Aliran Rasa Kompas Peradaban di Bahtera Matrikulasi Ibu Profesional

by - Friday, May 01, 2020

Aliran rasa kompas peradaban ibu profesional
Gambar edit by Canva

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Aliran Rasa Kompas Peradaban di Bahtera Matrikulasi Ibu Profesional - Tak terasa perjalanan saya bersama para penjelajah samudera di Bahtera Matrikulasi sudah hampir sebulan. Perjalanan ini rasanya semakin seru dan menyenangkan saja walau tentu cukup menegangkan juga apalagi saya biasanya baru sempat menyelesaikan misi mendekati jam cinderella. Upst!

But no problem, setidaknya sejauh ini sudah ada 3 misi yang berhasil saya taklukkan. Jika kamu sering berkunjung ke Kamar Kenangan ini pasti tahu dong misi apa saja yang saya maksud. Tapi kalau kamu baru berkunjung, baiklah saya akan sedikit flashback terkait perjalanan saya di bahtera matrikulasi.

Bahtera Matrikulasi Batch 8 Institut Ibu Profesional (IIP)

Untuk bisa menaiki Bahtera Matrikulasi batch 8 ini sebenarnya bukan hal yang mudah karena saya harus melalui proses pendaftaran yang cukup ketat dan singkat. Sedikit saja terlambat, saya bisa ketinggalan kapal lho. Pasalnya peminat dari IIP ini ada buaanyak sekali. 


Bayangkan, hanya dalam jangka waktu 3 hari saja pendaftarnya sudah mencapai ribuan perempuan Indonesia baik yang ada di dalam maupun di luar negeri. Belum lagi ada gerbang Foundation yang harus saya lewati terlebih dahulu sebelum akhirnya diberi kesempatan untuk memilih komponen yang ingin saya tekuni. 

Of course, selain komunitas, komponen institut menjadi pilihan utama yang tidak ingin saya lewatkan. You know what, salah satu hal yang membuat saya tertarik memilih komponen institut adalah program matrikulasi-nya selain program-program yang lain juga tentunya.

Yup, jadi sebelum gabung di IIP sebenarnya saya sudah sering baca postingan tentang matrikulasi dan bertanya-tanya. Rasa penasaran saya terhadap kelas ini sebenarnya sudah terjawab sih ketika saya membuka website ibuprofesional.com

Di sana dijelaskan bahwa matrikulasi adalah program persiapan untuk para ibu dan calon ibu yang ingin bergabung di komunitas Ibu Profesional. ​Program ini bertujuan untuk membuka wawasan, menyamakan frekuensi para ibu pembelajar, calon Ibu Profesional.​

Program Matrikulasi sendiri dibagi menjadi 3 yaitu Kelas Pra Matrikulasi atau lebih dikenal dengan kelas Foundation yang berlangsung selama 2 pekan dan dipandu oleh para observer Kota Regional. Lewat kelas Foundation ini peserta akan dikenalkan dengan para observer, mengenal Ibu Profesional beserta valuenya, serta seputar teknis belajar di program Matrikulasi. 

Selanjutnya Kelas Matrikulasi itu sendiri yang akan berlangsung selama 9 minggu. Di kelas ini peserta akan banyak belajar, banyak berbagi ilmu dan banyak berjejaring dan dipandu oleh seorang fasilitator untuk setiap kelas.

Lalu ada pula ONLINE to OFFLINE, yaitu kelas yang diselenggarakan secara online dengan platform WhatsApp Grup dan Google Classroom. Diantara jeda pembelajaran juga dilakukan kegiatan offline sebagai kegiatan tambahan sampai dengan kegiatan selebrasi selama 4 minggu.

Demikian penjelasan yang saya dapat langsung dari website Institut Ibu Profesional sekaligus sesuai dengan pengalaman para peserta atau anggota IP yang sempat saya baca postingannya di blog. 

Jadi sebelum gabung di IIP sebenarnya saya sudah punya gambaran terkait program matrikulasi yang akan saya jalani bersama para pendaftar baru lainnya. Namun alangkah terkejutnya saya setelah mendaftar di IIP dan mengikuti program yang ada, mulai dari kelas Foundation, Orientasi Komunitas Ibu Profesional hingga kelas Matrikulasi ini tidak berjalan sesuai dengan yang ada dalam bayangan saya.

Ya tadinya saya kira semua kelas yang saya ikuti tersebut akan berlangsung di platform WhatssApp Grup dan memanfaatkan aplikasi Google Classroom, ternyata tidak ding! Semua berlangsung di Grup Facebook.

Untuk pengerjaan tugas-tugasnya sendiri memanfaatkan media sosial yang ada baik facebook, instagram, google dokumen, blog, youtube dan lain sebagainya. Peserta cukup mengumpulkan tugas-tugas yang dikerjakan dengan setor link yang sudah diposting di media sosial.

Oke, tadinya saya sempat kecewa dengan sistem pembelajaran lewat facebook. Malah saya berpikir akan lebih efektif jika kami belajarnya via WAG saja. Selain itu juga karena saya penasaran sama si Google Classroom, belum pernah coba soalnya, hehe.

