Berawal Dari Mimpi, Kini Panggilan Bunda Kian Menjelma Nyata

By Siska Dwyta - Wednesday, March 27, 2019

Bismillaahirrahmaanirrahiim

“Mama” kata itu pertama kali diucapkan Bunay saat usianya baru empat bulan. Jelas saya sangat tersanjung mendengar kata pertama yang disebutnya. Sayangnya kata mama cuma bertahan sebulan di mulut Bunay. Menginjak usia enam bulan dia mulai suka mengoceh “a.. pa.. pa pa pa” yang terdengar seperti memanggil ayahnya dengan sebutan “papa”.

Kali ini hati ayahnya yang melambung tinggi karena hingga sekarang Bunay lebih sering menyebut nama pa pa pa pa daripada ma ma ma ma. Tak masalah, walau jarang disebut setidaknya saya sudah senang sekali karena “mama” menjadi kata pertama yang keluar dari mulut Bunay. Lagipula Bunay juga belum paham sama sekali saat mengeluarkan suara yang bunyinya terdengar seperti memanggil kami. Dasar, orang tuanya saja yang kegeeran, hehe. Toh, saya dan suami juga tidak membahasakan diri kami dengan panggilan papa dan mama.

Lha kalau bukan papa dan mama trus panggilan Bunay untuk orang tuanya apa dong?

Bagi pembaca yang sering berkunjung di Kamar Kenangan ini pasti tahu jawabannya. Yap! Kami membahasakan diri dengan panggilan ayah bunda. Panggilan tersebut sudah menjadi kesepakatan kami sebelum Bunay lahir. Bahkan jujur saja, sebelum menikah pun saya sudah mendamba ingin dipanggil bunda oleh anak-anak saya kelak.


voa-islam.com

Nah, di postingan kali ini saya bakal sharing alasan mengapa setelah menjadi orang tua saya inginnya dipanggil Bunda bukan ibu, ummi, mama mapun mami. Namun sebelumnya biar saya paparkan dulu pandangan saya terkait panggilan selain bunda.

Ibu


Sebelum menikah panggilan ibu sudah begitu melekat pada diri saya. Tentu saja, karena profesi saya kala itu masih sebagai guru. Saya punya banyak anak didik, jumlahnya ratusan, tapi mungkin anak-anak yang pernah memanggil saya ibu lebih dari itu. Karena saya mengajar tidak hanya di satu sekolah dan jumlah siswa setiap sekolah yang saya tempati mengajar mencapai ratusan bahkan ada yang ribuan. Jadi, entah berapa banyak anak-anak yang sudah memanggil saya dengan sebutan ibu. Belum ditambah dengan rekan kerja sesama guru yang juga memanggil saya ibu.

Sampai sekarang pun panggilan ibu masih melekat pada diri saya. Anak-anak didik saya dulunya juga masih kerap menghubungi baik sekadar bertanya kabar maupun menyampaikan kerinduan mereka.

Ibu kangen,

Ibu kapan balik lagi ke Serui?

Ibu sudah punya anak kah?

Ibu saya mau curhat *eh

Maklum, dulu itu saya guru termuda di sekolah mereka. Jadi tak heran kalau banyak  siswa yang cepat akrab dan suka curcol dengan saya. Bahkan ada beberapa siswi yang menganggap saya seperti kakak mereka meski tetap memanggil saya ibu. Padahal kelihatannya saya memang lebih cocok dipanggil kakak daripada ibu, hehe.

But well, saya suka mendengar anak-anak yang (pernah) saya didik di sekolah memanggil saya ibu. Setidaknya dengan panggilan itu saya bisa tetap ada dalam ingatan mereka sekalipun tidak lagi membersamai. Yah, ingatan  siswa terhadap guru biasanya kuat banget apalagi yang terlanjur melekat di hati, biar berpuluh-puluh purnama berlalu pasti tetap ingat. Beda dengan gurunya, baru beberapa purnama pergi eh sudah lupa dengan nama siswanya sendiri.

