Lawan Rasa Takut dan Cemas di Masa Pandemi dengan Menularkan Vibrasi Positif

by - Thursday, April 16, 2020


Bismilaahirrahmaanirrahiim

Lawan Rasa Takut dan Cemas di Masa Pandemi dengan Menularkan Vibrasi Positif - Terlalu banyak mengonsumsi informasi mengenai virus corona ternyata tidak baik lho untuk kesehatan mental kita. Saya baru menyadari hal tersebut ketika mulai dihinggapi rasa cemas berlebih akhir-akhir ini. Bahkan saking cemasnya sampai terbawa mimpi berkali-kali. 

Di dalam mimpi itu saya terjangkit virus corona. Tertular dari suami yang sejak mewabahnya virus mematikan ini masih harus ke luar rumah demi mencari nafkah. Namun yang bikin saya merasa sesak bahkan sampai terisak dalam mimpi itu karena bayi saya ikut terpapar COVID-19.

Syukurnya itu hanya bunga tidur meski efeknya membuat saya kerap terjaga dengan rasa takut. Yup, saya takut sekali virus corona menyerang keluarga kecil saya. Saya sangat takut virus yang menyebar begitu cepat ini merengut orang-orang yang saya sayangi. 

Dampak Virus Corona

Gambar : republika.co.id
Virus corona pertama kali muncul di Wuhan, China di penghujung Desember 2019 lalu dan telah menyebar dengan sangat cepat ke penjuru dunia. Rasa takut dan cemas pun wajar dialami oleh setiap orang. Apalagi virus yang ditetapkan oleh WHO sebagai pandemi sejak tanggal 11 Maret 2020 ini telah menelan korban hingga ribuan jiwa secara global. 

Di Indonesia sendiri angka kematian akibat COVID-19 mencapai 469 jiwa sementara jumlah WNI yang terkonfirmasi positif sudah sebanyak 5.136 orang dan yang berhasil sembuh baru 446 orang (sumber : covid19.go.id per tanggal 15  April 2020).

Well, data di atas saja sudah cukup membuat warga Indonesia termasuk saya panik dan diliputi kecemasan. Belum lagi ditambah dengan banyaknya informasi terkait COVID-19 baik terpercaya maupun tidak yang kita konsumsi setiap harinya. 

Seperti yang sudah saya singgung, banyaknya informasi yang kita dapatkan di tengah wabah corona dapat mengganggu kesehatan mental. Asumsi ini bukan opini saya semata, mungkin kamu juga tengah mengalami hal serupa atau coba deh tanya ke diri kamu sendiri setiap nonton berita di TV  atau buka medsos dan grup-grup yang ada di WhatsApp. Semua pada bahas corona, kan?

Apakah dengan membaca semua informasi mengenai COVID-19 itu membuatmu merasa tenang atau malah sebaliknya? 

Kalau saya pribadi, jujur saja yang saya rasakan justru sebaliknya. Saya jadi mudah panikan, sering was-was dan cemas berlebih. Ya kali kalau sekadar cemas biasa nggak mungkin sampai kebawa mimpi horor gitu. Untung baru sebatas terbawa mimpi nggak sampai terkena psikomatis, ikut-ikutan melakukan panic buying, stres atau bahkan mengalami depresi.

Zoom meeting bareng Coach Ochy dan teman-teman Blogger AngingMammiri about
Positive Vibes
Bersyukurnya tanggal 10 April kemarin saya sempat ikut sharing yang diadakan oleh Fauziah Zulfitry, seorang profesional trainer, leadership dan executive coach yang akrab disapa Coach Ochy about Positive Vibes via aplikasi ZOOM. 

Before i want to thanks very much Kak Ery sudah ngajakin saya untuk ikut zoom meeting yang materinya benar-benar membuat hati dan pikiran saya sekarang alhamdulillaah jauh lebih tenang dan positif dalam menghadapi masa pandemi.

