Kaleidoskop 2023 dan Kenangannya


2023 sudah berlalu dan setelah saya telusuri, ternyata tahun kemarin nggak ada satu pun tulisan organik yang saya posting di blog ini, huhu ya ampun. Pantes, ini blog sudah kayak etalase toko saja. Maafkeun.

Eh tapi bukan berarti saya nggak bikin postingan organik sama sekali lho. Ada kok, cuma postingnya di blog lain. 

Beginilah kalau sok-sok-an punya banyak blog.  Urus 1 blog saja masih keteteran eh sudah nambah blog lagi, lebih dari dua pula, ckckc.

Saya akui tahun kemarin saya memang masih belum bisa fokus, tapi in syaa Allaah tahun ini akan saya usahakan bisa mengurus semua blog saya dengan baik.

Targetnya sih nggak muluk-muluk. Paling tidak setiap bulan harus ada postingan terbaru dan kudu ada tulisan organik. Jadi, update-nya nggak cuma pas ada job saja.

Yah, cukup yang lalu-lalu saja begitu. 2024 harus lebih baik. Bismillaah.

Kenangan 2023 yang Nano-nano

Nah, berhubung tahun kemarin nggak ada kenangan yang sempat saya abadikan jadi untuk postingan kali ini saya mau merangkum hal-hal apa saja yang sudah saya lalui selama 2023. 

Tentunya nggak semua hal bisa saya ceritakan, cukup saya tuliskan yang paling membekas dalam ingatan saja ya.

Januari - bersama Papa

Januari bersama papa
Bersyukur banget bisa mengawali hari pertama di 2023 bersama Papa which is bertepatan dengan hari lahir beliau. Tahun 2013 kemarin usia papa menginjak angka 62. 

Di usia yang sudah masuk kategori lansia, papa masih sehat dan kuat beraktivitas, maa syaa Allaah. Kalau nggak lihat rambut dan kumis papa yang sudah memutih, saya akan berpikiran beliau masih muda. 

Ah, raga papa saja yang menua, jiwanya masih muda. Bahkan setiap di dekat papa saya selalu merasa masih seperti putri kecilnya even sudah punya tiga bocil, huhu, time flies so fast.

Oh ya, waktu itu ceritanya Papa baru pulang ikut Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta. Beliau berangkat dari Serui, Papua langsung ke Jawa baliknya baru singgah dulu ke Makassar buat ketemu anak cucu. 

Karena sudah pensiun jadi papa nggak buru-buru balik ke Serui seperti saat beliau masih bekerja. Ada sekitar sebulanan papa tinggal di sini baru balik ke Papua. 

Jelas saya hepi banget selama ada papa di rumah. Malah pengennya papa tinggal lebih lama lagi sama kami, secara semenjak menikah tahun 2017 silam saya jarang ketemu beliau karena ikut suami merantau ke Sulsel.

Sayangnya papa nggak betah berlama-lama di sini karena selain jauh dari istri tercinta aka mama, minim aktivitas. Beda kalau di Serui, aktivitas beliau padat, euy.

Even sudah pensiun jadi PNS tapi papa masih punya seabreg aktivitas lain. Beliau aktif di berbagai organisasi, masuk pengurus masjid juga. Ya, pokoknya jam terbang beliau tinggilah kalau di sana.

Nah, di sini aktivitas papa kebanyakan di rumah saja, mana lagi musim hujan pula jadi memang nggak bisa sering-sering keluar. Paling sering keluarnya ke masjid saja pas waktu shalat tiba dan ke pasar saat weekend.

Oh ya, kalau ingat soal ke pasar ini saya jadi senyum-senyum sendiri. Soalnya yang biasa ke pasar kan ibu-ibu, tapi ini yang pergi bapak-bapak (ayah dan menantunya, hihi). 

Waktu itu si bungsu masih bayi, masih ASI eksklusif juga dan selalu DBF jadi nggak bisa saya tinggal lama, makanya tugas ke pasar diambil alih lagi sama PakSu. Nah, sejak ada papa, beliau yang selalu menemani menantunya ke pasar, hihi.

Eh tapi selain masjid dan pasar, saya masih sempat ajak papa jalan-jalan ke beberapa tempat wisata yang ada di Maros. Di antaranya Wisata Doli dan Wisata Kuliner Mangambang 575. Sempat juga ajak papa mencicipi Sop Kepala Ikan yang terkenal enak di Pangkep (lokasinya di belakang SPBU yang dekat perbatasan Maros-Pangkep). 

Ke Air Terjun Bantimurung malah nggak padahal dekat juga dari rumah cuma kondisi cuaca saat itu benar-benar nggak mendukung, huhu.

