar kemenkes, KIA
Jadwal imunisasi Kemenkes di buku KIA (dok pribadi)
Karena Bunay diimunisasi di Puskesmas/Posyandu jadi kami pakai jadwal Imunisasi dari Kemenkes. Bisa dilihat kan, jadwal Imunisasi dasar versi Kemenkes dan versi IDAI 2017 di atas, tidak ada perbedaan (cuma penyusunannya saja yang beda).

Nah, kalau saya bicara pertumbuhan, ibuk-ibuk pasti sudah paham, kan? Yup, kalau bicara pertumbuhan berarti yang dimaksud adalah pengukuran fisik baik itu berupa BB, PB maupun lingkar kepala. Namun di catatan ini saya hanya sertakan hasil pengukuran BB dan PB Bunay saja ya. Pengukuran lingkar kepala juga penting, sayangnya saya yang luput🙊

Di buku KIA tertulis, ukur lingkar kepala secara teratur tiap tiga bulan. Saya nggak tahu, waktu lahir diukur LK-nya atau nggak soalnya hanya BB dan PB Bunay saja yang diberitahukan ke kami. Saya baru lihat Bunay diukur LK-nya saat diimunisasi di Puskesmas pembantu dekat rumah tapi ternyata hasil pengukuran itu dicatat bukan di buku KIA saya melaikan di buka catatan bu bidan. Sebenarnya, saya juga bisa sih ukur LK Bunay sendiri di rumah cuma nggak punya pita meter🙊


tabel pertumbuhan, panjang badan, berat badan, lingkar kepala, bayi laki-laki
Tabel Pertumbuhan bayi laki-laki (sumber Hallo Sehat)
Tabel di atas merupakan rentang pengukuran antara persentil ke-3 dan ke-97 dari standar pertumbuhan WHO untuk bayi laki-laki. Tabel tersebut yang saya jadikan patokan untuk mengetahui apakah berat maupun panjang badan Bunay sudah ideal (baca : normal) atau belum.

Nah, berikut catatan imunisasi dan pertumbuhan Bunay dari 0-6 Bulan

Bunay di Usia 0 Bulan

04 Agustus 2018

Lahir dengan BB 3,2 kg dan PB 51 cm di RSIA Ananda. Di hari lahirnya Bunay langsung diimunisasi dengan pemberian vaksin Hepatitis B (Hb 0). Sayangnya, saya nggak lihat Bunay waktu diberi vaksin ini, jadi nggak tahu apakah pemberian vaksin Hb 0 melalui suntikan atau diteteskan lewat mulut.

Vaksin hepatitis B diberikan pada bayi dalam rentang waktu 0-7 hari namun paling baik diberikan sebelum 12 jam setelah ia lahir. Oh ya, fungsi vaksin ini adalah untuk mencegah penularan penyakit hepatitis B (yang dapat menyebabkan kerusakan hati). Efeknya nggak bikin demam dan rewel.

05 Agustus 2018

Saya nginap di rumah sakit cuma satu malam, nggak sampai dua hari. Karena masuk rumah sakit menjelang dini hari, paginya melahirkan dan besok siangnya sudah dibolehkan pulang sama dokter Tiwi (dokter yang menangani persalinan saya). Padahal tadinya mau cukupkan 3 hari di rumah sakit, sekaligus nunggu pengurusan kartu BPJS Bunay selesai.

FYI, karena jenis BPJS suami dan saya bukan termasuk BPJS mandiri melainkan BPJS karyawan/penerima pekerja upah jadi BPJS Bunay baru bisa diurus sesaat setelah lahir (dan jika ingin menggunakannya, pihak RS cuma memberi  waktu paling lambat tiga hari untuk mengurus BPJS Bunay setelah ia lahir). Pengurusan BPJS si kecil ini buat jaga-jaga saja sih, siapa tahu dikenakan biaya tersendiri buat perawatannya. Tapi ternyata, sama sekali nggak ada biaya yang harus kami keluarkan lho untuk biaya perawatan Bunay selama di RSIA Ananda.

Baca juga; Beginikah Rasanya Hamil (Trimester Ketiga)

Yowes, pengurusan BPJS Bunay ditunda, karena biar nggak diurus secepatnya juga nggak apa-apa. So far, saya dan suami memutuskan pulang hari itu juga. Nah, pas mau pulang (sudah sampai di depan pintu lift untuk turun ke lantai dasar) baru kami dihadang perawat. Ternyata si Bunay belum diberi vaksin polio 0 Jadi, perawatnya langsung meneteskan vaksin polio ke mulut Bunay yang posisinya saat itu sementara digendong di depan pintu lift. Untung saja perawatnya ingat.

Vaksin polio 0 merupakan vaksin yang diberikan pertama kali pada bayi yang baru lahir lewat tetesan di mulut. Vaksin ini berfungsi mencegah penularan penyakit polio yang dapat menyebabkan lumpuh layu pada tungkai dan atau lengan. Efek dari vaksin ini sama seperti vaksin hb-0, tidak menimbulkan demam maupun rewel. Yang ada malah bikin si Bunay tidur nyenyak sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit ke rumah.

Bunay di Usia 1 Bulan

6 September 2018

Jadwal Imunisasi Bunay untuk mendapat vaksin BCG di RSIA Ananda jatuh tanggal 7 September 2018. Berhubung rumah sakitnya jauh jadi saya dan neneknya (mama saya) memutuskan membawa Bunay imunisasi di puskesmas terdekat dari rumah yang jadwalnya itu sehari lebih cepat yaitu tanggal 6 September 2018. Saat itu saya dan suami sementara LDM , jadi mama yang menemani saya dan Bunay ke Puskesmas.