Oya sebenarnya pemilik blog emaronie.com ini sudah ngajak teman-teman di WAG Blogger Anging Mammiri untuk ikut sharing bareng Coach Ochy dari tanggal 6 April kemarin. Waktu itu  ada sih niat mau mendaftar, yang diajak maksimal 15 orang tapi karena nggak pede dan belum pernah pake Zoom (padahal sudah punya aplikasinya) saya jadi urung. Ups!

Baru tanggal 10 kemarin saya tertarik ikutan. Itu pun karena diajak langsung sama kak Ery yang tadinya saya kira beliau japri sekadar untuk mengingatkan kewajiban blogwalking di WAG Blogger Lifestyle Makassar yang belum saya tuntaskan eh ternyata tujuannya mau ngajakin saya ikutan sharing toh, hehe. Ayolah kalau begitu.

Well yang pertama kali muncul di benak saya ketika membaca istilah "positive vibes" apaan tuh dan sama sekali nggak terlintas sebelumnya kalau materi ini akan membahas seputar kondisi sekarang yang tengah dilanda wabah virus corona.


As we know virus corona membawa dampak yang begitu dahsyat bagi kehidupan manusia. Setidaknya ada 3 dampak besar yang kita rasakan saat ini.



Perekonomian melemah

Masalah ekonomi yang melemah di masa pandemi bukan cuma menyangkut perekonomian dunia maupun suatu negara tapi juga keluarga. Banyak para pekerja di luar sana yang penghasilannya menurun drastis karena adanya anjuran untuk tinggal di rumah saja. 

Para pedagang berkurang pelanggannya, para tukang ojek atau ojol berkurang penumpangnya, para buruh dan berbagai pekerja lepas yang berhubungan dengan banyak orang pun berkurang pemasukannya.

Ya pokoknya efek mewabahnya virus corona sangat melemahkan perekonomian di segala lini. Perusahaan tempat suami saya bekerja juga kena imbasnya. Beberapa hari lalu suami cerita, akan ada banyak karyawan di perusahaan tempatnya bekerja yang dirumahkan alias di-PHK. Bisa saja dia salah satunya. Selain itu gaji yang  dia terima mulai bulan ini pun dikurangi karena dipotong hingga 50%. 

See! Dampaknya sampai separah itu. But however saya dan suami harus tetap bersyukur. Yah semoga saja suami tidak sampai dirumahkan dan masih untung gajinya dipotong sekian persen, lha bagaimana dengan nasib para pekerja lainnya yang penghasilannya di masa pandemi bukan hanya berkurang tapi tidak ada sama sekali.

Tidak bisa beraktivitas seperti biasa

Tak dimungkiri kehadiran virus corona di negeri ini telah mengubah banyak hal. Semua aktivitas yang berbau kerumunan dibubarkan, termasuk acara resepsi pernikahan sekali pun. Mulai dari bekerja, belajar hingga beribadah semua dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja. Semua tempat-tempat yang merupakan pusat perbelanjaan, hiburan maupun destinasi wisata ditutup. Tak ada rekreasi, tak ada traveling, tak ada acara kumpul-kumpul.

Kalau pun ada keperluan mendesak di luar rumah masyarakat dianjurkan untuk melakukan social distancing, wajib pakai makser dan harus selalu cuci tangan yang benar dengan sabun atau menggunakan hand sanitizer.

Ya, aktivitas normal yang biasa kita lakukan kini dihindari. Ketemu harus jaga jarak minimal 1 meter, tak ada jabat tangan, tak ada mudik lebaran. Bahkan kemungkinan besar, Ramadan ini, mesjid-mesjid akan sepi dari para jamaah tarawih. 

Oya aturan terkait menjalankan ibadah Ramadan selama masa pandemi sebenarnya sudah keluar sih tapi saya masih berharap semoga ada keajaiban. Semoga sebelum Ramadan menyapa, wabah Corona sudah berlalu. Semoga saja.

Ketakutan, panik menyebar dan membuat orang mudah lemah

Nah, ini dampak virus corona yang sudah saya singgung dari awal. Jadi sebelum mengulas lebih jauh tentang positive vibes, Coach Ochy meminta kami untuk menulis di chat box apa yang kami rasakan di masa pandemi? 