Ah, semoga saja tahun 2024 ini masih diberi kesempatan bertemu dengan papa lagi. Pengen juga bisa ketemu dengan mama biar bisa menciptakan lebih banyak lagi kenangan manis bersama mereka:)

Februari - MPASI Bibie

Februari MPASI Bibie
Yeay, Bibie lulus ASI eksklusif dan tibalah saatnya untuk MPASI. Seperti dua kakaknya sebelumnya, saya juga excited dong menyambut masa MPASI Bibie.

Malah bisa dibilang paling excited pas anak ketiga ini karena saya sampai semangat sekali membeli berbagai perintilan MPASI baru untuk Bibie. Mulai dari 1 set peralatan makan silicon, food container, panci set khusus MPASI hingga kursi makan.

Kalau dihitung-hitung semua perintilan tersebut menghabiskan uang sejeti. Waw! Pengeluaran kali ini lebih banyak dibanding saat saya beli perlengkapan MPASI pertama untuk si sulung.

Padahal printilan MPASI punya kakaknya masih ada, masih bagus juga cuma memang masih kurang. Alat makannya nggak ada yang bahan silikon. 

Kalau kursi makan memang belum punya karena dulu saya keliru beli. Bukannya beli kursi makan eh saya malah ambil baby walker hanya gegara lihat ponakan pertama saya waktu MPASI makannya di kereta yang katanya bagus buat belajar jalan itu. Jadi saya mikirnya yang perlu saya siapkan ya baby walker, haha ya ampun! 

Tapi mau gimana lagi, sudah terlanjur beli jadi dimanfaatin saja. Kalau cuma buat makan kan masih aman ya, dipake buat belajar jalan yang berbahaya. Fyibaby walker memang nggak direkomendasikan oleh para ahli untuk digunakan belajar jalan oleh si kecil.

Lanjut, untuk alat masak sengaja saya beli baru karena yang ada di rumah cuma panci biasa, nah yang saya beli ini memang panci set khusus MPASI, bisa dipake buat menumis, merebus, plus mengukus. Lengkap deh. Tampilannya juga estetik makanya harganya juga lumayan.

Syukurnya, pas lahir anak ketiga ini saya sudah punya penghasilan sendiri, jadi semua perintilan tersebut saya beli tanpa minta ke suami. Saya juga nggak mau bilang-bilang, karena pasti suami bakal protes, wkwk.

Eniwei, sebenarnya tujuan saya beli perintilan  baru tersebut untuk menyemangati diri. Ibu-ibu pasti tahu lah tantangan yang dihadapai saat anak mulai MPASI, banyak dramanya, kan?

Selain itu juga karena saya teracuni setelah melihat konten-konten video MPASI yang berseliweran di TikTok. Ya, niatnya saya mau bikin konten juga makanya sampai bela-belain beli perintilan yang estetik.

Tapi tahu nggak, sampai si Bibie sudah makan nasi pun nggak ada satu pun konten MPASI yang berhasil saya buat. Niat tinggalah niat. Bikin konten sambil masak, sambil kasih makan anak itu sama sekali nggak mudah buat saya. Jadi salut banget deh sama emak-emak yang rajin bikin konten dengan si kecil tiap hari.

Maret - Pindah Rumah

Maret pindah rumah
 foto waktu baru-baru pindah rumah

Akhirnya pindah rumah juga. Rencana mau pindah rumah kali ini sebenarnya sudah dari akhir tahun 2022 waktu papa masih ada karena rumah yang kami tempati atapnya bocor parah. Saking parahnya, anak-anak bisa mandi hujan di dalam rumah, haha.

Kebayang nggak, saya dan keluarga bertahan tinggal di rumah yang setiap hujan pasti banjir aka kemasukan air dari atap yang bocor. Bocornya nggak cuma satu titik, di ruang tamu, di kamar, di ruang makan, di ruang keluarga. Duuh.

Kenapa nggak direnovasi saja? Ya, maunya begitu tapi nggak ada kejelasan apakah biaya renovasinya bakal diganti atau nggak karena kondisi perusahaan suami saat itu lagi nggak stabil. 

Kami pun memilih bertahan dan bersabar menunggu sampai ada rumah yang kosong. Bulan Maret menjelang Ramadan barulah kami dapat rumah kosong dengan kondisi yang lumayan bagus. Setidaknya tidak bocor parah seperti rumah yang kami tempati sebelumnya.

Oh ya, kami pindah rumahnya nggak jauh. Masih dalam kompleks perumahan karyawan, bahkan hanya berjarak dua rumah dari rumah lama. Dekat banget. Makanya angkut barang-barang dari rumah lama ke rumah baru cukup dengan berjalan kaki. 

