Lima Kenangan Manis di Masa Kecil yang Begitu Ngangenin

By Siska Dwyta - Sabtu, Desember 15, 2018


بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Masa kecil saya dihabiskan di kota Serui. Salah satu kota yang terletak di ujung timur Indonesia atau lebih dikenal dengan kota kembang-nya Papua. Kalau kamu pernah intip postingan saya yang berjudul surga kecil yang jatuh ke bumi itu juga ada di Yapen Islands, pasti sudah tahu dong seperti apa keindahan alam yang terbentang di kota Serui dan sekitarnya. Kira-kira masih sebelas dua belaslah dengan kepalauan Raja Ampat. (Haha ngakunya😁)

Berhubung tema tantangan hari ke-duapuluhlima ini tentang Kenangan Masa Kecil jadi pengen bernostalgia, menengok kembali masa kecil saya yang penuh dengan kenangan manis. Eh, nggak semua kenangan di masa kecil saya manis sih, ada juga yang pahit. Kenapa? Karena saya pernah jadi korban bully, bahkan nyaris pula jadi korban pedofil😱 tapi di-skip saja kenangan yang pahit itu yaak dan mari simak lima kenangan manis saya di masa kecil yang begitu ngangenin.

Kumpul Bareng Keluarga dengan Personil Lengkap

Momen manis yang satu ini merupakan momen yang saya rasakan setiap hari semasa kecil. Waktu itu rumah ortu selalu ramai, diwarnai dengan kelakuan tiga anak perempuan yang doyan berantem kecil-kecilan. Tak ketinggalan mama juga hobi ngomel-ngomel menghadapi tingkah anak-anaknya yang bikin esmosi dan tentu saja cuma papa satu-satunya lelaki di rumah kami yang paling 'kalem', hehe. Sekarang mah, nggak ada lagi acara berantem-beranteman , sudah pada gede semua, malu dong kalau masih ada yang suka jahil sesama saudara😅 Apalagi dua dari kami sudah berkeluarga, sudah beranak pula, satunya masih mahasiswi, tersisa si bungsu yang masih sekolah.

FYI, ketiga anak perempuan mama dan papa kini hidup merantau. Jadilah di rumah yang penuh dengan 'kenakalan' masa kecil kami hanya tinggal ortu dan si bungsu yang umurnya memang terpaut belasan tahun dengan kakak-kakaknya.

Baca juga OMG Mamaku Lebih Jago

Ah, hati saya mendadak mellow mengenang masa kecil bersama papa-mama dan dua saudari saya (saat itu si bungsu belum ada)😢Sejak kak Vhie masuk kuliah, kemudian saya dan disusul Aya, momen kumpul bareng keluarga dengan personil lengkap menjadi hal yang langka banget. Malah seingat saya baru dua kali selama duabelas tahun terakhir ini keluargaku dapat berkumpul dengan personil lengkap. Itu pun kejadiannya baru tahun lalu, saat momen pernikahan saya di bulan April dan momen liburan akhir tahun kemarin (saat saya masih hamil muda). 


Yah,  semoga esok-esok Allah masih ngasih kami kesempatan lagi tuk bisa berkumpul bareng keluarga dengan personil lengkap plus mantu-mantu dan cucu-cucunya ortu. Aamiin allaahumma aamin.

Tiada hari tanpa bermain

Manisnya kenangan masa kecil saya pun tidak terlepas dari momen yang satu ini. Tentunya setiap anak pasti suka bermain. Tak heran kalau yang ada dalam pikiran anak-anak cuma bermain. Wong dunia anak memang bermain. Bedanya, kalau anak zaman sekarang doyannya main gadget, zaman saya kecil dulu boro-boro main gadget kenal yang namanya hp saja nggak. 