Ada yang bilang takut. Ada yang merasakan panik dan cemas berlebihan. Ada juga yang bilang bosen karena cuma tinggal di rumah. Saya sendiri mau ikut menjawab tapi rempong karena ikutan meeting sambil nyuapi si kakak, hehe. Selain itu juga karena baru pertama kali pake Zoom jadi nggak tahu dimana letak chat box-nya. 

Wong baru masuk di Zoom saja saya bingung, sudah pasang headset kok suaranya nggak kedengaran ya. Pas saya lempar pertanyaan ke WAG, kak Ery bilang saya harus klik join audio baru suaranya bisa kedengaran. Oalah pantesan haha harap maklum baru perdana pake aplikasi webinar ini soalnya wkwkw. 

Oke itu sekadar intermezo. Selanjutnya Coach Ochy menerangkan sebuah fakta yang cukup mencengangkan. You know what?


Yup ternyata banyak orang yang meninggal bukan karena penyakit tapi karena panik. Ada sebuah anekdot sufi yang kemudian diceritakan oleh Coach Ochy mengenai fakta tersebut.

Kurang lebih ceritanya seperti ini, ada seorang sufi yang bertemu dengan virus lalu terjadilah percakapan di antara keduanya. Si sufi bertanya pada virus 

"kamu mau kemana?"

"Saya ingin menuju suatu kampung dan menjangkiti 100 orang di sana" jawab si virus

Mereka kemudian berpisah lalu tidak lama berselang si sufi mendapat kabar bahwa ada sebuah kampung yang diserang virus dan telah memakan korban sebanyak 10.000 jiwa. Heranlah si Sufi. Akhirnya ketika mendapat kesempatan bertemu kembali dengan virus yang telah menyebarkan penyakit itu, sang Sufi bertanya. 

"Katanya kamu hanya ingin menjangkiti 100 orang lalu kenapa penyakit yang kamu bawa itu telah menelan 10.000 jiwa?"

"Benar" kata virus. Saya hanya menjangkiti 100 orang, yang 9.900 jiwa itu meninggal karena cemas dan takut" lanjutnya.

Meski hanya sebuah anekdot tapi kita bisa ambil pelajaran dari cerita ini. Lagipula memang begitulah kenyataannya. Virus corona merupakan penyakit yang dapat disembuhkan meski belum ditemukan vaksinnya. Tingkat kematiannya bahkan masih di bawah MERS dan SARS. Hanya saja penyebarannya sangat cepat dan jika menulari orang-orang yang memiliki daya tahan tubuh lemah seperti para lansia, orang-orang yang memiliki penyakit penyerta dan lain sebagainya itu yang berbahaya.

Itulah sebabnya di masa pandemi kita diwajibkan untuk menjaga imun. Banyak orang yang kemudian rajin berjemur di pagi hari, mengonsumsi rempah-rempah seperti jahe, kunyit, dkk yang dipercaya dapat meningkatkan daya tahan  tubuh untuk berjaga-jaga. Jika kemungkinan terserang virus corona, orang yang memiliki imun kuat inilah yang dapat sembuh. 


But you must know, sekalipun sudah rajin bejemur tiap pagi, konsumsi berbagai macam suplemen hingga rempah-rempah dan bahan herbal lainnya tapi kalau pikiran kita terganggu seperti gampang panik, cemas dan takut berlebihan tetap saja dapat menurunkan daya tahan tubuh.

So far, menjaga kondisi fisik agar tetap kuat memang penting, tapi harus pula diingat bahwa menjaga pikiran dan hati kita itu juga tak kalah pentingnya. Nah, menurut Coach Ochy di masa pandemi seperti inilah Positive Vibes (selanjutnya saya sebut dengan Vibarsi Positif) sangat dibutuhkan.

Apa itu Vibrasi Positif ?