Saya jadi ingat, beberapa waktu lalu saat masih hamil Bunay saya sempat ketemu dengan salah satu siswa yang sudah lulus SMP dan melanjutkan sekolahnya di kota yang qadarullaah sama dengan kota tempat saya hijrah ikut suami. Si  siswa itu langsung menyapa saya dengan panggilan ibu. Sontak saya kaget karena nggak nyangka bakal ketemu  siswa saya di situ, yang sayangnya cuma saya kenali wajahnya. Soal nama saya benar-benar lupa, bahkan sampai berhari-hari saya berpikir keras. Berusaha mengingat-ingat nama  siswa yang pernah saya ajar itu. Padahal kayaknya baru dua tahun deh si siswa lulus SMP dan saya sudah lupa namanya, ckck.

Nah, menurut saya ibu merupakan panggilan yang sangat umum. Panggilan ini pun bukan sebatas digunakan anak-anak didik pada guru perempuannya, melainkan juga digunakan sebagai bahasa baku dan melekat pada kata-kata seperti hari ibu, Ibu negara, ibu pertiwi, dan lain sebagainya. Karena keumumannya itulah sehingga saya tidak berminat dipanggil ibu, meskipun mertua dan suami sendiri sering membahasakan saya dengan panggilan ibu sejak kehadiran si Kecil. Baiklah, saya hanya ingin anak-anak saya memanggil ibunya dengan panggilan yang lebih khusus, panggilan yang tidak sama dengan panggilan anak-anak didik saya.

Mama


Mungkin ke depannya Bunay akan kembali menyebut kata mama. Panggilan mama  memang lebih mudah diucapkan bayi seusia Bunay. Namun tak masalah ketika dia lebih dulu menyebut kata mama daripada Bunda. Toh, seperti yang sudah saya singgung di atas, bayi seusianya belum paham makna panggilan untuk orang tua.

Eniwei, panggilan mama sudah sangat familiar dalam hidup saya. Bagaimana tidak? Wong, saya dan saudara-saudara memanggil orang tua kami dengan sebutan ini.Tetanga-tetangga di sekeliling rumah kami juga memanggil ibunya dengan sebutan mama. Bahkan hampir semua teman yang saya kenali punya satu panggilan yang sama untuk perempuan yang melahirkannya.

Yup, panggilan mama sudah terlalu nge-trend dalam lingkungan sekitar saya. Ditambah lagi, saya menginginkan anak-anak memanggil saya dengan panggilan berbeda dengan panggilan saya kepada perempuan yang begitu saya cintai. Jadilah sebutan mama sama sekali tidak masuk dalam panggilan yang saya impikan setelah menjadi orang tua.

Mami


Kalau dengar panggilan mami kesannya lebih melekat pada ibu yang sering memanjakan anaknya atau panggilan ini lebih sering digunakan dalam keluarga yang kaya. Benar tidak atau kamu punya pendapat lain? Sayangnya selintas pun tidak terbersit keinginan saya untuk dipanggil mami jadi saya tidak akan mengulas panggilan ini panjang lebar.

Ummi


Bila mendengar panggilan Ummi saya selalu terngiang lagunya Sulis “ummii…. ummii”. Ummii yang dalam bahasa arab artinya ibuku, ada pula yang membahasakan dirinya sebagai ummu atau umma, keduanya bermakna ibu.

Fyi, panggilan sayang saya ke suami juga mengambil kata dari bahasa arab, yakni “Zaujii” yang artinya suamiku. Begitupula panggilan sayang saya ke si Kecil,  “Bunayya” yang juga diambil dari bahasa arab (AlQuran).


Sejujurnya saya sempat tertarik membahasakan diri sebagai Ummu Zhafran dan mendengar Bunay memanggilku dengan panggilan sayang, ummii (ibuku). Terdengar manis sekali ya, sayangnya keinginan saya pada panggilan ini sebatas tertarik bukan memimpikan.

Tidak sedikit pula orang yang mengira saya dan suami akan dipanggil ummii wa abii setelah menyandang status sebagai orang tua. Mungkin karena penampilan kami yang terkesan agamis. Ayahnya berjenggot sementara saya berjilbab panjang. Panggilan ummii memang lekat pada perempuan berjilbab syari bahkan seingat saya dulu hanya anak-anak ustadz/ah yang biasa memanggil orang tuanya dengan panggilan ummi dan abi. Namun belakangan ini panggilan ummi sudah mulai umum dan banyak digunakan oleh orang tua muslim.