Proses pindahannya pun dicicil, mulai dari packing, angkut hingga beres-beres. Nggak sekaligus dikerja semuanya karena itu pindahan kali ini nggak terlalu terasa capeknya.

April - Pasang IndiHome

April pasang IndiHome
Setelah pindah rumah, baru deh saya segera realisasikan keinginan buat pasang IndiHome. Prosesnya cepat ternyata. Malamnya saya ajukan request lewat aplikasi My IndiHome, besok paginya langsung ada konfirmasi. 

Di aplikasi tertera jadwal pemasangannya baru bisa dilakukan besok which is harus nunggu sehari lagi, eh tapi tahu-tahu siangnya teknisi sudah datang ke rumah. 

Beidewei, April ini juga bertepatan dengan bulan Ramadan tapi sedih banget deh Ramadanku kelabu  karena saya hanya bisa menjalani ibadah puasa selama dua pekan di ramadan 1444 H.

Jadi merasa ibadah saya nggak optimal, bahkan untuk mengkhatamkan Alquran 1x saja nggak bisa. Ngenes banget, kan?

Sejak pakai KB IUD durasi atau lama haid saya berubah dari yang sebelumnya hanya sepekan menjadi dua pekan. Lama banget, hiks. Tapi ini seharusnya nggak jadi alasan sebagai penghalang ibadah di bulan suci, kan? 

Ya, masih ada amalan atau ibadah lain yang bisa saya raih tapi tetap saja kalau nggak bisa kerjain ibadah shalat, puasa dan ngaji itu rasanya ada yang kurang :')

Ah, semoga masih ada kesempatan bersua kembali dengan ramadan tahun ini, menyambutnya dengan bahagia, tidak menyia-nyakan waktu selama membersamainya dan bisa berpisah dengannya dalam keadaan fitrah.

Mei - Creator Gambar

Mei creator gambar
Beberapa hasil desain waktu jadi creator gambar

Khusus bulan Mei ini saya mau cerita sedikit tentang pengalaman saya saat menekuni job sebagai creator gambar. Info terkait job ini datang dari Mbak Rini si pemilik celotehdinihari.com sekaligus owner dari Noe Digital Media (NDM).

Awalnya saya nggak berminat karena jobnya ini receh banget, eh tapi tunggu dulu, setelah saya lihat-lihat lagi infonya, sepertinya cukup menantang. Pas banget, saya juga mau mencoba hal baru. 

Selama ini kan pekerjaan saya hanya berkutat dengan menulis blog, nah, saya mau mencoba kerjaan lain yang masih berhubungan dengan gawai.

Lowongan yang dibutuhkan adalah tim penulis, tim creator gambar dan tim posting. Saya kemudian mendaftar dan memilih bergabung di tim creator gambar lalu keangkut juga di tim posting yang anggotanya saat itu masih kurang.

Saat menekuni pekerjaan ini saya seperti menemukan mainan baru. Asyik sekali! Hari-hari kerjaan saya berkutat dengan Canva. Hasil gambar yang saya buat untuk 1 konten dibayar 7k, receh banget, kan?

Namun namanya pekerjaan sereceh apa pun lama-lama juga pasti bisa menjadi bukit. Siapa sangka dari pekerjaan yang tampak receh ini saya bisa mendapatkan gaji tetap selama beberapa bulan.
Seperti gaji bulanan yang saya dapatkan waktu jadi guru honorer dulu, bahkan nominalnya lebih tinggi. Dan lagi saya mengerjakannya di rumah saja sambil santuy.

Hanya saja walau bisa dikerjakan sambil santuy, pekerjaan ini cukup menyita waktu, karena  sambil kejar-kejaran. Ada target jumlah konten yang harus diposting tiap harinya. Makanya nggak bisa saling nunggu.

Siapa cepat selesai dia yang bisa langsung mengerjakan tugas desain selanjutnya. Penghasilan yang didapat bergantung dengan berapa banyak jumlah desain yang berhasil dikerjakan.

Karena itu selama terlibat dalam project NDM yang satu ini saya sempat merasa ngos-ngosan dan nggak bisa fokus urus blog. Minesnya itu saja sih selebihnya saya menikmati pekerjaan ini.

Oh ya, project ini berlangsung selama 5 bulan, dari Februari - Juni dan selama itu saya sudah mendesain ribuan gambar di Canva yang lumayan banget bisa jadi portofolio.

Juni - Gagal Naik Kereta Api

Juni selalu menjadi bulan yang spesial buat saya, karena di bulan inilah saya lahir ke dunia. Tapi seperti tahun-tahun sebelumnya, tanggal 18 Juni berlalu begitu saja, tanpa perayaan. 

