Cerita MPASI Zhafran 10-11 Bulan ; MPASI Homemade or MPASI Instan?

by - Thursday, January 23, 2020

Cerita mpasi, mpasi homemade vs mpasi instan, cerita mpasi 10-11 bulan

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Usia Zhafran sudah menginjak 17 bulan sekarang, sudah punya adik juga dan saya baru melanjutkan kembali cerita MPASI-nya. Ups! Telat banget ya but better late than never, hehe. Namun bukan karena telat lho ya sampai cerita MPASInya di usia 10-11 bulan saya gabungkan.

Kalau kamu mengikuti blogpost saya yang bertajuk cerita mpasi Zhafran, pasti kamu tahu dong every this story in each month has a different topic. Nah, karena selama dua bulan itu MPASI si kecil yang sebelumnya full homemade (khusus buburnya) saya selang selingi dengan MPASI instan sehingga topik yang hendak saya ulas kali ini adalah tentang MPASI homemade vs MPASI instan. Topik yang kayaknya sampai sekarang masih mengundang shamming di dunia ibuk-ibuk.

Baca juga


Padahal sebenarnya nggak ada yang perlu dipermasalahin deh. Kita mau kasih si kecil MPASI homemade atau MPASI instan, ya terserah! Pilihan itu sepenuhnya ada di tangan kita sebagai orang tua dari si bayi mungil yang baru mengenal makanan selain susu ibunya. Tapi biasalah, di dunia ibuk-ibuk sepertinya nggak seru kalau nggak ada pertentangan. 

MPASI Homemade or MPASI Instan, Pilih Mana?

MPASI homemade. Itu pilihan yang sudah saya tetapkan jauh-jauh hari bahkan sejak Zhafran masih dalam kandungan. Pokoknya kalau Zhafran sudah mulai MPASI, dia hanya boleh makan bubur buatan bundanya saja, nggak boleh makan bubur instan. Titik. Begitu antinya saya sama yang namanya bubur instan kala itu.

But now? See! Idealisme saya untuk memberikan si kecil MPASI homemade saja hanya bertahan 3 bulan. Masuk usia 10 bulan, saya akhirnya mengijinkan ayahnya membelikan Zhafran bubur instan. Oya sebenarnya MPASI Zhafran nggak sepenuhnya buatan saya sih karena dari usia 6 bulan dia sudah makan cemilan instan. 

Tapi untuk bubur instan, memang dari awal saya yang nolak meski ayahnya berulang kali pengen belikan. Yang ada dipikiran saya saat itu, untuk apa beli bubur instan kalau bundanya sendiri bisa masakkan bubur yang in syaa Allaah lebih enak dan terjamin. 

Hanya karena saya nggak pandai bikin cemilan seperti kue atau biskuit makanya saya bolehin ayahnya belikan si kecil cemilan instan. Coba kalau pandai, mungkin saya nggak bakal biarkan Zhafran tersentuh dengan makanan instan sekali pun itu hanya cemilan.

Ada lho ibuk ibuk yang saking idealisnya, "mengharamkan" MPASI instan untuk anaknya. Mengharamkan yang saya maksud di sini adalah tidak membiarkan si kecil tersentuh dengan makanan apa pun yang berbentuk kemasan instan baik bubur maupun cemilan. Jadi makanan yang dimakan si anak benar-benar full homemade.

Saya sih nggak heran dengan tipe ibuk-ibuk yang idealis seperti ini. Jujur saja, tadinya pun saya ingin seidealis itu dalam memberikan MPASI pada Zhafran. Bukan saya saja lho, saya yakin banyak ibuk-ibuk muda di luar sana yang juga punya pilihan sama seperti saya. Lebih memilih MPASI homemade ketimbang MPASI instan.

Lha, kalau dari awal ngotot hanya memberikan MPASI homemade, kenapa belakangan malah membiarkan si kecil makan MPASI instan?

Alasan Memberikan Si Kecil MPASI Instan

Bukan tanpa alasan ketika saya membiarkan Zhafran makan MPASI yang dibuat pabrik. At least karena MPASI instan tidak "seburuk" seperti yang tertanam di otak saya selama ini. Ibuk-ibu yang terlanjur fanatik dengan MPASI homemade juga pasti berpikiran demikian. Menganggap MPASI instan itu buruk dan tidak baik diberikan kepada anak.