Teman-teman di sekitar saya juga banyak yang membahasakan dirinya dengan panggilan ini. Dan lagi-lagi karena panggilan ummi sudah mulai umum sehingga saya menginginkan panggilan berbeda. Panggilan yang lebih khusus. Panggilan yang benar-benar saya impikan.

Dan panggilan yang saya impikan itu adalah Bunda


Kenapa Bunda? Kenapa bukan Ibu, Mama, Mami, atau ummi?

Saya telah lama memimpikan ingin dipanggil Bunda oleh anak-anak saya kelak. Bahkan empat tahun sebelum si Kecil lahir, saya sempat menorehkan sekilas impian tersebut di Kamar Kenangan ini. Lalu impian yang saya pupuk itu menjelma mimpi dalam bunga tidur.

Baca juga Impian Gadis Pemimpi

Insta story IG @siskadwyta 

Yah, selain pernah menautkan impian ingin dipanggil bunda, saya juga pernah bermimpi bertemu dengan buah hati yang begitu saya rindukan. Padahal kondisi saya kala itu masih belum hamil lho. Tidak ada tanda-tanda juga saya bakal segera berbadan dua.

Saya dan suami termasuk pasangan yang tidak menunda kehadiran anak setelah hidup menggenap. Namun sama seperti pasangan lainnya yang tidak langsung diberi amanah. Kami masih harus menanti berbulan-bulan. Qadarullaah, amanah itu baru Allah berikan di usia pernikahan kami yang telah menginjak bulan ke tujuh.


Nah, dalam masa penantian itu, saya pernah sekali bermimpi bertemu dengan si Kecil. Mimpi itu benar-benar terasa begitu nyata. Saya memanggilnya dengan sebuah nama dan dia memanggil saya dengan panggilan bunda. Sampai-sampai keesokkan harinya, saya sempat menuangkan mimpi tersebut lewat status WA.

Siapa sangka, mimpi itu hampir menjelma nyata. Awal Agustus 2018 lalu saya telah melahirkan seorang bayi laki-laki. Saya beri nama ia Zhafran, persis seperti panggilan saya padanya dalam mimpi (saya hanya keliru menuliskan namanya saat itu). Kini, saya tinggal menunggu si kecil bisa bicara dan memanggil saya dengan sebutan BUNDA.

Ah, saya sungguh tidak sabar menanti hari itu :')

Selain karena mimpi, panggilan bunda di lingkungan sekitar saya terutama keluarga masih sangat jarang. Bahkan sejauh ini baru kakak sepupu dan istrinya yang menggunakan panggilan ayah bunda. Selebihnya kebanyakan bapak-mamak atau papa-mama. Lingkungan pertemanan saya pun begitu, masih sedikit orang tua di sekeliling saya yang memilih panggilan ayah-bunda.

Alasan lainnya, tentu saja karena saya SUKA dengan panggilan bunda. Saya suka membahasakan diri saya sebagai bunda. Hari-hari pun saya selalu membiasakan diri ngobrol dengan si Kecil dan selalu menyertai kata Bunda, termasuk ketika menyanyikan lagu untuknya.


Kasih Bunda kepada Bunay
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia

*
Satu-satu Bunda sayang Bunay
Dua-dua ayah sayang Bunay
Tiga-tiga kami sayang Bunay
Satu Dua Tiga semua sayang Bunay

Bagi saya Bunda bukan sebatas panggilan lebih dari itu. Dalam panggilan ini ada sayang, ada doa, ada cinta, ada harapan, ada mimpi, ada keikhlasan, ada kehangatan, ada kelembutan. Itu pula yang akan saya ajarkan pada si kecil. Karena setiap panggilan pasti memiliki makna.