Di jadwal imunisasinya ini, BB Bunay naik 1,3 kg dari BB lahirnya menjadi 4,5 kg, sayangnya tidak ada pengukuran PB jadi saya nggak tahu pasti berapa pertambahan panjangnya. Tadinya mau saya ukur di rumah, tapi neneknya bilang nggak usah, yang penting sudah ditahu BB Bunay. Baiklah, saya manut saja, hehe.

Untuk vaksin BCG, diberikan melalui suntikan di lengan kiri Bunay bagian atas (harusnya di lengan kanan atas ya kalau sesuai anjuran WHO). Nah, pas disuntik, si Bunay yang sedang bobo’ nyenyak di gendongan neneknya langsung kaget bangun dan nangis kenceng tapi cuma sebentar doang. Nggak sampai semenitlah nangisnya. Setelah disuntik, bidannya sempat berpesan, bekas suntikannya tidak usah dikompres, dibiarkan saja.

Eniwei, tujuan pemberian vaksin BCG adalah agar si kecil terhindar dari penyakit tuberculosis (TBC) yang berat. Vaksin ini diberikan hanya sekali dan disarankan diberikan sebelum bayi berusia 3 bulan. Efek dari vaksin ini tidak membuat Bunay demam tapi malam harinya dia jadi rewel banget. Alhasil saya dan neneknya begadang sepanjang malam😅

Selain rewel, suntikan vaksin ini juga meninggalkan bekas di lengan kiri Bunay. Tadinya bekas suntikannya kecil tapi lama-lama mulai timbul seperti bisul yang bernanah. Saya dan suami sempat heran lihatnya. Kok bekas suntikan imunisasi BCGnya jadi seperti itu?

Nah, pas bawa Bunay Imunisasi di usia 3 bulannya baru saya dapat penjelasan dari pak Mantri saat melihat bekas suntikan tersebut. Menurut beliau, kalau bekas suntik vaksin BCG itu muncul seperti bisul dan bernanah, berarti imunisasi vaksin BCG-nya berhasil. Jadi nggak perlu dikorek-korek, biarin saja nanti sembuh sendiri dan meninggalkan tanda. Benar saja, di usia 5 bulannya, bisul kecil yang muncul di lengan kiri atasnya itu sudah hilang tapi meninggalkan bekas tanda.

Bunay di Usia 2 Bulan

19 Oktober 2018

Neneknya Bunay (mama saya) balik Papua, Bunay juga ikut balik tapi ke rumah neneknya di Parepare, bukan ke Papua, hehe. Yup, saya kembali numpang tinggal lagi di rumah mertua karena merasa belum mampu mengurus Bunay sendiri yang waktu itu belum genap dua bulan. Otomatis imunisasi Bunay pun berpindah tempat. 

Nah, kalau sesuai jadwal, seharusnya sih Bunay diimunisasi sekitar tanggal 6-7 September. Tapi karena jadwal di tempat imunisasi barunya berbeda dengan jadwal di tempat imunisasi sebelumnya jadi yang harus menyesuaikan dengan jadwal di tempat imunisasinya yang baru.

Tempat imunisasi Bunay yang baru masih di Puskesmas, jaraknya cukup dekat dari rumah mertua. Tidak sampai lima menit kalau naik kendaraan kalau jalan kaki ya lumayan jauh.

Pada jadwal imunisasinya kali ini, Bunay diberi vaksin DPT-Hb-Hib 1 lewat suntikan dan vaksin polio 1 yang ditetes melalui mulut. Suntik vaksin polio seperti yang sudah saya sebutkan di atas berfungsi untuk mencegah penyakit polio. Sedangkan tujuan pemberikan vaksin DPT-Hb-Hib adalah untuk mencegah penularan penyakit ;
  • Difteri yang menyebabkan penyumbatan jalan nafas
  • Batuk rejan (batuk 100 hari)
  • Tetanus
  • Hepatitis B yang menyebabkan kerusakan hati dan 
  • Infeksi Hib yang menyebabkan meningitis (radang selaput otak)
Vaksin pentavalen ini diberikan tiga kali di usia 2,  3 dan 4 bulan. Oh ya, sebelum disuntik vaksin Bunay sudah lebih dulu diukur PB dan BB. Hasilnya, BB Bunay naik 1,5 kg dari BB sebelumnya menjadi 6 kg. Saya perkirakan sih kalau misalkan Bunay ditimbang saat usianya genap sebulan atau lebih sedikit mungkin kenaikannya hampir sama seperti bulan sebelumnya. Namun karena ditimbang setelah usianya masuk 2,5 bulan jadi kenaikannya sampai segitu.

Senangnya, di Puskesmas ini tersedia pengukuran PB bayi (mungkin di Puskesmas sebelumnya juga ada tapi nggak tahu kenapa waktu itu Bunay nggak diukur PB). Hasilnya, PB Bunay bertambah 7 cm dari PB lahir menjadi 59 cm.

Setelah diukur BB dan PBnya baru deh Bunay diberi vaksin pentavalen dan polio. Pas disuntik itu dia sempat nangis sekejap. Iya, nangisnya sekejap doang setelah itu tenang. Sampai di rumah pun Bunay kelihatan anteng banget. Tidak ada tanda-tanda dia bakalan sakit. Malah tidurnya juga nyenyak.

Karena saya pikir reaksi imunisasi DPT ini bakal sama dengan suntik vaksin BCG, tidak bikin demam jadi saya santai sekali. Kasih kompres di bekas suntikannya pun tidak. Nah, ini kesalahan saya, seharusnya jauh-jauh hari saya cari tahu tentang efek imunisasi DPT. Memang sih, saya sudah sering dengar kata orang-orang, suntik imunisasi bisa bikin bayi demam, tapi mana saya tahu kalau imunisasi yang paling sering menyebabkan bayi demam adalah imunisasi DPT ini.