Kalau kata positif pastilah semua orang pada tahu tapi kalau vibes, mungkin masih ada yang bertanya, apa itu ?

Vibes atau dalam versi Indonesianya dikenal dengan kata vibrasi yang berarti getaran. Getaran ini memiliki arah positif atau negatif yang dapat memengaruhi semesta mendukung (mestakung). 

Jadi sederhananya positive vibes atau vibrasi positif adalah getaran positif yang dapat memengaruhi semesta atau dalam arti lain semesta dapat mendukung kita dengan adanya getaran positif tersebut.

Eniwei tujuan dari Coach Ochy mengadakan sharing terkait vibrasi positif agar kami dapat meningkatkan getaran itu dalam diri dan ikut menyebarkannya. Diadakannya sharing yang dilakukan via Zoom ini juga merupakan upaya beliau dalam menyebarkan vibrasi positif.

Bagaimana Meningkatkan Vibrasi Positif?

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, vibrasi positif adalah getaran ke arah positif yang untuk menghadirkannya tentu ada upaya yang harus kita lakukan. So, pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah bagaimana meningkatkan vibrasi positif?

Dari penjelasan Coach, setidaknya ada 3 cara yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan vibrasi positif


Mulailah dari pikiran dan hati yang jernih

Yang pertama harus kita lakukan adalah mulai dari diri sendiri dengan menghadirkan pikiran dan hati yang jernih. Jangan sampai pikiran dan hati kita tercemari dengan hal-hal yang negatif, termasuk dalam menyikapi pandemi ini. 

Buang jauh-jauh pikiran dan perasaan yang membuat kita kalut, cemas dan takut. Ingat bahwa pikiran yang negatif dan hati yang kotor bisa menurunkan imunitas. Ketika imun kita turun maka akibatnya virus akan mudah menyerang.

Nah, sebaiknya memang kita harus mengurangi mengakses informasi negatif terkait COVID-19. Apalagi informasi terkait wabah ini sudah tak terbendung lagi sehingga berita hoaks pun dengan mudah dan cepatnya tersebar dan meresahkan banyak warga. Informasi positif terkait wabah corona seperti data kasus dan cara pencegahannya pun kalau dirasa mengganggu ya mungkin bisa kita skip. 

Apalagi saya yakin sudah banyak yang paham dengan protokol yang dikeluarkan pemerintah untuk menekan rantai penyebaran virus corona. Jadi kalau mau akses informasi mengenai virus ini mending tidak usah berlebihan. Selain itu kita juga perlu membiasakan diri untuk memberi respon positif dan terus berusaha menjernihkan hati.

Menjernihkan pikiran dan di hati di masa pandemi memang tidak mudah. Untuk itu kata kata Coach Ochy, kita harus menyikapinya dengan tenang, jangan panik! Panik hanya akan memperkeruh keadaan.

Berusahalah untuk menerima kenyataan bahwa kondisi dunia selama mewabahnya virus corona telah mengubah banyak hal. Kita tidak lagi bisa melakukan aktivitas normal seperti biasanya. Harus menghabiskan waktu di rumah saja, menjaga jarak dengan semua, ruang gerak terbatas pun kebebasan kita untuk beraktivitas di luar ruangan terengut.

Semua perubahan tersebut jelas merugikan. Tidak ada yang suka dengan kondisi sekarang but believe selalu ada hikmah dibalik setiap musibah. Maka setelah kita mampu bersikap tenang dan menerima, ambil hikmah dan pelajaran dari musibah tersebut. 

Eniwei saya suka sekali dengan pembahasan Coach Ochy di bagian ini. Kami diajak untuk melihat pintu yang terbuka dan pintu yang tertutup lalu pembelajaran apa yang bisa kami petik dari masing-masing pintu.

Sayangnya di sesi ini saya nggak bisa ikutan menjawab pertanyaan terkait pintu tertutup dan terbuka meski sudah ketemu chat box-nya karena harus mengurusi baby Fath setelah menyuapi si kakak. Untung ada ayahnya jadi saya masih bisa lanjut meeting sambil momong si baby, hehe.