Nah, kalau kamu sukanya dipanggil apa sama si Kecil? Ibu, mama, mami, ummi, atau bunda juga?Namun apapun panggilannya sama saja, kan? karena itu hanya persoalan pilihan. Semoga kita bisa jadi ibu/mama/mami/ummi/bunda terbaik dalam mendidik anak-anak kita.

Salam,

Bundanya Bunay
@siskadwyta



  • Share:

You Might Also Like

54 comments

  1. Semua ibu di dunia memiliki panggilan sesuai keinginan masing-masing ya. Mamaku walau kuidolakan, aku senang panggilan ibu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, setiap ibu di dunia pasti punya panggilan sesuai keinginan masing-masing.

      Delete
  2. Sekarang panggilan anak kepada orang tua sudah beragam ya?
    zaman dulu, panggilan ke orang tua pasti disesuaikan dengan adat dan budaya setempat.
    kayak Bune-Pakne di Jawa, Mama-Papa di Papua, Maluku dan Sulut, atau Amma-Tetta di Bugis/Makassar.

    Sekarang, variannya makin banyak karena pengaruh luar.
    ya kayak Ayah-Bunda, Ummi-Abi atau bahkan Mommy-Daddy.

    Kalau saya di rumah, paling suka dipanggil makan.. #eh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi di Papua papa-mama ya, padahal orang sana suka juga pake istilah pace-mace.

      Kalau Ummi-Abi atau Mommy-Daddy emang istilah dari luar tapi panggilan Ayah-Bunda masih panggilan dari dalam kok

      Yayaya, sapa juga yang tidak suka dipanggil makan, wkwk

      Delete
  3. setiap panggilan memiliki cerita, makna dan harapan tersendiri yah. semoga Bunay tumbuh sehat dan cerdas yah Bunda..

    ReplyDelete
  4. "panggilan mami kesannya lebih melekat pada ibu yang sering memanjakan anaknya atau panggilan ini lebih sering digunakan dalam keluarga yang kaya" iya kah? Hahaha...

    Soalnya saya dipanggil Mami sama anak, suami, ponakan dan beberapa teman yang udah akrab dengan saya.
    Dan panggilan Mami sudah jadi panggilan turun-temurun dari keluarga Omaku yang berasal dari Manado.

    ReplyDelete
  5. panggilan yg menenangkan menurutku. Sy pun punya impian yg serupa bund. Bahkan, menghayalkan pernikahanpun sudh. Menghayal punya anak berpa jg sudah. Apa yg di pikirkan terus2an bisa jadi sugesti dan mempengaruhi tindakan.

    ReplyDelete
  6. Saya memanggil ibu dengan "Aji".. karena dia sudah hajjah.
    Seingat saya waktu msh blum menunaikan haji, beliau dipanngil "indo" - panggilan lazim utk ibu di bahasa bugis :)

    ReplyDelete
  7. TIap orang punya keinginan masing-masing ya, mau dipanggil apa oleh anaknya nanto. TIap piliah tentunya yang terbaik dan menyenangkan bisa memanggil dengan sebutan yang disukai di pemiliknya.

    ReplyDelete
  8. Saya juga pengen banget mbak dari dulu dipanggil Bunda. Tapi apa daya karena di daerah batak di panggil mamak maka jadilah sampai sekarang mamak haha. Tapi apapun panggilan itu selalu menyenangkan kalau dipanggil dari mulut kecil nya.

    ReplyDelete
  9. ga juga kok mba panggilan Mami buat keluarga kaya hehehe..bebas aja di kampung aku juga ada yang panggil mami tp biasa-biasa aja hehehe

    aku sih dipanggil bunda tadinya pengen ibu tp kadung suka bunda yo wes deh bunda

    ReplyDelete
  10. Apapun panggilannya yang penting makna menjadi orangtua itu sendiri ya Bun ☺❤. Karena menjadi orangtua itu bahagia luar biasa sekaligus memiliki tanggung jawab yang sangat besar, dan di akhirat kelak juga yang termasuk yang awal sebagai pertanggungjawaban.

    Semoga bunda selalu dapat menjadi bunda luar biasa dan salihah untuk bunay tercinta aamiin ☺❤

    ReplyDelete
  11. Saya dipanggil mami, alasannya biar beda hehehe
    Saya manggil mama saya dengan sebutan mama, ibu mertua dengan sebutan ibu.
    Mau manggil bunda kok kesannya formal banget.