Padahal Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sediri memberikan rekomendasi MPASI instan untuk anak-anak lho. Kalau IDAI saja merekomendasikan anak-anak diberi MPASI instan, kenapa saya yang "awam" ini malah menentang. Lagipula buruknya MPASI instan itu dimana coba? Kalau buruk, nggak mungkin IDAI merekomendasikan MPASI pabrikan, iya kan?

Lantas apa alasannya? kenapa IDAI sampai merekomendasikan MPASI instan untuk anak-anak? 

Of course, saya tidak berkompeten menjawab pertanyaan tersebut namun mari kita lihat jawabannya dari penjelasan dokter Meta Hanindita,

Lewat blogpostnya yang berjudul MPASI : Homemade or Pabrikan?, Dokter Meta mulai menjelaskan dengan mengajukan pertanyaan, kenapa saat ini direkomendasikan anak harus diberikan MPASI sejak usia 6 bulan? Oke, ternyata jawabannya bukan hanya karena pada usia 6 bulan saluran cerna anak sudah siap.

Sejak usia 6 bulan energi yang ada pada ASI hanya mencukupi 70% kebutuhan anak, sehingga 30%-nya harus dipenuhi lewat MPASI. Sejak usia 9 bulan, energi yang tercukupi dari ASI hanya 50%-nya, sedangkan di atas setahun, kebutuhan energi yang tercukupi dari ASI hanya 30%-nya. Tak hanya kebutuhan energi, kebutuhan zat besi pun mulai tidak tercukupi hanya dari ASI saja. Kalau sebelum 6 bulan, masih banyak cadangan zat besi dari kandungan, begitu 6 bulan sudah habis semua. Padahal zat besi sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak.

Lantas apa yang terjadi jika anak mengalami kekurangan zat besi?

Kekurangan zat besi akan menyebabkan anak terserang anemia. Anak juga akan mudah lelah, menderita gangguan belajar, gangguan konsentrasi, sampai gagal tumbuh. 

Di Indonesia sendiri angka anemia defisiensi zat besi masih sangat tinggi, itulah sebabnya IDAI merekomendasikan MPASI instan atau di dunia kedokteran lebih dikenal dengan sebutan MPASI fortifikasi, yakni MPASI yang sudah ditambahkan zat-zat seperti zat besi, vitamin A, Zinc dan lainnya yang memang dibutuhkan oleh anak. 

Di blogspotnya itu dokter Meta menerangkan bahwa dia pernah melakukan penelitian yang membandingkan dua kelompok. Kelompok pertama adalah anak-anak yang diberi MPASI homemade, yang kedua MPASI instan. Setelah diikuti beberapa bulan setelahnya, ternyata kelompok anak yang mendapat MPASI homemade lebih tinggi risikonya untuk terkena anemia defisiensi besi dan gagal tumbuh dibandingkan dengan yang instan. Bukan hanya hasil penelitian dokter Meta yang menyimpulkan demikian,  beberapa penelitian serupa yang dilakukan di seluruh dunia juga mendapat hasil yang mirip.  

Dari penjelasan di atas, jelas dong MPASI instan itu nggak seburuk yang kita kira, justru manfaatnya bisa menghindarkan anak-anak kita dari penyakit anemia akibat kekurangan besi. Tidak hanya itu, bahkan jika BB anak kita susah naik, dokter anak juga akan menganjurkan si kecil diberikan MPASI instan.

Honestly, alasan saya memberikan Zhafran MPASI selain karena merasa kebutuhan zat besinya akan lebih terjamin dengan makan makanan yang terbuat dari pabrikan, juga karena sejak MPASI kenaikan BBnya seret sekali. Alhasil, saya jadi kepikiran dong, apa ada yang salah dengan MPASI buatan saya. Pasalnya Zhafran sejak MPASI makannya selalu lahap, jarang sisain makanan tapi kok BBnya hanya naik 100 gram saja tiap bulannya. Malah pernah tidak naik sama sekali.