Alhasil, saya panik bukan main ketika mendapati Bunay tiba-tiba nangis kejer saat terbangun dari tidurnya. Mana suami nggak ada di rumah. Syukur, ada mertua yang menemani. Nangisnya seperti itu berlangsung selama berjam-jam. Bayangkan mulai dari jan 2 siang hingga sekira jam 5 sore. Well, gimana saya nggak panik coba? 

Digerakkan sedikit saja tangisan Bunay makin kencang, menyayat pula. Hati saya ikut tersayat. Dikasih nenen pun dia nolak. Ya Allaah, saat itu baru benar-benar saya rasakan bagaimana hati seorang ibu ketika anaknya sakit. Seandainya saja rasa sakit itu bisa dipindahkan. Ya, lebih Bunda yang tanggung sakitnya. Bunda nggak tega lihat Bunay nangis sampai segitunya, saking nggak berdayanya. Bodohnya, Bunda pun merasa nggak berdaya, nggak bisa melakukan apa-apa selain ikut menangis bersama Bunay.

Suami via WA cuma bisa ngasih saran supaya Bunay dikasih minum obat syrup paracetamol yang didapat dari Imunisasi. Petugas imunisasinya memang sudah mewanti-wanti kalau si Kecil demam atau rewel bisa langsung dikasih minum paracetamol itu sesuai dosis yang dianjurkan untuk bayi. 

Sebenarnya saya agak berat sih memasukkan cairan lain ke dalam mulut Bunay selain ASI, meskipun itu obat yang bisa meredakan rasa sakitnya. Apalagi kondisi Bunay saat itu tidak demam dan juga tidak rewel. Yup! Bunay menangis bukan karena rewel melainkan kesakitan karena bekas suntikannya yang terlanjur membatu gegara tidak dikompres segera setelah pulang dari imunisasi bundanya yang lalai. Lagian kalau rewel nada tangisannya nggak seperti itu.

Karena tidak tega melihat kondisi Bunay yang kesakitan dan merasa tidak punya pilihan lain akhirnya saya terpaksa kasih minum Bunay obat. Nah, tidak lama setelah minum obat paracetamol itu baru  deh Bunay mulai tenang dan mau nenen. Bahkan dia nggak mau lepas dari nenennya sampai tertidur pulas.

Alhamdulillah, pas ayahnya pulang dari kerja menjelang maghrib, Bunay terbangun dengan kondisi yang sudah membaik. Mungkin karena rasa sakit bekas suntikannya sudah hilang tapi suhu badannya mulai menghangat. Puncaknya tengah malam badan Bunay panas sekali, saya nggak tahu persis berapa suhunya. Nggak ukur juga karena belum punya termometer. Syukur, demamnya itu nggak bikin dia rewel. Malah esok harinya Bunay sudah ceria dan sehat kembali.

Bunay di Usia 3 Bulan

29 November 2018

Seharusnya jadwal imunisasi Bunay sekitar tanggal 19 November jika mengikuti jadwal imunisasi di tempat sebelumnya, tapi karena pindah tempat imunisasi lagi jadwal imunisasinya pun ikut berubah. Kali ini ditemani neneknya, Bunay saya bawa imunisasi di Pustu (Puskesmas pembantu) yang letaknya tidak jauh dari rumah. Bisa ditempuh dengan jalan kaki tidak sampai lima menit.  Pustu ini mungkin sama seperti posyandu kali ya.

Alasan utama pindah tempat imunisasi lagi tentu saja karena masalah jarak. Apalagi suami juga nggak bisa menemani karena dia harus kerja. Bulan sebelumnya suami memang menyempatkan diri mengantar dan menemani saya membawa Bunay imunisasi tapi konsekuensinya dia jadi telat masuk kerja.

Alasan lain, karena petugas imunisasi di Puskesmas sendiri yang menyarankan agar anak kami (Bunay) sebaiknya di Imunisasi saja di Pustu karena tim imunisasi yang datang juga dari Puskesmas tersebut.

Oke baik, saya setuju Bunay diimunisasi di Pustu meski harus menunggu lebih dari sebulan (karena jadwal imunisasi di Pustu tiap akhir bulan) dengan ekspektasi kondisi imunisasi di Pustu sama baiknya dengan imunisasi di Puskesmas atau minimal peralatan yang digunakan untuk mengukur PB maupun BB sama.

Dan kenyataanya memang imunisasi di Pustu lebih baik setidaknya dari segi pelayanan, cepat, jadi saya tidak perlu mengantri lama seperti saat di Puskesmas. Namun satu saja sih yang bikin saya nggak sreg imunisasi di Pustu. Saya lalu teringat pesan mama sebelum balik ke Papua. Beliau menyarankan saya  agar lebih baik membawa Bunay imunisasi di Puskesmas daripada Posyandu atau pustu. Kenapa?

Ya, alasan mama ternyata karena masalah timbangan bayi. Kalau di Puskesmas bayi kita bisa dapat fasilitas timbangan digital. Kita sendiri pun bisa jelas-jelas melihat dengan mata kepala sendiri angka yang tertera pada layar timbangan tersebut ketika si Kecil ditimbang. Nah, kalau di Pustu boro-boro liat hasil timbangannya, memastikan apakah hasil timbangan tersebut sudah tepat dan akurat saja saya sangsi.

Pasalnya timbangan yang digunakan di Pustu tempat imuniasi Bunay ini masih menggunakan timbangan manual aka timbangan ayunan. Mana saat di timbang gitu ayunannya gerak-gerak karena Bunay juga nggak bisa tenang jadi saya kurang yakin saja dengan hasil timbangannya.

Tapi ah sudahlah, yang penting hasil timbangan Bunay masih masuk dalam grafik normal. Kalaupun tidak akurat mungkin hasilnya nggak beda jauh. Hasil timbangan Bunay di usia yang hampir menginjak 4 bulan ini adalah 7, 1 kg naik 1,1 kg dari bulan sebelumnya. Berarti kalau ditimbang pas sebulan kenaikannya nggak sekilo, paling sekitar 800 gram. Untuk PBnya, bertambah 3 cm dari  PB bulan sebelumnya menjadi 62 cm.