    Jadinya sepakat manggil mami papi hehehe

    Apapun panggilannya, saya rasa sama aja, gak mengurangi artinya ya :)

    ReplyDelete
  12. Dan saya memanggil ibu dengan Umma' yang artinya juga sama dengan mama. Panggilan lazim dalam bahasa Palopo.

    ReplyDelete
  13. Masya Allah, kak siska insya allah menjadi bunda yang bahagia kelak. Mengamati pertumbuhan anak sangat perlu kak.

    Saya masih umur 20 tahun tapi sudah mau punya anak rasanya #eh XD
    Sebenarnya sudah punya anak, anak tanteku tapi:( dia paling melengket sama saya, karena bapaknya kerja jauh jadi saya paling sering bersamai dirumah, pernah suatu ketika dia panggil saya papa. Langsung saya kaget, takutnya sampe besar dia panggil saya begitu. Padahal dia adik saya:(

    Btw, semoga si bunay menjadi anak yang berbakti yah kak. Tetap amati pertumbuhan anak, suatu saat bunay besar akan membaca blog ini betapa dia disayangi dari sebelum lahir malahan.

    Barakallahu fik kak:)

    ReplyDelete
  14. Saya pengennya dipanggil Bunda, tetapi lidah anak lebih mudah panggil Ibuk, Ibu ditambah (k). Ya wes, ngalah saja. Apapun panggilannya, yang penting semua sayang ibu :D

    ReplyDelete
  15. Bundaaaaaa... jadi inget panggilan milea kepada Ibunya Dilan.. memang terdengar lebih akrab ya jika dipanggil Bunda.. aku dirumah dipanggil Mama.. dan memang anak-anak lebih manja sih kalo manggil aku mama hehe.. bismillah ya bun.. semoga kita senantiasa diberikan kesehatan spy bisa lebih lama bersama anak anak kita

    ReplyDelete
  16. JAdi ingat waktu anak-anakku bayi, saya dan suami bertanya-tanya, anak-anak akan lebih dulu bilang MAMA atau PAPA (kami dipanggil MAMA-PAPA), hehehe. Dan senangnya luar biasa saat mendengar kata itu pertama kali mereka ucapkan. Sampe2 sering dipancing2 untuk bilang lagi hihihi;

    ReplyDelete
  17. Bunda siska hehe.

    Kalau saya sendiri dari kecil sampai sekarang kebiasaannya panggil mama. Jadi, akan merasa aneh2 tiba jika saya mencoba memanggil ummi atau ibu :D

    ReplyDelete
  18. Kalau aku untuk sekarang enggak mau dipanggil Bunda. Ini identik sama Guru PAUD sih. Tapi namanya anak itu suka2 dia. Ponakanku dulu manggil Ibuk. Lalu pas temennya pada manggil Mama, dia ikutan manggil itu

    ReplyDelete
  19. Barakallah mbak, bahagia baca tulisannya. Jadi mengenang masa2 awal menikah dan menantikan buah hati. Semoga selalu samara yaa

    ReplyDelete
  20. Pengalaman kalau panggilan Bunda..Nnti biar temannya Bunay bisa panggil Bunda juga..hehe ..

    Ada teman yang sering panggil Bunda ke Ibunya ,,Kebanyakan tmn-tmn SMA, kuliah termasuk saya kebiasan panggil bunda ke beliau,,kerna orangnya memang care ke anak-anak tmn dari anak kandungnya..Dlaam organisasi dan komunitas juga ada panggilan bunda, buat cewek yang dianggap paling tua, ada tmn kuliah ku dlu di panggil bunda juga..Memang mantapp nih, pangggilan bunda..menyatukan anak-anak..

    ReplyDelete
  21. Senengnyaaa, Masya Alloh ya Mak denger anak manggil bunda nya. Bahagianya tak terkatakan :)

    ReplyDelete
  22. Wow so sweet panggilan kesayangan dari nama bahasa Arab.