Well, saya tumbuh di keluarga yang memang nggak pernah merayakan ulang tahun, ditambah lagi saya menikah dengan lelaki yang cuek dengan momen-momen seperti itu. Jangankan mau ingat hari lahir istri dan anak-anaknya, sama hari lahirnya saja dia nggak peduli, hehe.

Nah, karena nggak ada yang berkesan di hari lahir saya yang ke-31 ini jadi mending saya cerita saja pengalaman yang sempat bikin saya kecewa banget. 
Juni gagal naik kereta api
Tiket KA sudah di tangan tapi gagal berangkat

Bulan Juni 2013 ini juga bertepatan dengan Idul Adha. Sehari menjelang lebaran, saya, suami dan anak-anak mudik ke Pare-pare. Biasanya kami mudik pakai mobil penumpang, tapi berhubung sudah ada kereta api dengan tarif yang lebih terjangkau sehingga kami berencana untuk naik transportasi tersebut. Apalagi salah satu stasiunnya juga hanya berjarak 4,1 km atau sekitar 8 menit dari rumah.

Malam sebelum hari H saya sudah excited banget,  secara seumur-umur saya belum pernah naik yang namanya kereta api. Anak-anak juga girang banget saat diberitahu kita bakal ke rumah nenek naik kereta api.

Pas hari H, suami lebih dulu ke stasiun pagi-pagi sekali buat pesan tiket biar nggak kehabisan. Tiket KAnya belum ada yang dijual secara online soalnya. Setelah itu baru balik lagi ke rumah buat siap-siap.

Jadwal keberangkatan pukul 08.47 WITA dan kami baru meninggalkan rumah sekitar pukul 08.30 WITA. Kami ke stasiunnya naik motor, suami antar saya dan bocah-bocah duluan. Setelah itu dia balik dulu ke rumah buat simpan motor dan kembali ke stasiun naik ojek.

Pas sampai di stasiun, kami disambut dengan petugasnya yang sudah pada stand bye. Nah, waktu baru sampai itu saya nggak langsung masuk ke ruang tunggu, niatnya mau nunggu suami dulu karena banyak barang bawaan, mana sambil gendong bayi, bawa dua balita pula. 

Tapi sama petugasnya disuruh masuk duluan. Terpaksa saya suruh si Sulung yang bantu bawain tas yang lumayan berat buat dia. Coba kalau petugasnya peka dibantuin kek eh ini cuma diliat-liatin saja.

Mendekati waktu keberangkatan kereta suami belum juga datang dan saya sudah panik banget. Takut ketinggalan kereta dan saya nggak bisa bayangin kalau harus berangkat duluan dengan tiga bocah dan barang bawaan yang tak sedikit.

Untunglah pas suami datang kereta apinya belum tiba. Saya jadi bisa menghela napas lega. Sambil menunggu kedatangan kereta, saya ajak suami dan anak-anak buat foto-foto, mengabadikan momen. 

Tapi setelah cukup lama jepret sana-sini, belum juga ada tanda-tanda kereta akan segera tiba. Sejam, dua jam berlalu. Anak-anak mulai bosan. Para penumpang yang lain mulai mengeluh.

Penantian lama kami akhirnya berujung dengan permintaan maaf dari pihak kereta api lantaran transportasi KA hari itu batal beroperasi lantaran terkendala teknis dan uang tiket kami pun dikembalikan.

Seketika itu juga saya langsung lemas dan nggak semangat, plus merasa buang-buang waktu banget nunggu sesuatu yang ujung-ujungnya nggak jadi. Kasihan juga anak-anak, udah hepi banget mau naik kereta api tapi gagal.

Padahal kalau dari pagi-pagi kami berangkat naik mobil pasti sudah mau sampai di Parepare. Gara-gara punya pengalaman yang tidak mengenakkan itu sampai sekarang saya sudah nggak antusias buat naik KA sekali pun sering lewat depan stasiunnya tapi ah sudahlah, saya masih kecewa.

Juli - Kakak Zhaf Masuk TKJuli Zhaf masuk sekolah TK

Si Sulung masuk sekolah pertama kali. Rasanya baru kemarin melahirkan anak pertama dan eh tahu-tahu si bayi ini sudah berseragam sekolah. Maa syaa Allaah. 

Tahun ini Zhaf masuk TK dan baru duduk di bangku kelas A. Ayahnya sebenarnya pengen Zhaf langsung masuk TK B tapi belum cukup umur. Untuk bisa duduk di kelas B awal bulan Juli ini usianya minimal harus 5 tahun sementara Zhaf baru menginjak 4 tahun 11 bulan. 

Orang-orang bilang usia nanggung, but no problem, setidaknya ketika masuk SD nanti umurnya sudah cukup matang. Sengaja juga saya masukkan Zhaf di TK A dulu biar punya banyak teman dan bisa lebih mudah bersosialiasi.