Setelah diukur PB dan BBnya baru Bunay diimunisasi dengan pemberian vaksin DPT-Hb-Hib 2 dan polio 2. Tujuan pemberian kedua vaksin ini sama dengan imunisasi sebelumnya. Untuk mencegah penularan penyakit polio, difteri, batuk rejan, tetanus, hepatitis B dan infeksi Hib yang menyebabkan meningitis.

Oh ya, di usia 3 bulan lebih ini Bunay sudah bisa melihat dunia lho. Maksud saya, dia sudah bisa merespon apa-apa yang dilihatnya. Termasuk menunjukkan emosinya secara sadar, seperti tersenyum, tertawa terbahak-bahak, jengkel, marah, dsb.


Padahal waktu dibawa imunisasi di usia 2,5 bulan kerjaannya masih tidur, belum bisa diajak komunikasi. Lha di imunisasi kali ini dia sudah bisa mengamati lingkungan sekitarnya. Apalagi kalau disapa atau diajak bicara langsung dia respon dengan senyum dan memamerkan dua lesung pipitnya, hihi. Eniwei, karena sering tersenyum sampai-sampai ibuk-ibuk di Pustu menjuluki Bunay si bayi murah senyum.


Sewaktu disuntik Bunay kaget dan menangis kencang tapi tangisannya sekejap saja, tidak sampai hitungan menit dia sudah diam dan bisa tersenyum lagi. Sesampai di rumah pun dia masih anteng dan tertidur pulas setelah bekas suntikannya saya kompres dengan air hangat. Ngarepnya sih setelah dikompres, bekas suntikannya nggak bakalan membatu.


Namun harapan saya terhempas ding. Sama seperti suntik imunisasi DPT sebelumnya, sekitar jam 2 Bunay terbangun dan menangis kesakitan. Ternyata kompresan air hangat itu tidak mempan menghindarkan dia dari rasa sakit akibat bekas suntikan tapi lumayan meringankanlah karena nangisnya nggak sampe berjam-jam.


Saya juga panik lagi tapi setidaknya tidak sepanik saat pertama kali dia menangis kesakitan seperti itu. Kalau ikutan nangis sih, masih😅 ya namanya juga ibu baru kemarin sore, belum kuat saya liat Bunay nangis kesakitan sampai segitunya.


Sorenya Bunay sudah baikan. Sudah bisa tersenyum tipis. Tapi sekalinya ayahnya pulang, nggak tahu kenapa dia malah nangis kesakitan kembali. Mungkin karena rasa sakit pada bekas suntikannya kambuh lagi atau sengaja dia mau nunjukkin ke ayahnya.


Ya, memang saya ngarepnya sih si Ayah juga bisa liat kondisi anaknya saat menangis kesakitan seperti itu soalnya kalau saya cerita begini begini begini detailnya eh malah dibilangin, cerita saya terlalu lebay. Padahal saya cerita ala kadarnya lho, nggak dilebih-lebihkan, nggak juga dikurang-kurangkan, haha.


Nah, benar saja, reaksi si ayah saat pertama kali liat Bunay nangis kesakitan kurang lebih sama seperti saya. Panik tapi nggak sampai ikutan nangis, wkwk. Dasar bundanya Bunay saja yang cengeng. Syukur, tangisannya pun tidak berlangsung lama karena si ayah langsung sigap menggendong sampai Bunay mulai ngantuk. Lumayan lama juga sih gendongnya, hampir sejaman kira-kira. Kalau saya, mana sanggup menggendong selama itu, mana nggak pake alat gendong pula😂

Malamnya, demam Bunay mulai muncul. Semakin larut semakin bertambah suhunya. Saya sempat worry juga sih dengan keadaan Bunay yang demam tinggi kayak gitu. Tapi sekali lagi, demamnya sama sekali tidak bikin Bunay rewel, malah keesokkan harinya Bunay sudah sehat dan ceria kembali.


Bunay di Usia 4 Bulan


14 Desember 2018


Di usia 4 bulan ini seharusnya imunisasi dengan vaksin DPT-Hb-Hib 3 dan polio 3 untuk Bunay sudah kelar. Tapi karena tiga kali gonta-ganti tempat imunisasi dan harus menyesuaikan dengan jadwal imunisasi di tempat yang baru alhasil imunisasi Bunay jadi terlambat. 

Apalagi ada perubahan jadwal imunisasi di Pustu, yang seharusnya akhir bulan sekitar tanggal 29-30 sengaja dimajukan ke tanggal 14 Desember karena adanya libur akhir tahun. Jadi deh bulan ini Bunay tidak diimunisasi.

Lho kok? Kenapa nggak diimunisasi?

Ya, karena jarak antara pemberian vaksin DPT-Hb-Hib dan polio minimal 4 minggu (sebulan) sedangkan Bunay baru saja diberikan kedua vaksin tersebut dua pekan sebelumnya, belum sampai sebulan.


Makanya kali ini saya cuma bawa Bunay ke Pustu untuk diukur PB dan BB. Hasilnya, PBnya bertambah 3 cm dari pengukuran sebelumnya menjadi 65 cm sedangkan BB Bunay bertambah 200 gram dari timbangan dua pekan sebelumnya menjadi 7,3 kg.