    Bahasa panggilan sebagai bentuk penghormatan seseorang kepada orang lain.

    ReplyDelete
  23. Tiap orang tua pasti punya panggilan khusus bagi anak2nya ya mbak... Kami memang terlahir dr suku Jawa, saya dan suami sama2 memanggil sebutan orang tua dengan ibu - bapak. Namun saat saya harus mendampingi suami dinas di Papua, ternyata faktor lingkungan berkata lain. Tetangga pada membiasakan diri anak2 mereka memanggilnya mamak - bapak. Trus anak saya pun ikut mengucapkan seperti itu. Lalu main ke tetangga lainnya ada yang memanggil mama - papa... Akhirnya sampai sekarang anak saya memanggil kami dengan sebutan mama - papa.... Dan semua itu karena kebiasaan ya mbak.

    ReplyDelete
  24. Saya belum punya anak. Tapi nantinya mau dipanggil mama saja sama anakku haha. Doakan saya saja kak semoga cepat bertemu jodoh. Aamiin.

    ReplyDelete
  25. Wah ada banyak panggilan untuk ayah ibu ya di Indonesia. Suka dengan banyak ragamnya banyak pilihan

    ReplyDelete
  26. Noofa kecil manggil aku "mii" sekarang setelah tk dia manggil aku MAMA dan manggil Abinya jadi PAPIH. wkwkwkm

    ReplyDelete
  27. Aku di rumah dipanggil 2 macem. Anak ke-1 dan ke-2 manggilnya Ummi. Kalo anak ke-3 dan ke-4 manggilnya mamah. Ini karena lngkungan nih. Kalo bapaknya, semua manggil abi. Dua-duanya aku suka. :)

    ReplyDelete
  28. Saya dipanggil Ibuk dan dari dulu memang saya pengennya dipanggil seperti itu oleh anak saya. Mungkin karena saya pengen agar anakku tetap ada "Jawa"nya sedikit. Di keluarga Jawa yang lazim adalah panggilan Ibu.

    ReplyDelete
  29. Awalnya, saat baru punya anak 1 dan masih kecil, aku membiasakan kaka untuk memanggil Ibu.
    Dan seketika berubah menjadi Mama karena masuk play-group.
    Katanya...
    "Aku pingin kaya temen-temen yang lain, manggil Mama."

    Yaa...ayoklaa~

    ReplyDelete
  30. Aku jadi geli sendiri ini mba ehehehe mau dipanggil apa nantinya
    tapi kalo aku manggil ke ibuku ya Ibu, tapi kalo adekku mamah

    ReplyDelete
  31. Salfa panggil saya Bunda
    Semoga Bunay Zhafran jadi anak sholeh dan membanggakan abah ummi nya ya...

    ReplyDelete
  32. Duh terharu banget sekaligus jadi kangen sama alm. Mama yang udah meninggal 19 th lalu.

    ReplyDelete
  33. Toss, Mba. Aku juga dipanggil Bunda sama anak-anakku. Jaman sekarang sih udah beragaaam banget panggilan anak untuk orang tua. Dari yang umum kaya mama, ibu, ummi, sampai yang 'custom' macem panda-manda, buna, ibun, dll. Hihi.

    ReplyDelete
  34. Panggilan ibu memang beraneka macam ya mba.. kalau aku sih dipanggilnya mama, seeeti aku panggil ibuku

    ReplyDelete
  35. kalo aku, lebih suka dipanggil ibu dan ayah. suamiku malah antusias dipanggil ayah karena dia berasal dari keluarga jawa dimana sebagian manggil papa atau bapak. Tidak ada orang jawa yang manggil ayah katanya. jadi dia suka karena berbeda dengan keluarga besarnya

    ReplyDelete
  36. Saya pengen dipanggil Bunda, gegara pas belum hamil lihat iklan susu, di balita bisikin ke telinga ibunya “i love u bunda” eh setelah hamil dan punya anak, sekomplek panggilannya Bunda semua, mau ganti panggilan jadi ibu, anak-anak udah terbiasa panggil bunda