Alhamdulillaah juga pertama kali masuk TK, nggak ada drama yang gimana-gimana gitu. Anaknya bisa langsung saya tinggal setelah lonceng berbunyi. Cuma di hari pertama itu dia sempat ngambek karena belum terbiasa dengan lingkungan baru dan hari kedua ada insiden di mana dia pulang sekolah sambil nangis dan marah-marah karena Bundanya telat jemput. Hari-hari selanjutnya aman. 

Oh ya lokasi sekolahnya si Kakak ada dalam kompleks perumahan jadi memang dekat banget dari rumah. Jadi, sejak kakak masuk TK bertambah rutinitas harian saya di pagi hari. Siapin bekal dan antar kakak ke sekolah dengan berjalan kaki. Lumayan, sekaligus olahraga, hehe. Adek-adeknya juga ikut dong.

Hanya hari-hari pertama saja saya masih nungguin kakak di sekolah sampai lonceng masuk berbunyi. Selebihnya, sudah nggak perlu ditungguin lagi. Cuma berangkatnya harus tetap diantar. 

Nah, selama Zhaf masuk sekolah, saya hanya menjemputnya pada hari pertama. Hari kedua memang ada drama yang dia nangis itu, tapi sejak hari ketiga dan seterusnya dia sudah berani pulang sekolah sendiri atau sering juga pulang bareng teman-temannya setelah dia punya banyak teman.

Agustus - 1 tahun Bibie 5 tahun Zhaf

1 tahun Bibie 5 tahun Zhaf
Nggak terasa juga Bungsunya Bunda sudah menginjak usia setahun. Rasanya baru kemarin deh masuk ruang operasi eh sekarang si bayi sudah lincah ke sana kemari. 

Oh ya, tanggal lahir bungsu berdekatan dengan si sulung. Bibie tanggal 1, kakaknya tanggal 4. Sebenarnya kalau lahiran normal sih mungkin lebih duluan tanggal lahir Zhaf daripada Bibie tapi karena anak yang ketiga ini sesar jadi dimajukan. Dokter yang saranin ambil tanggal 1 dan saya iya-iyain saja.

Seperti biasa, di keluarga kami nggak ada perayaan ultah jadi hari lahir mereka ya berlalu seperti hari-hari biasanya. Nothing spesial.

Paling momen yang cukup berkesan di bulan ini pas 17-an. First time, kakak ikut karnaval bareng ibu guru dan teman-temannya. Mereka ambil tema antar pa'botting (antar pengantin) dengan seragam yang dikenakan adalah seragam baju bodo (baju khas Sulawesi). 

Anak cowok mah simple ya, langsung dipakekan saja bajunya. Nah, orang tua yang anaknya cewek masih harus sibuk mendadani. Melihat kerempongan itu, seketika saya merasa bersyukur, untung anak saya cowok, hehe

Menjelang akhir bulan, saya ajak suami dan anak-anak ke Leang-Leang (Taman Prasejarah Wisata Maros) yang lokasinya juga cukup dekat dari rumah. Dekat tapi selama pindah ke Bantimurung baru kali itu kami kunjungi.

Karena tujuan saya cuma buat take foto produk saja dan perginya juga mendadak jadi memang nggak ada persiapan sama sekali, termasuk buat bawa bekal makanan dan minuman.

Eh sekalinya sampai di sana kami terlena. Yang tadinya cuma mau foto-foto produk jadi pengen berlama-lama di sana karena view-nya yang sangat indah. Sayangnya karena nggak ada persiapan dan belum isi perut jadi kami cepat pulang. 

Lain kali kalau ke sana lagi kudu banget deh bawa bekal biar bisa sekaligus piknik dan nggak mesti buru-buru balik.

September - Tumpeng Nasi Goreng dan Ikan yang Mati

Masih dalam rangka hari kemerdekaan, sekolahnya kakak adakan berbagai lomba. Ada tiga jenis perlombaan dan dari ketiga itu ada dua jenis lomba yang melibatkan ibu-ibu.

Satunya lomba makan telur untuk ibu dan anak, sedangkan satunya lagi lomba yang memang dikhususkan untuk ibu-ibu yakni membuat nasi goreng dengan tema kemerdekaan.

Ibu-ibu orang tua murid diminta mencari teman kelompok masing-masing. Nah, sejak si kakak masuk sekolah saya jarang kumpul dengan ibu-ibu lain, jadi sudah pesimis saja bakal nggak bisa ikut lomba yang ketiga ini. 

Padahal pengen ikut juga tapi siapa yang mau ngajakin? Nggak mungkin saya yang mau ajak atau menawarkan diri, lha saya orangnya pemalu banget.