Beidewei, seperti bulan sebelumnya, ibuk-ibuk di Pustu masih memanggil Bunay dengan julukan bayi murah senyum. Malah ada ibuk-ibuk yang gegara lihat senyuman manisnya Bunay langsung bilang “Senyum adalah ibadah” 😁

Bunay di Usia 5 Bulan


30 Januari 2019


Awal bulan Januari ini saya berencana mau bawa Bunay imunisasi di Puskesmas karena kalau nunggu jadwal imunisasi di Pustu kelamaan. Qadarullaah Bunay jatuh sakit, dia demam plus terserang common cold dan baru sembuh benar di pekan kedua. Katanya sih kalau anak-anak sakit nggak boleh diimunisasi. Tapi yang tertulis di catatan buku KIA, sakit ringan seperti batuk, pilek, diare, demam ringan dan sakit kulit bukan halangan untuk imunisasi. Meski demikian saya tetap ragu membawa Bunay imunisasi dengan kondisinya yang sakit seperti itu.

Baca juga Drama Ketika Bunay Sakit Pertama Kali

Jadi sekaligus saja saya nunggu jadwal imunisasi di Pustu yang jatuh tanggal 30 Januari which is kurang 6 hari usia Bunay genap bulan. Telat banget yah tapi tak apa daripada nggak imunisasi sama sekali *eh

Beidewei, selama sebulan lebih itu BB Bunay naik 700 gram dari 7,3 kg menjadi 8 kg (padahal saya sempat mengira BBnya malah turun karena sempat sakit, alhamdulillaah tidak) sedangkan PBnya bertambah 2 cm dari 65 cm jadi 67 cm. Untuk imunisasi, Bunay diberi tiga vaksin sekaligus. Sebelumnya saya sempat kaget juga waktu pak mantri bilang Bunay akan disuntik 2 kali karena setahu saya Bunay cuma akan diberi vaksin DPT-Hb-Hib dan polio saja. Eh tahu-tahu selain vaksin DPT-hb-Hib, ternyata ada juga vaksin tambahan yang diberi melalui suntikan.

Nah, vaksin tambahan yang saya maksud adalah vaksin PCV. Vaksin ini ternyata tertera di jadwal imunisasi dasar versi Kemenkes pada buku KIA, baru saya perhatikan sepulang dari imunisasi ini. Padahal setahu saya PCV tidak termasuk dalam vaksin imunisasi dasar yang disubsidi oleh pemerintah.

Adapaun tujuan pemberian vaksin ini tidak dijelaskan di Buku KIA jadi saya kutip saja ya dari situs idai.or.id manfaatnya adalah untuk mencegah penyakit pneumokokus, seperti penyakit radang paru (pneumonia), radang selaput otak (meningitis) dan infeksi darah (bakteremia). 

FYI, penyakit pneumokokus merupakan penyebab kematian yang paling tinggi pada anak balita. Berdasarkan data Badan PBB untuk Anak-Anak (UNICEF), pada 2015 terdapat kurang lebih 14 persen dari 147.000 anak di bawah usia 5 tahun di Indonesia meninggal karena pneumonia. Dari statistik tersebut, dapat diartikan sebanyak 2-3 anak di bawah usia 5 tahun meninggal karena pneumonia setiap jamnya. Hal tersebut menempatkan pneumonia sebagai penyebab kematian utama bagi anak di bawah usia 5 tahun di Indonesia. Duh, ngeri juga ya kalau anak-anak tidak diberi vaksin ini.

Menurut IDAI, vaksin PCV diberikan pada anak-anak usia di bawah 1 tahun dengan dosis 3 kali, yaitu pada usia 2, 4 dan 6 bulan. Bisa lihat jadwal imunisasi IDAI di atas. Sedangkan di buku KIA, pemberiannya cuma sekali.  Hmm tanggung banget ya. Lagipula kalau cuma satu kali pemberian dosis apa vaksinnya bisa berhasil? *mikir

Well, waktu pak Mantri bilang Bunay akan disuntik 2 kali, badan saya langsung lemas. Satu kali suntik saja efeknya minta ampun bikin dia nangis kesakitan apalagi sampai 2 kali suntik. Duh, saya keburu tegang duluan.

Sebelum disuntik yang pertama Bunay masih sempat pasang muka senyum, sekalinya disuntik tangisnya melengking tapi cuma sekejap setelah itu senyum lagi. Suntik yang kedua malah nggak nangis sama sekali. Padahal saya sudah tegang banget, haha. Ibuk-ibuk yang liat Bunay disuntik sampai ikut tegang juga lalu kemudian speechless karena reaksi Bunay pas disuntik tidak seperti yang kami bayangkan, hihi.

Pulang dari imunisasi saya langsung bergegas mandikan Bunay di air hangat. Oh ya, waktu pergi imunisasi memang sengaja saya tidak kasih mandi dulu. Itu saran dari kak Vhie. Sebenarnya dia sudah saranin hal tersebut setelah kejadian bekas suntik Bunay membatu pertama kali, tapi tidak saya gubris. Saya pikir cukup dengan kompres air hangat saja bisa meredakan bekas suntiknya. Ternyata tidak ding! Jadi kali ini saya ikhtiar ikut saran dari kak Vhie.

Dan hasilnya, you know what?

Setelah mandi air hangat dan kasih nenen Bunay tertidur lelap. Saya sudah wanti-wanti duluan, pas bangun nanti mungkin dia bakal nangis kejer lagi. Ternyata tidak, bahkan sampai sore pun tidak. Malam pun demikian, cuma suhu badannya mulai naik. Tengah malam makin tinggi panasnya. Besoknya juga masih demam tapi saya biarin saja, nggak kasih obat paracetamol. Alhamdulilaah lusanya di sudah baikan seperti biasa. Tentu, saya speechless banget dong. Baru kali ini Bunay bisa lewati imunisasinya tanpa tangisan yang menyayat hati bundanya.

Nah, dengan berakhirnya imunisasi kali ini maka berakhir pula imunisasi dasar Bunay😅 eh maksud saya, nanti 9 bulan lagi baru dia diimunisasi campak, dan masih ada imunisasi dasar lanjutan. Ya, setidaknya sampai 4 bulan ke depan Bunay bisa istirahat dulu dari pemberian vaksin, tapi tetap dong bakal saya bawa imunisasi untuk memantau pertumbuhan PB dan BBnya.