Mana selain BB seret, ASI saya juga seret karena lagi kondisi hamil, sementara waktu itu saya masih keukeh tidak ingin memberikan Zhafran bantuan sufor. Daripada bantu dengan sufor ya mending saya bantu dengan MPASI instan. Jadilah sejak usia 10 bulan Zhafran mulai mengenal bubur selain bubur buatan bundanya dan ternyata dia suka, GaesπŸ˜„

Ya kan biasa ada anak yang ketika baru dikenalkan dengan makanan asing langsung nolak, dia nggak, sekalinya dikasih makan bubur instan makannya lahap banget. Giliran dikasih makan bubur buatan bunda, makannya nggak selahap saat makan MPASI instan, ckck.

Plus Minus MPASI Homemade vs MPASI Instan

Berhubung saya sudah punya pengalaman memberikan si kecil MPASI Homemade mupun MPASI Instan, sehingga saya bisa mengetahui jelas perbedaan keduanya. Perbedaan tersebut bisa kita lihat dari beberapa kelebihan dan kekurangan masing-masing.

(+) MPASI Homemade

Berikut beberapa kelebihan dari MPASI homemade ;

Murah
Dibanding MPASI instan, MPASI buatan sendiri jauh lebih ekonomis. Setidaknya biaya yang kita keluarkan untuk membuat MPASI homemade tidak terlalu banyak. Kita bisa memasak MPASI dengan bahan-bahan yang biasa digunakan untuk memasak makanan untuk keluarga, cukup proses masaknya saja yang dibedakan.

Bervariasi
Kita lebih bisa berkreasi jika membuat MPASI sendiri di rumah dengan  menggunakan bahan-bahan yang bervariasi dari karbo, prohe, prona, vitamin & mineral serta lemak tambahan. Si kecil juga lebih bisa mengenal banyak rasa (termasuk rasa alami) dari MPASI yang dibuat dengan bahan-bahan bervariasi tersebut.

Tekstur bisa diatur sesuai usia anak
Saat baru mulai makan anak dianjurkan diberi MPASI dengan tekstur yang lembut dan agak cair. Masuk usia 9 bulan tekstur MPASI si kecil sudah harus agak kasar dan tidak perlu saringan lagi. Kenaikan tekstur MPASI memang seharusnya dilakukan secara bertahap agar ketika masuk usia 1 tahun si kecil sudah bisa makan makanan keluarga.
MPASI yang dibuat sendiri tentu lebih mudah diatur teksturnya ketimbang MPASI instan yang teksturnya cenderung lembut.

Anak bisa dengan mudah naik tekstur
Karena MPASI homemade bisa diatur sehingga umumnya anak yang diberi MPASI rumahan akan lebih mudah naik tekstur ketimbang anak yang sehari-hari hanya mengonsumsi MPASI instan

Anak tidak mudah mengalami picky eater
Konon, anak yang diberi MPASI homemade akan tumbuh menjadi anak yang tidak mudah mengalami  picky eater. Memberi  MPASI homemade juga akan membuat anak terbiasa makan makanan rumah.

(-) MPASI Homemade

Adapun kekurangan MPASI homemade antara lain;

Tidak praktis
Tentu saja pembuatan MPASI homemade tidak sepraktis MPASI instan yang tinggal dituangkan ke mangkuk lalu dicampur air panas secukupnya, aduk, selesai. Untuk MPASI Homemade, jelas harus diolah dan dimasak dulu sebelum dihidangkan ke bayi meski pembuatannya sendiri nggak susah sih apalagi kalau dibantu dengan alat seperti slow cooker maupun baby food maker.

Kandungan nutrisinya masih dipertanyakan
Apa masakan yang selama ini saya buat untuk Zhafran sudah benar dan seimbang? Apakan sudah MPASI buatan saya sudah memenuhi kebutuhan nutrisnya?

Kalau kata dokter Meta mah silakan saja kalau para ibu mau bikin MPASI homemade. Asal tahu seberapa banyak daging sapi yang mesti dimasak. Tahu, daging ayam, ati ampela, atau bayam yang harus diolah seberapa?