Namun nggak disangka-sangka, pas mau balik ke rumah setelah antar kakak ke sekolah ada seorang ibu yang memanggil dan tanpa basa-basi dia langsung nawarin saya buat masuk di kelompoknya yang sebelumnya hanya berdua. Jadilah kita sekelompok bertiga. 

Well, menurut saya ini momen yang cukup berkesan even orang lihatnya biasa saja. Jujurly sebagai ibu yang rada kuper saya merasa terharu karena ada juga yang mau 'angkut' saya ke kelompoknya padahal anak dari dua ibu ini sudah duduk di bangku kelas B that means nggak sekelas dengan Zhaf. Saya sampai cerita  berkali-kali soal ini dengan ekpresi girang ke ayahnya, haha

Pas saya cerita, suami sempat heran dan bertanya kenapa malah ibu-ibu yang ikut lomba? Eh iya ding, kalau ingat zaman saya waktu masih TK dulu, jika
ada perlombaan gitu pasti lombanya diperuntukkan untuk anak-anak saja. Nggak ada tuh lomba untuk orang tua. Entahlah di daerah lain. 

Mungkin karena sekarang di sekolah-sekolah TK gitu ada kegiatan atau program parenting ya, jadi ada beberapa kegiatan yang memang melibatkan peran orang tua.

Oh ya, untuk teknis lombanya sendiri, kita bagi tugas. Saya kebagian buat hiasan tomat dan siapkan ayam kentucky. Di sekolah baru semua bahan dan makanan yang udah dimasak dari rumah dikumpul dan kami hias bersama.

Jadilah nasi tumpeng sederhana ala Ibu Aidan, Bunda Zhaf dan Mama Zikri. Meski nggak terpilih jadi juara tapi yang penting kami bisa ikut meramaikan kegiatan di sekolah anak.
September - Tumpeng Nasi Goreng dan Ikan yang Mati
Selain itu ada satu momen lagi di bulan September yang sangat tidak mengenakkan. Si kakak buat ulah dan perbuatannya kali ini merugikan orang lain. 

Sore itu saya sementara lagi lipat pakaian ketika tiba-tiba salah seorang tetangga datang, menegur kakak. Si kakak langsung lari masuk ke rumah. Suami yang kemudian keluar menemui tetangga tersebut. 

Tahu nggak apa yang diperbuat kakak? Menurut pengakuan si tetangga, kakak memasukkan cairan pembersih lantai ke kolam ikannya. Alhasil semua ikan dalam kolam itu mati. 

Duh, dengar kejadian itu saya langsung shock banget. Saya dan ayahnya sudah minta maaf dan menyampaikan maksud ingin ganti rugi. Katakanlah uang damai karena kami nggak bisa mengembalikan ikan-ikan yang mati itu. 

Tapi si tetangga ini menolak. Dia bilang nggak papa, nggak usah ganti rugi tapi tetap saja saya jadi merasa bersalah banget. Karena kejadian ini, saya selalu merasa nggak enak hati kalau ketemu atau berpapasan dengan tetangga tersebut. 

Ternyata begini ya rasanya kalau anak berbuat salah dan orang tua yang harus menanggungnya?

Oktober - Mama Mertua Berpulang

Awal bulan dibikin stres dengan kelakuan duo bocah yang minta ampun. Dalam waktu berdekatan dua barang di rumah rusak karena kelakuan mereka yang nggak bisa tenang.

Pertama, si kakak rusakin lemari pakaian. Lemari plastik dia panjatin, langsung ambruk dong. Mana itu satu-satunya lemari pakaian di rumah. Karena hidup kami masih nomaden jadi memang sengaja beli lemari 1 saja, yang gampang diangkut saat pindahan. Untung lemarinya masih bisa diperbaiki tapi sudah nggak utuh, hiks.

Nah, yang paling parah tuh keesokkan harinya, entah kelakuan apa yang dilakukan si adek Fath sampai-sampai layar Smart TV 43 inch di rumah kami pecah. Ampun dah padahal itu TV baru saya beli dua tahun lalu hasil dari menang lomba blog dan belum juga genap setahun dipakai karena baru beberapa bulan disambungkan dengan internet dan TV IndiHome.

Auto stres dong saya, apalagi setelah cari tahu biaya perbaikan LCDnya itu sampai dua jeti, hampir setengah dari harga belinya. Aih  saya cuma bisa meringis, even ada tabungan tapi saya masih mikir-mikir buat keluarin uang segitu. Kalau perbaiki atau beli baru pun khawatir bakal rusak lagi. Jadi biarlah sementara TVnya jadi pajangan saja dulu.

Oktober Mama berpulang
Tidak lama setelah insiden TV rusak saya sekeluarga berangkat ke Pare-pare. Mama (mertua) sakit, sudah hampir sepekan di rawat di RS namun kondisi beliau tak kunjung membaik.