Bunay di Usia 6 Bulan

Tumbuh gigi masuk dalam kategori pertumbuhan, kan? Ya iyalah, mana ada kembang gigi. Haha. Alhamdulillaah, enam hari setelah MPASI baru saya tahu kalau gigi Bunay sudah tumbuh. Itu pun tahunya karena pas dikasih cemilan biskuit bayi bisa dia gigit sendiri sampai terbelah dua. Tadinya saya pikir dia bisa gigit begitu karena gusinya yang keras. Eh pas saya periksa ternyata sudah ada giginya yang tumbuh. Dua gigi seri di bagian bawah. Duh, bunda jadi parno nih?

Ya, sekarang sih belum menggigit karena giginya baru tumbuh kecil, nggak tahu esok-esok, haha. Jadi sepertinya mulai sekarang saya sudah harus ekstra sounding dia nih biar nggak kejadian drama sakitnya menyusui untuk kali kedua, wkwk.

Eniwei, Bunay belum timbang BB dan ukur PB bulan ini. Ya kali, jadwal imunisasi di Pustu kan akhir bulan. So, saya tunggu dulu jadwal imunisasinya bulan ini baru update lagi😊

  • Share:

You Might Also Like

57 comments

  1. Terima kasih dengan informasinya ya Bun

    Saya termasuk yang mengizinkan anak-anak untuk diimunisasi Bun. Memang semua kembali ke pilihan orangtuanya masing-masing ya Bun?

    ReplyDelete
  2. Allhamdulillah waktu kecil anak-anakku juga sudah lengkap imunisasinya termasuk pengulangannya.
    Seru ikutin perkembangan si kecil ya, buat kenang-kenangan juga ditulis di blog ya. Salam kenal Bun.

    ReplyDelete
  3. Wah, lengkap smua y imunisasinya .Jujurly, ketiga anak sya tdk lengkap imunisasinya hehehe..mdh2an ttp sehat2 terus ya. Untuk kita semua

    ReplyDelete
  4. Suka kesel kalau ada yg bilang ASI kurang, lalu bayi masih 2 bln disuruh makan oh no... Artikelnya lengkap bgt mba, apalagi bagian imunisasi untuk si kecil saya.

    ReplyDelete
  5. Adek Bunay, masyaallah montok sekali sih kamuuu.
    Anak pertama ku juga dapet vaksinasi pas baru lahir itu, disuntik di paha kalo gak salah.
    Alhamdulillah gak rewel setelahnya.

    Makasih ya mba udah sharing soal vaksin, saya masih minim banget nih pengetahuannya.

    ReplyDelete
  6. Wah serunya ya.
    Waktu anak2 saya juga msh di usia imunisasi, saya ikut2 rempong mempersiapkan dan mengatur jadwalnya. Apalagi klo di luar negeri, untungnya di Abu dhabi selalu dikasih reminder via sms oleh kliniknya.

    Terimakasih sdh berbagi ya Siskadwyta

    ReplyDelete
  7. Informasi yang sangat bermanfaat, kiranya bisa disajikan dengan infografis sehingga lebih menarik untuk ditelaah. Terima kasih sharingnya Kak.

    ReplyDelete
  8. Wah fase imunisasi ini emang seru ya, paling nggak setiap waktunya imunisasi sekalian nimbang bb anak, karena kalau gak ke dokter yabgak nimbang, jadi gak tahu grafik tumbangnya. Hehe. (itu mah saya).
    Kalau dulu saya mengalami pengalaman tak terlupakan dengan imunisasi ini pas jamannya vaksin dpt langka. Sampai berbulan bulan menunggu dan berburu dwmei melengkapi imunisasi dasar. 😁

    ReplyDelete
  9. Saya juga termasuk ibu yang pro imunisasi, Mba. Insyaallah, imunisasi dasar anak saya terpenuhi :)

    ReplyDelete
  10. Baca catatan imunisasi Bunay ini mengingatkanku pada masa-masa anakku masih kecil dulu. Ahhh kangen masa-masa itu lagi deh :)

    ReplyDelete
  11. Pemeriksaan lingkar kepala saat bayi baru lahir itu harus kak. Biar bisa ketahuan apa bayinya kemungkinan mikrocephal atau hidrocephalus.

    Kalo pemberian hb0 caranya disuntik dipaha.

    Sehat terus ya baby-nya...

    ReplyDelete
  12. Lengkap sekali catatannya..
    Benar-benar beruntung si dedek kalau sudah besar. Dia akan bisa membaca detail periode tumbuh kembangnya. Bahkan sampai ketika dia nangis kesakitan karena bekas suntik.

    Luar biasa hehehe

    ReplyDelete
  13. dulu kalau tak salah ada yang namanya Kartu Menuju Sehat (KMS) yang berisi perkembangan berat badan bayi. itu masih ada gak yah?

    ReplyDelete
  14. Imunisasi yang di pesankan dengan baik oleh orang tua jaman now adalah campak. Kenapa? biar katanya kalo sudah besr tidak gampang di campakkan. Sama Rubella. Kenapa? biar kalau di camppakkan ada yang bela. waduh...

    eniwey, Imunisasi ini penting banget untuk si dedek. bersyukur punya bunda yang memperhatikan setiap imunisasi yang harus diterimanya

    ReplyDelete
  15. Bunda yang teliti terhadap perkembangan anak :)

    KElak kalo ada dedeknya Bunay, mungkin bisa ji minta periksa sendiri ya tiap pekan, saat menjelang waktu kelahiran. :)

    Waktu anak pertama saya masih di kandungan, dokter di tempat kerja suami saya menyarankan saat menjelang hari persalinan supaya kontrolnya tiap pekan, bukannya tiap bulan lagi :) Berarti bisa ji kalo kita sendiri yang mau dih ...