Nah, kalaupun sempat jawab pertanyaan di atas pas sesi sharing kemarin , jawaban saya kurang lebih akan seperti di bawah ini

Pintu yang tertutup akibat COVID-19

  • Batal mudik ke Papua
  • Tidak bebas beraktivitas di luar rumah
  • Tidak bisa balik ke tempat tinggal sebelumnya (rumah mertua atau kontrakan dekat kantor suami)
Pintu yang terbuka akibat COVID-19

  • Masih bisa melanjutkan menyusui si kakak hingga usianya menginjak 2 tahun
  • Menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga
  • In syaa Allah akan tinggal di rumah sendiri
Pembelajaran yang bisa dipetik, apa?

  • Saya memang berencana pengen mudik ke Papua ramadan ini, tapi kalau pun jadi kemungkinan besar si kakak bakal ditinggal sama ayahnya. Ini juga yang bikin galau sih karena saya masih menyusu si kakak. Qadarullaah gara-gara corona rencana itu terpaksa saya batalkan. That means saya bisa melanjutkan menyusui si kakak hingga usianya menginjak 2 tahun. Kalau si kakak sudah disapih kan setidaknya saya agak lega ninggalin dia sama ayahnya.
  • Tinggal di rumah saja memang membosankan tapi alhamdulillaah dengan adanya anjuran tersebut waktu saya untuk berkumpul dengan keluarga jadi lebih banyak. 
  • Sejak menikah saya harus merasakan yang namanya hidup nomaden. Masih pindah-pindah tempat tinggal, kadang di rumah mertua, kadang di rumah kakak, pernah juga ngontrak. Padahal ada sih rumah cuma karena lokasinya jauh dari kantor suami terpaksa tidak ditinggali. Barulah di saat kondisi seperti ini saya dan suami memutuskan akan menempati rumah kami. 
See! Di saat satu pintu tertutup, pintu yang lain terbuka. Maa syaa Allaah. Banyaklah pembelajaran yang bisa kita petik dari musibah, bencana teguran atau apalah kita menyebut pandemi ini.

Termasuk menyadari bahwa kita hanyalah manusia biasa yang tidak memiliki kuasa apa-apa. Pun hanyalah makhluk yang lemah, yang tidak punya kekuatan apa-apa, jadi apa yang patut disombongkan?

Namun coba lihat, betapa Maha Kuasanya Allah, Dia cukup hanya menurunkan makhuk kasat mata bernama virus corona untuk kembali mensucikan bumi. Bahkan negara adidaya seperti Amerika pun tumbang melawan virus ini.

Tingkatkan Ibadah Kapan pun


COVID-19 adalah masa yang sulit bagi semua orang. Di masa seperti inilah seharusnya menjadi momen yang tepat untuk kita semakin mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Ini juga jadi reminder buat saya pribadi .

Adapun 4 cara mendekatkan diri kepada Allah di masa COVID-19 yang disebutkan Coach Ochy, yaitu :

Berbaik sangka 

Pertama, kita harus tetap berprasangka baik kepada Allah. Jadi seburuk apa pun kondisi yang tengah kita hadapi saat ini tidaklah patut kita menyalahkan Allah dan takdir yang ditetapkan-Nya. Wabah ini bisa saja merupakan teguran, ujian, musibah atau bencana yang pasti ada hikmahnya. Di sinilah tugas kita sebagai hamba untuk instropeksi diri, bukannya merutuk.

Sabar

Kedua, dalam menghadapi masa sulit seperti ini kita harus tetap bersabar.  Sabar bukan berarti diam tanpa ikhtiar. Kita sabar untuk tinggal di rumah atau terpaksa tidak mudik itu juga merupakan ikhtiar kita untuk membantu upaya pemerintah dalam mencegah penularan virus corona.