Saat kami datang, baru keluar hasil pemeriksaan awal. Beliau divonis kena kista ginjal. Saya sempat mengerutkan dahi karena baru pertama kali mendengar pernyakit ini. Selama ini tahunya kista rahim saja. 

Di sini saya masih bisa berpikir positif, kalau kista kan kemungkinan besar masih bisa disembuhkan dengan operasi. Tapi hasil dari pemeriksaan selanjutnya yang bikin saya dan keluarga lemas. 

Ginjal mama sudah nggak berfungsi. Beliau harus menjalani cuci darah. Ya Allaah rasanya nggak percaya, mama kena penyakit kronis. Mama yang selama ini sehat, kuat, makannya nggak macam-macam rajin minum air putih juga juga tapi kenapa bisa sampai mengidap gagal ginjal.

Mama kemudian dirujuk ke RS Type B di Parepare,  untuk menjalani perawatan intensif dan hemodialisis di sana. Setelah cuci darah, kondisi mama sempat membaik tapi kemudian drop lagi sampai harus dirawat di ruang ICU Jantung. 

Selama di ruang ICU itu kami cuma bisa berdoa dan berharap semoga ada keajaiban, semoga Allah masih memberi kesembuhan pada mama agar beliau bisa pulang ke rumah dan berkumpul kembali bersama kami.

Qadarullaah, takdir berkata lain. Senin dini hari, 16 Oktober 2023, mama berpulang ke Pencipta-Nya dalam keadaan yang sangat tenang. In syaa Allaah husnul khatimah

Allaah lebih sayang dengan mama. Mama sudah nggak sakit lagi, sudah tenang di sana bersama bapak. Ah, kalau mengenang ini dada saya sesak sekali dan rasanya masih sulit percaya, mama sudah nggak ada lagi di dunia ini :')

November - Panen Mangga

November panen mangga
Sepeninggal mama kami masih sepekan tinggal di Parepare sebelum akhirnya balik lagi ke Maros. Pas pulang ke rumah mangga di depan rumah sudah pada besar-besar dan siap panen.

Saat PakSu bersih-bersih pekarangan, sempat dengar candaan tetangga yang lewat depan rumah. "Oh ada ma ki, Pak? kukira belum pulang, hampir saja dipanen semua manggata" katanya sambil tertawa. 

Satu kesyukuran tinggal di rumah yang sekarang karena dikelilingi pohon mangga arummanis. Ada di depan, belakang dan samping rumah. Tapi cuma ada 3 pohon mangga yang berbuah tahun ini.

Dua pohon depan rumah yang paling lebat buahnya sedangkan di belakang ada 3 pohon tapi cuma satu yang berbuah, itu pun buahnya nggak banyak.

Sekali panen langsung turun puluhan sampai ratusan buah mangga. Ada sampai 4 kali panen bulan ini. Karena saking banyaknya mangga di rumah, selain dimakan langsung ada juga yang saya olah jadi puding, campuran es buah, jus dan es krim mangga.

Alhamdulillaah, buahnya sudah dibagi-bagi ke tetangga dan keluarga, termasuk dikirimkan ke penghuni rumah sebelumnya. Benar-benar puas deh saya makan mangga tahun 2023 ini. Semoga tahun 2024 masih bisa menikmati panen mangga lagi.

Desember - 4 Tahun Fath & Drama ke Air Terjun Bantimurung

Sampai juga di penghujung 2023. Desember ini tepatnya tanggal 12.12 adalah hari lahir si tengah. Maa syaa Allaah anak Bunda yang paling kalem sudah menginjak usia 4 tahun. Udah mau masuk sekolah juga nanti.
Desember 4 tahun Fath
Lagi-lagi nggak ada perayaan apa pun. Hanya saja pas tanggal 9 Desember itu Majelis Taklim perumahan adakan rekreasi bersama ke air terjun Bantimurung. Dari pertengahan November sudah disebar list di grup WA, siapa-siapa saja yang mau ikut.

Tapi sampai mendekati hari H saya belum juga setor nama karena belum dapat izin dari PakSu. Tapi syukurlah akhirnya suami beri lampu ijo.

Yes! Saya pikir setelah dizinin gitu nggak bakal ada kendala lagi. Eh ternyata kendala itu baru muncul pas hari H saat kami tengah dalam perjalanan menuju lokasi. Motor yang kami gunakan tiba-tiba mogok. Sama sekali nggak mau nyala.

Ada sekitar sejamanlah kami berdiri di pinggir jalan sampai akhirnya ada temannya Paksu datang untuk membantu.