Membuat MPASI rumahan memang mudah tapi ternyata nggak boleh asal-asalan lho. Setidaknya kita harus tahu takaran gizi yang dibutuhkan si kecil. Jujur saja, saya belum tahu cara menentukannya seberapa makanya saya akhirnya membiarkan Zhafran mengonsumsi MPASI instan.

(+) Kelebihan MPASI Instan

Berikut ini beberapa kelebihan dari MPASI instan ;

Praktis
Tidak pengen ribet bangun pagi-pagi buta untuk membuatkan MPASI ? Ya sudah, kasih MPASI instan saja. Yup, namanya juga MPASI instan, sudah pasti pembuatannya instan. Tinggal tuang, seduh, sajikan, selesai, hehe.

Well, sejak saya bolehin Zhafran makan MPASI instan, ayahnya rajin sekali belikan bubur kemasan. Setiap bubur instannya habis per dua atau tiga hari pasti dibeliin lagi. Kata ayahnya, biar Zhafran puas-puasin makan bubur instan mumpung usianya belum setahun.

Kandungan nutrisi terjamin
Untuk kandungan nutrisi yang terdapat dalam MPASI instan tidak perlu diragukan lagi. Takarannya sudah seimbang dan sesuai dengan nurtrisi yang dibutuhkan bayi. Itulah sebabnya IDAI merekomendasikan  MPASI buatan pabrik ini untuk anak-anak. Tidak perlu khawatir juga, karena MPASI instan tidak berbahaya dan sama sekali tidak mengandung bahan pengawet.

Dilansir dari situs metahanindita.com, semua produk makanan bayi yang dijual harus memenuhi Codex Alimentarius dari WHO. Aturan tersebut melarang penggunaan pengawet, zat adiktif lain yang berbahaya untuk anak. Jika tidak memenuhi Codex Alimentarius, sudah dapat dipastikan kalau BPOM tidak akan memberikan ijin produk tersebut dijual ke pasaran.

Lalu kalau tak mengandung pengawet, kok bisa tahan lama?

MPASI pabrikan bisa awet karena teknologi freeze dry, yaitu mengeringkan seluruh bahan-bahan sebelum diolah. Kandungan airnya pun sangat minimal sehingga bakteri tidak akan bisa tumbuh dan hidup.

(-) Kekurangan MPASI Instan

Sedangkan kekurangan dari MPASI instan antara lain ;

Mahal
Harga satu kemasan MPASI instan sekitar Rp15.000,- dan itu bisa dihabiskan Zhafran dalam jangka waktu satu hari saja, jika tidak saya selang-selingi dengan MPASI rumahan. Bisa kebayang kalau Zhafran makannya cuma MPASI instan saja, dalam sebulan berapa duit yang harus dikeluarkan ayahnya? Hehe

Kurang variasi
Umumnya MPASI instan yang dijual di toko-toko atau mini market hanya tersedia dengan beberapa varian, tidak banyak variasinya. Anak juga tidak bisa mengenal rasa alami dari makanan jika hanya mengonsumsi MPASI pabrikan.

Tekstur tidak bisa diatur
Tidak seperti MPASI rumahan yang mudah diatur teksturnya, MPASI instan baik untuk anak usia 6 bulan maupun 12 bulan hampir tidak ada bedanya karena cenderung lembut. Padahal anak yang masuk masa MPASI ini harus dinaikkan tekstur MPASI secara bertahap. Dengan begitu diharapkan si anak sudah bisa makan nasi di umur satu tahunnya. 

Rasanya terlalu kuat
Salah satu alasan mengapa banyak ibuk-ibuk yang menolak mentah-mentah pemberian MPASI instan adalah karena rasanya yang terlalu kuat. Malah ada salah satu merk MPASI instan yang rasanya itu seperti dicampur dengan bumbu mie instan. (hehe ini saya tahu karena saya juga ikutan icip waktun pertama kali menyiapkan MPASI instan untuk Zhafran).

Nah, kebanyakan ibuk-ibuk kan menganut paham MPASI no gulgar, sementara jelas-jelas tercantum pada setiap kemasan MPASI instan,  terdapat kandungan gula dan garamnya. Padahal sebenarnya nggak masalah lho kalau MPASI si kecil dicampur gula garam selama masih dalam jumlah terbatas. Jadi sebenarnya walaupun MPASI instan mengandung gula dan garam, jumlahnya memang sudah dalam range yang aman untuk bayi.