Tapi alhamdulillaah, bersyukur banget masa kecil saya dihiasi dengan macam-macam permainan tradisional yang sangat seru dan mengasyikkan, seperti petak umpet, lompat tali, sarang benteng /benteng-bentengan, main kelereng, engklek (kalau di Serui nama permainan lompat dalam kotak ini disebut guci), wayan, dll. Lebih-lebih yang namanya main mandi hujan, becek-becek, favorit saya banget tuh. 

Karena saking sukanya main hujan dan becek-becek, sekujur kaki saya sempat kena penyakit kulit yang orang Papua sebutnya kaskado. Pokoknya jelek banget kaki saya waktu kecil dulu.😁Penuh dengan luka-luka. Untungnya mama segera bawa saya ke dokter, dan sama dokternya dikasih sebotol obat cair yang berwarna ungu. 

Obatnya nggak diminum tapi ditetesin mama ke baskom yang berisi air. Trus sama mama saya disuruh berendam di air yang telah berubah ungu itu. Hasilnya, benar-benar mujarab. Tidak berapa lama, kaki saya kembali mulus. Sejak saat itulah, mama larang saya main hujan-hujanan dan becek-becek lagi. Tapi dasar kenakalan anak kecil, tak ada rotan akar pun jadi. Karena saya senang banget mandi hujan jadi meski pun dilarang mandi hujan di luar rumah, saya tetap ngotot pengen mandi hujan, di belakang rumah tapinya😅 Waktu itu bagian belakang rumah kami yang ditempati untuk cuci piring dan pakaian belum diatapi jadi kalau hujan turun ya basah semua. Di situlah, saya biasa mandi hujan diem-diem, tanpa sepengetahuan mama😆

Tak ketinggalan saya juga demen main permainan anak perempuan seperti main boneka, bongkar pasang dan masak-masak. Bahkan kadang-kadang saya juga hobi main dengan diri sendiri lho. Entahlah kalau anak laki-laki, tapi kalau anak perempuan pasti pernah ya main-main dengan dirinya sendiri. Mengarang cerita dalam dunia khayalnya lalu bicara sendiri atau bicara dengan kembarannya di cermin😅

Hari Ahad Pagi Waktunya Nongkrong di Depan TV

Yeah, bagi anak-anak yang se-generasi dengan masa kecil saya pasti tahu dong kalau ahad pagi waktunya puas-puas nonton film kartun secara marathon. Kalau saya mah dari jam 7 pagi sampai sekitar jam 12 siang sudah nongkrong di depan TV. Remote TV pun saya kuasai sepenuhnya. Saking tidak inginnya diganggu selama film kartun kesayangan saya tayang.

Waktu itu hampir semua siaran televisi menayangkan film kartun atau boleh dibilang tayangan TV di ahad pagi memang dikhususkan untuk anak-anak. Tapi stasiun TV dengan tayangan film-film kartun favorit ini saja sih yang sering saya puter. Diantaranya ad doraemon, crayon sinchan, detektif conan, digimon, hamtaro, ninja hatori, ninja boy, P-Man, Pokemon, soilor moon, dan selebihnya saya lupa😅 Pokoknya anak-anak di zamannya saya dimanjakan banget deh dengan film-film kartun. Makanya, kalau sudah tiba di hari ahad, anak-anak seusia saya lebih suka duduk manis di depan TV daripada main di luar rumah.

Jauh beda ya dengan anak-anak zaman sekarang, lebih doyan nonton video di youtube ketimbang nonton tayangan di TV. Kalau nonton di TV tayangannya pun tayangan orang dewasa. Kalau nonton di youtube, bagus juga sih, banyak pilihan video anak-anak yang bagus-bagus, tapi bila tanpa pengawasan orang tua bisa berabe. Akibatnya, tidak sedikit anak-anak masa kini yang akhirnya tumbuh dewasa sebelum waktunya. Gimana nggak cepat dewasa coba? Yang jadi tontonan dan tuntunannya juga video-video dewasa di atas 18 tahun. Na'udzubillaah.