    Sehat terus ya Bunay .... bahagia punya bunda yang telaten.

    ReplyDelete
  16. Saya membayangkan Bunay sudah besar dan membaca tulisan ini, begitu detail menceritakan keadaan dirinya dan kasih sayang bunda di saat dia masih belum menyadari tentang apa yang bunda lakukan untuk dia. Sehat selalu Bunay dan bunda aaminn

    ReplyDelete
  17. Teteh rajin banget nyatet perkembangan si kecil yaa.. sy juga pengen tapi belum2 aja.. bisa jadi informasi informatif buat emak2 lainnya yg mau imunisasikan anaknya. Salam kenal ya mbak

    ReplyDelete
  18. kita sama-sama pro-vaksin mbak, sehat-sehat selalu Bunay

    ReplyDelete
  19. Baru tau perihal pengurusan BPJS yang bukan mandiri. Btw, BCGnya berhasil, kaaan? :D

    ReplyDelete
  20. Aku jadi inget anakku kecil, masih pake KMS , semua imunisasi komplit donk.
    Ini penting banget infonya terutama buat mahmud

    ReplyDelete
  21. Wah mantab nih ilmunya mbk..jadi menambah wawasan banget

    ReplyDelete
  22. Senang dh Bu Ibu yang bawa anaknya ke Posyandu gini dan vaksinnya dilengkapi juga. Di desaku banyak Ibu2 yg males dg alasan anaknya rewel dll. Kalau di sini tgl 11 periksanya

    ReplyDelete
  23. Mencatat perkembangan anak tiap bulannya itu memang menyenangkan ya mba,

    ReplyDelete
  24. Maa Syaa Allah super lengkaaaap banget! Dan seru baca perkembangan dek bunay.
    Semoga sehat selalu ya, dek :*

    ReplyDelete
  25. Perkembangannya dicatat dengan lengkap yaa mba.. semoga bunay bisa sehat terus hingga besar kelak

    ReplyDelete
  26. Alhamdulillah, kelima anakku langganan posyandu, apalagi kebetulan mertua juga kader posyandu. Salam buat si kecil, semoga bulan depan berat badannya naik dan sehat selalu.

    ReplyDelete
  27. Mengikuti perkembangan buah hati memang menakjubkan ya mba.. Semoga ananda sehat selalu ya...

    ReplyDelete
  28. Sekarang enak ya, imunisasi hepatitis udah ada fasilitasnya. Jaman anak-anakku dulu mesti merogoh duit sendiri kalo pengen kasih vaksin hepatitis. Dan harus di dokter spesialis anak langganan.

    Sehat-sehat ya Bunay, catatan KMS nya penting dijaga, sekarang digunakan untuk mendapatkan sertifikat lulus dari posyandu. Bisa untuk daftar sekolah tingkat playgrup

    ReplyDelete
  29. Kalau anak-anak saya semuanya imunisasi di rumkit. Ditangani sama dokter anak yang memang menangani sejak lahir.

    Kalau boleh saya menyarankan sebaiknya punya thermometer. Setiap kali anak-anak demam, dokter anak kami selalu bertanya udah demam berapa lama dan berapa suhunya. Bukan berarti di rumkit gak diukur suhu tubuhnya. Tetapi, kalau demamnya belum sampai 3x24 jam udah dibawa ke dokter, biasanya kami bakal ditegur hehehe. Boleh bawa ke dokter kalau belum 3x24 jam asalkan suhu tubuhnya sudah di atas 38,5. Kalau sudah di atas itu khawatir kejang, makanya harus segera dibawa

    ReplyDelete
  30. Keren Mbak! Yang konsisten nulis perkembangan Bunay. :) Aku dulu sempet kepikiran untuk nulisin perkembangan motorik anak sedari bayi di blog, tapi ternyata agak sulit ya untuk konsisten. Anak tidur aja kita udah kecapekan, penginnya langsung tidur juga.

    ReplyDelete
  31. Waktu kecil mah aku posyando bun wahah abis ditimbang dan disuntik sama vaksin dikasih bubur kacang ijo sama agar2 hahaha kalo sekarang jamannya dikit2 RS harganya juga lumayan. Wah semoga bunay sehat terus yah

    ReplyDelete
  32. Wouw rekam jejaknya detail banget ya mbak.
    Bisa buat rekam jejak jika ada dedk kecil lagi. ��

    ReplyDelete
  33. Wahh, keingat kalau ada step hampir kelewat imunisasi anak saya, soalnya sibuk pindah-pindahan, dan sampe sekarang buku imunisasinya belum ketemu hikssss...

    ReplyDelete
  34. Lengkap dan detail bangeet infonya mbk. Anakku nggak lengkap imunisasi ny, hanya sampai campak usia 9 bulan. Sehat terus ya dek Bunay.

    ReplyDelete
  35. Wow keren bun lengkap sekali catatannya :)

    Imunisasi itu memang pilihan

    Kita semua sebagai orangtua tetap berharap yang terbaik untuk buah hati, semoga semuanya selalu sehat

    ReplyDelete
  36. Kalau aku dulu pas si sulung imunisasi dasarnya komplit. Bahkan sempet jg dikasih vaksin harganya bikin langsung tongpes. Tp skrng yg anak kedua lbih nyantai. Udah mau 6 bulan tp imunasinya baru sampai BCG. Yg DPT belum... bukan krn pro atau antivax sih, tp krn emaknya mls ga ada yg nganter imunisasi ke bidan hehehe...*jgnditiru :D

    ReplyDelete
  37. Suka deh lihat perkembangannya Bunay yg dicatat dengan lengkap, kalau bisa diteruskan sampai usia sekolah yaa mba.. bisa buat kenang2an setelah besar nanti :)

    ReplyDelete
  38. Aku nyimpen buku KIA semua anak2ku lo padahala yg sulung aja udah kelas 3 SMP. Seneng aja buka2 bukunya jadi inget pas mereka lagi kecil2

    ReplyDelete
  39. Jadi ikutan gemas melihat pertumbuhan si kecil yaaa... Keinget dulu jaman anak2 masih bayi, udah ada jadwalnya juga untuk imunisasi. Dan setelah serangkaian jadwal imunisasi terlewati, rasanya legaaa.. Lega karena sudah berikhtiar memberikan yang terbaik untuk anak, lega juga karena ga harus ngadepin momen2 anak jadi nangis jejeritan karena diimunisasi :)) Ya meskipun nangisnya hanya sebentar tetep rasanya gimanaaa gitu.