Anak sulit naik tekstur
Karena tekstur MPASI instan untuk bayi usia 6-12 bulan cenderung lembut sehingga anak bisa mengalami kesulitan naik tekstur. Syukurnya saya baru mengenalkan Zhafran dengan MPASI instan waktu usianya sudah masuk 10 bulan jadi tidak terlalu mengalami masalah yang satu ini.

Di usia 10 bulan, Zhafran malah sudah bisa makan nasi lembek, jadi pas dikasih MPASI instan dia jadi kayak turun tekstur lagi. Padahal saya sudah pilihkan bubur instan yang sesuai usianya tapi setelah dihidangkan, teksturnya tidak jauh berbeda dengan tekstur bubur untuk anak yang baru belajar makan.

That's why, jangan heran kalau ada anak yang sampai di atas usia satu tahun makannya masih bubur, belum bisa makan nasi karena tidak dinaikkan tekstur MPASI-nya.

Itulah beberapa kelebihan dan kekurangan dari MPASI homemade vs MPASI instan. Jadi dari memperhatikan plus minusnya, kira-kira kamu lebih pilih mana nih MPASI Homemade atau MPASI Instan? Hehe.

Kalau saya, seperti yang sudah saya paparkan di atas. Sebelumnya saya hanya memberikan Zhafran makanan utama berupa bubur buatan sendiri, namun sebelum usianya menginjak satu tahun saya akhirnya memutuskan untuk mengkombinasikan MPASI yang biasa dikonsumsi Zhafran dengan MPASI instan. 

Jadi menurut saya pribadi, MPASI rumahan maupun MPASI pabrikan sama-sama bagus kok untuk dikonsumsi anak, nggak usah dipertentangkan. Karena yang terpenting dari proses MPASI ini adalah kebutuhan nutrisi anak bisa terpenuhi dengan baik dari makanannya. Nah, bagaimana menurutmu? Share pendapatmu di kolom komentar ya :)

Salam.

You May Also Like

16 comments

  1. Aduh, Saya kok gk telaten ya bikin mpasi homemade, hiks..
    Mau coba sama anak kedua deh, hehe..
    Makasih tips nya mbak.

    ReplyDelete
  2. Sy dulu juga anti banget sama Mpasi instan. Tapi.. Apa iya ibu yang ngasih Mpasi instan ke anaknya otomatis jadi ibu jahat? Ya nggak juga kan? Sama kayak ibu yang ngasih sufor..apa iya lantas Ia jadi ibu dzalim? Kadang emang suka berlebihan ya komentar orang di luar sampai kadang bikin kitanya down. Padahal kita tahu kita nggak layak disebut ibu jahat karena semua kita lakukan demi kebaikan anak.. Ada alasannya. Makannya sy mulai lebih santai deh. Anak kedua makan Mpasi homemade sama instan juga. BB tetap seret sambil kasih nutrini saran dr DSA meski tetap Asi. Masih seret juga BB-nya. Auto terharu..perjuangan banget kwkwk *malah curcol πŸ˜‚

    ReplyDelete
  3. MPASI apapun insyaAllah bagus buat anak ya
    Yang penting disajikan dgn cinta dari Ibunda :)))

    ReplyDelete
  4. Intinya asupan yang seimbang gizi ya bun... mau instan atau homemade tetap memperhatikan komposisi yang pas sesuai dengan kebutuhan si kecil. Qadarallah anak2 saya enggak ada yang doyan MPASI instan, jadi saya selalu usahakan untuk menyediakan makanan yang mencukupi kebutuhan nutrisinya setiap hari, termasuk zat besi. Alhamdulillah anak-anak tumbuh sehat dan cerdas :)

    ReplyDelete
  5. Ada plus minusnya ya dede bayi mengonsumsi MPASI Instan. Namun begitu pasti ada cara terbaiknya karena semua kan pasti untuk kebaikan si kecil

    ReplyDelete
  6. Mpasi buatan sendiri memang lebih sehat ya mom, dan bikin ibunya lebih kreatif.