Mengaji di Pak Guru Beta Rahimahullah

Kenangan yang tak kalah manisnya juga saya rasakan saat belajar mengaji di Pak Guru Beta rahimahullah. Jangan bayangkan pak Guru Beta ini masih berusia separuh baya. Karena pak guru yang pertama kali mengenalkan saya huruf hijaiyyah ini adalah seorang kakek-kakek yang saya taksir umurnya kala itu sudah lewat dari setengah abad. Tampak dari rambutnya yang memutih dan kulit yang mengeriput. Tapi dedikasinya tuk mengajar mengaji pada anak-anak seusia saya saat masih SD maa syaa Allah, begitu luar biasa. Jarang banget kan ada kakek-kakek yang sudi meluangkan masa tuanya tuk mengajar ngaji anak-anak, entahlah kalau daerah di luar Serui.

Sebenarnya selain pak Beta ada juga guru-guru lain tapi yang paling membekas dalam ingatan saya cuma beliau. Meski beliau rahimahullaah terkenal sebagai sosok guru yang killer dan tegas, tapi saya suka cara beliau mendidik kami santri-santrinya. Bahkan masih terngiang jelas pepatah yang berulang-ulang beliau keluarkan setiap kali menyuruh kami, santri-santrinya menghapal Al-Qur'an maupun hadis-hadis Nabi. Kira-kira begini bunyi pepatahnya "belajar di waktu kecil bagaikan melukis di atas baru, belajar di waktu besar bagaikan melukis di atas air"

Waktu itu saya nggak terlalu mudeng dengan makna pepatah beliau tersebut. Menginjak dewasa baru saya paham dan rada menyesal juga. Coba kalau dulu saya rajin dan patuh dengan nasihat pak Beta, tidak malas-malasan menghapal, mungkin saat ini hapalan saya sudah banyak.


Oh ya, jangan bayangkan juga kalau tempat saya belajar mengaji ini sama seperti tempat belajar mengaji umumnya, atau mengira tempat belajar mengaji saya di pak Beta ini berlangsung di surau, masjid, atau rumah beliau. Ah, tidak seperti itu. Yang ada malah saya dan santri-santri lain belajarnya di gedung yang sama dengan gedung yang dipakai anak-anak Madrasah Ibtidaiyah pada pagi harinya. Ada kelas-kelasnya gitu, buku modulnya juga ada lho. Jadi, kami nggak cuma belajar ngaji tok, tapi juga diberikan beberapa pelajaran tambahan. Kurang lebih, tempat belajar saya mengaji dulu miriplah dengan sekolah.

Seingat saya, ada tiga kelas yang dipakai waktu itu. Masing-masing kelas bedatingkatannya. Satu kelas khusus bagi santri yang baru belajar iqro' sedangkan dua kelas lainnya diisi oleh santri yang bacaannya sudah di Al-Qur'an besar. Beidewei, selain belajar mengaji pelajaran tambahan yang diberikan antara lain; bahasa arab, ilmu fiqih, tauhid, akidah akhlak, sejarah nabi dan hadis-hadis. Banyak banget kan ilmu yang didapat. 

Nah, saya benar-benar tidak menyangka kalau suatu hari setelah lulus kuliah, Allah menakdirkan saya kembali ke 'sekolah' itu tapi bukan lagi sebagai santri melainkan menjadi guru mengaji. Saat itu-lah baru saya tahu kalau tempat belajar mengaji yang dirintis pertama kali oleh pak guru Beta namanya adalah Madrasah Diniyah Awaliyah Darussalam Serui. Pantesan banyak ilmu agama juga yang dipelajari. Sayangnya, sekarang ini namanya saja yang masih Madrasah Diniyah Awaliyah,  tapi konsep belajarnya kini seperti tempat belajar mengaji pada umumnya. Tidak lagi seperti zamannya saya mengaji waktu kecil dulu, waktu masih ada sosok seperti pak Guru Beta rahimahullah. 