Honestly memang di awal ikut kelas saya merasa  kerempongan belajar via facebook. Mana saya onlinenya hanya mengandalkan gawai dan gawai yang saya gunakan saat itu tidak mendukung untuk membuka unit. Syukurnya pertengahan bulan Maret kemarin saya dapat rejeki untuk beli gawai baru yang lebih canggih, jadi bisa merasakan oh ternyata asyik juga ya belajar via Grup Facebook dengan memanfaatkan fitur unit.

Misi-Misi yang Ada di Bahtera Matrikulasi

So far boleh dibilang model pembelajaran program Matrikulasi batch 8 beda dengan batch-batch sebelumnya. Cara penyampaian materi khusus untuk kelas Matrikulasi ini juga unik sekali. Kami diajak berlayar dengan menaiki bahtera yang diberi nama Bahtera Matrikulasi dan selama pelayaran tersebut ada misi-misi tertentu yang harus kami tuntaskan. 

Setiap berhasil menyelesaikan misi akan ada bekal yang kami dapatkan (kecuali bekal pertama). Bekal pertama yang kami dapatkan langsung dari widyaiswara adalah Benar-Baik-Bermanfaat. 


Bekal pertama itulah yang kami bawa untuk bisa menyelesaikan misi pertama. Misi pertama di Bahtera Matrikulasi adalah menemukan kerang istimewa. Untuk bisa menemukan kerang istimewa tersebut kami harus menjernihkan hati dan mengosongkan gelas agar bisa menemukan kerang yang "tepat".

Ada juga petunjuk yang sengaja diberikan oleh widyaiswara untuk membantu para penjelajah samudera agar bisa menemukan kerang istimewa. Petunjuk tersebut berupa kotak harta karun yang isinya berupa sharing pengalaman mereka ketika baru bergabung di Institut Ibu Profesional.

 

Setelah berhasil menemukan kerang istimewa misi selanjutnya adalah membuka kerang tersebut. Namun tidak mudah rupanya membuka kerang istimewa. Ada teka-teki yang harus kami pecahkan lebih dulu. 

Widyaiswara yang setia membersamai para penjelajah samudera lagi-lagi hadir memberi petunjuk sehingga teka-teki tersebut bisa dengan cepat kami tebak. Akhirnya kerang istimewa kami dapat terbuka dan isinya ternyata berupa Mutiara Ibu Profesional.

Mutiara Ibu Profesional ini berkaitan dengan prinsip berkomunitas dimana prinsip berkomunitas yang dipegang IIP adalah semua boleh, kecuali lima hal yang tidak boleh yaitu, Kritik, Ghibah & Fitnah, SARAT, Khilafiyah dan Kepentingan.



Misi ketiga di bahtera matrikulasi adalah Membumikan CoC. Ini adalah pedoman perilaku bermartabat, yakni berupa beberapa aturan yang dibuat setelah dipahami dan disepakati hingga menjadi komitmen bersama. Untuk menyelesaikan misi ini kami cukup membaca agar memahami jelas apa itu CoC dan menentukan aksi untuk membumikannya.



Setelah memahami dan menentukan aksi untuk membumikan CoC akhirnya saya berhasil mendapatkan kompas peradaban. Kompas inilah yang menjadi penanda bahwa saya dan para penjelajah lainnya yang berhasil menuntaskan misi ketiga di bahtera matrikulasi siap menyelami samudera.

Namun sebelum menyelami samudera, widyaiswara mengajak kami untuk rehat sejenak. Kumpulkan semangat, alirkan rasa yang ada. Dan inilah yang saya rasakan sejak tiba di pelabuhan Matrikulasi, menaiki bahteranya hingga berhasil menemukan kompas peradaban.

Aliran Rasa Kompas Peradaban

Rasa dag dig dug, senang bercampur haru sungguh mewarnai perjalanan saya selama di bahtera matrikulasi. Dag dig dug karena khawatir bila saya sampai gagal menyelesaikan misi, senang karena akhirnya saya bisa menemukan kerang istimewa, membukanya dan ikut membumikan CoC hingga mendapatkan kompas peradaban serta rasa haru yang meyeruak karena tidak menyangka saya sudah berlayar bersama para penjelajah lainnya sejauh ini.

Tak dimungkiri rasa sedih pun turut menyertai saat menyadari bahwa beberapa teman seperjuangan sesama penjelajah samudera ada yang terpaksa harus kembali ke pelabuhan awal karena gagal menyelesaikan misi. Di regional Sulawesi sendiri sekarang sudah tersisa 21 peserta yang masih bertahan, dari yang awalnya berjumlah 25 peserta. 

Ah, semoga saja ke depannya tidak ada lagi peserta yang gugur. Semoga para penjelajah samudera yang tersisa kini bisa sama-sama berlayar, menyelami samudera hingga sampai di pelabuhan akhir. Semoga!

Yuk, tetap semangat. Tidak lama lagi kita akan menyelami samudera. Entah misi apa yang menanti kita di depan sana. Yang pasti sekarang sudah ada tiga bekal yang harus sekali kita bawa.

*Gambar : Ibu Profesional

Salam,



You May Also Like

0 komentar

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.