    ReplyDelete
  7. Setuju! Semua ada alasan masing-masing. Kalau dulu, saya lebih memilih MPASI homemade. Itu karena anak-anak saya memang lebih lahap makan yang homemade. Jadi, kalau yang instan paling saya pakai saat jalan-jalan aja.

    ReplyDelete
  8. Saya tim MPASI buatan sendiri. ALasannya karena MPASI instan itu kurang variasi dalam hal tekstur. Palingan dibuat encer dan padat saja. Mungkin karena saat berpikir instan, saya berpikirnya juga instan. Hanya diberi air panas sesuai ukuran dan takaran, aduk dan berikan. Ga kepikiran tambah buah, misalnya.
    Mungkin mindset perlu diubah juga ya

    ReplyDelete
  9. Mbak Siska lengkap sekali ulasan MPASI nya , membantu Ibu yang membutuhkan nih
    Aku termasuk tipe tergantung sikon saja. Sempat bikin homemade ya dikasih yang itu, ga sempet ya yang instan gapapa. Ternyata ada banyak lebih kurangnya masing-masing ya
    Kalau anak sulungku imbang, antara MPASI homemade dan instan. Kalau si bungsu jarang banget instan karena saat itu kami tinggal di Amerika, jadi kuatir dengan kehalalannya

    ReplyDelete
  10. Saya pernah diskusi dengan dokter anak yang memberi penjelasan bahwa makanan bayi instant justru lebih lengkap.
    Karena merupakan hasil penelitian ahli gizi

    ReplyDelete
  11. Anak-anak saya nggak ada yang doyan MPASI instan.
    Sejak anak pertama sampai kedua.

    Mau sih, tapi nggak banyak, palingan buat cicip-cicip doang.
    Allah itu Maha Adil, karena saya malas masak, diberilah saya anak yang maunya makan masakan saya, biar saya nggak malas-malas hahaha.

    Jadi, iyes saya team MPASI homemade, bukan karena idealis, tapi memang sikonnya begitu :D

    ReplyDelete
  12. Wah, ternyata ada satu lagi bahasan yang bisa membuat kalangan ibu-ibu saling berusaha memenangkan pendapatnya. Antara MPASI rumahan VS MPASI instant. Sama seperti ASIP atau susu formula sih ya, buat aku keduanya dikembalikan kepada pendapat masing-masing ibu. Sebagai ibu bekerja yang di rumahnya cuma sebentar, aku lebih memilih menyediakan ASIP karena memang bisa pumping di sela waktu bekerja. Kalau MPASI memang lebih banyak menggunakan yang instant karena aku betuk-betul nggak sempat membuatnya sebelum berangkat kerja. Apalagi kalau itu ada bayi dan batita juga.

    Jadi, pilihanku saat itu sudah imbang lah yaaa, hahaha ...

    ReplyDelete
  13. Wah, makasih sharingnya mbak. Iya betul, mpasi home made itu lebih sehat tapi sayang agak ribet. Terutama untuk tipe tak begitu suka masak seperti saya. Hehe...
    Tapi demi ingin memberi yang terbaik untuk buah hati, tetep dibela-belain bikin. Meski kalau waktu mepet dan agak lelah sering juga memberi mpasi instan. Toh kualitasnya juga bagus.

    ReplyDelete
  14. Wah , untuk anak memang harus yg terbaik ya, yg bisa kita buat sendiri kenapa ga, semangat bun

    ReplyDelete
  15. Iya ya. Sebenarnya ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saya juga dulu campur aja, kadang homemade, kadang beli yang instan. Btw, bapaknya anak2 kalau sakit juga suka pengen dibeliin bubur bayi instan. Wkwkwk. Saya juga kadang2 nyobain bubur bayi instan. Dan memang rasanya bisa bikin anak picky eater.

    ReplyDelete
  16. saya tim mpasi homemade tapi sayanya tidak happy karena prosesnya melelahkan, saat sedang capek pun tetap bersikeras harus memberi homemade, sehingga membuat saya stress dan mengurangi kewarasan.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.