Naik Motor Bareng Papa

Momen naik motor bareng Papa juga jadi kenangan yang lekat di ingatan saya semasa kecil. Secara anak kecil kan paling suka diajak jalan-jalan, walau jalan-jalannya cuma keliling-keliling kota doang pake motor. Well, papa saya termasuk tipe ayah yang tahu banget cara membahagiakan keempat anak perempuannya saat masih kecil-kecil. Cukup dengan mengajak kami jalan-jalan pake motor buntutnya. 

Karena masa kecil saya barengan dengan Aya (adik yang umurnya terpaut dua tahun di bawah saya) jadi papa sering bawa saya dan Aya sekaligus kalau mau jalan-jalan. Entah itu sekadar ke taman kota untuk bermain ayunan, perosotan, dsb atau ke pantai untuk mandi-mandi. Apalagi saat bulan Ramadhan, hampir tiap sore saya dan Aya langganan diajak jalan-jalan ke taman bermain dan baru pulang ketika waktu berbuka sudah dekat. Begitulah 'akal-akalan' papa agar dua anak kecilnya itu tetap semangat menjalankan puasa. 


Tapi kenangan yang satu ini bukan hanya tentang masa kecil saya. Lebih dari itu. Bagi saya, kenangan naik motor bareng papa merupakan kenangan yang paling membekas tidak hanya di pikiran tapi juga di hati, bahkan sampai saat ini pun saya masih sering kangen, kangen dibonceng sama lelaki terhebatku itu. Bagaimana tidak? Satu-satunya lelaki yang ada di rumah kami hanya papa, otomatis saat kami belum ada yang tahu naik motor, beliau-lah yang berperan sebagai "ojek", selalu siap sedia mengantar kelima perempuannya (termasuk mama) kemanapun mereka mau. Mungkin peran papa sebagai ojek bagi keluarganya terkesan receh ya, tapi di mata saya itu adalah peran yang sangat bermakna. 

Yang antarin saya tiap pagi ke sekolah, ke tempat mengaji sore harinya, rajin pula menjemput adalah papa. Kalau saya sakit, papa yang selalu kebagian job antar saya periksa di rs, kalau penerimaan raport, papa juga yang selalu hadir di sekolah, membersamai saya. Setelah kerja pun kalau motor yang biasa saya gunakan tetiba mogok atau harus masuk bengkel, saya cukup sms atau telpon papa saja. Minta diantarin ke sekolah/yayasan atau minta dijemput pulang. Tak perlu menunggu lama, hanya sekian menit saja, walau sesibuk apapun, beliau pasti datang memenuhi permintaan saya.

Apalah saya ini, kalau bukan naik motor sendiri pengennya dibonceng sama papa saja. Padahal saya bisa naik ojek tanpa perlu merepotkan beliau. Tapi setidaknya sekarang saya tidak pernah minta diantar jemput beliau lagi (toh tidak ada seorang ayah yang merasa direpotkan oleh anaknya sendiri), karena sudah ada lelaki yang mengambil peran itu. Dan meski kini, ada dua lelaki baru dalam hidup saya, tetap saja kehadiran keduanya tidak mengganti posisi papa. Sekalipun telah menikah, saya tetaplah anak perempuannya papa dan papa tetap menjadi lelaki pertama dalam hidup saya. 

Ah, papa . . . anakmu di sini sungguh sedang dilanda rindu yang berat. 

😢😢😢

Nah, itu dia lima kenangan manis di masa kecil saya yang begitu ngangenin. Bisa tebak sendiri kan, saya masuk generasi tahun berapaan? Hehe. Kalau kenangan masa kecil yang masih membekas di ingatan kamu, apa? Boleh dong share di kolom komentar.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan jejak di Kamar Kenangan @siskadwyta. Mudah-mudahan postingan saya bisa menginspirasi.