    ReplyDelete
  40. Sehat dan dan bertumbuhlah dengan bahagia Bunay. Dari jadwal vaksin keluaran IDAI itu, Ghaza belum sempat saya vaksin tiphoid dan hepatitis A. Kalau vaksin flu saya memang tidak berniat memberikannya kecuali kalau kami ingin liburan ke luar negri.

    ReplyDelete
  41. Sehat selalu adek bunay , namanya unik hehehe btw anakku juga kalau vaksin selalu di puskesmas tai sejak vaksin terakhir udsh jarang cek PB dan LK cuma BB aja. Jadi aku cek mandiri dirumah

    ReplyDelete
  42. anak-anak saya juga gitu klo imun DPT, klo gak salah waktu itu DPT 1 Kakak demam, tapi DPT 2 nya malah gak demam, kebalikan dengan Adek waktu itu :)
    yang penting anak-anak sehat ya Mbak, imunisasi itu emang penting. tapi ini Adek belum imun campak gegara waktu itu pas waktu imun dianya demam, terus pas sembuh kami berangkat ke Surabaya jadi skip, eh mau kesana lagi pas batuk, sampe sekarang blm deh karena emaknya sok sibuk, fufufuhh. galau ini. Katanya sih gpp telat tapi blm juga pergi imun ini, huhuhuh

    ReplyDelete
  43. Keren banget mba sampai hafal, saya sendiri waktu anak2 kecil imunisasi ya imunisasi aja di buku ga pernah di tulis hehe. Terus Alhamdulillah ibu2 posyandu dirumah ku pada tegas jadi kalau anak2 yang ga ikut imunisasi di samperin dan diberi penjelasan.

    ReplyDelete
  44. Lengkap banget kak sharingnya, aku jadi belajar banyak merawat anak kelak. Makasih banyak kak, apalagi soal imunisasi. Aku keder jika anak nangis apakah bisa meredamnya.

    ReplyDelete
  45. Bun, sehat selalu ya.. sehingga bisa terus membesarkan di kecil dengan maksimal agar si kecil bisa tumbuh berkembang secara optimal, terus pantau berat badan dan tinggi badan si kecil ya bun.. jadi jika kurvanya tidak sesuai dengan yang seharusnya (normal) bisa langsung konsultasi ke dokter anak, untuk mendapatkan tindakan medis juga.. semoga sehat sehat selalu ya adek dan bunda

    ReplyDelete
  46. Kalau ditulis gini bagus mbak jadinya bisa memantau dan jadi rekaman tumbang anak. Bisa jd kenang2an anak jg kelak. Zaman anak pertamaku msh baby juga aku tulis di blog sendiri, yg anak kedua nih nyesel gk nyatetin. Sehat2 terus ya Bunay.

    ReplyDelete
  47. Waa..ikut senang karena bisa menuliskan pertumbuhan dan perkembangan anak dengan detail.
    Smoga sehat selalu yaa...

    ReplyDelete
  48. Beruntungnya dedek punya bunda seprti kak siska. Memperhatikan perkembangan anak itu sangat penting.

    Makanya saya mau punya istri yg profesi psikolog biar anakku nantinya diperhatikan. Tidak mau punya anak yg lost parents bela:")

    ReplyDelete
  49. Catatannya lengkap, bisa menjadi referensi ibu2 muda2 nih. Tfs mb...

    ReplyDelete
  50. Alhamdulillah kedua anak saya lengkap imunisasinya..saat mereka bayi pas imunisasi wah saya malah yang deg-degan ga karuan..saya termasuk pro dengan imunisasi hingga di usia sekolah mereka tetap saya ijinkan di imunisasi.

    ReplyDelete
  51. Sebagai Petugas kesehatan, saya dan kami sangat senang sekali bertemu orangtua yang peduli dan pro aktif buat kesehatan putra putrinya🤗😊. Semoga Bunay tumbuh sehat dan cerdas ya Mbak..serta solehah tentunya.

    Btw..saya salut dengan catatan dan dokumentasi perkembangan bunay oleh sang ibu. Tulisan ini menjadi sangat berharga bagi bunay kelak. Barakallahu fiikum

    ReplyDelete
  52. Wah lengkapnya catatannya kak, kelak bisa dibaca Bunay kalo sudah gede. Jadi dia punya sejarah imunisasinya sendiri ��

    ReplyDelete
  53. Keren amat Mbak, begitu detail tercatat perkembangan bunay. Anakku dua-duanya juga full imunisasi sampai 9 bulan.... semoga anak-anak kita selalu sehat ya..aamiin

    ReplyDelete
  54. wah lengkap sekali catatannya. Sehat terus ya dek

    ReplyDelete
  55. Waaooo rajinnya mbaaa hahahaha

    saya dong, awal-awal doang rajin nulis di blog tentang perkembangan anak, lama2 males.
    Sungguh kumerasa jadi ibu yang aneh hahahah

    Bahkan si sulung dulu juga gak terlalu banyak catatan saya.
    Saya ingat beberapa kisahnya kalau liat buku KIA nya dan segepok resep dokter sejak dia masih bayi :D

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)