Syukur

Ketiga, bersyukurlah karena hari ini kita dan orang-orang yang kita sayangi masih terbangun dalam keadaan sehat wa alfiat, tidak terpapar virus. Bersyukur karena meski hanya tinggal di rumah kita masih bisa melakukan berbagai aktivitas menyenangkan.  Masih bisa belanja sesuka hati via marketplace, masih bisa berinteraksi dengan teman-teman via media sosial, masih bisa bercakap-cakap lewat WhatsApp bahkan masih bisa meeting dan belajar virtual lewat aplikasi Zoom. 

Tawakal

Terakhir, jangan lupa tawakal. Allah yang menurunkan wabah ini, Allah pula yang akan mengangkatnya. Kita sudah melangitkan doa, sudah menjulangkan ikhtiar maka yang diperlukan selanjutnya adalah berserah diri pada Allah. 

Tularkan Vibrasi Positif ke Lingkungan Sekitar


Satu lagi cara untuk meningkatkan vibrasi positif adalah dengan menularkannya ke lingkungan sekitar. Menyebarkannya bisa dengan cara seperti berkaloborasi, membagikan gerakan positive vibes ini ke keluarga, teman atau kerabat, mengajak dan mendorong orang lain untuk peduli atau seperti artikel dari Mbak Dhika Suhada ini yang mengajak pembaca blognya  untuk sebar-berita-kebaikan

Tentunya banyak manfaat yang kita dapatkan dari menularkan vibrasi positif ke lingkungan sekitar. Salah satunya ya itu tadi, dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Jadi kita menularkan vibrasi positif, bakteri baik dalam tubuh kita akan aktif. Bakteri baik inilah yang berfungsi melawan kuman atau virus yang masuk ke dalam tubuh. 

Jadi meningkatkan imun tidak cukup dengan berjemur di bawah matahari pagi  dsn mengonsumsi makana sehat saja ya, menularkan vibrasi positif ini juga penting.

So ayo kita lawan rasa takut dan cemas di masa pandemi ini dengan menularkan vibrasi positif ke orang-orang yang ada di lingkungan sekitar kita. Kuy, sekian dulu sharing saya kali ini. Semoga mencerahkan.

* Slide Gambar : Festival Trainer Nasional 2020 #GerakanIndonesiaBicaraPositif

You May Also Like

22 comments

  1. Setuju nih, masa pandemi kayak gini udah cukup menerima vibrasi negatif dari sekitar. Udah saatnya kita pancarkan energi positif agar hidup tenang dan gak gampang cemas.

    ReplyDelete
  2. Ya mbak setuju aku, maka nya setiap di WAG LG bahas ttg MisCo ini. Aku aku ga nyimak. Buang2 energi kl aku musti nyimak dan skrg ada beberapa WAG yg aku ikutin melarang member nya untuk share2 yg berkaitan dgn itu.

    ReplyDelete
  3. dalam kondisi seperti ini kepanikan hanya menyusahkan diri sendiri dan keluarga. Denga adanya Vibrasi Positif dalama diri Insyaallah kita semua terhindar dari kepanikan dan tetap bisa beraktivitas tanpa rasa khwatir berlebih

    ReplyDelete
  4. Pertanyaannya sangat menarik, "saat ini ibadah baru apa yang rutin kamu lakukan?". Ditengah ketakutan seperti ini sepertinya lebih baik ada yang disibukkan ya kak. Biar takutnya ilang dan berganti dengan hal positif.
    Akhir-akhir ini saya mulai rajin mengikuti hening serentak buat menghilangkan beban. Klo mau ikutan bisa follow ig nya mas adjiesantosoputro. Tiap jam 20.00 wib.
    Btw mohon ijin reposting gambarnya ya, mau aku buat update status di fb. Hehehehe

    ReplyDelete
  5. Klo aku perekonomian dan panik man Alhamdulillah gak, tapi yang bikin lunglay itu adalah tidak bisa kemana-mana 😊

    ReplyDelete
  6. Terbiasa bekerja di luar rumah tentunya saat dirumahaja rasa bosan muncul. Namun bila dibawa enjoy dan cari kesibukan yg bermanfaat, sebenarnya jemu itu ndak dirasakan lagi