    ReplyDelete
  37. Lhooo kok malah kebalikan denganku yaa.. Aku malah ga mau banget dipanggil Bunda, lebih seneng dipanggil ibu saja seperti sekarang. Kalau denger kata bunda tuh, aku merasa kayak artis entah siapa itu yang dipanggil bunda, aku ndak mau disamain dengan dia hahaha... dasar lebay yaaa

    ReplyDelete
  38. Anak2ku sih pada panggil aku bunda.
    Dulu karena masih jarang di keluarga.
    Sekarang semua pada pake bunda hehehe

    ReplyDelete
  39. Aku pengennya dipanggil ibuk, tapi anak-anakku manggilnya pada bunda hehehe.. Yowes, biarin aja

    ReplyDelete
  40. Wah aku pkir Juga kamu bakalan dipanggil Ummi lo sis.. Hehehe.. Tapi apapun panggilannya, yg pasti semua ibu ingin anaknya bahagia... Hihi

    ReplyDelete
  41. Anak2 memanggil saya dengan panggilan Mama. Apapun panggilannya, pasti menjadi kebanggan dan kebahagiaan kita semua ya. Apalagi nikmat menjadi seorang ibu sangat perlu disyukuri, karena tak semua orang merasakannya.

    ReplyDelete
  42. Kalau aku lebih seneng di panggil ibuk mba, mungkin karena orang Jawa jadi lebih seneng aja gitu, walaupun anakku bisa manggil ibuk ketika Uda mendekati 2th hahahaha bapak lah yang dia sebut2 panggil2 sebelum ibuk, karena memang susah sih pengucapannya 😂😂

    ReplyDelete
  43. Dulu waktu pertama punya anak, saya pribadi canggung menyebut diri sendiri dengan panggilan bunda. Lama-lama jadi terbiasa. Ternyata semuanya nggak mudah dilakukan meski hanya sebuah panggilan, ya..hehe

    ReplyDelete
  44. I feel you mba, pasti rasanya happy banget. Tapi, sempat bete gitu. Soalnya kata pertama si kecil malah ayahnya yg selalu dicari wkwkwkwk

    ReplyDelete
  45. Saya juga dulu pengennya dipanggil Bunda, tapi PakSu mah sebut Mama Bapak saja, huuuu yasudahlah akhirnya Mama deh sebutnya.
    Eehtaapii, ponakan2 saya malah diajarin panggil Bunda ke saya, hihihih

    ReplyDelete
  46. Anakku manggil saya dengan ebo, kmd teman2nya wkt kecil ikutan manggil ebo dyah,, jadilah skg teman2 saya manggil ebo juga :)

    ReplyDelete
  47. Anak-anak memanggil saya sebutan mama. Iya sih dulu waktu kecilnya lbh mudah memnyebut panggilan mama. Jadi keterusan...thx ya mb sdh sharing...

    ReplyDelete
  48. Iya mba siswa inget gurunya. Ya ampun mbak, aku libur semester aja udah lupa nama siswa :D

    ReplyDelete
  49. Sy manggail ortu sy mamah dan bapak
    Anak2 sy manggilnya ummi dan abi
    Kemuertua manggilnya sm mmh dan bapak

    Ttg ada yg dipanggil bunda, ibu , dan momy.

    ReplyDelete
  50. Pernah juga saya membayangkan ini, karena saya memanggil Ibu saya dengan Ummi sejak kecil, dan sedikit mau coba-coba sapaan yang lain. Tapi panggilan bunda kedengarannya memang begitu lekat, khusus, dan istimewa. Apapun penamaannya dan pemaknaannya bagi tiap-tiap orang; "sebuah nama" ini adalah idola kita semua.

    ReplyDelete
  51. Hehe saya juga Bunda. Tapi lebih panjang lagi sih, Ibunda. Maunya dipanggil gitu. Kayak jaman2 kerajaan yak. Akhirnya disingkat jadi Ibun deh

    ReplyDelete
  52. kalau saya dipanggil sama anak-anak Ummi :D anak kedua saya awalnya manggil saya Ummi tapi sekarang suka manggil Ummiya (ya = nama saya ria) ngikutin Babangnya padahal saya enggak pernah mengajarkannya hihi

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)