Saat itu suami bertanya, mau lanjut atau pulang saja karena kondisi motor nggak memungkinkan. Saya langsung merengut, ya masa pulang sih. Udah setengah perjalanan, udah beli tiket juga.

Akhirnya saya dan anak-anak yang lanjut duluan ke tempat rekreasi naik ojek tapinya, hehe sementara suami belum pasti ikut karena mesti urus motor yang mogok itu.

Namun untunglah suami menyusul kami ke lokasi air terjun setelah terlebih dahulu membawa motor ke bengkel. Cuma datangnya telat banget. Nggak lama setelah suami datang eh rombongan udah pada mau pulang. Dan karena pulangnya kami mau numpang di mobil tetangga jadi ya terpaksa harus ikutan pulang juga. 

Padahal anak-anak belum puas mandinya dan belum banyak juga spot yang saya foto, baru sempatin aja ambil foto produk, mumpung lagi di tempat wisata, hehe.

Tapi nggak papa, ternyata jarak dari perumahan tempat tinggal kami ke air terjun Bantimurung cukup dekat. Saya sampai kaget, lama perjalanannya itu cuma makan waktu nggak sampai setengah jam lho (ini kalau perjalanan lancar tanpa ada insiden motor mogok)

Padahal udah tiga tahun tinggal di daerah Bantimurung tapi belum pernah injakkan kaki ke sana. Terakhir, saya ke wisata hitsnya Maros ini waktu masih kuliah Nah, ini juga akhirnya bisa ke sana karena ada acara rekreasi, coba kalau nggak?

Baiklah, nanti kita agendakan lagi buat rekreasi sekeluarga ke Air Terjun Bantimurung. In syaa Allaah di 2024.

Itulah cuplikan rentetan peristiwa yang saya alami di 2023. Nano-nano banget, kan? Nggak semuanya berjalan mulus. Pahitnya ada, manisnya ada, yang pedas juga ada. Begitulah kehidupan.

Penutup

Sebagai penutup, saya hanya ingin merenung. Jika menengok setahun ke belakang, termasuk tahun-tahun sebelumnya, hidup yang saya lalui biasa-biasa saja, tak ada pencapaian yang bisa saya banggakan.

Kendati demikian, saya harus tetap bersyukur. Saya masih bisa tidur di malam hari dengan nyenyak, bangun dengan tenang dan menjalani hari tanpa ketakutan. Saya pun masih memiliki keluarga di sisi saya. 

Jika pun ada musibah atau kejadian buruk yang menimpa di 2023 ini, termasuk dengan kehilangan orang tercinta, rasanya nggak ada apa-apanya dibanding yang dialami oleh saudara-saudara muslimku di Bumi Palestina.

Mereka yang sekali pun mengalami penderitaan yang teramat masih senantiasa beryukur mengucap alhamdulillaah. Hasbunallaah wa nikmal wakiil.

Menjelang akhir 2023, mata saya terbuka. Hati saya terpaut di Gaza.

2024. Harapan terbesarku cuma satu. #FreePalestine.

3 komentar untuk "Kaleidoskop 2023 dan Kenangannya"

Comment Author Avatar
Aku salut, bisa ingat banyak momen setahun belakangan. Aku pas baca ini langsung mikir, "Februari, Agustus atau November tahun lalu ada momen penting apa ya?" Mumpung ini awal tahun, kayaknya bisa aku bikin catatan khusus dan di akhir tahun/awal tahun depan bisa bikin tulisan kaleidoskop juga :)

Ada suka dan duka di sepanjang tahun kemarin, dari happy anak Mpasi, harus pindah rumah (capek tapi ya hepi karena ke rumah yang lebih bagus) sampai ke dapat info peluang berkarir bikin desain. Walaupun receh, tapi ya segitu aja udah lumayan banget. Ntar aku coba kepoin ah Noe Digital siapa tahu bisa juga ikutan hehe.

Semoga tahun 2024 ini kita semua semakin baik, amiiiin.
Comment Author Avatar
Jadi total blognya ada berapa, Mbak Siska? Kagum deh ama yg ternak blog.

Kalau blognya kayak etalase berarti banjir job ya. Malah alhamdulillah.
Comment Author Avatar
2023 nano-nano banget ya mba, banyak pembelajaran didalam nya dan salut dengan konsisten tetap bersyukur.
Mangga nya yaampun banyak banget, November berkesan.

Betul, kehidupan dan kesulitan kita di sini tidak bisa dibandingkan dengan saudara-saudari kita di Gaza. Semoga Palestina segera merdeka 😇🙏 Harapan terbesar saya juga.

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kamu :)

Note :

Maaf komen yang brokenlink akan saya hapus jadi pastikan komentar kamu tidak meninggalkan brokenlink ya.