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah saya masih bisa menyaring berita yang perlu dibaca, dan karena tergolong orang yang positif thingking, jadi nggak begitu cemas berlebihan. Terlebih dari beberapa pasien yang sembuh katanya berpikir positif dan optimis meningkatkan imunitas tubuh. Saya juga lebih memperbanyak nonton film untuk hiburan

    ReplyDelete
  8. Wah gitu ya mbak, jd tau saya kl kebanyakan dengar brita corona jdnya imun lemah huhu
    Kl gitu saya kurangi deh huhu

    ReplyDelete
  9. Ayah saya pernah bilang, sumber penyakit di dunia ini sebetulnya cuma dua, yaitu di kepala (pikiran) dan di perut. Artinya, kalo kita konsisten jaga pikiran dengan terus berpikiran positif, juga jaga perut dengan terus konsumsi makanan sehat, penyakit bakalan ogah mampir di kita. Hehehe

    ReplyDelete
  10. waduh baru aja saya ngobrol dengan mbak Al,
    "kok tiba tiba saya berpikir kematian?' kata saya
    Ternyata harus banyak baca hal positif, termasuk tulisannya Siska
    Terimakasih ya

    ReplyDelete
  11. Memangnya kenapa mudiknya (niat awal sebelum ada covid-19) tidak dengan si kakak dan ayahnya? Mbak sendiri saja mudiknya ke Papua?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe rencananya mau mudik berdua sama adek dan bawa si bayi. Kalau ayahnya nggak bisa ikutan mudik karena kerjanya di kantor nggak bisa ditinggal lama2 jadi kalau mau mudik dan bawa si kakak yang sekarang super duper aktif tanpa ayahnya agak susah makanya mau ditinggalin aja tapi qadarullaah gara-gara corona mudiknya batal.

      Delete
  12. Seruju mbak, vibrasi positif ini membuat kita tetap tenang menghadapi pandemi ini ya..
    Dan juga menjaga kesehatan mental tentunya

    ReplyDelete
  13. Bener banget, di masa-masa seperti sekarang ini, pandemi covid-19, pikiran positif itu penting sekali biar nggak ikutan sakit.

    ReplyDelete
  14. Yes, terlalu banyak menyerap info bisa bikin panik dan perasaan-perasaan tak enak lainnya dan ita bisa menularkannya dalam bentuk vibrasi negatif maka sebaiknya kita berusaha untuk menularkan vibras positif ya Siska

    ReplyDelete
  15. yes saya ikut materi ini juga dong, skrang tinggal pengaplikasian dari teman2 yang ikut agar bisa menyebarkan getaran positif di lingkungan sekitar, keluarga dan sobat2 lainnya hihi

    ReplyDelete
  16. iya aku baca wa ngenai corona bikin was2, panik and stress, tapi hikmahnya jadi lebih sering ngumpul ma keluarga

    ReplyDelete
  17. Asli, materi mengenai positive vibes ini benar-benar bisa meringankan beban pikiran selama pandemik. Semoga dengan tulisan yang positive ini juga bisa menjadi salah satu terapi pendukung bagi kesehatan kita semua. Amin

    ReplyDelete
  18. betul sekalk kak, sekarang itu kita harus positif tginking, melawan rasa takut ini. semakin kita takut semakin menuryn imun dan dapat berleluang masuknya virua. eh mungkin kalau virus ndk masuk yang masuk itu penyakit lain nanti. Seperti depresi dan gimana yah. Semoga kita semua tetap dalam lindungan Allah SWT. Amin

    ReplyDelete
  19. Wah ada namaku, hwhe...
    Saya senamgnya berbagi, makanya pengen ajak semua manteman ikut sesi coaching ini. Biar vibrasi positivenya makin meluas

    ReplyDelete
  20. Lengkap sekali artikelnya, ini juga saya lagi tulis soal itu tapi masih dalam bentuk draf ha-ha-ha

    ReplyDelete
  21. pikiran yang positif dapat meningkatkan imunitas tubuh

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.